Anda di halaman 1dari 8

II.2.

Macam-macam bentuk sediaan darah dan komponen darah


a. Darah lengkap (whole blood)
Darah lengkap mempunyai komponen utama yaitu eritrosit, darah lengkap juga mempunyai
kandungan trombosit dan faktor pembekuan labil (V, VIII). Volume darah sesuai kantong darah yang
dipakai yaitu antara lain 250 ml, 350 ml, 450 ml. Dapat bertahan dalam suhu 42C. Darah lengkap
berguna untuk meningkatkan jumlah eritrosit dan plasma secara bersamaan. Hb meningkat 0,90,12
g/dl dan Ht meningkat 3-4 % post transfusi 450 ml darah lengkap. (6)
b. Sel darah merah

Packed red cell

Packed red cell diperoleh dari pemisahan atau pengeluaran plasma secara tertutup atau septik
sedemikian rupa sehingga hematokrit menjadi 70-80%. Volume tergantung kantong darah yang dipakai
yaitu 150-300 ml. Suhu simpan 42C. Lama simpan darah 24 jam dengan sistem terbuka. (3)
Packed cells merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah dipekatkan dengan
memisahkan komponen-komponen yang lain. Packed cells banyak dipakai dalam pengobatan anemia
terutama talasemia, anemia aplastik, leukemia dan anemia karena keganasan lainnya. Pemberian
transfusi bertujuan untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan alat-alat tubuh. Biasanya tercapai bila
kadar Hb sudah di atas 8 g%.
Dosis transfusi darah didasarkan atas makin anemis seseorang resipien, makin sedikit jumlah
darah yang diberikan per et mal di dalam suatu seri transfusi darah dan makin lambat pula jumlah
tetesan yang diberikan. Hal ini dilakukan untuk menghindari komplikasi gagal jantung. Dosis yang
dipergunakan untuk menaikkan Hb ialah dengan menggunakan rumus empiris:
Kebutuhan darah (ml) = 6 x BB (kg) x kenaikan Hb yang diinginkan.
Penurunan kadar Hb 1-2 hari pasca transfusi, maka harus dipikirkan adanya auto immune
hemolytic anemia. Hal ini dapat dibuktikan dengan uji coombs dari serum resipien terhadap eritrosit
resipien sendiri atau terhadap eritrosit donor. Keadaan demikian pemberian washed packed red cell
merupakan komponen pilihan disamping pemberian immuno supressive (prednison, imuran) terhadap
resipien.(2)

Red cell suspension


Dibuat dengan cara mencampur packed red cell dengan cairan pelarut dalam jumlah yang sama.

Washed red cell

Washed red cell diperoleh dengan mencuci packed red cell 2-3 kali dengan saline, sisa plasma
terbuang habis. Berguna untuk penderita yang tak bisa diberi human plasma. Kelemahan washed red cell
yaitu bahaya infeksi sekunder yang terjadi selama proses serta masa simpan yang pendek (4-6 jam).
Washed red cell dipakai dalam pengobatan aquired hemolytic anemia dan exchange transfusion. (3)

Darah merah pekat miskin leukosit

Kandungan utama eritrosit, suhu simpan 42C, berguna untuk meningkatkan jumlah eritrosit
pada pasien yang sering memerlukan transfusi. Manfaat komponen darah ini untuk mengurangi reaksi
panas dan alergi.(6)

c. Suspensi granulosit/leukosit pekat


Kandungan utama berupa granulosit dengan volume 50-80 ml. Suhu simpan 202C. Lama
simpan harus segera ditransfusikan dalam 24 jam.(6)
Transfusi granulosit diberikan bila penderita nutropenia dengan panas tinggi telah gagal diobati
dengan antibiotik yang tepat lebih dari 48 jam. Transfusi granulosit diberikan kepada para penderita
leukemia, penyakit keganasan lainnya serta anemia aplastik yang jumlah leukositnya 2000/mm3 atau
kurang dengan suhu 39C atau lebih.
Donor dari keluarga terdekat akan memperkecil kemungkinan reaksi transfusi. Bila tidak
diperoleh donor yang cocok golongan ABO-nya maka dapat dipilih donor golongan O. Komponen
suspensi granulosit harus diberikan segera setelah pembuatan dan diberikan secara intravena langsung
atau dengan tetesan cepat. Efek pemberian transfusi granulosit ini akan tampak dari penurunan suhu,
bukan dari hitung leukosit penderita. Penurunan suhu terjadi sekitar 1-3 hari pasca transfusi. (2)
d. Suspensi trombosit
Pemberian trombosit seringkali diperlukan pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh
kekurangan trombosit. Pemberian trombosit yang berulang-ulang dapat menyebabkan pembentukan
thrombocyte antibody pada penderita. (3)
Transfusi trombosit terbukti bermanfaat menghentikan perdarahan karena trombositopenia.
Indikasi pemberian komponen trombosit ialah setiap perdarahan spontan atau suatu operasi besar
dengan jumlah trombositnya kurang dari 50.000/mm3. misalnya perdarahan pada trombocytopenic
purpura, leukemia, anemia aplastik, demam berdarah, DIC dan aplasia sumsum tulang karena pemberian
sitostatika terhadap tumor ganas. Splenektomi pada hipersplenisme penderita talasemia maupun
hipertensi portal juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah. Komponen trombosit
mempunyai masa simpan sampai dengan 3 hari.(2)
Macam sediaan:

Platelet Rich Plasma (plasma kaya trombosit)

Platelet Rich Plasma dibuat dengan cara pemisahan plasma dari darah segar. Penyimpanan 34C
sebaiknya 24 jam.

Platelet Concentrate (trombosit pekat)

Kandungan utama yaitu trombosit, volume 50 ml dengan suhu simpan 202C. Berguna untuk
meningkatkan jumlah trombosit. Peningkatan post transfusi pada dewasa rata-rata 5.000-10.000/ul.
Efek samping berupa urtikaria, menggigil, demam, alloimunisasi Antigen trombosit donor. (6)
Dibuat dengan cara melakukan pemusingan (centrifugasi) lagi pada Platelet Rich Plasma,
sehingga diperoleh endapan yang merupakan pletelet concentrate dan kemudian memisahkannya dari
plasma yang diatas yang berupa Platelet Poor Plasma. Masa simpan 48-72 jam. (3)
e. Plasma
Plasma darah bermanfaat untuk memperbaiki volume dari sirkulasi darah (hypovolemia, luka
bakar), menggantikan protein yang terbuang seperti albumin pada nephrotic syndrom dan cirhosis
hepatis, menggantikan dan memperbaiki jumlah faktor-faktor tertentu dari plasma seperti globulin. (3)
Plasma diperlukan untuk penderita hiperbilirubinemia. Komponen albumin di dalam plasma
yang diperlukan untuk mengikat bilirubin bebas yang toksis terhadap jaringan otak bayi. Tindakan ini
biasanya mendahului suatu tindakan transfusi tukar. Dosis yang diperlukan ialah 35 ml/kgbb.
Penggunaan sebagai plasma expander pada renjatan, substitusi protein pada kesulitan masukan oral
jarang dilakukan.(2)
Macam sediaan plasma adalah:

Plasma cair
Diperoleh dengan memisahkan plasma dari whole blood pada pembuatan packed red cell.

Plasma kering (lyoplylized plasma)


Diperoleh dengan mengeringkan plasma beku dan lebih tahan lama (3 tahun).

Fresh Frozen Plasma

Dibuat dengan cara pemisahan plasma dari darah segar dan langsung dibekukan pada suhu
-60C. Pemakaian yang paling baik untuk menghentikan perdarahan (hemostasis).(3)
Kandungan utama berupa plasma dan faktor pembekuan labil, dengan volume 150-220 ml. Suhu
simpan -18C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun. Berguna untuk meningkatkan faktor

pembekuan labil bila faktor pembekuan pekat/kriopresipitat tidak ada. Ditransfusikan dalam waktu 6
jam setelah dicairkan. Efek samping berupa urtikaria, menggigil, demam, hipervolemia. (6)

Cryopresipitate

Komponen utama yang terdapat di dalamnya adalah faktor VIII atau anti hemophilic globulin
(AHG), faktor pembekuan XIII, faktor Von Willbrand, fibrinogen. Penggunaannya ialah untuk
menghentikan perdarahan karena kurangnya AHG di dalam darah penderita hemofili A. AHG tidak
bersifat genetic marker antigen seperti granulosit, trombosit atau eitrosit, tetapi pemberian yang
berulang-ulang dapat menimbulkan pembentukan antibodi yang bersifat inhibitor terhadap faktor VIII.
Karena itu pemberiannya tidak dianjurkan sampai dosis maksimal, tetapi sesuai dosis optimal untuk
suatu keadaan klinis.(2)
Pembuatannya dengan cara plasma segar dibekukan pada suhu -60C, kemudian dicairkan pada
suhu 4-6C. Akibat proses pencairan terjadi endapan yang merupakan cryoprecipitate kemudian
dipisahkan segera dari supernatant plasma.(3)
Setiap kantong kriopresipitat mengandung 100-150 U faktor VIII. Cara pemberian ialah dengan
menyuntikkan intravena langsung, tidak melalui tetesan infus, pemberian segera setelah komponen
mencair, sebab komponen ini tidak tahan pada suhu kamar. (2)
Suhu simpan -18C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun, ditransfusikan dalam waktu 6
jam setelah dicairkan. Efek samping berupa demam, alergi.

Heated plasma

Plasma dipanaskan pada suhu 60C selama 10 jam. Bahaya hepatitis berkurang. Heated plasma
mengandung albumin 88%, globulin 12%, NaCL 0,06%, coprylic acid Na 0,02%, Na acetyl tuphtophen
0,02%, natrium cone 50 mEq/L

Albumin

Dibuat dari plasma, setelah gamma globulin, AHF dan fibrinogen dipisahkan dari plasma.
Kemurnian 96-98%. Dalam pemakaian diencerkan sampai menjadi cairan 5% atau 20% 100 ml albumin
20% mempunyai tekanan osmotik sama dengan 400 ml plasma biasa
II.3. Manfaat komponen darah
Komponen darah diberikan melalui transfusi dimaksudkan agar transfusi tepat guna, pasien
memperoleh hanya komponen darah yang diperlukan, mengurangi reaksi transfusi, mengurangi volume
transfusi, meningkatkan efisiensi penggunaan darah, serta memungkinkan penyimpanan komponen
darah pada suhu simpan optimal.(6)
II.4. Indikasi (1,5)

a. Sel darah merah


Indikasi satu-satunya untuk transfusi sel darah merah adalah kebutuhan untuk memperbaiki
penyediaan oksigen ke jaringan dalam jangka waktu yang singkat.

kehilangan darah yang akut, jika darah hilang karena trauma atau pembedahan, maka baik
penggantian sel darah merah maupun volume darah dibutuhkan.

Transfusi darah prabedah diberikan jika kadar Hb 80 g/L atau kurang.

Anemia yang berkaitan dengan kelainan menahun, seperti penderita penyakit keganasan, artritis
reumatoid, atau proses radang menahun yang tidak berespon terhadap hematinik perlu
dilakukan transfusi.

Gagal ginjal, anemia berat yang berkaitan dengan gagal ginjal diobati dengan transfusi sel darah
merah maupun dengan eritropoetin manusia rekombinan.

Gagal sumsum tulang karena leukemia, pengobatan sitotoksik, atau infiltrat keganasan
membutuhkan transfusi sel darah merah dan komponen lain.

Penderita yang tergantung transfusi seperti pada talasemia berat, anemia aplastik dan anemia
sideroblastik membutuhkan transfusi secara teratur.

Penyakit sel bulan sabit, beberapa penderita ini juga membutuhkan transfusi secara teratur,
terutama setelah stroke.

Indikasi lain untuk transfusi pengganti pada penyakit hemolitik neonatus, malaria berat karena
plasmodium falciparum dan septikemia meningokokus.

b. Indikasi untuk transfusi trombosit adalah :

Gagal sumsum tulang yang disebabkan oleh penyakit atau pengobatan mielotoksik.

Kelainan fungsi trombosit, yaitu berupa kelainan fungsi trombosit yang diturunkan seperti pada
penyakit Glanzmann, sindrom Bernard-Soulier, dan defisiensi tempat penyimpanan trombosit.
Penderita defek fungsi trombosit yang didapat, sekunder terhadap mieloma, paraproteinemia dan
uremia.

Trombositopenia akibat pengenceran yang sekunder terhadap transfusi masif atau transfusi
pengganti, dan penderita mengalami perdarahan.

Pintas kardiopulmoner, baik selama atau setelahnya perdarahan dapat terjadi karena
trombositopenia akibat pengenceran, begitu juga karena gangguan fungsi trombosit.

Purpura trombositopenia autoimun, walaupun kemungkinan tidak efektif karena trombosit yang

ditransfusikan hancur oleh autoantibodi yang sirkulasi.


c. Indikasi transfusi granulosit terbatas untuk kasus tertentu saja. Transfusi granulosit harus
dipertimbangkan hanya untuk alasan seperti :

Neutropenia persisten dan infeksi berat yang terdapat bukti jelas infeksi bakteri atau jamur yang
tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan dengan antibiotik yang tepat selama 48-72 jam.

Fungsi neutrofil abnormal dan infeksi persisten seperti pada penyakit granulomatosa kronis dan
sebagian kasus mielodisplasia.

Sepsis neonatus, terutama pada bayi prematur dengan sepsis dapat mengalami manfaat transfusi
granulosit, walaupun keefektifannya tidak terbukti.

d. Fresh Frozen Plasma


- Untuk mengoreksi defisiensi faktor pembekuan/pengentalan di (dalam) suatu pendarahan pasien
dengan berbagai defisit faktor pembekuan atau pengentalan (penyakit hati, DIC, transfusi
masive)
- Warfarin yang berlebihan atau kekurangan vitamin K, proses perbaikan coagulopathy yang
diperlukan di dalam 12-24 jam
pasien dengan perdarahan atau pasien dengan resiko pendarahan tinggi
- Penggantian defisiensi dalam Faktor V dan XI
e. Cryoprecipitate
- Hypofibrinogenemia - Fibrinogen <>
Transfusi raksasa(masive)
defisiensi kongenital
defisiensi yang didapat ( misalnya DIC)
- kekurangan Faktor XIII
- Uremia, dengan perdarahan yang tak bereaksi dengan therapy non-transfusion ( misalnya, dialisis,
desmopressin)
- Dysfibrinogenemia ( disfungsi fibrinogen)

II.5. Komplikasi transfusi (6)


Komplikasi transfusi terbagi menjadi lokal dan umum.
Komplikasi lokal yaitu :

Kegagalan memilih vena.

Fiksasi vena yang tidak baik.

Problem ditempat tusukan.

Vena pecah selama menusuk.

Komplikasi umum yaitu :

Reaksi-reaksi transfusi.

Penularan atau transmisi penyakit infeksi.

Sensitisasi imunologis

Transfusi haemochromatosis.

II.6. Reaksi transfusi (6)


1.

Reaksi pyrogenik dapat timbul selama atau setelah transfusi, reaksi khas berupa peningkatan
temperatur antara 38C-40C. Bisa disertai dengan menggigil, kemerahan, kegelisahan dan
ketegangan, jika transfusi dihentikan reaksi dan kegelisahan akan hilang.
Pyrogen mungkin terdapat dalam material yang ditransfusikan atau dari alat yang dipakai untuk
transfusi. Pyrogen merupakan produk metabolisme bakteri.

2. Reaksi alergi terdiri dari 2 mekanisme yaitu antigen dari donor dan antibodi dalam serum orang
sakit bereaksi, antibodi dalam serum donor yang secara pasif ditransfer pada pasien beredar
dengan antigen yang ada pada pasien. Antigen mungkin terdapat pada sel darah putih atau
trombosit atau pada plasma donor.
3 reaksi alergi :
- Anafilaksis dengan gejala syok disertai atau tanpa pireksia, dapat terjadi kegagalan sirkulasi
primer akut, nadi cepat, tekanan darah turun, pernapasan berat.
- Urtikaria bersifat umum, reaksi berat dapat timbul asma, peningkatan temperatur, menggigil,
sakit kepala, nausea, muntah dan pernapasan berat.

- Pireksia sulit dibedakan dengan reaksi pirogen.


3. Sirkulasi yang overload terjadi karena setelah pemberian yang cepat dan banyak terutama karena
tambahan cairan koloid dan seluler, terjadi terutama pada penderita anemia, kelainan jantung
atau degenerasi pembuluh darah. Reaksi demam dapat mendahului reaksi muatan sirkulasi
berlebih.
4. Reaksi hemolitik terjadi setelah transfusi darah inkompatibel, reaksi yang diakibatkan oleh
transfusi darah yang sudah hemolisis invitro. Mekanisme kerusakan sel darah merah non
imunologis/kerusakan invitro.
5.

Reaksi darah yang terkontaminasi bakteri khas dengan tanda kenaikan temperatur sampai 42C,
gangguan sirkulasi perifer, hypotensi dan nadi cepat.

6. Intoksikasi citrat akibat pengumpulan citrat dalam darah dan pengurangan ion calcium, citrat
diekskresikan oleh ginjal dan dimetabolisme dalam hepar, dapat terakumulasi dalam darah
selama transfusi pasien dengan penyakit liver dan ginjal yang berat dan dapat terjadi gagal
jantung.