Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kejahatan seksual yang menyangkut persetubuhan tertera
pada bab XIV Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang
kejahatan terhadap Kesusilaan; yang meliputi baik persetubuhan
didalam perkawinan maupun persetubuhan diluar perkawinan. Ada
pula

bentuk-bentuk

kelainan

persetubuhan

seperti

sodomi,

homoseksuslisme, lesbianisme, incest, dan bestialisme yang dapat


dikaitkan dengan kejahatan seksual.
Khusus mengenai perkosaan, berdasarkan KUHP pasal 285,
dapat didefinisikan sebagai persetubuhan disertai tindak kekerasan
dan ancaman kekerasan terhadap seorang wanita dan dilakukan
diluar perkawinan. Termasuk dalam katagori kekerasan disini adalah
dengan sengaja membuat pingsan atau tidak berdaya (pasal 89,
KUHP). Suatu kejahatan seksual menyangkut perkosaan perlu
diperjelas keterkaitannya antara bukti yang diemukan ditempat
kejadian perkara, bukti pada tubuh korban termasuk pakaian, bukti
pada tubuh atau pakaian pelaku, dan bukti pada alat yang
digunakan untuk kejahatan ini.
Visum et repertum yang dibuat oleh dokter diharapkan dapat
membuat suatu pembuktian . Upaya pembuktian secara kedokteran
forensic pada setiap kasus kejahatan seksual sebenarnya terbatas
didalam

upaya

pembuktian

ada

tidaknya

tanda-tanda

persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, pemeriksaan


umur serta pembuktian apakah seseorang pantas atau sudah
mampu untuk dikawini atau tidak.1
Anamnesa terhadap korban kejahatan seksual penting dalam
upaya penyidikan.

Ananmesa dilakukan untuk melengkapi data

pembuatan visum hidup kasus perkosaan. Dari hasil anamnesa


dapat diketahuai jati diri dan latar belakang korban, kronologis
terjadinya perkosaan, dan keterangan lain yang dapat membantu
penyidikan.
Pemeriksaan pada tubuh korban yang hidup/meninggal untuk
pembuktian adanya kekerasan dilakukan pada seluruh permukaan
tubuh dan organ di perineum. Pemeriksaan didaerah genital
dilakukan

untuk

memastikan

adanya

persetubuhan

dikonsentrasikan terutama pada vulva dan anus.


Tanda pasti adanya persetubuhan adalah ditemukannya
sperma didalam liang vagina dan anus. Apabila tanda pasti
persetubuhan

tidak

ditemukan

maka

ada

dua

kemungkinan:

memang tidak tejadi persetubuhan atau persetubuhan ada tetapi


tanda-tandanya tidak dapat ditemukan.Ditemukan tidaknya sperma
tergantung pada beberapa faktor, meliputi selang waktu antara
terjadinya kejahatan seksual dengan pemeriksaan fisik, apakah si
pelaku kejahatan menderita azoospermia atau tidak, apakah korban
sebelum pemeriksaan telah mandi atau belum, apakah si pelaku
mengalami ejakulasi atau tidak atau pelaku telah mengalami
vasektomi atau tidak.
Prosedur pemeriksaan kasus kejahatan seksual

yang baik

tergantung dari cara memeriksa korban dan barang bukti lain, dan
waktu

dilakukannya

pemeriksaan.

Dalam

memeriksa

kasus

perkosaan faktor etika juga harus diperhatikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi dan Tinjauan Hukum
Kejahatan seksual (sexual offences) merupakan salah satu
bentuk dari kejahatan yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan
nyawa manusia, berkaitan erat dengan Ilmu Kedokteran, khususnya
Ilmu

Kedokteran

Forensik;

yaitu

dalam

upaya

pembuktian

bahwasanya kejahatan tersebut memang telah terjadi. Adanya


kaitan

antara

kedokteran

dengan

kejahatan

seksual

dapat

dipandang sebagai konsekuensi dari pasal-pasal di dalam KUHP


serta KUHAP, yang memuat ancaman hukuman serta tatacara
pembuktian pada setiap kasus yang termasuk di dalam pengertian
kasus kejahatan seksual. 1
Di dalam upaya pembuktian secara kedokteran forensik,
faktor keterbatasan di dalam ilmu kedokteran dapat sangat
berperan, demikian halnya dengan faktor waktu serta faktor
keaslian dari barang bukti (korban), maupun faktor-faktor dari si
pelaku kejahatan seksual itu sendiri. Upaya pembuktian secara
kedokteran

forensik

pada

setiap

kasus

kejahatan

seksual

sebenarnya terbatas di dalam upaya pembuktian ada tidaknya


tanda-tanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan,
perkiraan umur serta pembuktian apakah seseorang itu sudah
pantas/ sudah mampu untuk dikawini atau tidak.1
Kejahatan

seksual

dapat

dibagi

menjadi

perkosaan,

pelanggaran seksual yang tidak wajar, kelainan seksual. Yang


termasuk pelanggaran seksual yang tidak wajar ialah incest,

sodomi,

lesbianisme/homoseksualisme,

bestialitas,

dan

koitus

buccal. Sedangkan yang termasuk dalam kelainan seksual meliputi


sadisme masochisme, fetihisme, exhibitionisme, dan masturbasi.2
Pengertian kelainan seksual yang termasuk dalam kejahatan
seksual ialah kelainan yang dipertontonkan di depan umum
dan melanggar kesusilaan, dikenakan hukuman sesuai
dengan KUHP pasal 281: Diancam dengan pidana paling
lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah: (1) Barang siapa
dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan (2)
Barang siapa dengan sengaja dan di muka orang lain yang
ada

di

situ

bertentangan

kehendaknya,

meanggar

kesusilaan.

Incest, adalah tindakan penguasaan secara seksual pada


wanita oleh pria yang masih mempunyai hubungan darah
dan bertentangan dengan masyarakat, misalnya, seorang
ayah dengan anak perempuannya, kakek dengan cucu
perempuannya, ayah tiri dengan anak tiri perempuannya.
Hukum mengenai incest diatur dalam KUHP pasal 294 (1) :
Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya,
anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya
yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikannya
atau penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan
bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur,
diancam, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Sodomi, adalah suatu hubungan seksual yang dilakukan


melalui anus

Lesbianisme dan homoseksualisme adalah hubungan dengan


sesama jenis wanita dan sesama jenis pria. Mengenai

lesbianisme ndan homoseksualisme diatur dalam KUHP


pasal 292 : Orang yang cukup umur, yang melakukan
perbuatan cabul dengan orangn lain sama kelamin, yang
diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum cukup
umur diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun. Batasan dewasa bila umur kurang dari 21 tahun.

Bestialisme, adalah persetubuhan yang dilakukan terhadap


binatang

Koitus buccal, yaitu alat kelamin pria dimasukkan ke dalam


rongga mulut
Aspek hukum perkosaan di Indonesia diatuur dalam pasal

285 KUHP yang berbunyi : Barangsiapa dengan kekerasan atau


ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan
dia di luar pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan,
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Berdasarkan
pasal

tersebut,

maka

perkosaan

dapat

didefinisikan

sebagai

persetubuhan secara paksa dengan kekerasan atau ancaman


kekerasan

terhadap

seorang

wanita

yang

dilakukan

di

luar

perkawinan.
Kekerasan yang dimaksud di atas adalah sesuai dengan
KUHP pasal 89 dan Pasal 286. Pasal 89 berbunyi : Membuat orang
pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan. Sedangkan dalam KUHP pasal 286 disebutkan :
Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar pernikahan,
padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau
tidak

berdaya

diancam

dengan

pidana

penjara

paling

lama

sembilan tahun.
Di samping itu, terdapat syarat-syarat yang menentukan
adanya kasus perkosaan, yaitu : korban bukan istri pelaku, si

perempuan dipaksa untuk melakukan persetubuhan dengan pelaku,


dan karena adanya penolakan dari si perempuan serta ia melakukan
perlawanan,

maka

untuk

menggunakan

kekerasan

mencapai

atau

ancaman

tujuannya,
kekerasan

pelaku
3

Untuk

mendapatkan suatu kasus perkosaan, di dalam laporan visum et


repertum harus dapat dibuktikan bahwa pada wanita telah terjadi
kekerasan dan persetubuhan.1
Persetubuhan dalam ilmu kedokteran didefinisikan sebagai
penetrasi yang seringan-ringannya alat kelamin laki-laki ke dalam
alat kelamin perempuan, dengan atau tanpa mengeluarkan cairan
mani yang mengandung sel mani 4. Menurut Mclay, persetubuhan
adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam
vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan
dengan atau tanpa disertai ejakulasi. Cairan semen akan mengisi
saluran vagina pada saat terjadi ejakulasi sewaktu persetubuhan.
Ditemukannya spermatozoa dalam apusan vagina,

membuktikan

terjadinya hubungan seksual.


Di dalam KUHP tidak diberi batasan persetubuhan, hanya
dibedakan antara persetubuhan dengan perbuatan cabul sebagai
pengganti.

Perbuatan

cabul

adalah

segala

perbuatan

untuk

membangkitkan nafsu birahi atau nafsu seksual.3


Mengenai perbuatan cabul diatur dalam KUHP pasal 290
yaitu: Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun :
(1). Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang
padahal diketahui, bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya. (2).
Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal
diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum
lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum
mampu dikawin. (3). Barangsiapa membujuk seseorang yang

diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum lima


belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum
mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan
perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar pernikahan dengan orang
lain.
Pihak penyidik atau polisi bila mendapat informasi mengenai
kejahatan

seksual

dari

siapapun,

sudah

dapat

melakukan

penyidikan tanpa menunggu adanya laporan atau pengaduan dari


korban. Jika ternyata perkara merupakan delik, maka penyidikan
dapat

dilanjutkan,

sedangkan

bila

merupakan

delik

aduan,

penyidikan harus dihentikan dan hanya dilanjutkan setelah ada


pengaduan dari korban. Kasus perkosaan merupakan delik aduan
apabila korban sudah cukup umur, dan merupakan delik apabila si
perempuan belum berumur duabelas tahun, atau si perempuan
mengalami luka berat atau meninggal dunia dan bila ada unsur
yang memenuhi KUHP pasal 294.

Penjelasannya dapat ditinjau

dari pasal-pasal dalam KUHP sebagai berikut :


KUHP Pasal 287

(1)Barangsiapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar


perkawinan, padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga,
bahwa umurnya belum limabelas tahun atau kalau umurnya
tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
(2)Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika
umur perempuan belum sampai duabelas tahun atau jika ada
salah satu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.
KUHP Pasal 291

(1)Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286,


287, 289 dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan
pidana penjara paling lama duabelas tahun
(2)Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285,
286, 287, dan 290 mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana
penjara paling lama limabelas tahun.
KUHP Pasal 294

(1)Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya,


anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya
yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikannya
atau penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan
bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur,
diancam, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(2)Diancam dengan pidana yang sama
1)

Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan


orang yang karena jabatannya adalah bawahannya
atau

dengan

orang

yang

penjagaannya

dipercayakan atau diserahkan kepadanya.


2)

Seorang

pengurus,

dokter,

guru,

pegawai,

pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat


pekerjan negara, tempat pendidikan rumah piatu,
rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial
yang melakukan perbuatan cabul dengan orang
yang dimasukkan ke dalamnya.
2.2.

Insidensi kasus
Belum

diketahui

angka

yang

pasti

untuk

insidensi

perkosaan, karena banyak wanita korban perkosaan yang tidak


melaporkan kejadiannya. Kebanyakan korban memilih untuk diam

daripada harus menghadapi interogasi polisi, pemeriksaan medis,


pengadilan, dan kemungkinan penghinaan dari masyarakat.

Pada saat pemeriksaan, korban akan menjadi korban untuk


kedua kalinya, karena harus menceritakan kembali apa yang
dialaminya. Diduga hanya empat kasus yang dilaporkan dari
sepuluh kasus yang terjadi. Korban perkosaan rata-rata berumur
antara 15-26 tahun, dan sekitar 80% dari mereka belum menikah,
bercerai atau hidup terpisah dari keluarga.

2.3. Vulva dan Vagina


2.3.1.Vulva
Organ reproduksi eksterna

yang sering disebut sebagai

vulva, mencakup semua organ yang dapat terlihat dari luar, mulai
dari pubis sampai perineum, yaitu mons pubis, labia mayora dan
minora,

klitoris,

himen,

vestibulum,

kelenjar serta pembuluh darah.

meatus

uretra,

berbagai

Himen atau selaput dara adalah lapisan yang tipis dan


menutupi sebagian besar dari introitus vagina. Pada wanita dewasa
yang masih gadis, tebal himen bervariasi dan selaput ini menutupi
hampir seluruh liang vagina. Lubang pada himen mempunyai
diameter yang bervariasi, mulai dari sebesar jarum sampai dapat
dilewati satu atau bahkan dua jari. Lubang himen biasanya
berbentuk bulan sabit atau bulat, kadangkala berupa banyak lubang
kecil, dan dapat pula berupa celah atau berumbai tidak beraturan.
Biasanya, himen robek pada beberapa tempat sewaktu coitus yang
pertama kali, seringkali di bagian posterior. Kadangkala, robeknya
himen dapat disertai dengan perdarahan yang hebat.6,5
Perubahan pada hymen yang disebabkan koitus seringkali
mempunyai arti mediko-legal yang penting, khususnya pada

persangkaan perkosaan dimana dokter diminta untuk memeriksa


korban dan memberikan kesaksian sehubungan dengan temuan
fisik. Pada gadis yang diperiksa beberapa jam setelah persangkaan
perkosaan,

ditemukannya

ditemukannya

titik-titik

laserasi

himen

yang

perdarahan atau abrasi

masih
pada

baru,
himen,

merupakan bukti yang mendukung adanya penetrasi vagina belum


lama berselang dengan kemungkinan karena persetubuhan.

2.3.2. Vagina
Vagina merupakan suatu jaringan muskulomembranosa
berbentuk tabung yang memanjang dari vulva ke uterus, berada di
antara kandung kemih di anterior dan rektum di posterior. Fungsi
dari vagina antara lain sebagai saluran keluar dari uterus, dilalui
sekresi uterus, dan kotoran menstruasi; sebagai alat persetubuhan
dan sebagai bagian jalan lahir saat persalinan.5
2.4. Reaksi fisiologis hubungan seksual
Reaksi pertama pada wanita yang mengalami rangsangan
seksual adalah diproduksinya getah lendir vagina, pembesaran
labia, pemanjangan serta pelebaran vagina. Perubahan ini hanya
bersifat sementara dan jarang berlangsung lama setelah orgasme.
Lendir vagina merupakan hasil transudasi (sweating phenomenon)
di

seluruh

rangsangan

vagina,
seksual

dimana

produksinya

menghilang,

mengering dengan cepat.

akan

akhirnya

berhenti

getah

bila

tersebut

Selaput dara biasanya robek pada hubungan seksual yang


pertama kali. Namun dapat pula terjadi hubungan seksual tanpa
menimbulkan kerusakan pada selaput dara, bila introitus vagina
cukup lebar. Hasil penelitian klinis menunjukkan bahwa rasa sakit

10

biasa timbul pada waktu terjadi deflorasi, namun perdarahan yang


timbul, baik dari selaput dara atau fourchet sangat sedikit. Tidak
adanya perdarahan menunjukkan juga bahwa introitus vagina telah
mengalami regangan tanpa terjadi robekan, atau terjadi robekan
pada jaringan avaskuler.

Bukti adanya deflorasi tidak selalu dapat ditemukan. Minimal


ditemukan robekan kecil pada selaput dara yang tidak meluas ke
perifer. Mungkin pula ditemukan robekan kecil yang telah sembuh
yang disebabkan penggunaan tampon dalam vagina. Selain itu,
selaput dara juga dapat robek oleh jari tangan atau benda lain.

Tidak terdapatnya robekan pada selaput dara, tidak berarti


bahwa pada wanita tidak terjadi penetrasi penis, sebaliknya adanya
robekan hanya merupakan pertanda adanya sesuatu benda tumpul
yang masuk ke dalam vagina. Proses penyembuhan dari selaput
dara yang robek pada umumnya dicapai dalam waktu 7-10 hari
setelah penetrasi terjadi.

4,1

Selama persetubuhan, pada saat terjadi ejakulasi, cairan


semen akan mengisi saluran vagina. Perubahan posisi pada wanita
dapat menyebabkan cairan semen keluar lagi dan membuat noda
pada rambut pubis, perineum, paha bagian atas, juga seprai atau
celana dalam. Ejakulasi di luar vagina dapat menyebabkan deposit
cairan semen pada berbagai bagian dari tubuh.

Setelah ejakulasi terjadi, sperma di dalam liang vagina masih


dapat bergerak dalam waktu 4-5 jam. Sperma yang tidak bergerak
masih dapat ditemukan sampai sekitar 24-36 jam setelah ejakulasi.
Meskipun korban (perempuan) telah mati, sperma masih dapat
ditemukan sampai 7-8 hari.

2.5.Pemeriksaan Korban Perkosaan

11

Pemeriksaan
pemeriksaan

riwayat

terhadap
korban,

korban

perkosaan

pemeriksaan

fisik,

meliputi

pemeriksaan

adanya persetubuhan, pemeriksaan adanya kekerasan.


Selaput dara
Utuh

Sperma
Dalam pintu liang

Kesan
Tanda-tanda ejakulasi

Lubang sebesar

sanggama

dipintu, tapi tidak

ujung jari

terdapat masuknya
kelamin pria.
Tidak dapat
dikatakan telah

Utuh

Tidak ada

Lubang sebesar
ujung jari
Utuh

terjadi persetubuhan.
Tidak terdapat tandatanda persetubuhan.

Tidak ada

Tidak terdapat tanda-

Lubang sebesar dua

tanda persetubuhan

jari

yang baru (3-6 hari

Robekan segar /baru

Dalam liang

terakhir)
Terdapat tanda-tanda

sanggama

persetubuhan yang

Dalam liang

baru
Terdapat tanda-tanda

sanggama

persetubuhan yang

Tidak ada

baru
Robekan disebabkan
oleh masuknya
kelamin pria dalam
ereksi atau benda
tumpul yang
menyerupai.
Tidak ada sperma

12

belum menyingkirkan
telah terjadi
Dengan satu atau

persetubuhan
Persetubuhan pernah

Tidak ada

beberapa robekan

terjadi pada waktu

lama dan dapat

yang lampau
Terdapat tanda-tanda

Dalam liang

dilalui dengan dua

sanggama
persetubuhan baru
jari
Sumber : Aspek-aspek fisik/medis sarta peran pusat krisis dan
trauma dalam penanganan korban tidak kekerasan, Syaiful Saanin.
IRD RS Dr. M. Djamil, Padang.8
2.5.1 Pemeriksaan Riwayat Korban
Manfaat

pemeriksaan

riwayat

korban

adalah

untuk

mengarahkan dokter untuk kepentingan penyidikan. Tetapi data dari


hasil pemeriksaan riwayat korban tidak dapat dijadikan sebagai alat
bukti, kecuali didukung oleh adanya bukti yang ditemui atau
disertakan dalam penyidikan.
Pemeriksaan riwayat korban dilakukan melalui anamnesa
dengan korban, dengan keluarga korban, atau kerabat dari korban.
Anamnesis meliputi :

a. Umum
Nama , umur, tanggal lahir, pekerjaan
Status perkawinan : belum kawin/kawin/cerai
Tanggal haid terakhir, haid pertama kali pada umur berapa,
bila tidak haid apakah sedang hamil
Kehamilan, persalinan dan keguguran berapa kali

13

Persetubuhan : pernah atau belum pernah, yang terakhir


sebelum kejadian ini pada tanggal dan jam berapa, apakah
digunakan kondom.
Apakah biasa menggunakan obat anti konsepsi, obat tidur,
obat penenang dan narkotika
Penyakit yang pernah dialami : epilepsi, sinkop, pingsan,
penyakit kandungan, penyakit kelamin dan lain-lain
Minuman keras : macam dan berapa banyak, waktunya
b. Khusus
Pada anamnesis khusus perlu terjawab pertanyaan-pertanyaan di
bawah ini :
Apa yang terjadi? Apakah pria menggunakan kekerasan?
Kekerasan

macam

apakah?

Apakah

diancam?

Secara

bagaimana? Apakah menjerit meminta pertolongan? Apakah


melawan dan telah mencederai pria itu? Bila tidak melawan,
apa

sebabnya?

bagaimana?

Apa

Apakah
yang

pingsan,

diminum

dan

terjadinya
dimakan

secara
sebelum

kejadian? Apakah terasa penetrasi penis, di vulva saja atau di


vagina? Apakah terasa nyeri dan terjadi perdarahan? Apakah
terjadi

ejakulasi

semen?

Setelah

terjadi

itu

apa

yang

dilakukan? Apakah sudah membasuh kemaluan, mandi dan


mengganti pakaian?
Bilamana? Terjadi pada tanggal dan jam berapa? Melapor/
mengadu kepada polisis pada tanggal dan jam berapa? Bila
tidak cepat melapor apa sebabnya?
Dimana? Tempat terjadinya persetubuhan?
2.5.2 Pemeriksaan Fisik

14

Secara umum dokter bertugas mengumpulkan bukti adanya


kekerasan, keracunan, tanda-tanda persetubuhan, penentuan usia
korban, dan pelacakan barang bukti. Jadi selain evaluasi medis dan
pengobatan, dihimpun data-data yang nantinya digunakan sebagai
barang bukti.
Pemeriksaan fisik dilakukan oleh dokter yang mempunyai
wewenang yaitu dokter yang telah memenuhi syarat secara yuridis,
bersama paling sedikit satu orang perawat atau saksi. Pakaian
korban harus dibuka saat pemeriksaan, dan pemeriksaan yang
cermat dilakukan di seluruh bagian tubuh korban. Selanjutnya
pemeriksaan yang lebih cermat dilakukan pada bagian tubuh
tertentu.

Pemeriksaan

pada

terutama pada vulva dan anus.


Pemeriksaan fisik meliputi :
1.

daerah

genital

dikonsentrasikan

Pakaian diperiksa helai demi helai, apakah dalam keadaan rapi


atau tidak, terdapat robekan lama atau baru, kancing terputus,
bercak darah, air mani dan ada atau tidaknya trace evidence.

2.

Pemeriksaan tubuh korban meliputi

pemeriksaan umum.

Lukiskan penampilan, rambut dan wajah, rapi atau kusut, cara


berjalan, adakah tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran,
keadaan emosional, apakah dalam pengaruh obat penenang,
narkotika

dan

minuman

keras.

Perhatikan

tanda

perkembangan alat kelamin sekunder, tinggi dan berat badan,


perkiraan umur, tekanan darah, keadaan paru, jantung dan
abdomen.

Luka-luka

seluruh

tubuh

diperiksa

dan

harus

ditentukan letak, sifat, ukuran dan warnanya, sedapat mungkin


ditentukan umur luka.
3.

Pada

pemeriksaan

mata

perhatikan

pupil,

miosis

atau

midriasis, pin-point pupil dan refleks cahaya. Pada mulut

15

perhatikan bekas pembungkaman. Pada leher perhatikan


berkas cekikan.
4.

Pada payudara perhatikan bekas gigitan dan remasan. Pada


perut perhatikan bekas persentuhan dengan benda tumpul.
Pada punggung perhatikan bekas landasan yang tidak rata
karena korban dipaksa berbaring.

5.

Pada lengan perhatikan bekas tangisan, bekas suntikan di


lekuk siku dan punggung tangan. Kuku jari tangan diperiksa
apakah yang patah (merupakan petunjuk bahwa wanita telah
melakukan perlawanan). Bahan yang terdapat dibawah ujung
kuku dikerok dan ditampung pada kertas putih dan bersih.

6.

Pada tungkai bawah perhatikan bekas suntikan. Pada paha


perhatikan adanya kekerasan pada bagian medial akibat
merenggangkan kedua paha yang dihimpitkan korban.

7.

Pemeriksaan bagian khusus (daerah genital) meliputi ada


tidaknya rambut asing pada kemaluan, rambut kemaluan yang
saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering,
bercak air mani di sekitar alat kelamin. Perhatikan pada vulva
adanya tanda-tanda bekas kekerasan seperti hiperemi, edema,
memar, luka lecet (goresan kuku). Perhatikan introitus vagina
apakah hiperemi atau oedema. Perhatikan jenis selaput darah,
ditentukan bentuknya utuh atau menunjukkan suatu celah,
ada tidaknya ruptur, baru atau lama dan catat lokasinya.
Tentukan besar orifisium, sebesar ujung jari kelingking, jari
telunjuk atau dua jari. Perhatikan frenulum labiorum pudendi
dan kommisura labiorum posterior, utuh atau tidak.

8.

Pemeriksaan kehamilan dan toksikologi terhadap urin dan


darah dilakukan bila ada indikasi.

16

9.

Pemeriksaan pria tersangka dilakukan terhadap pakaian, cata


adanya

bercak

semen dan darah. Bercak

semen

tidak

mempunyai arti dalam pembuktian. Darah mempunyai nilai


karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Penentuan
golongan

darah

penting

untuk

dilakukan

pemeriksaan

terhadap sel epitel vagina pada gland penis. Pemeriksaan


sekret uretra untuk menentukan adanya penyakit kelamin.
2.5.2.1 Pemeriksaan Fisik Pada Anak
Secara normal setiap anak perempuan lahir dengan himen
atau selaput dara. Apabila pada pemerikssan ditemukan hymen
yang menipis, hilang sebagian, atau robek, maka dapat disimpulkan
bahwa telah terjadi trauma. Trauma karena penetrasi jari, benda,
dan atau penis karena kekerasan seksual sangat khas lokasinya
dibanding trauma karena jatuh atau terbentur benda. Trauma koital
mengakibatkan robekan posterior, transeksi dan abulsi jaringan
selaput dara antara jam 3.00 dan jam 9.00. Sobekan yang dalam
antara jam 5.00 dam 7.00 umunya terjadi sesudah penetrasi penis,
yang kadang meluas ke fourchette posterior.

10

Pada bagian eksternal dari organ genital biasanya ditemukan


luka tergores, tercakar, terkoyak, bengkak, memar, pendarahan,
sampai pernanahan. Pada daerah vulva dan anus juga harus
diperhatikan adanya suatu dilatasi, robekan pada labia, pelebaran
orificium vagina, robekan dinding vagina, robekan dinding vagina,
robekan selaput dara, distensi saluran vagina, cairan sperma di
bagian kulit dan rambut pubis yang apabila ditemukan selanjutnya
dilakukan

pemeriksaan

sediaanya

di

laboratorium

secara

mikroskopik, apabila ditemukan rambut harus diperiksa apakah


rambut itu rambut korban atau rambut pelaku, dan apabila

17

ditemukan bercak darah harus diambil sediaannya untuk diperiksa


dan dicocokkan golongan darahnya.

Dalam beberapa hari, cedera pada daerah genital, termasuk


luka

robek

pada

selaput

dara

dapat menyembuh,

sehingga

keterlambatan pemeriksaan kasus perkosaan dapat mengurangi


bukti yang ditemukan saat dilakukan visum oleh dokter. Tetapi anak
tersebut mungkin memperlihatkan tanda-tanda telah terjangkit
penyakit menular seksual.

Apabila pelaku menderita penyakit yang serupa, dan bila


ternyata si pelaku terbukti memungkinkan untuk menularkannya
pada korban, maka ini dapat dijadikan barang bukti (coborative
accident) untuk menuntut pelaku. Oleh karena itu dilakukan pula
pemeriksaan tanda-tanda penyakit menular seksual pada korban
saat dilakukan pemeriksaan fisik.

2.5.2.2 Pemeriksaan pada Wanita Dewasa


Pemeriksaan dilakukan dengan cara yang sama dengan
pemeriksan yang dilakukan pada anak-anak, namun cedera yang
ditemukan dapat berbeda.Salah satu hal yang mempengaruhi
adalah

kematangan

fisik,

termasuk

alat

genitalnya.

Seorang

perawan yang diperkosa dapat memperlihatkan cedera berat pada


daerah genital dalam bentuk lecet atau robek pada orificium
vagina, distensi dari saluran vagina dan robekan selaput dara. Pada
wanita yang telah menikah, cedera yang ditemukan pada genital
biasanya ringan, namum luka lecet dapat ditemukan pada bagian
tubuh lainnya.

Sering terjadi kasus pengaduan perkosaan pada korban oleh


kekasihnya sendiri yang sebelumnya sering melakukan hubungan
seksual, maka pada pemeriksaan fisik sama sekali tidak ditemukan

18

bukti adanya kejahatan seksual. Dalam hal ini pemeriksaan riwayat


sangat memegang peranan untuk pembuktian.

Selaput dara adalah sebuah lembaran jaringan ikat mulai dari


pintu vagina dan menutup pintu itu sebagian, menyisakan suatu
lubang biasanya dapat dilalui oleh sebuah jari. Konsistensi dan
bentuk selaput dara sangat bervariasi. Bentuk yang umum adalah
bulan sabit (crescentic) atau sirkuler, bantuk yang lain adalah
anuler, linier, septa, imperforata. Mungkin pula berserta dengan dua
lubang atau lebih, cribiformis dengan gambaran sebuah diafragma
dengan

banyak

lubang-lubang

kecil,

atau

fimbriatum

yang

bertakuk-takuk pada pinggiran bebasnya. Karena banyaknya bentuk


selaput dara ini, kadang-kadang sulit untuk menentukan cedera
tidaknya selaput dara ini.

Kapasitas introitus vagina yang masih intak terutama pada


usia

wanita

yang

sangat

muda

adalah

tidak

cukup

untuk

memungkinkan penetrasi penis pria dewasa yang ereksi tanpa


timbulnya cedera. Terlebih apabila dilakukan dengan kekerasan,
paksaan dan tanpa proses perangsangan seksual tertentu. Tetapi
kapasitas vagina meningkat seiring dengan masa pubertas.

11

Pada wanita yang sering melakukan hubungan seksual,


cedera genital jarang ditemukan.

4, 7

Cedera genital yang biasa ditemukan pada korban kejahatan


seksual adalah vulva yang memerah dan bengkak, adanya luka
lecet atau robek pada vulva, rupture selaput lendir vagina, luka
pada septum rektovagina, luka pada perineum, luka pad sphingter
ani, luka pada uretra dan robekan selaput dara.1
2.5.2.3 Pemeriksaan Fisik Pada Pria

19

Bila

korban

mengalami hubugan seksual melalui

anus,

dilakukan pemeriksaan rektum. Biasanya terjadi pada korban


sodomi. Dapat didiagnosa pada pelaku dan korbannya. Pada korban
dapat ditemukan bentuk rektum yang sedikit menganga karena
sfingter ani longgar, tampak fisura dan laserasi serta infeksi di
sekitar rektum. Bila dilakukan berulang-ulang gambaran rektum
seperti corong (tunnel shape). Sedangan pada pelakunya dapat
dilihat dengan adanya feses pada glans dan bisa ditemukan adanya
lubrikan pada penis. Pada hubungan seksual melalui oral, ditandai
dengan adanya sperma serta air mani dalam mulut korban.9, 1
2.5.3 Pemeriksaan Laboratorium

3,5,1

1. Sediaan basah
Diperiksa dibawah mikroskop, untuk mencari adanya sel sperma.
2. Sediaan kering
Diperhatikan dengan pewarnaan Gram, Giemsa atau metilen
blue lalu dilihat dengan mikroskop, untuk melihat adanya sel
sperma.
3. Bakteriologi
Dari sediaan kering yang diwarnai, diperiksa dengan mikroskop
adanya mikroorganisme diplokokus intra leukosit berarti adanya
penyakit kelamin gonore, penyakit kencing nanah.
4. Biakan
Pembiakan mikroorganisme diplokokus perlu dilakukan untuk
menularkan penyakitnya pada korban.
5. Golongan Darah
Pemeriksaan golongan darah dari lendir dalam vagina memberi
hasil bila korban atau tertuduh adalah seorang sekretor. Adanya
golongan

darah

asing

berarti

adanya

persetubuhan.

Bila

kemudian ada tersangka, dalam lendir vagina dan darah

20

tersangka diperiksa DNA Fingerprinting, bila identik maka


tersangka adalah penjahatnya.
6. Serologi
Dari darah perlu dilkakukan pemeriksaan Wassermann, Kahn dan
VDRL

(Venereal

Disease

Research

Laboratory)

untuk

menentukan adanya penyakit kelamin sifilis atau lues venereal.


Bila tertuduh positif, korban perlu diobati. VDRL menjadi positif
5-6 minggu setelah infeksi.
7. Urine
Dari urine dilakukan tes hamil. Bila positif, maka hamil itu bukan
disebabkan persetubuhan tersebut. Bila

negatif dan tidak

menstruasi,

sesudah

diperiksa

ulang

minggu

kejadian.

Pemeriksaan ini berdasarkan terbentuknya horman chorionic


gonadotropin. Horman ini akan diprodusi secara eksklusif selama
kehamilan dini, sehingga kadarnya meningkat dalam plasma dan
terdapat ke dalam urin. Hormon akan terdeteksi dalam urin
mulai hari ke-8 atau 9 setelah ovulasi.
8. Kulit
Pemeriksaan kulit dilakukan jika tes spermanya negatif dan ada
indikasi wanita itu telah diperkosa. Tes ini menentukan adanya
kromosom Y dengan menelusuri sel-sel kulit yang ditinggalkan
penyerangnya.
9. Asam fosfatase
Pemeriksaan dilakukan apabila
sperma

maka

melakukan

pembuktian

pemeriksaan

ejakulat tidak mengandung

adanya

yaitu

persetubuhan

memeriksa

dengan

komponen

yang

terdapat dalam ejakulat yaitu enzim asam fosfatase, kholin, dan


spermin.

21

2.5.4 Pemeriksaan Adanya Kekerasan


2.5.4.1 Pemeriksaan Tanda-tanda Pengekangan dan Unsur
Pemaksaan
Yang dimaksud dengan tanda-tanda kekerasan yang disertai
pengekangan dan unsur pemaksaan adalah seperti jejas bekapan
pada hidung, mulut, dan bibir, jejas cekik pada leher, kekerasan pada
kepala, luka lecet pada punggung atau bokong akibat penekanan,
memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara paksa,
dan luka lecet pada pergelangan tangan akibat pencekalan atau
goresan kuku pelaku, atau luka yang diakibatkan alat yang dipakai
pelaku seperti tali.

Pelintiran yang kuat oleh tangan pelaku pada pergelangan


tangan korban akan meninggalkan eritema yang meluas di daerah
tersebut; pada orang yang hidup, jejas seperti itu akan bertahan
sampai beberapa hari. Kebanyakan pelaku mempunyai kekuatan
untuk menguasai korban dan membuat perlawanan korban menjadi
tak berguna, sehingga tidak mengherankan bila seringkali tidak
ditemukan tanda-tanda pengekangan pada korban.

2.5.4.2 Pemeriksaan Tanda-tanda Kekerasan langsung


Tanda-tanda kekerasan langsung yang sering ditemui
seperti luka memar dan lecet pada mata, dagu, atau mulut, luka
pada bagian kepala, luka terseret atau tergores karena terseretnya
korban

pada

permukaan

yang

kasar.

Apabila

korban

sempat

melakukan perlawanan, sering didapatkan luka memar akibat


perkelahian seperti memar pada buku jari, pada perbatasan ulnar
dari lengan bawah, atau tulang kering. Kuku jari korban kadang
digunakan sebagai alat melawan pelaku dengan cara mencakar
sehingga meninggalkan material tertentu di bawah kuku yang dapat

22

dikumpulkan sebagai barang bukti, kadangkala kuku korban patah


saat mencakar. Ditemukannya barang bukti alat untuk mengancam
juga dianggap sebagai tanda terjadinya kekerasan walaupun pada
tubuh korban tak ditemukan cedera sama sekali.1
Korban tanpa ditemukannya cedera dapat juga diartikan
bahwa korban telah dibiuskan sebelumnya. Oleh karena tindakan
pembiusan dikategorikan pula sebagai tindakan kekerasan, maka
dengan sendirinya diperlukan pemeriksaan untuk menentukan ada
tidaknya obat-obat atau racun yang kiranya dapat membuat wanita
menjadi pingsan; ini menimbulkan konsekuensi bahwa pada setiap
kasus kejahatan seksual pemeriksaan toksikologi menjadi prosedur
yang rutin dikerjakan.1

2.5.4.3 Pemeriksaan Lain


Pemeriksaan lain yang dilakukan adalah pemeriksaan luka
pada mulut dan bibir, pemeriksaan luka jejas gigitan (bite mark),
dan pemeriksaan asfiksia.

Luka memar dapat ditemukan pada bibir dan di bagian


dalam terutama bagian buccal, yang diakibatkan ciuman yang
kasar. Bibir dapat tertekan pada tepi gigi yang menyebabkan lecet,
memar, bahkan laserasi pada permukaan buccal. Pada setiap kasus,
apusan dapat diambil untuk melihat adanya cairan semen akibat
penetrasi per oral, walaupun umumnya jarang memberikan hasil
positif.

Luka jejas gigitan biasa ditemukan di daerah leher, bahu,


payudara, dan bokong. Lesi ini merupakan sebuah daerah oval yang

23

biasanya berukuran kurang lebih 2,5x1,3 cm (1x0,5 inchi). Di


daerah

tersebut

banyak

bintik-bintik

perdarahan

(petechial

haemorrhages) yang diakibatkan isapan mulut pada kulit dan


jaringan di bawahnya; tekanan udara yang menurun menyebabkan
pecahnya

pembuluh-pembuluh

darah

kecil.

Petechiae

akan

menyatu dalam beberapa jam, sedangkan luka memar berangsurangsur menyembuh, dan menghilang dalam lima atau enam hari.

Sumbatan dan tekanan pada leher, dua-duanya dapat


menyebabkan

asfiksia;

tanda-tandanya

adalah

bintik-bintik

pendarahan (petechial haemorrhages) yang tersebar luas pada


wajah dan dalam kelopak mata.

2.6 Visum et Repertum


Di dalam pengertian secara hukum, Visum et Repertum
adalah Suatu surat keterangan seorang dokter yang memuatkan
kesimpulan suatu pemeriksaan yang telah dilakukannya, misalnya
atas mayat seorang untuk menentukan sebab kematian dan lain
sebagainya, keterangan mana diperlukan oleh Hakim dalam suatu
perkara [Prof. Subekti SH.; Tjitrosudibio, dalam Kamus Hukum tahun
1972.

Pengertian lain menyebutkan Visum et Repertum adalah


Suatu laporan tertulis dari dokter disumpah tentang apa yang
dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta
memuat

pula

kesimpulan

kepentingan peradilan.

dari

pemeriksaan

tersebut

guna

24

Surat Visum et Repertum merupakan bukti yang sah dalam


pengadilan, sesuai KUHAP pasal 184 ayat 1; Alat bukti yang
sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
Maka Visum et Repertum dapat diartikan sebagai keterangan ahli
maupun surat.
Sesuai pasal 186 KUHAP:
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang
pengadilan
Visum et Repertum dibuat dan dibutuhkan di dalam
kerangka upaya penegakan hukum dan keadilan, dengan perkataan
lain yang berlaku sebagai konsumen atau pemakai VR adalah
perangkat penegak hukum; yang didalam tulisan ini dibatasi pada
pihak penyidik sebagai instansi pertama yang memerlukan VR guna
membuat terang dan jelas suatu perkara pidana yang telah terjadi,
khususnya yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia.
1

Di

dalam

kasus

kejahatan

seksual

maka

kejelasan

yang

diperlukan adalah:

Ada tidaknya tanda-tanda persetubuhan

Ada tidaknya tanda-tanda hubungan seksual yang lain


selain persetubuhan

Ada tidaknya tanda-tanda kekerasan

Perkiraan umur

Menentukan pantas tidaknya korban untuk dikawin

25

Dalam penentuan pantas tidaknya dikawin dapat digunakan


parameter biologis dan parameter hukum. Secara biologis seorang
perempuan dikatakan mampu buat dikawin bila ia telah siap untuk
memberikan keturunan, dimana hal ini dapat diketahui melalui
menstruasi, apakah ia belum pernah mendapat menstruasi atau
sudah pernah. Sedangkan menurut undang-undang perkawinan,
maka

batas

umur

termuda

bagi

seorang

perempuan

yang

diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun.

2.6.1 Bentuk dan Isi Visum et Repertum


Laporan tertulis seperti apa yang dimaksudkan dalam visum et
repertum mempunyai bentuk dan isi sebagai berikut:
-

Pro Justitia, pada bagian atas; untuk memenuhi persyaratan


yuridis, pengganti materai

Pendahuluan, memuat identitas dokter pemeriksa pembuat VR,


identitas

peminta

VR,

saat

dan

tempat

dilakukannya

pemeriksaan dan identitas barang bukti (manusia), sesuai


dengan identitas yang tertera di dalam surat permintaan VR dari
pihak penyidik dan label atau segel
-

Permintaan atau hasil pemeriksaan, memuat segala sesuatu


yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksa
oleh

dokter,

dengan

atau

tanpa

pemeriksaan

lanjutan

(pemeriksaan laboratorium), yakni bila dianggap perlu, sesuai


dengan kasus dan ada tidaknya indikasi untuk itu
-

Kesimpulan, memuat inti sari dari bagian pemberitaan atau hasil


pemeriksaan, yang disertai dengan pendapat dokter yang
bersangkutan sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman
yang dimilikinya

26

Penutup, yang memuat pernyataan bahwasanya VR tersebut


dibuat atas sumpah dokter dan menurut pengetahuan yang
sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

2.6.2 Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Visum Et Repertum


Berikut ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan surat Visum et
repertum :
-

Visum et repertum harus dibuat oleh dokter yang telah disumpah


sesuai dengan

ketentuan yang berlaku, agar memenuhi

persyaratan secara yuridis. Hal mana sesuai dengan Lembaran


Negara tahun 1973 No. 350 pasal 1 ayat 2 ; serta KUHAP padal
186 dan pasal 187 butir C.
Pemeriksaan kasus perkosaan dalam rangka pencarian alat
bukti

dibanyak

daerah

dapat

dilakukan

oleh

dokter

spesialis forensik, dokter kebidanan, atau anggota suatu


institut mediko-legal. Tetapi di daerah lain, dokter yang
manapun dapat diminta oleh polisi atau pengadilan untuk
membantu mereka dalam menyelediki suatu pembuktian
kekerasan seksual.
-

Ketentuan yang berlaku di dalam memperlakukan barang bukti


seperti yang dimaksud dalam KUHAP harus dipenuhi, pemberian
label yang memuat identitas mayat, diberi lak dan cap kesatuan
yang dilekatkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat, bagi
orang hidup maka ia harus diantar oleh penyidik atau polisi yang
antara lain dimaksud untuk menjaga keaslian barang bukti,
dengan membawa Surat Permintaan Visum et Repertum.

VR sebagai surat resmi yang dipakai untuk perkara-perkara di


pengadilan harus memenuhi ketentuan yang beralku, dalam hal
ini : ordonasi Materai 1921 pasal 23 juncto pasal 31 ayat 2 sub

27

27,

dimana

sebagai

pengganti

materai

maka

dalam

VR

dicantumkan kalimat PRO JUSTITIA.


-

Pemeriksaan VR secara etika harus di perhatikan, terutama pada


pemeriksaan kasus kejahatan seksual, yaitu harus ada paling
sedikit seorang perawat wanita yang mendampingi dokter saat
dilakukannya pemeriksaan. Kecuali jika korban diperiksa oleh
dokter wanita.

Untuk memenuhi persyaratan kelengkapan surat VR harus


memuat nama instansi yang mengadakan VR, tempat dan
tanggal pembuatan VR, nomor surat dan lampiran, juga harus
memuat nama, tanda tangan, nomor induk dan jabatan dokter
pemeriksa.

Dokter pemeriksa Visum adalah dokter yang kemudian membuat


surat Visum et Repertum dan menandatangni surat Visum et
Repertum.

Pemeriksaan Visum et Repertum dilakukan setelah adanya


permintaan resmi berupa Surat Permintaan Visum, yang diantar
langsung oleh pihak penyidik atau polisi

Dalam pembuatan Surat Visum, digunakan bahasa yang dapat


dimengerti oleh orang awam, sehingga mudah dipahami saat
digunakan oleh hakim di dalam pengadilan. Sebaiknya tidak
digunakan bahasa latin yang biasa digunakan dalam istilah
kedokteran.1

2.6.3 Prosedur Pemeriksaan Visum Pada Kasus Kejahatan


Seksual
-

Pemeriksaan dilakukan setelah ada penjelasan jenis dan tujuan


pemeriksaan terhadap korban langsung, atau orangtua / wali
korban

28

Pemeriksaan hanya dilakukan apabila korban diantar oleh


penyidik atau polisi dengan membawa surat permohonan visum
dari kepolisian, kecuali pada kasus darurat yang membutuhkan
perawatan

medis

kelangsungan

untuk

hidup

kepentingan

korban,

bukan

kesehatan

untuk

dan

kepentingan

pembuatan surat visum. Adapun data yang didapat pada


pemeriksaan yang bukan pemeriksaan visum, dapat digunakan
untuk kepentingan pengadilan jika dibutuhkan, dengan syarat
ada permintaan langsung dari korban, atas izin korban, atau atas
permintaan
tertulis.
-

hakim

untuk

kepentingan

pembuktian

secara

Pemeriksaan atas korban dilakukan atas persetujuan :


a. Korban sendiri dengan usia korban > 12 tahun
b. Wali / orangtua korban dengan usia korban < 12 tahun
Penggolongan ini dilakukan berdasarkan pernyataan : Jika
usia korban diatas 12 tahun, maka persetujuan tertulis
harus diperoleh dari korban wanita tersebut. Dokter tidak
bisa melakukan pemeriksaan tanpa persetujuan ini. Jika
usia korban dibawah 12 tahun, maka persetujuan bisa
diperoleh dari orang tua / wali wanita tersebut .

Ada

seorang

perawat

wanita

menyertai

korban

selama

pemeriksaan berlangsung, terutama apabila dokter pemeriksa


Visum adalah pria, hal ini adalah untuk memenuhi persyarata
etika

dalam

pemeriksaan

Visum,

khususnya

pada

kasus

kejahatan seksual. Apabila dokter wanita sebagai pemeriksa,


maka ketentuan ini tidak mengikat.
-

Pada kasus kejahatan seksual, banyak tanda bukti yang perlu


diperhatikan yang ada pada tubuh korban, yang nilainya sebagai
bukti

dapat

berkurang

seiring

dengan

waktu.

Sehingga

29

pemeriksaan visum kasus perkosaan sebaiknya dilakukan segera


pada saat adanya permintaan visum.
Di dalam pemeriksaan kasus-kasus korban perkosaan
faktor waktu dan keaslian barang bukti yang diperiksa
sangat

beperan

pemeriksaan.

di

dalam

Tanda-tanda

menentukan

keberhasilan

persetubuhan

dengan

berlangsungnya waktu akan menghilang dan luka-luka


akan menyembuh. 4
-

Semua benda yang jatuh dari tubuh korban harus dikumpulkan

Pemeriksaan dilakukan di tempat terang, secepatnya (berkaitan


dengan daya hidup sperma) dan menyeluruh.

30

BAB III
KESIMPULAN
1. Kejahatan seksual (sexual offences) merupakan salah satu
bentuk dari kejahatan yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan
nyawa

manusia,

berkaitan

erat

dengan

Ilmu

Kedokteran,

khususnya Ilmu Kedokteran Forensik.


2. Upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus
kejahatan

seksual

pembuktian
tidaknya

ada

sebenarnya
tidaknya

tanda-tanda

terbatas

tanda-tanda

kekerasan,

di

dalam

upaya

persetubuhan,

perkiraan

umur

ada
serta

pembuktian apakah seseorang itu sudah pantas/ sudah mampu


untuk dikawini atau tidak.
3. Macam-macam
pemeriksaan

pemeriksaan

umum,

kejahatan

pemeriksaan

seksual

fisik

dan

terdiri

dari

laboratorium.

Pemeriksaan umum terdiri dari pemeriksaan biologik, seperti


saliva (air liur), darah, urin, kuku, rambut, dan pakaian korban,
serta luka-luka pada tubuh korban. Sedangkan pemeriksaan
genital terdiri dari pemeriksaan luka genital, pemeriksaan
hymen,

pemeriksan

perineum,

spekulum,

dan

pemeriksan

laboratorium untuk melihat apakah terdapat sperma pada


korban.
4. Tinjauan hukum untuk kejahatan seksual: KUHP 285, 286, 287,
290, 291, 292, 294.
5. Pada kesimpulan visum et repertum korban kejahatan seksual
harus dicantumkan perkiraan usia korban, status perkawinan,
jenis

dan

penyebab

luka,

ada

tidaknya

tanda-tanda

31

persetubuhan, pemeriksaan laboratorium, dan ada tidaknya


tanda-tanda kekerasan

DAFTAR PUSTAKA
1. Idries, A.M. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi
pertama, Jakarta : Binarupa Aksara
2. Chadha, P. Vijay. 1995. Catatan Ilmu Forensik dan Toksikologi
(Hand

book

of

forensic

medicine

&

toxicology

Medical

Jurisprudence), Edisi kelima. Jakarta : widya Medika


3. Hamdani, N. 1992. Ilmu Kedokteran Kehakiman, Edisi Kedua.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka
4. Knight, B. 1991. Simsonss Forensic Medicine. 10th edition.
Forensic Pathologi London : Edward Arnold.
5. Cunningham, F. Gary at al. 2001. William Obstetrics, 21st edition
New York : McGraw-Hill Book Company
6. Sastrawinata, S. 1993. Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri &
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
Edisi Pertama. Bandung : Eleman
7. Budiyanto, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Pertama.
Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman FKUI.
8. Sanin, Syaiful, Aspek-aspek Fisik/Medis serta Peran Pusat Krisis
dan Trauma dalam Penanganan Korban Tindak Kekerasan, IRD RS
Dr. M. Djamil, Padang, 2000
9. Simpson, K. 1997. Forensic Medicine,

8th edition London : The

English Book Society & Edward Arnold Ltd.

32

10.Indriati, Etty. 2001. Journal of Child Sexual Abuse (Pencabulan


Terhadap Anak) : tinjauan Klinis dan Psikologis. Berkala Ilmu
Kedokteran Vol 33, No, 2, 111-119. Yogyakarta : Laboratorium
Biontropologi dan Peleontropologi FKU Gadjah Mada.

33