Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM NON DESTRUCTIVE TESTING ( NDT )

MAGNETIC PARTICLE INSPECTION

Disusun oleh
NAMA

: AHMADI RAFEI

NPM

: 3331101530

KELOMPOK

: C10

TGL PERCOBAAN

: 9 JUNI 2011

LABORATORIUM NON DESTRUCTIVE TESTING ( NDT )


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN
CILEGON BANTEN
2011
______________________________________________________________________________
___________
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur khadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Ridho-NYA sehingga
penulis bisa menyelesaikan laporan Non Destructive Test (NDT) ini tanpa halangan suatu
apapun.
Makalah ini berisi tentang pengujian NDT dengan menggunakan metode Magnetic Particle
Inspection dan menggunakan tiga metode Magnetic Particle Inspection yaitu Dry Visible, Wet
Visible dan Wet Fluorescent. Makalah ini di buat berdasarkan hasil praktek yang telah di lakukan
pada hari sebelum nya.
Penulis mengucapkan Terima kasih kepada Assisten laboratorium NDT yang telah membantu
praktikan dalam pengujian NDT. Selain itu penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di harapkan demi
penyempurnaan makalah ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak pada
umumnya dan bagi penulis pada khususya.
Wasalamualaikum Wr.Wb
Cilegon, Mei 2011
Penulis
Halaman

DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
.. i
KATA
PENGANTAR
.. ii
DAFTAR
ISI
.. iii
DAFTAR
GAMBAR
V
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


praktikum
.. 1
1.2 Tujuan
praktikum
. 1
1.3 Batasan
masalah
.. 2
1.4 Sistematika
penulisan
.. 2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Teori umum
MPI
. 4
2.2 Klasifikasi metode
MPI
. 14
2.2.1 MPI Dray
Visible
.. 14
2.2.2 MPI Wet
Visible
16
2.2.3 MPI Wet
Fluorescent
.. 17
BAB III METODE PENGUJIAN
3.1 Instalasi
pengujian
.. 18

3.2 Prosedur
pengujian
18
3.2.1 Prosedur pengujian MPI Dry
Visible
18
3.2.2 Prosedur pengujian MPI Wet
Visible
. 19
3.2.3 Prosedur Pengujian MPI Wet
Fluorescent
. 20
BAB IV ANALISIS HASIL PENGUJIAN
4.1 Sketsa hasil
pengujian
22
4.2 Analisis jenis
cacat
23
BAB V PENUTUP
5.1
Kesimpulan
.. 24
5.2
Saran
. 25
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Dokumentasi praktikum
Halaman
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Arah medan magnet terpotong oleh


retakan.. 4
Gambar 1.2 Sifat
elektromagnetik
.. 7
Gambar 1.3 Garis magnet membentuk selubung seputar kawat
berarus. 8
Gambar 1.4 Prinsip putaran
sekrup
.. 8
Gambar 1.5 Elektromagnetik sekeliling
kawat
.. 9
Gambar 1.6 Kawat melingkar berarus membentuk kutub
magnet 10
Gambar 1.7 Belitan kawat membentuk kutub
magnet.. 10
Gambar 1.8 skema metode magnetic
particle
. 11
Gambar 1.9 Pengujian logam dengan metode Dry
Visible.. 15
Gambar 2.0 Pengujian logam dengan metode Wet
Visible.. 17
Gambar 2.1 Pengujian logam dengan metode Wet
Florescent.. 17
Gambar 2.2 Cacat retakan pada Lasan
. 23
Gambar 2.3 Benda
uji
.. 27

Gambar 2.4 Alat kalibrasi


Yoke
. 27
Gambar 2.5 Hasil dari
pengujian
28
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang praktikum
Sekarang ini kebutuhan akan logam yang berkualitas pada Industir-industri permesinan sangat di
butuhkan untuk pembuatan alat-alat penunjang yang di butuhkan oleh manusia.
Hampir dari semua hal ciptaan manusia di dominasi oleh logam, mulai dari mobil, sepeda,
sepeda motor, jembatan dan lain sebagainya. Tentu saja logam yang di gunakan bukanlah satu
jenis logam saja melainkan dari banyak jenis logam. Selain pemilhan jenis logam yang di
gunakan, produsen-produsen pengguna logam juga harus memikirkan bagaimana kualitas dari
logam tersebut, apakah logam itu akan mampu menahan beban yang akan diberikan. Oleh karena
itu sebuah logam pasti melalui proses Quality Control (QC) atau uji kelayakan sebelum di
pasarkan.
Dalam pengujian sebuah logam kita harus memahami metode-motode yang di gunakan, salah
satunya dengan cara Non destructive test ( pengujian tak merusak ) yang didalamnya terdapat
metode Magnetic particle inspection. Pengujian ini akan mengetahui cacat atau tidaknya sebuah
logam. Logam akan di uji dengan menggunakan tiga metode dari metode Magnetic particle yaitu
metode Dry particle, Wet particle, dan Wet Fluorescent.
1.2 Tujuan praktikum
Untuk mengetahui cacat pada sebuah benda kerja dengan menggunakan metode Magnetic
particle inspection (MPI).
1.3 Batasan masalah
Seperti kita ketahui bersama untuk mengetahui cacat tidaknya sebuah benda kerja kita harus
melakukan pengujian terhadap benda kerja tersebut. Banyak metode yang bisa di gunakan dalam
pengujian sebuah benda kerja, salahsatunya dengan metode Magnetic particle inspection.
Metode Magnetic particle inspection adalah metode dengan bantuan magnet dan serbuk besi.
Metode MPI bisa di gunakan untuk mengetahui cacat yang terdapat di permukaan sebuah benda
kerja, cacat bisa berupa retakan, patahan, dan lubang. Namun metode ini masih terdapat

kelemahan diantaranya adalah hanya bisa di terapkan pada benda yg bersifat feromagnet, dan
hanya bisa mendeteksi cacat pada permukaan benda kerja saja.
1.4 Sistemtika penulisan
Aadapun sistematika penulisan laporan ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
BAB ini berisi tentang latar belakang praktikum, tujuan praktikum, basatan masalah dan
sistematika penulisan laporan.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB ini berisi tentang teori umum MPI dan klasifikasi metode MPI yang terdiri dari Dry visible,
Wet visible dan Wet Fluorescent.
BAB III METODE PENGUJIAN
BAB ini berisi tentang instalasi pengujian dan prosedur pengujian yang terdiri dari tiga prosedur
pengujian yaitu Prosedur pengujian MPI Dry visible, Prosedur pengujian MPI Wet visible, dan
prosedur pengujian MPI Wet Fluorescent.
BAB IV ANALISIS HASIL PENGUJIAN
BAB ini berisi tentang Sketsa hasil pengujian dan analisi jenis cacat.

BAB V PENUTUP
BAB ini berisi kesimpulan dan saran dari laporan.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Dokumentasi praktikum

______________________________________________________________________________
____

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori umum MPI
Pengujian terhadap sebuah benda kerja dengan menggunakan metode MPI adalah dengan
meggunakan prinsip dasar magnet. Sebuah medan magnet selalu menunjukan gejala yang sama
yaitu arah medan magnet selalu bergerak dari kutub utara menuju kutub selatan ( diluar magnet ).
Dengan prinsip dasar inilah kita bisa gunakan untuk menguji logam yang bersifat ferromagnet.
Magnet merupakan suatu logam yang dapat menarik besi, dan selalu memiliiki dua kutub yaitu
kutub selatan dan kutub utara. Dimana arah medan magnet disetiap titik bersumber dari kutub
utara menuju ke selatan dan mengarah dari kutub selatan ke kutub utara didalam magnet.
Prinsip kerja dari Magnetic Particle Inspection ( MPI ) adalah dengan memagnetisasi benda yang
di inspeksi yaidu dengan cara mengalirkan arus listrik dalam bahan yangg di inspeksi. Ketika
terdapat cacat peda benda uji maka arah medan magnet akan berbelok sehingga terjadi
kebocoran dalam flux magnetic. Bocoran flux magnetic akan menarik butir-butir ferromagnetic
di permukaan sehingga lokasi cacat dapat di tunjukan

Gb.1.1 Arah medan magnet terpotong oleh retakan


Jenis-jenis magnet
Magnet mendapat nama dari suatu tempat di Yunani yang bernama Magnesia. Mineral yang
ditambang di kawasan ini dinamakan Magnetite. Oleh karena itu, nama itu diturunkan menjadi
magnet. Orang Yunani menyebutnya Magnetic, atau Magnetos. Orang Inggris menyebutnya
Lodestone karena sifatnya yang selalu menujuk ke arah Utara dan oleh karena itu dapat dipakai
sebagai pedoman arah. Orang Prancis menyebutnya Ament atau Batu yang Bercinta, sementara
orangIndia menyebutnya Chumbak, batu yang berciuman. Orang Tionghoa juga mengartikan
Chu She. Nama-nama ini menunjukan pada sifat gaya tarik-menarik dari batu ini.

Batu magnet yang ditemukan dalam bahan tambang adalah Feri Oksida (FeO). Dari bahan ini,
disiapkan magnet buatan. Magnet buatan ini disiapkan dengan tiga macam metode.

Magnet alam digosok pada bahan magnet, sebagai hasilnya-bahan itu bersifat magnet
namun dengan daya yang lemah.
Dalam metode membuat magnet dengan menggunakan listrik, kawat yang terbungkus
isolasi digulungkan mengelilingi sebuah bahan magnet dan arus listrik dialirkan melewati
kumparan ini. untuk periode waktu yang berbeda guna memperoleh kekuatan berbeda.
Proses ini menghasilkan magnet yang lebih kuat.
Ilmuwan merancang mesin yang disebut Magnetiser. yang mengubah bahan magnet
menjadi magnet tanpa menggunakan kawat. Mesin ini umum digunakan dewasa ini untuk
membuat magnet buatan dan magnet untuk menyembuhkan.

1. A.

Magnet permanen

Merupakan bahan-bahan logam tertentu yang jika di magnetisasi maka bahan logam tersebut
akan mampu mempertahankan sifat magnetnya dalam jangka waktu yang lama ( permanen)
Secara umum magnet permanent terbagi atas 4 jenis, yaitu:
1. Ceramic or Ferrite
Jenis magnet ini dapat ditemukan dimana saja khususnya dalam bentuk aksesoris rumah tangga,
seperti magnet aksesoris kulkas, mainan anak-anak, white board, jam dinding,dan lain-lain.
Magnet ini kekuatannya relatif kecil dan kemampuan terapinya sangat lemah dan tidak
dianjurkan untuk digunakan dalam terapi magnet. Harganya murah dan warnanya hitam. magnet
ini adalah magnet paling rendah tingkatannya.
2. Alnico
Jenis magnet ini dapat ditemukan di dalam alat-alat motor (kipas angin, speaker, mesin motor),
juga sering dijumpai dalam perkakas rumah tangga, mainan anak-anak,dan lain-lain. Magnet ini
juga sering dijumpai dalam lab sekolahan bahkan juga dapat ditemukan pada sepatu kuda yang
berfungsi untuk meningkatkan daya lari kuda. Magnet ini kekuatannya relatif sedang dan
kemampuan terapinya sangat lemah dan tidak dianjurkan untuk digunakan dalam terapi magnet.
Harganya murah, magnet ini adalah magnet yang masih termasuk kategori berenergi rendah.
3. Samarium Cobalt (SmCo)
Jenis magnet ini dapat ditemukan di dalam alat-alat elektronik seperti VCD, DVD, VCR Player,
Handphone, dan banyak lagi. Magnet ini kekuatannya relatif kuat dan kemampuan terapinya
biasa saja, jarang digunakan dalam terapi magnet pada umumnya. Harganya cukup mahal.
magnet ini adalah magnet yang termasuk kategori berenergi sedang.

4. Neodymium Iron Boron (NdFeB or NIB)


Jenis magnet ini dikenal juga dengan sebutan King Of Magnet yaitu raja dari segala magnet
permanent yang kita sebut tadi baik dari segi kekuatan magnet, daya terapi, harga, dan manfaat
dalam membantu memulihkan kesehatan tubuh manusia. Magnet ini sangat terkenal diberbagai
bidang kesehatan baik secara fisiotherapy dan pengobatan alternatif, juga digunakan oleh rumah
sakit-rumah sakit (seperti MRI), dan terapi magnet dalam pakar fisiotherapy. Magnet ini sangat
dianjurkan untuk kebutuhan terapi karena memiliki energi yang sangat kuat.
1. B.

Elektromagnet

Merupakan magnet yang terbuat dari bahan ferromagnetik yang jika diberikn arus listrik maka
bahan tersebut akanmenjadi magnet, tetapi jika pemberian arus listrik di hentikan, maka sifat
magnet pada bahan tersebut akan hilang
Elektromagnet adalah prinsip pembangkitan magnet dengan menggunakan arus listrik. Aplikasi
praktisnya kita temukan pada motor listrik, speaker, relay dsb. Sebatang kawat yang diberikan
listrik DC arahnya meninggalkan kita (tanda silang), maka disekeliling kawat timbul garis gaya
magnet melingkar, lihat gambar 1.2 Sedangkan gambar visual garis gaya magnet didapatkan dari
serbuk besi yang ditaburkan disekeliling kawat beraliran listrik, seperti gambar di bawah ini.

Gb.1.2 Sifat elektromagnetik


Sebatang kawat pada posisi vertikal diberikan arus listrik DC searah panah, maka arus menuju
keatas arah pandang (tanda titik). Garis gaya magnet yang membentuk selubung berlapis lapis
terbentuk sepanjang kawat. Garis gaya magnet ini tidak tampak oleh mata kita, cara melihatnya
dengan serbuk halus besi atau kompas yang didekatkan dengan kawat penghantar tsb. Kompas
menunjukkan bahwa arah garis gaya sekitar kawat melingkar. Arah medan magnet disekitar
penghantar sesuai arah putaran sekrup (James Clerk Maxwell, 1831-1879). arah arus kedepan
(meninggalkan kita) maka arah medan magnet searah putaran sekrup kekanan. Sedangkan bila
arah arus kebelakang (menuju kita) maka arah medan magnet adalah kekiri.

Gb.1.3 Garis magnet membentuk selubung seputar kawat berarus.

Gb. 1.4 Prinsip putaran sekrup


Aturan sekrup mirip dengan hukum tangan kanan yang menggenggam, dimana arah ibu jari
menyatakan arah arus listrik mengalir pada kawat. Maka keempat arah jari menyatakan arah dari
garis
gaya
elektromagnet
yang
ditimbulkan.
Arah aliran arus listrik DC pada kawat penghantar menentukan arah garis gaya elektromagnet.
Arah arus listrik DC menuju kita (tanda titik pada penampang kawat), arah garis gaya
elektromagnet melingkar berlawanan arah jarum jam. Ketika arah arus listrik DC meninggalkan
kita (tanda silang penampang kawat), garis gaya elektromagnet yang ditimbulkan melingkar
searah dengan jarum jam (sesuai dengan model mengencangkan sekrup). Makin besar intensitas
arus yang mengalir semakin kuat medan elektro-magnet yang mengelilingi sepanjang kawat
tersebut.

Gb.1.5 Elektromagnetik sekeliling kawat.


Elektromagnet pada Belitan Kawat
Jika sebuah kawat penghantar berbentuk bulat dialiri arus listrik I sesuai arah panah, maka
disekeliling kawat timbul garis gaya magnet yang arahnya secara gabungan membentuk kutub
utara dan kutub selatan. Makin besar arus listrik yang melewati kawat, maka akan semakin kuat
medan elektromagnetik yang ditimbulkannya.

Gb.1.6 Kawat melingkar berarus membentuk kutub magnet


Jika beberapa belitan kawat digulungkan membentuk sebuah coil atau lilitan, dan kemudian
dipotong secara melintang maka arah arus ada dua jenis. Kawat bagian atas bertanda silang
(meninggalkan kita) dan kawat bagian bawah bertanda titik (menuju kita).

Gb.1.7 Belitan kawat membentuk kutub magnet.


Pengujian Benda Kerja dengan metode Magnetic particle inspection ( MPI )
Magnetic particle inspection merupakan suatu cara untuk mengetahui adanya retak atau
cacat yang ada di permukaan (surface atau sub surface discontinuitas) pada bahan-bahan
ferromagnetic. Prinsip kerja pengujian ini didasarkan pada sifat benda-benda ferromagnetic yang
akan memberikan kutub-kutub magnet jika benda tersebut di magnetisasi, adanya kutub magnet
itu akan menyebabkan timbulnya aliran medan magnet dari kutub utara ke kutub selatan. Jika
terdapat cacat pada benda uji maka cacat tersebut akan menyebabkan timbulnya medan magnet
baru, jika cacatnya terletak tegak lurus terhadap arah medan magnet.
Dengan menggunakan metode ini, cacat permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface)
suatu komponen dari bahan ferromagnetik dapat diketahui. Prinsipnya adalah dengan
memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan
menyebabkan kebocoran medan magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya
cacat pada material. Cara yang digunakan untuk memdeteksi adanya kebocoran medan magnet
adalah dengan menaburkan partikel magnetik dipermukaan. Partikel-partikel tersebuat akan
berkumpul pada daerah kebocoran medan magnet.

Gb. 1.8 Skema metode Magnetic particle inspection

Magnetic Testing (MT) / Magnetic Particle Inspection (MPI) digunakan untuk mendeteksi cacat
/ diskontinuitas las-lasan yang berada di permukaan (suface) dan di bawah permukaan (subsurface) dengan kedalaman plus minus 2 mm. Cara kerjanya dengan menggunakan alat yang
disebut Yoke yang didalamnya berisi kumparan / coil yang apabila dialiri arus listrik akan
menghasilkan medan magnet yang fungsinya nanti menarik keluar magnetic flux pada benda uji.
Dimana flux line yang berada pada cacat benda uji akan berpendar (stray) dan menjadi magnetic
attractive poles North dan South. Sehingga menimbulkan medan magnet dan keberadaan cacat
pun bisa terbaca dari sini.
Inspeksi Partikel Magnetik (MPI) digunakan untuk mendeteksi cacat permukaan dan dekatpermukaan bahan ferromagnetic. Sebuah medan magnet diterapkan untuk spesimen, baik lokal
atau keseluruhan, menggunakan magnet permanen, elektromagnet, kabel fleksibel atau genggam
prods. Jika bahan tersebut adalah suara, sebagian besar fluks magnet terkonsentrasi di bawah
permukaan material. Namun, jika cacat hadir, seperti yang berinteraksi dengan medan magnet,
fluks terdistorsi lokal dan kebocoran dari permukaan spesimen di wilayah cacat. Partikel
magnetik Fine, diaplikasikan pada permukaan spesimen, tertarik ke daerah kebocoran fluks,
menciptakan indikasi terlihat cacat. Bahan yang umum digunakan untuk tujuan ini adalah
partikel besi oksida besi hitam dan merah atau kuning. Dalam beberapa kasus, partikel-partikel
besi yang dilapisi dengan bahan fluorescent memungkinkan mereka untuk dilihat di bawah
lampu UV dalam kondisi gelap.
Partikel magnetik biasanya digunakan sebagai suspensi dalam air atau parafin. Hal ini
memungkinkan partikel untuk mengalir di atas permukaan dan untuk bermigrasi ke setiap
kekurangan. Pada permukaan yang panas, atau dimana kontaminasi adalah kekhawatiran, serbuk
kering dapat digunakan sebagai alternatif untuk tinta basah. Pada permukaan gelap, lapisan tipis
cat putih biasanya diterapkan, untuk meningkatkan kontras antara latar belakang dan partikelpartikel magnetik hitam. Teknik yang paling sensitif, bagaimanapun, adalah menggunakan
partikel fluoresen dilihat dalam UV (hitam) cahaya.
MPI sangat sensitif terhadap permukaan-melanggar atau retak dekat-permukaan, bahkan jika
pembukaan retak sangat sempit. Namun, jika retak berjalan sejajar dengan medan magnet, ada
sedikit gangguan medan magnet dan tidak mungkin bahwa retak akan terdeteksi. Untuk alasan
ini disarankan bahwa permukaan pemeriksaan magnetised dalam dua arah pada 90 satu sama
lain. Atau, teknik menggunakan berayun atau memutar medan magnet dapat digunakan untuk
memastikan bahwa semua orientasi retak yang terdeteksi.
Metode magnet tergantung pada geometri komponen dan apakah atau tidak semua atau hanya
sebagian dari spesimen yang akan magnetised. magnet permanen yang menarik untuk
pemeriksaan di lokasi, karena mereka tidak membutuhkan catu daya. Namun, mereka cenderung
hanya digunakan untuk memeriksa daerah yang relatif kecil dan harus ditarik dari permukaan uji.
Meskipun membutuhkan catu daya mereka sendiri, elektromagnet (belenggu) menemukan
aplikasi luas. daya tarik utama mereka adalah bahwa mereka mudah untuk menghilangkan
(setelah saat ini telah dimatikan) dan bahwa kekuatan medan magnet dapat bervariasi. Sebagai
contoh, sebuah elektromagnet AC dapat digunakan untuk berkonsentrasi lapangan pada
permukaan tempat yang membutuhkan. Dipegang tangan listrik prods berguna dalam ruang
terbatas. Namun, mereka menderita dua kerugian besar yang dapat menyingkirkan

penggunaannya sama sekali. Pertama, pemogokan busur dapat terjadi di prod titik kontak dan ini
dapat merusak permukaan spesimen. Kedua, karena partikel harus diterapkan ketika saat aktif,
inspeksi operasi menjadi dua orang. unit Bench adalah tetap instalasi digunakan untuk menguji
sejumlah besar spesimen diproduksi berbagai ukuran. Komponen listrik unit mobile (seperti yang
dijelaskan di atas) yang tergabung dalam unit bangku membuat pengujian lebih cepat, nyaman
dan efisien.
Dalam beberapa kasus, MPI dapat meninggalkan sisa bidang yang kemudian mengganggu
perbaikan pengelasan. Ini dapat dihilangkan dengan perlahan menyeka permukaan dengan AC
yoke energi.
MPI sering digunakan untuk mencari keretakan pada sambungan las dan di daerah-daerah yang
diidentifikasi sebagai rentan terhadap lingkungan retak (misalnya korosi retak tegang atau
hidrogen induced cracking), kelelahan retak atau creep retak. Basah neon MPI menemukan
digunakan secara luas dalam mencari kerusakan lingkungan di bagian dalam kapal.
2.1 Klafsifikasi metode MPI
2.2.1 MPI Dry Visible
Magnetik Particle Inspection Dry Visible atau Partikel magnetik kering biasanya dapat dibeli
dalam banyak warna yaitu merah, hitam, abu-abu, kuning dan banyak lagi sehingga tingkat
tinggi kontras antara partikel dan bagian yang sedang diperiksa dapat dicapai. Ukuran partikel
magnetik juga sangat penting. Produk Partikel magnetik kering diproduksi untuk menyertakan
berbagai ukuran partikel. Partikel halus adalah sekitar 50 mm (0,002 inci) dalam ukuran, dan
sekitar tiga kali lebih kecil dengan diameter lebih dari 20 kali lebih ringan dari partikel kasar
(150 mm atau 0.006 inci). Ini membuat mereka lebih sensitif terhadap bidang kebocoran dari
diskontinuitas yang sangat kecil. Namun, pengujian partikel kering tidak bisa dibuat secara
eksklusif dari partikel-partikel halus. Partikel kasar yang diperlukan untuk menjembatani
diskontinuitas besar dan untuk mengurangi sifat berdebu bubuk itu. Selain itu, partikel kecil
mudah melekat ke permukaan kontaminasi, seperti sisa-sisa kotoran atau uap air, dan terjebak
dalam fitur kekasaran permukaan. Ini juga harus diakui bahwa partikel halus akan lebih mudah
terpesona oleh angin, karena itu, kondisi berangin dapat mengurangi sensitivitas inspeksi. Selain
itu, reklamasi partikel-partikel kering tidak dianjurkan karena partikel kecil cenderung ditangkap
kembali dan pernah digunakan campuran akan menghasilkan inspeksi yang kurang sensitif.
Bentuk partikel juga berpengaruh. Bentuk yang panjang, partikel ramping cenderung
menyesuaikan diri sepanjang garis gaya magnetik. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa
jika serbuk kering hanya terdiri dari bentuk panjang, partikel ramping, proses aplikasi akan
kurang diinginkan. Partikel memanjang berasal dari dispenser di rumpun dan kurangnya
kemampuan untuk mengalir bebas dan membentuk awan yang diinginkan partikel
mengambang pada komponen. Oleh karena itu, partikel bulat ditambahkan yang lebih pendek.
Campuran hasil partikel bulat dan memanjang dalam bubuk kering yang mengalir dengan baik
dan mempertahankan sensitivitas yang baik. Kebanyakan partikel kering campuran memiliki
partikel dengan rasio L / D antara satu dan dua.

Salah satu keuntungan dari inspeksi partikel magnetik ini adalah memiliki beberapa metode
evaluasi yaitu indikasi cacat umumnya menyerupai cacat sebenarnya. Ini tidak terjadi dengan
metode NDT seperti inspeksi saat ultrasonik dan eddy, di mana sebuah sinyal elektronik harus
ditafsirkan. Ketika pemeriksaan partikel magnetik digunakan, retak pada permukaan bagian
muncul sebagai garis tajam yang mengikuti jalan retak. Cacat yang ada di bawah permukaan
bagian yang kurang didefinisikan dan lebih sulit untuk dideteksi. Berikut adalah beberapa contoh
indikasi partikel magnetik diproduksi menggunakan dry particle (partikel kering).

Gb. 1.9 Pengujian logam dengan metode Dry Visible


2.2.2 MPI Wet Visible
Partikel magnetik juga disertakan dalam suspensi basah seperti air atau minyak (Magnetik
Particle Inspection Wet Visible). Metode pengujian partikel magnetik basah umumnya lebih
sensitif daripada kering karena suspensi menyediakan partikel dengan mobilitas lebih banyak
dan memungkinkan partikel yang lebih kecil untuk digunakan karena debu dan kepatuhan ke
permukaan kontaminasi dikurangi atau dihilangkan. Metode basah juga membuatnya mudah
untuk menerapkan partikel merata ke daerah yang relatif besar.
Metode magnetik partikel basah memiliki produk berbeda dari produk serbuk kering dalam
beberapa cara. Salah satu cara adalah bahwa baik partikel terlihat dan neon yang tersedia.
Kebanyakan nonfluorescent partikel oksida besi feromagnetik, yang hitam atau cokelat warna.
Fluorescent partikel yang dilapisi dengan pigmen yang berpendar bila terkena sinar ultraviolet.
Partikel yang berpendar hijau-kuning yang paling umum untuk mengambil keuntungan dari
puncak sensitivitas warna mata tetapi warna neon lainnya juga tersedia.
Partikel digunakan dengan metode basah lebih kecil dalam ukuran daripada yang digunakan
dalam metode kering karena alasan yang disebutkan di atas. Partikel biasanya 10 mm (0,0004
inci) dan lebih kecil dan oksida besi sintetis memiliki diameter partikel sekitar 0,1 mm (0,000004
inci). Ukuran sangat kecil merupakan hasil dari proses yang digunakan untuk membentuk
partikel dan tidak terlalu diinginkan, karena partikel hampir terlalu halus untuk menyelesaikan
keluar dari suspensi. Namun, karena magnetisme sisa sedikit, partikel oksida yang hadir sebagian
besar dalam kelompok yang menyelesaikan keluar dari suspensi jauh lebih cepat dibandingkan
dengan partikel individu. Hal ini memungkinkan untuk melihat dan mengukur konsentrasi
partikel untuk tujuan pengendalian proses. partikel basah juga merupakan campuran ramping
panjang dan partikel bulat.

Solusi pembawa dapat air atau berbasis minyak. pembawa air berbasis bentuk indikasi lebih
cepat, umumnya lebih murah, hadiah kecil atau tidak ada bahaya kebakaran, tidak mengeluarkan
asap petrokimia, dan lebih mudah untuk membersihkan dari bagian tersebut. solusi berbasis air
biasanya dirumuskan dengan inhibitor korosi untuk menawarkan beberapa perlindungan korosi.
Namun, solusi carrier berbasis minyak menawarkan perlindungan embrittlement unggul korosi
dan hidrogen untuk bahan-bahan yang rentan terhadap serangan oleh mekanisme ini.

Gb. 2.0 Pengujian logam dengan metode Wet Visible


2.2.3 MPI Wet Fluorescent
Pengujian logam dengan metode MPI Wet Flourescent pada dasarnya hampir sama dengan
metode Wet visible, hanya metode ini menggunakan serbuk maget yang akan terlihat dengan
sinar UV ( 20 Lux ) dan Black ight ( 1000 Lux ).

Gb. 2.1 Pengujian logam dengan metode Wet Florescent


BAB III
METODE PENGUJIAN
3.1 Instalasi pengujian
Sebelum pengujian dengan menggunakan metode MPI ada beberapa hal yang perlu di persiapkan
yaitu menguji kekuatan yoke terlebih dahlu ( Power Lifting of Yoke ) berdasarkan ASME section

V Article 6 ( T-773,2 ), yaitu untuk arus AC yoke harus mampu mengangkat beban sebesar 4,5
kg ( 10 lb ) pada maximum pole sepacing-nya. Apabila yoke masih dapat mengangkat beban
yang disyaratkan, maka yoke tersebut masih untuk digunakan.
3.2 Prosedur pengujian
3.2.1 Prosedur pengujian MPI Dry Visible
1. Cleaning
Kondisi permukaan harus di perhatikan, permukaan harus kering dan bersih dari segala macam
kotoran yang kiranya dapat mengganggu proses inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.
1. Apply AC/DC yoke
Nyalakan AC/DC yoke, lalu benda kerja mulai di magnetisasi, magnetisasi benda uji
dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk ferromagnetik yang nantinya serbuk
ferromagnetik tersebut akan mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.
1. Aplikasi serbuk magnet
Aplikasi serbuk magnet disesuaikan dengan keadaan permukaan pada benda uji. Serbuk magnet
yang digunakan adalah type kering
1. Inspection
Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji. Selain itu juga dari hasil
pengevalusian kita akan dapat menentukan apakah benda uji harus di perbaiki atau tidak.
1. Demagnetisasi
Demagnetisasi dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan sisa sifat magnet yang terdapat
pada benda uji agar benda uji tersebut tidak akan dapat menarik serbuk-serbuk besi yang
nantinya akan menylitkan proses pembersihan.
Demagnetisasi dapat dilakukan dengan menggunakan arus AC atau DC. Jika menggunakan arus
AC, benda uji dimasukan kedalam koil yan gdi aliri arus AC kemudian di turunkann perlahanperlahan. Jika menggunakan arus DC step down bolak-balik berulang.
1. Post cleaning
Post cleaning dimaksudkan utuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa dari pemberian serbuk
magnetik pada saat pengujian.
3.2.2

Prosedur pengujian MPI Wet Visible

1. Cleaning
Kondisi permukaan harus di perhatikan, permukaan harus kering dan bersih dari segala macam
kotoran yang kiranya dapat mengganggu proses inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.
1. Apply WCP-2
Setelah permukaan dipastikan bersih dan keringg maka dilakukan penymprotan WCP 2 secara
merata. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mendeteksi adanya cacat. Karena warna dari WCP
2 lebih kontras dari pada serbuk ferromagnetik.
1. Apply AC/DC yoke
Nyalakan AC/DC yoke, lalu benda kerja mulai di magnetisasi, magnetisasi benda uji
dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk ferromagnetik yang nantinya serbuk
ferromagnetik tersebut akan mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.
1. Aplikasi serbuk magnet
Aplikasi serbuk magnet disesuaikan dengan keadaan permukaan pada benda uji. Serbuk magnet
yang digunakan adalah type kering.
1. Inspection
Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji. Selain itu juga dari hasil
pengevalusian kita akan dapat menentukan apakah benda uji harus di perbaiki atau tidak.
1. Demagnetisasi
Demagnetisasi dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan sisa sifat magnet yang terdapat
pada benda uji agar benda uji tersebut tidak akan dapat menarik serbuk-serbuk besi yang
nantinya akan menylitkan proses pembersihan.
Demagnetisasi dapat dilakukan dengan menggunakan arus AC atau DC. Jika menggunakan arus
AC, benda uji dimasukan kedalam koil yan gdi aliri arus AC kemudian di turunkann perlahanperlahan. Jika menggunakan arus DC step down bolak-balik berulang.
1. Post cleaning
Post cleaning dimaksudkan utuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa dari pemberian serbuk
magnetik pada saat pengujian.
3.2.3

Prosedur Pengujian MPI Wet Fluorescent

1. Cleaning
Kondisi permukaan harus di perhatikan, permukaan harus kering dan bersih dari segala macam
kotoran yang kiranya dapat mengganggu proses inspeksi seperti karat, oli/gemuk, debu dll.
1. Menyalakan black light
2. Seting penerangan
Atur intensitas uv light ( 20 lux ) dan black light ( 1000 lux )
1. Apply AC/DC yoke
Nyalakan AC/DC yoke, lalu benda kerja mulai di magnetisasi, magnetisasi benda uji
dimaksudkan agar benda uji dapat menarik serbuk ferromagnetik yang nantinya serbuk
ferromagnetik tersebut akan mendeteksi adanya cacat pada benda uji tersebut.
1. Aplikasi serbuk magnet
Aplikasi serbuk magnet disesuaikan dengan keadaan permukaan pada benda uji. Serbuk magnet
yang digunakan adalah type basah.
1. Inspection
Dimaksudkan untuk meneliti bentuk cacat yang terdapat pada benda uji. Selain itu juga dari hasil
pengevalusian kita akan dapat menentukan apakah benda uji harus di perbaiki atau tidak.
1. Demagnetisasi
Demagnetisasi dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan sisa sifat magnet yang terdapat
pada benda uji agar benda uji tersebut tidak akan dapat menarik serbuk-serbuk besi yang
nantinya akan menylitkan proses pembersihan.
Demagnetisasi dapat dilakukan dengan menggunakan arus AC atau DC. Jika menggunakan arus
AC, benda uji dimasukan kedalam koil yan gdi aliri arus AC kemudian di turunkann perlahanperlahan. Jika menggunakan arus DC step down bolak-balik berulang.
1. Post cleaning
Post cleaning dimaksudkan utuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa dari pemberian serbuk
magnetik pada saat pengujian.
BAB IV
ANLISIS HASIL PENGUJIAN

4.1 Sketsa hasil pengujian

4.2 Analisa jenis Cacat


Berdasarkan data yang didapat setelah melakukan praktikkum dengan menggunakan tiga
metode pengujian MPI dapat di simpulkan bahwa cacat yang terdapat pada Las-an kedua acarah
cacat Retakan ( Crack )

Gb .2.2 Cacat retakan pada Las-an

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dalam pengujian sebauah Benda kerja bisa dilakukan dengan dua cara yang pertama adalah
Destructive Testing ( pengujian merusak ) pengujian menggunakan cara ini biasanya digunakan
untuk mengetahui seberapa kuat benda kerja tersebut bisa menahan energi yang di berikan.
Pengujian yang kedua adalah Non Destructive Testing ( pengujian tidak merusak ) pengujian
menggunakan cara ini untuk mengetahui ada tidakny cacat pada benda kerja dengan pengujian
tanpa merusak benda kerja tersebut. Dalam pengujian NDT banyak metode yang bisa digunakan
salah satunya dengan metode Magnetic Particle Inspection. Dengan menggunakan metode ini,
cacat permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) suatu komponen dari bahan
ferromagnetik dapat diketahui. Prinsipnya adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji.
Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan
magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya cacat pada material. Cara yang
digunakan untuk memdeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan
partikel magnetik dipermukaan. Partikel-partikel tersebuat akan berkumpul pada daerah
kebocoran medan magnet. Kelemahannya, metode ini hanya bisa diterapkan untuk material
ferromagnetik. Selain itu, medan magnet yang dibangkitkan harus tegak lurus atau memotong
daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir inspeksi. Sedangkan kelebihan dari metode
ini yaitu Flexible dan mudah pengoperasian dilapangannya. Hanya saja membutuhkan
ketersedian power listrik sebagai power supply untuk bisa melakukan pekerjaan MT / MPI. Dan
metode MT / MPI ini digunakan terbatas hanya untuk mendeteksi cacat yang terbuka yang
berada di permukaan (surface) dan sub-surfacenya saja.

Metode MPI diklasifikasikan menjadi 3 partikel yaitu :


1. Magnetik Particle Inspection Dry Visible
2. Magnetik Particle Inspection Wet Visible
3. Magnetik Particle Inspection Wet Fluorescent
5.2 Saran

Banyak metode yang bisa digunakan dalam pengujian sebuah benda kerja selain
menggunakan MPI, oleh karena itu mohon di realisasikan menggunakan metode lain.
Faktor cahaya dalam metode MPI sangat mempengaruhi hasil dari pengujian benda kerja,
oleh karena itu mohon diperhatikan mengenain unsur sahaya yang terdapad di ruangan
praktik.
DAFTAR PUSTAKA

Assisten, 2011, Modul Praktikum Non Destructive Testing ( NDT ), Cilegon:

Laboratorium Non Destructive Testing ( NDT )

http://www.ndt.org/
http://en.wikipedia.org/wiki/Nondestructive_testing

http://www.b4t.go.id/id/content/view/47/54/

http://www.ndtindonesia.com/

http://wiryanto.wordpress.com/2007/04/18/non-destructive-testing-ndt/

http://en.wikipedia.org/wiki/Magnetic-particle_inspection

http://www.tcreng.com/services/NDT-tests.shtml

http://www.tcreng.com/services/NDT-tests.shtml

http://www.google.co.id/search?
q=magnetic+particle+inspection&hl=id&biw=1192&bih=630&prmd=ivnsb&tbm=isch&t
bo=u&source=univ&sa=X&ei=PG7zTbuvNY68vQOH6LXfBg&ved=0CDkQsAQ
LAMPIRAN

Dokumentasi praktikum
Gb. 2.3 Benda uji

Gb. 2.4 Alat kalibrasi yoke

Gb. 2.5 Hasil dari pengujian