Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses pengelasan merupakan masalah yang kompleks. Dalam melakukan pengelasan
perlu dilakukan perencanaan sambungan las. Perencanaan ini meliputi beberapa faktor antara
lain jenis logam yang akan dilas,perubahan mekanis setelah material mendapat siklus panas,
jenis mesin las, cara pengelasan dan parameter pengelasan. Faktor-faktor ini harus dipenuhi
selama proses pengelasan, jika tidak dipenuhi akan menghasilkan sambungan las yang tidak
baik seperti banyaknya cacat las yang timbul.
Dengan alat yoke semi automatic dapat diketahui cacat las yang timbul yang diakibatkan
proses pengelasan yang kurang baik dan lebih akurat serta penggunaannya yang mudah
dioperasikan dan dapat diaplikasikan pada kapal.dengan yoke semi automatic ini dapat
mendeteksi keretakan atu cacat las pada material uji, dan prinsip kerja dari yoke ini
menggunakan prinsip kaedah tangan kanan, dimana arus listrik bergerak melingkar
sedangkan medan magnet bergerak lurus terhadap material uji.dengan memberikan
magnetisasi pada material uji, kumparan yang dialiri arus listrik akan menghasilkan magnet
pada yoke sehingga aliran magnet akan mengalir dari masing-masing ujung yoke dan
kemudian terjadi medan magnet pada material uji.sampai saat ini yoke yang dipergunakan
dengan metode manual akan disempurnakan dengan menggunakan semi automatic sehingga
memudahkan untuk melakukan pengecekan terhadap material uji,serta memberikan akurasi
yang cukup baik.
Telah diketahui bahwa pada sebagian besar proses penyambungan pada kapal
menggunakan proses las dan beberapa bagaian yang lain yang tidak menggunakan proses las
tetapi menggunakn material yang umumnya bersifat ferromagnetic, seperti halnya poros dan
beberapa bagian permesinan kapal, semua bagian kapal tersebut diharapkan selalu dalam
kondisi yang baik dalam arti terhindar dan bebas dari cacat atau keretakan bila pada bagian
sambungan las ataupun bagian yang lain mengalami keretakan akan sangat membahayakan
kondisi kapal tersebut.
Pengujian bahan terbagi menjadi 2 bagian yaitu : pengujian yang bersifat merusak
(destructive test) dan pengujian yang tanpa merusak (non destructive test) sampai saat ini

pengujian yang umum sekali dipergunakan adalah Non destructive test, yang dikarenakan
dalam pengujian tanpa merusak tersebut pengguanaan material yang akan dipergunakan dapat
dipantau dengan seksama dan efisien.
Pengujian Non Destructive Test meliputi antra lain : Ultrasonic Test (UT) yang
menggunakan metode gelombang/cepat rambat bunyi (suara), Magnetic Test (MT)
menggunakan metode magnet. Dimana yang dipergunakan nantinya adalah pengujian dengan
metode partikel magnetic.
Pada dasarnya yang paling penting dalam metode magnetic adalah pengendalian
kerusakan dalam keadaan dini.agar material yang dipergunakan tersebut terhindar dari cacat
yang dapat mempengaruhi pengoperasian kapal.
Magnetic Particle Test (MT) merupakan salah satu pengujian tidak merusak Atau NonDestructive Test (NDT) yang relatif mudah, efisien, dan ekonomis. Pengujian menggunakan
prinsip medan magnet untuk mendeteksi ada tidaknya kerusakan atau cacat pada material.
Medan magnet tersebut timbul dari adanya arus listrik yang mengaliri specimen uji
(elektromagnet). Pada Magnetic Particle Test terdapat beberapa peralatan antara lain yaitu
Yoke, Prods, Coil Shot, Central Conductor, dan Head Shot. Pada pengerjaan tugas akhir kali
ini, akan didesain dan dibuat alat pengujian MT yaitu: yokes semi automatic

Gambar 1.1. Yoke manual [www.imoa.org]

Gambar 1.2. Yoke dengan arus DC

Alat ini dipergunakan untuk mendeteksi adanya kerusakan atau cacat pada material yang
diuji dengan meletakkan yoke pada material uji.yang diaman aliran listrik yang masuk
kedalam kumparan diubah menjadi medan magnet.arus listrik yang dipergunakan ada 2
macam yaitu : Direct Current (DC) dan Alternating Current (AC)
Untuk arah medan magnet terbagi menjadi 2 macam yaitu : secara longitudinal dan
secara circular. Dan arah medan magnet tersebut berdasarkan specimen yang akan diuji.untuk
gambar 1.3

Gambar 1.3. Longitudinal magnetic.

Untuk magnet yang bergerak secara longitudinal bergerak secara parallel mengikuti arah
gerak sumbu axis.
Sedangkan untuk medan magnet yang bergerak secara circular, arah medan magnet
bergerak secara memutar atau bergerak secara circumferential. Lihat gambar 1.4.

Gambar 1.4. Circular magnetic.

Apabila terdapat cacat pada material, maka akan timbul kebocoran garis-garis gaya
magnet pada daerah cacat tersebut. Jika pada permukaan benda uji diaplikasikan partikel atau
serbuk magnet, maka serbuk magnet tersebut akan mengumpul pada daerah yang mengalami
kebocoran tesebut.gambar 1.5

Gambar 1.5. Mendeteksi cacat.

1.2 Perumusan Masalah


1. Bagaimana cara merancang yoke semi automatic ?
2. Bagaimana menjalankan yoke semi automatic untuk mengetahui cacat hasil
modifikasi atau sampel yang dideteksi menggunakan yoke semi automatic?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui cara merancang yoke semi automatic dengan prinsip kerja pada yoke
manual
2. Mengetahui pengaruh dan efisiensi penggunakan yoke semi automatic dengan yoke
manual ditinjau dari segi efisien dan mudah pengoperasiannya.

1.4 Manfaat
Manfaat dari Tugas Akhir ini adalah :
Alat Yoke semi Automatic ini dapat dipergunakan pada proses pembangunan kapal serta
dapat dipergunakan pada proses fabrikasi untuk mendeteksi cacat las yang timbul dari hasil
las-lasan, sehingga sangat bermanfaat dan merupakan inovasi dari mahasiswa teknik
perkapalan

1.5 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam tugas akhir ini adalah :
1. Menggunakan Arus bolak-balik (AC)
2. Material yang diuji adalah Ferromagnetic
3. Dipergunakan pada posisi Flat

1.6 Hipotesa awal


Agar penggunaan yoke semi automatic ini dapat berjalan dengan baik maka
electromagnet yang mendukung system dari yokes itu sendiri dapat berfungsi dengan baik,
dan persiapan arus listrik yang mampu menyuplai dari kebutuhan yoke tersebut. Dan
diharapkan dapat mengetahui cacat las atau retakan yang terdapat pada material uji. Pada
penggunaan yoke semi automatic ini dapat lebih efisien dan system pengoperasiannya sangat
mudah sehingga memudahkan melakukan inspeksi dengan jarak yang relatif jauh.

1.7 Metodologi Penelitian


Penelitian dilakukan dengan metodologi dan analisa pembuatan alat sebagai berikut :

1.7.1 Identifikasi masalah


Tahap ini merupakan tahap awal dalam pengerjaan tugas akhir yaitu dengan menetapkan
tujuan penelitian serta perumusan masalah dari tugas akhir yang dikerjakan.

1.7.2 Studi literatur


Melakukan studi tentang magnetisasi longitudinal, arus dan tegangan yang diperlukan
sehingga dapat menentukan kuat medan magnet yang dihasilkan, serta menentukan design
dari alat tersebut.

1.7.3 Proses pembuatan yoke semi automatic


Proses merancang alat yang akan diterapkan, pemilihan material yang akan
dipergunakan dalam pembuatan alat tersebut, pemilihan kawat yang akan dipergunakan untuk
lilitan kumparan pada yoke, serta merancang pola kerja dari alat tersebut agar dapat bekerja
maksimal, dan melakukan pengujian terhadap kuat medan magnet yang ditimbulkan oleh
yoke tersebut dengan menggunakan field indicator.

1.7.4 Percobaan pengujian alat


Pada percobaan ini adalah menguji proses gerak alat yoke serta kuat medan magnet yang
dihasilkan dan proses uji pada material atau hasil las-lasan.

1.7.5 Analisa hasil pengujian


Dari hasil pengujian dilakukan analisa tehadap alat tersebut apakah sesuai dengan yang
diharapkan atau tidak.

1.8 Model analisis


Model analisis yang akan dilakukan pada tugas akhir ini dengan metode magnetic
particle testing, meliputi :
a.

Pembuatan rancangan alat yang dipergunakan untuk magnetic particle testing dengan
sistem longitudinal magnetik, dalam pembuatan sitem ini dibuat terlebih dahulu yoke
yang dililit oleh kumparan dengan banyaknya lilitan kumparan 3500 lilitan dengan
kawat tembaga dengan asumsi berat yang harus dipenuhi agar yoke tersebut bekerja

sesuai dengan standard yang berlaku bahwa untuk arus listrik bolak-balik (alternating
Current) yoke tersebut harus mampu mengangkat beban seberat 4,5 kg.
b.

Melakukan analisa terhadap pergerakan yang dilakukan yoke tersebut, dengan


pergerakan horizontal dan angular, pergerakan horizontal tersebut dilakukan dengan
mekanisme ulir pada batang ulir sehingga yoke tersebut dapat bekerja atau berfungsi
dengan baik, serta menentukan arah sudut angular untuk pergerakan angular yoke
tersebut karena dengan pergerakan angular dapat terdeteksi cacat las atau crack pada
sudut 45 derajat dan dapat mendeteksi cacat las yang longitudinal, sedangkan untuk
horizontal dapat mendeteksi cacat las yang secara melintang, sehingga alat ini dapat
mendeteksi cacat las yang memiliki arah serta sudut yang tertentu dari segi efisiensi serta
ketepatan alat ini lebih teliti dan efisien.

c.

Sistem pergerakan angular pada yoke tersebut dipergunakan selenoide yang berfungsi
sebagai penarik gaya pada yoke tersebut, dan prisip kerja selenoide itu sendiri
menggunakan sistem magnetisasi yang dapat berfungsi menarik serta mendorong yoke
tersebut untuk membentuk sudut angular yoke tersebut. Dan untuk kembali pada posisi
semula selenoide tersebut dibantu oleh pegas yang berfungsi untuk menarik kembali
yoke pada posisi semula kemudian yoke tersebut dalam kondisi normal atau bergerak
horizontal.

d.

Laju pergerakan yoke digerakkan oleh dinamo dengan dialiri arus listrik 12 V, 80Amp,
sehingga menggerakkan batang ulir tersebut untuk menggerakkan yoke untuk posisi
maju dan mundur.

e.

Pengambilan kesimpulan untuk menarik kesimpulan dari hasil analisa data serta
pengujian alat tersebut.

Flowchart Metodologi Penelitian dan Analisa Data


Mulai

Identifikasi Masalah

Studi Literatur
Elektromagnetik, pengujian tanpa merusak (NDT),
Magnetic particle test
Mekanisme Penggerak

Penentuan Material alat

Teori dasar magnetic


particle test

Proses perencanaan dan


pembuatan alat
(pembuatan alat dengan yoke)
Semi-automatic )
Pengujian alat

Hasil : pengamatan cacat las


Surface dan subsurface

Pengolahan Hasil Uji

Analisa
Data
Kesimpulan