Anda di halaman 1dari 110

Prosedur Audit Pemeriksaan Aset Tetap

Oke bro, sis, om dan tan berikut ini adalah prosedur audit aset tetap dan penjelasannya,
langsung aja disimak, SEMOGA MANFAAT......
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tetap.
dalam hal ini biasanya auditor menggunakan Internal Control Questionnaires (ICQ),
beberapa ciri internal control yang baik atas aset tetap adalah :

a. digunakannya anggaran untuk penambahan aset tetap .


Jika ada aset tetap yang ingin dibeli tetapi belum tercantum dianggaran maka aset tetap
tersebut tidak boleh dibeli dahulu.
b. Setiap penambahan dan penarikan aset tetap terlebih dahulu harus diotorisasi oleh pejabat
berwenang.
c. Adanya kebijakan tertulis dari manajemen mengenai capitalization dan depreciation
policy.
d. Diadakannya kartu aset tetap atau sub buku besar aset tetap yang mencantumkan tanggal
pembelian, nama supplier, harga perolehan, metode dan persentase penyusutan, jumlah
penyusutan, akumulasi penyusutan dan nilai buku aset tetap.
e. Setiap aset tetap diberi nomor kode.
f. Minimal setahun sekali dilakukan inventarisasi (Pemeriksaan fisik aset tetap), untuk
mengetahui keberadaannya dan kondisi dari aset tetap.
g. Bukti-bukti pemilikan aset tetap disimpan ditempat yang aman.
h. Aset tetap diasuransikan dengan jumlah Insurance Coverage (nilai pertanggungan) yang
cukup.
2. Minta kepada Klien Top Schedule serta Supporting Shedule aset tetap, yang berisikan :
Saldo awal, penambahan serta pengurangan-pengurangannya dan saldo akhir, baik untuk
harga perolehan maupun akumulasi penyusutannya.
3. Periksa footing dan cross footingnya dan cocokkan totalnya dengan General
Ledgeratau Sub-Ledger, saldo awal dengan Working Paper tahun lalu.
4. Vouched penambahan serta pengurangan aset tetap.
untuk penambahan aset tetap, selain diperhatikan otorisasi dan kelengkapan supporting
document, harus dilihat apakah penambahan tersebut sudah tercantum di anggaran.
Untuk pengurangan aset tetap harus diperiksa Journal Entry nya.
contoh :Mesin dengan harga perolehan Rp10.000.000 dan akumulasi penyusutannya (sampai
dengan tanggal penarikannya) Rp8.000.000 dijual dengan harga Rp3.000.000 secara tunai.
Journal Entry yang seharusnya adalah :
Dr Kas
Rp3.000.000
Dr Akumulasi Penyusutan Mesin Rp8.000.000
Cr. Mesin
Rp10.000.000
Cr. Laba penjualan aset tetap
Rp1.000.000
karena seringkali perusahaan mencatat transaksi tersebut dengan mendebit kas Rp3.000.000
dan mengkredit mesin Rp3.000.000.
Auditor juga harus memeriksa apakah uang kas sebesar Rp3.000.000 sudah diterima
perusahaan dan dicatat dalam buku penerimaan kas.
5. Periksa fisik dari aset tetap dan perhatikan kondisinya apakah masih dalam keadaan baik
atau sudah rusak.
mengenai pemeriksaan fisik aset tetap secara basis test ada 2 pendapat ;
1. Yang dites hanya penambahan dalam tahun berjalan yang jumlahnya besar.
2. Diutamakan penambahan yang baru serta beberapa aset tetap yang lama.
pada pendapat yang pertama memang akan lebih cepat pelaksanaannya, tetapi ada kelemahan
yaitu bila ada aset tetap yang sudah lama dibeli atau tidak dapat dipakai lagi, maka dengan
cara pertama tidak diketahui.
6. Pemeriksaan bukti pemilikan aset tetap

contoh dalam hal ini harus dicocokkan nomor mesin, chasis, dan nomor polisi kendaraan
yang tercantum di BPKB dan STNK dengan yang terdapat di kendaraan. Perhatikan juga
apakah surat-surat tanah, gedung, kendaraan atas nama perusahaan.
7. Pelajari dan periksa apakah Capitalization serta Depreciation Polici-nya konsisten dengan
tahun sebelumnya (misal perhitungan menggunakan Straigh Line Method).
Tentang Policy dan Capitalization tersebut ada beberapa kemungkinan :
a. berdasarkan jumlahnya, misalnya diatas Rp1.000.000 harus dikapitalisir.
b. Berdasarkan masa manfaatnya
c. Campuran antara jumlah dan masa manfaatnya.
Tentang Policy dari penyusutannya ada beberapa kemungkinan, apakah penyusutan tersebut
dimulai :
a. Pada tanggal pembelian;
b. Pada tanggal pemakaian;
c. Juga perlu diketahui masa penyusutannya, misal tanggal pembelian 1-15 dihitung satu
bulan penuh sedangkan 16-30/31 dihtung setengah bulan.
8. Analisis perkiraan repair dan maintenance.
harus diperhatikan kemungkinan Klien untuk memperkecil laba dengan mencatat Capital
Expenditure sebagai Revenue Expenditure.
9. Periksa kecukupan Insurance Coverage, dalam artian jangan sampai terlalu keci atau
terlalu besar. Jika terlalu kecil ada bahaya bahwa jika terjadi kebakaran, ganti rugi perusahaan
asuransi tidak mencukupi untuk membeli aset tetap(misalkan gedung atau mesin) yang baru
sehingga mengganggu kegiatan operasi perusahaan. tentang penilaian cukup
tidaknya Insurance Coverage tersebut adalah atas dasar jumlah yang mendekati harga pasar.
10. Tes perhitungan penyusutan dan alokasi biaya penyusutan aset tetap.
Penyusutan ini biasanya dari aset tetap yang dapat disusutkan, seperti gedung kantor dan
sebagainya, sebab ada juga Fixed Assets yang tidak dapat disusutkan seperti Tanah hak milik.
Tetapi bila tanah tersebut digunakan untuk bahan baku pembuatan batu bata atau genteng,
maka dapat disusutkan biasa istilahnya tuh deplesi.
Apabila tanah tersebut merupakan tanah dengan hak guna bangunan, maka tanah tersebut
tidak dapat disusutkan. Auditor harus memeriksa akurasi dari perhitungan penyusutan yang
dibuat klien, dan ketetapan alokasi biaya penyusutan sebagai bagian dari biaya produksi tidak
langsung, biaya umum dan administrasi serta biaya penjualan.
11. Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, jawaban konfirmasi dari bank, untuk memeriksa
apakah ada aset yang dijadikan jaminan atau tidak.
12. Periksa apakah ada Commitment yang dibuat oleh perusahaan untuk membeli atau
menjual aset tetap.
13. Untuk Contruction In Progress, kita periksa penambahannya dan apakah adaConstruction
In Progress yang harus ditransfer ke aset tetap.
14. Jika ada aset yang diperoleh melalui leasing, periksa lease agreement dan periksa
apakah Accounting treatment-nya sudah sesuai dengan standar akuntansi leasing.
15. Periksa apakah ada aset tetap yang dijaminkan.

Jika aset tetap dijaminkan berarti bukti pemilikan diserahkan (disimpan) di bank, sehingga
auditor harus memeriksa tanda terima penyerahan bukti-bukti kepemilikan. selain itu jika ada
aset tetap yang dijaminkan harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
16. Periksa penyajian aset tetap dalam laporan keuangan apakah sudah sesuai dengan
SAK/ETAP/IFRS, baik di Posisi Keuangan,(cost and accumulated depreciation), di laba rugi
(biaya penyusutan), dicatatan atas laporan keuangan (kebijakan kapitalisasi dan
penyusutan,rincian garis besar aset tetap) maupun di lampiran (rincian aset tetap).
yang disebutkan tadi tuh berlaku buat repeat engagements (penugasan berulang) makanya
dititikberatkan pada pemeriksaan transaksi tahun berjalan (periode yang diperiksa).
Untuk First Audit (audit pertama kali) bisa dibedakan sebagai berikut :

Jika tahun sebelumnya perusahaan sudah diaudit oleh kantor akuntan lain, saldo awal
saldo aset tetap bisa dicocokkan dengan laporan akuntan terdahulu dan kertas kerja
pemeriksaan akuntan tersebut.

Jika tahun-tahun sebelumnya perusahaan belum pernah diaudit, akuntan publik harus
memeriksa mutasi penambahan dan pengurangan aset tetap sejak awal berdirinya
perusahaan, untuk mengetahui apakah pencatatan yang dilakukan perusahaan untuk
penambahan dan pengurangan aset tetap, serta metode dan perhitungan penyusutan
aset tetap dilakukan sesuai dengan standar akuntansi di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
Tentu saja pemeriksaan mutasi tahun-tahun sebelumnya dilakukan secara test basis
dengan mengutamakan jumlah material.

http://coretanauditor.blogspot.co.id/2014/11/prosedur-audit-pemeriksaan-asettetap.html

Membukukan Transaksi Leasing, Akuntansi (PSAK 30)


versus Pajak
Technorati Tags: Leasing,Aktiva Tetap,Perpajakan,PSAK,Taxation,Fixed Assets,Akuntansi Sewa
Dasar Pencatatan :
(1) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 (Revisi 2007) tentang Sewa,
(2) Keputusan Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991
Perlakuan Akuntansi
PSAK No. 30 (Revisi 2007) tentang Sewa dalam paragraf 8 mengatur bahwa suatu sewa
diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh
risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa
operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait
dengan kepemilikan aset.

Paragraf 10 menjelaskan bahwa klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi
didasarkan pada substansi transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya. Contoh dari situasi yang
secara individual atau gabungan dalam kondisi normal mengarah pada sewa yang diklasifikasikan
sebagai sewa pembiayaan adalah :
1. sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa;
2. lessee mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah dibandingkan nilai
wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa
opsi memang akan dilaksanakan;
3. masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aset meskipun hak milik tidak dialihkan;
4. pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substansial mendekati
nilai wajar aset sewaan; dan
5. aset sewaan bersifat khusus dan dimana hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa perlu
modifikasi secara material.
Lebih lanjut, paragraf 16 menjelaskan bahwa untuk sewa pembiayaan pada awal masa sewa, lessee
mengakui sewa pembiayaan sebagai aset dan kewajiban dalam neraca sebesar nilai wajar aset
sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai
wajar. Penilaian ditentukan pada awal kontrak.
Sedangkan dalam paragraf 29 diatur mengenai pencatatan sewa operasi, bahwa pembayaran sewa
dalam sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa
sewa kecuali terdapat dasar sistimatis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat
aset yang dinikmati pengguna.
Untuk jenis transaksi leasing berupa transaksi jual dan sewa-balik (sale and lease back) dapat terjadi
bahwa nilai aset tercatat aset yang dialihkan kepada leasing company berbeda dengan nilai
pembelian/pembiayaan oleh leasing company tersebut.
Paragraf 56 PSAK No. 30 mengatur bahwa jika suatu transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa
pembiayaan, selisih lebih hasil penjualan dari nilai tercatat tidak dapat diakui segera sebagai
pendapatan oleh penjual-lessee, tetapi ditangguhkan dan diamortisasi selama masa sewa.
Perlakuan Perpajakan
Secara perpajakan, pencatatan transaksi leasing diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan No.
1169/KMK.01/1991. KepMenKeu ini hanya mengatur mengenai pencatatan transaksi leasing secara
sale and lease back dengan hak opsi sehingga untuk jenis leasing lainnya misalnya Pembiayaan
Konsumen harus mengacu kepada PSAK No. 30.
Dalam praktek sehari-hari, sering ditemukan kesalahpahaman dari accounting perusahaan sehingga
dalam perpajakan memperlakukan transaksi Pembiayaan Konsumen layaknya Sale and Lease Back
dengan Hak Opsi.
Menurut KepMenKeu No. 1169 tersebut, kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai Sewa Guna
Usaha (SGU) dengan hak opsi apabila memenuhi semua kriteria berikut :

1. Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha pertama ditambaha dengan
nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor;
2. Masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya 2 tahun untuk barang modal Golongan I, 3
tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7 tahun untuk Golongan Bangunan;
3. Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.
Ketentuan perpajakan memperlakukan SGU dengan Hak Opsi secara berbeda dari akuntansi.
Adapun perbedaannya sebagai berikut :
Secara akuntansi, pencatatan dilakukan secara Capital Lease, dimana :
1. aktiva leasing langsung dibukukan sebagai aktiva tetap leasing dan disusutkan sesuai dengan
masa manfaatnya;
2. lessee membebankan biaya penyusutan aktiva SGU dan beban bunga SGU
Secara perpajakan, dilakukan secara Operating Lease, dimana :
1. aktiva tetap leasing baru diakui setelah lessee melaksanakan hak opsinya, dengan biaya perolehan
sebagai dasar penyusutan sebesar nilai opsi tersebut
2. lessee membebankan angsuran pokok dan bunga SGU sebagai biaya leasing
Sedangkan untuk transaksi pembiayaan konsumen, pencatatan secara akuntansi maupun perpajakan
sama, yaitu dilakukan secara Capital Lease.
Contoh illustrasi (Sale and Lease Back dengan Hak Opsi) :
PT A memperoleh fasilitas pembiayaan berupa Sale and Lease Back dengan Hak Opsi atas 1 unit
Mesin Press dengan rincian transaksi sebagai berikut :
Harga beli dari supplier = Rp 1.144.800.000; Pembayaran Uang Muka (D/P) kepada Supplier = Rp
300.000.000; Sisa Hutang kepada Supplier = Rp 844.800.000.
Pembiayaan oleh Leasing Company = Rp 844.800.000; Masa Angsuran = 20/11/2004 s/d 20/10/2007
(36 bulan); Angsuran Pokok = Rp 844.800.000; Bunga Angsuran = Rp 201.312.000
Jurnal Akuntansi (PSAK No. 30) :

Aktiva Tetap Mesin

1.144.800.000

Kas
300.000.000
Hutang Supplier
844.800.000

(membukukan transaksi pembelian aktiva tetap dari supplier)

Hutang Supplier
844.800.000
Hutang Leasing
844.800.000
(membukukan transaksi pengalihan aktiva tetap ke leasing company)

Hutang Leasing
26.144.498
Biaya Bunga
Leasing

12.412.502

Kas
38.557.000
(membukukan pembayaran angsuran bulanan SGU)
Jurnal Perpajakan (KepMenKeu No. 1169)

Aktiva Tetap Mesin

1.144.800.000

Kas
300.000.000
Hutang Supplier
844.800.000
(membukukan transaksi pembelian aktiva tetap dari supplier)

Hutang Supplier
844.800.000
Jaminan Leasing
300.000.000
Aktiva Tetap
Mesin

1.144.800.000

(membukukan transaksi pengalihan aktiva tetap ke leasing company)

Biaya Leasing

38.557.000
Kas
38.557.000
(membukukan pembayaran angsuran bulanan SGU)
Secara perpajakan, jika pada akhir masa leasing, lessee menggunakan hak opsinya maka dalam
pembukuan lessee membukukan aktiva tetap sebagai dasar penyusutan sebesar Rp 300.000.000
yaitu sebesar nilai jaminan leasing. Selama masa SGU, jaminan leasing dibukukan sebagai Aktiva
Lain-lain.
Sedangkan, jika transaksinya berupa Pembiayaan Konsumen, maka pencatatan akuntansi dan
perpajakan harus sesuai PSAK No. 30 (jurnal pertama) (Hrd).

http://auditme-post.blogspot.co.id/2008/05/membukukan-transaksi-leasingakuntansi.html

BUKTI AUDIT SERTA PROSEDUR DAN DOKUMENTASI AUDIT

BUKTI AUDIT
Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan
pendapat atas laporan keuangan terdiri dari usaha untuk mendapatkan dan
mengevaluasi bukti audit. Ukuran keabsahan (validity) bukti tersebut untuk
tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor independen, dalam hal ini
bukti audit (audit evidence)berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang
diatur secara tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi
pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam
rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan. Relevansi,
objektivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan
kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti.
Sifat Asersi

Asersi (assertion) adalah pernyataan manajemen yang terkandung di


dalam komponen laporan keuangan. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit
atau eksplisit serta dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.

Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence).


Asersi tentang keberadaan atau keterjadian berhubungan dengan apakah
aktiva atau utang entitas ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang
dicatat telah terjadi selama periode tertentu. Sebagai contoh, manajemen
membuat asersi bahwa sediaan produk jadi yang tercantum dalam neraca
adalah tersedia untuk dijual. Begitu pula, manajemen membuat asersi bahwa
penjualan dalam laporan laba-rugi menunjukkan pertukaran barang atau jasa
dengan kas atau aktiva bentuk lain (misalnya piutang) dengan pelanggan.

2.

Kelengkapan (completencess).
Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah semua transaksi
dan akun yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan telah dicantumkan
di dalamnya. Sebagai contoh, manajemen membuat asersi bahwa seluruh
pembelian barang dan jasa dicatat dan dicantumkan dalam laporan keuangan.
Demikian pula, manajemen membuat asersi bahwa utang usaha di neraca telah
mencakup semua kewajiban entitas.

3.

Hak dan kewajiban (right and obligation).


Asersi tentang hak dan kewajiban berhubungan dengan apakah aktiva
merupakan hak entitas dan utang merupakan kewajiban perusahaan pada
tanggal tertentu. Sebagai contoh, manajemen membuat asersi bahwa jumlah
sewa guna usaha (lease) yang dikapitalisasi di neraca mencerminkan nilai
pemerolehan hak entitas atas kekayaan yang disewaguna-usahakan (leased) dan
utang sewa guna usaha yang bersangkutan mencerminkan suatu kewajiban
entitas.

4.

Penilaian (valuation) atau alokasi


Asersi tentang penilaian atau alokasi berhubungan dengan apakah
komponen-komponen

aktiva,

kewajiban,

pendapatan

dan

biaya

sudah

dicantumkan dalam laporan keuangan pada jumlah yang semestinya. Sebagai


contoh, manajemen membuat asersi bahwa aktiva tetap dicatat berdasarkan
harga pemerolehannya dan pemerolehan semacam itu secara sistematik
dialokasikan ke dalam periode-periode akuntansi yang semestinya. Demikian
pula, manajemen membuat asersi bahwa piutang usaha yang tercantum di
neraca dinyatakan berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasikan.
5.

Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)


Asersi tentang penyajian dan pengungkapan berhubungan dengan apakah
komponen-komponen tertentu laporan keuangan diklasifikasikan, dijelaskan, dan
diungkapkan

semestinya.

Misalnya,

manajemen

membuat

asersi

bahwa

kewajiban-kewajiban yang diklasifikasikan sebagai utang jangka panjang di


neraca tidak akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun. Demikian pula,
manajemen membuat asersi bahwa jumlah yang disajikan sebagai pos luar biasa
dalam laporan laba rugi diklasifikasikan dan diungkapkan semestinya.

Kesesuaian dan Kecukupan Bukti


Kecukupan bukti audit lebih berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Faktor
yang mempengaruhi kecukupan bukti audit terdiri dari:
Materialitas
Auditor harus membuat pendapat pendahuluan atas tingkat materialitas
laporan keuangan. Ada hubungan terbalik antara tingkat materialitas dan
kuantitas bukti audit yang diperlukan. Semakin rendah tingkat materialitas,
semakin banyak kuantitas bukti yang diperlukan. Tingkat materialitas yang
ditentukan rendah berarti torelable missunderstatement rendah. Rendahnya
salah saji dapat ditoleransi menuntut auditor untuk menghimpun lebih banyak
bukti sehingga auditor yakin tidak ada salah saji material yang terjadi.
Risiko audit
Ada hubungan terbalik antara risiko audit dengan jumlah bukti yang
diperlukan

untuk

mendukung

pendapat

auditor

atas

laporan

keuangan.

Rendahnya risiko audit berarti tingginya tingkat kepastian yang diyakini auditor
mengenai

ketepatan

pendapatnya.

Tingginya

tingkat

kepastian

tersebut

menuntut auditor untuk menghimpun bukti yang lebih banyak. Semakin rendah
tingkat risiko audit yang dapat diterima auditor, semakin banyak bukti audit
yang diperlukan.
Faktor-Faktor Ekonomi
Auditor memilih keterbatasan sumber daya yang digunakan untuk
memperoleh bukti yang digunakan sebagai dasar yang memadai untuk
memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan. Pelaksanaan audit
menghadapi kendala waktu dan biaya dalam menghimpun bukti. Auditor harus
memperhitungkan apakah setiap tambahan biaya dan waktu untuk menghimpun
bukti seimbang dengan keuntungan atau manfaat yang diperoleh melalui
kuantitas dan kuliatas bukti yang dihimpun.
Ukuran dan Karakteristik Populasi
Auditor tidak mungkin menghimpun dan mengevaluasi seluruh bukti yang
ada

untuk

mendukung

pendapatnya.

Hal

tersebut

sangat

tidak

efisien.

Pengumpulan bukti audit pemeriksaan terhadap bukti audit dilakukan atas dasar
sampling.
Ada hubungan searah antara besarnya populasi dengan besar sampling
yang harus diambil dari populasi tersebut. Semakin besar populasinya, semakin
besar jumlah sampel bukti audit yang harus diambil dari populasinya.
Karakteristik populasi berkaitan dengan homogenitas atau variabilitas
item individual yang menjadi anggota populasi. Auditor memerlukan lebih
banyak sampel atau informasi yang lebih kuat atau mendukung atas populasi
yang bervariasi anggotanya daripada populasi yang seragam.

Kompetensi Bukti

Untuk dapat dikatakan kompeten, bukti audit, terlepas bentuknya, harus


sah dan relevan. Keabsahan sangat tergantung atas keadaan yang berkaitan
dengan pemerolehan bukti tersebut. Dengan demikian penarikan kesimpulan
secara umum mengenai dapat diandalkannya berbagai macam bukti audit,
tergantung pada pengecualian penting yang ada. Namun, jika pengecualian yang
penting dapat diketahui, anggapan berikut ini mengenai keabsahan bukti audit
dalam audit, meskipun satu sama lain tidak bersifat saling meniadakan, dapat
bermanfaat:
1.

Apabila bukti dapat diperoleh dari pihak independen di luar perusahaan,


untuk tujuan audit auditor independen, bukti tersebut memberikan jaminan
keandalan yang lebih daripada bukti yang diperoleh dari dalam perusahaan itu
sendiri.

2.

Semakin efektif pengendalian intern, semakin besar jaminan yang


diberikan mengenai keandalan data akuntansi dan laporan keuangan.

3.

Pengetahuan auditor secara pribadi dan langsung yang diperoleh melalui


inspeksi

fisik,

pengamatan,

perhitungan,

dan

inspeksi

lebih

bersifat

menyimpulkan dibandingkan dengan yang diperoleh secara tidak langsung.

Kompetensi atau reliabilitas bahan bukti yang berupa catatan akuntansi


berkaitan erat dengan efektivitas pengendalian internal klien. Semakin efektif
pengendalian intern klien, semakin kompeten catatan akuntansi yang dihasilkan.
Kompetensi bukti yang berupa informasi penguat tergantung pada beberapa
faktor, yaitu:
Relevansi
Bukti yang relevan adalah bukti yang tepat digunakan untuk suatu
maksud tertentu. Sebagai contoh pengamatan fisik persediaan yang di auditor
relevan

digunakan

untuk

menentukan

keberadaan

persediaan.

Namun,

pengamatan fisik persediaan tidak relevan digunakan untuk menentukan apakah


persediaan tersebut benar-benar dimiliki perusahaan.
Sumber

Bukti yang diperoleh auditor secara langsung dari pihak luar perusahaan
yang independen merupakan bukti yang paling dapat dipercaya. Bukti semacam
ini memberikan tingkat keyakinan keandalan yang lebih besar daripada yang
dihasilkan dan diperoleh dari dalam perusahaan.
Ketepatan waktu
Kriteria ini berhubungan dengan tanggal pemakaian bukti tersebut.
Ketepatan waktu sangat penting terutama dalam verifikasi aktiva lancar, utang
lancar, dan rekening laporan rugi laba terkait karena hasilnya digunakan untuk
mengetahui apakah cutof telah dilakukan secara tepat.
Objektifitas
Bukti yang objektif lebih dapat dipercaya dan kompeten daripada bukti
subjektif. Dalam menelaah bukti subjektif, seperti estimasi manajemen, auditor
harus mempertimbangkan kualifikasi dan integritas individu pembuat estimasi,
dan

menentukan

ketepatan

proses

pembuatan

keputusan

dalam

membuat judgement.

Jenis Bukti Audit


Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat digunakan untuk mengecek ketelitian
dan

dapat

dipercayainya

data

akuntansi.

Kuat

dan

lemahnya

struktur

pengendalian intern merupakan indikator utama untuk menentukan jumlah bukti


yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern
merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi
keuangan dipercaya.
Bukti Fisik

Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas
dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud.
Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang
paling objektif dalam menentukan kualitas aktiva yang bersangkutan. Oleh
karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling bisa dipercaya.
Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi,
penghitungan, dan observasi. Pada umumnya, biaya memperoleh bukti fisik
sangat tinggi. Bukti fisik berkaitan erat dengan asersi keberadaan dan
keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data
untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi
merupakan objek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti
catatan akuntansi merupakan objek audit. Objek audit adalah laporan keuangan.
Tingkat dapat dipercayainya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya
struktur pengendalian intern.
Konfirmasi
Konfirmasi

merupakan

proses

pemerolehan

dan

penilaian

suatu

komunikasi langsung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan


informasi tentang unsur tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan
keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena
berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis.
Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi yaitu:
1.

Konfirmasi positif, merupakan konfirmasi yang respondennya diminta


untuk menyatakan persetujuan atau penolakan terhadap informasi yang
ditanyakan.

2.

Blank confirmation, merupakan konfirmasi yang respondenya diminta


untuk mengisikan saldo atau informasi lain sebagai jawaban atas suatu hal yang
ditanyakan.

3.

Konfirmasi negatif, merupakan konfirmasi yang respondenya diminta


untuk memberikan jawaban hanya jika ia menyatakan ketidaksetujuannya
terhadap informasi yang ditanyakan.
Bukti Dokumenter
Bukti dokumenter merupakan bukti yang penting dalam audit. Menurut
sumber dan tingkat kepercayaan bukti, bukti dokumenter dapat dikelompokkan
sebagai berikut:

1.

Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar dan dikirim kepada auditor
secara langsung.

2.

Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor
melalui klien.

3.

Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan oleh klien.


Bukti dokumenter antara lain meliputi notulen rapat, faktur penjualan,
rekening

koran

bank,

dan

bermacam-macam

kontrak.

Reliabilitas

bukti

dokumenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat


dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya
kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen.
Bukti Surat Pernyataan Tertulis
Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani
seorang individu yang bertanggungjawab dan berpengatahuan mengenai
rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti suatu pernyataan tertulis dapat
berasal dari manajemen atau organisasi klien maupun sumber eksternal
termasuk bukti dari spesialis. Representasi tertulis yang dibuat oleh manajemen
merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan
hukum klien, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional
organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga.
Penghitungan Kembali sebagai Bukti Matematis

Bukti matematis diperoleh auditor melalui penghitungan kembali oleh


auditor. Penghitungan yang di auditor merupakan bukti audit yang bersifat
kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan
ketelitian catatan akuntansi klien.
Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan
manusia sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengadakan pengajuan
pertanyaan lisan. Masalah yang dapat ditanyakan antara lain meliputi kebijakan
akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang
tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah
lama tidak ditagih. Jawaban atas pertanyaan yang dinyatakan merupakan bukti
lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit.
Bukti Analitis dan Perbandingan
Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien
dengan anggaran atau standar prestasi, trend industri dan kondisi ekonomi
umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu
pos

tertentu

dalam

laporan

keuangan.

Keandalan

bukti

analitis

sangat

tergantung pada relevansi data pembanding.


Bukti analitis meliputi juga perbandingan atas pos-pos tertentu antara
laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun-tahun
sebelumnya. Perbandingan ini dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang
terjadi, dan untuk menilai penyebabnya. Bukti-bukti ini dikumpulkan pada awal
audit untuk menentukan objek pemeriksaan yang memerlukan pemeriksaan
yang lebih mendalam.

Penilaian Bukti
Dalam menilai bukti audit, auditor harus mempertimbangkan apakah
tujuan audit tertentu telah tercapai. Auditor harus secara mendalam mencari
bukti audit dan tidak memihak (bias) dalam mengevaluasinya. Dalam merancang

prosedur audit untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup, auditor harus
memperhatikan kemungkinan laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Dalam merumuskan
pendapatnya, auditor harus mempertimbangkan relevansi bukti audit, terlepas
apakah bukti audit tersebut mendukung atau berlawanan dengan asersi dalam
laporan keuangan. Bila auditor masih tetap ragu-ragu untuk mempercayai suatu
asersi yang material, maka ia harus menangguhkan pemberian pendapatnya
sampai ia mendapatkan bukti kompeten yang cukup untuk menghilangkan
keraguannya, atau ia harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian
atau menolak memberikan pendapat.

PROSEDUR DAN DOKUMENTASI AUDIT


Perancangan pengujian substantif
Auditor harus menghimpun bukti yang cukup untuk memperoleh dasar
yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan klien.
Pengujian substantif menyediakan bukti mengenai kewajaran setiap asersi
laporan keuangan yang signifikan. Perancangan pengujian substantif meliputi
penentuan:
1.

sifat pengujian

2.

waktu pengujian

3.

dan luas pengujian substantif yang perlu untuk memenuhi tingkat risiko
deteksi yang dapat diterima untuk setiap asersi.

Jenis Prosedur Substantif


Jika tingkat risiko deteksi yang dapat diterima rendah, maka auditor harus
menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya juga lebih mahal. Ada
tiga tipe pengujian substantif yang dapat digunakan, yaitu:
Pengujian rinci atau detail saldo

Metodologi yang digunakan oleh auditor untuk merancang pengujian


detail saldo akun beorientasi pada tujuan spesifik audit. Pengujian detail saldo
akun yang direncanakan harus memadai untuk memenuhi setiap tujuan spesifik
audit dengan memuaskan.
Metodologi perancangan pengujian detail saldo meliputi empat tahapan, yaitu:
1.

Menilai materialitas dan risiko bawaan suatu akun.

2.

Menetapkan risiko pengendalian.

3.

Merancang pengujian transaksi dan prosedur analitis.

4.

Merancang pengujian detail saldo untuk memenuhi setiap tujuan spesifik


audit secara memuaskan.
Metodologi yang digunakan untuk merancang pengujian detail saldo
tersebut, adalah sama untuk setiap akun dalam laporan keuangan. Perancangan
pengujian detail saldo pada umumnya merupakan bagian yang paling sulit
dilakukan. Hal ini disebabkan perancangan pengujian detail saldo memerlukan
pertimbangan profesional yang tinggi.
Bila

diantara

risiko

deteksi

yang

ditentukan

dihubungkan

dengan

pengujian rinci saldo yang akan dilakukan maka akan jelas terlihat bahwa
semakin rendah tingkat risiko, semakin rinci dan teliti tindakan yang akan
diambil.
Pengujian detail transaksi
Pengujian detail transaksi dilakukan untuk menentukan:
1.

Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi klien.

2.

Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jurnal.

3.

Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut ke dalam buku


besar dan buku pembantu.
Apabila auditor mempunyai keyakinan bahwa transaksi tersebut telah
dicatat dan diposting secara tepat, maka auditor dapat meyakini bahwa saldo
total buku besar adalah benar.

Pengujian

detail

dengan tracing dan vouching.

transaksi
Pada

pengujian

terutama
detail

transaksi

dilakukan
ini,

auditor

mengarahkan pengujiannya untuk memperoleh temuan mengenai ada tidaknya


kesalahan yang bersifat moneter. Auditor tidak mengarahkan pengujian detail
transaksi ini untuk memperoleh temuan tentang penyimpangan atas kebijakan
dan prosedur pengendalian.
Pada pengujian detail transaksi ini, auditor menggunakan bukti yang
diperoleh untuk mencapai suatu kesimpulan mengenai kewajaran saldo akun.
Auditor biasanya menggunakan dokumen yang tersedia pada file klien dalam
pengujian ini. Efektivitas pengujian detail transaksi tergantung pada prosedur
dan dokumen yang digunakan.
Pengujian detail transaksi pada umumnya lebih banyak menyita waktu
daripada prosedur analitis. Oleh karena itu, pengujian ini lebih banyak
membutuhkan biaya daripada prosedur analitis. Meskipun demikian, pengujian
detail transaksi lebih sedikit membutuhkan biaya daripada pengujian detail
saldo.
Prosedur analitis
Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat
atau ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan
harapan yang dikembangkan oleh auditor. Prosedur analitik merupakan bagian
penting dalam proses audit dan terdiri dari evaluasi terhadap informasi
keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara
data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya, atau antara data
keuangan dengan data nonkeuangan. Prosedur analitik mencakup perbandingan
yang paling sederhana hingga model yang rumit yang mengaitkan berbagai
hubungan dan unsur data.
Asumsi dasar penerapan prosedur analitik adalah bahwa hubungan yang
masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan berlanjut, kecuali jika
timbul kondisi yang sebaliknya. Kondisi tertentu yang dapat menimbulkan
penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain, peristiwa atau

transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi


acak, atau salah saji.
Pemahaman hubungan keuangan adalah penting dalam merencanakan
dan mengevaluasi hasil prosedur analitik, dan secara umum juga menuntut
dimilikinya pengetahuan tentang klien dan industri yang menjadi tempat usaha
klien. Pemahaman atas tujuan prosedur analitik dan keterbatasannya juga
penting. Oleh karena itu, identifikasi hubungan dan jenis data yang digunakan,
serta kesimpulan yang diambil apabila membandingkan jumlah yang tercatat
dengan yang diharapkan, membutuhkan pertimbangan auditor.
Prosedur analitik digunakan dengan tujuan sebagai berikut:
1.

Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur


audit lainnya.

2.

Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi


tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi.

3.

Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir


audit.
Auditor
diinginkannya

mempertimbangkan
dari

pengujian

tingkat

substantif

keyakinan,

untuk

suatu

jika

ada,

tujuan

audit

yang
dan

memutuskan, antara lain prosedur yang mana, atau kombinasi prosedur mana,
yang dapat memberikan tingkat keyakinan tersebut. Untuk asersi tertentu,
prosedur analitik cukup efektif dalam memberikan tingkat keyakinan memadai.
Namun, pada asersi lain, prosedur analitik mungkin tidak seefektif atau seefisien
pengujian rinci dalam memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan.
Efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu prosedur analitik
dalam mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas, antara lain:
1.

Sifat asersi.

2.

Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan.

3.

Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan


harapan.

4.

Ketepatan harapan.

Prosedur Analitik dalam Perencanaan Audit


Tujuan

prosedur

analitik

dalam

perencanaan

audit

adalah

untuk

membantu dalam perencanaan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit yang akan
digunakan untuk memperoleh bukti saldo akun atau golongan transaksi tertentu.
Untuk maksud ini, prosedur analitik perencanaan audit harus ditujukan untuk:
1.

Meningkatkan pemahaman auditor atas bisnis klien dan transaksi atau


peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir dan,

2.

Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu


yang bersangkutan dengan audit. Jadi, tujuan prosedur ini adalah untuk
mengidentifikasikan hal seperti adanya transaksi dan peristiwa yang tidak biasa,
dan

jumlah,

rasio

serta trend yang

dapat

menunjukkan

masalah

yang

berhubungan dengan laporan keuangan dan perencanaan audit.


Prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit umumnya
menggunakan data gabungan yang digunakan untuk pengambilan keputusan di
tingkat atas. Lebih lanjut kecanggihan, lingkup, dan saat audit, yang didasarkan
atas pertimbangan auditor dapat berbeda tergantung atas ukuran dan kerumitan
klien. Untuk beberapa entitas, prosedur analitik dapat terdiri dari review atas
perubahan saldo akun tahun sebelumnya dengan tahun berjalan, dengan
menggunakan buku besar atau daftar saldo (trial balance) tahap awal yang
belum disesuaikan. Sebaliknya, untuk entitas yang lain, prosedur analitik
mungkin meliputi analisis lapotan keuangan triwulan yang ekstensif.

Program Audit Substantif


Program audit adalah dokumen yang memuat pernyataan tujuan audit dan
rencana langkah-langkah audit (biasanya dalam bentuk kalimat perintah) untuk
mencapai tujuan audit tersebut. Contoh tujuan audit: untuk mengetahui
keberadaan barang inventaris. Langkah auditnya: Lakukan inventarisasi fisik
(stock opname) barang inventaris, hasilnya dituangkan dalam berita acara.
Penyusunan program audit dilakukan pada tahap persiapan dalam rangka
pengujian dan pengendalian dan pada tahap audit pendahuluan dalam rangka

pengujian transaksi atau saldo-saldo atau pengembangan temuan, sehingga


dengan demikian program audit dapat dikelompokkan menjadi:

Program audit untuk pengujian pengendalian, yaitu program audit untuk


menguji pengendalian intern (internal control) yang dijalankan manajemen
terkait dengan informasi/kegiatan yang akan diaudit.

Program audit untuk pengujian substantif (substative test). Secara


sederhana program audit ini dapat dijelaskan sebagai rencana kerja untuk
menguji kesesuaian informasi yang diuji dengan data pendukungnya.
Pada audit keuangan, program audit untuk pengujian substantif dan
pengujian

pengendalian

dapat

disusun

sekaligus,

terutama

karena

standar penyajian pos-pos laporan keuangan sudah baku sifatnya. Tetapi pada
audit operasional dan audit kepatuhan, program audit substantif biasanya baru
bisa dibuat setelah pengujian pengendalian selesai dilaksanakan, yaitu setelah
auditor mengetahui kelemahan pengendalian/temuan sementara yang perlu
diperdalam.
Ada delapan prosedur untuk melaksanakan pengujian substantif, yaitu:
1.

Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan terkait dengan kinerja tugas


mereka.

2.

Pengamatan atau observasi terhadap personel dalam melaksanakan


tugas.

3.

Menginspeksi dokumen dan catatan.

4.

Melakukan penghitungan kembali atau reperforming.

5.

Konfirmasi.

6.

Analisis.

7.

Tracing atau pengusutan.

8.

Vouching atau penelusuran.

Dokumentasi Audit (Kertas Kerja Audit)


Fungsi dan Sifat Kertas Kerja

Kertas kerja adalah catatan-catatan yang diselenggarakan oleh auditor


tentang prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya,
informasi yang diperolehnya, dan simpulan yang dibuatnya sehubungan dengan
auditnya. Contoh kertas kerja adalah program audit, analisis, memorandum,
surat konfirmasi, representasi, ikhtisar dari dokumen-dokumen perusahaan, dan
daftar atau komentar yang dibuat atau diperoleh auditor. Kertas kerja dapat pula
berupa data yang disimpan dalam pita magnetik, film, atau media yang lain.
Auditor harus membuat dan memelihara kertas kerja, yang isi maupun
bentuknya harus didesain untuk memenuhi keadaan-keadaan yang dihadapinya
dalam perikatan tertentu. Informasi yang tercantum dalam kertas kerja
merupakan catatan utama pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh auditor dan
simpulan-simpulan yang dibuatnya mengenai masalah-masalah yang signifikan.
Kertas kerja terutama berfungsi untuk:
1.

Menyediakan

penunjang

utama

bagi

laporan

auditor,

termasuk

representasi tentang pengamatan atas standar pekerjaan lapangan, yang


tersirat

ditunjukkan

dalam

laporan

auditor

dengan

disebutkannya

frasa

berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.


2.

Membantu auditor dalam pelaksanaan dan supervisi audit.


Faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai kuantitas,
bentuk, dan isi kerta kerja untuk perikatan tertentu mencakup:

1.

Sifat perikatan auditor.

2.

Sifat laporan auditor.

3.

Sifat laporan keuangan, daftar, dan keterangan yang perlu bagi auditor
dalam pembuatan laporan.

4.

Sifat dan kondisi catatan clien.

5.

Tingkat risiko pengendalian taksiran.

6.

Kebutuhan dalam keadaan tertentu untuk mengadakan supervisi dan


review atas pekerjaan yang dilakukan para asisten.
Isi Kertas Kerja

Kuantitas, tipe, dan isi kertas kerja bervariasi dengan keadaan yang
dihadapi oleh auditor, namun harus cukup memperlihatkan bahwa catatan
akuntansi cocok dengan laporan keuangan atau informasi lain yang dilaporkan
serta standar pekerjaan lapangan yang dapat diterapkan telah diamati. Kertas
kerja biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan:
1.

Pekerjaan

telah

direncanakan

dan

disupervisi

dengan

baik,

yang

menujukan diamatinya standar pekerjaan lapangan yang pertama.


2.

Pemahaman memadai atas pengendalian intern telah diperoleh untuk


merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang
telah dilakukan.

3.

Bukti audit yang telah diperoleh, prosedur audit yang telah diterapkan,
dan pengujian yang telah dilaksanakan, memberikan bukti kompeten yang cukup
sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
auditan, yang menujukan diamatinya standar pekerjaan lapangan ketiga.
Kepemilikan Dan Penyimpanan Kertas Kerja
Kertas kerja adalah milik auditor. Namun hak dan kepemilikan atas kertas
kerja masih tunduk pada pembatasan

yang diatur dalam Aturan

Etika

Kompartemen Akuntan Publik yang berkaitan dengan hubungan yang bersifat


rahasia dengan klien. Seringkali kertas kerja tertentu auditor dapat berfungsi
sebagai sumber acuan bagi kliennya, namun kertas kerja harus tidak dipandang
sebagai bagian dari, atau sebagai pengganti terhadap, catatan akuntansi klien.
Auditor harus menerapkan prosedur memadai untuk menjaga keamanan kertas
kerja dan harus menyimpannya dalam periode yang dapat memenuhi kebutuhan
praktiknya dan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku mengenai penyimpan
dokumen.
http://abiargam.blogspot.co.id/

Makalah Audit Aktiva Tetap

Audit Atas Aktiva Tetap


Tugas Auding 2

Oleh :
Ahmad Tarmizi
Antivah Dwiningsih
Dona Mariana
Meilya Yessy
Taufik Handoko
Yoyon Apriadi

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Riau
2014

Kata Pengantar
ASSALAMUALAIKUM WR.WB.

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT. Yang telah
memberikan Rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
ini, yang berjudul Audit atas Aktiva Tetap .
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing 2. yang
dibimbing oleh ibu Arumega Zarefar SE. Mak. Akt. Untuk itu daripenulis berharap
semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Kritik dan
saran penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.

WASSALAMUALAIKUM WR.WB.

Pekanbaru, 04 April 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum tujuan utama didirikannya sebuah perusahaan adalah untuk
memperoleh laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dan dapat
mempertahankan kelancaran usaha dalam jangka waktu yang panjang. Salah
satu investasi tersebut adalah aktiva yang digunakan dalam kegiatan normal

perusahaan yaitu aktiva yang mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun.
Untuk mencapainya diperlukan pengelolaan yang efektif dalam penggunaan,
pemeliharaan maupun pencatatan akuntansinya.
Bersama dengan berlalunya waktu nilai ekonomis suatu aktiva tetap tersebut
harus dapat dibebankan secara tetap dan salah satu caranya adalah dengan
menentukan metode penyusutan. Untuk itu perlu diketahui apakah metode
penyusutan yang telah diterapkan oleh perusahaan telah memperhatikan
perubahan nilai aktiva tetap yang menurun yang disebabkan karena berlalunya
waktu atau menurunnya manfaat yang diberikan aktiva tersebut.
Aktiva tetap biasanya merupakan bagian investasi yang cukup besar
dalam jumlah

keseluruhan

asset

perusahaan.

Besarnya

investasi

yang

ditanamkan dalam aktiva tetap menjadikan aktiva tetap itu perlu mendapatkan
perhatian yang serius. Tidak hanya pada penggunaan dan operasinya saja tetapi
juga dalam akuntansinya yang biasanya mencakup perolehan aktiva tetap,
penghentian atau pelepasan aktiva tetap, serta penyajian dan pengungkapannya
dalam laporan keuangan.
Oleh karena itu, perlunya untuk mengetahui serta memahami secara rinci
tentang aktiva tetap baik aktiva tetap berwujud maupun tidak berwujud. Dengan
cara demikian kita mampu mengaplikasikan apa saja yang terdapat di dalam
aktiva tetap sebuah perusahaan. Namun untuk mendapatkan rincian yang baik
terhadap

aktiva

tetap,

diperlukan

pengendalian

terhadap

aktiva

berupa

pengujian substantif.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dari penulisan makalah
ini sebagai berikut:

Apakah yang dimaksud dengan aktiva tetap dan bagaimana penggolongan


aktiva tetap?

Apa saja transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap?

Apa perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan aktiva lancar?

Apa perbedaan pengujian substantif aktiva tetap dengan aktiva lancar ?

Bagaimana prosedur audit aktiva tetap?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut :

Untuk mengetahui dan memahami pengertian dan penggolongan aktiva tetap.

Untuk mengetahui dan memahami bentuk transaksi yang bersangkutan dengan


aktiva tetap.

Untuk mengetahui dan memahami perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan


aktiva lancar.

Untuk mengetahui dan memahami perbedaan pengujian substantifaktiva tetap


dengan aktiva lancar.

Untuk mengetahui dan memahami prosedur audit aktiva tetap.

BAB II
LANDASAN TEORY
2.1 Definisi Aktiva Tetap
Aktiva tetap merupakan aktiva perusahaan yang tidak dimaksudkan untuk
dijual belikan melainkan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan yang
umumnya lebih dari satu tahun, dan merupakan pengeluaran perusahaan dalam
jumlah yang besar.
Sifat pertama dari aktiva tetap adalah bahwa maksud perolehannya bukan
untuk dijual belikan melainkan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan.
Sifat ini lah yang membedakannya dari persediaan barang ( inventory ). Contoh :
mobil yang diperdagangkan oleh dealer mobil merupakan persediaan barang
sedangkan mobil yang dipakainya untuk antar jemput pegawai merupakan
aktiva tetap.

Sifat kedua dari aktiva tetap adalah umurnya yang lebih dari satu tahun.
Karena sifat inilah maka kita mengenal unsur penyusutan dalam aktiva tetap.
Penyusutan tidak lain dari pada alokasi biaya tetap tersebut dalam masa umur
aktiva tetap yang bersangkutan.
Didalam literatur dan peraktik akuntansi, aktiva yang mempunyai sifat
pertama dan kedua tersebut diatas sudah dianggap sebagai aktiva tetap.
Akibatnya, semua aktiva yang digunakan dalam kegiatan perusahaan dan
berumur lebih dari satu tahun langsung dijadikan aktiva tetap ( istilahnya
adalah : dikapitalisasi ). Contoh : sapu dan gelas minum yang dipakai dikantor
ikut dikapitalisasi.
Mengkapitalisasi aktiva yang tidak besar jumlahnya sebenarnya tidaklah
bijaksana. Setiap aktiva harus diadministrasikan dengan cara tertentu, misalnya
harus ada kartu aktiva tetap, penyusutan harus dihitung secara berkala misalnya
satu bulan sekali, dan harus ada inventarisasi atas aktiva tetap, misalnya
setahun sekali. Penatausahaan aktiva tetap ini memakan waktu dan biaya
sedangkan biaya ini mungkin melebihi biaya ativa tetap yang kecil.
Oleh karena itu untuk digolongkan sebagai aktiva tetap, suatu aktiva juga
harus mempunyai sifat ketiga yaitu : yakni bahwa pengeluaran tersebut harus
merupakan pengeluaran yang besar bagi perusahaan tersebut. Dengan kata lain,
suatu perusahaan harus mempunyai kebijakan kapitalisasi yang menetapkan
jumlah minimum pengeluaran yang dapat dikapitalisasi. Ini berarti bahwa
pengeluaran dibawah jumlah minimum tersebut harus dibebankan kerugi laba
tahun yang berjalan.
Setiapa perusahaan tentunya mempunyai kebijaksanaan kapitalisasi
tersendiri, karena material untuk suatu perusahaan belum tentu material untuk
perusahaan yang lain. Contoh : sebuah mesin tik dalam suatu biro perjalanan
yang kecil mungkin sangat material jumlah nya sedangkan mesin tik yang sama
langsung harus dibebankan kerugi-laba dalamsuatu perusahaan tambang.
Disamping pengertian aktiva tetap, didalam pembicaraan sehari-hari
sering dikenal istilah barang/ harta tak bergerak yang merupakan lawan dari
barang/harta tak bergerak. Harta tak gerak tidak sama dengan aktiva tetap.
Istilah barang gerak dan barang tak gerak merupakan istilah hukum.

Dari uraian diatas jelas bahwa barang tak gerak mungkin merupakan
aktiva tetap tapi mungkin juga tidak. Contoh : tanah tempat usaha merupakan
barang tak gerak dan aktiva tetap, sedangkan kalau tanah tersebut diperjual
belikan, maka ia merupakan barang tak gerak tapi bukan aktiva tetap.
Aktiva tetap dapat dibagi atas tiga kelompok, yakni :
1.

Aktiva tetap yang dicantumkan berdasarkan harga perolehannya, tanpa


disusutkan atau dideplesi, misalnya : tanah dimana gedung kantor atau suatu
pabrik terletak.

2.

Aktiva tetap yang disusutkan, misalnya gedung, mesin-mesin, perabot kantor,


dll.

3.

Aktiva tetap yang dideplesi misalnya tanah-tanah pertambangan.

2.2 Tujuan Pemeriksaan Aktiva Tetap


Dalam

suatu

pemeriksaan

umum,

pemeriksaan

atas

aktiva

tetap

mempunyai tujuan sebagai berikut :


1.

Untuk menentukan bahwa aktiva tersebut memang ada.

2.

Untuk menetapkan hak milik atas aktiva tetap dan apakah aktiva tersebut
dijadikan jaminan.

3.

Untuk menentukan apakah penilaian aktiva tersebut adalah sesuai dengan


prinsip akuntansi indonesia.

4.

Untuk menentukan apakah penyusutan telah sesuai dengan prinsip akuntansi


indonesia dan apakah ia telah diterapkan secara konsisten.

2.3 Pengendalian Intern


Unsur-unsur utama dari sistem pengendalian intern atas aktiva tetap
adalah :
1.

Adanya budget untuk pengeluaran bagi aktiva tetap yang disetujui oleh pejabat
yang berwenang. Persetujuan ini biasanya dilakukan dalam berbagai tingkat
tergantung dari jenis dan harga aktiva tetap yang bersangkutan. Contoh :
pembelian mesin pabrik yang baru harus mendapat persetujuan dari dewan
komisaris terlebih dahulu sedangkan pembelian mesin tik atau mesin hitung

cukup dengan persetujuan kepala bagian yang membutuhkan perlengkapan


tersebut dan direktur keuangan, dst.
2.

Adanya kebijaksanaan kapitalisasi secara tertulis, yakni yang membedakan


antara pengeluaran yang dianggap sebagai aktiva tetap dan pengeluaran bukan
aktiva tetap.

3.

Kebijaksanaan mengenai penjualan aktiva tetap, prosedur pem-besi-tuan aktiva


tetap, dan pemindahan suatu aktiva tetap dari suatu bagian kebagian yang lain,
atau dari suatu lokasi kelokasi yang lain atau dari suatu anak perusahaan
keanak perusahaan lain.

4.

Adanya kartu-kartu aktiva tetap dan inventarisasi atas aktiva tetap secara
berkala

5.

Adanya pengendalian dan pengawasan atas aktiva-aktiva kecil dibawah


tanggung jawab pejabat tertentu.

6.

Adanya asuransi kerugian atas aktiva tetap yang bisa rusak karena kabakaran
atau bencana lainnya atau kerugian karena hilang atau dicuri.

2.4 Program Pemeriksaan


1.

Minta dari langganan suatu daftar utama mengenai aktiva tetapnya dengan
informasi yang berikut :
Perubahan dalam tahun bertajan
Harga
perolehan

31 des
sebelumnya

Penambahan

Pengurangan

31 des
tahun
berjalan

Tanah

Xxx

Xxx

Xxx

Xxx

Gedung

Xxx

Xxx

Xxx

Xxx

Mesin

xxx

xxx

xxx

Xxx

Total

Xxx

Xxx

Xxx

Xxx

Akumulasi
Penusutan
Tanah

Gedung

Xxx

Xxx

Xxx

Xxx

Mesin

xxx

xxx

xxx

Xxx

Total

Bandingkan total A dan E dengan angka dalam kertas kerja tahun yang lalu dan
lakukan footing dan crossfooting.
2.

Periksa tambahan-tambahan atas aktiva tetap dalam tahun berjalan( yang


jumlahnya dalah B ) mengenai hal-hal yang berikut :

a.

Apakah tambahan aktiva tersebut benar ada. Ini dapat dilakukan dengan
melihat sendiri adanya tambahan tersebut.

b.

Adanya persetujuan dari pejabat yang berwenang dan melalui prosedur yang
telah ditetapkan.

c.

Bahwa tambahan tersebut dicatat dengan harga perolehan dan kalau dibeli
dengan mencicil, seluruh harga aktiva tersebut telah dicatat dan bagian yang
belum dilunasi dicatat sebagai hutang.

d.

Kelengkapan surat-surat atau dokumen pemilikan, misalnya sertifikat tanah dan


akte jual beli tanah, BPKB, dan lain-lain.

3.

Periksa pengurangan-pengurangan aktiva tetap dalam tahun berjalan ( yang


berjumlah total C ), khususnya mengenai :

a.

Persetujuan atau otorisasi atas pengurangan aktiva tetap tersebut misalnya


persetujuan untuk menjual aktiva tetap itu atau untuk menjadikan aktiva
tersebut sebagai besi tua.

b.

Kebenaran perlakuan akuntansi, misalnya dalam penetapan untung atau rugi


karena penjualan aktiva tersebut dan penyusutan sampai saat penjualan. Ini juga
meliputi pemeriksaaan atas total G.

4.

Periksa tambahan atas cadangan penyusutan ( yang berjumlah total F ). Ini


tidak

lain

merupakan

pemeriksaan

perhitungan

penyusutan.

Yang

harus

diperhatikan disini adalah konsistensi pemakaian metode penyusutan, misalnya


kalau tahun lalu menggunakan metode penyusutan dengan presentase tetap

atau metode garis lurus, maka metode ini pula yang harus ditetapkan tahun ini.
Juga taksiran umur yang sama harus digunakan untuk aktiva yang bersangkutan.
5.

Seperti penjelasan no 1, akuntansi dapat juga meminta perincian dari masingmasing jenis aktiva tetap. Ini dapat berupa daftar lengkap aktiva yang
bersangkutan atau suatu daftar/ perincian tambahan dan pengurangan aktiva
tetap dalam tahun yang berjalan, jika digabungkan dengan kertas kerja tahun
lalu dapat merupakan daftar lengkap aktiva tetap sampai dengan akhir tahun
berjalan. Jika daftar ini sudah diperoleh, bandingkan informasi dalam daftar ini
dengan kartu-kartu aktiva tetap yang bersangkutan. Bandingkan angka total
dalam perincian aktiva tetap tersebut dengan angka dalam buku besar yang
bersangkutan.

6.

Periksa asuransi atas aktiva yang bersangkutan, khususnya mengenai nilai


pertanggungan, premi asuransi, orang atau badan yang mendapatkan ganti
kerugian, jenis asuransi, dan apakah polis asuransi masih dalam masa
berlakunya. Badan yang akan mendapatkan ganti rugi belum tentu langganan
yang mempunyai aktiva tersebut, misalnya jika aktiva tersebut juga dijadikan
barang jaminan pada bank. Dalam hal ini biasanya bank meminta agar bank
yang menjadi badan yang akan menerima ganti rugi.

7.

Pada pemeriksaan aktiva tetap sebenarnya sekaligus kita dapat memeriksa


perkiraan rugi laba yang bersangkutan, misalnya :

a.

Biaya penyusutan dan akumulasi penyusutan

b.

Untun g atau rugi karena penjualan aktiva tetap

c.

Kerugian karena pem-besi-tuan aktiva tetap

d.

Kerugian karena bencana yang memusnakan aktiva tetap dan ganti rugi dari
perusahaan asuransi

e.

Biaya reparasi mesin-mesi.

8.

Kalau perusahaan juga mempunyai hutang terutama hutang jangka panjang,


ada kemungkinan sebagian atau seluruh aktiva tetap dijadikan jaminan. Hal ini
dapat diketahui misalnya dari perjanjian kredit atau pada waktu pemeriksaan
dokumen hak milik, ternyata dokumen ini tidak ada dan katanya disimpan oleh

pemberi kredit. Jika aktiva tetap dijadikan jaminan maka prosedur yang berikut
harus dijalankan :
a.

Pengiriman permintaan pengukuhan saldo (permintaan konfirmasi ) kepada


pemberi kredit, lengkap dengan permintaan daftar barang jaminan yang ditahan
oleh pemberi kredit.

b.

Pinjam polis asuransi dan lihat ada atau tidaknya bankers clause yang
menetapkan bahwa bank menjadi badan yang akan menerima ganti rugi.

c.

Catat syarat barang jaminan untuk dicantumkan dalam catatan mengenai


ikhtisar keuangan sebagai disclosure dan dalam surat pernyataan pelanggan.

d.

Kalau aktiva tetap itu dihipotekkan, lakukan pemeriksaan kadaster, yaitu


dengan meminta keterangan tertulis tentang status aktiva tersebut dari kantor
pendaftaran tanah.

2.5 Penyajian Aktiva Tetap Dalam Ikhtisar Keuangan


1)

Sebaiknya digunakan istilah akumulasi penyusutan dan biaya penyusutan


daripada menggunakan istilah penyusutan saja baik untuk pos neraca maupun
pos rugi laba.

2)

Akumulasi penyusutan hendaknya disajikan sebagai pengurangan atas harga


perolehan, sehingga nilai buku dapat dilihat langsung dari neraca. Ada beberapa
perusahaan yang mencantumkan akumulasi penyusutan disebelah kredit neraca
dan bukan sebagai pengurangan dari biaya perolehan aktiva tetap tersebut.
Kalau hal ini dilakukan, hendaknya :

a.

Neraca sebelah kiri jangan disebut aktiva dan yang disebelah kanan jangan
disebut pasiva melainkan disebut debet dan kredit. Hal ini disebabkan karena
dalam sisi debet dari nerac, aktiva tetap dinyatakan dalam bentuk harga
perolehan tanpa dikurangi akumulasi penyusutan, sehingga untuk disebut aktiva
sisi debet neraca sebenarnya terlalu tinggi ( Overstated ). Juga akumulasi
penyusutan yang diletakkan disebelah kredit neraca bukanlah merupakan
hutang atau modal, meskipun bersaldo kredit.

b.

Cadangan penyusutan hendaknya jangan ditaruh dibawah modal atau laba


yang ditahan. Hal ini mungkin akan menimbulkan salah pengertian seolah-olah

direksi

menyisihkan

pendapatan

atau

laba

yang

ditahan

seolah-olah

merupakan appropriation dari retained earning ).


3)

Dasar penilaian aktiva tetap harus dicantumkan dalam neraca atau dalam
catatan mengenai ikhtisar keuangan. Dasar penelitian yang dapat diterima
adalah dasar harga perolehan. Penilaian kembali tidak sesuai dengan prinsip
akuntansi indonesia.

4)

Metode penyusutan yang digunakan juga harus dicantumkan dalam neraca


atau catatan ikhtisar keuangan.

5)

Kebijaksanaan kapitalisasi harus dicantumkan dalam ikhtisar keuangan atau


catatan mengenai ikhtisar keuangan.

6)

Barang-barang yang dijadikan jaminan harus dicantumkan dalam catatan


mengenai ikhtisar keuangan.

7)

Aktiva tetap yang sudah tidak dipakai karena sudah tua atau secara ekonomis
tidak dapat lagi digunakan, tidak boleh dicatat sebagai aktiva tetap dan harus
dicatat sebagai aktiva lain dengan harga besi tua ( salvage value ).

2.6 Masalah-masalah Khusus


1)

Sering terjadi bahwa aktiva tetap dibeli dari atau dibuat oleh perusahaan yang
masih berafiliasi dengan perusahaan/ pelanggan yang diperiksa. Contoh: PT. ABC
yang mendapat kredit investasi dari suatu bank untuk mendirikan hotel,
kemudian membuat suatu perusahaan pemborong bangunan ( PT. DEF ) atau PT.
PQR yang merupakan suatu usaha patungan ( Joint venture ) antara sebuah
perusahaan indonesia dengan suatu perusahaan asing. Perusahaan asing ini
mensupply aktiva tetap dan aktiva tersebut mungkin barang bekas pakai yang
diperbaiki kemudian dikirim ke Indonesia.
Dalam kedua contoh ini ada masalah penetapan harga perolehan yang wajar
karena pihak yang mensupply aktiva tetap tersebut masih berafiliasi dengan
perusahaan yang diperiksa. Dalam bahas inggris transaksi ini disebut related
party transaction atau transaksi yang tidak at arms length.
Dalam hal ini harus ada penjelasan ( disclosure ) dalam catatan mengenai
ikhtisar keuangan tentang jenis dan besarnya transaksi tersebut.

2)

Didalam pembahasan prosedur pemeriksaan, disebutkan bahwa akuntan harus


melihat adanya aktiva yang bersangkutan untuk menyakinkan dirinya sendiri
bahwa aktiva tersebut memang ada. Kalau aktiva ini hanya sekedar gedung,
mesin tik atau suatu kendaraan bermotor, hal ini masih mudah, kesukaran sering
timbul karena aktiva yang ingin dilihat merupakan suatu perlengkapan yang
tidak begitu dikenal oleh akuntan, sehingga kita tidak dapat memastikan bahwa
barang yang kita lihat memang sungguh-sungguh barang yang hendak dilihat.
Kalau barang tersebut mempunyai catatan teknis yang juga tercetak pada
perlengkapan yang bersangkutan maka ia dapat membandingkan catatan yang
ada pada dokumen pembelian dengan catatan pada perlengkapan. Kalau sistem
pengendalian intern dapat dipercaya, akuntan dapat mencocokkan nomor aktiva
tetap berdasarkan register atau kartu aktiva langganan. Kalau akuntan masih
tidak

puas

ia

dapat

menggunakan

tenaga

ahli

dalam

lapangan

yang

bersangkutan.
3)

Selain transaksi pembelian yang tidak at arms length seperti kasus no 1,


mungkin juga ada transaksi penjualan aktiva tetap yang dilakukan tidak at arms
length , misalnya penjualan rumah instansi pada seorang direktur.
Dalam hal ini akuntan harus melihat prosedur dan kebijakansanaan intern dalam
menjual aktiva pada direkturnya. Akuntan harus sangat berhati-hati kalau
peristiwa tersebut terjadi pada perusahaan yang dijalankan oleh orang-orang
yang bukan menjadi pemilik modal, karena transaksi seperti itu mungkin hanya
menguntungkan

pribadi

direktur

tersebut.

Kenyataan

yang

dapat

lebih

mencurigakan akuntan dalam hal prosedur intern tidak jelas ialah kalau sebelum
rumah tersebut dijual, rumah tersebut diperbaiki lebih dulu dan biaya perbaikan
dibebankan pada perusahaan sedang harga jual dilakukan dengan nilai buku
yang sudah rendah.
4)

Sering dilihat bahwa aktiva tetap dibeli dengan harga yang terlalu tinggi
dibandingkan dengan harga yang umum berlaku untuk barang tersebut pada
waktu itu dan ditempat yang sama. Kesulitannya disini adalah bahwa unsur
komisi atau kick back yang telah menambah harga aktiva tetap tersebut tidak
dapat dibuktikan oleh akuntan.
Pimpinan perusahaan atau dewan komisaris seharusnya diberi tahu mengenai
keadaan ini, tetapi bukan dengan pemberitahuan bahwa ada unsur komisi atau

kick back melainkan adanya barang yang dibeli dengan harga yang lebih tinggi.
Disini harga pasaran umumnya dan sumber harga tersebut sebaiknya juga
dicantumkan. Kalau barang-barang tersebut dapat ditenderkan dan pembelian
tersebut dilakukan tanpa tender hal ini juga harus dicantumkan dalam surat
komentar akuntan.
5)

Didalam salah satu prosedur pemeriksaan diatas disebutkan bahwa akuntan


harus menelaah jumlah pertanggungan asuransi untuk menentukan apakah
jumlah pertanggungan itu cukup, kurang atau bahkan lebih. Hal ini bukanlah hal
yang mudah, dan sangatlah tidak bijaksana untuk menentukan kecukupan
jumlah pertanggungan asuransi dengan sekedar membandingkan nilai buku
aktiva tetap itu dengan jumlah pertanggungannya atau dengan membandingkan
jumlah pinjaman ( misalnya dari bank ) dengan jumlah pertanggungannya.
Membandingkan

nilai

buku

dengan

jumlah

pertanggungan

mempunyai

kelemahan sebagai berikut :


a.

Nilai buku tidak mencerminkan harga atau nilai aktiva yang bersangkutan.
Misalnya, jika aktiva tetap tersebut sudah disusutkan penuh, nilai bukanya nol.
Perbandingan antara jumlah pertanggungan dengan nilai buku dapat memberi
kesan seolah-olah jumlah pertanggungan terlalu besar.

b.

Misalkan

aktiva

tetapnya

masih

baru

sehingga

nilai

buku

masih

menggambarkan nilai aktiva tetap. Membandingkan nilai buku dengan jumlah


pertanggungan belum tentu memberikan gambaran mengenai kecukupan jumlah
pertanggungan. Contoh : dalam industri tekstil, harga bangunan yang sangat
tinggi disebabkan karena perlunya fondasi bangunan yang khusus. Kalau terjadi
kebakaran ditaksir fondasi ini masih tetap dapat dipertahankan sehingga tidak
perlu jumlah pertanggungannya sama dengan nilai buku aktiva baru.
Membandingkan nilai buku dengan persyaratan kredit bank juga tidak selalu
tepat. Bank misalnya dapat mensyaratkan jumlah barangg jaminan 150% dari
jumlah debetstand hutang dan karenanya jumlah pertanggungan juga dibuat
150% dari debetstand. Jumlah pertanggungan ini mungkin cukup, mungkin
kurang atau mungkin juga berlebihan, karena jumlah pertanggungan yang cukup
tidaklah mempunyai hubungan langsung dengan persyaratan kredit bank.

6)

Dimuka disebutkan bahwa nilai aktiva tetap yang sesuai dengan prinsip
akuntansi

indonesia

adalah

harga

perolehan

atau

harga

historis.

Kalau

pemegang saham mempunyai gedung yang mempunyai harga historis Rp.


2.500.000 tapi bernilai Rp. 25.000.000 pada saat ini, gedung tersebut
dujadikannya sebagai penyetoran modal, ia tentu saja dapat mengatakan bahwa
penyetoran modal nya bernilai Rp. 25.000.000 dan bukan Rp. 2.500.000. dalam
hal ini dari segi si pemegang saham harga Rp. 25.000.000 adalah harga
penilaian kembali ( appraised value ) tapi untuk PT harga Rp. 25.000.000 dalah
harga perolehan. Sehingga kalau kita memeriksa PT tadi, penilaian aktiva
tetapnya adalah sesuai dengan prinsip akuntansi indonesi. Tapi disini perlu ada
catatan mengenai related Party transaction tersebut.
7)

Penyusutan aktiva tetap berdasarkan prinsip akuntansi belum tentu sama


dengan umur aktiva yang disebutkan dalam peraturan perpajakan. Akuntan atau
pembantunya

harus

menyusun

suatu

kertas

kerja

yang

merekonsiliasi

penyusutan menurut prinsip akuntansi dan penyusutan untuk keperluan pajak.

2.7 Pengujian Subtantif Atas Saldo Aktiva Tetap


Rekening aktiva tetap digunakan untuk menampung pencatatan atas
aktiva perusahaan atau organisasi yang mempunyai manfaat ekonomis lebih dari
satu tahun. Aktiva-aktiva yang termasuk dalam katagori ini antara lain, tanah,
bangunan, jalan, jembatan, bangunan air, instalasi dan jaringan, mesin,
peralatan, kendaraan, serta mebel. Aktiva tersebut tidak akan habis dalam waktu
satu tahun. Rekening nominal yang berkaitan erat dengan aktiva tetap adalah
biaya depresiasi, perbaikan, dan sewa gedung atau aktiva lainnya.
Aktiva tetap sering kali merupakan komponen terbesar dari total aktiva
dalam neraca perusahaan atu organisasi. Biaya-biaya yang berhubungan dengan
aktiva tetap merupakan faktor yang material dalam laporan rugi laba.
Pemeriksaan terhadap aktiva tetap memakan waktu dan biaya yang relatif labih
sedikit dibandingkan dengan pemeriksaan aktiva lancar.
Dalam audit atas aktiva tetap , auditor harus memisahkan pengujian
kedalam katagori berikut :
1)

Melaksanakan prosedur analitis

Jenis prosedur analitis tergantung pada sifat operasi klien. Prosedur analitis
untuk aktiva tetap :

2)

Prosedur analitis

Salah saji yang mungkin

Membandingkan beban penyusutan


yang dibagi dengan biaya aktiva tetap
kotor dengan tahun sebelumnya

Salah saji beban penyusutan dan


akumulasi penyusutan

Membandingkan akumulasi penyusutan


yang dibagi dengan biaya aktiva tetap
kotor dengan tahun sebelumnya

Salah saji akumulasi penyusutan

Membandingkan reparasi dan


pemeliharaan bulanan atau tahunan,
beban perlengkapan, beban peralatan
kecil, dan akun-akun serupa dengan
tahun sebelumnya

Membebankan jumlah yang harus


dikapitalisasi

Membandingkan biaya manufaktur


kotor yang dibagi dengan beberapa
ukuran produksi dengan tahun
sebelumnya

Peralatan yang menganggur atau


peralatan yang disingkirkan tetapi
belum dihapus

Memverifikasi akuisisi tahun berjalan


Perusahaan harus mencatat penambahan selama tahun berjalan dengan benar
karena aktiva memiliki pengaruh jangka panjang terhadap laporan keuangan.
Kegagalan untuk mengkapitalisasi aktiva tetap, atau mencatat akuisisi pada
jumlah yang salah, akan mempengaruhi neraca sehingga perusahaan melepas
atau membuang aktiva itu. Laporan laba rugi juga akan terpengaruh hingga
aktiva itu telah sepenuhnya disusutkan.
Karena pentingnya akuisis periode berjalan dalam audit aktiva tetap, auditor
menggunakan tujuh dari delapan tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
sebagai kerangka referensi bagi pengujian atas rincian saldo: (1) eksistensi (2)
kelengkapan (3) keakuratan (4) klasifikasi (5) pisah batas (6) detail tie-in (7)
serta hak dan kewajiban.
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan pengujian audit yang umum
ditunjukkan pada tabel dibawah ini :
Tujuan audit yang
berkaitan dengan
saldo

Pengujian atas rincian


saldo yang umum

Komentar

Akuisisi tahun
berjalan dalam
skedul akuisisi sama
dengan jumlah file
induk terkait, dan
totalnya sama
dengan buku besar
umum (detail tie-in)

Memfooting skedul
akuisisi.

Menelusuri total
kebuku besar umum.

Semua kenaikan saldo


buku besar umum
selama tahun
tersebut harus
direkonsiliasi dengan
skedul

Akuisisi tahun lalu


berjalan seperti yang
tercantum dalam
daftar memang ada
(eksistensi)

Memeriksa faktur
vendor dan laporan
penerimaan.

Bukanlah hal yang


umum untuk
memeriksa secara
fisik aktiva yang
diperoleh kecuali
pengendaliannya
lemah atau jumlahnya
meterial

Akuisisi yang ada


telah dicatat
(kelengkapan)

Memeriksa faktur
vendor yang
berhubungan erat
dengan akun seperti
reparasi dan
pemeliharaan untuk
mengungkapkan
item-item yang akan
menjadi aktiva tetap.

Menelusuri setiap
akuisisi ke file induk
untuk melihat jumlah
an deskripsinya.

Memeriksa aktiva
secara fisik.

Memfooting skedul
akuisisi dan
menelusuri setiap
akuisisi yang harus
dibatasi kecuali
pengendaliannya
lemah.

Tujuan ini merupakan


salah satu yang
paling penting untuk
aktiva tetap

Mereview perjanjian
lease dan sewa.
Akuisisi tahun
berjalan yang ada
dalam daftar sudah
akurat. (keakuratan)

Memeriksa vendor

Luasnya tergantung
pada resiko inheren
dan efektifitas
pengendalian
internal.

Akuisisi tahun
berjalan yang ada
dalam daftar telah
diklasifikasikan
dengan benar.
(klasifikasi)

Memeriksa faktur
vendor dalam akun
aktiva tetap untuk
mengungkapkan
item-item yang harus
diklasifikasikan

Tujuannya berkaitan
erat dengan
pengujian untuk
kelengkapan. Hal ini
dilakukan dalam
kaitannya dengan

sebagai aktiva tetap


kantor, pabrik, dll.
Memeriksa faktur
vendor yang
berhubungan erat
dengan akun seperti
reparasi untuk
mengungkapkan
item-item yang akan
menjadi aktiva tetap.

tujuan tersebut dan


pengujian untuk
keakuratan.

Memeriksa beban
sewa dan lease untuk
lease yang dapat
dikapitalisasi.
Akuisis tahun
berjalan dicatat pada
periode yang benar
(pisah batas).

Mereview transaksi
yang mendekati
tanggal neraca pada
periode yang benar.

Biasanya dilakukan
sebagai bagian dari
pengujian pisah batas
utang usaha.

Klien memiliki hak


atas akuisisi tahun
berjalan (hak)

Memeriksa faktur
vendor

Biasanya tidak ada


masalah untuk aktiva
tetap.
Akte properti, aktiva
tidak berwujud, dan
tagihan pajak sering
kali diperiksa untuk
tanah dan bangunan
utama.

Titik awal untuk memverifikasi akuisisi tahun berjalan umumnya merupakan


sebuah skedul yang diperoleh dari klien menyangkut semua akuisisi yang dicatat
pada akun aktiva tetap dibuku besar umum selama tahun tersebut. Klien
memperoleh informasi ini dari file induk aktiva tetap. Skedul yang tipikal memuat
deskripsi, notasi apakah barang tersebut baru atau bekas, umur aktiva untuk
tujuan penyusutan, metode penyusutan, dan biaya atau harga perolehannya.
3)

Memverifikasi pelepasan tahun berjalan


Transaksi yang melibatkan pelepasan aktiva tetap sering kali disalahsajikan
apabila pengendalian internal perusahaan tidak memiliki metode formal untuk
memberi tahu manajemen tentang penjualan, tukar tambah, pengabaian, atau
pencurian mesin dan peralatan yang tercatat. Jika klien lalai mencatatpelepasan,

biaya awal akun aktiva tetap akan dinyatakan terlalu tinggi, dan nilai buku bersih
akan dinyatakan terlalu tinggi hingga aktiva telah disusutkan sepenuhnya.
Metode formal untuk menelusuri pelepasan dan provisi menyangkut otorisasi
yang tepat atas penjualan atau pelepasan aktiva akan membantu mengurangi
resiko salah saji. Juga harus ada verifikasi internal yang memadai atas pelepasan
yang tercatat untuk memastikan bahwa aktiva telah dihapus dengan benar dari
catatan akuntansi.
Tujuan utama auditor dalam memverifikasi penjualan, tukar tambah, atau
pengabaian aktiva tetap adalah untuk mengumpulkan bukti yang cukup bahwa
semua pelepasan telah dicatat dan pada jumlah yang benar. Titik awal untuk
memverifikasi pelepasan adalah skedul klien yang berisi catatan tentang
pelepasan itu. Skedul tersebut umumnya mencantumkan tanggal kapan aktiva
dilepas atau dibuang, nama orang atau perusahaan yang mengakuisisi aktiva,
harga jual, biaya awal, tanggal akuisis dan akumulasi penyusutan.
Ketika suatu aktiva dijual atau dibuang begitu saja tanpa ditukar dengan aktiva
pengganti, keakuratan transaksi dapat diverifikasi dengan memeriksa faktur
penjualan terkait dan file induk aktiva tetap. Auditor harus membandingkan
biaya dan akumulasi penyusutan yang ada dalam file induk dengan ayat jurnal
yang tercatat dalam jurnal umum serta menghitung kembali keuntungan atau
kerugian atas pelepasan aktiv a sebagai perbandingan dengan catatan
akuntansi. Jika terjadi tukar tambah aktiva dengan aktiva pengganti, auditor
harus memastikan bahwa aktiva yang baru dikapitalisasi dan aktiva yang
digantikan dihapus secara layak dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai
buku aktiva yang ditukar tambah dan biaya tambahan aktiva yang baru.
4)

Memverifikasi saldo akhir akun aktiva


Dua tujuan auditor ketika mengaudit aktiva tetap termasuk menentukan bahwa :

a.

Semua aktiva tetap yang tercatat ada secara fisik pada tanggal neraca

b.

Semua aktiva tetap yang dimiliki telah dicatat.


Ketika merancang pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, pertama
auditor mempertimbangkan sifat pengendaliaqn internal terhadap aktiva tetap.
Idealnya, auditor mampu menyimpulkan bahwa pengendalian cukup kuat untuk
memungkinkannya bergantung pada saldo yang dicatat dari tahun sebelumnya.

Pengendalian yang penting meliputi penggunaan file induk untuk setiap aktiva
tetap,

pengendalian

fisik

yang

memadai

terhadap

aktiva

yang

mudah

dipindahkan ( seperti, komputer, perkakas, dan kendaraan ), penulisan nomor


identifikasi kesetiap aktiva tetap, serta perhitungan fisik periodik atas aktiva
tetap dan rekonsiliasinya oleh personil akuntansi. Metode formal untuk memberi
tahu departemen akuntansi tentang semua pelepasan aktiva tetap juga
merupakan

pengendalian

yang

penting

terhadap

saldo

aktiva

yang

dicatatketahun berjalan.
5)

Memverifikasi beban penyusutan


Beban penyusutan merupakan salah satu dari beberapa akun beban yang tidak
diverifikasi sebagai bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian subtantif
atas transaksi. Jumlah yang tercatat ditentukan dengan alokasi internal dan
bukan oleh transaksi pertukaran dengan pihak luar. Jika beban penyusutan
berjumlah material, akan diperlukan lebih banyak pengujian yang terinci atas
beban penyusutan ketimbang untuk akun yang telah diverifikasi melalui
pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi.
Tujuan audit Yng berkaitan dengan saldo yang paling penting untuk beban
penyusutan adalah keakuratan. Auditor harus berfokus pada penentuan apakah
klien mengikuti kebijakan penyusutan yang konsisiten dari periode ke periode,
dan apakah perhitungan klien sudah benar.
Dalam menentukan hal yang pertama, auditor harus mempertimbangkan
empat aspek:

1.

Umur manfaat akuisisi periode berjalan

2.

Metode penyusutan

3.

Estimasi nilai sisa

4.

Kebijakan penyusutan aktiva dalam tahun akuisisi dan disposisi


Kebijakan klien dapat ditentukan melalui diskusi dengan personil yang
berwenang dan membandingkan responnya dengan informasi yang ada dalam
file permanen auditor. Dalam memutuskan kelayakan umur manfaat yang
dibebankan

ke

aktiva

yang

baru

saja

diakuisisi,

auditor

harus

mempertimbangkan umur fisik aktiva, umur yang diharapkan, ( dengan

memperhatikan

keusangan

atau

kebijakan

normal

perusahaan

untuk

meningkatkan mutu aktiva tetap ), dan kebijakan perusahaan yang ditetapkan


menyangkut pertukaran peralatan.
6)

Memverifikasi saldo akhir akumulasi penyusutan


Pendebetan ke akumulasi penyusutan biasanya diuji sebagai bagian dari audit
atas pelepasan aktiva, sementara kredit diverifikasi sebagai bagian dari beban
penyusutan. Jika auditor menelusuri transaksi tertentu ke catatan akumulasi
penyusutan dalam file induk aktiva tetap sebbagai bagian dari pengujian
tersebut, maka hanya diperlukan sedikit pengujian tambahan atas saldo akhir
akumulasi penyusutan.
Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit atas saldo akhir akumulasi
penyusutan adalah :

1.

Akumulasi penyusutan yang dinyatakan pada file induk aktiva tetap sama
dengan buku besar umum. Tujuan ini dapat dipenuhi dengan menguji footing
akumulasi penyusutan dalam file induk aktiva tetap dan menelusuri totalnya
kebuku besar umum.

2.

Akumulasi penyusutan dalam file induk sudah akurat.


Dalam beberapa kasus, umur aktiva tetap khusunya properti pabrik mungkin
saja berkurang secara signifikan kerena umumnya permintaan pelanggan atas
produk, kerusakan fisik yang tidak terduga, modifikasi operasi, atau perubahan
lainnya.

Berdasarkan

kemungkinan-kemungkinan

tersebut,

auditor

harus

mengevaluasi kememadaian penyisihan untuk akumulasi penyusutan setiap


tahun guna memastikan bahwa nilai buku bersih tidak melampaui nila realisasi
aktiva.

2.8 Penetapan Resiko Deteksi


Jenis aktiva tetap yang berbeda mempunyai resiko bawaan dan resiko
pengendalian yang juga berbeda. Resiko bawaan untuk tanah adalah lebih
rendah dibandingkan resiko bawaan untuk kendaraan maupun bangunan. Hal ini
diakibatkan

oleh

kerentanan

dalam

pengendalian

dan

kerumitan

dalam

perhitungan dari estimasi umur ekonomis dan nilai residualnya. Variasi dalam
resiko bawaan dan resiko pengendalian antar berbagai aktiva tersebut perlu

diperhatikan oleh auditor dengan menentukan tingkat resiko deteksi yang tepat
untuk masing-masing pernyataan. Disamping itu, terdapat berbagai faktor lain
yang mempengaruhi tinggi rendahnya resiko bawaan. Resiko bawaan pada
pernyataan penilaian atau pengalokasian adalah relatif tinggi pada pembelian
aktiva tetap dengan menggunakan kredit jangka panjang.
Resiko pengendalian aktiva tetap pada umumnya relatif rendah karena
transaksi ini jarang terjadi dan terdapat otorisasi pimpinan atas pembelian aktiva
tetap yang penting. Meskipun resiko pengendaliannya rendah sehingga resiko
deteksinya ditetapkan pada tingkat yang tinggi, auditor perlu menggunakan
pendekatan pengutamaan pengujian subtantif. Hal ini disebabkan karena
transaksi pembelian aktiva tetap secara individual memiliki pengaruh yang
material terhadap laporan keuangan.

2.9 Sebuah Kasus Audit Asset Tetap


Pada Desember 2006 Indonesia Corruptin Watch (ICW) melaporkan kasus
dugaan korupsi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ruislaag (tukar
guling) antara asset PT. Industri Sandang Nusantara (ISN), sebuah BUMN yang
bergerak di bidang tekstil, dengan asset PT. GDC, sebuah perusahaan swasta.
Dalam ruislaag tersebut PT. ISN menukarkan tanah seluas 178.497 meter
persegi di kawasan Senayan dengan Tanah seluas 47 hektar beserta Pabrik dan
mesin di karawang.
Berdasarkan hasil temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) semester II
Tahun Anggaran 1998/1999, menyatakan ruislaag itu berpotensi merugikan
keuangan Negara sebesar Rp. 121,628 miliar.
Kerugian itu terdiri dari kekurangan luas bangunan pabrik dan mesin milik
PT. GDC senilai Rp. 63,954 miliar, berdasarkan penilaian aktiva tetap oleh PT.
Sucofindo pada 1999; penyusutan nilai asset pabrik milik PT. GDC senilai Rp.
31,546 miliar; dan kelebihan perhitungan harga tanah senilai Rp. 0,127 miliar.
Selain itu juga ditemukan bahwa terdapat nilai saham yang belum dibayarkan
oleh PT. GDC sebesar Rp. 26 miliar.
Telaah Kasus
Dalam kasus Ruislaag di atas, karena ketidakjelasan prosedur dan syaratsyarat tukar guling asset, sehingga sangat rawan untuk diselewengkan.

Seharusnya keputusan Tukar Guling tidak hanya menjadi wewenang salah


satu pejabat saja, melainkan melibatkan beberapa pejabat sebagai pengendali
dan control yang baik. Selain itu juga diperlukan sebuah aturan baku oleh
perusahaan mengenai tukar guling, sehingga kemungkinan penyelewengan
menjadi berkurang.
Diperlukan juga control dari lembaga bersangkutan terhadap penelitian
tim penilik yang meneliti kelengkapan mengenai status asset, dokumen
kelengkapan asset, sehingga tidak ada manipulasi dari nilai asset tersebut serta
proses tukar menukar.
Walaupun menggunakan jasa Appraisal, penilaian asset tetap juga tetap
harus diawasi untuk mencegah kecurangan-kecurangan.
Dari kasus diatas dapat dibuktikan bahwa PT. ISN memiliki pengendalian
intern yang sangat buruk. Sehingga PT. ISN rawan dicurangi oleh rekananrekanan bisnisnya maupun oleh oknum-oknum pejabat perusahaan yang ingin
mengambil keuntungan. Oleh karena itu hal pertama yang harus dibenahi oleh
PT. ISN adalah soal Pengendalian Internnya

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1)

Aktiva Tetap merupakan aset suatu perusahaan yang berwujud, yang

digunakan untuk

kegiatan operasional perusahaan dalam jangka waktu lebih

dari satu periode.


2)
a)

Dari sudut substansi, aktiva tetap dapat dibagi menjadi:

Tangible

Assets atau

dan peralatan.

aktiva

berwujud

seperti

lahan,

mesin,

gedung,

b)

Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud sepertiGoodwill, hak paten,
hak cipta, dan lain-lain.
Dari sudut disusutkan atau Tidak dapat dibagi menjadi :

a)

Depreciated

Plant

Assets yaitu

aktiva

tetap

yang

dapat

disusutkan

tidak

disusutkan

seperti bangunan, peralatan, mesin, inventaris, dan lain-lain.


b)

Undepreciated

Plant

Assets yaitu

aktiva

tetap

yang

seperti tanah.
Berdasarkan jenis dapat dibagi menjadi:
a.

Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya


sebagai lapangan, halaman, tempat parkir dan lain sebagainya.

b.

Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk pabrik;

c.

Mesin;

d.

Inventaris;

e.

Kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya.

3)

Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap:

Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang berkaitan


dengan aktiva tetap

Membuktikan kebenaran aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan


dengan aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.

Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di


neraca.

Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.

Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap dineraca.

4)

Prosedur audit atas aktiva tetap

Prosedur audit awal

Pengujian analitik

Pengujian terhadap transaksi rinci

Pengujian terhadap saldo akun rinci

Verifikasi penyajian dan pengungkap.

3.2 Saran
I.

Mahasiswa

dan

masyarakat

luas

harus

lebih

memahami

bagaimana

ketentuan-ketentuan mengenai aktiva tetap agar tidak terjadi kesalahan pada


pemahaman terhadap aktiva tetap.
II.

Auditor harus mengaudit sesuai dengan prosedur audit agar tidak terjadi
kesalahan dalam pengauditan.

III.

Akuntan harus memahami dengan baik bagaimana pencatatan aktiva tetap


yang baik dan benar agar tidak terjadi salah pencatatan dalam transaksi
keuangan.

DAFTAR PUSTAKA
AlvinA.Arens, RandalJ.Elder, & MarkS.Beasley. (2008). Auditing dan Jasa Assurance.Jakarta: Erlangga.
IndraBastian. (2006). Audit Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
TheodorusM.TuanaKotta. (1982). Auditing petunjuk pemeriksaan akuntan publik.Jakarta: Lembaga penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia .

http://iipsaja.blogspot.com/2009/04/contoh-kasus-audit-fixed-asset.
SOURCE: http://meilya-yessy4.blogspot.co.id/2014/04/makalah-audit-aktiva-tetap.html

Makalah Audit terhadap Aktiva tetap


BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Secara umum tujuan utama didirikannya sebuah perusahaan adalah untuk
memperoleh laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dan dapat
mempertahankan kelancaran usaha dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu investasi
tersebut adalah aktiva yang digunakan dalam kegiatan normal perusahaan yaitu aktiva yang
mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun. Untuk mencapainya diperlukan
pengelolaan yang

efektif dalam

penggunaan,

pemeliharaan

maupun

pencatatan

akuntansinya.
Bersama dengan berlalunya waktu nilai ekonomis suatu aktiva tetap tersebut harus
dapat dibebankan secara tetap dan salah satu caranya adalah dengan menentukan metode
penyusutan. Untuk itu perlu diketahui apakah metode penyusutan yang telah diterapkan oleh
perusahaan telah memperhatikan perubahan nilai aktiva tetap yang menurun yang disebabkan
karena berlalunya waktu atau menurunnya manfaat yang diberikan aktiva tersebut.
Aktiva tetap biasanya merupakan bagian investasi yang cukup besar dalam jumlah
keseluruhan asset perusahaan. Besarnya investasi yang ditanamkan dalam aktiva tetap
menjadikan aktiva tetap itu perlu mendapatkan perhatian yang serius. Tidak hanya pada
penggunaan dan operasinya saja tetapi juga dalam akuntansinya yang biasanya mencakup
perolehan aktiva tetap, penghentian atau pelepasan aktiva tetap, serta penyajian dan
pengungkapannya dalam laporan keuangan.
Oleh karena itu, perlunya untuk mengetahui serta memahami secara rinci tentang aktiva
tetap baik aktiva tetap berwujud maupun tidak berwujud. Dengan cara demikian kita mampu
mengaplikasikan apa saja yang terdapat di dalam aktiva tetap sebuah perusahaan. Namun
untuk mendapatkan rincian yang baik terhadap aktiva tetap, diperlukan pengendalian
terhadap aktiva berupa pengujian substantif. Maka dari itu, dalam makalah ini kami akan
membahas tentang Audit terhadap Siklus Pengeluaran: Pengujian Substantif terhadap Aktiva
Tetap.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dari penulisan makalah ini sebagai
berikut :
Apakah yang dimaksud dengan aktiva tetap dan bagaimana penggolongan aktiva tetap?
Apa saja transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap?
Apa perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan aktiva lancar?
Apa perbedaan pengujian substantif aktiva tetap dengan aktiva lancar?
Bagaimana pengujian substantif terhadap aktiva tetap dalam audit yang pertama kalinya?

1.3.

Bagaimana Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU) penyajian aktiva tetap?


Apa saja tujuan pengujian substantif aktiva tetap?
Bagaimana prosedur audit aktiva tetap?
Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :
Untuk mengetahui dan memahami pengertian dan penggolongan aktiva tetap.
Untuk mengetahui dan memahami bentuk transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap.
Untuk mengetahui dan memahami perbedaan karakteristik aktiva tetap dengan aktiva lancar.
Untuk mengetahui dan memahami perbedaan pengujian substantifaktiva tetap dengan aktiva
lancar.
Untuk mengetahui dan memahami pengujian substantif terhadap aktiva tetap dalam audit
yang pertama kalinya.
Untuk mengetahui dan memahami Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU) penyajian
aktiva tetap.
Untuk mengetahui dan memahami tujuan pengujian substantif aktiva tetap.
Untuk mengetahui dan memahami prosedur audit aktiva tetap.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Aktiva Tetap
2.1.1. Pengertian Aktiva Tetap
Aktiva tetap ialah aktiva tetap berwujud yang mempunyai nilai guna ekonomis jangka
panjang, dimiliki perusahaan untuk menjalankan operasi guna menunjang perusahaan dalam
mencapai tujuan dan dimiliki perusahaan tidak untuk dijual kembali agar diperoleh laba atas
penjualan
tersebut.
Menurut Zaki Baridwan (1992, hal 271) menjelaskan : Aktiva tetap berwujud yang
sifatnya relatif permanen (menunjukkan sifat bahwa aktiva yang bersangkutan dapat
digunakan dalam jangka waktu yang relatif cukup lama) yang digunakan dalam kegiatan
perusahaan.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002, Nomor 16.2 Paragraf 05) Aktiva tetap
adalah aktiva tetap berwujud yang digunakan dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun

terlebih dahulu yang digunakan dalam operasi perusahaan. Tidak dimaksudkan untuk dijual
dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan sifat-sifat tetap berwujud digunakan dalam
operasional perusahaan, tidak untuk diperdagangkan, umur ekonomi lebih dari satu tahun
yang sifatnya relatif tetap atau permanen dan berwujud fisik artinya dapat dilihat dan
dirasakan dengan panca indera.
2.1.2. Penggolongan Aktiva Tetap
Aktiva tetap yang dimiliki perusahaan banyak jenisnya, untuk tujuan akuntansi maka
perlu penggolongan aktiva tetap sesuai dengan kebutuhan dan fungsi masing-masing.
Menurut Harahap (2002:22) : Penggolongan aktiva tetap dibagi menjadi berbagai
sudut, antara lain :
1. Sudut Substansi, aktiva tetap dapat dibagi:
a. Tangible Assets atau aktiva berwujud seperti lahan, mesin, gedung, dan peralatan.
b. Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud seperti HGU, GB,GoodwillPattens,
Copyright, Hak Cipta, Franchise, dan lain-lain.
2. Sudut Disusutkan atau Tidak:
a. Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang dapat disusutkan seperti
bangunan,
peralatan, mesin, inventaris, dan lain-lain.
b. Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang tidak disusutkan seperti tanah.
3. Berdasarkan jenis dapat dibagi sebagai berikut:
a. Lahan
Lahan adalah bidang tanah terhampar baik yang merupakan tempat bangunan
maupun
yang masih kosong. Dalam akuntansi apabila ada lahan yang
didirikan bangunan
di atasnya harus dipisahkan pencatatannya dari lahan
itu sendiri.
b. Bangunan Gedung
Gedung adalah bangunan yang terdiri di atas bumi ini baik di atas tanah/
air.
Pencatatannya harus terpisah dari lahan yang menjadi lokasi
gedung itu.
c. Mesin
Mesin termasuk peralatan-peralatan yang menjadi bagian dari mesin
yang
bersangkutan.
d. Kendaraan
Semua jenis kendaraan seperti alat pengangkutan, truk, traktor, mobil, kendaraan
roda
dua, dan lain-lain.
e. Perabot
Dalam jenis ini termasuk perabot kantor, perabot laboraturium, perabot pabrik
yang
merupakan isi dari suatu bangunan.

f.

Peralatan

Peralatan yang dianggap merupakan alat-alat besar yang digunakan dalam


perusahaan
seperti inventaris kantor, inventaris pabrik, inventaris laboraturium,
inventaris gudang,
dan lain-lain.
g. Prasarana
Di Indonesia merupakan kebiasaan bahwa perusahaan membuat klasifikasi
khusus
prasarana seperti jalan, jembatan, roil, pagar, dan lain-lain.
Menurut Harnanto (2002:314) : Penggolongan aktiva tetap di bagi menjadi tiga
kelompok atau bagian yaitu :
1. Aktiva tetap berwujud yang umur atau masa kegunaannya tidak terbatas.
Termasuk
dalam kelompok ini adalah tanah yang dipakai sebagai tempat
kedudukan bangunan
pabrik, bangunan gedung, dan bangunan kantor.
2. Aktiva berwujud yang umur atau masa kegunaannya terbatas, dan dapat diganti
dengan
aktiva sejenis apabila masa kegunaan telah berakhir. Termasuk dalam
kelompok ini
adalah bangunan, mesin dan alat pabrik, mebel dan perlengkapan
kantor, dan
kendaraan.
3. Aktiva tetap yang umur dan masa kegunaannya terbatas, dan tidak dapat
diganti
dengan aktiva sejenis apabila masa kegunaannya telah habis.
Termasuk dalam
kelompok ini adalah sumber alam, seperti
tambang.
2.2.

Transaksi yang Bersangkutan dengan Aktiva Tetap


Transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap sebagai berikut:
Aktiva Tetap
Pemerolehan
Penghentian Pemakaian
Pengeluaran Modal
Penjualan
Revaluasi
Pertukaran
Pertukaran

Penghentian Pemakaian
Penjualan
Pertukaran

Depresiasi Akumulasian Aktiva Tetap


Depresiasi

Jurnal-jurnal transaksi yang menyangkut perubahan aktiva tetap dan akun depresiasi
akumulasian yang bersangkutan adalah sebagai berikut:
1.
Transaksi pemerolehan aktiva tetap.
Aktiva Tetap
xx
Kas
xx
2.
Transaksi pengeluaran modal (capital expenditure).
Aktiva Tetap
xx
Kas
xx
3.
Transaksi depresiasi aktiva tetap.
Biaya Depresiasi
xx
Depresiasi Akumulasian Aktiva tetap
xx
4.
Transaksi penghentian pemakaian aktiva tetap.

Depresiasi Akumulasian Aktiva Tetap


xx
Rugi Penghentian Pemakaian Aktiva Tetap
xx
Aktiva Tetap
xx
5.
Transaksi reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap.
Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap
xx
Kas
xx
Sediaan Suku Cadang
xx
Gaji dan Upah
xx
Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan
xx
Contoh soal:
1. Pembelian Aktiva tetap secara tunai dalam kondisi yang normal (Pembelian 1 (satu) jenis
aktiva tetap Pada tanggal 1 februari 2013 PT Kali jaya yang bergerak dalam bidang
Peternakan ayam Membeli sebuah mobil angkut yang akan difungsikan untuk pemasaran
ayam dan telur ayam seharga Rp. 40.000.000, Berdasarkan transaksi ini buatlah jurnal umum
yang disusun oleh PT Kali Jaya!
2. Pembelian Aktiva Tetap secara tunai dimana aktiva yang dibeli lebih dari satu jenis tetapi
dibeli dalam satu harga. Seorang usahawan membeli gedung di atas sebidang tanah yang
luasnya 200 m sedangkan luas gedung 60 m dengan harga Rp 240.000.000. Berdasarkan info
pasar harga tanah per 1 meter adalah Rp 1000.000 dan menurut tipe gedung harga per meter
Rp 1.200.000. Diminta, buatlah perhitungan Harga Perolehan aktiva tetap yang dibeli dan
susunlah jurnal pembelian aktiva tetap tersebut!
3. Pembelian Aktiva tetap dengan angsuran dimana harga Tunai aktiva tetap yang dibeli
diketahui. Aktiva tetap dengan jenis kendaraan dengan harga tunai Rp 50.000.000 dibeli
secara mengangsur selama 60 kali bulanan dengan uang muka Rp 5000.000 dan bunga 12%
per tahun. Diminta; Perhitungan dan jurnal-jurnal yang diperlukan atas pembelian aktiva
tetap tersebut!
4. Cara perolehan aktiva tetap dengan cara pertukaran dimana aktiva tetap yang ditukar
berbeda jenis. Aktiva tetap mesin yang harga perolehannya Rp 20.000.000 sudah disusutkan
sebesar Rp 5000.000 ditukarkan dengan aktiva tetap kendaraan yang harga perolehannya Rp
25.000.000 belum ada penyusutan (Kendaraan Baru). Apabila Aktiva tetap mesin diakui
(harga pasar) nilainya sebesar Rp 16.000.000, maka buatlah perhitungan dan jurnal yang
diperlukan atas pertukaran aktiva tetap tersebut!
5. Cara Perolehan Aktiva tetap dengan cara pertukaran dimana aktiva yang ditukarkan
sejenis. Perusahaan Pak Subkhan ingin menukar mesin lamanya dengan mesin baru. Harga
perolehan mesin lama $ 4000 dengan penyusutan $3200 dan harga pasar mesin tersebut
$1.100. Mesin baru yang diinginkan pak Subkhan mempunyai harga perolehan $5000.
Berdasarkan data tersebut buatlah perhitungan dan jurnal yang diperlukan
Pembahasan soal 1 Dalam soal 1 terjadi pembelian aktiva tetap secara tunai dalam bentuk
sebuah mobil angkut dengan harga Rp 40.000.000, pada kondisi ini tidak ada perhitungan
yang diperlukan karena harga perolehan mobil telah diketahui sehingga tinggal menyusun
jurnal pembelian mobil tersebut. Jurnal yang disusun PT Kali jaya adalah sebagai berikut:
Mobil.............Rp 40.000.000
Kas ...............Rp 40.000.000
Pembahasan Soal 2 Dalam soal 2 terjadi pembelian aktiva tetap secara tunai dengan satu
harga tetapi aktiva tetap yang dibeli lebih dari satu jenis aktiva tetap yaitu aktiva tetap tanah
dan gedung. Berdasarkan transaksi ini maka harus diketahui terlebih dahulu harga perolehan

Tanah dan harga perolehan gedung. Perhitungan untuk mengetahui harga perolehan tanah dan
gedung yang dibeli tersebut adalah sebagai berikut: Mencari Harga Pasar Relatif
Tanah => 200 m x Rp 1000.000 = Rp 200.000.000
Gedung=> 60 m x Rp 1200.000 = Rp 72.000.000 +
Harga Pasar Relatif...................... = Rp 272.000.000
Mencari Harga Perolehan Harga Perolehan Tanah dicari dengan cara sebagai berikut:
(200.000.000/272.000.000) x 240.000.000 = Rp 176.470.588
Harga Perolehan Gedung dicari dengan cara sebagai berikut:
(72.000.000/272.000.000) x 240.000.000 = Rp 63.529.412
Jurnal yang dibuat atas pembelian aktiva tetap
Tanah .............Rp 176.470.588
Gedung............Rp 63.529.412
Kas ....................Rp 240.000.000
Pembahasan Soal 3 Dalam soal 3 terjadi pembelian aktiva tetap dengan angsuran, dimana
harga tunai aktiva tetap tersebut diketahui yaitu Rp 50.000.000. Perhitungan yang diperlukan
adalah sebagai berikut: Mencari utang pokok pinjaman
Harga Tunai
=> Rp 50.000.000
Uang Muka
=> Rp 5.000.000 Utang Pokok Pinjaman => Rp 45.000.000
Mencari Bunga Pinjaman Lama angsuran 60 kali bulanan sama dengan 5 tahun,
sedangkan bunga 12% per tahun sehingga besar bunga dalam persen =>12% x 5 tahun = 60%
Bunga dalam rupiah => 60% x 45.000.000 = Rp 27.000.000
Mencari angsuran yang dibayarkan setiap bulan
Besarnya utang total = utang pokok + utang bunga
= 45.0000.0000+27.000.000
= Rp 72.000.000
Angsuran utang pokok perbulan => 45.000.000 : 60 = Rp 750.000
Angsuran utang bunga perbulan => 27.000.000 : 60 = Rp 450.000
Jadi Besarnya kas yang dibayarkan setiap bulan untuk membayar angsuran adalah sebagai
berikut:
=> Angsuran utang poko per bulan + Angsuran utang bunga perbulan
=> Rp 750.000 + Rp 450.000 = Rp 1.200.000,
atau dapat juga dihitung dengan cara berikut ini:
= Total Utang : Lama angsuran = 72.000.000 : 60 = Rp 1.200.000.
Jurnal yang disusun saat pembelian
Aktiva tetap Kendaraan........................Rp 50.000.000
Beban Bunga ditetapkan dimuka..........Rp 27.000.000
Utang .................................................................Rp 72.000.000
Kas .....................................................................Rp 5.000.000
Jurnal saat pembayaran angsuran;
Utang .................Rp 1.200.000
Kas ......................Rp 1.200.000
Beban Bunga angsuran kendaraan ............Rp 450.000
Beban Bunga ditetapkan dimuka ..............Rp 450.000
Pembahasan soal 4 Dalam soal 4 terjadi transaksi pertukaran aktiva tetap berbeda jenis yaitu
aktiva tetap mesin lama akan ditukarkan dengan aktiva tetap kendaraan baru. Perhitungan
untuk menentukan laba rugi atas adanya pertukaran

Nilai buku (nilai sekarang) mesin => Harga perolehan - Penyusutan


=> Rp 20.000.000 - Rp 5000.000 = Rp 15.000.000
Harga Pasar Mesin ................................................... = Rp 16.000.000
Laba Pertukaran => Rp 16.000.000 - Rp 15.000.000 = Rp 1.000.000
Terjadi laba dalam pertukaran karena harga pasar lebih besar dari nilai buku.
Perhitungan untuk menentukan kas yang harus dibayar untuk pertukaran aktiva tetap
Harga Pasar mesin Rp 16.000.000 sedangkan harga kendaraan (baru) yang diinginkan Rp
25.000.000 Sehingga jika ingin menukarkan mesin dengan kendaraan harus menambah uang
sebesar Rp 9000.000 Note;kendaraan masih baru sehingga harga perolehan = harga pasar.
Jurnal yang disusun atas pertukaran aktiva tetap
Kendaraan ................................Rp 25.000.000
Akml. Penyusutan Mesin .........Rp 5.000.000
Mesin........................................................Rp 20.000.000
Laba Pertukaran
Aktiva...........................Rp 1.000.000
Kas............................
...............................Rp 9.000.000
Catatan: Tujuan Jurnal diatas adalah memunculkan akun kendaraan dan menghapus akun
mesin.
Pembahasan Soal 5 Dalam soal 5 terjadi pertukaran aktiva tetap dimana aktiva tetap yang
ditukar masih satu jenis, yaitu pertukaran aktiva tetap mesin lama akan ditukarkan dengan
mesin baru.
Perhitungan menentuka laba-rugi perhitungan
Nilai Buku mesin lama
=> $4000 -$3200 = $ 800
Harga Pasar Mesin Lama => .......................= $ 1.100
Laba Pertukaran
=> $1100 - $ 800 = $ 300
Karena dalam pertukaran aktiva tetap satu jenis tidak mengakui adanya laba pertukaran maka
laba pertukaran diperlakukan sebagai pengurang
Harga perolehan mesin baru, jadi harga perolehan mesin baru $5000 - $300 = $4700
Perhitungan menentukan besarnya kas yang dibayarkan untuk pertukaran aktiva tetap
Harga pasar mesin lama $ 1.100 sedangkan harga mesin baru $ 5000 sehingga kas yang
dibayar untuk menukar mesin lama dengan mesin baru adalah $5000 - $1100 = $ 3900
Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut
Mesin baru .......................................$ 4700
Akml Penyusutan mesin lama ..........$ 3200
Mesin lama ......................................$ 4000
Kas....................................................$ 3900
2.3.

Perbedaan Karakteristik Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar


1. Aktiva tetap mempunyai saldo yang cukup besar dalam neraca, transaksi
perubahan
relatif sedikit namun umumnya menyangkut jumlah yang besar;
2. Kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap
mempunyai
pengaruh kecil terhadap perhitungan laba rugi, sedangkan
kesalahan pisah batas
transaksi yang besangkutan dengan aktiva lancar
mempunyai pengaruh yang besar
terhadap perhitungan laba rugi;
3. Aktiva tetap disajikan di neraca berdasarkan harga perolehan dikurang
depresiasi
akumulasi penyusutan sama dengan nilai buku.

2.4.

Perbedaan Pengujian Substantif terhadap Aktiva Tetap dengan Aktiva Lancar


1. Frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit maka jumlah
waktu
yang diperlukan untuk pengujian subtsantif terhadap aktiva tetap relatif
sedikit bila
dibandingkan dengan aktiva lancar;
2. Ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap
sedikit
pengaruhnya terhadap perhitungan laba rugi maka auditor tidak
mengarahkan
perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas
transaksi yang bersangkutan
dengan aktiva tetap pada akhir tahun, sedang
dalam pengujian substantif terhadap
aktiva lancar, auditor memusatkn perhatian
terhadap aktiva lancar tersebut;
3. Pengujian substantif terhadap aktiva tetap dititik beratkan pada vrifikasi mutasi
aktiva
tetap yang terjadi dalam tahun yang di audit;
4. Verifikasi saldo aktiva tetap pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian
auditor
karena aktiva tetap disajikan pada cost-nya bukan nilai pada tanggal
neraca seperti
halnya dengan aktiva lancar.
2.5.

Pengujian Substantif terhadap Aktiva tetap dalam Audit yang Pertama Kalinya
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam audit terhadap aktiva tetap pada
audit pertama kalinya:
a) Apakah laporan keuangan tahun sebelumnya telah di audit oleh auditor
independen
lain?
b) Apakah klien menyelenggarakan catatan rinci untuk aktiva tetapnya?
c) Apakah klien mengarsipkan dokumen-dokumen yang mendukung transaksi
yang
bersangkutan dengan perolehannya dan mutasi aktiva tetap sampai
dengan saat
diaudit yang pertama dilaksanakan?
2.6.

Prinsip Akuntansi Berterima Umum dalam Penyajian Aktiva Tetap di Neraca


1) Dasar penilaian aktiva tetap harus dicantumkan dalam neraca;
2) Aktiva tetap dijaminkan harys dicantumkan dalam laporan keuangan;
3) Jumlah depresiasi akumulasi dan biaya-biaya depresiasi untuk tahun ini
harus
ditunjukan dalam laporan keuangan;
4) Metode yang digunakan dalam perhitungan depresiasi golongan besar aktiva
tetap
harus diungkapkan dalam laporan keuangan;
5) Aktiva tetap harus dipecah kedalam golongan yang terpisah jika jumlahnya material;
6) Aktiva tetap yang telah habis depresiasi atau nilai bukunya namun masih
digunakan
untuk operasional perusahaan, jika jumlahnya material harus
dijelaskan.

2.7.

Tujuan Pengujian Substantif terhadap Saldo Aktiva Tetap


1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang dengan aktiva

tetap;
dengan

2. Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan


aktiva tetap yang dicantumkan di neraca;
3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca;

4. Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca;


5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca.
Untuk hal tersebut maka auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo aktiva tetap yang
dicantumkan didalam neraca dengan aktiva tetap yang bersangkutan di dalam buku besar dan
selanjutnya ditelusuri ke jurnal pengeluaran kas, jurnal umum dan buku pembantu aktiva
tetap.
2.8.

Prosedur Audit Aktiva Tetap


Prosedur audit pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap:
1. Prosedur audit awal
Auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi aktiva tetap yang di cantumkan di neraca
dengan catatan akuntansi pendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor
memperoleh suatu keyakinan yang memadai bahwa informasi aktiva tetap yang dicantumkan
di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya oleh karena itu auditor
melakukan 6 prosedur audit sebagai berikut yang akan diuji lebih lanjut:
1) Usut saldo aktiva tetap yang tecantum di dalam neraca ke saldo akun aktiva
tetap
bersangkutan di buku besar;
2) Hitung kembali saldo aktiva tetap di buku besar;
3) Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting
dalam
aktiva tetap serta hitung akumulasi penyusutan aktiva tetap tersebut;
4) Usut saldo akun aktiva tetap ke kertas kerja tahun lalu;
5) Usut posting pendebetan dan pengkreditan ke dalam jurnal yang bersangkutan;
6) Lakukan rekonsiliasi akun kontrol terhadap aktiva tetap dalam buku besar ke
buku
pembantu aktiva tetap.
2. Prosedur analitik
Prosedur analitik antara lain:
1) Hitung rasio:
a. Tingkat perputaran aktiva tetap
b. Laba bersih dengan aktiva tetap
c. Aktiva tetap ke modal saham
d. Biaya reparasi dan pemeliharaan dengan aktiva tetap
2) Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan dari dasarkan pada data
masa
lalu baik data anggaran maupun data realisasi.
3. Prosedur pengujian terhadap transaksi rinci
1) Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya
transaksi
tersebut;
2) Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya
transaksi
tersebut;
3) Lakukan pemeriksaan pisah batas (cut off) transaksi aktiva tetap;
4) Lakukan review terhadap akun biasa maintanance maupun biaya reparasi.
4. Prosedur pengujian terhadap saldo akun rinci
1) Lakukan inspeksi atau peninjauan terjadap aktiva tetap;
a. Lakukan inspeksi terhadap tambahan aktiva tetap

b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadinya perbedaan


c. Periksa dokumen yang mendukung pembayaran dan pembelian aktiva
tetap
setelah tanggal neraca
2) Periksa bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak yang mendukung
penggunaan
aktiva tetap tersebut;
3) Lakukan review terhadap penyusutan aktiva tetap.

5. Prosedur verifikasi penyajian dan pengungkapan


Bandingkan penyajian aktiva tetap dengna prinsip aktiva yang diterima umum:
1) Periksa klasifikasi aktiva tetap di neraca;
2) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Simpulan
1. Aktiva Tetap merupakan aset suatu perusahaan yang berwujud, yang digunakan
untuk
kegiatan operasional perusahaan dalam jangka waktu lebih dari satu
periode.
2. Dari sudut substansi, aktiva tetap dapat dibagi menjadi:
a. Tangible Assets atau aktiva berwujud seperti lahan, mesin, gedung,
dan
peralatan.

GB,
lain-lain.

a.
b.
c.
d.
e.

b. Intangible Assets atau aktiva yang tidak berwujud seperti HGU,


Goodwill-Pattens, Copyright, Hak Cipta,Franchise, dan

Dari sudut disusutkan atau Tidak dapat dibagi menjadi:


a. Depreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang dapat disusutkan
seperti
bangunan, peralatan, mesin, inventaris, dan lain-lain.
b. Undepreciated Plant Assets yaitu aktiva tetap yang tidak disusutkan
seperti
tanah.
Berdasarkan jenis dapat dibagi menjadi:
Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya sebagai
lapangan, halaman, tempat parkir dan lain sebagainya;
Bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk pabrik;
Mesin;
Inventaris;
Kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya.
3. Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap:
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
dengan
aktiva tetap;
2. Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang
berkaitan
dengan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca;
3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan
di
neraca;
4. Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca;
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di
neraca.
4. Prosedur audit terhadap aktiva tetap terdiri dari:
1. Prosedur audit awal;
2. Pengujian analitik;
3. Pengujian terhadap transaksi rinci;
4. Pengujian terhadap saldo akun rinci;
5. Verifikasi penyajian dan pengungkapan.

3.2.
Saran
1. Mahasiswa dan masyarakat luas harus lebih memahami bagaimana ketentuan-ketentuan
mengenai aktiva tetap agar tidak terjadi kesalahan pada pemahaman terhadap aktiva tetap.
2. Auditor harus mengaudit sesuai dengan prosedur audit agar tidak terjadi kesalahan dalam
pengauditan.
3. Akuntan harus memahami dengan baik bagaimana pencatatan aktiva tetap yang baik dan
benar agar tidak terjadi salah pencatatan dalam transaksi keuangan.
http://esy-marita.blogspot.co.id/2013/11/makalah-audit-terhadap-aktiva-tetap_22.html
PENGUJIAN SUBSTANSIF

A.

Pengujian Substantif atas Utang Usaha

Utang lancar memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva lancar, yang
berdampak terhadap pengujian substantif atas utang lancar. Dalam menyajikan aktiva lancar, klien
berkecenderungan umum untuk menyajikan aktiva tersebut lebih tinggi dari jumlah yang
senyatanya. Di lain pihak, dalam menyajikan utang lancar, klien berkecenderungan umum untuk
menyajikan utang tersebut lebih rendah dari jumlah yang senyatanya. Kecenderungan ini didorong
oleh keinginan klien untuk menyajikan gambaran modal kerja perusahaan yang lebih baik. Oleh
karena itu, pengujian substantif atas utang lancar ditujukan untuk menemukan adanya penyajian
utang lancar yang lebih rendah dari jumlah yang seharusnya (understatement utang lancar),
sedangkan pengujian substantif atas aktiva lancar ditujukan untuk menemukan adanya penyajian
aktiva lancar yang lebih tinggi dari jumlah yang seharusnya (overstatement aktiva lancar).

Dalam menyajikan aktiva lancar klien menghadapi masalah penilaian unsur-unsur aktiva lancar
per tanggal neraca. Di lain pihak, dalam penyajian utang lancar, klien tidak menghadapi masalah
penentuan nilai utang lancar tersebut pada tanggal neraca. Dalam pengujian substantif atas aktiva
lancar, auditor menghadapi masalah penentuan kewajaran nilai aktiva lancar yang dicantumkan di
neraca. Di lain pihak, dalam pengujian substantif atas utang lancar, auditor menghadapi fakta;
menghadapi data historis mengenai kewajiban perusahaan yang terjadi di masa yang lalu, yang
dalam jangka pendek harus dilunasi. Oleh karena itu, pengujian substantif atas utang lancar
memerlukan waktu yang relatif lebih pendek bila dibandingkan dengan pengujian substantif atas
aktiva lancar. Utang usaha merupakan komponen terbesar utang lancar. Oleh karena itu, pengujian
substantif auditor dalam kegiatan belajar ini ini lebih difokuskan ke pengujian substantif atas utang
usaha.
Pengujian substantif atas utang usaha ditujukan untuk memperoleh keyakinan tentang keandalan
catatan akuntansi yang bersangkutan dengan utang usaha, membuktikan keberadaan utang usaha
dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan utang usaha yang dicantumkan di neraca,
membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo
utang usaha yang disajikan di neraca, membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca,
membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang usaha di neraca. Untuk mencapai
tujuan audit tersebut auditor seharus dapat menempuh berbagai prosedur audit.

Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan catatan akuntansi utang usaha yang
diselenggarakan oleh klien, dengan cara mengusut saldo utang usaha yang dicantumkan di neraca
ke dalam akun utang usaha yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan ketelitian
penghitungan saldo akun utang usaha di dalam buku besar, dan membuktikan sumber pendebitan
dan pengkreditan akun utang usaha di dalam buku besar ke dalam register bukti kas keluar dan
jurnal penerimaan kas

Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio, yaitu tingkat perputaran utang usaha,
ratio utang usaha dengan utang lancar, kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya
ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau ratio yang dianggarkan. Di samping itu, dalam
prosedur analitik, auditor membandingkan akun biaya dengan akun biaya yang sama tahun lalu
atau biaya yang dianggarkan untuk mendapatkan indikasi kemungkinan adanya understatement

utang lancar. Pembandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan, yaitu peristiwa atau
transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak atau salah saji.

Dalam pengujian atas akun rinci, auditor melaksanakan prosedur audit berikut ini:

1.

memeriksa sampel transaksi utang usaha yang tercatat ke dokumen yang mendukung
timbulnya utang usaha,

2.

melakukan verifikasi pisah batas (cut of) transaksi pembelian dan transaksi pengeluaran
kas,

3.

melakukan pencarian utang yang belum dicatat.


Dalam pengujian atas akun rinci, auditor menempuh prosedur audit berikut ini:

1.

melakukan konfirmasi utang, dan

2.

melakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan
yang diterima oleh klien dari kreditor
Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan utang jangka panjang di neraca, auditor
membandingkan penyajian utang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum.
Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan cara, antara lain

1.

memeriksa klasifikasi utang usaha di neraca,

2.

pemeriksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha,

3.

memeriksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang nonusaha,

4.

meminta informasi dari klien untuk menemukan komitmen yang belum diungkapkan dan
utang bersyarat dan memeriksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang tersebut.

B.

Pengujian Substantif atas Aktiva Tetap

Aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva lancar, yang
berdampak terhadap pengujian substantif atas aktiva tetap. Frekuensi transaksi yang menyangkut
aktiva tetap relatif sedikit maka jumlah waktu yang dikonsumsi untuk pengujian substantif atas
aktiva tetap relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pengujian
substantif atas aktiva lancar. Karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan
aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba maka auditor tidak mengarahkan
perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva
tetap pada akhir tahun. Pengujian substantif atas aktiva tetap dititikberatkan pada verifikasi mutasi
aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Verifikasi saldo aktiva tetap pada tanggal

neraca tidak mendapat perhatian auditor karena aktiva tetap disajikan pada costnya, bukan
nilainya pada tanggal neraca seperti halnya dengan aktiva lancar.

Jika laporan keuangan klien belum pernah diaudit oleh auditor independen lain, dan audit yang
sekarang ini merupakan audit yang pertama kalinya maka auditor mempunyai kewajiban untuk
memverifikasi saldo awal aktiva tetap, untuk memperoleh keyakinan mengenai kewajaran saldo
tersebut. Verifikasi tersebut dilakukan oleh auditor meliputi periode sejak saat aktiva tetap tersebut
diperoleh sampai dengan awal tahun yang diaudit. Jika laporan keuangan klien tahun sebelumnya
telah diaudit oleh auditor independen lain, dan jika laporan keuangan klien diberi pendapat wajar
tanpa pengecualian dari auditor independen sebelumnya, auditor yang baru dapat langsung
menggunakan saldo awal aktiva tetap sebagai saldo awal yang wajar. Bagi auditor yang baru
tersebut, titik berat pengujian substantifnya atas aktiva tetap, kemudian hanya dipusatkan pada
transaksi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit saja.

Pengujian substantif atas aktiva tetap ditujukan untuk:

1.

memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan


aktiva tetap,

2.

membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan
aktiva tetap yang dicantumkan di neraca,

3.

membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca,

4.

membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca,

5.

membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca.


Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan saldo aktiva tetap dengan cara
membuktikan apakah aktiva tetap yang dicantumkan di dalam neraca didukung dengan catatan
akuntansi yang diselenggarakan dengan mekanisme akuntansi yang dapat dipercaya. Untuk itu
auditor mengusut saldo aktiva tetap yang dicantumkan di neraca ke di dalam akun aktiva tetap
yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan ketelitian penghitungan saldo akun
aktiva tetap di dalam buku besar, mengusut saldo awal akun Aktiva Tetap ke kertas kerja tahun
yang lalu, membuktikan sumber pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tetap di dalam buku
besar ke dalam register bukti kas keluar dan jurnal umum, dan membuktikan ketelitian catatan
aktiva tetap dengan cara melakukan rekonsiliasi akun kontrol aktiva tetap di dalam buku besar
dengan buku pembantu aktiva tetap.
Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio: tingkat perputaran aktiva tetap, ratio
laba bersih dengan aktiva tetap, ratio aktiva tetap dengan modal saham, ratio biaya reparasi dan
pemeliharaan dengan aktiva tetap, kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya
ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau ratio yang dianggarkan. Pembandingan ini
membantu auditor untuk mengung-kapkan: peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan
akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak, atau salah saji.

Dalam pengujian transaksi rinci, auditor memeriksa bukti pendukung pencatatan transaksi
penambahan dan pengurangan aktiva tetap dan review terhadap akun Biaya Reparasi dan
Pemeliharaan Aktiva Tetap. Verifikasi keberadaan aktiva tetap yang ada di tangan klien pada
tanggal neraca dilakukan oleh auditor dengan cara menginspeksi tambahan aktiva tetap yang
terjadi dalam tahun yang diaudit dan mengusut pencatatan tambahan aktiva tetap tersebut ke
dalam buku pembantu aktiva tetap. Meskipun tidak sepenting verifikasi pisah batas transaksi
aktiva lancar, verifikasi pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap dilakukan
oleh auditor dengan cara memeriksa transaksi mutasi aktiva tetap dalam beberapa hari menjelang
dan setelah tanggal neraca. Tujuan audit ini adalah untuk menemukan transaksi mutasi aktiva
tetap yang seharusnya dicatat dalam tahun yang diaudit oleh klien salah dicatat dalam tahun
sesudahnya atau mutasi aktiva tetap yang seharusnya dicatat dalam tahun sesudahnya oleh klien
salah dicatat dalam tahun yang diaudit.

Dalam pengujian atas akun rinci, auditor melakukan inspeksi terhadap aktiva tetap, memeriksa
bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak, dan melakukan review terhadap perhitungan
depresiasi. Verifikasi kepemilikan aktiva tetap dilakukan oleh auditor dengan memeriksa dokumen
yang mendukung pemerolehan tambahan aktiva tetap dalam tahun yang diaudit, melakukan
inspeksi polis asuransi aktiva tetap, memeriksa dokumen yang bersangkutan dengan persewaan
atau kontrak leasing aktiva tetap. Dalam memverifikasi kepemilikan aktiva tetap auditor juga
meminta informasi dari klien mengenai aktiva tetap yang dijaminkan dalam penarikan utang
jangka panjang. Informasi ini bermanfaat bagi auditor untuk memberikan pengungkapan
(disclosure) mengenai kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di neraca.

Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca, auditor membandingkan
penyajian aktiva tetap di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum. Informasi mengenai
hal ini diperoleh auditor dengan memeriksa klasifikasi aktiva tetap di neraca dan memeriksa
kecukupan pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap. Aktiva tetap disajikan di dalam
neraca pada nilai buku yang merupakan selisih cost aktiva tetap dengan depresiasi
akumulasiannya. Cost aktiva tetap dipengaruhi oleh harga pemerolehan tambahan aktiva tetap,
pengeluaran modal (capital expenditure), revaluasi, penghentian pemakaian dan penjualan aktiva
tetap yang terjadi dalam tahun yang diaudit. Depresiasi Akumulasian aktiva tetap dipengaruhi oleh
transaksi mutasi aktiva tetap dan perhitungan biaya depresiasi dalam tahun yang diaudit. Untuk
memverifikasi penilaian aktiva tetap auditor melakukan verifikasi terhadap dokumen yang
mendukung penambahan dan pengurangan cost aktiva tetap dalam tahun yang diaudit dan
memverifikasi penentuan biaya depresiasi aktiva tetap.

Pengujian Substantif atas Aktiva Tidak Berwujud


Pengujian substantif atas aktiva tidak berwujud ditujukan untuk:

1.

memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan


aktiva tidak berwujud,

2.

membuktikan keberadaan aktiva tidak berwujud dan keterjadian transaksi yang berkaitan
dengan aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca,

3.

membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di
neraca,

4.

membuktikan kewajaran penilaian aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca,

5.

membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tidak berwujud di neraca.


Dalam prosedur audit awal, auditor membuktikan keandalan saldo aktiva tidak berwujud dengan
cara membuktikan apakah aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca didukung dengan
catatan akuntansi yang diselenggarakan dengan mekanisme akuntansi yang dapat dipercaya.
Untuk itu auditor mengusut saldo aktiva tidak berwujud yang dicantumkan di neraca ke di dalam
akun aktiva tidak berwujud yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan ketelitian
penghitungan saldo akun Aktiva Tidak Berwujud di dalam buku besar, mengusut saldo awal akun
Aktiva Tidak Berwujud dan Akumulasi Amortisasi ke kertas kerja tahun yang lalu, membuktikan
sumber pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tidak berwujud di dalam buku besar ke dalam
register bukti kas keluar dan jurnal umum.

Dalam prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio, yaitu tingkat perputaran aktiva tidak
berwujud, ratio laba bersih dengan aktiva tidak berwujud, ratio aktiva tidak berwujud dengan total
aktiva, kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata
ratio industri, atau ratio yang dianggarkan. Pembandingan ini membantu auditor untuk
mengungkapkan peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan
usaha, fluktuasi acak atau salah saji.

Dalam pengujian transaksi rinci, auditor memeriksa bukti pendukung pencatatan transaksi
pemerolehan dan amortisasi aktiva tidak berwujud. Auditor juga meminta informasi dari klien
mengenai manfaat aktiva tidak berwujud di masa yang akan datang dalam memverifikasi
eksistensi aktiva tidak berwujud.
Dalam pengujian atas akun rinci, auditor melakukan: mempelajari notulen rapat direksi, perjanjian,
surat izin dari pemerintah, dan dokumen lain yang membuktikan eksistensi aktiva tidak berwujud,
meminta informasi dari klien atau sumber lain mengenai manfaat aktiva berwujud bagi klien di
masa yang akan datang, melakukan inspeksi dan pemeriksaan atas surat perjanjian, surat izin dari
pemerintah, dan dokumen yang menunjukkan hak pemilikan klien atas aktiva tidak berwujud.
Aktiva tidak berwujud disajikan di neraca pada nilainya yang merupakan selisih cost dikurangi
dengan amortisasi aktiva tidak berwujud. Untuk memverifikasi penilaian aktiva tidak berwujud,
auditor melakukan verifikasi atas dokumen yang mendukung transaksi pemerolehan dan transaksi
amortisasi aktiva tidak berwujud.

Dalam memverifikasi penyajian dan pengungkapan aktiva tidak berwujud di neraca, auditor
membandingkan penyajian aktiva tidak berwujud di neraca dengan prinsip akuntansi berterima
umum. Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan memeriksa klasifikasi aktiva tidak

berwujud di neraca dan memeriksa kecukupan pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva
tidak berwujud. Aktiva tidak berwujud yang memiliki umur ekonomis terbatas disajikan di neraca
pada nilai buku yang merupakan selisih cost aktiva tidak berwujud dengan akumulasi
amortisasinya.

Sumber: Buku Auditing 1b Karya Salam Mannan

TEKNIK AUDIT BERBANTUAN


KOMPUTER (COMPUTER- ASSISTED
AUDIT TECHNIQUES)
TEKNIK AUDIT BERBANTUAN KOMPUTER (COMPUTER- ASSISTED AUDIT TECHNIQUES)

Teknik audit adalah metode yang digunakan oleh auditor untukmengumpulkan bukti
audit. Menurut Arens dalam bukunya Auditing andAssurance Services, 9th Edition, teknik
audit ada tujuh, yaitu pengujian fisik(physical examination), konfirmasi
( confirmation ),
dokumentasi( documentation),prosedur
analitisanalytical
procedures ), wawancara kepada klien (inquiries of theclient ) , hitung uji
( reperfomance ) ,dan observasi ( observation).

1.

Pengujian Fisik

Pengujian fisik adalah pengujian substantif yang melibatkan perhitungan atasaktiva


yang berwujud, seperti kas, persediaan, bangunan, dan peralatan. Teknik initidak dapat
diterapkan pada aktiva yang keberadaannya dibuktikan terutama melaluidokumentasi,
seperti piutang usaha, investasi, atau beban dibayar di muka. Selainitu, teknik ini juga tidak
dapat diterapkan pada kewajiban, pendapatan, atau beban.
Sasaran utama dari pengujian fisik adalah membuktikan keberadaan(existence)halhal yang tersaji dalam laporan keuangan klien. Contoh pengujian fisik adalah auditor
mendatangi klien dan melakukan Cash Opname. Cash Opname adalah perhitungan
fisik kas (uang) yang dimiliki oleh klien, kemudian auditor menggolongkan kas yang
dimiliki klien berdasarkan nilai nominalnya, dan terakhir auditor menghitung besarnya kas
yang dimiliki klien.

Selain itu, pengujian fisik juga dapat digunakan auditor untuk mengujipenilaian
(valuation) karena kuantitas terlibat secara langsung dalam penentuan nilaisebagian besar
aktiva. Contoh dari hal ini adalah dengan melakukuan perhitunganfisik persediaan yang
dimiliki oleh klien, auditor juga dapat menentukan nilai daripersediaan yang
dimiliki klien. Melalui pengujian fisik, auditor juga kadang-kadangdapat
memperoleh bukti mengenai mutu atau kondisi, dan dalam hal ini tentu jugaakan
mempengaruhi penilaian.
Pengujian fisik juga dapat digunakan auditor untuk menguji asersi
mengenaikelengkapan (completeness). Dengan pengujian fisik auditor bisa menemukan
item-item yang seharusnya tersaji tetapi dihilangkan klien dari laporan keuangan.
Melaluipengujian fisik, asersi mengenai hak dan kewajiban (rights and obligations)jugadapat
diuji oleh auditor, tetapi hanya untuk mendukung kepemilikan aktiva.
Bukti audit yang diperoleh dari pengujian fisik untuk menguji asersikeberadaan
sangat tinggi. Akan tetapi, bukti audit yang diperoleh auditor daripengujian fisik
juga dapat menyesatkan jika auditor tidak memiliki keahlian ataukurang hati-hati dalam
melakukan pengujian fisik. Dengan demikian, pengujian fisikharus dilakukan dengan
hati-hati. Jika auditor merasa kurang memiliki keahlian dan pengalaman dalam
menilai suatu aktiva, sebaiknya auditor meminta bantuan daripihak independen yang ahli
dalam menilai aktiva tersebut. Contohnya, jika auditor merasa tidak memiliki kemampuan
dan keahlian untuk menilai persediaan emasklien, auditor dapat meminta bantuan
seseorang yang ahli dalam penilaian emas(misalnya penilai emas dari
pegadaian) untuk membantu auditor menentukan nilaipersediaan emas tersebut.
2.

Konfirmasi
Konfirmasi adalah metode yang digunakan auditor untuk memperoleh buktiaudit
dengan cara meminta tanggapan baik secara tertulis maupun lisan dari pihakketiga yang
independen mengenai item-item tertentu yang mempengaruhi laporankeuangan klien.Pada
konfirmasi tertulis, konfirmasi adalah surat yang ditandatangaiklien, ditujukan kepada pihak
ketiga terkait (biasanya pelanggan atau kreditur ) untukmeminta penegasan
(konfirmasi) mengenai saldo utang/piutang klien pada pihakketiga tersebut per tanggal
tertentu (biasanya tanggal neraca). Bukti audit yangdiperoleh dari konfirmasi memiliki
keandalan yang sangat tinggi karena bukti auditdari teknik audit ini diperoleh dari
pihak ketiga yang independen terhadap klien. Olehkarena bukti audit yang
diperoleh dari konfirmasi sangat tinggi, teknik audit iniadalah teknik audit yang
paling banyak digunakan, terutama untuk menguji asersimanajemen terhadap utang dan
piutang usaha.

Konfirmasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu konfirmasi positif dan


konfirmasinegatif. Pada konfirmasi positif auditor mengirimkan surat yang isinya
memintatanggapan kepada pihak ketiga terkait, pihak yang dimintakan konfirmasi
tersebutdiharuskan menjawab (membalas) apakah setuju atau tidak dengan jumlah
yangtercantum dalam surat yang dikirimkan auditor.
Konfirmasi positif biasanyadigunakan dalam keadaan:

1.

saldo utang/piutang klien per pelanggan/kreditur relatif besar

2.

jumlah pelanggan/kreditur sedikit

3.

pengendalian intern klien (agak)lemah

4.

waktu audit cukup panjang.

Sedangkan pada konfirmasi negatif, surat yang dikirimkan auditor hanyadibalas


pihak yang dimintakan konfirmasi apabila jumlah yang tercantum dalamsurat
yang dikirimkan auditor tersebut tidak disetujui oleh pihak ketiga tersebut. Apabila pihak
ketiga setuju dengan jumlah yang tercantum dalam surat yangdikirimkan auditor, maka
pihak ketiga tersebut tidak perlu membalas surat yangdikirimkan tersebut.
Biasanya dalam konfirmasi negatif, surat yang dikirimkan auditor diberi batas
waktu. Jika pihak terkait yang dikirimi surat tidak memberikan jawabanatas konfirmasi
tersebut sampai pada waktu yang ditetapkan maka pihak yangdimintakan konfirmasi
tersebut dianggap setuju. Konfirmasi negatif umumnyadigunakan auditor apabila :
1.

saldo utang/piutang klien per pelanggan/kreditur relatif kecil

2.

jumlah pelanggan/kreditur banyak

3.
4.

pengendalian intern klien (cukup)kuat


waktu audit cukup singkat.

Asersi utama yang diuji melalui konfirmasi adalah keberadaan


(existence) serta hak dan kewajiban (rights and obligations). Teknik ini juga dapat
digunakanuntuk memberikan bukti mengenai penilaian ( valuation) atau alokasi
(completeness), kelengkapan ( completness ), serta penyajian dan pengungkapan
( presentation and disclosure).

3.

Dokumentasi
Dokumentasi adalah metode pengumpulan bukti audit yang dilakukan olehauditor
dengan cara menguji berbagai dokumen dan catatan klien untuk mendukunginformasi yang
tersaji atau seharusnya tersaji dalam laporan keuangan. Dokumendan catatan klien yang
diuji oleh auditor adalah dokumen dan catatan yangmenyediakan informasi tentang
pelaksanaan bisnis klien. Jumlah bukti audit yangdapat dikumpulkan melalui dokumentasi
cukup besar karena pada umumnya setiaptransaksi dalam organisasi klien minimal didukung
dengan selembar dokumen.

Secara sederhana, dokumen dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitudokumen


internal dan dokumen eksternal. Dokumen internal adalah dokumen yangdisiapkan dan
digunakan dalam organisasi klien sendiri serta tidak pernahdisampaikan kepada
pihak-pihak di luar organisasi klien. Contoh dokumen internaladalah salinan faktur penjualan,
laporan waktu kerja karyawan, dan laporanpenerimaan persediaan. Sedangkan dokumen
eksternal adalah dokumen yangpernah berada dalam genggaman seseorang di luar
organisasi yang mewakili pihakyang menjadi lawan transaksi klien, tetapi dokumen tersebut
sekarang berada ditangan klien atau dengan segera dapat diakses oleh klien. Contoh
dokumeneksternal adalah faktur-faktur dari pemasok, surat utang yang dibatalkan, dan polispolis asuransi. Dari kedua kelompok dokumen di atas, dokumen eksternal
memilikikeandalan yang lebih tinggi karena dokumen eksternal pernah berada baik di
tanganklien maupun pihak lain (pihak eksternal) sebagai lawan transaksi klien.
Dalam dokumentasi, terdapat beberapa istilah. Berikut ini adalah beberapaistilah
tersebut dan penjelasan singkatnya :
A.Vouching
Vouching adalah kegiatan yang dilakukan untuk memeriksa kebenaran
ataukeabsahan suatu bukti yang mendukung transaksi. Kegiatan ini meliputi memilihcatatan
yang ada pada catatan akuntansi serta memperoleh dan menyelidikidokumen yang
mendasari catatan tersebut untuk menentukan keabsahan danketelitian transaksi yang
dicatat. Dengan vouching , arah pengujian berlawanandengan tracing. Penelusuran
dimulai dari catatan ke dolumen.

Vouching digunakan untuk mendeteksi apakah catatan akuntansi klienketinggian


(overstatement). Selain itu, vouching juga digunakan untuk menguji asersimanajemen
mengenai keberadaan (existence), penilaian (valuation), hak dankewajiban (rights and
obilgation),
penyajian
dan
pengungkapan
(presentation
and disclosure).
Namun,vouching juga memiliki kelemahan. Pengujian asersi mengenaikelengkapan
( completeness) melalui vouching lebih sulit dilakukan karena pengujiankelengkapan
mengharuskan auditor untuk mencari bukti item yang tidak tercatat.
Verifikasi adalah sebuah istilah yang digunakan dalam arti umum untuk memeriksa
ketelitian perkalian, penjumlahan pembukuan, kepemilikan, dankeberadaannya. Adapun
tujuan dari vouching dan verifikasi untuk memastikanbahwa:
1.

Bukti tersebut telah disetujui oleh pejabat yang berwenang dan terkait

2.

Bukti tersebut dari sesuai dengan tujuannya

3.

Jumlah yang tertera di dalam bukti adalah benar dan sesuai dengantransaksi

4.

Pencatatan dilakukan secara benar

5.

Kepemilikan dan keberadaannya sah

B.Tracing
Tracing adalah suatu kegiatan yang merupakan kebalikan dari vouching. Arah
kegiatan tracing adalah mengikuti dokumen sumber hingga ke pencatatannyadalam
catatan akuntansi. Adapun pelaksanaan dari tracing adalah dengan pertama-tama
auditor melakukan penyeleksian dokumen sumber, seperti faktur penjualanatau
laporan pengiriman, kemudian auditor melakukan penelusuran dokumensumber tersebut
melalui sistem akuntansi ke pencatatan akhir dalam catatanakuntansi, seperti jurnal dan
buku besar.
Karena arah pengujian tracing berlawanan dengan vouching, tracing dapat
digunakan
untuk
menguji
asersi
manajemen
mengenai
kelengkapan
(completeness).Tracing juga dapat digunakan auditor untuk menguji asersi manajemen
mengenaipenilaian (valuation) serta penyajian dan pengungkapan ( presentation
and disclosure).

C. Inspeksi
Dibandingkan dengan vouching dan tracing , inspeksi melakukanpemeriksaan atas
dokumen dengan cara yang berbeda dari kedua teknik di atas.Inspeksi mencakup
pembacaan yang kritis atas dokumen untuk membandingkaninformasi yang tersaji di
dalamnya dengan informasi lain yang diketahui auditor ataudicatat dalam akun.
Inspeksi dapat diaplikasikan auditor untuk berbagai dokumenyang berbeda, seperti
sewa, kontrak, notulen rapat, instrumen utang formal, danpolis asuransi. Karena
inspeksi dapat diaplikasikan auditor untuk berbagai dokumen,maka inspeksi dapat
digunakan untuk menguji semua asersi manajemen.
Inspeksi juga dapat memberikan informasi bagi auditor sebagai dasar
dalammelakukan pengujian audit khusus, seperti inspeksi atas instrumen utang
untukmenentukan suku bunga guna menguji beban bunga. Inspeksi juga bisa
menambahinformasi yang dicatat dalam catatan akuntansi, seperti menentukan
persetujuanatas akuisisi pabrik dan peralatan dengan menginspeksi notulen rapat
dewandireksi.
Berbeda dengan inspeksi yang melakukan pembacaan yang kritis terhadapsuatu
dokumen, scanning melakukan penelaahan yang tidak terlalu rinci atasdokumen atau
catatan. Adapun tujuan dari scanning adalah untuk menentukanapakah terdapat hal yang
tidak umum yang memerlukan investigasi lanjutan. Contohdari kegiatan scanning adalah
auditor bisa men-scan buku besar piutang usahauntuk menentukan keberadaan
( existence) dari setiap pelanggan yang memilikisaldo kredit besar yang harus
direklasifikasikan sebagai kewajiban.

D. Rekonsiliasi
Rekonsiliasi adalah proses penandingan antara dua set pencatatan
yangkemungkinan memiliki jumlah yang berbeda, kemudian berusaha mencari jumlahyang
seharusnya (jumlah yang benar ). Biasanya dalam melakukan suatu audit, satuset
pencatatan adalah milik klien dan yang lainnya adalah milik pihak ketiga.
Rekonsiliasi dapat digunakan untuk menguji asersi manajemen terutamamengenai
kelengkapan ( completeness ) dan keberadaan (existence). Denganmerekonsiliasi dua
catatan, auditor dapat menemukan item-item yang tidak dicatatdalam catatan klien, seperti
pembayaran jasa bank (bank service charge).

E.Read
Read adalah penelaahan atas informasi tertulis untuk menentukan fakta-fakta yang
berkaitan dengan audit yang dilakukan. Contoh penerapannya adalahauditor membaca
notulen rapat serta mengikhtisarkan semua informasi yangberkaitan dengan laporan
keuangan dalam kertas kerja.

F.Compare
Compare adalah perbandingan informasi dari dua lokasi yang berbeda.Instruksi harus
menyatakan informasi mana yang akan diperbandingkan dengansebanyak mungkin rincian
yang dapat dilakukan dalam praktek. Contohpenerapannya adalah auditor menyeleksi suatu
sampel atas faktur-faktur penjualandan membandingkan harga pokok penjualan per unit
yang dicantumkan dalam faktur dengan nilai yang tercantum dalam daftar harga penjualan
per unit yang telahdiotorisasi oleh manajemen.

4.

Prosedur Analitis
Prosedur analitis adalah metode pengumpulan bukti audit yang digunakanauditor
dengan cara melakukan mempelajari data klien, lalu mencari berbagaiperbandingan atas
data klien yang berupa saldo dan rasio klien, kemudian mencarihubungan-hubungan dari
data tersebut. Prosedur analitis menghasilkan buktianalitis. Auditor dapat menggunakan
satu atau lebih dari lima jenis prosedur analitis.Lima jenis prosedur analitis tersebut yaitu :

1.

Membandingkan data klien dengan data industri.

2.
3.
4.
5.

Membandingkan data klien dengan data periode sama yang sebelumnya.


Membandingkan data klien dengan hasil dugaan yang telah ditentukan kliensebelumnya
(anggaran)
Membandingkan data klien dengan hasil dugaan yang telah ditentukanauditor.
Membandingkan data klien dengan hasil dugaan yang menggunakan data nonkeuangan.

Prosedur analitis biasa digunakan auditor untuk menilai kelayakan data.Selain itu,
prosedur analitis juga dapat digunakan untuk memahami industri danbisnis klien, menilai
kemampuan keberlanjutan bisnis entitas, menunjukkanmunculnya kemungkinan kesalahan
pengujian dalam laporan keuangan, sertamengurangi pengujian audit rinci.

5. Wawancara kepada Klien


Wawancara adalah metode pengumpulan bukti audit yang melibatkanpertanyaan
baik lisan maupun tulisan oleh auditor. Pertanyaan-pertanyaan ini dibuatsecara intern
kepada manajemen atau pegawai klien, seperti pertanyaan tentangpersediaan yang usang
atau kemungkinan dapat ditagihnya piutang. Wawancaradilakukan kepada manajemen dan
pegawai klien karena manajemen danpegawailah yang paling mengetahui operasi dan
pengendalian internal klien.
nformasi yang diperoleh auditor dari wawancara kepada klien memilikikeandalan
yang terbatas karena informasi ini diperoleh dari pihak internal klien.Walaupun
demikian, informasi ini merupakan titik awal dari pelaksanaan teknik auditlainnya. Pada
umumnya, jawaban atas wawancara diperkuat dengan kinerja atauteknik lainnya. Akan
tetapi, pelaksanaan audit akan lebih efisien jika auditor mencermati jawaban atas
wawancara daripada mencari jawaban secara independenmelalui suatu pemeriksaan tidak
langsung atas bukti terperinci.
Wawancara kepada klien juga meliputi pengujian pengendalian danpengujian
substantif. Wawancara kepada klien dapat digunakan auditor untukmenguji semua asersi
laporan keuangan. Auditor dapat menggunakan wawancarauntuk mempelajari kebijakan
dan prosedur pengendalian apa saja yang telahditerapkan klien, prinsip akuntansi apa saja
yang telah digunakan klien, danbagaimana transaksi-transaksi tertentu diproses. Selain itu,
wawancara juga dapatdigunakan untuk memperoleh penjelasan dari manajemen tentang
hasil pengujianaudit tertentu.
6.

Hitung Uji
Hitung uji adalah metode pengumpulan bukti audit di mana auditor melakukan proses
pengulangan aktivitas klien, kemudian hasil yang diperolehauditor dari pengulangan aktivitas
tersebut dibandingkan dengan hasil yangdiperoleh oleh klien untuk mendapatkan bukti
audit. Hitung uji melibatkan pengujiankembali atas berbagai perhitungan dan pengujian
kembali atas berbagai transfer informasi. Pengujian kembali atas berbagai perhitungan ini

terdiri dari pengujian ataskeakuratan aritmatis klien. Hal ini mencakup sejumlah prosedur,
seperti pengujianperkalian dalam faktur-faktur penjualan dan persediaan serta penjumlahan
dalam jurnal-jurnal dan catatan-catatan pendukung. Sedangkan pengujian kembali
atasberbagai
transfer
informasi
mencakup
penelusuran
nilai-nilai
untuk
memperolehkeyakinan bahwa pada saat informasi tersebut dicantumkan pada lebih dari
satutempat, informasi tersebut selalu dicatat dalam nilai yang sama.
Pada hitung uji, terdapat istilah foot Foot merupakan perhitungan kolomangkaangka untuk menentukan apakah nilai totalnya sama dengan nilai yangdiperoleh klien.
Contoh penerapannya adalah melakukan footing atas nilai-nilaidalam buku jurnal
penjualan untuk periode selama satu bulan dan membandingkansemua total nilai yang
terdapat dalam buku jurnal penjualan tersebut dengan nilaiyang terdapat dalam buku besar.
Salah saji yang ditemukan auditor ketika melakukan hitung uji dapatmencerminkan
pelanggaran terhadap asersi mengenai keberadaan (existence),kelengkapan
(completeness), atau penyajian dan pengungkapan ( presentation and disclosure ).
Pelanggaran mengenai asersi keberadaan terjadi jika suatu item telahdihitung lebih dari satu
kali. Sedangkan jika auditor menemukan bahwa beberapaitem telah dihilangkan, maka
asersi mengenai kelengkapan telah dilanggar. Pelanggaran mengenai asersi penyajian dan
pengungkapan terjadi jika ayat jurnaltelah diposting pada akun yang salah.
Contoh dari penerapan hitung uji adalah auditor memilih beberapa transaksiklien
dengan menggunakan sampling. Proses yang dialami oleh transaksi-transaksiyang tidak
terpilih dianggap sudah dilakukan klien dengan benar. Kemudian, auditor menjurnal
transaksi-transaksi terpilih tersebut dan mepostingnya ke buku besar pembantu. Lalu jurnal
atas transaksi tersebut diposting ke buku besar. Dari bukubesar, kemudian transaksi terpilih
tersebut diproses di neraca lajur dan dilakukanpenyesuaian. Setelah dilakukan penyesuaian,
laporan keuangan versi auditor pundisusun. Kemudian laporan versi klien dan versi auditor
dibandingkan dan dilihatapakah terdapat perbedaan. Jika terdapat perbedaan, auditor
mencari apapenyebab perbedaan tersebut dan jika perbedaan tersebut karena kesalahan
klien,hal itu dapat digunakan sebagai bukti audit.
7.

Observasi
Observasi adalah penggunaan indera-indera auditor untuk menilai aktivitas-aktivitas
fisik klien. Observasi berhubungan dengan memperhatikan sertamenyaksikan
pelaksanaan dari suatu kegiatan dan proses. Contoh dari observasiadalah auditor
mengamati proses perhitungan persediaan klien untuk mengamatiketelitian dan kompetensi
pegawai klien dalam pelaksanaan perhitunganpersediaan. Selain itu, beberapa kebijakan dan
prosedur pengendalian internalhanya dapat diverifikasi dengan observasi karena
pelaksanaan kegiatan ini tidakmeninggalkan bukti dokumenter. Contoh dari hal ini adalah
auditor mengobservasikegiatan peneriman kas klien untuk melihat apakah pegawai klien
melaksanakantugasnya sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.
Observasi
berbeda
dengan
pengujian
fisik. Pengujian
fisik
melibatkanpenghitungan atas aktiva tertentu, sedangkan observasi difokuskan pada
aktivitasklien untuk mengetahui siapa mereka atau bagaimana dan kapan
merekamelakukannya.

Di antara ketujuh teknik audit di atas, teknik audit yang memerlukan biayapaling
tinggi adalah pengujian fisik dan konfirmasi. Pengujian fisik mewajibkanauditor
hadir pada saat klien melakukan perhitungan aktivanya, yang seringkalidilakukan pada
tanggal neraca. Apabila klien memiliki beberapa lokasi yang letakgeografisnya
terpencar, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukanpengujian fisik menjadi
makin besar. Sementara itu, konfirmasi memerlukan biayayang besar karena auditor
harus melakukan sejumlah prosedur secara hati-hatidalam rangka mempersiapkan
konfirmasi, pengiriman dan penerimaan kembali,serta upaya untuk menindaklanjuti berbagai
konfirmasi yang tidak menerimatanggapan atau sejumlah pengecualian informasi.
Sedangkan teknik audit yang memerlukan biaya yang relatif sedikit adalahobservasi,
wawancara, dan hitung uji. Observasi umumnya dilakukan oleh auditor dengan sejumlah
prosedur audit yang lainnya. Wawancara juga dapat dilakukanoleh auditor dengan ekstensif
dalam setiap proses audit. Sedangkan untuk hitunguji, karena hanya melibatkan berbagai
perhitungan dan penelusuran sederhanayang dapat dilakukan setiap saat sesuai dengan
keperluan auditor, yang biasanyadilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
komputer yang dimiliki auditor,maka hitung uji memerlukan biaya yang rendah.
http://alinlovers.blogspot.co.id/2012/04/teknik-audit-berbantuan-komputer.html

Perbedaan Langkah-langkah Serta Metode


dan Teknik Pemeriksaan Pajak Dengan
Pemeriksaan Umum
kali ni saya mau berbagi ilmu pengetahuan nih,, ni hasil dari palajaran yang saya resume di
kampus bersama dosen saya bapak Arifin Hamzah, dengan matakuliah Audit Pajak..
semoga bermanfaat..

Perbedaan Langkah-langkah Serta Metode dan Teknik Pemeriksaan Pajak Dengan


Pemeriksaan Umum

Pemeriksaan Pajak
Berikut adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemeriksa sebelum
melaksanakan tindakan pemeriksaan, antara lain:
a.

Mempelajari berkas wajib pajak/berkas data

b.

Menganalisis SPT dan laporan keuangan wajib pajak

c.

Mengidentifikasi masalah

d.

Melakukan pengenalan lokasi wajib pajak

e.

Menentukan ruang lingkup pemeriksaan

f.

Menyusun program pemeriksaan

g.

Menentuka buku-buku dan dokumen yang akan dipinjam

h.

Menyediakan sarana pemeriksaan


Setelah melakukan rangkaian kegiatan sebelumpemeriksaan langkah selanjutnya
adalah melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan pajak ada dua jenis
pemeriksaan, yaitu pemeriksaan kantor dan pemeriksaan lapangan. Dalam
pemeriksaan kantor pemeriksa berwenang untuk:

Meminta dan meminjam buku-buku dan catatan-catatan wajib pajak

Meminta keterangan lisan maupun tulisan dari wajib pajak

Meminta keterangan atau data dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan
dengan wajib pajak yang diperiksa.
Membuat kertas kerja pemeriksaan (KKP)
Menyusun surat pemberitahuan
pemeriksaan pajak (LPP)

hasil

pemeriksaan

(SPHP) dan

laporan

Sedangkan dalam pemeriksaan lapangan pemeriksa berwenang untuk:


-

Memeriksa dan meminjam buku-buku, catatan-catatan dan dokumen


pendukung lainnya termasuk keluaran dan media computer dan perangkat
elektronik pengolah data lainnya.
Meminta keterangan lisan maupun tertulis dari wajib pajak yang diperiksa

Memasuki tempat atau ruangan yang diduga menyimpan dokumen, uang,


barang, yang dapat memberi petunjuk tentang keadaan usaha waib pajak.

Melakukan penyegelan tempat diatas apabila WP tidak


kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan dimaksud.

Meminta keterangan dan data yang diperlukan dari pihak ketiga yang
mempunyai hubungan dengan waib pajak yang diperiksa.

Pembuatan kertas kerja pemeriksaan (KKP)

Membuat SPHP

Membuat LPP

Post audit

memberikan

Metode dalam pemeriksaan pajak ada 2, yaitu:


1.

Metode Langsung
Adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan melakukan pengujian atas
kebenaran angka-angka dalam SPT, yang dilakukan terhadap laporan keuangan
dan buku, catatan, serta dokumen pendukung. Pelaksanaan pemeriksaan dengan
metode ini dilakukan sesuai program pemeriksaan yang terinci atas setiap pos
neraca dan labarugi yang menjadi sumber utama atau berkaitan dengan angkaangka dalam SPT.

2.

Metode Tidak Langsung


Adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan melakukan pengujian atas
kebenaran angka-angka dalam SPT, yang dilakukan secara tidak langsung
melalui suatu pendekatan perhitungan tertentu mengenai penghasilan dan
biaya. Hasil ini merupakan petunjuk untuk mengambil kesimpulan tentang
ketidakbenaran angka-angka dalam SPT sehingga masih diperlukan pembuktian
yang valid dan abash untuk membuktikan ketidakbenaran tersebut.
Teknik dalam pemeriksaan pajak:

1.

Melakukan evaluasi

a.

Menilai kebenaran formal SPT/ informasi dalam SPT

b.

Menilai kelengkapan SPT

c.

Menilai system pengendalian intern perusahaan

2.

Melakukan analisis angka-angka

a.

Perbandingan analisis rasio dengan standard yang berlaku

b.

Perbandingan analisis beberapa tahun pajak terakhir

c.

3.

Kaitan antara analisis rencana biaya, rencana penjualan, rencana produksi,


rencana pembelian, dsb
Melacak angka-angka dan memeriksa dokumen
Hal yang perlu diperhatikan:

Nama orang/badan yang mengeluarkan dokumen yang bersangkutan

Tanggal pembuatan dokumen

Keaslian dokumen

4.

Jika dokumen tersebut berjumlah besar, sangat berguna untuk pembuatan data
yang diproduksi.
Pengujian arus uang, barang, piutang, dan utang

5.

Pengujian atas mutasi setelah tanggal neraca

a.

Membandingkan angka dineraca dengan buku besar dan buku tambahannya

b.

Membandingkan saldo-saldo pada angka neraca tersebut dengan daftar


utang/piutang untuk bulan pertama tahun berikutnya, setelah memerhatikan
mutasi yang terjadi pada bulan tersebut

c.

Mengecek mutasi yang terjadi dengan catatan pada buku harian kas/bank, buku
pembelian/penjualan pada bulan yang sama

6.

Pemanfaatan informasi pihak ketiga

a.

Data dari pihak untuk cross check, misalnya utang dagang pihak ketiga untuk
memastikan pembelian yang terjadi dengan pihak ketiga, jika mamaterial
buatkan datanya karena bagi pihak ketiga merupakan penjualan

b.

Mengumpulkan data dari pihak ketiga, misalnya bea cukai, departemen


kehutanan, dan lain-lain

7.

Melakukan pengujian fisik

8.

Melakukan inspeksi (sifat dan proses produksi)

9.

Melakukan rekonsiliasi

10. Melakukan footing (kebenaran penjumlahan/pengurangan ke bawah)


11. Melakukan cross footing (kebenaran penjumlahan/pengurangan ke samping)
12. Melakukan vouching (dokumen dasar)
13. Melakukan trasir (pencatatan transaksi)
14. Melakukan konfirmasi kepada pihak ketiga
15. Melakukan sampling data (menguji sebagian bukti)

Pemeriksaan Umum
Langkah-langkah dan metode dalam pemeriksaan umum:
Prosedur pemeriksaan merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
auditor dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti pemeriksaan.
Adapun langkah-langkah dalam merancang audit umu adalah sebagai berikut:
1.

Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal

2.

Memahami bisnis dan industry klien

3.

Menilai resiko dan bisnis klien

4.

Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan

5.

Menetapkan materialitas, dan menilai resiko audit yang dapat diterima serta
resiko inheren

6.

Memahami pengendalian internal dan menilai resiko pengendalian

7.

Mengumpulkan informasi untuk menilai resiko kecurangan

8.

Mengembangkan perencanaan audit dan program audit secara keseluruhan

Ada beberapa jenis prosedur pemeriksaan keuangan, antara lain:


- Analitical Procedures - Tracing

- Inspecting - Vouching
- Confinning - Observing
- Inquiring - Reperfonning
- Counting - Computer-assisted audit techniques.

1. analytical procedures - Tracing


Analytical procedur terdiri dari studi dan perbandingan hubunganhubungan antara data. Prosedur ini termasuk perhitungan-perhitungan dan
penggunaan ratio sederhana, analisa vertikal atau item-item yang sejenis,
perbandingan jumlah dengan data historis stau budget. Analytical procedures ini
akan menghasilkan bukti analitis.
1.

Inspecting
Inspecting melibatkan penelitian secara cermat terhadap dokumen dan catatancatatan, serta pemeriksaan fisik terhadap sumber-sumber yang berwujud.
Prosedur ini digunakan secara luas dalam pemeriksaan. Penyelidikan terhadap
dokumen menyediakan suatu alat untuk mengevaluasi bukti dokumentasi. Jadi
melalui inspeksi ini auditor dapat menaksir keaslian dokumen, atau mendeteksi
adanya perubahan-perubahan yang mungkin dilakukan.

2.

Comfirming
Confirming adalah bentuk penyelidikan yang memungkinkan auditor
memperoleh informasi secara langsung dari pihak luar yang independen. Dalam
kasus ,yang biasa, klien membuat permohonan kepada pihak luar secara tertulis,
tetapi untuk tujuan pengawasan, jawabannya dikirim langsung kepada auditor.
Prosedur pemeriksaan ini menghasilkan bukti konfirmasi.

3.

Inquiring
Inquiring melibatkan pertanyaan baik lisan maupun tulisan oleh auditor.
Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dibuat secara intern kepada manajemen atau
pegawai klien, seperti pertanyaan tentang persediaan yang usang atau
kemungkinan dapat ditagihnya piutang, atau secara eksternal menanyakan
kepada pengacara yang berkaitan dengan kemungkinan hasil perkara.
Pertanyaan ini menghasilkan baik bukti lisan maupun tulisan.

4.

Counting
Dua penggunaan yang paling umum dalam counting (perhitungan) adalah, (1)
perhitungan fisik aktiva berwujud seperti jumlah kas atau persediaan yang ada di

perusahaan, dan (2) perhitungan untuk dokumen yang diberi nomor sebelumnya
Yang pertama menyediakan alat untuk menilai bukti fisik dari jumlah yang ada.
Yang kedua bisa ditinjau sebagai penyediaan alat untuk mengevaluasi bukti
dokumentasi dari kelengkapan catatan akuntansi.
5.

Tracing
Dalam tracing, auditor (1) memilih dokumen yang dibuat ketika transaksi
dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa infonnasi yang terdapat dalam
dokumen itu telah dicatat secara wajar daJam catatan akuntansi (jurnal dan buku
besar). Arah pengujian ini adalah dari dokumen ke catatan akuntansi. Karena
prosedur ini memberi keyakinan dari bukti asli sampai akhirnya dimasukkan ke
dalam perkiraan, maka prosedur ini terutama sangat bermanfaat untuk
mendeteksi catatan akuntansi yang kerendahan. Jadi prosedur ini penting untuk
mendapatkan bukti yang berhubungan dengan penegasan untuk kelengkapan.
Trasir berhubungan terutama dengan bukti dokumentasi.

6.

Vouching
Vouching meliputi (1) memilih catatan yang ada pada catatan akuntansi, dan (2)
memperoleh dan menyelidiki dokumen yang mendasari catatan tersebut untuk
menentukan keabsahan dan ketelitian transaksi yang dicatat. Dengan vouching,
arab pengujian berlawanan dengan tracing. Vouching digunakan secara luas
untuk mendeteksi catatan akuntansi yang ketinggian (overstatement). Jadi,
prosedur ini penting penting untuk memperoleh bukti sehubungan dengan
penegasan terhadap keberadaan atan kejadian (existence or occurrence).

7.

Observing
Observing (pengamatan) berhubungan dengan memperhatikan akan
menyaksikan pelaksanaan suatu kegiatan alan proses. Kegiatan tersebut bisa
merupakan proses yang rutin dari suatu jenis transaksi seperti penerimaan kas,
untuk melihat apakah pegawai melaksanakan tugasnya sesuai dengan
kebijaksanaan dan prosedur yang telah ditetapkan.
Selain itu anditor mungkin juga mengamati ketelitian pegawai dalam
pelaksanaan persediaan fisik persediaan tahunan. Jadi dalam hal ini auditor
hanya mengamati proses perhitungan fisik persediaan. Berbeda halnya dengan
inspecting, auditor melakukan inspeksi atan memeriksa unsur-unsur persediaan
tertentu untuk membuat penaksiran sendiri mengenai kondisi persediaan
tersebut.
Dari prosedur ini auditor mendapatkan sendiri pengetahuan secara
langsung mengenai kegiatan perusahaan dalam bentuk bukti fisik

8.

Reperforming
Penerapan yang paling sering dilakukan dalam prosedur ini adalah
melakukan kembali perhitungan, dan rekonsiliasi yang telah dibuat oleh klien.
Misalnya termasuk penghitungan kembali terhadap jumlah, biaya penyusutan,
bunga, dan lain sebagainya. Prosedur ini menghasilkan bukti matematis.

9.

Computer-Assisted Audit Technique


Apabila catatan akuntansi klien menggunakan media elektronik, auditor dapat
menggunakan teknik ini untuk membantu dalam pelaksanaan beberapa prosedur
yang telah dibicarakan sebelumnya. Misalnya, Auditor dapat menggunakan
software untuk melaksanakan perhitungan dan perbandingan yang digunakan
pada prosedur analitis, memilih sampel piutang untuk konfirmasi, melaksanakan
penghitungan kembali berbagai macam perhitungan, dll.

Istilah Audit
1.

Analisa (analize) yaitu memeriksa dengan cara memecah-mecah/membagi menjadi bagian yang lebih
kecil untuk menentukan hubungan antara bagian-bagian tersebut. Misalnya beban lain-lain dianalisa
sesuai dengan sifat beban masing-masing.

2.

Mengecek (check) yaitu memeriksa suatu perkalian/penjumlahan untuk menjamin ketepatan dengan
memberi tanda (tick mark), misalnya : ^ : Footing verified (memeriksa kebenaran penjumlahan
kebawah), < : Cross Footing verified (memeriksa kebenaran penjumlahan kesamping).

3.

Membandingkan (compare), yaitu membandingkan dua data atau lebih dari suatu informasi dengan
memperhatikan persamaan dan perbedaan.

4.

Menginspeksi (scan), yaitu menelaah secara kritis tanpa melakukan verifikasi lengkap untuk melihat
apakah ada hal-hal yang ganjil.

5.

Rekonsiliasi, yaitu mencocokkan dua sumber yang terpisah mengenai suatu hal yang sama, jika ada
perbedaan harus dijelaskan. Misalnya rekonsiliasi bank.

6.

Konfirmasi, yaitu usaha pencarian bukti dimana pihak ketiga meneguhkan kebenaran atau kesalahan
informasi yang diperiksa. Misalnya konfirmasi saldo hutang, piutang, modal, persediaan yang dititipkan
oleh bank.

7.

Menelusuri (trace), yaitu memeriksa dengan cara mengurut kembali ke bukti asal.

8.

Memeriksa dokumen dasar (vouching), yaitu membuktikan sah atau tidaknya suatu transaksi,
maksudnya apakah didukung oleh bukti yang lengkap dan disetujui oleh pejabat berwenang.

9.

Testing, yaitu pemeriksaan sebagian dari suatu populasi yang hasilnya digunakan untuk menarik
kesimpulan mengenai populasi tersebut.

10. Cut off, dihubungkan dengan pengujian transaksi apakah dicatat dengan tepat waktu pada akhir
periode.

COMPLIANCE TEST DAN SUBSTANTIVE TEST


POSTED BY IDHAM SYAM SEPTEMBER- 16- UNDEFINED 0 KOMENTAR

1. Compliance Test dan Subtantive Test


Compliance test (Test Ketaatan) atau test of recorded transaction adalah Test
terhadap bukti pembukuan untuk mengetahui apakah setiap transaksi yang
terjadi sudah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur yang
ditetapkan manajemen .Jika terjadi penyimpangan dalam pemrosesan dan
pencatatan transaksi, walaupun jumlah (rupiahnya) tidak material, auditor
memperhitungkan

pengaruh

dan

penyimpangan

terhadap

efektifitas

pengendalian intern. Juga harus dipertimbangkan apakah kelemahan dalam


salah satu aspek pengendalian intern bisa diatasi dengan compensating
control.
Dalam melaksanakan compliance test, auditor harus memperhatikan :
a.

Kelengkapan bukti pendukung (supporting schedule,

b.

Kebenaran perhitungan matematis (footing, cross footing, extension),

c.

Otorisasi dari pejabat perusahaan yang berwenang,

d.

Kebenaran nomor perkiraan yang di Debit / Kredit,

e.

Kebenaran posting ke buku besar dan sub buku besar

Substantive test, adalah Test terhadap kewajaran saldo perkiraan laporan


keuangan (Neraca dan Laporan Laba Rugi)
Jenis Kertas Kerja yang dibuat :
a.

Working Balance Sheet (WBS)

b.

Working Profit and Loss (WPL)

c.

Top Schedule (TS)

d.

Supporting Schedule (SS)


Prosedur pemeriksaan dalam substantive test :

a.

Inventarisasi aktiva tetap

b.

Observasi atas stock opname

c.

Konfirmasi piutang, utang dan bank

d.

Subsequent collection dan subsequent payment

e.

Kas opname

f.

Pemeriksaan rekonsiliasi bank dll

Kesalahan yang ditemukan pertimbangkan tingkat materialitas


a.

Material auditor usulkan audit adjusment, jika klien tidak setuju, auditor tidak
boleh memberikan Unqualified

b.

Tidak

material (immaterial) auditor

tidak

perlu

memaksakan

usulan

adjustment, karena tidak mempengaruhi opini akuntan publik

2. Audit Evidence
Bukti audit (Audit Evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) dan
bukti ilmiah. Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka
atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat
digunakan

oleh

auditor

sebagai

dasar

yang

layak

untuk

menyatakan

pendapatnya.
Standar Pekerjaan Lapangan Ketiga (IAI) :
Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan,

pengajuan

pertanyaan

dan

konfirmasi

sebagai

dasar

memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit

yang

Kompetensi Bukti Audit


Kompetensi bukti audit berhubungan dengan kualitas atau keandalan data
akuntansi dan informasi penguat.
a. Kompetensi Data Akuntansi
Keandalan catatan akuntansi dipengaruhi secara langsung oleh efektivitas
pengendalian intern.Terdiri dari : Jurnal, Buku Besar dan Buku Pembantu, Buku
Pedoman Akuntansi yang berkaitan, lembar kerja dan spread sheet).
b. Kompetensi Informasi Penguat
Informasi tertulis maupun elektronik (cek, catatan eketronik fund system,
faktur, surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan representasi tertulis dari
pihak yang mengetahui, informasi melalui permintaan keterangan, pengamatan,
inspeksi dan pemeriksaan phisik, serta informasi lain yang dikembangkan oleh
dan atau tersedia bagi auditor .
Syarat kompetensi bukti audit (merupakan pertimbangan auditor) :
a. Relevansi
b. Objektivitas
c. Ketepatan waktu
d. Keberadaan bukti audit lain
e. Sah
f.

Sumber

g. Cara perolehan bukti


Menurut Konrath (2002:114 & 115) ada enam tipe bukti audit (lihat Exhibit 5-1) :
1. Physical evidence
2. Evidence obtain through confirmation
3. Documentary evidence
4. Mathematical evidence

5. Analytical evidence
6. Hearsay evidence
Physical Evidence
Segala sesuatu yang bisa dihitung, dipelihara, diobservasi atau diinspeksi
dan terutama untuk mendukung tujuan eksistensi atau keberadaan.Contoh :
bukti phisik yang diperoleh dari kas opname, observasi dari perhitungan phisik
persediaan, pemeriksaan phisik surat berharga dan inventarisasi aktiva tetap
Confirmation Evidence
Adalah bukti yang diperolehnya mengenai eksistensi, kepemilikan atau penilaian
langsung dari pihak ketiga diluar klien . Contoh : jawaban konfirmasi piutang,
utang, barang konsinyasi, surat berharga yang disimpan Biro Administrasi Efek,
konfirmasi dari penasehat hukum klien
Documentary Evidence
Terdiri dari catatan akuntansi dan seluruh dokumen pendukung transaksi
.Berkaitan

dengan

asersi

eksistensi, audit

manajemen

trail yang

mengenai completeness dan

memungkinkan

auditor

melakukan tracer dan vouching atas transaksi dan kejadian dari dokumen ke
buku besar, dan sebaliknya . Contoh : faktur pembelian, copy faktur penjualan,
journal voucher, general ledger dan sub ledger
Mathematical Evidence
Merupakan

Perhitungan,

perhitungan

(misalnya footing, cross footing danextension dari

kembali

rincian

persediaan,

perhitungan dan alokasi beban penyusutan, perhitungan beban bunga, laba/rugi


penarikan

aktiva

tetap,

PPh

dan accruals)

dan

rekonsiliasi

(pemeriksaan

rekonsiliasi bank, rekonsiliasi saldo piutang usaha dan hutang menurut buku
besar dan sub buku besar, rekonsiliasi inter company account)
Analytical Evidence
Bukti yang diperoleh melalui penelaahan analitis terhadap informasi keuangan
klien.

Dilakukan

pada

waktu

membuat

perencanaan

audit,

sebelum

melakukan substantive testdan pada akhir pekerjaan lapangan (audit field work).

Prosedur analitis bisa dilakukan dalam bentuk :


1. Trend (horizontal) Analysis. membandingkan angka laporan keuangan tahun
berjalan dengan tahun sebelumnya dan menyelidiki kenaikan/penurunan yang
signifikan baik dalam jumlah rupiah maupun persentase

2. Common Size (Vertical) Analysis


3. Ratio Analysis, misalnya menghitung rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio
leverage dan rasio manajemen asset
Hearsay (Oral) Evidence
Bukti dalam bentuk jawaban lisan dari klien atas pertanyaan yang diajukan
auditor. Contoh : pertanyaan auditor mengenai pengendalian intern, ada
tidaknya contingent liabilities, persediaan yang bergerak lambat atau rusak,
kejadian penting sesudah tanggal neraca

3. Cara Pemilihan Sample


Dalam

melakukan

pemeriksaannya

Akuntan

Publik

tidak

memeriksa

keseluruhan transaksi dan bukti (terkait dengan waktu dan biaya). Karena itu,
Pemeriksaan transaksi dan bukti dilakukan secara test basis atau sampling,
selanjutnya ditarik kesimpulan mengenai universe secara keseluruhan .
Sampling adalah

mengambil beberapa sample dari keseluruhan universe

untuk ditest
Cara pemilihan sample tidak boleh seenaknya, karena sample tersebut
haruslah mewakili universe secara tepat, karena jika sample yang dipilih tidak
tepat akan sangat mempengaruhi kesimpulan yang ditarik
PSA No. 26, sampling audit :
Penerapan prosedur audit terhadap unsur-unsur suatu saldo akun atau
kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk
menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut
Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit : non statistik dan
statistik. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan

pertimbangan profesionalitasnya dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian


sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel
dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun kelompok
transaksi yang berkaitan
Kedua

pendekatan

sampling

audit

diatas,

jika

diterapkan

dengan

semestinya dapat menghasilkan bukti audit yang cukup


Metode sampling apapun yang dipakai, auditor dianjurkan untuk terlebih
dahulu menyusun sampling plan
Cara pemilihan sampling yang sering digunakan :
a.

Random/Judgment Sampling
Pemilihan sampel dilakukan secara random dengan menggunakan judgment
akuntan publik .
Kelemahan : sangat tergantung dengan judgment auditor, jika auditor kurang
pengalaman, sampel yang dipilih akan kurang representative
Kelebihan : semakin banyak pengalaman auditor, semakin baik hasil sampel
yang dipilih
Cara : menentukan jumlah tertentu dari suatu transaksi, menggunakan random
sampling table/komputer

b.

Block Sampling
Auditor memilih transaksi dibulan-bulan tertentu, misalnya bulan Januari, Juni
dan Desember
Keberhasilan

kedua

cara

diatas

walaupun

paling

mudah,

tetapi

sangat

tergantung pada judgement si auditor, semakin banyak pengalaman auditor,


semakin baik hasilnya, dalam arti sample yang dipilih betul-betul representative.
Tetapi jika auditor kurang pengalaman, sample yang dipilih akan kurang
representative.
c.

Statistical Sampling

Pemilihan sampel dilakukan secara ilmiah, sehingga walaupun lebih sulit namun
sampel yang terpilih representative. Lebih banyak digunakan dalam audit di
perusahaan yang besar dan mempunyai internal control yang baik.

PROSEDUR PEMERIKSAAN AKUNTAN


PROSEDUR PEMERIKSAAN AKUNTAN
Norma pelaksanaan pemeriksaan yang ketiga menyebutkan beberapa prosedur
pemeriksaan yang harus dilaksanakan oleh akuntan dalam mengumpulkan berbagai tipe
bukti pemeriksaan. Prosedur pemeriksaan adalah instruksi rinci untuk mengumpulkan tipe
bukti pemeriksaan tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam pemeriksaan .
Prosedur pemriksaan yang disebutkan dalam norma tersebut meliputi: inspeksi,
pengamatan, wawancara dan konfirmasi.
Di samping akuntan memakai prosedur pemeriksaan yang disebutkan dalam norma
tersebut, akuntan melaksanakan berbagai prosedur pemeriksaan lainnya untuk
mengumpulkan bukti pemeriksaan yang akan dipakai sebagai dasar untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan yang diperiksanya. prosedur pemeriksaan lain tersebut
meliputi: pengusutan, pemeriksaan bukti pendukung, penghitungan, dan scanning. Dengan
demikian, prosedur pemeriksaan yang biasa dilakukan oleh akuntan meliputi
1. Inspeksi.
2. Pengamatan (observation).
3. Wawancara.
4. Konfirmasi.
5. Pengusutan.
6. Pemeriksaan bukti pendukung (vouching).
7. Penghitungan.
8. Scanning.
Inspeksi. Inspeksi merupakan pemeriksaan secara rinci terhadap dokumen atau kondisi fisik
sesuatu. Prosedur pemeriksaan ini banyak dilakukan oleh akuntan. Dengan melakukan
inspeksi terhadap sebuah dokumen, akuntan akan dapat menentukan keaslian dokumen
tersebut. Dengan melakukan inspeksi terhadap kondisi fisik suatu aktiva tetap misalnya,
akuntan akan dapat memperoleh informasi mengenai eksistensi dan keadaan fisik aktiva
tersebut.
Pengamatan. Pengamatan atau observasi merupakan prosedur pemeriksaan yang
digunakan oleh akuntan untuk melihat atau menyaksikan pelaksanaan suatu kegiatan.
Contoh kegiatan yang biasa diamati oleh akuntan dalam pemeriksaannya adalah:
penghitungan fisik persediaan yang ada di gudang klien, pembuatan dan persetujuan
voucher, dan penyimpangan kas yang ada di tangan klien. Dengan pengamatan ini akuntan
akan dapat memperoleh bukti visual mengenai pelaksanaan suatu kegiatan. Objek yang
diamati akuntan adalah karyawan, prosedur dan proses.
Konfirmasi. Seperti telah diuraikan di atas, konfirmasi merupakan bentuk penyelidikan yang
memungkinkan akuntan memperoleh informasi secara langsung dari pihak ketiga yang
bebas. Prosedur yang biasa ditempuh oleh akuntan dalam konfirmasi ini adalah sebagai
berikut:
1. Akuntan meminta dari klien untuk menanyakan informasi tertentu kepada pihak luar.

2. Klien meminta kepada pihak luar yang ditunjuk oleh akuntan untuk memberikan jawaban
langsung kepada akuntan mengenai informasi yang ditanyakan oleh akuntan tersebut.
3. Akuntan menerima jawaban langsung dari pihak ketiga tersebut.
Wawancara. Wawancara merupakan prosedur pemeriksaan yang dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan secara lisan. Bukti pemeriksaan yang dihasilkan dari prosedur ini
adalah: pertanyaan akuntan mengenai tingkat keusangan persediaan yang ada di gudang,
pertanyaan yang diajukan kepada penasihat hokum klien mengenai kemungkinan
keputusan perkara pengadilan yang sedang ditangani oleh penasihat hukum tersebut.
Pengusutan. Dalam melaksanakan prosedur pemeriksaan ini, akuntan melakukan
pengusutan informasi sejak mula-mula data tersebut direkam pertama kali dalam dokumen,
dilanjutkan dengan pelacakan pengolahan data tersebut dalam proses akuntansi. Prosedur
pemeriksaan ini terutama diterapkan terhadap bukti documenter. Contoh prosedur
pengusutan yang dilakukan oleh akuntan adalah pemeriksaan terhadap transaksi penjualan
yang dimulai oleh akuntan dengan memeriksa informasi dalam surat order dari pelanggan,
diusut kemudian dengan informasi yang berkaitan dalam surat order dari pelanggan, diusut
kemudian dengan informasi yang berkaitan dalam surat order penjualan, laporan pengiriman
barang, faktur penjualan, jurnal penjualan, dan rekening piutang dalam buku pembantu
piutang. Pengusutan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan ketelitian dan kelengkapan
catatan akuntansi.
Pemeriksaan dokumen pendukung. Pemeriksaan dokumen pendukung (vouching)
merupakan prosedur pemeriksaan yang meliputi:
1. Inspeksi terhadap dokumen-dokumen yang mendukung suatu transaksi atau data
keuangan untuk menentukan kewajaran dan kebenarannya.
2. Pembandingan dokumen tersebut dengan catatan akuntansi yang berkaitan.
Penghitungan. Prosedur pemeriksaan ini meliputi pnghitungan dan rekonsiliasi yang
dilakukan oleh akuntan untuk membuktian ketelitian penghitungan yang dilakukan oleh klien.
Scanning. Scanning merupakan penelahaan secara cepat terhadap dokumen. Catatan dan
daftar untuk mendeteksi dan unsur-unsur yang tampak tidak biasa yang memerlukan
penyelidikan lebih mendalam.
Gambar 4.2 berikut ini memperlihatkan hubungan antara tipe bukti pemeriksaan dan
prosedur pemeriksaan yang biasa digunakan oleh akuntan untuk mendapatkan bukti
pemeriksaan tersebut.
Tipe Bukti Prosedur Pemeriksaan Contoh Penerapan Prosedur Pmeriksaan
Bukti fisik
Bukti documenter

Bukti perhitungan

Bukti lisan

Bukti perbandingan Inspeksi


Penghitungan
Konfirmasi
Inspeksi
Pengusutan
Wawancara

Surat pernyataan darinya.


Penghitungan kembali

Wawancara
Penelaahan analitik Inspeksi mesin pabri
Penghitungan kas
Konfirmasi saldo bank
Inspeksi faktur penjualan
Mengusut faktur penjualan ke dalam kartu piutang
Wawancara dengan penasihat hukum klien yang menghasilkan.
Footing terhadap jurnal penjualan
Cross-footing terhadap jurnal pembelian
Menayakan tingkat keusangan persediaan di gudang.
Membandingkan realisasi penjualan dengan anggarannya.
Gambar 4.2 Berbagai Tipe Bukti Pemeriksaan dan Prosedur Pemeriksaannya
SITUASI PEMERIKSAAN YANG MENGANDUNG RISIKO BESAR
Dalam situasi tertentu, risiko terjadinya kesalahan dan penyajian yang salah dalam rekening
dan di dalam laporan keuangan jauh lebih besar dibandingkan dengan situasi yang biasa.
Oleh karena itu, akuntan harus waspada jika menghadapi situasi pemeriksaan yang
mengandung risiko besar seperti contoh berikut ini.
Pengendalian intern yang lemah. Pengendalian intern menetukan jumlah dan kualitas bukti
yang harus dikumpulkan oleh akuntan. Dalam situasi yang pengendalian intern dalam suatu
bidang lemah, akuntan harus waspada dan mengumpulkan bentuk bukti pemeriksaan rinci
yang lain yang dapat mengganti bukti-bukti yang dihasilkan oleh pengendalian intern yang
lemah tersebut.
Kondisi keuangan yang tidak sehat. Suatu perusahaan yang mengalami kerugian atau
dalam posisi yang sulit untuk melunasi utangnya akan mempunyai kecenderungan untuk
menunda penghapusan piutangnya yang sudah tidak laku dijual, atau lupa memcatat
utangnya. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam perusahaan yang keadaan keuangannya baik.
Manajemen yang tidak dapat dipercaya. Sebelum menerima suatu perusahaan sebagai
klien, akuntan public harus memperoleh informasi mengenai latar belakang atau riwayat
direktur dan para manajernya. Akuntan harus waspada terhadap manajer yang pernyataanpernyataan lisannya ternyata sebagian atau seluruhnya tidak benar.

Penggantian akuntan public. Klien yang mengganti akuntan publiknya tanpa alasan yang
jelas, mungkin disebabkan oleh ketidakpuasan klien terhadap jasa yang diberikan oleh
akuntan yang lama. Tetapi, seringkali terjadinya penggantian akuntan public tersebut
disebabkan oleh adanya perselisihan antara klien dengan akuntan publiknya mengenai
penyajian laporan keuangan dan penjelasannya. Klien baru yang telah mengganti akuntan
publiknya merupakan klien yang berisiko besar bagi akuntan public penggantinya.
Perubahan tarif atau peraturan pajak atas laba. Jika tarif pajak penghasilan tiba-tiba sangat
besar, maka reaksi wajar perusahaan yang terkena adalah mencari cara meminimumkan
pengahasilan atau laba kena pajak. Seringkali beban pajak ini menyebabkan pergantian
perinsip akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan dan penafsiran transasksi
perusahaan yang tidak konsisten dengan yang telah diikuti dalam tahun-tahun berikutnya.
Perubahan tarif pajak yang drastic akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk
menggeser pengakuan pendapatan dalam periode yang pajaknya masih relative rendah.
Usaha yang bersifat spekulatif. Akuntan yang melaksanakan pemeriksaan terhadap laporan
keuangan yang kegitannya dalam usaha yang sifatnya spekulatif, akan menghadapi resiko
yang lebih besar bila dibandingkan dengan akuntan yang melakukan pemeriksaan terhadap
perusahaan yang kegiatan usahanya relative stabil dalam jangka panjang.
Transaksi perusahaan yang kompleks. Klien yang kegiatannya menghasilkan transaksi yang
sangat rumit merupakan klien yang mengandung resiko besar bagi akuntan bila
dibandingkan dengan klien yang kegiatannya bersifat konvensional.
KEPUTUSAN YANG HARUS DIAMBIL AKUNTAN BERKAITAN DENGAN BUKTI
PEMERIKSAAN
Dalam proses pengumpulan bukti pemeriksaan, akuntan melakukan empat pengambilan
keputusan yang saling berkaitan:
1. Penentuan prosedur pemeriksaan yang akan digunakan.
2. Penentuan besarnya sampel untuk prosedur pemeriksaan tertentu.
3. Penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi.
4. Penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan perosedur pemeriksaan tersebut.
Penentuan prosedur pemeriksaan yang akan digunakan. Untuk mengumpulkan bukti
pemeriksaan, akuntan menggunakan prosedur pemeriksaan. Contoh prosedur pemeriksaan
disajikan berikut ini.
1. Hitung penerimaan kas yang belum disetor pada tanggal neraca dan awasi uang kas
tersebut sampai dengan saat penyetoran ke bank.
2. Mintalah cut-off bank satatement dari bank kira-kira untuk jangka waktu dua minggu
setelah tanggal neraca.
3. Lakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan yang diselenggarakan oleh
klien.
Daftar prosedur pemeriksaan untuk seluruh pemeriksaan unsure tertentu disebut program
pemeriksaan. Pada umumnya program pemeriksaan juga menyebutkan besarnya sampel,
tanggal pelaksanaan prosedur pemeriksaan, dan pelaksana prosedur pemeriksaan tersebut.
Penentuan besarnya sampel. Jika prosedur pemeriksaan telah ditetapkan, akuntan dapat
menentukan besarnya sampel yang berbeda dari satu unsure dengan unsur yang lain dalam
populasi yang sedang diperiksa. Keputusan mengenai banyak unsur yang harus diuji harus
diambil oleh akuntan untuk setiap prosedur pemeriksaan. Besarnya sampel akan berbedabeda di antara pemeriksaan yang satu dengan pemeriksaan yang lain dan dari prosedur
yang satu ke prosedur pemeriksaan yang lain.
Penentuan unsur tertentu yang dipilih sebagai anggota sampel. Setelah besarnya sampel

ditentukan untuk prosedur pemeriksaan tertentu, akuntansi masih harus memutuskan unsur
mana yang akan dipilih sebagai anggota sampel untuk diperiksa. Sebagai contoh, akuntan
telah menentukan bahwa 400 faktur penjualan dari populasi sebesar 1.500 akan diperiksa
mengenai otorisasi dan ketelitian yang tercantum di dalamnya. Akuntan dapat menggunakan
beberapa metode yang berbeda untuk memilih 400 faktur penjualan dari populasi tersebut.
Tiga metode yang mungkin digunakan oleh akuntan adalah: (1) memilih minggu tertentu
sebagai periode pengujian (test period) dan memeriksa 400 faktur penjualan pertama yang
dibuat dalam minggu tersebut, (2) memilih 400 faktur penjualan yang berisi total rupiah di
atas Rp40.000, (3) memilih 400 faktur penjualan tersebut secara sembarangan.
Penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan. Karena
pemriksaan terhadap laporan keuangan melipurti suatu jangka waktu tertentu, biasanya 1
tahun, maka akuntan dapat mulai mengumpulkan bukti pemeriksaan segera
bd65c87ae9a41b4; presence=EM307714002L186REp_5f1nya baru dapat diselesaikan
beberapa minggu atau bulan setelah tanggal neraca, maka prosedur pemeriksaan dapat
digunakan pada awal tahun yang diperiksa, akhir tahun yang diperiksa, atau beberapa
minggu atau bulan setelah tanggal neraca. Umumnya, klien menghendaki pemeriksaan
akuntan diselesaikan dalam waktu satu sampai dengan tiga bulan setelah tanggal neraca.
RANGKUMAN
Buki pemeriksaan adalah bukti segala informasi yang mendukung angka-angka atau
informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh akuntan
sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya. Norma pelaksanaan pemeriksaan yang
ketiga mewajibkan akuntan untuk memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup dan
kompeten sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang
diperiksanya. Isi norma tersebut adalah sebagai berikut: bukti kompeten yang cukup harus
diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, tanya jawab, dan konfirmasi sebagai dasar yang
layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa.
Cukup atau tidaknya bukti pemeriksaan menyangkut kuantitas bukti yang harus diperoleh
akuntan dalam pemeriksaannya, sedangkan kompetensi bukti pemeriksaan menyangkut
kualitas atau keandalan bukti yang dipengaruhi oleh tiga factor beriktu ini: sumber bukti,
pengendalian intern, dan cara untuk memperoleh bukti.
Ada delapan tipe bukti pemeriksaan yang harus diperoleh akuntan dalam pemeriksaannya:
pengendalian intern, bukti fisik, bukti documenter, catatan akuntansi, perhitungan, bukti
lisan, perbandingan dan ratio, serta bukti dan spesialis.
Untuk memperoleh bukti pemeriksaan, akuntan melakukan prosedur pemeriksaan yang
merupakan instruksi rinci untuk mengumpulkan tipe bukti pemeriksaan tertentu yang harus
diperoleh pada saat tertentu dalam pemeriksaan. Prosedur pemeriksaan yang dipakai oleh
akuntan untuk memperoleh bukti pemeriksaan adalah inspeksi, pengamatan, wawanara,
konfirmasi, pengusutan, pemeriksaan bukti pendukung, penghitungan, dan scanning.
Dalam situasi tertentu, risiko terjadinya kesalahan dan penyajian yang salah dalam rekening
dan dalam laporan keuangan jauh lebih besar dibandingkan dengan situasi yang biasa.
Oleh karena itu, akuntan harus waspada jika menghadapi situasi pemeriksaan yang
mengandung risiko besar seperti contoh berikut ini: pengendalian intern yang lemah, kondisi
keuangan yang tidak sehat, manajemen yang tidak dapat dipercaya, penggantian akuntan
public yang dilakukan oleh klien tanpa alasan yang jelas, perubahan tarif atau peraturan
pajak atas laba, usaha yang bersifat spekulatif, dan transaksi perusahaan yang kompleks.
Kewaspadaan ini perlu dimiliki oleh akuntan untuk menghindarkan dirinya dari pernyataan
pendapat wajar atas laporan keuangan klien yang berisi ketidak jujuran.

Dalam proses pengumpulan bukti pemeriksaan, akuntan melakukan empat pengambilan


empat keputusan yang saling berkaitan, yaitu: penentuan prosedur pemeriksaan tertentu,
penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dan populasi, dan penentuan waktu yang cocok
untuk melaksanakan prosedur pemeriksaan tersebut.
KERTAS KERJA
Kertas kerja adalah kertas-kertas yang dikumpulkan atau dibuat selama proses
pemeriksaan, yang meliputi semua bukti pemeriksaan yang dikumpulkan oleh akuntan guna
memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakannya, metode dan prosedur pemeriksaan
yang diikutinya, serta kesimpulan yang telah dibuatnya.
Empat tujuan terpenting pembuatan kertas kerja adalah: (1) untuk mengkoordinasi dan
mengkoordinasi semua tahap pemeriksaan, (2) untuk mendukung pendapat akuntan atas
laporan keuangan yang diperiksanya, (3) untuk menguatkan kesimpulan-kesimpulan
akuntan dan kompetensi pemeriksaannya, (4) untuk pedoman dalam pemeriksaan
berikutnya.
Kertas kerja adalah milik akuntan publik, namum pengungkapan informasi yang tercantum
dalam kertas kerja kepada pihak ketiga dibatasi oleh Kode Etik Akuntan Indonesia Pasal 19
yang berbunyi: Seorang akuntan public harus menjaga kerahasiaan informasi yang
diperolehnya selama penugasan professional, dan tidak boleh terlibat dalam pengungkapan
fakta atau informasi tersebut, bila ia tidak memperoleh ijin khusus dari klien yang
bersangkutan, kecuali jika dikehendaki oleh hukum, atau Negara atau perofesinya.
Ada lima tipe kertas kerja: program pemeriksaan, working trial balance, ringkasan jurnal
adjustment, daftar utama, atau daftar pendukung. Pelaksanaan norma pelaksanaan
pemeriksaan akuntan yang pertama, yang berbunyi Pemriksaan harus direncanakan
sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus dipimpin dan diawasi dengan semestinya
dapat dicerminkan dari berbagai tipe kertas kerja yang dihasilkan oleh akuntan.
Perencanaan pemeriksaan yang baik dibuat oleh akuntan, sedangkan pengawasan
terhadap pekerjaan asisten dapat tercermin dari tanda tangan penelaah (reviewer) yang
tercermin dalam setiap tipe kertas kerja yang dihasilkan dalam pemeriksaan.
Kertas kerja harus diberi indeks untuk memudahkan pencarian informasi yang tercantum di
dalamnya dan untuk memudahkan pengkaitan informasi dalam suatu kertas kerja dengan
informasi dalam kertas kerja yang lain.
Setelah akuntan menyelesaikan tugas pemeriksaan, kertas kerja diarsipkan ke dalam dua
macam arsip: (1) arsip kini dan (2) arsip permanen. Arsip kini digunakan untuk menyimpak
kertas kerja yang hanya mempunyai manfaat untuk tahun yang diperiksa saja, sedangkan
arsip permanen digunakan untuk menyimpak kertas kerja yang mempunyai manfaat lebih
dari satu tahun pemeriksaan.

SAMPLING AUDIT

2.1.

Sampling Audit
Sampling adalah metode penelitian, yang kesimpulan terhadap populasi yang diteliti
didasarkan pada hasil pengujian terhadap sampel. Populasi adalah kumpulan yang lengkap

dari kelompok data yang menjadi objek penelitian. Sampel adalah bagian dari populasi, yang
di pilih untuk diteliti, berfungsi sebagai perwakilan dari seluruh anggota populasi.
Menurut PSA N0. 26 Sampling Audit adalah penerapan prosedur audit terhadap
kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan
tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi
tersebut. Ada alasan lain bagi auditor untuk memeriksa kurang dari 100% unsur yang
membentuk saldo akun atau kelompok transaksi. Sebagai contoh, auditor mungkin hanya
memeriksa beberapa transaksi dari suatu saldo akun atau kelompok untuk memperoleh
pemahaman atas sifat operasi entitas atau memperjelas pemahaman atas pengendalian
intern entitas. Audit sampling ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan umum, yaitu :
1.

Tidak menggunakan statistik (nonstatistik) dan

2.

Menggunakan statistik.
Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan
profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam
menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam
penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan.
Audit sampling yang menggunakan statistk adalah audit yang menggunakan
matematika sebagai sarana untuk menentukan perencanaan, pemilihan dan evaluasi sampel.
Dalam hal ini statistik sangat membantu kerana statistik menyediakan beberapa metode
yang dapat digunakan oleh auditor untuk memilih dan mengunakan sampel-sampel tersebut
untuk kemudian membuat kesimpulan yang menyeluruh mengenai populasi yang diaudit.
Sampling Audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian pengendalian,
maupun pengujian subtantif. Sampling audit banyak diterapkan auditor dalam prosedur
pengujian yang berupa voucing, tracing, dan konfirmasi. Sampling dipergunakan kalau
waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk memeriksa seluruh transaksi/kejadian dalam
suatu populasi. Populasi adalah seluruh item yang harus diperiksa. Sub dari populasi disebut
dengan istilah sampel.
Kedua pendekatan ini dapat di gunakan dalam audit, karena tidak ada satu pihakpun
yang dapat menjamin bahwa salah satu di antara keduanya lebih baik dari yang
lain. Sampling dipergunakan untuk menginferensi karakteristik dari populasi. Keuntungan
dari sampling itu sendiri adalah :

1.

Menghemat sumber daya: biaya,waktu, tenaga

2.

Kecepatan mendapatkan informasi (up date)

3.

Ruang lingkup (cakupan) lebih luas

4.

Data/informasi yang diperoleh lebih teliti dan mendalam

5.

Pekerjaan lapangan lebih mudah disbanding cara sensus.

Dalam tahapan audit sampling ada enam tahapan adalah sebagai berikut :

1.

Menyusun rencana audit

2.

Menetapkan jumlah/unit sampel

3.

Memilih sampel

4.

Menguji sampel

5.

Mengestimasi keadaan populasi

6.

Membuat simpulan hasil audit

2.2.

Sampling Audit Statistik Dan Non Statistik


Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit yang dapat dipilih auditor untuk
memperoleh bukti audit kompeten yang memadai yaitu Sampling Statistik dan Sampling
Non Statistik.

A.

Sampling Statistik
Guy (1981) menyatakan bahwa sampling statistik adalah penggunaan rencana
sampling

(sampling

plan)

dengan

cara

sedemikian

rupa

sehingga

hukum probabilitas digunakan untuk membuat statement tentang suatu populasi. Ada dua
syarat yang harus dipenuhi agar suatu prosedur audit bisa dikategorikan sebagai sampling
statistik.

Pertama,

sampel

harus

dipilih

secara

random.

Random

merupakan

lawan arbritrari atau judgemental. Seleksi random menawarkan kesempatan sampel tidak
akan bias. Kedua, hasil sampel harus bisa dievaluasi secara matematis. Jika salah satu syarat
ini tidak terpenuhi maka tidak bisa disebut sebagai sampling statistik. Berikut digambarkan
tipe sampling audit syarat pengkategorian tipe-tipe tersebut.

Tabel Tipe Sampling Audit


No

Types of Audit Sampling

Sample Selection

100 percent

Key items

Sample Evaluation
Conclusive

Judgement Sample

Judgmental

Judgmental

Representative Sample

Random

Judgmental

Statistical Sample

Random

Mathematical

Sumber: Guy, 1981

Untuk memilih sampel secara random ada beberapa metode yang bisa digunakan :
a.

Simple Random Sampling. Menggunakan pemilihan random untuk memastikan bahwa


tiap elemen populasi mempunyai peluang yang sama dalam pemilihan. Tabel bilangan acak
dapat dipakai untuk mecapai kerandoman (randomness).

b.

Stratified

Random

Sampling. Membagi

populasi

dalam

kelompok-

kelompok(grup/stratum) dan kemudian melakukan pemilihan secara random untuk tiap


kelompok. Kelebihan metode ini, pertama, pemilihan sampel bisa dihubungkan dengan item
kunci, serta bisa menggunakan teknik audit berbeda untuk tiap stratum. Kedua, stratifikasi
meningkatkan reliabilitas sampel dan mengurangi besarnya sampel (sample size) yang
dibutuhkan. Jika sampel yang homogen dikelompokkan maka keefektifan dan keefisienan
sampel bisa ditingkatkan.
c.

Systematic Sampling. Menggunakan random strart point kemudian memilih tiap populasi
ke n. Kelebihan utama metode ini adalah penggunaannya mudah. Namun problem utama
adalah kemungkinan masih timbul sampel yang bias (Guy, 1981).

d.

Sampling Probability Proportional to Size (Dollar Unit Sampling). Memilih sampel secara
random sehingga probabilitas pilihan langsung terkait dengan nilai (size). Dengan metode
ini unit yang nilai tercatatnya besar secara proporsional akan memiliki lebih banyak
kesempatan untuk terpilih daripada unit yang nilai tercatatnya kecil.

Menurut Halim (2001) sampling statistik memerlukan lebih banyak biaya daripada
sampling

nonstatistik.

Alasannya

karena

harus

ada

biaya

yang

dikeluarkan

untuk training bagi staf auditor untuk menggunakan statistik dan biaya pelaksanaan
sampling secara statistik. Namun tingginya biaya sampling statistik dikompensasi dengan
tingginya manfaat yang dapat diperoleh melalui pelaksanaan sampling statistik. Sedang
menurut Guy (1981) ada empat kelebihan sampling statistik, yaitu :
1.

Memungkinkan auditor menghitung reliabilitas sampel dan risiko berdasarkan sampel.

2.

Mengharuskan auditor merencanakan sampling dengan lebih baik (more orderly manner)
dibandingkan dengan sampling non statistik

3.

Auditor bisa mengoptimalkan sampel size, tidak overstated atauunderstated, dengan risiko
yang hendak diterima terukur secara matematis.

4.

Berdasarkan sampel, auditor bisa membuat statement yang obyektif mengenai populasi
sampel.

B.

Sampling Non Statistik


Sampling

non

statistik

merupakan

pengambilan

sampel

yang

dilakukan

berdasarkan kriteria subyektif berdasarkan pengalaman auditor. Guy (1981) mendefinisikan


sampling yang sampelnya dipilih secara subyektif, sehingga proses pemilihan sampel tidak
random dan hasil penyampelan tidak dievaluasi secara matematis. Ada beberapa
metode pemilihan sampel yang dikategorikan dalam sampling non statistik, sebagai berikut :
a.

Haphazard sampling. Auditor memilih sampel yang diharapkan representatif terhadap


populasi lebih berdasar judgement individu tanpa menggunakan perandom probabilistik
(misalnya semacam tabel bilangan random). Untuk menghindari bias, sampel dipilih tanpa
memperhatikan ukuran, sumber, atau ciri-ciri khas lainnya (Arrens dan Loebbecke,
2000). Tetapi kelemahan utama metode ini adalah kesulitan untuk benar-benar
menghilangkan bias pemilihan.

b.

Block sampling. Menggunakan seleksi satu atau lebih kelompok elemen populasi secara
berurut. Bila satu item dalam blok terpilih maka secara berurut item-item berikutnya dalam
blok akan terpilih dengan otomatis. Metode ini secara teoritis merupakan metode pemilihan
sampel yang representatif namun jarang digunakan karena tidak efisien. Waktu dan biaya
untuk memilih sampel yang memadai agar representatif terhadap populasi sangat mahal
(Guy dan Carmichael, 2001).

c.

Systematic

sampling. Menggunakan start

point yang

ditentukan

secarajudgement kemudian memilih tiap elemen populasi ke n. Sampel dipilih berdasarkan


interval yang ditentukan dari pembagian jumlah unit dalam populasi dengan jumlah sampel.
d.

Directed sampling. Menggunakan seleksi berdasarkan judgement elemen bernilai (high


value) atau elemen yang diyakini mengandung error. Auditor tidak mendasarkan pada
pemilihan yang mempunyai kesempatan sama (probabilistik), namun lebih menitik
beratkan pemilihan berdasarkan kriteria. Kriteria yang biasa digunakan adalah:

1.

Item-item yang paling mungkin mengandung salah saji.

2.

Item-item yang memiliki karakteristik populasi tertentu.

3.

Item yang mempunyai nilai tinggi (large dollar coverage).

Dibanding sampling statistik, judgement atau sampling non statistik sering dikritik
karena secara berlebihan mengandalkan intuisi dan juga sering secara irasional dipengaruhi
faktor-faktor subyektif. Kecukupan ukuran sampel tidak bisa secara obyektif ditentukan.
Misalnya reaksi personal auditor terhadap karyawan klien, proses pengadilan, dan waktu
yang tersedia untuk menyelesaikan penugasan bisa sangat mempengaruhi ukuran sampel
(Guy, 1981). Namun demikian terlepas dari kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut,
sampling non statistik yang direncanakan secara tepat akan dapat seefektif sampling
statistik. Banyak situasi yang membuat judgement sampling lebih sesuai dari pada sampling
statistik. Harus dicatat bahwa sampling statistik merupakan alat yang berguna untuk
sebagian, tidak semua situasi. Apakah sampling statistik harus digunakan, tergantung dari
keputusan, tujuan audit, pertimbangan cost diferensial (dibandingkan dengan judgement
sampling) serta trade-offs antara biaya dan manfaat yang didapat dalam pengauditan.
2.3.

Ketidakpastian Dalam Sampling Audit


Auditor mengakui adanya faktor-faktor seperti waktu dan biaya yang diperlukan untuk
melakukan pemeriksaan baik atasa sampel data maupun atas seluruh data. Semakin banyak
sampel yang diambil, semakin banyak waktu dan biaya yang diperlukan. Auditor juga
mengakui adanya konsekuensi negative dari kemungkinan kesalahan pengambilan
keputusan yang didasarkan atas kesimpulan hasil audit terhadap data sampel semata.
Auditor dapat memutuskan untuk menerima beberapa ketidakpastian yang timbul
akibat pelaksanaan sampling. Ketidakpastian tersebut meliputi :

1.

Ketidakpastian yang disebabkan langsung oleh penggunaan sampling (resiko sampling).


Resiko sampling berkaitan dengan kemungkinan bahwa sampel yang diambil bukanlah
sampel yang representatif. Risiko sampling timbul dari kemungkinan bahwa kesimpulan
auditor bila menggunakan sampling mungkin menjadi lain dari kesimpulan yang akan
dicapai bila cara pengujian yang sama diterapkan tanpa sampling. Tingkat risiko sampling
mempunyai hubungan yang terbaik dengan ukuran sampel. Semakin kecil ukuran sampel,
semakin tinggi risiko samplingnya. Sebaliknya, semakin besar ukuran sampel, semakin
rendah risiko samplingnya. Auditor harus menerapkan pertimbangan professional dalam
menentukan besarnya risiko sampling. Risiko sampling dapat dibedakan atas :

a.

Risiko sampling dalam pengujian subtantif atas detail atau rincian. Auditor dalam
memperhatikan dua aspek penting dari risiko sampling. Yang meliputi : Risiko keliru
menerima (risk of incorrect acceptance) dan Risiko keliru menolak (risk of incorrect
rejection)

b.

Risiko sampling dalam melaksanakan pengujian pengendalian. Auditor memperhatikan


dua aspek penting dalam risiko sampling, yang meliputi :

1.

Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah (risk of assessing control
risk too law).

2.

Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi (risk of assessing control
risk too high).

2. Ketidakpastian yang disebabkan faktor selain sampling (risiko non


sampling). Risiko non sampling meliputi semua aspek risiko audit yang
tidak berkaitan dengan sampling. Risiko ini tidak akan pernah dapat diukur
secara sistematis. Risiko non sampling timbul karena :
a.

Kesalahan manusia seperti gagal mengakui kesalahan dalam


dokumen.

b.

Kesalahan pemilihan maupun penerapan prosedur audit yang tidak


sesuai dengan tujuan audit.

c.

2.4.

Salah interpretasi hasil sampel.

Pendekatan Sampling Audit


Standar Profesional Akuntan Publik pada Standar pekerjaan lapangan ketiga
menyatakan bahwa:
Bukti Audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan auditan

Ada dua pendekatan umum dalam pendekatan sampling audit yang dipilih auditor
untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup. Kedua pendekatan tersebut ialah :
1.

Sampling statistik. Sampling statistik lebih banyak memerlukan biaya daripada sampling
non statistik. Biaya tersebut dikeluarkan berkaitan dengan :

a.

Biaya pelaksanaan training bagi staf auditor untuk menggunakan statistik.

b.

Biaya pelaksanaan implementasi rencana sampling statistik.


Ada dua macam teknik sampling statistik, yaitu :

1.

Atribut sampling. Teknik ini digunakan dalam pengujian pengendalian. Kegunaannya


adalah untuk memeperkirakan tingkat deviasi atau penyimpangan dari pengendalian yang
ditentukan dalam populasi.

2.

Variable sampling. Dalam pendekatan Variabel sampling, distribusi normal digunakan


auditor untuk mengevaliasi karakteristik populasi yang didasarkan pada hasil sampel yang
diambil dari populasi. Variable sampling digunakan auditor, apabila ditemukan kondisi
sebagai berikut : (a). Klien tidak dapat menyajikan suatu jumlah yang dapat dianggap benar.
(b) Suatu saldo akun ditentukan dengan sampling statistik. Variable sampling tepat untuk
diterapkan auditor, antara lain pada :

a.

Observasi dan penilaian persediaan

b.

Konfirmasi piutang dagang.

c.

Cadangan piutang tak tertagih.

d.

Cadangan piutang yang rusak.

e.

Menilai persediaan dalam perusahaan.

f.

Menilai aktiva tetap dalam utility campany.

g.

Penilaian umur piutang.


Ada tiga teknik yang dapat digunakan dalam variable sampling, yaitu :

a.

Mean per-unit (MPU)

b.

Difference estimation

c.

Sampling estimasi rasio

2.

Sampling non statistik. Sampling non statistik merupakan pengambilan sampel yang
sebagaimana mestinya akan menghasilkan bukti audit yang cukup.

STATISTIK VS NONSTATISTIK SAMPLING


Mempunyai persamaan yaitu terdiri dari 4 langkah sebagai berikut :
1.

Perencanaan sample, bertujuan menjamin bahwa pengujian audit dilaksanakan dengan


cara yang sesuai untuk memberikan risiko uji petik yang diinginkan dan untuk
meminimalkan kemungkinan risiko uji petik.

2.

Seleksi sample, meliputi keputusan bagaimana memilih unsur sample dari populasi.

3.

Pelaksanaan pengujian, yaitu pemeriksaan dokumen dan melakukan pengujian audit


lainnya.

4.

Evaluasi hasil, mencakup penarikan kesimpulan berdasarkan pengujian audit.

Perbedaan :
1.

Sampling Statistik : menggunakan teknis-teknis pengukuran matematis untuk menghitung


hasil statistik formal. Bermanfaat untuk mengkuantifikasi risiko uji petik pada perencanaan
sample dan evaluasi hasil. Hanya cocok untuk sample probabilistis (tiap unsur populasi
mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih).

2.

Sampling Non Statistik : memilih unsur-unsur sample yang diyakini dapat memberikan
informasi yang berguna pada populasi tersebut dan keputusan yang diambil lebih
berdasarkan pertimbangan. Sering disebut judgemental sampling.

2.5.

Proses Pengambilan
metode sampling

Sampel

dan

faktor-faktor

penggunaan

Proses pengambilan sampel merupakan cara-cara dalam memilih sampel untuk studi
tertentu. Proses terdiri dari beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut :
a. Tahap 1 memilih populasi
b. Tahap 2 memilih unit-unit sampling
c. Tahap 3 memilih kerangka sampling
d. Tahap 4 memilih desain sampel
e. Tahap 5 memilih ukuran sampel. Ukuran sampel tergantung beberapa faktor yang
mempengaruhi diantaranya: homogenitas unit-unit sampel, kepercayaan, persepsi,
kekuaatan statistik, prosedur analisa, dan biaya
f.

Memilih rancangan sampling

g. Memilih sample

Dalam penelitian terdapat tujuh faktor yang mempunyai pengaruh dalam pemilihan
sampling audit. Faktor-faktor tersebut adalah :

1.

Persepsi mengenai sampling statistik

2.

Persepsi mengenai risiko audit

3.

Tekanan waktu

4.

Pengalaman

5.

Pemeriksaan perusahaan yang go public

6.

Tenaga ahli

7.

Skala kantor akuntan publik

2.6.

Pemilihan Sampel
Pemilihan sampel atau sampling adalah suatu proses memperoleh informasi
mengenai populasi secara keseluruhan dengan cara menguji hanya sebagian dari populasi
tersebut. Konsep-konsep pemilihan sampel mencakup hal-hal seperti unit sampling, atribut,
pemilihan secara cak (random), stratifiksi, risiko pemilihan sampel (sampling risk), tingkat
ketepatan (precision), dan tingkat keyakinan (confidence level atau reliability).
Suatu satuan atau unit sampling adalah unsur (elemen) di dalam populasi yang
memiliki sifat-sifat atau karakteristik yang akan diukur oleh auditor guna membuat estimasi
mengenai karakteristik seluruh populasi, daftar dari seluruh unit sampling di dalam
populasi disebut frame. Perlu diingat bahwa unsur atau elemen di dalam populasi itu sendiri
mungkin memiliki atau tidak memiliki karakteristik tertentu yang biasa disebut dengan
istilah atribut.
Pemilihan sampel dilakukan setelah auditor mengetahui besarnya sampel yang akan
dipilih dan diperiksa. Biasanya auditor membuat klasifikasi apakah sampel yang telah
dipilihnya tersebut dikembalikan lagi ke populasinya sehingga dapat dipilih kembali (disebut
dengan istilah sampling with replacement) ataukah setiap kali sampel telah dipilih tidak
dikembalikan lagi ke populasinya sehinga tidak dapat lagi dipilih kembali sebagai sampel
(disebut dengan istilahsampling without replacement). Apabila sampel tersebut telah
dipilih, maka langkah berikutnya adalah memeriksa sampel-sampel yang telah dipilih
tersebut untuk selanjutnya dibuat kesimpulan terhadap seluruh populasi yang diwakili oleh
sampel-sampel tersebut. Dalam pekerjaan audit pada dasarnya terdapat dua metode
pemilihan atau penarikan sampel, yaitu metode pemilihan secara statistik atau statistical
(random) sampling method dan metode pemilihan tidak secara statistik atau nonstatistical
sampling (jusgment) method.

A.

Metode pemilihan secara statistik


Metode ini disebut pula dengan istilah metode pemilihan secara acak(random
sampel), yitu suatu cara pemilihan sampel yang sedemikian rupa sehingga setiap unsur di
dalam populasi mempunyai probabilitas yang tidak sama untuk dipilih menjadi sampel.
Metode ini dapat dilakuka dengan menggunakan tabel angka acak (random numbers table),
secara sistematik atau dengan menggunakan program komputer.

1.

Tabel angka acak


Tabel angka acak adalah suatu daftar angka acak yang disusun dalam bentuk tabel untuk
membantu pemilihan angka-angka secara acak karena angka-angka dalam tabel ini tidak
berurutan.

2.

Pemilihan sampel secara sistematik


Dalam

cara

pemilihan

sampel

yang

sistematik

auditor

menghitung

suatu

rentang (interval) tertentu dari populasi dalam masing masing strata dengan jalan membagi
besarnya populas dengan jumlah sampel yang dikehendaki.
Cara pemilihan sampel yang sistematik ini sangat mudah digunakan karena begitu
suatu titik awal ditetapkan maka langkah berikutnya bersifat otomatis. Keadaan ini tidak
akan menimbulkan masalah apabila kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam populasi
tersebar secara acak di seluruh populasi. Akan tetapi keadaan ini sangat jarang terjadi
sehingga kemungkinan kesalahan-kesalahan yang material yang terjadi di dalam populasi
tidak akan tercakup di dalam sampel. Oleh sebab itu biasanya cara yang kedua ini hanya
digunakan apabila cara yang pertama atau paket program komputer mengenai pemilihan
sampel tidak dapat dilakukan.

B.

Metode pemilihan sampel nonstatistik


Metode pemilihan sampel tidak secara statistik adalah suatu cara pemilihan sampel
yang didasarkan pada pertimbangan pribadi auditor, misalanya akan memeriksa seluruh pos
persediaan yang mempunyai saldo Rp 1.000.000 atau lebih. Metode ini paling banyak
digunakan di dalam audit meskipun oleh auditor yang mengetahui cara-cara statistik. Hal ini
disebabkan karena mudah ataupun karena metode pemilihan sampel secara statistik tidak
dapat diterapkan, tidak memungkinkan atau terlalu mahal apabila digunakan.
Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari tiga cara sebagai
berikut:

1.

Blok sampling: Blok sampling adalah pemilihan beberapa pos (item)secara berurutan.
Begitu pos pertama di dalam blok tersebut telah dipilih maka pos-pos lainnya di dalam blok
tersebut akan terpilih secara otomatis. Sebagai contoh misalnya pemilihan seratus transaksi
pembelian dalam buku harian pembelian pada tengah pertama bulan februari.
Kelemahan cara ini adalah apabila blok yang digunakan hanya sedikit maka dapat
memungkinkan tidak terpilihnya populasi yang mengandung kesalahan. Untuk menghindari
hal itu Arens dan Loebbecke (1981)menyarankan setidak-tidaknya menggunakan sembilan
blok untuk sembilan bulan yang berbeda.

2.

Metode pemilihan sampel menurut pertimbangan auditor (metode judgemental), dan

3.

Metode tanpa tendensi


Metode ini digunakan apabila auditor dalam memilih sampel tidak memperdulikan besarnya
nilai, sumbernya atau sifat-sifat lainnya yang spesifik. Kelemahan utama cara ini adalah
sulitnya menentukan pos-pos sampel yang bebas dari pretensi atau tendensi auditornya.

Sebagai gambaran misalnya ada beberapa auditor yang lebih senang untuk memilih sampel
dari transaksi kepada pihak-pihak tertentu atau transaksi yang tertulis pada setiap awal
halaman dan mengabaikan transaksi yang tertulis pada tengah halaman, sementara auditor
lainnya lebih menyukai transaksi yang tertulis pada tengah halaman atau yang mempunyai
saldo besar.

Beberapa pertimbangan penting yang berkaitan dengan pemilihan ukuran sampel,


yaitu :
1.

Seleksi Acak dengan Pengukuran Statistik. Perlu dipahami oleh auditor mengenai
perbedaan antara seleksi acak dengan pengukuran statistik dalam penentuan pemilihan
ukuran sampel.

2.

Dokumentasi yang cukup. Penting bagi auditor untuk memelihara catatan mengenai
prosedur yang dilaksanakan, metode yang digunakan untuk menyeleksi sampel dan
melaksanakan pengujian, hasil yang diperoleh, dan kesimpulan yang ditarik.

3.

Kebutuhan

akan

pertimbangan profesional.

Penerapan uji

statistik memerlukan

pertimbangan profesional dalam langkah-langkahnya.

2.7.

Tehnik Sampling Statistik


Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa terdapat dua tehnik sampling statistik,
yaitu: sampling atribut dan sampling variabel serta tehnik gabungan antara keduannya.

A. Sampling Atribut
Yang dimaksud dengan sampling atribut adalah suatu metode untuk melakukan
perkiraan atau estimasi terhadap sebagian dari populasi yang mengandung karakter atau
atribut tertentu yang menjadi perhatian atau menjadi tujuan audit seorang auditor.
Sampling ini terutama digunakan dalam pengujian-pengujian pengendalian intern.
Sampling atribut digunakan untuk membuat kesimpulan mengenai tingkat kejadian di
dalam populasi, dan biasanya digunakan untuk menguji tingkat ketaatan terhadap prosedur
di dalam populasi, dan biasanya digunakan untuk menguji tingkat ketaatan terhadap

prosedur di dalam sistem pengendalian intern sebagai sarana untuk mengetahui apakah
ketentuan-ketentuan yang dibuat manajemen telah ditaati.
Sebagai contoh misalnya auditor ingin menentukan prosentase banyaknya bukti
pembayaran yang tidak didukung dengan bukti-bukti tertentu atau tidak diotorisasi oleh
pejabat yang berwenang. Untuk menguji pengendalian intern tersebut auditor dapat
menggunakan salah satu dari tiga metode sampling, yaitu estimasi atribut (sampling fixedsample-size), sampling sekuensial (sampling atribut keputusan atau stop or go sampling)
dan sampling temuan (discovery sampling). Langkah-langkah dalam sampling atribut:
1.

Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor

2.

Definisikan populasi dan satuan atau unit samplingnya

3.

Definisikan atribut yang menjadi objek pengukuran dan apa yang dimaksudkan dengan
penyimpangan

4.

Tentukan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat ditolelir

5.

Buat estimasi atau perkiraan mengenai tingkt penyimpangan di dalam populasi, yaitu
jumlah penyimpangan di dalam sampel dibagi dengan besarnya sampel

6.

Tentukan tingkat keyakinan, biasanya dalam presentase.

7.

Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.

Risiko data yang dapat diterima

b.

Tingkat kesalahan yang dapat ditolelir

c.

Perkiraan mengenai tingkat penyimpanga dalam populasi

d.

Pengaruh besarnya populasi

e.

Metode sampling yang digunakan, apakah sampling fixed-sample-size, sampling sekuensial,


atau sampling temuan

8.

Pilih sampel secara acak

9.

Lakukan prosedur audit

10. Lakukan evaluasi hasil audit sampel pada langkah 9 dengan cara sebagai berikut:
a.

Hitung tingkat penyimpangan

b.

Pertimbangkan risiko sampling

c.

Pertimbangkan aspek kualitatif dari penyimpangan tersebut

d.

Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai pengendalian intern.

B. Sampling Variabel
Yang dimaksud dengan sampling variabel adalah suatu metode yang digunakan
untuk melakukan perkiraan atau estimasi terhadap nilai yang sebenarnya dari saldo suatu
akun atau untuk menentukan besarnya nilai suatu kesalahan. Sampling ini terutama
digunakan dalam pengujian substantif guna menentukan tingkat dapat diandalkanya suatu
jumlah dalam suatu akun, dan dapat dilakukan dengan salah satu dari beberapa metode
sebagai beriut: (1) estimasi satuan nilai tengah, (2) estimasi selisih, (3) estimasi
perbandingan, dan (4) estimasi regresi.
Keempat metode ini dapat dilakukan dengan stratifikasi atau tanpa stratifikasi.
Sampling stratifikasi adalah suatu metode sampling yang membagi-bagi populasi menjadi
dua atau lebih sub populasi yang disebut dengan istilah strata, dan sampel kemudian dipilih
dari masing-masing strata tersebut, dan masing-masing strata ini selanjutnya diaudit secara
terpisah.
Pada umumnya sampling variabel dapat digunakan untuk hal-hal sebagai berikut:
a.

Dalam pengujian substantif, yang dimaksudkan untuk menentukan kewajaran nilai buku
suatu akun.

b.

Untuk membuat estimasi mengenai nilai saldo suatu akun atau suatu kelas tertentu dari
transaksi-transaksi yang berkaitan seperti taksiran saldo piutang atau taksiran total
penjualan untuk suatu periode tertentu.
Secara lebih spesifik Vasarhelyi dan Lin (1990) menyatakan bahwa sampling
variable ini dapat diterapkan oleh auditor untuk melakukan pekerjaan audit berkenaan
dengan hal-hal sebagai berikut:

1.

Pengujian akun piutang

2.

Pengujian jumlah kuantitas, harga dan nilai persediaan.

3.

Penggantian metode penilaian persediaan dari metode FIFO ke LIFO.

4.

Pengujian jumlah penambahan aktifa tetap

5.

Pengujian terhadap transaksi-transaksi untuk menentukn besarnya nilai transaksi yang


tidak didukung oleh bukti yang memadai.

Meskipun banyak hal yang bersifat kuantitatif yang dapat dicakup dengan sampling
variabel, metode ini hanya dapat digunakan apabila estimasi penyimpangan baku dari

populasi dapat diketahui. Di samping itu, sampling ini juga bergantung pada karakteristik
atau sifat-sifat statistik distribusi normal. Selain pengklasifikasian berupa sampling variabel
tanpa stratifikasi dan sampling variabel dengan stratifikasi, sampling variabel dan biasanya
dikategorikan menjadi empat metode sebagai berikut: (1) estimasi satuan nilai tengah, (2)
estimasi selisih, (3) estimasi perbandingan, dan (4) estimasi regresi.
Langkah-langkah dalam sampling variabel:
1.

Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor

2.

Definisikan populasi dan satuan unit samplingnya

3.

Definisikan atau tentukan tingkat keyakinan

4.

Estimasikan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat ditolelir

5.

Tentukan besarnya risiko alfa dan risiko beta

6.

Pilih dan periksasampel pendhuluan secara acak.

7.

Perhatikan variasi di dalam populasi

8.

Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.

Risiko alfa dan risiko beta yang dapat diterima

b.

Kesalahan maksimum yang dapat ditolelir

c.

Perkiraan mengenai simpangan baku populasi

d.

Pengaruh besarnya populasi

9.

Pilih dan periksa sampel tambahan

10. Lakukan prosedur audit


11. Buat estimasi mengenai nilai akun atau nilai total populasi
12. Hitung rengtang keyakinan berdasarkan hasil pemeriksaan sampel
13. Buat kesimpulan secara menyeluru mengenai hasil pemeriksaan sampel.

C. Monetary Unit Sampling


Metode ini merupakan gabungan dari sampling atribut dan sampling variabel atau
modifikasi dari sampling atribut, yaitu sampling atribut yang digunakan untuk menyatakan
suatu kesimpulan tentang nilai yang sebenarnya dari saldo suatu akun atau untuk
menentukan besarnya nilai suatu kesalahan.

Langkah-langkah audit dalam sampling monetary unit sampling, sebagai berikut :


1.

Tentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor

2.

Definisikan populasi dan satuan atau unit samplingnya

3.

Estimasikan tingkat kesalahan tertinggi yang dapat ditolelir

4.

Tentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.

Risiko data yang dapat diterima

b.

Tingkat kesalahan yang dapat ditolelir

c.

Perkiraan mengenai tingkat penyimpangan dalam populasi, apakah kesalahannya 100%


atau kurang

5.

Pilih sampel secara acak, secara sistematis atau dengan bantuan komputer

6.

Lakukan prosedur audit

7.

Evaluasi hasil audit sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.

Aapakah tidak ada kesalahan yang dijumpai

b.

Apakah kesalahan yang dijumpai 100%

c.

Apakah kesalahan yang dijumpai kurang dari 100%

d.

Aspek-aspek kualitatif dari penyimpangan tersebut

e.

Aspek-aspek kuantitatif dari penyimpangan tersebut.

8.

Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai pengendalian intern atau pengujian yang
dilakukan.
Contoh :
Seorang bendaharawan yang anda audit memiliki bukti pengeluaran kas (kuitansi = X)
sebanyak sepuluh sample (N=10) lembar sebagai berikut:
Total (t)
100, 90, 110, 80, 120, 115, 85, 105, 95, 100 (total pengeluaran 1000)
Sampel yang diambil sebanyak enam (n=6) kuitansi
Pertanyaan :

a.

Tentukan rata-rata nilai sample ?

b.

Tentukan perkiraan (estimasi) total populasi ?


Pemecahan:
Sampel (n=6): 90, 80, 120, 85, 105, 95
Nilai total dari enam sample (t)= 575

a.

Rata-rata nilai sample ( )= t/n = 575/6 = 95,83

b.

Perkiraan total (estimasi) total populasi (T)


T = 10 x 95,83 = 958,30

Ada

beberapa

unsurunsur

dapat

mempengaruhi

hasil

sampling,

yang

mempengaruhi unit sampel, yaitu:


a)

Unit populasi
Unit populasi adalah banyaknya satuan anggota populasi. Misalnya kita melakukan audit
atas mutasi pengeluara kas tahun 2001 yang terdiri atas 3.500 kuitansi dengan nilai Rp 800
juta.

b)

Standar deviasi
Standar deviasi adalah angka yang menunjukkan jarak antara nilai rata-rata populasi
dengan

para

anggota

secara

umum

sekaligus

menunjukkan

tingkat

heterogenitas/homogenitas data dalam populasi.


Standar Deviasi = = (Xi - )2 / N
c)

Tingkat keyakinan atau keandalan


Tingkat keyakinan adalah derajat keandalan sampel terhadap populasi yang di wakilinya, di
tunjukkan oleh perkiraan persentase banyaknya populasi yang terwakili oleh sampel.