Anda di halaman 1dari 4

Bertani Dengan Visi : Menyiasati Paradox Lahan Pertanian

KATEGORI : ENTREPRENEURSHIP
Published on Wednesday, 13 January 2016 07:12
Oleh : Muhaimin Iqbal

Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk bumi ini, lahan untuk hunian
tentu akan terus bertambah sementara luas daratan bumi tidak bertambah.
Akbibatnya yang menjadi korban pertama adalah lahan-lahan pertanian yang
berubah menjadi lahan hunian. Lantas dari mana manusia yang terus
bertambah tersebut akan memperoleh makanannya ketika lahan semakin
sempit ? Di tahun buah dan sayur yang kami canangkan untuk tahun ini kami
ingin mengajak masyarakat luas untuk ikut memikirkan paradox lahan untuk
bertani ini, dan sekaligus ber-exercise bersama untuk mengatasinya.

Yang saya sebut paradox lahan untuk bertani disini meliputi dua hal, pertama
adalah dari sisi kwantitas lahan yang tersedia untuk bertani faktanya
memang terus berkurang ketika jumlah hunian yang dibutuhkan untuk
tempat tinggal manusia terus bertambah.

Yang kedua adalah di lahan-lahan yang masih tersisa tetapi sudah semakin
mahal karena berpotensi untuk berubah menjadi tempat hunian atau
aktivitas ekonomi lainnya seperti pabrik, jalan dlsb .- aktivitas pertaniannya
justru menurun, dan kalau toh ada hasilnya cenderung lebih rendah.

Untuk yang terakhir ini misalnya saya jumpai di Jawa Barat ada lahan sawah
yang kini nilainya melonjak sampai Rp 400,000 per meter karena
ditengahnya dilalui jalan tol. Apakah ini berdampak baik untuk para petani di
daerah tersebut ? Yang saya jumpai justru sebaliknya.

Petani jadi enggan memakmurkan lahannya seperti dahulu, karena mereka


sudah berangan-angan lahannya akan dibeli orang dengan mahal untuk
diubah menjadi pabrik dlsb.

Hal yang lebih gila lagi saya temui di Jawa Tengah, ada lahan tambak yang
dijual dengan harga Rp 800,000 per meter semata-mata karena ada
rencana pemerintah untuk membangun infrastruktur ekonomi di kabupaten
ybs. Akibatnya tambak-tambak berhenti diolah dan para pemiliknya sudah

berangan-angan untuk segera mendapatkan uang yang sangat banyak dari


hasil penjualannya.

Peluang pekerjaan jenis baru belum pasti munculnya kapan, sementara


pekerjaan lama yang sudah pasti mulai ditinggalkan seperti pepatah
mengharapkan burung yang terbang tinggi sementara punai di tangan
dilepaskan.

Bukan hanya pemilik lahan yang harga lahannya melonjak tinggi yang
menjadi korban, masyarakat setempat yang biasa bekerja di sektor
pertanian juga kehilangan pekerjaannya. Dari fenomena inilah yang apabila
tidak diatasi akan menimbulkan loss generation di dunia pertanian.

Anak-anak petani saja enggan bekerja di pertanian, apa mungkin anak-anak


orang kota mau terjun ke dunia pertanian ? Lantas dari mana kita semua
akan bisa mengamankan kebutuhan pangan kita bila fenomena ini terus
berlanjut tanpa solusi ?

Saya melihat inilah salah satu fardhu kifayah kita di zaman ini, sebuah
pekerjaan yang apabila semuanya tidak ada yang melaksanakan
dampakkanya akan dirasakan oleh seluruh umat. Dampak berupa bahan
pangan yang harus diimpor, bahan pangan yang kita ragukan keamanannya
bagi kesehatan jangka panjang, dampak berupa ketidak mandirian ekonomi
dlsb.

Berangkat dari pemikiran fardhu kifayah inilah team kami melakukan


berbagai perjalanan, kajian dan business plan yang insyaallah siap
dieksekusi tahun ini dengan tema tahun buah dan sayur tersebut di atas.

Dari hasil eksplorasi kami yang mengejutkan kami sendiri adalah insyaAllah
tahun ini kami akan bisa bertani bersama Anda yang berminat di tanahtanah yang masuk akal harganya, maupun di tanah yang tidak masuk akal
harganya.

Termasuk yang kami anggap masuk akal adalah adanya temuan kami di
suatu wilayah yang jaraknya kurang dari radius 200 km dari Jakarta, dengan

jarak tempuh sekitar 2.5 jam dari Jakarta ketika jalan tol selesai dibangun
sesuai target 2018. Di tempat ini kita masih akan bisa bertani di berhektarhektar lahan dengan harga yang tidak melebihi harga sebuah mobil kijang
baru. Bahkan Anda bisa bergabung untuk membeli lahan-lahan ini bersama
kami bila tertarik.

Tempat-tempat seperti ini berpeluang untuk menjadi sentra buah dan sayur
baru untuk mentarget pasar Jakarta, Jawa Barat dan Banten yang kini
sudah tersambung seperti satu kota yang luar biasa besarnya dengan total
penduduk sekitar 64 juta jiwa atau setara penduduk kerajaan Inggris !

Di titik ekstrem yang lain yang masih termasuk di business plan buah dan
sayur kami tahun ini, adalah insyaAllah kami juga akan mulai bertani di
tanah yang paling mahal di negeri ini. Di tanah yang harga per meter-nya
setara satu mobil baru kelas entry level Rp 150 jutaan !

Masih ada tanah wakaf yang hijau di pusat kota Jakarta yang para
konglomerat selalu ngiler melihatnya. Bersama pengelola tanah wakaf yang
bersangkutan, kami ingin menjadikan area tersebut pusat percontohan yang
kami sebut the ultimate urban farming. Untuk menjadi model bahwa kita
masih akan bisa bertani dengan return yang menarik bahkan di pusat kota
dengan harga tanah yang paling mahal sekalipun.

Bagi Anda yang sehari-hari ngantor di pusat segitiga emas bisnis Jakarta,
Thamrin Sudirman Gatot Subroto dan Kuningan, bagaimana kalau dalam
beberapa bulan mendatang Anda sudah bisa menikmati makan siang berupa
full scale main entre salad (salad yang menjadi menu makanan utama bukan makanan pembuka, makanan samping atau penutup) yang sayurnya
baru dipetik ketika Anda memesan salad Anda ? InsyaAllah akan menarik
dan akan memiliki segmen pasar tersendiri.

Dari dua contoh tersebut yang ingin saya sampaikan adalah bahwa
meskipun secara umum tanah-tanah pertanian ditinggalkan pemiliknya
karena berubah menjadi tanah hunian, pabrik dan sejenisnya, insyaAllah kita
tetap akan bisa bertani dimana saja.

Harus ada sebagian kita yang mau melakukan ini karena bila semuanya tidak
lagi tertarik untuk bertani dan berkreasi di pertanian ini, ketahanan pangan
kita akan semakin lemah. Kalau ketahanan pangan kita lemah, umat secara
keseluruhan menjadi lemah dan mudah sekali dikuasai atau dijajah oleh
bangsa atau umat yang lain. Semoga saja tidak terjadi yang kita kawatirkan
ini.