Anda di halaman 1dari 97

http://arifin-muchamad.blogspot.co.id/2013/11/laporanpendahuluan-fraktur-tibia.

html
Laporan Pendahuluan Fraktur Tibia
A.Anatomi Fisioligi
1.Tibia (tulang kering)
Tulang ini termasuk tulang panjang, sehingga terdiri dari tiga bagian:
1. Epiphysis proximalis (ujung atas)
Bagian ini melebar secara transversal dan memiliki permukaan sendi superior pada tiap
condylus, yaitu condylus medial dan condylus lateral. Ditengah-tengahnya terdapat
suatu peninggian yang disebut eminenta intercondyloidea.
2. Diaphysis (corpus)
Pada penampang melintang merupakan segitiga dengan puncaknya menghadap ke
muka, sehingga corpus mempunyai tiga sisi yaitu margo anterior (di sebelah muka),
margo medialis (di sebelah medial) dan crista interossea (di sebelah lateral) yang
membatasi facies lateralis, facies posterior dan facies medialis.Facies medialis
langsung terdapat dibawah kulit dan margo anterior di sebelah proximal.
3. Epiphysis distalis (ujung bawah)
Ke arah medial bagian ini kuat menonjol dan disebut maleolus medialis (mata kaki).
Epiphysis distalis mempunyai tiga dataran sendi yaitu dataran sendi yang vertikal
(facies articularis melleolaris), dataran sendi yang horizontal (facies articularis inferior)
dan disebelah lateral terdapat cekungan sendi (incisura fibularis).
2. Fibula
Merupakan tulang yang panjang, langsing, terletak di sebelah lateral tibia. Epiphysis
proximalis membulat disebut capitulum fibulae. Ke arah proximal meruncing menjadi
apex. Pada capitulum terdapat dua dataran sendi yang disebut facies articularis capitulli
fibulae, untuk bersendi dengan tibia. Pada corpus terdapat empat buah crista yaitu,
crista lateralis, crista anterior, crista medialis dan crista interosssea. Datarannya ada
tiga buah yaitu facies lateralis, facies medialis dan facies posterior. Pada bagian distal
ke arah lateral membulat menjadi maleolus lateralis.
Fisiologi
Menurut Long, B.C, fungsi tulang secara umum yaitu :
1. Menahan jaringan tubuh dan memberi bentuk kepada kerangka tubuh.
2. Melindungi organ-organ tubuh (contoh:tengkorak melindungi otak)
3. Untuk pergerakan (otot melekat kepada tulang untuk berkontraksi dan bergerak).
4. Merupakan gudang untuk menyimpan mineral (contoh kalsium dan posfor)
5. Hematopoiesis (tempat pembuatan sel darah merah dalam sum-sum tulang).

Menurut Price, Sylvia Anderson, Pertumbuhan dan metabolisme tulang dipengaruhi


oleh mineral dan hormon :
1. Kalsium dan posfor tulang mengandung 99 % kalsium tubuh dan 90 % posfor.
Konsentrasi kalsium dan posfor dipelihara hubungan terbalik, kalsitonin dan hormon
paratiroid bekerja untuk memelihara keseimbangan.
2. Kalsitonin diproduksi oleh kelenjar tiroid dimana juga tirokalsitonin yang memiliki efek
untuk mengurangi aktivitas osteoklast, untuk melihat peningkatan aktivitas osteoblast
dan yang terlama adalah mencegah pembentukan osteoklast yang baru.
3 Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang. Dalam jumlah besar vitamin D
dapat menyebabkan absorbsi tulang seperti yang terlihat dalam kadar hormon
paratiroid yang tinggi. Bila tidak ada vitamin D, hormon paratiroid tidak akan
menyebabkan absorbsi tulang sedang vitamin D dalam jumlah yang sedikit membantu
klasifikasi tulang dengan meningkatkan absorbsi kalsium dan posfat oleh usus halus.
4.Paratiroid Hormon, mempunyai efek langsung pada mineral tulang yang
menyebabkan kalsium dan posfat diabsorbsi dan bergerak melalui serum. Peningkatan
kadar paratiroid hormon secara perlahan-lahan menyebabkan peningkatan jumlah dan
aktivitas osteoklast sehingga terjadi demineralisasi. Peningkatan kadar kalsium serum
pda hiperparatiroidisme dapat menimbulkan pembentukan batu ginjal.
5.Growth Hormon (hormon pertumbuhan), disekresi oleh lobus anterior kelenjar pituitary
yang bertanggung jawab dalam peningkatan panjang tulang dan penentuan jumlah
matriks tulang yang dibentuk pada masa sebelum pubertas.
6.Gluikokortikoid, adrenal glukokortikoid mengatur metabolisme protein. Hormon ini
dapat meningkatkan atau menurunkan katabolisme untuk mengurangi atau
meningkatkan matriks organ tulang dan membantu dalam regulasi absorbsi kalsium dan
posfor dari usus kecil.
7.Estrogen menstimulasi aktifitas osteoblast. Penurunan estrogen setelah menopause
mengurangi aktifitas osteoblast yang menyebabkan penurunan matriks organ tulang.
Klasifikasi tulang berpengaruh pada osteoporosis yang terjadi pada wanita sebelum
usia 65 tahun namun matriks organiklah yang merupakan penyebab dari osteoporosis.

A.Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang, retak atau patahnya tulang yang
utuh, yang biasanya di sebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang di
tentukan jenis dan luas trauma.(lukman 2007,hal 26)
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan dan atau tulang
yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Arif Mansjoer, 2000, hal 346).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
(Brunner & Suddath, 2002, hal 2357).
Patah batang tibia merupakan fraktur yang sering terjadi dibanding fraktur batang
tulang panjang lainnya. (Sjamjuhidajat & Wim de Jong, 2004, hal 886)

B.Etiologi
Fraktur disebabkan oleh :(Arif Muttaqin, 2008, hal 70)
a.Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang. Hal tersebut dapat
mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat komuniti dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
b.Trauma tidak langsung
Apabila trauma dihantarkan kedaerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, trauma
tersebut disebut trauma tidak langsung. Misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat
menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap
utuh.
Fraktur juga dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
puntir mendadak, dan kontraksi otot ekstrim. (Brunner & Suddart, 2002, hal 2357)
Fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebih oleh tulang
( lukman 2007,hal 26)
Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh :
1) Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang
2) Usia penderita
3) Kelenturan tulang
4) Jenis tulang
Dengan tenaga yang sangat ringan, tulang yang rapuh karena osteoporosis atau tumor
biasanya menyebabkan patah tulang
C.Patofisiologi
Fraktur dapat terjadi karena trauma / rudapaksa sehingga dapat menimbulkan luka
terbuka dan tertutup. Fraktur luka terbuka memudahkan mikroorganisme masuk
kedalam luka tersebut dan akan mengakibatkan terjadinya infeksi.
Pada fraktur dapat mengakibatkan terputusnya kontinuitas jaringan sendi, tulang
bahakan kulit pada fraktur terbuka sehingga merangsang nociseptor sekitar untuk
mengeluarkan histamin, bradikinin dan prostatglandin yang akan merangsang serabut
A-delta untuk menghantarkan rangsangan nyeri ke sum-sum tulang belakang,
kemudian dihantarkan oleh serabut-serabut saraf aferen yang masuk ke spinal melalu
dorsal root dan sinaps pada dorsal horn. Impuls-impuls nyeri menyeberangi sum-sum
belakang pada interneuron-interneuron dan bersambung dengan jalur spinal asendens,
yaitu spinothalamic tract (STT) dan spinoreticuler tract (SRT). STT merupakan sistem
yang diskriminatif dan membawa informasi mengenai sifat dan lokasi dari stimulus
kepada thalamus kemudian ke korteks untuk diinterpretasikan sebagai nyeri.
Nyeri bisa merangsang susunan syaraf otonom mengaktifasi norepinephrin, sarap
msimpatis terangsang untuk mengaktifasi RAS di hipothalamus mengaktifkan kerja
organ tubuh sehingga REM menurun menyebabkan gangguan tidur.
Akibat nyeri menimbulkan keterbatasan gerak (imobilisasi) disebabkan nyeri bertambah
bila digerakkan dan nyeri juga menyebabkan enggan untuk bergerak termasuk

toiletening, menyebabkan penumpukan faeses dalam colon. Colon mereabsorpsi cairan


faeses sehingga faeses menjadi kering dan keras dan timbul konstipasi.
Imobilisasi sendiri mengakibatkan berbagai masalah, salah satunya dekubitus, yaitu
luka pada kulit akibat penekanan yang terlalu lama pada daerah bone promenence.
Perubahan struktur yang terjadi pada tubuh dan perasaan ancaman akan integritas
stubuh, merupakan stressor psikologis yang bisa menyebabkan kecemasan.
Terputusnya kontinuitas jaringan sendi atau tulang dapat mengakibatkan cedera neuro
vaskuler sehingga mengakibatkan oedema juga mengakibatkan perubahan pada
membran alveolar (kapiler) sehingga terjadi pembesaran paru kemudian terjadi
kerusakan pada pertukaran gas, sehingga timbul sesak nafas sebagai kompensasi
tubuh untk memenuhi kebutuhan oksigen.

Rudapaksa atau trauma berat

Penyakit (Osteoporosis)

Fraktur

Adanya hubungan
Luka terbuka
dengan dunia luar

Terputusnya kontinuitas jaringan


Organisme merugikan

mudah masuk
Nyeri saat digerakan

dan keengganan bergerak


Resikoinfeksi

Kerusakan mobilitas fisik

Mobilisasi sekret terganggu

Kerusakanpertukarangas

Cedera vaskuler,
pembentukan trombus

Oedema

DisfungsiNeurovaskuler

perubahan aliran darah

Perubahan membran
Alveolar (kapiler)

edema paru

kerusakanpertukaran
gas

Penekanan yang terlalu


lama

Sirkulasi darah
terganggu

Pemenuhan nutrisi dan


O2ke jaringan menurun

Ischemia

Nekrosis jaringan

Dekubitus

Ancaman integritas

Stressor

cemas

Merangsang
nociceptor
sekitar untuk
mengeluarka
histamin,
bradikinin,
prostaglandin

Nyeri
dihantarkan
melalui
Serabut A-delta
dan

Tirah baring yang cukup Sumsum tulang


lama
belakang

Bising usus menurun Serabut saraf

aferen
Retensi faeces dalam

colon
Spinal melalui

sinap
Cairan faeces
padadorsal
direabsorpsi oleh colon rootdan sinap

padadorsal
faeces kering
horn

Spinal assenden
Konstipasi
(STT/SRT)

Thalamus

Kortek Serebri

TimbulNyeri

Merangsang
RAS di
Hipothalamus

REM Menururn

Terjaga

D.Klasifikasi
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a.
Berdasarkan sifat fraktur.
1).
Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi.
2).
Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b.
Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
1).
Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2).
Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti:
a)
Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b)
Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi
tulang spongiosa di bawahnya.
c)
Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya
yang terjadi pada tulang panjang.
c.
Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.
1).
Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2).
Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
3).
Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
4).
Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5).
Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot
pada insersinya pada tulang.
d.
Berdasarkan jumlah garis patah.
1)
Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
2)
Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
3)
Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
e.
Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1).
Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen
tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.
2).
Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi atas:

a)
Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
b)
Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c)
Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f.
Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
g.
Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
a.
Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak
sekitarnya.
b.
Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
c.
Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
d.
Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan
ancaman sindroma kompartement.
(Apley, A. Graham, 1993, Handerson, M.A, 1992, Black, J.M, 1995, Ignatavicius, Donna
D, 1995, Oswari, E,1993, Mansjoer, Arif, et al, 2000, Price, Sylvia A, 1995, dan
Reksoprodjo, Soelarto, 1995)
E.Manifestasi Klinis
Menurut Brunner dan Suddart (2002; 2358) Manifestasi klinis fraktur adalah
nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan
lokal, dan perubahan warna.
1.Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang
untum meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya.
Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas
(terliahat maupun teraba) ekstermitas yang bisa diketahui dengan membandingkan
ekstermitas yang normal. Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi
normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling
melengkapi satu sama lain sampai 2,5-5cm (1-2 inchi).
4.Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji kreptus
dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagi akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam
atau cedera.

F.Komplikasi
Brunner dan Suddarth (2002; 2365) membagi komplikasi fraktur kedalam empat
macam, antara lain :
1. Syok hipovolemik atau traumatik yang terjadi karena perdarahan dan kehilangan
cairan ekstra sel kejaringan yang rusak.
2. Sindrome emboli lemak (terjadi dalam 24 sampai 72 jam setelah cedera). Berasal
dari sumsum tulang karena perubahan tekanan dalam tulang yang fraktur mendorong
molekul-molekul lemak dari sumsum tulang masuk ke sistem sirkulasi darah ataupun
karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres.
3. Sindrom Kompartemen terjadi karena perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa diakibatkan karna:
a. Penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu
ketat atau gips atau balutan yang terlalu menjerat
b. Peningkatan isi kompartemen otot karena edema.
4. Tromboemboli, infeksi dan Koagulopati Intravaskuler Desiminata (KID)
G.Pemeriksaan Penunjang
a.Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur trauma
b.Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d.Hitung daerah lengkap : HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun
( pendarahan sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma).
e.Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.
(Doenges, 2000 : 762
H.Penatalaksanaan
Menurut Price, Sylvia Anderson, alih bahasa Peter Anugerah, (1994:1187), empat
konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur :
1. Rekognisi, menangani diagnosis pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian
dibawa ke rumah sakit.
2. Reduksi, reposisi fragmen-fragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan letak
normal, usaha-usaha tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat
mungkin untuk kembali seperti letak asalnya.
3.Retensi, menyatakan metoda-metoda yang dilaksanakan untuk menahan fragmenfragmen tersebut selama penyembuhan.
4.Rehabilitasi, dimulai segera setelah dan sesudah dilakukan bersamaan pengobatan
fraktur, untuk menghindari atropi otot dan kontraktur sendi.
Penatalaksanaan klien dengan fraktur dapat dilakukan dengan cara :
1.
Traksi

Yaitu penggunaan kekuatan penarikan pada bagian tubuh dengan memberikan beban
yang cukup untuk penarikan otot guna meminimalkan spasme otot, mengurangi dan
mempertahankan kesejajaran tubuh, untuk memobilisasi fraktur dan mengurangi
deformitas.
2.
Fiksasi interna
Yaitu stabilisasi tulang yang patah yang telah direduksi dengan skrup, plate, paku dan
pin logam dalam pembedahan yang dilaksanakan dengan teknik aseptik.
3.
Reduksi terbuka
Yaitu melakukan kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan fiksasi
dan pemanjangan tulang yang patah.
4.
Gips
Adalah fiksasi eksterna yang sering dipakai terbuat dari plester ovaria, fiber dan plastik.
I.Penatalaksanaan Keperawatan
Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan tahap yang paling
enentukan bagi tahap berikutnya. Kegiatan dalam pengkajian adalah pengumpulan
data (Rahmah, Nikmatur dan Saiful walid. 2009; 24).
1.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan proses yang berisikan status kesehatan klien dengan
menggunakan teknik anamnesis (autoanamnesa dan aloanamnesa) dan observasi.
a.
Biodata Klien
1)
Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin perlu dikaji karena biasanya
laki-laki lebih rentan terhadap terjadinya fraktur akibat kecelakaan bermotor, pendidikan,
pekerjaan, agama, suku/bangsa, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian,
diagnosa medis, nomor medrek dan alamat.
2)
Identitas penanggung jawab meliputi : nama, umur, pekerjaan, agama,
pendidikan, suku/bangsa, alamat, hubungan dengan klien.
b.
Riwayat Kesehatan
1)
Keluhan utama
Keluhan utama adalah alasan klien masuk rumah sakit yang dirasakan saat dilakukan
pengkajian yang ditulis dengan singkat dan jelas, dua atau tiga kata yang merupakan
keluhan yang membuat klien meminta bantuan pelayanan kesehatan.
2)
Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan penjelasan dari permulaan klien merasakan keluhan sampai dengan dibawa
ke rumah sakit dan pengembangan dari keluhan utama dengan menggunakan PQRST.
P (Provokative/Palliative), apa yang menyebabkan gejala bertambah berat dan apa
yang dapat mengurangi gejala.
Q (Quality/Quantity), bagaimana gejala dirasakan klien dan sejauh mana gejala
dirasakan.
R (Region/Radiation) dimana gejala dirasakan ? apakah menyebar? apa yang
dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala tersebut ?

S (Saferity/Scale), seberapa tingkat keparahan gejala dirasakan? Pada skala berapa?


T (Timing), berapa lama gejala dirasakan ? kapan tepatnya gejala mulai dirasakan,
apakah ada perbedaan intensitas gejala misalnya meningkat di malam hari.
3)
Riwayat Kesehatan Dahulu
Tanyakan mengenai masalah-masalah seperti adanya riwayat trauma, riwayat penyakit
tulang seperti osteoporosis, osteomalacia, osteomielitis, gout ataupun penyakit
metabolisme yang berhubungan dengan tulang seperti diabetes mellitus (lapar terusmenerus, haus dan kencing terusmenerus), gangguan tiroid dan paratiroid.
4)
Riwayat Kesehatan Keluarga
Hal yang perlu dikaji adalah apakah dalam keluartga klien terdapat penyakit keturunan
ataupun penyakit menular dan penyakit-penyakit yang karena lingkungan yang kurang
sehat yang berdampak negatif pada kesehatan anggota keluarga termasuk klien.
c.
Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
terhadap berbagai sistem tubuh.
1)
Keadaan Umum
Klien yang mengalami immobilisasi perlu dilihat dalam hal penampilan, postur tubuh,
kesadaran, gaya berjalan, kelemahan, kebersihan dirinya dan berat badannya.
2)
Sistem Pernafasan
Bentuk hidung, ada atau tidaknya sekret, PCH (Pernafasan Cuping Hidung),
kesimetrisan dada dan pernafasan, suara nafas dan frekwensi nafas. Pengaturan
pergerakan pernafasan akan mengakibatkan adanya retraksi dada akibat kehilangan
koordinasi otot. Ekspansi dada menjadi terbatas karena posisi berbaring akibatnya
ventilas paru menurun sehingga dapat menimbulkan atelektasis. Akumulasi sekret pada
saluran pernafasan mengakibatkan terjadinya penurunan efisiensi siliaris yang dapat
menyebabkan pembersihan jalan nafas yang tidak efektif. Kelemahan pada otot
pernafasan akan menimbulkan mekanisme batuk tidak efektif.
3)
Sistem Kardiovaskuler
Warna konjungtiva pada fraktur, terutama fraktur terbuka akan terlihat pucat
dikarenakan banyaknya perdarahan yang keluar dari luka, terjadi peningkatan denyut
nadi karena pengaruh metabolik, endokrin dan mekanisme keadaaan yang
menghasilkan adrenergik sereta selain itu peningkatan denyut jantung dapat
diakibatkan pada klien immobilisasi. Orthostatik hipotensi biasa terjadi pada klien
immobilisasi karena kemampuan sistem syaraf otonom untuk mengatur jumlah darah
kurang. Rasa pusing saat bangun bahkan dapat terjadi pingsan, terdapat kelemahan
otot. Ada tidaknya peningkatan JVP (Jugular Vena Pressure), bunyi jantung serta
pengukuran tekanan darah. Pada daerah perifer ada tidaknya oedema dan warna pucat
atau sianosis.
4)
Sistem Pencernaan
Keadaan mulut, gigi, bibir, lidah, kemampuan menelan, peristaltik usus dan nafsu
makan. Pada klien fraktur dan dislokasi biasanya diindikasikan untuk mengurangi

pergerakan (immobilisasi) terutama pada daerah yang mengalami dislokasi hal ini dapat
mengakibatkan klien mengalami konstipasi.
5)
Sistem Genitourinaria
Ada tidaknya pembengkakan dan nyeri daerah pinggang, palpasi vesika urinaria untuk
mengetahui penuh atau tidaknya, kaji alat genitourinaria bagian luar ada tidaknya
benjolan, lancar tidaknya pada saat klien miksi serta warna urine. Pada klien fraktur dan
dislokasi biasanya untuk sementara waktu jangan dulu turun dari tempat tidur, dimana
hal ini dapat mengakibatkan klien harus BAK ditempat tidur memaskai pispot sehingga
hal ini menambah terjadinya susah BAK karena klien tidak terbiasa dengan hal
tersebut.
6)
Sistem Muskuloskeletal
Derajat Range Of Motion pergerakan sendi dari kepala sampai anggota gerak bawah,
ketidaknyamanan atau nyeri ketika bergerak, toleransi klien waktu bergerak dan
observasi adanya luka pada otot akibat fraktur terbuka, tonus otot dan kekuatan otot.
Pada klien fraktur dan dislokasi dikaji ada tidaknya penurunan kekuatan, masa otot dan
atropi pada otot. Selain itu dapat juga ditemukan kontraktur dan kekakuan pada
persendian.
7)
Sistem Integumen
Keadaan kulit, rambut dan kuku. Pemeriksaan kulit meliputi tekstur, kelembaban, turgor,
warna dan fungsi perabaan. Pada klien fraktur dan dislokasi yang immobilisasi dapat
terjadi iskemik dan nekrosis pada jaringan yang tertekan, hal ini dikarenakan aliran
darah terhambat sehingga penyediaan nutrisi dan oksigen menurun.
8)
Sistem Persyarafan
Mengkaji fungsi serebral, fungsi syaraf cranial, fungsi sensorik dan motorik sertsa fungsi
refleks.
d.
Pola Aktivitas Sehari-hari
1)
Pola Nutrisi
Kebiasaan makan klien sehari-hari dan kebiasaan makan-makanan yang mengandung
kalsium yang sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan tulang dan kebiasaan
minum klien sehari-hari, meliputi frekwensi, jenis, jumlah dan masalah yang dirasakan.
2)
Pola Eliminasi
Kebiasaan BAB dan BAK klien, apakah berpengaruh terhadap perubahan sistem
tubuhnya yang disebabkan oleh fraktur.
3)
Pola Istirahat Tidur
Kebiasaan klien tidur sehari-hari, apakah terjadi perubahan setelah mengalani fraktur.
4)
Personal Hygiene
Kebiasaan mandi, cuci rambut, gosok gigi dan memotong kuku perlu dkaji sebelum
klien sakit dan setelah klien dirawat dirumah sakit.
5)
Pola Aktivitas
Sejauh mana klien mampu beraktivitas dengan kondisinya saat ini dan kebiasaan klien
berolah raga sewaktu masih sehat.
e.
Aspek Psiko Sosial Spiritual

1)
Data Psikologis Pengkajian psikologis yang dilakukan pada klien dengan
fraktur pada dasarnya sama dengan pengkajian psikososial dengan gangguan sistem
lain yaitu mengenai konsep diri (gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran diri dan
identitas diri). Pada klien fraktur adanya perubahan yang kurang wajar dalam status
emosional, perubahan tingkah laku dan pola koping yang tidak efektif.
2)
Data sosial
Pada data sosial yang dikaji adalah hubungan klien dengan keluarga dan hubungan
klien dengan petugas pelayanan kesehatan.
3)
Data Spiritual
Perlu dikaji agama dan kepribadiannya, keyakinan dan harapan yang merupakan aspek
penting untuk penyembuhan penyakitnya.
f.
Data Penunjang
Menurut Doengoes et. al (2002:762), pemeriksaaan diagnostik yang biasa
dilakukan pada pasien dengan fraktur:
1)
Pemeriksaan rontgen
Menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma.
2)
Computed Tomography (CT-SCAN).
Memperlihatkan fraktur dan dislokasi, dapat digunakan untuk mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak dan untuk mengetahui lokasi dan panjangnya patah tulang
didaerah yang sulit dievaluasi.
3)
Arteriogram
Dilakukan bila dicurigai terdapat kerusakan vaskuler.
4)
Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan darah lengkap meliputi kadar haemoglobin yang biasanya lebih rendah
karena perdarahan akibat trauma. Hematokrit mungkin meningkat atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dari trauma multiple). Kreatinin
(trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal). Profil koagulasi
(perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multipel atau cedera hati).
2.
Analisa Data
Data yang sudah dikumpulkan kemudian dikelompokkan berdasarkan masalahnya
kemudian dianalisa dengan menggunakan tabel yang terdiri dari nomer, data yang
terdiri dari data subjektif dan objektif, etiologi dan masalah, sehingga menghasilkan
suatu kesimpulan berupa masalah keperawatan yang nantinya akan menjadi diagnosa
keperawatan.
Diagnosa Keperawatan
Doenges et.al (2000; 762-775) merumuskan delapan diagnosa keperawatan,
Brunner dan Suddarth (2002; 2363) merumuskan tiga diagnosa keperawatan yang
dapat terjadi pada fraktur tertutup dan Engram, Barbara (1999; 268-271) merumuskan
lima diagnosa keperawatan pada klien dengan fraktur.

Dari tiga pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa diagnosa keperawatan


yang mungkin muncul pada gangguan sistem muskuloskeletal dengan fraktur adalah:
1.Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera pada
jaringan lunak, alat traksi/imobilisasi
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit dan terpajannya dengan
lingkungan akibat fraktur terbuka, fiksasi pen eksternal.
4.Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi dan terpasangnya
alat fiksasi.
5.Risiko perubahan eliminasi : konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas
usus
6.Kerusakan pola istirahat dan tidur behubungan dengan nyeri
7. Depisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan pergerakan akibat fraktur.
8.Resiko disfungsi Neurovaskuler berhubungan dengan cedera vaskuler
9.Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema paru dan mobilisasi
sekret tidak adekuat
10. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan
kebutuhan pengobatan.
Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang
dilaksanakan untuk menanggulangi masalah dengan diagnosa keperawatan yang telah
ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien.
1.
Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera
pada jaringan lunak, alat traksi/imobilisasi
Tupan : Nyeri hilang.
Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari di harapkan nyeri
berkurang, dengan kriteria :
a.
Klien mengatakan nyeri berkurang.
b.
Skala nyeri menjadi 2 dari skala nyeri 0-5
c.
Tanda-tanda vital dalam batas normal ( TD = 120/80 mmHg; RR = 16-24
x/menit; N = 60-80 x/menit; S = 36,5-37,50 C).
d.
Klien dapat melakukan teknik distraksi dan relaksasi yang tepat.
Rencana :
Tabel 2.4
Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera
pada jaringan lunak, alat traksi/imobilisasi
Intervensi
rasionalisasi
Pertahankan imobilisasi
Menghilangkan
nyeri
dan
bagian yang sakit dengan mencegah
kesalahan
posisi
tirah baring, gips, pembebat, tulang/tegangan
jaringan
yang
traksi.
cedera.

Tinggikan dan sokong


Untuk meingkatkan aliran darah
ekstremitas yang mengalami balik vena, menurunkan edema,
luka/fraktkur.
menurunkan nyeri.
Kaji tngkat nyeri klien
Dengan menkaji tingkat nyeri klien
untuk
keefektifan
pengawasan
intervensi. Tingkat ansietas dapat
mempengaruhi
persepsi/reaksi
Lakukan tekhnik distraksi terhadap nyeri.
dengan cara mengajak klien Dengan melakukan teknik distraksi
berbincang-bincang
pada klien dengan cara berbincangbincang,
dapat
mengalihkan
Berikan alternatif tindakan perhatian klien tidak hanya tertuju
kenyamanan, contoh pijatan, pada nyeri.
pijatan punggung, perubahan
Meningkatkan sirkulasi umum ;
posisi.
msnurunkan area tekanan lokal dan
Lakukan dan awasi latihan kelelahan otot.
rentang gerak pasif/aktif.
Mempertahankan
Dorong klien untuk kekuatan/mobilitas otot yang sakit
menggunakan
teknik dan memudahkan resolasi inflamasi
manajemen stres, contoh pada jaringan yang cedera.
relaksasi progresif, latihan
Memfokuskan kembali perhatian,
napas
dalam,
imajinasi meningkatkan rasa kontrol, dan
visualisasi.
Sentuhan dapat meningkatkan kemampuan
terapeutik.
koping dalam manajemen nyeri,
yang mungkin menetap untuk
periode lebih lama.
Sumber: Doenges et. al. (2000, hal 765) Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
PerencanaanDan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta.
2.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.
Tupan : Immobilisasi fisik tidak terjadi.
Tupen :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari diharapkan dapat
melakukan mobilitas fisik dengan bantuan minimal, denngan Kriteria hasil :
a.Klien mampu meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada paling tinggi.
b.Klien mampu mempertahankan posisi fungsional.
c.Klien mampu meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan/ mengkompensasi bagian
tubuh.
d.Klien mampu menunjukan kemampuannya.
Rencana :
Tabel 2.5

Kerusakan
mobilitas
neuromuskuler.

fisik

berhubungan

dengan

kerusakan

rangka

Intervensi
Rasionalisasi
a.
Lakukan rentang gerak aktif
Mencegah/menurunkan
insiden
pada anggota gerak sehat komplikasi kulit, menghindari spasme
sedikitnya 4 kali/hari
otot, dan gerak aktif meningkatkan
kemandirian dalam pergerakkan
b.
Lakukan latihan rentang gerak
Gerak pasif dapat mencegah
pasif pada anggota gerak yang kontraktur, dan dengan cara disangga,
sakit dengan hati-hati, dan agar tidak terjadi pergeseran pada
sangga ekstrimitas yang fraktur. tulang yang fraktur
c.
Ubah posisi setiap 2-4 jam
Melancarkan sirkulasi sehingga
mempercepat
penyembuhan
serta
mencegah/menurunkan
insiden
d.
Tingkatkan latihan gerak komplikasi kulit.
secara perlahan.
d.
Rentang grak secara bertahap
Hari kedua post op, klien bisa dimungkinkan
tidak
menyebabkan
duduk di tempat tidur dengan keterkejutan pada klien
nyaman
Hari ketiga post op, klien
bisa turun dari tempat tidur dan
jalan-jalan di sekitar dengan
tangan yang fraktur disangga
Sumber: Doenges et. al. (2000, hal 769) Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
3.
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit dan terpajannya dengan
lingkungan akibat fraktur terbuka, fiksasi pen eksternal.
Tupan : Infeksi tidak terjadi.
Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari, diharapkan tanda-tanda
infeksi tidak terjadi, dengan Kriteria :
a. Tidak ditemukannya tanda tanda infeksi.
b. Tanda vital terutama suhu tidak terjadi peningkatan atau dalam batas normal.
c. Leukosit normal (4.000 10.000)
Rencana :
Tabel 2.6
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit dan terpajannya dengan
lingkungan akibat fraktur terbuka, fiksasi pen eksternal

Intervensi

O
b
s
e T
a
v n
a d
s a

u
k
a
u
n

p
e
r
k
i
r
a
a
n

u
k
p
e g
ma
b n
e g
n r
e
u n
k .
a
n
b
u
a
k D
a
e p
p a
it t

Rasional

asi, perubahan warna kulit, bau


drainage yang tidak enak/asam.
2.
Kaji sisi pen/kulit, perhatikan
keluhan peningkatan nyeri/rasa
terbakar atau adanya oedema,
eritema, drainage / bau tak enak.
3.
Berikan perawatan pen/kawat
steril sesuai protokol dan latihan
mencuci tangan.
4.
Kaji tonus otot, reflek tendon
dalam dan kemampuan untuk
berbicara.

mengindikasikan timbulnya infeksi


lokal/nekrosis jaringan yang dapat
menimbulkan adanya osteomeilitis.

Dapat mencegah kontaminasi


silang dan kemungkinan infeksi.
Kekuatan otot, spasme tonik otot
rahang dan disphagia menunjukan
adanya tetanus.
Adanya drainage purulen akan
memerlukan kewaspadaan luka untuk
mencegah kontaminasi silang.
Antibiotik spektrum luas dapat
5.
Lakukan prosedur isolasi.
digunakan secara propilaktip pada
mikroorganisme khusus.
Leukositosis biasanya ada dengan
6.
Berikan obat sesuai dengan proses infeksi.
indikasi, contoh antibiotik IV/topikal.
7.
Kolaborasi
pemeriksaan
laboraorium, hitung darah lengkap.
Sumber: Doenges et. al. (2000, hal 765) Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
4.Resiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan Imobilisasi dan
Terpasangnya Alat Fiksasi.
Tupan : Integritas kulit terpelihara
Tupen : Setelah dilakukan perawatan selam 2 hari, diharapkan tanda-tanda dekubitus
tidak terjadi, dengan kriteia:
a. Tidak ada kemerahan pada daerah yang tertekan terutama bokong dan tumit
b. Tidak teraba panas pada daerah tertekan
c. Tidak terdapat lecet pada daerah tertekan
Tabel 2.7
Resiko Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan
Imobilisasi dan Terpasangnya Alat Fiksasi.
Intervensi
a.
Kaji kulit untuk luka
terbuka,
benda
asing,
kemerahan,
perdarahan,
perubahan warna, kelabu,
memutih.

Rasionalisasi
Memberikan informasi tentang
sirkulasi kulit dan masalah yang
mungkin disebabkan oleh alat
dan/atau pemasangan bebat atau
traksi, atau pembentukan edema

yang membutuhkan intervensi medik


lanjut.
b.
Masase
kulit
dan
Menurunkan tekanan konstan
penonjolan
tulang. pada area yang peka da risik
Pertahankan tempat kering abrasi/kerusakan kulit
dan
bebas
kerutan.
Tempatkan
bantalan
air/bantalan
lain
bawah
kiku/tumit sesuai inidikasi.
Posisi yang tak tepat dapat
c.
Kaji posisi bebat pada alat menyebabkan
cedera
traksi
kulit/kerusakan.
Dengan mobilisasi aktif maupun
d.
Lakukan mobilisai aktif pasif sirkulasi darah pada daerah
maupun pasif.
tertentu lancar dan penekananpenekanan pada daerah tertentu
tidak berlebihan
Sumber: Doengoes, et. al. (2000, hal 771). Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
5.
Kerusakan pola istirahat dan tidur behubungan dengan nyeri
Tupan
: kerusakan pola istirahat teratasi
Tupen
: setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam Kebutuhan istirahat
tidur terpenuhi, dengan kriteria:
a.
Tidur/istirahat diantara gangguan
b.
Melaporkan peningkatan rasa sehat dan merasa dapat istirahat
Rencana:
Tabel .2.8
Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan Nyeri
Intervensi
Berikan makanan kecil,
susu hangat sore hari
Turunkan jumlah minum
sore hari, lakuikan berkemih
sebelum tidur
Batasi masukan makanan
dan minuman mengandung
kafein

Kolaborasi

Rasionalisasi
Meningkatkan relaksasi dengan
perasaan mengantuk
Menurunkan kebutuhan akan
bangun untuk pergi ke kamar mandi
Kafein dapat memperlambat klien
untuk tidur dan memopengaruhi tidur
tahap REM.

Nyeri meruhi kemampuan klien


dalam untuk tidur, dsan sedatif obat yang

pemberian obat analgetik dan tepat untuk menuiingkatkan istiraht


sedatif
Sumber : Doengoes, et. al. (2000, hal 493, 385). Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
6.
Risiko perubahan eliminasi : konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas
usus
Tupan : BAB lancar
Tupen : Setelah dilakukan perawatan selama 2 hari diharapkan klien dapat BAB
dengan lancar dengan konsistensi lunak, dengan kriteria :
a.
Klien dan keluarga mengetahui tentang jenis-jenis makanan yang dapat
dikonsumsi.
b.
BAB lancar dan normal (1-2 x/hari) dengan warna kuning, konsistensi lembek dan
bau khas feces.
c.
Tidak terjadi distensi pada abdomen
d.
Hasil auskultasi peristaltik usus normal 4-12 x/menit
Rencana
:
Tabel 2.9
Risiko perubahan eliminasi : konstipasi berhubungan dengan penurunan
motilitas usus
Intervensi

Rasional

1.

Melatih
klien
untuk
melakukan pergerakan yang
melibatkan daerah abdomen
seperti miring kanan dan miring
kiri.

Dengan tindakan tersebut akan


meningkatkan
ketegangan
otot
abdomen
yang
membantu
peningkatan peristaltik sehingga
feses yang keluar lancar.

2.

Berikan cairan yang adekuat.

Dengan memberikan cairan akan


meningkatkan kandungan air dalam
feses sehingga BAB menjadi lancar.
3.
Beri makanan yang tinggi
Makanan tinggi serat akan
serat.
menarik cairan dari lumen usus
sehingga feses menjadi lembek dan
mudah untuk dikeluarkan.
Sumber: Doenges et. al. (2000, hal 576) Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
7.
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan Keterbatasan Pergerakan Akibat
Fraktur

Tujuan
: Kebutuhan perawatan diri terpenuhi
Tupen: setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam defisit perawatan diri teratasi,
dengan kriteria:
a.
Mendemontrasikan teknik perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan
perawatan diri
b.
Melakukan perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
Rencana:
Tabel 2.10
Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan
Keterbatasan Pergerakan Akibat Fraktur
Intervensi
Beri informasi tentang
pentingnya perawatan diri
bagi klien
Bantu dan fasilitasi klien
dalam melakukan personal
higiene

Rasionalisasi
Dengan memberikan informasi
dapat
menambah
wawasan
pengetahuan klien tentang cara
perawatan diri yang benar
Dengan menyediakan dan
mendekatkan
akan
mendorong
kemandirian
klien
dalam
hal
Jaga kebersihan pakaian melakukan aktivitas
dan alat tenun klien
Pakaian yang bersih dan alat
Berikan lotion dan talk tenun yang kering dapat mencegah
setelah mandi
terjadinya gatal.
Untuk meningkatkan rasa nyaman
klien dan dapat mencegah terjadinya
biang keringat
Sumber:Doengoes, et. al. (2000, hal 301). Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
8.
Resiko Disfungsi Neurovaskuler berhubungan dengan cedera vaskuler
Tupan
: Perfusi jaringan adekuat
Tupen
: setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan tidak ada
tanda-tanda penurunan perfusi jaringan, dengan kriteria :
a.
Kesadaran kompos mentis
b.
Tanda-tanda vital dalam batas normal ( TD = 120/80 mmHg; RR = 16-24 x/menit;
N = 60-80 x/menit; S = 36,5-37,50 C)
c.
Akral hangat
Rencana:
Tabel 2.11
Resiko Disfungsi Neurovaskuler berhubungan dengan
cedera vaskuler

Intervensi
a.
Lepaskan perhiasan dari
ekstrimitas yang sakit
b.
Kaji aliran kapiler, warna
kulit, dan kehangatan distal
pada fraktur

c.

d.

e.

f.

g.

h.

Rasionalisasi
Dapat membendung sirkulasi bila
terjad edema
Warna kulit putih menunjukkan
gangguan arterial. Sianosis diduga
gangguan vena
Gangguan perasaan kebas,
kesemutan, peningkatan nyeri terjadi
Lakukan
pengkajian bila sirkulasi pada saraf tidak
neuromuskular,
perhatikan adekuat atau saraf rusak
perubahan
fungsi
motor/sensor
Faktor ini disebabkan atau
mengidentifikasikan
tekanan
Kaji keluhan rasa terbakar mjaringan/iskemia,
menimbulkan
dibawah gips
kerusakan atau nekrosis
Alat traksi dapat menyebabkan
tekanan pada pembuluh darah/saraf,
Awasi posisi/lokasi cincin terutama pada aksila dan lipat paha.
penyokong bebat
Dislokasi
fraktur
sendi
(khususnya
lutut)
dapat
Selidiki tanda iskemia menyebabkan kerusakan arteriyang
ekstrimitas tiba-tiba, contoh berdekatan,
dengan
akibata
peniurunan suhu kulit, dan hilangnya aliran darah ke distal
peningkatan nyeri]
Meningkatkan sirkulasi dan
menurunkan pengumpulan darah
Dorong pasien untuk khususnya pada ekstrimitas bawah
melakukan
ambulasi
Terdapat peningkatan untuk
sesegera mungkin
tromboplebitis dan emboli paru pada
pasien imobilisasi selama lima hari
Selidiki nyeri tekan,
Perubahan tanda-tanda vital
pembengkakan pada dorso menunjukkan peningkatan sirkulasi
fleksi kaki.

i.
Awasi tanda vital.
Sumber:Doengoes, et. al. (2000, hal 766). Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
9. Ansietas berhubungan dengan Kurang pengetahuan
Tupan
: Cemas hilang

Tupen
: setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam cemas berkurang,
dengan kriteria:
a.
Klien tampak rileks
b.
Melaporkan ansietas berkurang
Rencana:
Tabel 2.12
Ansietas berhubungan dengan
Kurang pengetahua
Intervensi
a.
Jalin rasa percaya

Rasionalisasi
Rasa percaya dapat melahirkan
keterbukaan
b.
Kaji
ulang
tingkat
Dapat mengetahui derajat
kecemasan klien
kecemasan
klien
sehingga
memudahkan intervensi selanjutnya
Beban
kecemasan
dapat
c.
Berikan
kesempatan berkurang dengan diekspresikan
mengekspresikan
Dengan mengetahui penyakit,
perasaannya
dimungkinkan klien akan merasa
d.
Berikan
penjelasan tenang
tentang
penyakit
yang
diderita
Dimungkinkan dapat mengetahui
hal yang tidak diketahui
e.
Berikan
kesempatan
bertanya untuk
Sumber: Doengoes, et. al. (2000, hal 922) . Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
10. Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema paru dan mobilisasi
sekret tidak efektif
Tupan
: pola nafas adequat
Tupen
: setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam tidak ditemukannya
tanda-tanda ketidak efektifan pola nafas, dengan kriteria:
a.
Mempertahankanpola nafas adequat
b.
Frekuensi nafas 12-24x/menit
c.
Tidak adanya dispneu/sianosis
Rencana:
Tabel 2.13
Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
Edema paru dan mobilisasi sekret tidak efektif
Intervensi

Rasionalisasi

a. Awasi frekuensi pernafasan


dan upayanya. Perhatikan
stridor,
penggunaan
otot
bantu, retraksi, terjadinya
sianosis sentral.
b

Auaskultasi
bunyi
nafas
perhatikan terjadinya ketidak
samaan

c. Atasi jaringan cedera/tulang


dengan lembut, khusunya
selama
beberapa
hari
pertama
d. Bantu dalam latihan nafas
dalam

Tarkifne,
dispnea,
dan
perubahan dalam mental dan tanda
dini insufisiensi pernafasan dan
mungkin hanya indikator terjadinya
emboli paru tahap awal
Perubahan
dalam
bunyi
adventisius menunjukan terjadinya
komplikasi pernafasan
Dapat mencegah terjadinya
emboli
lemak,
yang
erat
hubungannya dengan fraktur.
Menungkatkan ventilasi alveolar
dan prfusi. Reposisi meningkatkan
drimnage sekret dan menurunkan
kongesti pada area dependen.
Hemodialisa dapat terjadi
dengan emboli paru

e Observasi sputum untuk tanda


adanya darah
Sumber:Doengoes, et. al. (2000, hal 768) . Rencana Asuhan Keperawatan Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (edisi 3), EGC, Jakarta
Implementasi
Implementasi atau pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam implementasi juga meliputi pengumpulan
data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan
tindakan dan menilai data yang baru (Rahmah, Nikmatur dan Saiful walid. 2009; 89).
Menurut wilknison (2007; dalam Nurjanah, Intansari. 2010; 186) implementasi
yang
bisa
dilakukan
oleh
perawat
terdiri
dari: do (melakukan),delegate (mendelegasikan) dan record (mencatat).
Evaluasi
Rahmah, Nikmatur dan Saiful walid (2009; 94-96) menjelaskan bahwa evaluasi
adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang
diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.
Evaluasi bertujuan untuk mengakhiri rencana tindakan keperawatan, memodifikasi
rencana tindakan keperawatan dan meneruskan rencana keperawatan.
Evaluasi terdiri dari evaluasi proses (formatif) dan evaluasi hasil (sumatif). Evaluasi
formatif adalah evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan, berorientasi pada

etiologi dan dilakukan secara terus-menerus sampai tujuan yang telah ditentukan
berhasil. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan
secara paripurna, berorientasi pada masalah keperawatan, menjelaskan
keberhasikan/ketidak berhasilan, rekaputasi dan kesimpulan status kesehatan klien
sesuai dengan kerangka waktu yang ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
1.Doenges, Marilynn E. et.al. (2000) Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
2.Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Lintang
Imumpasue.
3.Smeltzer, Suzanne C. Bare Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, Edisi 8. Jakarta : EGC
4.Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi III. Jakarta :
EGC.
5.Arif Mutaqin.2008.Asuhan Keperawatan Sistem Muskuluskeltal

KONSEP DASAR

OPEN FRAKTUR TIBIA FIBULA (CRURIS)


1. Pengertian
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikena stress yang lebih
besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer Suzanne, C 2001).
Jenis Fraktur
Fraktur komplet :
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran
Fraktur tidak komplet
:
Patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
Fraktur tertutup :
Fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
Fraktur terbuka :
Fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang
Greenstick
:
Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak
Transversal
:
Fraktur sepanjang garis tengah tulang
Kominutif
:
Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
Depresi
:
Fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
Kompresi
:
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
Patologik
:
Fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya
2. Etiologi
Kekerasan langsung (Terkena pada bagian langsung trauma)
Kekerasan tidak langsung (Terkena bukan pada bagian yang terkena trauma)
Kekerasan akibat tarikan otot
Trauma
Gerakan pintir mendadak
Kontraksi otot ekstrim
Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma
Benturan & cedera (jatuh, kecelakaan)
Fraktur patofisiologi (oleh karena patogen, kelainan)
Patah karena letih
3. Tanda Dan Gejala
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma,
dan edema
Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah

Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan
dibawah tempat fraktur
Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
4. Patofisiologi ( Pathway )
5. Komplikasi
Malunion : Tulang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya
Delayed union : Proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan kecepatan yang lebih
lambat dari keadaan normal
Non union : Tulang yang tidak menyambung kembali
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan fraktur menurut Brunner and Sudarth ( 1996 : 2360 ) dan www.medicastore
diantaranya sebagai berikut :
a) Reduksi Fraktur
Reduksi tertutup, dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang keposisi semula dengan
manipulasi atau traksi manual.
Reduksi terbuka, fraktur terbuka memerlukan reduksi terbuka dengan pendekatan bedah, fragmen
tulang direduksi, alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, skrup, plat, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk memperthankan fragmen tulang dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid terjadi.
b) Traksi
Ada dua macam traksi yaitu traksi skelet dan kulit, Traksi kulit adalah traksi yang dipasang tidak
boleh melebihi toleransi kulit ( 2-3 kg beban tarikan ) dan untuk mengontrol spasme kulit dan
memberikan immobilisasi. Macam macam traksi kulit diantaranya :
Traksi Buck, adalah traksi kulit dimana tarikan diberikan pada satu bidang bila hanya
diimmobilisasi parsial atau temporor yang diinginkan.
Traksi Russell, dapat digunakan untuk fraktur pada plato tibia, menyokong fleksi pada
penggantung dan memberikan gaya tarikan horizontal melalui pita traksi dan balutan elastis
ketungkai bawah.
Traksi skelet, dipasang langsung ketulang menggunakan pin metal atau kawat yang dimsukan
kedalam tulang disebelah distal garis fraktur, menghindari saraf, pembuluh darah, otot, tendon
sendi. Traksi skelet dipasang secara asepsis seperti pada pembedahan. Traksi skelet biasanya
menggunakan 7 12 kilogram umtuk mencapai efek terapi.
c) Immobilisasi Fraktur
Menurut Brunner and Suddarth fraktur direduksi fragmen tulang harus direduksi atau
dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan, immobilisasi dapat
dilakukan dengan fiksasi ekterna atau interna fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai,
traksi kontinu,pin dan teknik gips atau fiksator eksterna
d) Pemasangan gips
Jenis jenis gips diantaranya sebagai berikut :
Lengan pendek, memanjang dari bawah siku sampai lipatan telapak tangan

Lengan panjang, memanjang dari setinggi lipat ketiak sampai disebelah proksimal lipatan telapak
tangan
Tungkai pendek, memanjang dari bawah lutut sampai dasar jari kaki
Tungkai panjang, memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah paha sampai dasar jari
kaki
Berjalan, gips panjang atau pendek yang di buat lebih kuat
Tubuh, melingkar di batang tubuh
Spika, melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstremitas
Spika bahu, jaket tubuh yang melingkar batang tubuh, bahu dan siku
Spika panggul, melingkari batang tubuh dan satu ekstremitas bawah
e) Debridemen
Luka yang kemerahan biasanya terjadi pada tingkat regenerasi perbaikan jaringan yang lambat,
hal ini diperlukan sebagai perlindungan untuk mencegah kerusakan perbaikan jaringan. Luka
yang berwarna kuning adalah karakteristik utama dari zat cair atau semi cair slough yang
terkadang diberengi dengan drainasi purulen, mengirigasi luka menggunakan bahan balutan yang
dapat menyerap seperti impregnated nonadheren, balutan hidrogel, atau bahan lain yang dapat
menyerap, luka hitam adalah luka yang tertutup oleh jaringan nekrotik yang tebal atau eschar.
Luka hitam membutuhkan tindakan debridement (membuang jaringan yang nekrotik),
membuang jaringan yang nonviable dari luka harus dilakukan sebelum luka dapat disembuhkan.
Debridemen mempunyai empat cara, yaitu :
Sharp
:
Scapel
digunakan
untuk
memisahkan
dan
membuang
jaringan yang mati
Mechanical : Dilakukan melalui gosokan kuat atau balutan basah yang
lembab
Chemical : Enzim collagen
Outolytic : Balutan mengandung moisture (lengas) seperti transparan film
Balutan/penutup luka Fungsi :
Melindungi luka dari mekanikal injury
Melindungi luka dari kontaminasi bakteri
Mempertahankan High humidity luka
Mempertahankan isolasi ternal
Menyerap drainage atau membersihkan luka atau keduanya
Mencegah hemoragik (digunakan sebagai balutan tekan atau dengan kain pembalut elastis)
Mengimmobilisasi dan mencegah injury
Tipe Balutan tergantung pada :
Lokasi ukuran maupun jenis lukanya
Banyaknya eksudat
Keadaan luka saat debridement atau adanya infeksi
Kondisi luka berpengaruh pada frekuensi penggantian balutan, sulit atau mudah pada tindakan
pengantian balutan
Menurut Barbara C . Long ( 1996 : 357 ) penatalaksanaan fraktur terbuka diantaranya:

a) Debridemen luka untuk membersihkan kotoran, benda asing, jaringan yang lepas, dan tulang
yang nekrosis
b) Pemakaian toksoid tetanus
c) Culture jaringan dari luka
d) Kompres terbuka
e) Pengobatan dengan antibiotic
f) Pemantauan gejala osteomyelitis, tetanus, dan gas gangrene
g) Menutup luka setelah diketahui tidak ada infeksi
h) Immobilisasi yang patah
Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b) Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c) Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d) Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal
7. Data Fokus Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena, keterbatasan mobilitas
b. Sirkulasi
Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas), hipotensi ( respon terhadap
kehilangan darah), tachikardi, penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera, cailary refil
melambat, pucat pada bagian yang terkena, ,masa hematoma pada sisi cedera
c. Neurosensori
Kesemutan, deformitas, krepitasi, pemendekan, kelemahan
d. Kenyamanan
Nyeri tiba-tiba saat cidera, spasme/ kram otot
e. Keamanan
Laserasi kulit, perdarahan, perubahan warna. pembengkakan local
Prioritas Keperawatan
a. Mencegah cedera tulang/ jaringan lanjut
b. Menghilangkan nyeri
c. Mencegah komplikasi
d. Membeikan informasi ttg kondisi dan kebutuhan pengobatan
Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jarinagan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
b. Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang
c. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Diagnosa Keperawatan & Intervensi
a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jarinagan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
Tujuan :
Kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan
Kriteria hasil:
Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin

Mempertahankan posisi fungsinal


Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas
Intervensi:
Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
Tinggikan ekstrimutas yang sakit
Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak
Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan
sesuai kebutuhan
Awasi tekanan darah, nadi dengan melakukan aktivitas
Ubah psisi secara periodic
Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi
b. Nyeri b.d spasme otot , pergeseran fragmen tulang
Tujuan ;
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:
Klien menyatajkan nyei berkurang
Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
Tekanan darah normal
Tidak ada eningkatan nadi dan RR
Intervensi:
Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
Jelaskanprosedu sebelum memulai
Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
Dorong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi
visualisasi, sentuhan
Observasi tanda-tanda vital
Kolaborasi : pemberian analgetik
c. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan:
Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:
Penyembuhan luka sesuai waktu
Tidak ada laserasi, integritas kulit baik
Intervensi:
Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainage
Monitor suhu tubuh

Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
Lakukan alih posisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
Masage kulit sekitar akhir gips dengan alcohol
Gunakan tempat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
Kolaborasi emberian antibiotic

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer Suzanne, C 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Jakarta. EGC.
http://csohilait.wordpress.com/2013/10/20/askep-kasus-fraktur-terbuka-tibia-fibula/
Diakses pada tanggal 2 Maret 2014.

FRAKTUR

A. PENGERTIAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya disertai dengan luka
sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, kerusakan pembuluh darah, dan luka

organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadinya fraktur jika tulang dikenai
stress yang lebih besar dari yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2001).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya fraktur
terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat
disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan
kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2002).
Fraktur adalah patahnya tulang, yang biasanya dialami hewan kecil akibat kecelakaan, terjatuh
dan luka (Bleby & Bishop, 2003).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005).
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur disebabkan
oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma
langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2007).

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur secara umum :
1.

Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, ulna, radius dan cruris dst).
2.

a.

Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur:

Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks
tulang).

b.

Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).

3.

Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :

a.

Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.

b.

Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.

c.

Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.

4.

Berdasarkan posisi fragmen :

a.

Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser
dan periosteum masih utuh.

b.

Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi
fragmen
5.

a.

Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).

Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup
ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

1)

Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.

2)

Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.

3)

Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan
pembengkakan.

4)

Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma
kompartement.

b.

Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :

1)

Grade I : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.

2)

Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.

3)

Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.

6.

Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma :

a.

Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma
angulasi atau langsung.

b.

Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan
meruakan akibat trauma angulasijuga.

c.

Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma
rotasi.

d.

Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke
arah permukaan lain.

e.

Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya
pada tulang..

7.

Berdasarkan kedudukan tulangnya :

a.

Tidak adanya dislokasi.

b.

Adanya dislokasi

At axim : membentuk sudut.


At lotus : fragmen tulang berjauhan.
At longitudinal : berjauhan memanjang.
At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek.
8.

Berdasarkan posisi frakur

Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :


a.

1/3 proksimal

b.

1/3 medial

c.

1/3 distal
9.

Fraktur Kelelahan

10. Fraktur Patologis

: Fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.


: Fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.

Gambar 1. Tipe Fraktur

C. ETIOLOGI
1.

Trauma langsung/ direct trauma

Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya
benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang).
2.

Trauma yang tak langsung/ indirect trauma


Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada
pegelangan tangan.

3.

Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu sendiri rapuh/
ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan hal ini disebut dengan fraktur patologis.

4.

Kekerasan akibat tarikan otot


Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran,
penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.

D. ANATOMI FISIOLOGI FRAKTUR


1.

Anatomi Tulang

Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Tulang berasal dari
embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses Osteogenesis menjadi tulang. Proses
ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut Osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat
penimbunan garam kalsium.
Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima
kelompok berdasarkan bentuknya :
a.

Tulang

panjang

(Femur,

Humerus)

terdiri

dari

batang

tebal

panjang

yang

disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah proksimal dari epifisis
terdapat metafisis. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh,
yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh karena
akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang
dihasilkan oleh osteoblas, dan tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang
padat. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Pada akhir tahun-tahun
remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi, dan tulang berhenti tumbuh. Hormon
pertumbuhan,

estrogen,

dan

testosteron merangsang

pertumbuhan

tulang

panjang. Estrogen, bersama dengan testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang

suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. Kanalis medularis berisi
sumsum tulang.
b.

Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous (spongy) dengan
suatu lapisan luar dari tulang yang padat.

c.

Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar
adalah tulang concellous.

d.

Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek.

e.

Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan
dengan persediaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut).
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri
atas

tiga

jenis

dasar-osteoblas,

dalam pembentukan

osteosit

dan

tulang dengan mensekresikan

osteoklas.
matriks

Osteoblas

tulang.

Matriks

berfungsi
tersusun

atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan, asam polisakarida) dan
proteoglikan).

Matriks

merupakan

kerangka

dimana

garam-garam

mineral

anorganik

ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan
terletak dalam osteon (unit matriks tulang ). Osteoklas adalah sel multinuclear ( berinti
banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang.
Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. Ditengah osteon
terdapat kapiler. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan lamella.
Didalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi melalui prosesus yang berlanjut
kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang
terletak sejauh kurang dari 0,1 mm).
Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan periosteum.
Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh, selain sebagai tempat
perlekatan tendon dan ligamen. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan
limfatik. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast, yang merupakan
sel pembentuk tulang.
Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang
panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast , yang melarutkan tulang untuk

memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan
pada permukaan tulang).

Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70 % endapan
garam. Bahan organik disebut matriks, dan terdiri dari lebih dari 90 % serat kolagen dan
kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus sakarida). Deposit garam terutama adalah kalsium
dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion magnesium. Garam-garam
menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui proteoglikan. Adanya bahan
organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensif (resistensi terhadap tarikan yang
meregangkan). Sedangkan garam-garam menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi
(kemampuan menahan tekanan).
Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa
pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan tulang berubah selama
hidup. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangn hormon, faktor makanan, dan jumlah
stres yang dibebankan pada suatu tulang, dan terjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang
yaitu osteoblas.
Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang. Osteoblas berespon terhadap
berbagai

sinyal

kimiawi

untuk menghasilkan

matriks tulang.

Sewaktu pertama kali

dibentuk, matriks tulang disebut osteoid. Dalam beberapa hari garam-garam kalsium mulai

mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa minggu atau bulan berikutnya.
Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid, dan disebut osteosit atau sel tulang
sejati. Seiring dengan terbentuknya tulang, osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang
menghubungkan osteosit satu dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran
mikroskopik di tulang.
Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang, sebagian ion
kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium
yang dapat dipertukarkan, yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang, cairan
interstisium, dan darah.
Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi, terjadi secara bersamaan dengan
pembentukan

tulang.

Penyerapan

tulang

terjadi

karena

aktivitas

sel-sel

yang

disebut osteoklas. Osteoklas adalah sel fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel
mirip-monosit yang terdapat di tulang. Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai asam dan
enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis. Osteoklas biasanya terdapat pada
hanya sebagian kecil dari potongan tulang, dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. Setelah
selesai di suatu daerah, osteoklas menghilang dan muncul osteoblas. 0steoblas mulai mengisi
daerah yang kosong tersebut dengan tulang baru. Proses ini memungkinkan tulang tua yang
telah melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat.
Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang terus
menerus diperbarui atau mengalami remodeling. Pada anak dan remaja, aktivitas osteoblas
melebihi aktivitas osteoklas, sehingga kerangka menjadi lebih panjang dan menebal. Aktivitas
osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada tulang yang pulih dari fraktur. Pada
orang dewasa muda, aktivitas osteoblas dan osteoklas biasanya setara, sehingga jumlah total
massa tulang konstan. Pada usia pertengahan, aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas
dan kepadatan tulang mulai berkurang. Aktivitas osteoklas juga meningkat pada tulang-tulang
yang mengalami imobilisasi. Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan, dominansi aktivitas
osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. Aktivitas osteoblas
dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik dan hormon.
Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang oleh olah raga dan stres
beban akibat arus listrik yang terbentuk sewaktu stres mengenai tulang. Fraktur tulang secara
drastis merangsang aktivitas osteoblas, tetapi mekanisme pastinya belum jelas. Estrogen,
testosteron, dan hormon perturnbuhan adalah promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan
pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya

kadar hormon-hormon tersebut. Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulangtulang panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung
pertumbuhan tulang). Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus, aktivitas osteoblas
berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu pertumbuhan tulang.
Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung
dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang penyerapan
kalsium di usus. Hal ini meningkatkan konsentrasi kalsium darah, yang mendorong kalsifikasi
tulang. Namun, vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar kalsium serum dengan
meningkatkan penguraian tulang. Dengan demikian, vitamin D dalam jumlah besar tanpa
diimbangi kalsium yang adekuat dalam makanan akan menyebabkan absorpsi tulang.
Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol
oleh hormon paratiroid. Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak
tepat di belakang kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai respons
terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon paratiroid meningkatkan aktivitas osteoklas
dan

merangsang pemecahan

Peningkatan

kalsium

serum

tulang untuk
bekerja

membebaskan

secara umpan

balik

kalsium

ke

dalam

negatif untuk

darah.

menurunkan

pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut. Estrogen tampaknya mengurangi efek hormon
paratiroid pada osteoklas.
Efek

lain

Hormon

paratiroid adalah meningkatkan kalsium

serum

dengan menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi
ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah. Pengaktifan vitamin D di ginjal
bergantung pada hormon paratiroid. Sedangkan kalsitonin adalah suatu hormon yang
dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap peningkatan kadar kalsium serum.
Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan pernbentukan osteoklas. Efek-efek ini
meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga menurunkan kadar kalsium serum.

2.

Fisiologi Tulang

Fungsi tulang adalah sebagai berikut :


a.

Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.

b.

Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru) dan jaringan lunak.

c.

Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan).

d.

Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang (hema topoiesis).

e.

Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.

E. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi
apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka
terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas
tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks,
marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang
segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma
dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses
penyembuhan tulang nantinya
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1.

Faktor Ekstrinsik

Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu,
dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2.

Faktor Intrinsik

Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur
seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan
tulang.

F. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan
ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci
sebagai berikut:
1.

Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang

diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang
dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2.
Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan
dan tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa
diketahui dengan membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritasnya
tulang tempat melekatnya otot.
3.
Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling
melengkapi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).
4.
Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji
krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
5.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa
jam atau hari setelah cedera.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan
justru tidak ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling
terdesak satu sama lain). Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan
pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah
tersebut.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.
X.Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang
cedera.
2.

Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans

3.

Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.

4.

CCT kalau banyak kerusakan otot.

5.

Pemeriksaan Darah Lengkap

Lekosit turun/meningkat, Eritrosit dan Albumin turun, Hb, hematokrit sering rendah akibat
perdarahan, Laju Endap Darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas,
Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah, traumaa otot meningkatkan beban
kreatinin untuk ginjal. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi
multiple, atau cederah hati.

H. KOMPLIKASI
1.

Komplikasi Awal

a.

Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun,
cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan
oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.

b.

Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot, yang
sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah
yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala gejalanya mencakup
rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan
yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang
terlibat, dan paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) dan
tulang hasta (radius atau ulna).

c.

Fat Embolism Syndrom

Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika
gelembung gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang
rusak. Gelombang lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada
pembuluh pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas. Gejala dari
sindrom emboli lemak mencakup dyspnea, perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah,
marah, bingung, stupor), tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.
d.

Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi
dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur
terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.

e.

Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa
menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkmans Ischemia. Nekrosis
avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang kurang baik. Hal ini paling sering mengenai
fraktur intrascapular femur (yaitu kepala dan leher), saat kepala femur berputar atau keluar dari
sendi dan menghalangi suplai darah. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang terjadi
dalam periode waktu yang lama, pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya sampai dia
keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi pada pasien merupakan hal yang penting.
Perawat harus menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri
yang menetap pada saat menahan beban

f.

Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang
bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

g.

Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan korteks tulang dapat berupa
exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam
tubuh). Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau selama operasi.
Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi
karena trauma dan fraktur fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki
risiko osteomyelitis yang lebih besar

2.

Komplikasi Dalam Waktu Lama

a.

Delayed Union (Penyatuan tertunda)


Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.

b.

Non union (tak menyatu)


Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan fibrosa. Kadang
kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor faktor yang dapat menyebabkan
non union adalah tidak adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari
fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis..

c.

Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk menimbulkan deformitas, angulasi
atau pergeseran.

I.

STADIUM PENYEMBUHAN FRAKTUR


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang
tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara
ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium
penyembuhan tulang, yaitu:
1.

Stadium Satu-Pembentukan Hematoma

Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah
membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler
baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.

2.

Stadium Dua-Proliferasi Seluler

Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari
periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang
mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah
osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah
tulang baru yg menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung
selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

3.

Stadium Tiga-Pembentukan Kallus

Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan
keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini
dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi selsel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago,
membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang
yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur
berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.

4.

Stadium Empat-Konsolidasi

Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar.
Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan
pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa
diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu
beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.

5.

Stadium Lima-Remodelling

Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau
tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang
terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih
tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya
dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.

Gambar 9.Fase Penyembuhan Tulang

J.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :

1.

Untuk menghilangkan rasa nyeri.


Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan
disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat
penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang
fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.

Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.

Pemasangan gips
Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah. Gips yang ideal adalah
yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan gips
adalah :
o Immobilisasi dan penyangga fraktur
o Istirahatkan dan stabilisasi
o Koreksi deformitas
o Mengurangi aktifitas
o Membuat cetakan tubuh orthotik
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :

o Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan


o Gips patah tidak bisa digunakan
o Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
o Jangan merusak / menekan gips
o Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
o Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama

2.

Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.

Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan
lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi
internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
a.

Penarikan (traksi) :
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas
pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan
sumbu panjang tulang yang patah. Metode pemasangan traksi antara lain :

Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan emergency

Traksi mekanik, ada 2 macam :


o Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan dalam
waktu 4 minggu dan beban < 5 kg.
o Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan
untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui tulang / jaringan
metal.
Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :
Mengurangi nyeri akibat spasme otot
Memperbaiki & mencegah deformitas
Immobilisasi
Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
Mengencangkan pada perlekatannya
Prinsip pemasangan traksi :
Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik
Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar reduksi dapat
dipertahankan
Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai

b.

Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahanpecahan tulang.
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin adalah
pembedahan. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Pada umumnya
insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan sepanjang bidang
anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur. Hematoma fraktur dan fragmen-fragmen
tulang yang telah mati diirigasi dari luka. Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar
menghasilkan posisi yang normal kembali. Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini
dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa pen, sekrup, pelat, dan paku.
Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :

Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah


Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada didekatnya
Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang lain
Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada kasus-kasus yang tanpa
komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan fungsi otot hampir
normal selama penatalaksanaan dijalankan

1)

FIKSASI INTERNA

Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang
cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi

mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan
radiologi memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi di antara ujung tulang
karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union.
Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal
serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderita dpat dimobilisasi cukup cepat untuk
meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliput anestesi,
trauma bedah tambahan dan risiko infeksi.
Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengan trauma yang minimal,
tetapi paling sesuai untuk fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling
baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankan panjang dan rotasi.

2)

FIKSASI EKSTERNA

Bila fraktur yang dirawat dengan traksi stabil dan massa kalus terlihat pada
pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat dipasang.

Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuk
tindakan ini.

3.

Agar terjadi penyatuan tulang kembali

Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu
dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam
penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang.
4.

Untuk mengembalikan fungsi seperti semula

Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu
diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin.

K. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu
diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat
memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat
bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
1.

Pengumpulan Data

a.

Anamnesa

1)

Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.

2)

Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut
atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap
tentang rasa nyeri klien digunakan:

a)

Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.

b)

Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti
terbakar, berdenyut, atau menusuk.

c)

Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau
menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan
skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan
fungsinya.
e)

Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau
siang hari.

3)

Riwayat Penyakit Sekarang


Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya
membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan
bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya
kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain

4)

Riwayat Penyakit Dahulu


Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa
lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan
penyakit pagets yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung.

Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut
maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
5)

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor
predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa
keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik

6)

Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat

7)

Pola-Pola Fungsi Kesehatan

a)

Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat


Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus
menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu,
pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu
keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak

b)

Pola Nutrisi dan Metabolisme


Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti
kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang.
Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah
muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium
atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah
muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi
dan mobilitas klien.

c)

Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu
perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi

alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan
jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu
pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur,
suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
d) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi
berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji
adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan
beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain
e)

Pola Hubungan dan Peran


Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus
menjalani rawat inap

f)

Pola Persepsi dan Konsep Diri


Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat
frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image)

g)

Pola Sensori dan Kognitif


Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada
indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami
gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur

h)

Pola Reproduksi Seksual


Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus
menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga,
perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya

i)

Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul
kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak
efektif.

j)

Pola Tata Nilai dan Keyakinan


Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama
frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien

b.

Pemeriksaan Fisik
Dibagi

menjadi

dua,

yaitu

pemeriksaan

umum

(status

generalisata)

untuk

mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat
melaksanakan

total

care

karena

ada

kecenderungan

dimana

spesialisasi

hanya

memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.


1)

Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:

a)

Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:

(1) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan
klien.
(2) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur
biasanya akut.
(3) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
b)
(1)

Secara sistemik dari kepala sampai kelamin


Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.

(2)

Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri
kepala.

(3)

Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.

(4)

Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi,
simetris, tak oedema.

(5) Mata
Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi perdarahan)
(6)Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
(7)

Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.

(8)

Mulut dan Faring


Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.

(9)

Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.

(10) Paru
(a) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang
berhubungan dengan paru.
(b) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(c) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.

(d) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
(11) Jantung
(a) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
(b) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(c) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

(12) Abdomen
(a) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(b) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
(c) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(d) Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
(13) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
2)

Keadaan Lokal

Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status
neurovaskuler (untuk status neurovaskuler 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse,
Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
a)

Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:

(1) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
(2) Cape au lait spot (birth mark).
(3) Fistulae.
(4) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
(5) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
(6) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(7) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
b)

Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral
(posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua
arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:

(1) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time Normal
> 3 detik
(2) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar
persendian.
(3) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau
melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka
sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar
atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.

c)

Move (pergerakan terutama lingkup gerak)


Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas
dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu,
agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan
ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran
metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak.
Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.

2.

Pemeriksaan Diagnostik

a.

Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan
sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang
yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu
diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang
dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar
indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal
yang harus dibaca pada x-ray:

1)

Bayangan jaringan lunak.

2)

Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.

3)

Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.

4)

Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.


Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:

1)

Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit
divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada
satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

2)

Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang
vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.

3)

Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.

4)

Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang


dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.

b.

Pemeriksaan Laboratorium

1)

Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

2)

Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam
membentuk tulang.

3)

Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase

(LDH-5), Aspartat Amino

Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.


c.

Pemeriksaan lain-lain

1)

Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme


penyebab infeksi.

2)

Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi
lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.

3)

Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.

4)

Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.

5)

Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.

6)

MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

L. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1.
Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan
lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas, luka operasi.
2.
Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan
membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
3.
Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi
restriktif (imobilisasi)
4.
Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat,
sekrup)

5.
Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma
jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
6.
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d
kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang
akurat/lengkapnya informasi yang ada

RENCANA KEPERAWATAN

NO
DX
1

DIANGOSA
KEPERAWATAN DAN
KOLABORASI

TUJUAN (NOC)

Nyeri akut b/d spasmeNOC


otot, gerakan fragmen
Pain Level,
tulang, edema, cedera
jaringan
lunak,
Pain control,
pemasangan
traksi,
stress/ansietas,
luka
Comfort level
operasi.
Kriteria Hasil :

NIC
Pain Management

Lakukan pengkajian nye


karakteristik, durasi, frek

Observasi reaksi nonverba

Gunakan teknik komunika


Mampu
mengontrol
nyeri
(tahu
penyebab nyeri, mampu menggunakan nyeri pasien
tehnik
nonfarmakologi
untuk
Evaluasi pengalaman nye
mengurangi nyeri, mencari bantuan)

Evaluasi bersama pas


Melaporkan bahwa nyeri berkurang
ketidakefektifan kontrol n
dengan menggunakan manajemen nyeri

Bantu pasien dan keluarga


Mampu
mengenali
nyeri
(skala,
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Kurangi faktor presipitasi

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri


Ajarkan tentang teknik no
berkurang
Evaluasi keefektifan kontr
Tanda vital dalam rentang normal
Tingkatkan istirahat

Kolaborasikan dengan do
tidak berhasil

Monitor penerimaan pasie

Gangguan pertukaran gasNOC :


b/d
perubahan
aliran
Respiratory Status : Gas exchange
darah, emboli, perubahan
membran alveolar/kapiler
Respiratory Status : ventilation
(interstisial, edema paru,
kongesti)
Vital Sign Status
Kriteria Hasil :

NIC :

Airway Management

Buka jalan nafas, guanaka

Posisikan pasien untuk me

Identifikasi pasien perluny

Mendemonstrasikan
peningkatan
Pasang mayo bila perlu
ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
Lakukan fisioterapi dada j
Memelihara kebersihan paru paru dan
Keluarkan sekret dengan b
bebas dari tanda tanda distress
pernafasan
Auskultasi suara nafas, ca
Mendemonstrasikan batuk efektif dan
Lakukan suction pada may
suara nafas yang bersih, tidak ada
sianosis
dan
dyspneu
(mampu
Berika bronkodilator bial p
mengeluarkan
sputum,
mampu
bernafas dengan mudah, tidak ada
Barikan pelembab udara
pursed lips)
Atur intake untuk cairan m
Tanda tanda vital dalam rentang normal
Monitor respirasi dan statu

Respiratory Monitoring

Monitor rata rata, kedala

Catat pergerakan dad


tambahan, retraksi otot s

Monitor suara nafas, sepe

Monitor pola nafas : bra


cheyne stokes, biot

Monitor kelelahan otot dia

Auskultasi suara nafas, ca


dan suara tambahan

Tentukan kebutuhan suc


ronkhi pada jalan napas

auskultasi suara paru sete

Gangguan mobilitas fisikNOC :


b/d
kerusakan
rangka
Joint Movement : Active
neuromuskuler,
nyeri,
terapi
restriktif
Mobility Level
(imobilisasi).
Self care : ADLs

Latihan Kekuatan

Ajarkan dan berikan doro


latihan secara rutin

Latihan untuk ambula


Ajarkan teknik Ambulasi
keluarga.

Transfer performance
Kriteria Hasil :

Sediakan alat bantu untuk

Klien meningkat dalam aktivitas fisik


Mengerti
mobilitas

tujuan

dari

Beri penguatan positif u


peningkatan aman.

Latihan mobilisasi den

Memverbalisasikan
perasaan
meningkatkan
kekuatan
kemampuan berpindah

dalamAjarkan pada klien & kel


dancara berpindah dari kursi

Dorong klien melakukan l


Memperagakan penggunaan alat Bantu
Ajarkan pada klien/ kelua
untuk mobilisasi (walker)

Latihan Keseimbangan

Ajarkan pada klien & ke


mandiri dan menjaga ke
aktivitas sehari hari.

Perbaikan Posisi Tubu

Ajarkan pada klien/ kelua


benar untuk menghindar

Kolaborasi ke ahli terapi fi

Gangguan integritas kulitNOC :


b/d
fraktur
terbuka,
Tissue Integrity
pemasangan traksi (pen,
Membranes
kawat, sekrup)

NIC : Pressure Manage


:

Skin

and

Hindari kerutan padaa tem

Kriteria Hasil :
Integritas
kulit
dipertahankan

MucousAnjurkan pasien untuk me

yang

baik

Jaga kebersihan kulit agar


bisa
Mobilisasi pasien (ubah po

Melaporkan adanya gangguan sensasiMonitor kulit akan adanya


atau nyeri pada daerah kulit yangOleskan lotion atau minya

mengalami gangguan

Monitor aktivitas dan mob

Menunjukkan pemahaman dalam prosesMonitor status nutrisi pas


perbaikan
kulit
dan
mencegah
Memandikan pasien deng
terjadinya sedera berulang
Mampumelindungi
kulit
dan
mempertahankan kelembaban kulit dan
perawatan alami

Risiko
infeksi
b/dNOC :
ketidakadekuatan
Immune Status
pertahanan
primer
(kerusakan kulit, taruma
Risk control
jaringan lunak, prosedur
invasif/traksi tulang)
Kriteria Hasil :

NIC :

Infection Control (Kon

Bersihkan lingkungan sete

Pertahankan teknik isolas

Batasi pengunjung bila pe

Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi Instruksikan pada pengun
dan setelah berkunjung m
Menunjukkan
kemampuan
untuk
Gunakan sabun antimikro
mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas normal

Cuci tangan setiap sebelu

Menunjukkan perilaku hidup sehat

Gunakan baju, sarung tan

Pertahankan lingkungan a

Ganti letak IV perifer da


petunjuk umum

Gunakan kateter interm


kencing
Tingktkan intake nutrisi

Berikan terapi antibiotik b

Infection Protection (p
Monitor tanda dan gejala

Monitor hitung granulosit,

Monitor kerentanan terha


Batasi pengunjung

Saring pengunjung terhad

Partahankan teknik aspes

Pertahankan teknik isolas


Berikan perawatan kuliat

Inspeksi kulit dan memb


drainase

Ispeksi kondisi luka / insis


Dorong masukkan nutrisi
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat

Instruksikan pasien untuk

Ajarkan pasien dan keluar

Ajarkan cara menghindari

Laporkan kecurigaan infek


Laporkan kultur positif

Kurang
pengetahuanNOC :
NIC :
tentang kondisi, prognosis
Kowlwdge : disease process
Teaching : disease Pro
dan
kebutuhan
pengobatan b/d kurang
Kowledge : health Behavior
Berikan penilaian tentang
terpajan
atau
salah
penyakit yang spesifik
interpretasi
terhadapKriteria Hasil :
informasi,
keterbatasan
Jelaskan patofisiologi d
dan
keluarga
menyatakanberhubungan dengan an
kognitif,
kurangPasien
pemahaman tentang penyakit, kondisi,
akurat/lengkapnya
Gambarkan tanda dan g
prognosis dan program pengobatan
informasi yang ada
dengan cara yang tepat
Pasien
dan
keluarga
mampu
Gambarkan proses penyak
melaksanakan prosedur yang dijelaskan
secara benar
Identifikasi kemungkinan
Pasien
dan
keluarga
mampu
Sediakan informasi pada
menjelaskan
kembali
apa
yang
dijelaskan
perawat/tim
kesehatantepat
lainnya
Hindari harapan yang koso

Sediakan bagi keluarga a


dengan cara yang tepat

Diskusikan perubahan ga
mencegah komplikasi di
pengontrolan penyakit

Diskusikan pilihan terapi a

Dukung pasien untuk m


opinion dengan cara yan
Eksplorasi kemungkinan
tepat

Rujuk pasien pada grup a


yang tepat

Instruksikan pasien men


pada pemberi perawatan

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta
Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Ircham

Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama


Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya

di

Rumah,

di

Tempat

Kerja,

atau

di

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper
Saddle River

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey:
Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika
Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

1.

Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner and
Suddarth).
Macam-macam fraktur:
1.

Fraktur komplit yaitu garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang, dan
fragmen tulang biasanya berubah tempat.

2.

Fraktur incomplete yaitu fraktur yang melibatkan bagian potongan menyilang tulang. Salah
satu sis patah, yang lain, biasanya bengkak (Green stick).

3.
4.

Fraktur tertutup yaitu fraktur tidak meluas melewati kulit.


Fraktur terbuka (compound) yaitu fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana
potensial untuk terjadi infeksi.

5.

Fraktur tranversal yaitu fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang
tulang.

Fraktur oblik (miring) yaitu fraktur yang arahnya membentuk sudut melintasi tulang yang

bersangkutan biasanya tidak stabil dan sulit diatasi.

Fraktur spiral diakibatkan terpilihnya ekstremitas fraktur.

Fraktur comminuted fracture yaitu tulang terpisah menjadi bagian-bagian kecil.


1.

Fraktur patalogic yaitu fraktur terjadi karena adanya penyakit tulang (seperti kanker,
osteoporosis) dengan tak ada trauma atau hanya minimal.

Proses Penyembuhan Tulang


1.

Hematoma terjadi setelah fraktur dan bahkan bisa terjadi perdarahan. Fungsi dari hematom
tersebut untuk melindungi lokasi fraktur.

2.

Proliferasi sel terjadi setelah injury sel-sel dan kapiler, baru secara bertahap mengganti lokasi
hematoma dan terjadi profilerasi fibrolast.

3.

Pembentukan kalus terjadi 6-10 hari setelah injury dan terbentuk jaringan granulasi.

4.

Pergeseran kalus terjadi pembentulan tulang melalui deposit calsium.

5.

Pemadatan dan pembentukan tulang dimana terbentuk model tulang yang utuh.

2.

Anatomi dan Fisiologi

Tulang tibia merupakan tulang besar dan utama pada tungkai bawah. Ia mempunyai kondilus besar
tempat berartikulasi. Pada sisi depan tulang hanya terbungkus kulit dan periosteum yang sangat nyeri
jika terbentur. Pada pangkal proksimal berartikulasi dengan tulang femur pada sendi lutut. Bagian
distal berbentuk agak pipih untuk berartikulasi dengan tulang tarsal. Pada tepi lateral perlekatan
dengan tulang fibula. Pada ujung medial terdapat mateulus medialis.
Tulang tibia merupakan tulang panjang dan kecil dengan kepala tumpul. Tulang fibula tidak
berartikulasi dengan tulang femur (tidak ikut sendi lutut) pada ujung distalnya terdapat mateulus
lateraris.
Pada daerah betis terdapat otot-otot seperti otot gastronemlus pada sisi belakang, otot soleus pada
sisi, otot long dan short peroneal, otot tibia anterior, tendo achiles, dan lain-lain. Tulang tibia bersamasama dengan otot-otot yang ada di sekitarnya berfungsi menyangga seluruh tubuh dari paha ke atas,
mengatur pergerakan untuk menjaga keseimbangan tubuh pada saat berdiri dan beraktivitas lain.
Disamping

itu

tulang

tibia

juga

merupakan

tempat

deposit

mineral

(kalsium,

fosfor)

dan

hematopoiesis.

3.

Etiologi

Penyebab paling umum fraktur tibia biasanya disebabkan oleh:


1.

Pukulan/benturan langsung.

2.

Jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi.

3.

Gerakan memutar mendadak.

4.

Kelemahan/kerapuhan

struktur

tulang

akibat

gangguan

atau

penyakit

primer

seperti

osteoporosis.

4.

Patofisiologi
Fraktur bawah lutut paling sering adalah fraktur tibia dan fibula yang terjadi akibat pukulan

langsung, jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi, atau gerakan memuntir yang keras. Fraktur tibia dan
fibula sering terjadi dalam kaitan satu sama lain. Pasien datang dengan nyeri deformitas, hematoma
yang jelas, dan edema berat. Seringkali fraktur ini melibatkan kerusakan jaringan lunak berat karena
jaringan subkutis di daerah ini sangat tipis.

Fungsi saraf peroneus dikaji untuk dipakai sebagai data dasar. Jika fungsi saraf terganggu,

pasien tak akan mampu melakukan gerakan dorsofleksi ibu dari kaki dan mengalami gangguan
sensasi pada sela jari pertama dan kedua. Kerusakan arteri tibialis dikaji dengan menguji respons
pengisian kapiler. Gejalanya meliputi nyeri yang tak berkurang dengan obat dan bertambah bila
melakukan fleksi plantar, tegang dan nyeri tekan otot di sebelah lateral krista tibia, dan parestesia.
Fraktur dekat sendi dapat mengakibatkan komplikasi berupa hemartrosis dan keruskaan ligamen.

Kebanyakan fraktur tibia tertutup ditangani dengan reduksi tertutup dan imobilisasi awal

dengan gips sepanjang tungkai. Reduksi harus relatif akurat dalam hal angulasi dan rotasinya. Ada
saat dimana sangat sulit mempertahankan reduksi, sehingga perlu dan dipertahankan dalam posisinya
dengan gips. Aktivitas akan mengurangi edema dan meningkatkan peredaran darah. Penyembuhan
fraktur memerlukan waktu 6 sampai 10 minggu.

Fraktur terbuka atau komunitif dapat ditangani dengan traksi skelet, fiksasi interna dengan

batang, plat, atau naik atau fiksasi eksterna. Latihan kaki dan lutut harus didorong dalam batas alat
imobilisasi. Pembebanan berat badan dimulai sesuai resep, biasanya sekitar 4 sampai 6 minggu.

Seperti pada fraktur ekstremitas bawah, tungkai harus ditinggikan untuk mengontrol edema.

Diperlukan evaluasi neurovaskuler berkesinambungan.


Click here to download pathway

5.

Tanda dan Gejala

1.

Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasikan.

2.

Krepitus yaitu saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang.

3.

Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur.

4.

Tak mampu menggerakkan kaki karena adanya perubahan bentuk/ posisi berlebihan bila
dibandingkan dengan keadaan normal.

6.

Pemeriksaan Diagnostik

1.

Rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma.

2.

Darah lengkap: menunjukan tingkat kehilangan darah (pemeriksaan Ht, Hb. Peningkatan sel
darah putih sebagai respons normal terhadap respon stress setelah trauma.

3.

Masa pembekuan dan perdarahan

Persiapan pre operasi, biasanya normal jika tidak ada gangguan perdarahan.
1.

Pemeriksaan urine

Sebagai evaluasi fungsi ginjal.


1.

EKG: mendeteksi ada tidaknya kelainan pada jantung dan sebagai persiapan operasi.

7.

Therapi

1.

Gips untuk memberi immobilisasi, menyokong dan melindungi tulang selama proses
penyembuhan, mencegah/memperbaiki deformitas.

2.

Traksi untuk mencapai aligment dengan memberi beban seminimal mungkin pada daerah
distal.

3.

Prosedur operasi dengan oper reduction and internal fixation (ORIF). Dilakukan pembedahan
dan dipasang fiksasi internal untuk mempertahankan posisi tulang (misalnya: skrup, plat, pin,
kawat, paku). Alat ini bila dipasang di sisi maupun di dalam tulang, digunakan jenis yang sama
antra plate dan sekrup untuk menghindari terjadinya reaksi kimia.

4.

Debridement dilakukan jika keadaan luka parah dan tidak beraturan untuk memperbaiki
keadaan jaringan lunak di sekitar fraktur.

8.
1.

Komplikasi
Shock hipovolemik karena perdarahan (kehilangan daerah eksternal maupun yang tidak
kelihatan).

2.

Emboli lemak pada saat fraktur lemak dapat masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum
tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler.

3.

Boneunion penyembuhan terlambat bila terdapat kerusakan jaringan yang luas yang dapat
terjadi karena infeksi.

4.
5.

Infeksi karena keadaan luka atau luka post pembedahan.


Kompartemen karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus
otot terlalu ketat.

C.

Konsep Dasar Keperawatan

1.

Pengkajian

1.

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan.

Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan yang memadai.

Adanya kegiatan yang berisiko cedera.

Adanya riwayat penyakit yang bisa menyebabkan jatuh.


1.

Pola nutrisi
Adanya gangguan nafsu makan karena nyeri.

1.

Pola eliminasi

Obstipasi karena imobilitas.


1.

Pola aktivitas dan latihan

Ada riwayat jatuh/terbentuk ketika sedang beraktivitas atau kecelakaan lain.

Tidak kuat berdiri/menahan beban.

Ada perubahan bentuk atau pemendekan pada bagian betis/tungkai bawah.


1.

Pola tidur istirahat


Pola tidur berubah/terganggu karena adanya nyeri pada daerah cedera.

1.

Pola persepsi kognitif

Biasanya mengeluh nyeri hebat pada lokasi tungkai yang terkena.

Mengeluh kesemutan atau baal pada lokasi tungkai yang terkena.

Kurang pemahaman tentang keadaan luka dan prosedur tindakan.


1.

Pola konsep diri dan persepsi diri

Adanya ungkapan ketidakberdayaan karena keadaan cedera.

Rasa kuatir dirinya tidak mampu beraktivitas seperti sebelumnya.


1.

Pola hubungan peran


Kecemasan akan tidak mampu menjalankan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga dan

melindungi.

Merasa tak berdaya.


1.

Pola seksual dan reproduksi


Merasa khawatir tidak dapat memenuhi kewajiban terhadap pasangan.

1.

Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres

Ekspresi wajah sedih.

Tidak bergairah.

Merasa tersaingi di rumah sakit.


1.

Pola nilai kepercayaan


Menganggap cedera adalah hukuman.

2.

Diagnosa Keperawatan

Pre Operatif:
1.

Nyeri b.d patah tulang/spasus otot, edema, dan/atau kerusakan jaringan lunak.

2.

Perubahan perfusi jaringan b.d menurunnya aliran darah akibat cedera.

3.

Potensial infeksi b.d trauma tulang dan kerusakan jaringan lunak.

4.

Kecemasan b.d nyeri, ketidakmampuan dan gangguan mobilitas.

5.

Kurang pengetahuan tentang keadaan fraktur, pilihan tindakan.

Post Operatif:
1.
2.

Nyeri b.d prosedur operasi dan keadaan luka.


Gangguan mobilitas fisik b. perubahan status ekstremitas bawah sesudah operasi, nyeri dan
terapi modalitas fisik.

3.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d bertambahnya kebutuhan metabolik,
penyembuhan tulang dan penyembuhan jaringan lunak.

4.

Potensial komplikasi post operasi b.d intervensi pembedahan atau imobilitas.

5.

Potensial infeksi b.d kerusakan integritas jaringan/kulit.

6.

Kurang pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan
di rumah.

1.

3.

Rencana Tindakan

Pre Operasi
1.

Nyeri b.d prosedur operasi dan keadaan luka

HYD : Nyeri berkurang ditandai dengan :

TTV dalam kertas normal : S = 36< 37c 3,P = 20x / menit, N=80 x/menit, TD =120 / 80

Pasien mengatakan nyeri berkurang

Nyeri dalam batas

Intervensi keperawatan:
1.

Obsevasi TTV tiap 4 jam

R/ menunjukkan respon terhadap nyeri


1.

Kaji keluhan nyeri

R/ untuk mengetahui intervensi berikutnya


1.

Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring

R/ menghilangkan rasa nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang


1.

Latih tarik nafas dalam

R/ untuk mengurangi rasa nyeri


1.

Kolahorasi dengan dokter untuk tindakan selanjutnya

R/ untuk mrnghilangkan nyeri

1.

Perubahan Perfusi b.d menurunnya cairan darah akibat cedera

HYD : Perfusi terpenuhi ditandai dengan:


1.

TTV dalam batas normal, S = 36-37oC, TD = 120/80, N=80 x/mnt, P=18 x/mnt

2.

Kulit hangat dan kering

Intervensi Keperawatan:
1. Kaji TTV tiap 3-4 jam
R/ untuk menunjukkan respon perfusi
2. Lepaskan perhiasan dari ekstrimitas yang sakit
R/ Dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema
1.

Kaji alirankapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada faktur

R/ Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik), warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial.
1.

Awasi posisi / lokasi alat penyangga sementara

R/ Alat dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah

1.

Potensial infeksi b.d trauma tulang dan kerusakan jaringan lunak

HYD: Infeksi tidak terjadi ditandai dengan :


1.

TTV dalam batas normal, S:36-37C

N=80x/mnt , P=18x/menit TD=120/80 mmHg


1.

Kulit sekitar trauma tidak tampak prubahan mencolok

Intervensi Keperawatan:
1.

Kaji TTV tiap 3-4 jam

R/ peningkatan suhu dapat menunjukkan proses infeksi


1.

Pertahankan teknik antiaseptik

R/ meminimalkan kesempatan kontaminasi


1.

Infeksi kulit adanya iritasi

R/ untuk mengetahui proses infeksi


1.

Selidiki nyeri yang tiba tiba/ keterbatasan gerakan dengan adanya edema local

R/ dapat mengindeifikasikan terjadinya infeksi


1.

Laksanakan program medik untuk pemberian antibiotik

R/ antibiotik dapat mencegah proses infeksi dan mempercepat penyembuhan

1.

Kecemasan b.d. nyeri, ketidakmampuan dan gangguan mobilitas

HYD : Cemas tidak terjadi ditandai dengan


1.

Wajah tampak rileks

2.

Pasien kooperatif dalam pengobatan

3.

TTV dalam batas normal, S = 36 37oc, N = 80 x /mnt, P = 18 x / mnt, TD = 120 / 80

Intervensi Keperawatan:
1.

Kaji tingkat pengetahuan pasien

R/ untuk mengetahui intervensi yang akan diberikan


1.

Diskusikaan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan

R/ pasien mengerti dan kooperatif

Post Operasi
1.

Nyeri b.d. tindakan operasi dan keadaan luka

HYD : nyeri berkurang sampai dengan hilang ditandai dengan :


1.

Pasien tampak rileks

2.

Mampu beradaptas dalam beraktivitas / tidur / istirahat

3.

Pasien dapat menunjukkan ketrampilan relaksasi

4.

Intensitas nyeri 1 2

Intervensi Keperawatan :
1.

Kaji TTV dalam 3 4

R/ untuk mengetahui respons nyeri


1.

Kaji tingkat rasa nyeri

R/ untuk mengetahui intervensi keperawatan yang akan dilakukan


1.

Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips / traksi

R/ menghilangkan rasa nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang


1.

Tinggikan ekstremitas yang fraktur

R/ meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri


1.

Hindari penggunaan sprei/bantal plassik dibawah ekstremitas

R/ dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas


1.

Ajarkan teknik relaksasi

R/ untuk mengurangi rasa nyeri


1.

Beri obat sesuai dengan intruksi dokter untuk pemberian analgetik

R/ untuk mengurangi rasa nyeri

1.

Gangguan mobilitas pisik b.d perubahan status ektremitas bawah sesudah operasi, nyeri dan
terapi modalitas fisik

HYD :

Meningkatkan/mempertahankan mobilitas fisik pada tingkat yang paling tinggi ditandai

dengan : pasien mau bergerak secara perlahan.


Intervensi keperawatan:

1.

Kaji derajat mobilitas yang dapat dilakukan

R/ untuk mengindentifikasi rencana tindakan selanjutnya


1.

Dorong partisipasi klien dalam aktivitas dengan rekreasi, missal : dengan menonton TV.

R/ memberi kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan fikiran


Kembali
1.

Ajarkan pasien untuk bergerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit

R/ mempertahankan gerak sendi dan kekuatan otot


1.

Bantu/ dorong untuk melakukan perawatan diri sendiri, misal : mencukur

R/ meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi darah


1.

Awasi TD saat beraktivitas

R/ untuk mengindentifikasi keluhan pusing


1.

Bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat

R/ untuk mempercepat proses penyembuhan dan adpatasi aktivitas yang dilakukan


1.

Beri minum 2000 3000 liter / hari

R/ mempertahankan hidrasi kulit, menurunkan resiko infeksi urinarius


1.

Batasi makanan yang mengandung gas, misal : kol

R/untuk mencegah konstipasi


1.

Beri obot sesuai instruksi dokter untuk pemberian pencahar

R/untuk mencegah konstipasi

1.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d bertambahnya kebutuhan metabolik
penyembuhan tulang dan penyembuhan jaringan lunak

HYD: Nutrisi terpenuhi ditandai dengan :


1.

BB naik 200 gram dalam 1 bulan

2.

Pasien mengatakan badannya mengalami ppenambahan BB

3.

Wajah tampak segar

Intervensi :
1.

Berikan batu es, air, setelah mual hilang

R/ mempertahankan cairan aadekuaaaat mencegah dehidrasi


1.

Anjurkan pasien untuk makan porsi kecil tapi sering

R/ untuk memenuhi nutrisi


1.

Kolaaborasi dengan dokter untuk memberikan diet tinggi kalori, vitamin, protein

R/ nutrisi penting untuk penyembuhan

1.

Potensial infeksi b.d kerusakan integritas jaringan kulit

HYD:

Infeksi tidak terjadi ditandai dengan :

1.

TTV dalam batas normal, S=36-37c, N=80x/mnt, P=18, TD= 120/80 mmHg.

2.

Kulit sekitar trauma tidak kemerahan

Intevensi:
1.

Kaji TTV dalam 1 4 jam

R/ indikator adanya infeksi


1.

Kaji rasa nyeri mendadak

R/ untuk mengindentifikasi rasa nyeri dan proses infeksi


1.

Kaji kulit akan adanya iritasi

R/ untuk mengetahui proses infeksi


1.

Pertahankan teknik antiseptik

R/ untuk mencegah kontaminasi silang


1.

Laksanakan program medik untuk pemberian antibiotik

R/ untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan

1.

Kurang pengetahuan tentang perubahan aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di
rumah.

HYD: Pasien dapat mengerti tentang aktivitas yang boleh dilakukan ditandai dengan :
1.

Pasien tidak bertanya dengan pertanyaan yang sama pada perawat

2.

Pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan

Intervensi :
1.

Kaji tingkat pengetahuan pasien

R/ untuk mengetahui rencana tindakan yang akan dilakukan


1.

Diskusikan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan

R/ pasien mengerti dan kooperatif


1.

Libatkan keluarga dalam perawatan

R/ untuk membantu bekerjasama dalam proses perawatan

1.

4.
1.
2.

Discharge Planning
Anjurkan pada pasien untuk check-up secara teratur di tempat pelayanan kesehatan.
Anjurkan pada pasien untuk makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung
serat seperti: nasi ditambah lauk pauk dan susu.

3.

Minum obat sesuai dengan instruksi dokter.

4.

Saat berjalan gunakan tumpuan lebih banyak pada kaki yang tidak sakit.

5.

Melatih ujung kaki untuk digerakan 1-3 kali dalam setengah jam.

6.

Menjaga kebersihan luka dan segera laporkan ke tenaga kesehatan bila ada bau yang
tidak enak, ada rembesan darah keluar, demam tinggi.

7.

Anjurkan untuk banyak minum 2-3 liter/hari.

8.

Jelaskan penyebab dari fraktur, pengobatan dan komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC. 2002.
Doengus E. Marilynn, Mary Frances, Moorhouse, Alice, C. Geislet. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi
3. Jakarta: EGC. 1999.
Donna

D.

Ignatavicius,

Marylin

V.B. Medical

Surgical

Nursing:

Nursing

Process

Approach.Pensylvania: WB. Saunders Company. 1991.


Lynda Juall Carpenito. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta: EGC. 1997.
Sylvia A. Price. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi. Edisi 4. Jakarta: EGC. 1995.

BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
OPEN FRAKTURE CRURIS

Defenisi
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui
kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi. luka pada kulit
dapat berupa tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit atau dari luar oleh karena tertembus
misalnya oleh peluru atau trauma langsung (chairuddin rasjad,2008).
Patah tulang terbuka adalah patah tulang dimana fragmen tulang yang bersangkutan sedang atau
pernah berhubungan dunia luar (PDT ortopedi,2008)
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi
pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang mendapatkan stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya (Brunner & Suddart, 2001).
Jenis fraktur
a)
Berdasarkan sifat fraktur:
1. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
2. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
b)
Berdasarkan kompli/tidak komplitnya fraktur:
1.
Fraktur komplit : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
2.
Fraktur tidak komplit: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
c)
Berdasarkan bentuk garis patah & hubungan dengan mekanisme trauma:
1.
Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkok.
2.
Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
3.
Oblik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding
transversal)
4.
Spiral: arah garis patah spiral dan akibat dari trauma rotasi
5.
Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
6.
Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
7.
Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
8.
Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget,
metastasis tulang, tumor).
9.
Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

ANATOMI FISIOLOGI
1.
Patela ( Tempurung lutut )
Sebelah atas dan bawah dari kolumna femoralis terdapat taju yang disebut trokanter mayor dan
trokanter minor. Dibagian ujung berbentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang
disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis. Diantara kedua kondilus ini terdapat lekukan tempat
letaknya tulang tempurung lutut ( patela ) yang disebut fosa kondilus
2.
Tibia ( TI. Kering )
Bentuk lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula, pada bagian ujung membentuk
persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os maleolus medialis, bagian
dari tibia meliputi :

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Prosesus Interkondiloid
Fosa interkondoloid
Maleolus medialis
Tuberositas tibia fibula ( TI betis )
Maleolus lateralis
Prosesus stiloid
3.
Tarsalia ( pergelangan kaki ) terdiri dari :

1)
2)
3)
4)

Talus
Kalkaneus
Navikular
Kunaiformi

Lateralis
Inter medialis

1.
2.
3.

Vasodilatasi
Pengeluaran plasma
Infiltrasi sel darah putih

Etiologi

Menurut Oswari E (1993):


a.
Kekerasan langsung: Terkena pada bagian langsung trauma
b.
Kekerasan tidak langsung: Terkena bukan pada bagian yang terkena trauma
c.
Kekerasan akibat tarikan otot
Menurut Barbara C Long (1996):
a.
Benturan & cedera (jatuh, kecelakaan)
b.
Fraktur patofisiologi (oleh karena patogen, kelainan)
c.
Patah karena letih
Patofisiologi
Fraktur

Periosteum, pembuluh darah


dan jaringan sekitarnya rusak

Perdarahan
Kerusakan jaringan di ujung tulang

Terbentuk hematom di canal medula

Jaringan mengalami nekrosis

Nekrosis merangsang terjadinya peradangan, ditandai :


Tahap penyembuhan tulang
1.
Haematom :
o Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan haematom
o Setelah 24 jam suplay darah ke ujung fraktur meningkat
o Haematom ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan
berkembang menjadi granulasi.
2.
Proliferasi sel :
o Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur
o Sel ini menjadi prekusor dari osteoblast, osteogenesis berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum
melebihi tulang.
o Beberapa hari di periosteum meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di ujung fraktur.
3.
Pembentukan callus :
o Dalam 6-10 hari setelah fraktur, jaringan granulasi berubah dan terbentuk callus.
o Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari pembentukan callus.
o Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga diameter tulang melebihi normal.
o Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan, sementara itu terus meluas
melebihi garis fraktur.
4.
Ossification
o Callus yang menetap menjadi tulang kaku karena adanya penumpukan garam kalsium dan bersatu di
ujung tulang.
o Proses ossifikasi dimulai dari callus bagian luar, kemudian bagian dalam dan berakhir pada bagian
tengah
o Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.

5.
Consolidasi dan Remodelling
o Terbentuk tulang yang berasal dari callus dibentuk dari aktivitas osteoblast dan osteoklast.
VII.Manifestasi klinis
a.
Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan
edema
b.
Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
c.
Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan
dibawah tempat fraktur
d.
Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e.
Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
f.
Peningkatan temperatur lokal
g.
Kehilangan fungsi

VIII.
Komplikasi
1.
Umum :
o Shock
o Kerusakan organ
o Kerusakan saraf
o Emboli lemak
2.
Dini:
o Cedera arteri
o Cedera kulit dan jaringan
o Cedera partement syndrom.
3.
Lanjut :
o Staffnes (kaku sendi)
o Degenerasi sendi
o Penyembuhan tulang terganggu :
o Mal union
o Non union
o Delayed union
o Cross union

IX.
a.
b.
c.
d.
X.
a.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
Pemeriksaan jumlah darah lengkap
Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
Penatalaksanaan
Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah
sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.
b.
Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
c.
Mempertahankan dan mengembalikan fungsi

o
o
o
o

1.

Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan


Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
Status neurovaskuler (misal: peredaran darah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi dan meningkatkan
peredaran darah

B. KONSEP KEPARAWATAN
I. PENGKAJIAN
Pengkajian primer
Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek
batuk
Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak
teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung
normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut

2.
Pengkajian sekunder
a.Aktivitas/istirahat
z kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
z Keterbatasan mobilitas
d)
Sirkulasi
z Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
z Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
z Tachikardi
z Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
z Cailary refil melambat
z Pucat pada bagian yang terkena
z Masa hematoma pada sisi cedera
e)
Neurosensori

Kesemutan
Deformitas, krepitasi, pemendekan
Kelemahan
f)

Kenyamanan
z nyeri tiba-tiba saat cidera
z spasme/ kram otot
g)
Keamanan
z laserasi kulit
z perdarahan
z perubahan warna
z pembengkakan lokal

Smeltzer Suzanne, C 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Jakarta. EGC


Price Sylvia, A, 1994, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC
Subhan, 2002, Laporan Kasus Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Musculoskeletal di Ruang Bedah
F Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya, Universitas Airlangga, Surabaya.
Evelyn C . Pearce. Anatomi dan fisiolagi untuk paramedis . Jakarta : 1992

Laporan Pendahuluan Fraktur Tibia


HERMAN BAGUS

LAPORAN PENDAHULUAN

Laporan Pendahuluan Fraktur Tibia - Pengertian Fraktur adalah terputusnya kontinuitas


tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat terjadi jika tulang dikenai stress yang
lebih besar dari yang dapat diabsorbsi .
B.

Etiologi

Fraktur

dapat

disebabkan

oleh

- Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir
mendadak,

kontraksi

otot

ekstrim,

- Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.
- Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur patologis.
C.

Patofisiologis

Jenis

fraktur

Fraktur komplit adalah patah pada selurh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami

pergeseran

Fraktur inkomplit, patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

Fraktur

tertutup

(fraktur

simple),

tidak

menyebabkan

robekan

kulit.

Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks), merupakan fraktur dengan luka pada


kulit atau membrana mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka digradasi
menjadi : Grade I dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya dan sakit jelas,

Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif dan Grade III,
yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensi,
merupakan

yang

paling

Penyembuhan/perbaikan

berat.

fraktur

Bila sebuah tulang patah, maka jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum
terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk
pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi, dimana sel-sel
pembentuk tulang premitif (osteogenik) berdeferensiasi menjadi kondroblas dan
osteoblas. Kondroblas akan mensekresi fosfat yang akan merangsang deposisi kalsium.
Terbentuk lapisan tebal (kalus disekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan
meluas, bertemu dengan lapian kalus dari fragmen yang satunya dan menyatu. Fusi
dari kedua fragmen terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang
melekat pada tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur.Persatuan (union) tulang
provisional ini akan menjalani transformasi metaplastikuntuk menjadi lebih kuat dan
lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami re-modelling dimana osteoblas akan
membentuk tulang baru sementara osteoklas akan menyingkirkan bagian yanng rusak
sehingga akhirnya akan terbentuk tulang yang menyerupai keadaan tulang aslinya.
D.

Manifestasi

klinis

1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang
untuk

meminimalkan

gerakan

antar

fragmen

tulang.

2. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan


eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas
normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung

pada

integritas

tulang

tempat

melengketnya

obat.

3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik
tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau
beberapa
E.

hari

setelah
Komplikasi

cedera.
fraktur

- Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi
yang

tidak

pada

seharusnya,

membentuk

sudut

atau

miring

- Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan
kecepatan
-

yang

Nonunion,

lebih

patah

lambat

tulang

yang

dari
tidak

keadaan
menyambung

normal.
kembali.

- Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan


di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
-

Shock,

- Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor
resiko terjadinya emboli lemakada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40 tahun,
usia

70

sam

pai

80

fraktur

tahun.

- Tromboembolic complicastion, trombo vena dalam sering terjadi pada individu yang
imobiil dalm waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan lazimnya
komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi paling fatal bila
terjadi

pada

bedah

ortopedil

Infeksi

- Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia.
- Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf
simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri,
perubahan

tropik

F.

dan

vasomotor

instability.

Pemeriksaan

penunjang

Laboratorium

Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering rendah
akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak
sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P meengikat di dalam darah.
Radiologi
X-Ray

:
dapat

dilihat

gambaran

fraktur,

deformitas

dan

metalikment.

Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi


struktur

fraktur

G.

yang

kompleks.

Penangganan

fraktur

Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian


fungsi

dan

kekuatan

normal

dengan

rehabilitasi.

- Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulangpada kesejajarannya dan rotasi

anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka,
yang

masing-masing

di

pilih

bergantung

sifat

fraktur

Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujungujung

saling

behubungan)

dengan

manipulasi

dan

traksi

manual.

Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya
traksi

disesuaikan

dengan

spasme

otot

yang

terjadi.

Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi. Alat


fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan logam dapat
digunakan

untuk

mempertahankan

penyembuhan

fragmen

tulang

tulang

dalam

yang

posisinya

sampai

solid

terjadi.

- Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di imobilisasi atau di
pertahankan dalam posisi dan kesejajaranyang benar sampai terjadi penyatuan.
Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal. Fiksasi eksternal
meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinui, pin dan teknik gips atau fiksator
eksternal. Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai
inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di butuhkan sesuai
lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik 10-12 minggu, batang 18
minggu
-

dan

supra

Mempertahankan

penyembuhan

dan

kondiler

mengembalikan

tulang

dan
untuk

Latihan

isometrik

Berpartisipasi

dalam

Faktor

yang

mempengaruhi
Imobilisasi

Kontak

frgmen

Asupan

darah

dan

pembebanan

nyeri

setting

aktivitas

hidup

penyembuhan

bertahap.
fraktur

tulang

minimal.

yang
badan

untuk

:
tulang.

memadai.

yang
berat

otot
sehari-hari

secara

Nutrisi
Latihan

neurologi.

fragmen

pembengkakan
dan

keaktivitas

pada

imobilisasi

meminimalkan
kecemasan

Kembali

yaitu

status

Mengontrol

diarahkan

dan

Memantau

upaya

minggu.

lunak,

reduksi

Meninggikan

segala

jaringan

Mempertahankan

fungsi,

12-15

baik.
tulang

panjang.

Hormon-hormon

pertumbuhan

Potensial

tiroid,

kalsitonin,

listrik

H.

pada

vitamin

D,

steroid

patahan

Diagnosa

Nyeri

anabolik.
tulang.

keperawatan

berhubungan

dengan

fraktur

Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler, tekanan dan


disuse
Kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan
aktivitas.

Resiko
Kerusakan

infeksi
mobilitas

berhubungan
fisik

berhubungan

dengan
dengan

trauma
patah

tulang

I. Perencanaan
Diagnosa

Keperawatan

Tujuan
Intervensi
Rasional
Nyeri

akut

Resiko

Cidera

Kurang

perawatan

diri

Resiko

infeksi

Kerusakan

mobilitas

NOC
-Tingkatkan

fisik

outcome
nyeri,

kontrol

nyeri,

:
tingkat

-Efek

kenyamanan
distruptive

Clien

outcome

-Skala

nyeri

menurun

-Klien

merasa

nyaman

-Kecukupan
-kemampuan
NOC

istirahat

dan

tidur.
aktivitas
:

Status

keselamatan

Injuri

Client

fisik

outcome

Bebas

dari

cidera

Pencegahan

Cidera

NOC

Perawatan

diri

ADL

Client

outcome:

Pasien

dapat

Kebersihan

melakukan

diri

aktivitas

pasien

terpenuhi

NOC

Status

imun

Kontrol

infeksi

Kontrol

resiko

Client

outcome:

bebas
Sel

darah

tanda
putih

infeksi

dalam

batas

NOC

Ambulasi

Tingkat

mobilisasi

Perawtan

Client

diri

outcome

-Peningkatan

aktivitas

fisik

NIC

1.Pain

manajemen

Kaji
Observasi

kondisi

respon

non

Gunakan
Evaluasi

normal

nyeri

verbal

ketidaknyamanan.

kkomunikasi

teraupetik

pengalaman

nyeri

Kontrol
Meminimalkan
Ajarkan

faktor
teknik

pasien
lingkungan.

pencetus
non

nyeri
farmakologi

Tingkatkan

Pastikan

istirahat/tidur

pasien

menerima

Monitor

analgetik

pemberian

analgesik.

2.Manajemen
-

medikasi

Tentukan

obat

yang

Monitor

Monitor

Jelaskan

Ajarkan

ditentukan

pasien

pasien

pengobatan

kerja

toxisitas.
dan

memperhatikan

efek

aturan

obat.

pengobatan.

proses

Kaji

tk.

Jelaskan

penyakit

Pengetahuan

pasien

Jelaskan
tanda,

gejaa

tentang

dan

diskusikan

fraktur

terapi

yang

diberikan.
Lingkungan

Batasi

Fraktur

patofisiologi

4.Manajemen
Pertahankan

order.

tanda-tanda

pada

dengan

efeksivitas

3.Penkes
-

sesuai

Atur

pengunjung

kebersihan
posisi

tempat

paien

tidur.

yang

nyaman

NIC

Memberikan

posisi

yang

nyaman

unuk

Klien:

- Berikan posisi yang aman untuk pasien dengan meningkatkan obsevasi pasien, beri
pengaman
-

tempat

Periksa

sirkulasi

dan

Menilai

periper

Menilai
Libatkan

banyak

integritas
orang

status

neurologi

ROM
dalam

pasien
kulit

memidahkan

NIC
Bantuan

tidur

pasien,

pasien.
atur

posisi

:
perawatan

diri

Monitor

kemampuan

pasien

terhadap

perawatan

diri

- Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan


-

Beri

bantuan

sampai

Bantu

pasien

mempunyai

pasien

kemapuan

dalam

untuk

memenuhi

merawat

diri

kebutuhannya.

- Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya


-

Pertahankan

aktivitas

perawatan

diri

secara

NIC

1.Kontrol

infeksi

Batasi

penginjung

Pertahankan

Ajarkan
Cuci

tangna

Gunakan

sebelum

Pertahankankan

lingkungan

teknik
dan

teknik

Kelola

kebersihan

pasien

sesudah

steril

cuci
kontak

dalam

sesuai

intake

Jelaskan

nutrisi

tandan

gejala

Pencegahan

tanda

Monitor

Jelaskan

3.

pada

cairan.
infeksi
infeksi

hasil
pasien

cara

Monitor

Lab.
pencegahan

vital

NIC

infeksi
sign

1.Terapi
-

luka.

infeksi

Monitor

pasien.
order

dan

dan

tangan.

dengan
perawtan

antibiotik

2.

rutin

ambulasi

Konsultasi
Latih

dengan
pasien

terapi

untuk
ROM

perencanaan
sesuai

ambulasi
kemampuan

Ajarkan

pasien

Monitor

kemampuan

2.
-

berpindah

tempat

ambulasi

pasien

Pendidikan
Jelaskan

pada

kesehatan

pasien

Jelaskan

pentingnya

pada

pasien

ambulasi
tahap

dini
ambulasi

Manajemen nyeri yang diberikan diharapkan menekan stimulus/rangsangan terhadap


nyeri

sehingga

nyeri

pasien

berkurang.

Memberikan pengobatan akan menekan stimulasi terhadap nyeri sehingga nyeri


berkurang
Menghilangkan ansietas dan meningkatkan kerjasama dari pasien dan keluarga.
Menurunkan

ketegangan

otot

dan

memfkuskan

kembali

perhatian

pasien

Bantuan perawatan diri dapat membantu klien dalam beraktivitas dan melatih pasien
untuk
Meminimalkan
Mencegah

beraktivitas
invasi

kembali.

mikroorganisme

adanya

penyebab
infeksi

infeksi
lanjutan

Melatih latihan gerak ekstremitas pasien serta mencegah adanya kontraktur sendi dan
atropi

otot

Daftar Pustaka
Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC.
Jakarta

Dep.Kres.RI 1995. Penerapan proses keperawatan pada klien dengan ganggua sistem
muskuloskletal.

Pusat

pendidikan

tenaga

kesehatan

Dep.Kes.RI.

Jakarta

Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing intervention classification (NIC). Mosby year book.
St.

Louis

Long. 1996. Perawatan medikal bedah. Yayasan ikatan alumni pendidikan keperawatan
Padjajaran.

Bandung.

Marion Johnon,dkk. 2000. Nursing outcome classification (NOC). Mosby year book. St.
Louis

Marjory godon,dkk. 2000. Nursing diagnoses: Definition & classification 2001-2002.


NANDA

Prince, Wilson. 1995. Patofisiologi konsep klinis proses-prpses penyakit , edisi 4, buku 2.
EGC. Jakarta

SABTU, 22 JANUARI 2011


KLASIFIKASIDAN PENANGANAN OPEN FRAKTUR (GUSTILLO/ANDERSON}
KLASIFIKASI OPEN FRAKTUR (GUSTILLO/ANDERSON}

Grade I
Patah tulang terbuka dengan luka < 1 cm, relatif bersih, kerusakan
jaringan lunak minimal, bentuk patahan simpel/transversal/oblik.
Grade II Patah tulang terbuka dengan luka > 1 cm, kerusakan jaringan lunak tidak
luas, bentuk patahan simpel.
Grade III Patah tulang terbuka dengan luka > 10 cm, kerusakan jaringan lunak
yang luas, kotor dan disertai kerusakan pembuluh darah dan saraf.

IIIA. Patah tulang terbuka dengan kerusakan jaringan luas, tapi


menutupi patahan tulang waktu dilakukan perbaikan.

masih bisa

III B Patah tulang terbuka dengan kerusakan jaringan lunak hebat dan atau hilang
(soft tissue loss) sehingga tampak tulang (bone-exposs)
III C Patah tulang terbuka dengan kerusakan pembuluh darah dan atau saraf yang
hebat

PENANGANAN OPEN FRAKTUR

Pembersihan luka
Luka kotor, bekuan darah dan material benda asing harsu dibuang dan dicuci
dengan air steril, dan lebih ideal dengan garam fisiologis.
Debridemen/pembuangan jaringan avital
a.

Membuang benda asing

b.

Membuang jaringan avital

Tujuan debridemen :
a.
b.

Mengurangi derajat terkontaminasi


Menciptakan luka yang bersih

Reposisi dan stabilisasi tulang


Reposisi dilakukan secara anatomis dan optimal untuk menghilangkan terjadinya
dead space dan penekanan tulang pada kulit, sehingga penutupan luka tidak
menjadi trgang. Fiksasi/stabilisasi dilakukan setelah reposisi untuk mempertahankan
kedudukan patahan tulang.
Penutupan luka
Penutupan luka untuk patah tulang teruka tipe 1 dapat dilakukan dengan
penutupan secara primer
Penutupan luka untuk patah tulang teruka tipe 2 dan 3 sebaiknya dibiarkan
terbuka dan memerlukan debridemen ulang bila ada tanda-tanda infeksi.
Pemberian antibiotika
Pemberian antibiotiotika pada patah tulang bukanlah tindakan profilaksis,
tapi merupakan tindakan terapeutik
Cephalosorin merupakan broad spectrum yang diberikan secara parenteral,
penambahan dengan aminoglikosida diindikasikan bila luka hebat (patah tulang tipe
3)
Pencegahan tetanus

>>
Diposkan oleh Riyan Wahyudo di 23.42

Anda mungkin juga menyukai