Anda di halaman 1dari 30

Pembuktian Anak Kandung

Theofilio Leunufna
102012065
E5
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
theofilio.leunufna@civitas.ukrida.ac.id
Pendahuluan
Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu kedokteran,
yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakkan hukum serta
keadilan. Di masyarakat, kerap terjadi pelangaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa
manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini di tingkat
lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan berbagai
ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara
tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat
korban, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal akibat peristiwa tersebut,
diperlukan seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para
pihak yang menangani kasus tersebut. Dokter yang diharapkan membantu dalam proses
peradilan ini akan berbekal pengetahuan kedokteran yang dimilikinya yang terhimpun dalam
ilmu kedokteran forensik. Dalam perkembangannya lebih lanjut, ternyata ilmu kedokteran
forensik tidak semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakkan hukum dan keadilan di
lingkungan pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain,
misalnya dalam membantu penyelesaian klaim asuransi yang adil, baik bagi pihak yang
diasuransi maupun yang mengasuransi, dalam membantu pemecahan masalah paternitas
(penemuan ke-ayah-an), membantu upaya keselamatan kerja dalam bidang industry dan
otomotif dengan pengumpulan data korban kecelakaan industry maupun kecelakan lalu lintas
dan sebagainya. Untuk dapat memberi bantuan yang maksimal bagi berbagai keperluan
tersebut diatas, seorang dokter dituntut untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokteran yang
dimilikinya secara optimal.1
Pada skenario, terdapat seorang perempuan yang menuntut seorang pria beristeri untuk
mengawininya atau menafkahinya, karena ia mengatakan bahwa anak laki-lakinya adalah
hasil hubungannya dengan pria tersebut. Untuk mengetahui identitas atau hubungan
1

paternitas yang sebenarnya, dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti tes golongan
darah maupun tes DNA. Kita dapat menggunakan kedua tes tersebut karena gen ayah dan ibu
pasti diturunkan kepada keturunannya, sesuai dengan hukum mendel. Pada makalah ini,
penulis membahas aspek hukum, agama, social dan kedokteran pada pembuktian paternitas.
Skenario 3
Seorang perempuan A datang ke anda dan menceritakan keluhannya. Ia seorang wanita
karier dan telah bersuamikan S dengan dua anak. Perkawinan telah berlangsung 12 tahun.
Pada dua bulan yang lalu A telah didatangi seorang perempuan muda B yang mengaku
sebagai istri gelap suami S dan ia mengatakan bahwa akibat hubungannya dengan S telah
lahir seorang anak laki-laki.B memnita kepada S agar mengawininya secara sah demi
kepentingan anak laki-lakinya, tetapi S tidak setuju. B meminta kepada A agar mau
menerimanya sebagai madunya atau setidaknya memberi nafkah kepada anak laki-lakinya
A kemudian berbicara secara baik-baik dengan S tentang hal ini. S mengakui bahwa 2
tahun yang lalu, sewaktu A sedang tugas keluar negri selama 6 bulan, ia berkenalan seorang
wanita muda di caf, yang dilanjutkan dengan pertemuan di hotel beberapa kali. S yakin
bahwa B bukanlah wanita baik-baik dan menganggap bahwa hubungan S dengan B adalah
hubungan yang short time saja.
A ingin memastikan apakah benar anak laki-laki B adalah benar berasal dari
hubungannya dengan suaminya. A juga meminta pendapat dokter, apa yang harus dilakukakn
agar dapat terlaksana permintaan tersebut.

Pembahasan
A. Aspek Hukum
Pasal 284 KUHP
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:
1.a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan mukah (overspel) padahal diketahui
bahwa pasal 27 BW berlaku baginya;
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan mukah.
2.a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang
turut bersalah telah kawin.

b. Seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku
baginya.
(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/isteri yang tercemar, dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti
dengan permintaan bercerai atau pidah meja atau ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, pasal 73, pasal 75 KUHP
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum
dimulai.
(5) Jika bagi suami isteri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan
pisah meja atau ranjang menjadi tetap.
Pada kasus ini, suaminya mengakui bahwa ia pernah bertemu dengan wanita di cafe yang
berujung pada pertemuan di hotel beberapa kali, sehingga sang suami dapat dikenakan
hukuman berdasarkan pasal 284 diatas.
Pasal 310
(1) Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan
menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum,
diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Menurut R. Soesilo, supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka penghinaan itu
harus dilakukan dengan cara menuduh seseorang telah melakukan perbuatan tertentu
dengan maksud agar tuduhan itu tersiar (diketahui oleh orang banyak). Perbuatan yang
dituduhkan itu tidak perlu suatu perbuatan yang boleh dihukum seperti mencuri,
menggelapkan, berzina dan sebagainya, cukup dengan perbuatan biasa, sudah tentu suatu
perbuatan yang memalukan. Apabila ternyata anak laki-laki tersebut bukanlah anak dari
suaminya, maka wanita yang mengaku ngaku istri gelap suaminya itu dapat dikenakan pasal
pencemaran nama baik, karena telah menuduh suaminya tersebut tanpa bukti.2

Pasal 311

(1) Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkan
untuk membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan
tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam
melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Apabila setelah dibuktikan bahwa anak laki-laki tersebut bukanlah anak dari
suaminya, wanita tersebut juga dapat dikenakan pasal diatas tentang fitnah, karena telah
melakukan penuduhan dan hal yang dituduhkannya tidak benar.
B. Prosedur Medikolegal
Persetujuan Tindakan Medik
Peraturan Menteri Kesehatan No 585/menkes/Per/IX/1989 tentang persetujuan tindakan
medik :
Pasal 1. Permenkes No 585/menkes/Per/IX/1989
a. Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut;
b. Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa
diagnostik atau terapuetik;
c. Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mempengaruhi
keutuhan jaringan tubuh
d. Dokter adalah dokter umum/dokter spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang
bekerja dirumah sakit, puskesmas, klinik atau praktek perorangan/bersama.
Pasal 2. Permenkes No 585/Menkes/per/IX/1989
1) Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2) Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan
3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan seteah pasien mendapat
informasi yang ade kuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta
resiko yang dapat ditimbulksnnya
4

4) Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan
serta kondisi dan situasi pasien.
Pasal 4 No 585/menkes/Per/IX/1989
1. Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada pasien, baik diminta
maupun tidak
2. Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila dokter
menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau
pasien menolak diberikan informasi.
3. Dalam hal yang sebagaimana dimaksud ayat (2) dokter dengan persetujuan pasien
dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi
oleh seorang perawat/paramedik lainnya sebagai saksi.
Pasal 12 No 585/menkes/Per/IX/1989
1. Dokter bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan tentang persetujuan tindakan
medik
2. Pemberian persetujuan tindakan medik yang dilaksanakan di rumah sakit/klinik yang
bersangkutan ikut bertanggung jawab.
Pasal 13 No 585/menkes/Per/IX/1989
Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau
keluarganya dapat dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan surat izin praktik.
Syarat Tes Paternitas
Prosedur tes paternitas didahului dengan membuat surat perjanjian antarpihak. Hal ini
mengingat bahwa tes paternitas harus diketahui oleh para pihak dan tidak ada keterpaksaan
antara satu dengan yang lain. Setiap orang dapat mengajukan permohonan tes paternitas
langsung ke pihak rumah sakit. Namun, apabila kasus keayaahan ini telah masuk ranah
hukum atau sudah di daftarkan ke pengadilan maka harus disertai dengan surat permohonan
dari pihak penyidik/ JPU/ hakim. Dokter atau petugas laboratorium tidak bisa memaksa atau
menentukan siapa saja yang akan melakukan tes paternitas, melainkan sesuai dengan
perjanjian para pihak.3

Setelah membuat surat perjanjian antar pihak yang akan melakukan tes, maka para
pihak tersebut harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter di instalasi forensik dan
medikolegal untuk menjelaskan tahapan apa saja yang harus dilalui dan menerangkan
masalah biaya.3

C. Aspek Agama
Agama Katolik mendefinisikan perzinahan menurut ajaran Kristus dalam Kitab Suci,
adalah:3
Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat
zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat
zinah. (Luk 16:18, lih. Mrk 10:11)
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap
orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di
dalam hatinya. (Mat 5:27-28)
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 2380

Perzinahan, artinya ketidaksetiaan suami isteri. Kalau dua orang, yang

paling kurang seorang darinya telah kawin, mengadakan bersama hubungan seksual,
walaupun hanya bersifat sementara, mereka melakukan perzinahan. Kristus malah
mencela perzinahan di dalam roh Bdk. Mat 5:27-28.. Perintah keenam dan Perjanjian
Baru secara absolut melarang perzinahan Bdk. Mat 5:32; 19:6; Mrk 10:11; 1 Kor 6:910. Para nabi mengritiknya sebagai pelanggaran yang berat. Mereka memandang
perzinahan sebagai gambaran penyembahan berhala yang berdosa Bdk.Hos 2:7;Yer
5:7; 13:27.

KGK 2381

Perzinahan adalah satu ketidakadilan. Siapa yang berzinah, ia tidak setia

kepada kewajiban-kewajibannya. Ia menodai ikatan perkawinan yang adalah tanda


perjanjian; ia juga menodai hak dari pihak yang menikah dengannya dan merusakkan
lembaga perkawinan, dengan tidak memenuhi perjanjian, yang adalah dasarnya. Ia
membahayakan martabat pembiakan manusiawi, serta kesejahteraan anak-anak, yang
membutuhkan ikatan yang langgeng dari orang-tuanya.

Perzinahan ini merupakan perbuatan yang melanggar kesucian ikatan perkawinan dan
makna luhur hubungan seksual antara seorang pria dan wanita. Jadi jika dijabarkan, Tuhan
tidak berkenan dengan dosa perzinahan, karena:
1. Merupakan perbuatan ketidak-setiaan.
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan,
kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan
berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (Kol 3:5-6)
2. Merupakan perbuatan yang melanggar kesucian dan keluhuran hubungan seksual suami
istri, yang harusnya melambangkan kesatuan antara Kristus dan mempelai-Nya yaitu GerejaNya (jemaat-Nya).
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan
ialah hubungan Kristus dan jemaat. (Ef 5:31-32, lih. Mat 19:5-6)
3. Merupakan perbuatan ketidak- adilan; sebab keadilan mensyaratkan pembagian sesuatu
kepada pihak- pihak yang bersangkutan sesuai dengan haknya. Perzinahan melawan prinsip
keadilan ini, sebab hubungan dilakukan oleh pasangan yang tidak berhak melakukannya.
Selanjutnya, efeknyapun dapat membawa kehancuran dalam keluarga, yaitu pasangan yang
dikhianati, dan anak- anaknya. Tidak ada seorangpun dari kita yang ingin dikhianati, sebab
itu bertentangan dengan prinsip kasih dan keadilan, yang mengatakan:
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian
juga kepada mereka. (Mat 7:12)
4. Merupakan perbuatan dosa yang dapat menyebabkan pelanggaran/ dosa yang lain, seperti
bersaksi dusta terhadap pasangan yang sesungguhnya, pemakaian alat kontrasepsi dan bahkan
pembunuhan ataupun aborsi. Kisah perzinahan Raja Daud merupakan salah satu contohnya
(lih. 2 Sam 11).
5. Merupakan perbuatan yang menjadi skandal/ batu sandungan, entah bagi umat seiman,
maupun bagi mereka yang tidak seiman dengan kita dan ini menyesatkan karena dapat
mengakibatkan sikap merendahkan martabat perkawinan. Keluarga adalah Gereja yang
7

terkecil, yang seharusnya membagikan terang kepada dunia sekitarnya, dan bukannya malah
mengikuti arus dunia, yang seolah menyetujui/ tidak melarang perzinahan.
Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi
celakalah orang yang mengadakannya. (Mat 18:7)
6. Merupakan perbuatan yang merusak diri sendiri dan berdosa terhadap tubuhnya sendiri
yang seharusnya menjadi tempat kediaman Roh Kudus.
Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.(Ams
6:32)
Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota
Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah
kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh
dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: Keduanya akan menjadi satu daging. Tetapi
siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu
dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang
yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu,
bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu
peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Kor 6:15-19)
7. Merupakan perbuatan yang dapat mengakibatkan seseorang kehilangan keselamatannya,
jika yang melakukannya tidak bertobat. Karena perzinahan adalah dosa berat yang melawan
hukum Tuhan, maka perbuatan ini sungguh membawa resiko pihak- pihak yang terlibat di
dalamnya kehilangan rahmat keselamatannya (Lih. Gal 5: 19-20). Perzinahan melibatkan
obyek moral yang berat, dan umumnya dilakukan atas kesadaran dan pengetahuan yang
penuh, dan dengan kehendak bebas; dan ketiga hal ini menjadikan perzinahan sebagai dosa
berat (lih. KGK 1857), yang sungguh memisahkan seseorang dari Tuhan.
Selanjutnya, mungkin relevan di sini kita mengetahui konteks ayat Mat 19:9, di mana
Yesus mengatakan, Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya,
kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah. (Mat 19:9, Mat
5:32). Namun bukan berarti karena zinah maka seseorang dapat menceraikan pasangannya
(istri/ suaminya) yang telah berbuat zinah. St. Clemens dari Alexandria (150-216),

mengajarkan maksud ajaran Yesus pada ayat tersebut sebagai berikut: Zinah di sini artinya
adalah perkawinan antara mereka yang sudah pernah menikah namun bercerai, padahal
pasangannya yang terdahulu itu belum meninggal. Jadi, dalam hal ini, Yesus mengakui
perkawinan yang pertama sebagai yang sah, dan perkawinan kedua itulah yang harusnya
diceraikan agar pihak yang pernah menikah secara sah dapat kembali kepada pasangan
terdahulu.4
Menurut agama Islam, Zina (bahasa Arab : , bahasa Ibrani : zanah ) adalah
perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan
pernikahan (perkawinan). Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah melakukan
hubungan seksual, tapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan
manusia termasuk dikategorikan zina.
Di dalam Islam, pelaku perzinaan dibedakan menjadi dua, yaitu pezina muhshan dan
ghayru muhshan. Pezina muhshan adalah pezina yang sudah memiliki pasangan sah
(menikah). Sedangkan pezina ghayru muhshan adalah pelaku yang belum pernah menikah
dan tidak memiliki pasangan sah. Di bawah hukum Islam, perzinaan termasuk salah satu dosa
besar. Dalam agama Islam, hubungan seksual oleh lelaki/perempuan yang telah menikah
dengan lelaki/perempuan yang bukan suami/istri sahnya, termasuk perzinaan. Dalam AlQuran, dikatakan bahwa semua orang Muslim percaya bahwa berzina adalah dosa besar dan
dilarang oleh Allah.
Tentang perzinaan di dalam Al-Quran disebutkan di dalam ayat-ayat berikut; Al Israa
17:32, Al Araaf 7:33, An Nuur 24:26. Dalam hukum Islam, zina akan dikenakan hukum
rajam. Hukumnya menurut agama Islam untuk para penzina adalah sebagai berikut:

Jika pelakunya muhshan, mukallaf (sudah baligh dan berakal), suka rela (tidak
dipaksa, tidak diperkosa), maka dicambuk 100 kali, kemudian dirajam, berdasarkan
perbuatan Ali bin Abi Thalib atau cukup dirajam, tanpa didera dan ini lebih baik,
sebagaimana dilakukan oleh Muhammad, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar bin
Khatthab.

Jika pelakunya belum menikah, maka dia didera (dicambuk) 100 kali. Kemudian
diasingkan selama setahun.

Dalam kitabnya Abdul Qodir sudah dijelaskan bahwa ketika perempuan atau laki-laki
berbuat zina maka dihukum dengan hukuman, yang pertama yaitu jilid, dan kedua adalah
pengasingan. Pertama, yaitu hukuman jilid, ketika gadis/perawan berzina maka dihukum jilid
100 kali jilidan berdasarkan surat an-Nur ayat 2. Hukuman jilid adalah dihad, yaitu hukuman
yang ditetapkan, dan tidak boleh bagi hakim (qodli) mengurangi atau menambahnya karena
beberapa sebab. Kedua, yaitu pengasingan, para ulama berbeda pendapat dalam hal ini,
menurut Imam Syafii dan Imam Ahmad adalah pengasingan dari daerah yang dijadikan untuk
zina ke daerah lain. Sedangkan menurut Imam Malik dan Abu Hanifah tahgrib adalah
menahan.5
D. Aspek Sosial
1. Dampak Perselingkuhan
Apapun jenis perselingkuhan yang dilakukan oleh suami, dampak negatifnya terhadap
perkawinan amat besar dan berlangsung jangka panjang. Perselingkuhan berarti pula
penghianatan terhadap kesetiaan dan hadirnya wanita lain dalam perkawinan sehingga
menimbulkan perasaan sakit hati, kemarahan yang luar biasa, depresi, kecemasan, perasaan
tidak berdaya, dan kekecewaan yang amat mendalam.
Istri-istri yang amat mementingkan kesetiaan adalah mereka yang paling amat terpukul
dengan kejadian tersebut. Ketika istri mengetahui bahwa kepercayaan yang mereka berikan
secara penuh kemudian diselewengkan oleh suami, maka mereka kemudian berubah menjadi
amat curiga. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan bukti-bukti yang berkaitan dengan
perselingkuhan tersebut. Keengganan suami untuk terbuka tentang detil-detil perselingkuhan
membuat istri semakin marah dan sulit percaya pada pasangan. Namun keterbukaan suami
seringkali juga berakibat buruk karena membuat istri trauma dan mengalami mimpi buruk
berlarut.
Secara umum perselingkuhan menimbulkan masalah yang amat serius dalam perkawinan.
Tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan perceraian karena istri merasa tidak sanggup
lagi bertahan setelah mengetahui bahwa cinta mereka dikhianati dan suami telah berbagi
keintiman dengan wanita. Pada perkawinan lain, perceraian justru karena suami memutuskan
untuk meninggalkan perkawinan yang dirasakannya sudah tidak lagi membahagiakan. Bagi
para suami tersebut perselingkuhan adalah puncak dari ketidakpuasan mereka selama ini.

10

Bagi pasangan yang memutuskan untuk tetap mempertahankan perkawinan, dampak


negatif perselingkuhan amat dirasakan oleh istri. Sebagai pihak yang dikhianati, istri
merasakan berbagai emosi negatif secara intens dan seringkali juga mengalami depresi dalam
jangka waktu yang cukup lama. Rasa sakit hati yang amat mendalam membuat mereka
menjadi orang yang amat pemarah, tidak memiliki semangat hidup, merasa tidak percaya diri,
terutama pada masa-masa awal setelah perselingkuhan terbuka. Mereka mengalami konflik
antara tetap bertahan dalam perkawinan karena masih mencintai suami dan anak-anak dengan
ingin segera bercerai karena perbuatan suami telah melanggar prinsip utama perkawinan.
2. Proses Healing
Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami memberikan dampak negatif yang luar biasa
terhadap istri. Berbagai perasaan negatif yang amat intens dialami dalam waktu bersamaan.
Selain itu terjadi pula perubahan mood yang begitu cepat sehingga membuat para istri serasa
terkuras tenaganya. Kondisi ini, yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan, sama sekali
tidak mudah untuk dilalui. Salah satu perasaan yang secara intens dirasakan adalah kesedihan
dan kehilangan. Perasaan sedih semakin mendalam pada saat-saat menjelang ulang tahun
pernikahan, ulang tahun pasangan, dan tanggal pada saat terbukanya perselingkungan.
Kesedihan akibat perselingkuhan dapat dijelaskan melalui model proses berduka dari
Kubler-Ross yang terdiri dari 5 tahapan:
a) Tahap Penolakan
Awal tahap ini diwarnai dengan perasaan tidak percaya, penolakan terhadap informasi
tentang perselingkuhan suami. Dalam beberapa istri merasa mati rasa yang merupakan respon
perlindungan terhadap rasa sakit yang berlebihan. Bila tidak berlarut-larut, penolakan ini
menjadi mekanisme otomatis yang menghindarkan diri dari luka batin yang dalam.
b) Tahap Kemarahan
Setelah melewati masa penolakan, istri akan mengalami perasaan marah yang amat dahsyat.
Mereka biasanya akan sangat memaki-maki suami atas perbuatannya tersebut, sering
menangis, bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap suami. Kemarahan seringkali
dilampiaskan pula kepada wanita yang menjadi pacar suami. Keinginan istri untuk balas
dendam kepada suami amatlah besar, yang muncul dalam bentuk keinginan untuk melakukan
perselingkuhan atau membuat suami sangat menderita.
c) Tahap Bargaining

11

Ketika perasaan marah sudah agak mereda, maka istri akan memasuki tahap bargaining.
Karena menyadari kondisi perkawinan yang sedang dalam masa krisis maka istri berjanji
melakukan banyak hal positif asalkan perkawinan tidak hancur. Misalnya saja berusaha untuk
lebih perhatian pada suami, menjadi pasangan yang lebih ekspresif dalam hubungan seksual,
atau lebih merawat diri. Keputusan ini kadang tidak rasional karena seharusnya pihak yang
berselingkuh yang harus memperbaiki diri dan meminta maaf.
d) Tahap Depresi
Kelelahan fisik, perubahan mood yang terus menerus, dan usaha-usaha untuk memperbaiki
perkawinan dapat membuat istri masuk ke dalam kondisi depresi. Para istri kehilangan gairah
hidup, merasa sangat sedih, tidak ingin merawat diri dan kehilangan nafsu makan. Mood
depresif menjadi semakin buruk bila istri meyakini bahwa dirinyalah yang salah dan
menyebabkan suami berselingkuh.
e) Tahap Penerimaan
Setelah istri mencapai tahap penerimaan, barulah dapat terjadi perkembangan yang positif.
Penerimaan terbagi menjadi dua tipe. Pertama, penerimaan intelektual yang artinya menerima
dan memahami apa yang telah terjadi. Kedua, penerimaan emosional yang artinya dapat
mendiskusikan perselingkuhan tanpa reaksi-reaksi berlebihan. Proses menuju penerimaan
tidak sama bagi semua orang dan rentang waktunya juga berbeda. Selain perasaan sedih dan
marah, para istri juga mengalami obsesi terhadap perselingkuhan suami. Sepanjang hari
mereka tidak bisa melepaskan diri dari berbagai pertanyaan dan detil-detil perselingkuhan.
Banyak istri yang menginterogasi suaminya berkali-kali untuk memastikan bahwa suami
tidak berbohong dan menceritakan keseluruhan peristiwa.
E. Pemeriksaan Medis
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara baik pemeriksaan
fisik yang melihat ciri ciri fisik dari orang tuanya, misalnya warna rambut, warna kornea,
bentuk muka dan lainnya. Namun, pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditentukan secara pasti.
Oleh karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium atau penunjang lainnya
misalnya pemeriksaan paternitas.

2. Pemeriksaan Laboratorium
12

Pemeriksaan Golongan Darah ABO


Salah satu cara untuk menganalisis pedigree (pohon keturunan) yang paling praktis
dan murah adalah melalui analisis golongan darah. Dua jenis golongan yang paling sering
digunakan untuk menganalisis adalah golongan ABO dan Rhesus.
Golongan darah ABO ditemukan oleh Karl Landsteiner, seorang ilmuan asal
Australia. Pada awalnya, ia menemukan 3 dari 4 golongan darah ABO, yakni golongan
darah A, B, dan O, pada tahun 1900. Ia memeriksa golongan darah beberapa teman
sekerjanya. Percobaan sederhana ini dilakukan dengan cara mereaksikan sel darah merah
dengan serum para donor. Sebagai hasilnya, ada dua macam reaksi, yang kemudian akan
menjadi dasar antigen A dan B, dan satu macam yang tidak memberikan reaksi, dan
merupakan golongan darah O. Dengan kata lain, ada dua macam antigen dalam darah, yaitu
antigen A dan B yang akan memberikan golongan darah A dan B. Sedangkan golongan
darah O tidak memiliki antigen.
Pada tahun 1901, golongan darah AB ditemukan oleh Alfred Von Decastello dan
Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner. Pada golongan darah AB, kedua antigen
A dan B ditemukan secara bersamaan, sedangkan tidak ditemukan antibodi pada serumnya.
Menentukan golongan darah seseorang tidak diperlukan biaya yang besar dan relatif
mudah karena hanya memerlukan beberapa tetesan dari sampel darah. Sebuah serum anti-A
dicampur dengan satu atau dua tetes sampel darah. Serum lainnya dengan anti-B
dicampurkan dengan sisa sampel. Percobaan ini dilakukan dengan memperhatikan apakah
ada penggumpalan pada salah satu sampel darah tersebut. Sebagai contoh, apabila sampel
darah yang dicampur serum anti-A tersebut menggumpal, namun sampel yang dicampur
dengan anti-B tidak menggumpal, maka darah tersebut memiliki antigen A didalamnya.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa golongan darah orang tersebut adalah A. Pada
sampel darah golongan O, tidak terjadi penggumpalan sama sekali setelah diberikan serum
anti-A dan anti-B. Sedangkan pada sampel darah golongan AB, terjadi penggumpalan pada
kedua sampel yang ditetesi anti-A dan anti-B. Golongan darah O disebut sebagai donor
universal, sedangkan golongan darah AB disebut sebagai resepien universal.3

Tabel 1. Pembagian Golongan Darah Sistem ABO3

Golongan Darah

Antigen A

Antigen B

Antibodi A

Antibodi B
13

AB

Gambar 1. Percobaan Anti-A dan Anti-B pada Setiap Sampel Golongan Darah3
Semua orang memiliki antibodi terhadap antigen tertentu dalam plasma darahnya.
Hal ini merupakan hal yang menyebabkan terjadinya penggumpalan. Rantai karbohidrat
dan glikolipid dalam membran eritrosit manusia mengandung sejumlah determinan
antigen yang dapat memicu reaksi imun yang hebat. Seperti yang sudah diketahui,
beberapa orang memiliki antigen-A di dalam darahnya, sedangkan yang lainnya dapat
memiliki antigen-B atau bahkan keduanya. Seorang yang memiliki antigen-A biasanya
memiliki antibodi terhadap antigen-B (kecuali pada golongan darah AB), sehingga akan
terjadi penggumpalan apabila dilakukan transfusi darah. Karena adanya antigen ini, perlu
diketahui golongan darah masing-masing sebelum melakukan transfusi darah. Kegagalan
dalam melakukan cross-matching dapat menjadi fatal, menyebabkan aglutinasi intravaskular masif dan lisis dari eritrosit dalam resipien tranfusi.3
Pemeriksaan DNA
DNA merupakan materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan.
Setiap orang memiliki DNA yang unik. Dalam sel manusia, DNA dapat ditemukan di inti sel
dan mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk suatu kesatuan untaian yang disebut
kromosom. Setiap anak akan menerima setengah pasang kromoson dari ayah dan setengah

14

pasang kromosom dari ibu sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari
ibu maupun ayah. Dalam hal ini ada dua tes, yaitu :

Tes paternitas
Tes ini untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak.
Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa

bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis.


Tes maternitas
Tes DNA ini untuk menentukan apakah seorang perempuan adalah ibu biologis
seorang anak. Tes ini bisa dilakukan untuk kasus dugaan bayi tertukar, bayi tabung, dan
anak angkat. Selain di dalam inti sel, DNA juga bisa ditemukan di dalam mitokondria,
yaitu bagian dari sel yang menghasilkan energi. DNA mitokondria hanya diturunkan dari
ibu. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA ini dapat digunakan
sebagai penanda untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal/garis ibu.
Semakin lama semakin disadari bahwa setiap anak mempunyai hak

untuk

mendapatkan informasi mengenai asal usul mereka. Pengetahuan mengenai siapa ayah dan
ibu kandung dari seorang anak mempunyai banyak pengaruh bagi para pihak yang terkait.
Pertama, informasi mengenai siapa orangtua biologis dari seorang anak, akan menunjukan
pasangan tersebut sebagai orang pertama yang (seharusnya) merupakan lingkaran terdalam
lingkungan anak tersebut. Kedua, pengetahuan itu memberikan hak tertentu kepada anak
tersebut, diantaranya hak atas pengasuhan, hak untuk mendapat santunan biaya hidup dan hak
waris dari orangtuanya.
Kasus paternitas sesungguhnya merupakan sebagian dari kasus sengketa asal-usul.
Sengketa asal-usul berdasarkan objek sengketanya dapat digolongkan menjadi beberapa jenis
kasus yaitu

Kasus ragu orang tua (disputed parentage) yaitu kasus yang mencari pembuktian siapa
orangtua (ayah dan ibu) dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah
kasus imigrasi, kasus pencarian orangtua pada kasus penculikan, bayi tertukar, kasus
terpisahnya keluarga pada masa perang atau bencana dan kasus identifikasi korban tidak

dikenal.
Kasus ragu ayah (disputed paternity) yaitu kasus yang mencari pembuktian siapa ayah
kandung dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus imigrasi,
kasus klaim keayahan seorang wanita, kasus perselingkuhan dan kasus incest.

15

Kasus ragu ibu (disputed maternity) yaitu kasus yang mencari pembuktian siapa ibu
kandung dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus bayi tertukar,

kasus pembunuhan anak sendiri dan kasus aborsi.


Kasus ragu kerabat yaitu kasus yang mencari pembuktian apakah dua orang atau lebih
punya hubungan darah (kekerabatan tertentu). Yang termasuk kategori ini adalah
pelacakan silsilah keluarga, kasus pencarian keluarga setelah bencana alam, dsb.
Sengketa asal usul dalam masyarakat jumlahnya banyak sekali, tetapi biasanya yang

muncul dan menjadi berita hanya sebagian kecilnya saja. Fenomena ini kita kenal sebagai
fenomena gunung es (iceberg fenomenon). Kasus sengketa asal usul yang terbanyak dalam
masyarakat adalah kasus klaim keayahan terhadap seorang pria oleh seorang wanita hamil,
dengan janin dalam rahim yang diklaimnya sebagai anak dari pria tersebut. Kasus semacam
ini pada umumnya diselesaikan secara kekeluargaan dan secara diam-diam, karena dianggap
merupakan aib keluarga, khususnya jika pria tersebut merupakan orang terhormat atau pria
yang sudah beristri. Hal ini dapat dimaklumi, karena kasus ini bukan saja dapat
mengakibatkan hancurnya nama baik dan reputasi pria tersebut, tetapi juga dapat
menyebabkan pecahnya rumah tangga dan hancurnya karir pria tersebut.
Kasus sengketa asal-usul merupakan kasus medis, sehingga pemecahannya pun harus
secara medis pula. Setiap manusia dilahirkan dengan membawa sifat gabungan dari ayah dan
ibunya karena ia tercipta dari penyatuan sel sperma ayahnya dan sel telur ibunya pada saat
pembuahan. Dengan demikian, pada diri setiap anak tedapat sifat gabungan dari ayah dan
ibunya yang diturunkan melalui materi keturunan yang kita sebut DNA.
Hukum Mendel
Prinsip dasar hereditas ditemukan oleh Gregor Mendel melalui percobaan
persilangan kacang ercis. Kacang ercis merupakan subjek yang mudah untuk penelitian
genetika, namun tidak demikian pada manusia. Masa generasi manusia adalah 20 tahun,
dan orangtua manusia akan menghasilkan keturunan yang relatif lebih sedikit daripada
kacang ercis. Dengan kata lain, teknik-teknik yang digunakan Mendel untuk kacang ercis
tidak perlaku pada manusia, tetapi dasar-dasar Mendelisme tetap bertahan sebagai pondasi
genetika manusia. Untuk memahami prinsip Mendelisme pada manusia, diperlukan
pedigree atau silsilah keturunan.
Silsilah ini tidak hanya membantu untuk memahami masa lalu, tetapi juga
memprediksi masa depan. Persilangan antara gen dominan dengan gen resesif tetap berlaku
16

pada manusia. Analisis keturunan akan menjadi permasalahan yang lebih serius apabila alel
yang bersangkutan menyebabkan penyakit herediter yang dapat menimbulkan cacat atau
kematian. Kelainan-kelainan pada manusia ini dapat diturunkan secara dominan dan juga
resesif.4
Dalam Mendelisme, dikenal sebuah istilah yang disebut ko-dominansi. Pada kasus
ini, polipeptida dari setiap alel berinteraksi untuk menghasilkan fenotipe yang berbeda.
Produk kedua alelnya akan muncul pada heterozigot. Contoh yang baik untuk kasus kodominansi adalah golongan darah pada manusia. Ada empat golongan darah manusia, yaitu
A, B, AB, dan O. Golongan darah ditentukan oleh tiga alel pada lokus isoaglutinogen atau
antigen, yang biasanya disingkat menjadi I. IA dan IB merupakan ko-dominan, dan keduanya
dominan terhadap IO. Orang yang memiliki golongan darah A atau B dapat merupakan
heterozigot yang memiliki IO yang resesif. Orang yang memiliki golongan darah O
memiliki dua alel resesif. Orang dengan golongan darah AB memiliki satu alel yang
memiliki antigen A, sedangkan alel lainnya memiliki antigen B.5
Tabel 2. Golongan Darah Manusia5

Genotipe
IA IB

Fenotipe (golongan darah)


AB

IA IA atau IA II

IB IB atau IB II

II II

Pada penentuan golongan darah pada anak, sebuah antigen tidak mungkin timbul
pada anak jika antigen tersebut tidak dimiliki oleh salah satu atau kedua orang tuanya, baik
antigen tersebut adalah antigen dominan atau resesif. Orang tua yang homozigot pasti akan
menurunkan antigen tersebut pada anaknya, sedangkan anak yang homozigot pasti
mendapatkan antigen tersebut dari masing-masing orang tuanya.
Menurut hukum Mendel, apabila orang tua dari si anak tidak memiliki antigen A
atau B, maka antigen tersebut tidak mungkin muncul pada anak. Apabila kedua orang tua
memiliki golongan darah AB, maka tidak akan mungkin memiliki anak yang bergolongan
darah O karena orang tua tidak memiliki IO pada antigennya. Hal ini juga berlaku pada
orang tua yang memiliki golongan darah O. Karena antigen I O bersifat resesif, maka
seseorang yang memiliki golongan darah O tidak mungkin memiliki antigen dominan.

17

Dengan kata lain, anak dari kedua orang tua yang bergolongan darah O tidak mungkin
bergolongan darah AB.6
Tabel 3. Dugaan Golongan Darah Anak berdasarkan Golongan Darah Orang Tua

Gol.

Darah

pada

Gol. Darah pada Anak

Gol. Darah yang Tidak Mungkin

Orang Tua
OxO

pada Anak
A, B, AB

OxA

O, A

B, AB

AxA

O, A

B, AB

OxB

O, B

A, AB

BxB

O, B

A, AB

AxB

O, A, B, AB

Tidak ada

O x AB

A, B

O, AB

A x AB

A, B, AB

B x AB

A, B, AB

AB x AB

A, B, AB

Untuk membuktikan dugaan-dugaan di atas, dapat digunakan cara persilangan


menurut hukum Mendel. Apabila salah satu orang tua memiliki golongan darah A atau B,
maka ada beberapa kemungkinan untuk menentukan golongan darah pada anaknya karena
seseorang yang bergolongan darah A atau B dapat merupakan heterozigot.
P1

Ayah

Ibu

Fenotipe

Genotipe

IB IB

IA IA

IB IO

IA IO

Pada kasus di atas, dikarenakan ibu bergolongan darah A, maka ada dua
kemungkinan persilangan golongan darah yang akan diturunkan kepada anaknya.
Kemungkinan pertama, sang ibu dapat merupakan seseorang yang bergolongan darah A
homozigot. Kemungkinan kedua, sang ibu dapat juga merupakan seseorang yang
bergolongan darah A heterozigot. Begitu pula dengan ayah, sesuai diskusi dalam PBL, ayah
bergenotipe IBIB.
18

P1

Ayah

Ibu

Fenotipe

Genotipe

IB IB

F1

IA IB, IA IB, IBIO, IBIO

IA IO

50% golongan darah AB genotip IA IB


50% golongan darah B genotip IB IO

DNA ( Deoxyribose Nuclead Acid ) dan Strukturnya


Asam deoksiribonukleat (DNA) adalah bahan kimia yang membentuk gen. DNA
adalah suatu polimer yang terdiri dari nukleotida yang secara bergilir merupakan molekul
yang terdiri dari suatu cincin purin atau pirimidin (basa DNA adalah adenin (A), timin (T),
guanin (G), dan sitosin (C)), satu gula deoksiribosa dan fosfat (Lihat Gambar 1 & 2). Unitunit nukleotida disatukan secara kovalen menjadi rangkaian panjang yang membentuk untaiganda dengan dua untai disatukan oleh ikatan hidrogen antara basa-basa spesifik-adenin di
satu untai selalu terletak berhadapan dengan timin di untai lain dan hal yang sama untuk
guanin dan sitosin.7

Gambar 1. Struktur DNA8

19

Gambar 2. Struktur DNA8


Teknik DNA Rekombinan
DNA rekombinan (rDNA) adalah bentuk DNA buatan yang dibuat dengan
menggabungkan dua atau lebih sekuens yang biasanya tidak akan terjadi bersama-sama. Ini
berbeda dari rekombinasi genetika karena DNA rekombinan tidak terjadi melalui proses alam
dalam sel, tetapi direkayasa.9
Dalam teknologi DNA rekombinan, endonuklease restriksi tertentu yang digunakan
dalam mengisolasi gen tertentu dan bersatu tulang punggung gula fosfat di berbagai titik
(mempertahankan simetri), sehingga fragmen pembatasan ganda terdampar memiliki ujung
beruntai tunggal. Ekstensi ini pendek, yang disebut ujung lengket dapat membentuk pasangan
basa hidrogen terikat dengan ujung lengket pelengkap pada setiap memotong DNA lainnya
dengan enzim yang sama.
Fragmen Restriksi
Sebuah fragmen restriksi adalah fragmen DNA yang dihasilkan dari pemotongan untai
DNA oleh enzim restriksi (endonuklease restriksi), proses yang disebut pembatasan. Setiap
enzim restriksi yang sangat spesifik, mengakui urutan DNA tertentu pendek, atau situs
pembatasan, dan memotong untai DNA baik pada titik-titik tertentu dalam situs ini. Situs
restriksi kebanyakkan palindrom, (urutan nukleotida adalah sama pada kedua untai jika
dibaca dalam 5 'ke 3' arah), dan 4-8 nukleotida panjang. Banyak luka yang dibuat oleh salah
satu enzim restriksi karena pengulangan kesempatan urutan ini dalam molekul DNA yang
panjang menghasilkan satu set fragmen restriksi. Sebuah molekul DNA tertentu akan selalu
menghasilkan set yang sama fragmen pembatasan ketika terkena enzim restriksi yang sama.

20

Fragmen restriksi dapat dianalisis dengan menggunakan teknik seperti elektroforesis gel atau
digunakan dalam teknologi DNA rekombinan.10
Pemeriksaan DNA Fingerprint
Pemeriksaan sidik DNA pertama kali diperkenalkan oleh Jeffreys pada tahun 1985.
Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya bagian DNA manusia yang termasuk daerah noncoding atau intron (tak mengkode protein) yang ternyata merupakan urutan basa tertentu yang
berulang sebanyak n kali.
Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genom manusia sehingga dinamakan
multilokus. Bagian DNA ini dimiliki oleh semua orang tetapi masing-masing individu
mempunyai jumlah pengulangan yang berbeda-beda satu sama lain, sedemikian sehingga
kemungkinan dua individu mempunyai fragmen DNA yang sama sangat kecil sekali. Bagian
DNA ini dikenal dengan nama Variable Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya
tersebar pada bagian ujung dari kromosom. Seperti juga DNA pada umumnya, VNTR ini
diturunkan dari kedua orangtua menurut hukum Mendel, sehingga keberadaannya dapat
dilacak secara tidak langsung dari orangtua, anak maupun saudara kandungnya.
Jeffreys dkk menemukan bahwa suatu fragmen DNA yang diisolasi dari DNA yang
terletak dekat dengan gen globin manusia ternyata dapat melacak VNTR ini secara simultan.
Pelacak DNA (probe) multilokus temuannya ini dinamakan pelacak Jeffreys yang terdiri dari
beberapa probe, diantaranya 16.6 dan 16.15 yang paling sering digunakan.
Pemeriksaan sidik DNA diawali dengan melakukan ekstraksi DNA dari sel berinti,
lalu memotongnya dengan enzim restriksi Hinfl, sehingga DNA menjadi potongan-potongan.
Potongan DNA ini dipisahkan satu sama lain berdasarkan berat molekulnya (panjang
potongan) dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose. Dengan menempatkan DNA
pada sisi bermuatan negative, maka DNA yang juga bermuatan negative akan ditolak ke sisi
lainnya dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan panjang fragmen DNA. Fragmen
DNA yang telah terpisah satu sama lain di dalam agar lalu diserap pada suatu membrane
nitroselulosa dengan suatu metode yang dinamakan Southern blot.
Membran yang kini telah mengandung potongan DNA ini lalu diproses untuk
membuat DNA-nya menjadi DNA untai tunggal (proses denaturasi), baru kemudian
dicampurkan dengan pelacak DNA yang telah dilabel dengan bahan radioaktif dalam proses

21

yang dinamakan hibridisasi. Pada proses ini pelacak DNA akan bergabung dengan fragmen
DNA yang merupakan basa komplemennya.
Untuk menampilkan DNA yang telah berhibridisasi dengan pelacak berlabel ini,
dipaparkanlah suatu film diatas membrane sehingga film akan terbakar oleh adanya radioaktif
tersebut (proses autoradiografi). Hasil pembakaran film oleh inar radioaktif ini akan tampak
pada film berupa pita-pita DNA yang membentuk gambaran serupa Barcode (label barang di
supermarket).
Dengan metode Jeffreys dan menggunakan 2 macam pelacak DNA umumnya dapat
dihasilkan sampai 20-40 buah pita DNA per sampelnya.
Pada kasus identifikasi mayat tak dikenal, dilakukan pembandingan pita korban
dengan pita orangtua atau anak-anak tersangka korban. Jika korban benar adalah tersangka,
maka akan didapatkan bahwa separuh pita anak akan cocok dengan ibunya dan separuhnya
lagi cocok dengan pita ayahnya. Hal yang sama juga dapat dilakukan pada kasus ragu ayah
(disputed paternity).
Pada kasus perkosaan, dilakukan pembandingan pita DNA dari apus vagina dengan
pita DNA tersangka pelaku. Jika tersangka benar adalah pelaku, maka akan dijumpai pita
DNA yang persis pola susunannya.
Prinsip analisis DNA fingerprint pada kasus ragu ayah (disputed paternity) meliputi
pelacakan pita maternal (pita anak yang sesuai dengan pita ibu), kemudian pita anak sisanya
(pita paternal) dicocokkan dengan pita tersangka ayah. Tersangka dinyatakan sebagai bukan
ayah jika taka da pita yang cocok, dan sebaliknya.
Analisis VNTR lain
Setelah penemuan Jeffreys ini, banyak terjadi penemuan VNTR lain. Metode
pemeriksaan pun menjadi beraneka ragam dengan menggunakan enzim restriksi, sistem
labeling pelacak dan pelacak yang berbeda, meskipun semua masih menggunakan metode
Southern blot seperti metode Jeffreys.
Setelah kemudian ditemukan sesuatu pelacak yang dinamakan pelacak lokus tunggal
(single locus), maka mulailah orang mengalihkan perhatiannya pada metode baru ini. Pada
sistem pelacakan dengan pelacak tunggal, yang dilacak pada suatu pemeriksaan hanya satu
lokus tertentu saja, sehingga pada analisis selanjutnya hanya akan didapatkan dua pita DNA
22

saja. Karena pola penurunan DNA ini juga sama, maka satu pita berasal dari ibu dan pita
satunya berasal dari ayah.
Adanya jumlah pita yang sedikit ini menguntungkan karena interpretasinya menjadi
lebih mudah dan sederhana. Keuntungan lain adalah ia dapat mendeteksi jumlah pelaku
perkosaan. Jika pada usap vagina korban ditemukan ada 6 pita DNA misalnya, maka pelaku
perkosaan adalah 3 orang (satu orang 2 pita). Kelemahannya adalah jumlah pita yang sedikit
membuat kekuatan diskriminasi individunya lebih kecil, sehingga untuk identifikasi personal
selain kasus perkosaan, perlu dilakukan pemeriksaan dengan pelacakan beberapa lokus
sekaligus.
Secara umum, metode Jeffreys dan pelacak multilokus dianjurkan untuk kasus
identifikasi personal, sedang untuk kasus perkosaan menggunakan metode dengan pelacak
lokus tunggal. Pemeriksaan DNA dengan pelacak DNA lokus tunggal hanya akan
menghasilkan 2 pita untuk setiap sampel (satu jika homozigot). Pada kasus perkosaan ini
ditemukan 4 pita pada sampel usap vagina (mixture), yang menunjukkan pelakunya ada 2
orang.

Pemeriksaan RFLP
Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Length Polymorphisms (RFLP)
adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat adanya variasi panjang fragmen DNA
setelah dipotong dengan enzim restriksi tertentu. Suatu enzim restriksi mempunyai
kemampuan untuk memotong DNA pada suatu urutan basa tertentu sehingga akan
menghasilkan potongan-potongan DNA tertentu. Adanya mutasi tertentu pada lokasi
pemotongan dapat membuat DNA yang biasanya dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong
sehingga terbentuk fragmen DNA yang lebih panjang. Variasi inilah yang menjadi dasar
metode analisis RFLP.
VNTR yang telah dibicarakan diatas sesungguhnya adalah salah satu jenis RFLP,
karena variasi fragmennya didapatkan setelah pemotongan dengan enzim restriksi. Metode
pemeriksaan RFLP dapat dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat juga dengan
metode PCR.
23

PCR (Polymerase Chain Reaction)


Reaksi berantai polimerase atau lebih umum dikenal sebagai PCR (kependekan dari
istilah bahasa Inggris Polymerase Chain Reaction) merupakan suatu teknik atau metode
perbanyakan (replikasi) DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme. Dengan
teknik ini, DNA dapat dihasilkan dalam jumlah besar dengan waktu relatif singkat sehingga
memudahkan berbagai teknik lain yang menggunakan DNA.8
Teknik PCR
PCR membutuhkan DNA beruntai ganda yang mengandung sekuens sasaran, DNA
polimerase tahan panas, keempat macam nukleotida, dan dua untai DNA yang panjangnya 15
sampai 20 nukleotida sebagai primer. Salah satu primer komplementer dengan salah satu
ujung sekuens sasaran pada salah satu untai. Primer kedua komplementer dengan ujung yang
satu lagi dari sekuens sasaran pada untai yang lain.11
Teknik PCR dilakukan dengan cara mencampurkan sampel DNA dengan primer
oligonukleotida, deoksiribonukleotida trifosfat (dNTP), enzim termostabil Taq DNA
polimerase dalam larutan DNA yang sesuai, kemudian menaikkan dan menurunkan suhu
campuran secara berulang beberapa puluh siklus sampai diperoleh jumlah sekuens DNA yang
diinginkan.
PCR merupakan proses yang diulang-ulang antara 2030 kali siklus. Setiap siklus
terdiri atas tiga tahap. Berikut adalah tiga tahap bekerjanya PCR dalam satu siklus:
1. Tahap peleburan (melting) atau denaturasi. Pada tahap ini (berlangsung pada suhu
tinggi, 9496 C) ikatan hidrogen DNA terputus (denaturasi) dan DNA menjadi
berberkas tunggal. Biasanya pada tahap awal PCR tahap ini dilakukan agak lama
untuk memastikan semua berkas DNA terpisah. Pemisahan ini menyebabkan DNA
tidak stabil dan siap menjadi templat ("patokan") bagi primer. Durasi tahap ini 12
menit.
2. Tahap penempelan atau annealing. Primer menempel pada bagian DNA templat yang
komplementer urutan basanya. Ikatan hidrogen akan terbentuk antara primer dengan
urutan komplemen pada templat. DNA polymerase akan berikatan sehingga ikatan
hidrogen tersebut akan menjadi sangat kuat dan tidak akan putus kembali apabila
24

dilakukan reaksi polimerisasi selanjutnya. Proses ini dilakukan pada suhu antara 45
60 C. Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu yang tidak tepat menyebabkan tidak
terjadinya penempelan atau primer menempel di sembarang tempat. Durasi tahap ini
12 menit.
3. Tahap pemanjangan atau elongasi. Suhu untuk proses ini tergantung dari jenis DNA
polimerase yang dipakai. Dengan Taq-polimerase, proses ini biasanya dilakukan pada
suhu 76 C. Primer yang telah menempel tadi akan mengalami perpanjangan pada
sisi 3nya dengan penambahan dNTP yang komplemen dengan templat oleh DNA
polimerase. Jika siklus dilakukan berulang-ulang maka daerah yang dibatasi oleh dua
primer akan di amplifikasi secara eksponensial (disebut amplikon yang berupa untai
ganda), sehingga mencapai jumlah copy yang dapat dirumuskan dengan (2n)x.
Dimana n adalah jumlah siklus dan x adalah jumlah awal molekul DNA. PCR dengan
menggunakan enzim Taq DNA polimerase pada akhir dari setiap siklus akan
menyebabkan penambahan satu nukleotida A pada ujung 3 dari potongan DNA yang
dihasilkan. Proses PCR dilakukan menggunakan suatu alat yang disebut
thermocycler. Durasi tahap ini biasanya 1 menit.
Lepas tahap 3, siklus diulang kembali mulai tahap 1. Akibat denaturasi dan renaturasi,
beberapa berkas baru (berwarna hijau) menjadi templat bagi primer lain. Akhirnya terdapat
berkas DNA yang panjangnya dibatasi oleh primer yang dipakai. Jumlah DNA yang
dihasilkan berlimpah karena penambahan terjadi secara eksponensial (Lihat Gambar 3).

Gambar 3. Proses PCR11


25

Gambar 4. Proses PCR11

Teknik Short Tandem Repeats


Analisis RFLP dengan Southern blotting merupakan metode ampuh untuk
pendeteksian kemiripan dan perbedaan sampel DNA dan hanya membutuhkan darah atau
jaringan lain dalam jumlah yang sangat sedikit (kira kira 1000 sel). Misalnya, dalam kasus
pembunuhan metode ini dapat digunakan untuk membandingkan sampel DNA dari tersangka,
korban, dan sedikit darah yang dijumpai di TKP. Probe radioaktif menandari pita
elektroforesis yang mengandung penanda RFLP tertentu. Biasanya scientist forensic menguji
kira kira lima penanda, dengan kata lain hanya beberapa bagian DNA yang akan diuji. Akan
tetapi, rangkaian penanda dari suatu individu yang demikian sedikit pun sudah dapat
memberikan sidik jari DNA, atau pola pita spesifik yang berguna untuk forensic karena
probabilitas bahwa dua orang (yang bukan kembar identic) akan memiliki rangkaian penanda
RFLP yang tepat sama adalah sangat kecil.12
Saat ini, sebagai pengganti RFLP, variasi panjang DNA satelit semakin banyak
digunakan sebagai penanda untuk penyidik jarian DNA. DNA satelit terdiri atas urutan basa
yang berulang secara tandem (berurut) di dalam genomnya. Urutan satelit yang paling
bermanfaat untuk keperluan forensic adalah mikrosatelit yang panjangnya kira kira 10-100
pasangan basa, yang memiliki unit berulang hanya beberapa padangan basa, dan yang sangat
bervariasi dari satu orang ke orang yang lain. Misalnya satu individu dapat saja memiliki unit
ACA yang berulang 65 kali pada satu lokus genom, 118 kali pada lokus kedua, dan
seterusnya, sementara individu lain agaknya akan memiliki jumlah pengulangan yang
26

berbeda pada lokus lokus tersebut. Lokus genetic polimorfik tersebut biasanya disebut
perulangan tandem sederhana (STR simple Tandem Repeat). Fragmen restriksi yang
mengandung STR bervariasi ukurannya di antara individu individu karena perbedaan dalam
panjang STR, bukannya disebabkan oleh perbedaan jumlah tempat restriksi di dalam daerah
genom, seperti dalam analisis RFLP. Semakin banyak penanda yang diperiksa dalam suatu
sampel DNA akan semakin unik sidik jari DNA menggambarkan suatu individu. PCR sering
digunakan secara selektif untuk memperkuat STR tertentu atau penanda lain sebelum
elektroforesis. Karena kekuatan selektifnya, PCR sangat bernilai apabila DNA-nya dalam
keadaan buruk atau tersedia hanya dalam jumlah yang sangat kecil. Sampel jaringan sekecil
20 sel sudah mencukupi untuk PCR.12
Sidik jari seseorang akan benar benar unik jika memang layak untuk melakukan
analisis fragmen restriksi pada seluruh genom orang tersebut. Pada prakteknya, seperti yang
telah dijelaskan, pengujian sidik jari DNA berfokus hanya pada kira kira lima daerah yang
sangat kecil dari suatu genom. Akan tetapi, daerah DNA yang dipilih merupakan daerah yang
diketahui sangat bervariasi dari satuu orang ke orang lainnya. Pada sebagian kasus forensic,
probabilitas dua orang memiliki sidik jari DNA yang sama ialah antara satu salam 100.000
hingga satu dalam satu miliar. Angka yang tepat tergantung pada jumlah penanda ini dalam
populasinya. Informasi tentang bagaimana berbagai penanda yang sama berada dalam
kelompok etnik yang berbeda adalah kuncinya karena frekuensi penanda ini dapat sangat
berbeda dari frekuensi pada populasi itu secara keseluruhan. Data seperti itu sekarang telah
membuat pasa scientist forensic dapat membuat perhitungan statistic yang sangat akurat.
Dengan demikian, meskipun ada masalah masalah yang timbul dari data statistic yang tidak
mencukupi, kesalahan manusia (human error), atau bukti cacat, sidik jari DNA sekarang
diterima sebagai bukti penguat oleh pakar hukum dan scientist sejenis.12
Contoh hasil pemeriksaan paternitas yang menunjukkan bahwa tersangka pria adalah ayah
biologis dari seorang anak.
No

Lokus

Tn. X

Anak B

Ny. M

kesimpulan

01

CSFIPO

11 , 12

11 , 11

11 ,11

mungkin

02

FGA

12 , 15

15 , 16

16 , 18

mungkin

03

TH01

08 , 12

08 , 11

11 , 12

mungkin

04

TPOX

15 , 15

15 , 15

14 , 15

mungkin
27

05

VWA

19 , 21

19 , 22

20 , 22

Mungkin

06

D3S1358

11 , 12

10 , 12

10 , 22

mungkin

07

D5S818

08 , 11

09 , 11

09 , 11

mungkin

08

D7S820

07 , 09

07 , 07

07 , 08

mungkin

09

D8S1179

14 , 16

14 , 18

17 , 18

mungkin

10

D13S317

12 , 14

14 , 15

15 , 15

mungkin

11

D16S539

08 , 11

08 , 09

08 , 09

mungkin

12

D18S51

14 , 16

16 , 18

15 , 18

mungkin

13

D21S11

14 , 14

13 , 14

13 , 15.2

mungkin

Keterangan :
1. Pada setiap lokus (daerah) DNA yang diperiksa, setiap anak memiliki sepasang pita
DNA, yang dinyatakan sebagai angka yang menunjukkan panjangnya DNA.
2. Satu pita anak pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ibunya (pita materal),
sedangkan satu pita lainnya pasti ada padanannya (sama) dengan DNA ayah
kandungnya (pita paternal)
3. Eksklusi artinya terdapat ketidaksesuaian (tidak sama) DNA paternal anak dengan
DNA tersangka ayah pada lokus tersebut.
4. Seorang pria dikatakan AYAH BIOLOGIS (genetik) dari seorang anak, jika pita
paternal anak sama dengan salah satu DNA pria tersebut pada setiap lokus DNA yang
diperiksa.
5. Seorang pria dikatakan BUKAN AYAH BIOLOGIS (genetik) dari seorang anak jika
dua atau lebih lokus DNA yang diperiksa didapat ada ketidaksesuaian (eksklusi) DNA
paternal anak dengan DNA pria tersebut.
6. Pada tabel diatas didapatkan pada semua lokus DNA ditemukan kesesuaian DNA
paternal anak B dengan DNA Tuan X. Hal ini menunjukkan bahwa anak B adalah
benar anak biologis Tuan X. Paternity Index 5.540.619, menunjukkan bahwa Tuan X
5.540.619kali lebih mungkin merupakan ayah biologis dari anak B dibandingkan pria
lngain yang diambil secara acak dari dalam populasi yang sama.
7. Probability of paternity pada kasus ini adalah 99,99998%

28

Interpretasi Temuan
Pada kasus apakah anak tersebut adalah anak kandungnya atau bukan, didapatkan hasil
sebagai berikut:
Bayi
Ibu
Ayah
Probabilitas paternity exclusion 50%

Golongan Darah
B
A
B

Kesimpulan
Untuk melakukan tes paternitas diperlukan informed consent secara tertulis terlebih
dahulu. Tes untuk membuktikan benarnya seorang anak adalah hasil dari suatu hubungan
dapat diketahui dengan berbagai cara seperti pemeriksaan medis secara fisik didapatkan
bahwa anak memiliki ciri-ciri fisik seperti ayahnya yaitu kesamaan bentuk muka, warna
rambut, warna kornea, dan sebagainya. Pemeriksaan golongan darah dan DNA dapat
membantu untuk menguatkan dugaan hasil pemeriksaan fisik. Diketahui dari pemeriksaan
golongan darah bahwa ayah bergolongan darah B, ibu bergolongan darah A, dan anak
bergolongan darah B. Penentuan anak kandung ini diperkuat dengan hasil dari konfirmasi
laboratorium pemeriksaan DNA yang menggunakan teknologi PCR dan STR (Short
Tandem Repeat). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa anak laki-laki tersebut benar
merupakan anak hasil hubungan B dengan S.

Daftar Pustaka
1. Staf Pengajar Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu
Kedokteran Forensic. Cetakan ke-2. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 1997.

29

2. R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta KomentarKomentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.
3. Utami IN. Implementasi pembuktian asal-usul anak luar kawin berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam putusan mahkamah konstitusi nomor 46/PUUVIII/2010. Jurnal Novum 2015 April; 2(1): 1-16.
4. http://www.katolisitas.org/4287/tentang-perzinahan. Diunduh tanggal 6 Januari 2016.
5. https://zenyqq.wordpress.com/2012/12/28/hukum-perzinahan-menurut-pandangan-islam/.
Diunduh tanggal 6 Januari 2016.
6.
7.
8.
9.

Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004. h. 60-4.
Brooker C. Ensiklopedia keperawatan. Jakarta: EGC; 2005.
Struktur DNA. Diunduh dari: www.google.com.
Diunduh
dari:
http://www.news-medical.net/health/Recombinant-DNA-What-is-

Recombinant-DNA-%28Indonesian%29.aspx. 6 Januari 2016.


10. Wikipedia.
Fragmen
Restriksi.
Diunduh
dari:
wiki/Restriction_fragment. 6 Januari 2016. 13:59.
11. Wikipedia. Rantai berantai polimerase. Diunduh

dari:

http://en.wikipedia.org/
http://id.wikipedia.or

g/wiki/Reaksi_berantai_polimerase. 6 Januari 2016. 13.47.


12. Campbell NA, Reece JB, Urry LA, Cain LM, Wasserman SA, Minorsky PV, dkk. Biologi.

Edisi kedelapan. Jakarta: Erlangga; 2010.

30