Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth
weight baby (bayi dengan berat badan lahir rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena
tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2.500 gram pada waktu lahir bayi adalah
prematur. Keadaan ini dapat disebabkan oleh : (1) masa kehamilan kurang dari 37
minggu dengan berat yang sesuai (masa kehamilan dihitung mulai dari hari pertama haid
terakhir dari haid yang teratur), (2) bayi small for gestational age (SGA) adalah bayi
yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk
masa kehamilan = KMK), (3) kedua faktor-faktor tersebut diatas.
Untuk menentukan apakah bayi baru lahir itu prematur (sesuai masa kehamilan =
SMK), matur normal, KMK atau besar untuk masa kehamilan (BMK) dapat dipakai table
growth charts of weight against gestation. Pada tabel ini berat bayi matur normal dan
bayi prematur (SMK) terletak diantara 10th percentile dan 90thpercentile. Pada bayi KMK
beratnya di bawah 10th percentile. Bila berat bayi di atas 90th percentile disebut heavy for
dates. Bayi postmatur bila kelahirannya terjadi pada masa kehamilan lebih dari 42
minggu.
Di negara berkembang, termasuk Indonesia, tingginya morbiditas dan mortalitas
BBLR masih menjadi masalah utama. Penyebab utama morbiditas dan mortalitas BBLR
di negara berkembang adalah asfiksia, sindrom gangguan pernapasan, infeksi, serta
komplikasi hipotermia. Hipotermia sendiri dapat menimbulkan penyulit seperti infeksi,
gagal ginjal, serangan apnea dan lain-lain yang dapat mengakibatkan kematian.
Penyebab BBLR sangatlah multifaktorial, antara lain asupan gizi ibu sangat
kurang pada masa kehamilan, gangguan pertumbuhan dalam kandungan (janin tumbuh
lambat), faktor plasenta, infeksi, kelainan rahim ibu, trauma dan lain-lain

BAB II
Tinjauan Pustaka
Definisi
Untuk mendapat keseragaman, pada kongres European Perinatal Medicine ke 2
di London (1970) telah diusulkan definisi sebagai berikut :

Post Matur

: usia kehamilan > 42 minggu

Matur

: usia kehamilan 37 42 minggu, BB > 2500 gr

Pre matur

: usia kehamilan 33 37 minggu, BB < 2500 gr

Immatur

: usia kehamilan 27 33 minggu, BB < 1500 gr

Abortus

: usia kehamilan < 20 - 27 minggu, BB < 1000 gr

Bayi berat lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup bulan
(dismatur).
Grenwald menyatakan bahwa bila digunakan definisi yang lama, 3040 % dari
bayi perempuan sebenarnya telah mempunyai masa gestasi 3738 minggu. Selain itu di
negeri yang masih berkembang batas 2.500 gram sebagai bayi prematur mungkin terlalu
tinggi, karena berat badan lahir rata-rata yang lebih rendah
Dengan pengertian seperti yang telah diuraikan diatas, bayi BBLR dapat dibagi
menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Prematuritas murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat
badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk
masa kehamilan (NKB-SMK).
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi
itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi
yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

Insidens
Angka kejadian BBLR di RSCM pada tahun 90 an adalah 30 %. Angka kematian
perinatal di rumah sakit dan tahun yang sama adalah 70% dan 73% dari seluruh kematian
yang disebabkan oleh BBLR ( 25 % kematian neonatal dan 50 % kematian infant )
Berdasarkan hal diatas, penting untuk diketahui bahwa BBLR berhubungan dengan :

Malnutrisi

Infeksi berulang

Pertumbuhan dan perkembangan system saraf yang terlambat

Problem pada BBLR :


Asfiksia saat lahir ( meconeum )

Gangguan pernapasan

Hipotermi

Pendarahan intraventricular

Kesulitan makan

Hipoglikemi

Infeksi

Asidosis metabolik

Hiperbilirubin
Indikasi rawat :

Berat lahir < 1800 gr

Masa Gestasi < 34 minggu

Neonatus dengan komplikasi *

Tidak mampu mendapat asupan makanan *

( * ) BBLR dengan SMK maupun KMK


Pemberian cairan & makanan pada BBLR
gestasi < 30 minggu, BB < 1200 gr

Pemberian cairan intravena

Perkenalkan dengan pemberian makanan metode gavage ( tetes ),


kemudian dengan meode katori ( dengan sendok ) setelah beberapa hari,
dilanjutkan dengan penghisapan ASI melalui putting ibu

gestasi 30 34 minggu, BB 1200 - 1800 gr

Perkenalkan dengan pemberian makanan metode gavage ( tetes )

Meode katori ( dengan sendok ) setelah 1 3 hari

Penghisapan ASI melalui putting ibu sesegera mungkin sejak bayi dinilai
mampu melakukannya

gestasi > 34 minggu, BB > 1800 gr

Perkenalkan dengan pemberian makanan penghisapan ASI melalui putting


ibu dan jika tidak memungkinkan beri dengan metode katori ( dengan
sendok )

Jadwal pemberian makanan

Dimulai dengan 60 80 ml / kg / hr
Meningkat 15 ml / kg / setiap harinya
Maximum 180 200 ml / kg / hr

Pemberian makanan pertama diberikan pada usia 2 jam kemudian


diberikan tiap 2 jam

Pemberian cairan :

Hari pertama 60 80 ml / kg / hr

Peningkatan kebutuhan hariannya 15 ml / kg hingga hari ke 7

Penambahan extra 20 30 ml / kg bagi bayi dengan penghangat radiasi


dan 15 ml / kg untuk bayi dengan light terapi

Prematuritas murni
Masa gestasi bayi prematur adalah kurang dari 37 minggu atau 259 hari. Di
negara maju angka kejadian kelahiran bayi prematur adalah sekitar 67 %. Di negara
sedang berkembang, angka kematian lebih kurang 3 kali lipat. Di Indonesia angka
kejadian bayi prematur belum dapat dikemukakan di sini, tetapi angka di RSCM Jakarta
berkisar antara 2224 % dari semua bayi yang dilahirkan dalam 1 tahun. Makin rendah
masa gestasi dan makin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi morbiditas dan
mortalitasnya. Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam problematika pada derajat
prematuritas, maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok :
1.

Bayi yang sangat prematur (extremely premature) : Masa gestasi 2430 minggu.
Bayi dengan masa gestasi 2427 minggu masih sangat sulkar hidup terutama di
negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan masa gestasi 2830
minggu masih mungkin hidup dengan perawatan yang sangat intensif agar dicapai
hasil yang optimum.

2.

Bayi prematur derajat sedang (moderately premature) : Masa gestasi 3136


minggu. Kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik jauh lebih baik dari golongan
pertama dan gejala sisa yang akan dihadapi dikemudian hari juga lebih ringan jika
diberi pengelolaan yang intensif.

3.

borderline premature : Masa gestasi 3738 minggu. Bayi ini mempunyai sifatsifat prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti
bayi matur, akan tetapi sering timbul problematika seperti yang dialami bayi
prematur, seperti sindrom gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang
lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama

Penyebab

1.

Faktor ibu

Intra Uteri Growth Retardation

Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan,


misalnya gizi buruk ibu, toksemia gravidarum, perdarahan antepartum,
kelainan uterus, hidarmnion, penyakit jantung atau penyakit infeksi atau
kronik lainnya, anemia, hipertensi, nefritis akut, diabetes melitus, tindakan
operatif, trauma psikis dan psikologis.

Usia. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
Jarak dua kehamilan terlalu dekat / multipara.

Riwayat kelahiran prematur sebelumnya.

2.

Faktor janin, seperti cacat bawaan, hidramnion, ketuban pecah dini dan
kehamilan ganda pada umumnya akan mengakibatkan lahir bayi BBLR.

3.

Keadaan sosial ekonomi yang rendah

4.

Kebiasaan, seperti pekerjaan yang melelahkan, merokok.

5.

Tidak diketahui.

Gambaran klinis
Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur
kehamilan. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir kurang dari atau sama
dengan 2.500 gr, panjang badan kurang dari atau sama dengan 45 cm, lingkar dada
kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37
minggu.
Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya
banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus. Osifikasi tengkorak
sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, genitalia imatur. Desensus testikulorum biasanya
belum sempurna dan labia minora belum tertutup oleh labia major. Pembuluh darah
kulit

banyak terlihat. Rambut biasanya tipis, halus dan teranyam sehingga sulit

terlihat satu-persatu. Tulang rawan dan daun telinganya belum cukup, sehingga
elastisitas daun telinganya masih kurang. Jaringan mammae belum sempurna,
demikian pula puting susu belum terbentuk dengan baik. Bayi kecil, posisinya masih
posisi fetal, yaitu posisi dekubitus lateral, pergerakannya masih kurang dan lemah.
Bayi lebih banyak tidur daripada bangun.
7

Tangisnya lemah dan jarang, pernapasan belum teratur dan sering terdapat
serangan apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan lebih dari 20 detik maka
kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanen lebih besar. Otot-otot masih
hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua tungkai dalam abduksi, sendi
lutut dan sendi kaki dalam fleksi atau lurus dan kepala mengarah ke satu sisi.
Refleks tonik-leher biasanya lemah dan refleks moro dapat positif. Refleks
mengisap dan menelan belum sempurna, demikian pula refleks batuk. Bayi yang
lapar akan menangis, gelisah dan mengerak-gerakkan tangannya. Bila dalam waktu 3
hari tanda-tanda lapar ini tidak terlihat, maka harus dicurigai adanya perdarahan
intraventrikuler atau infeksi.
Edema biasanya sudah terlihat segera setelah lahir dan makin bertambah jelas
dalam 2448 jam berikutnya. Kulit tampak mengkilat, licin, serta terdapat pitting
edema. Edema ini dapat berubah sesuai dengan perubahan posisi. Edema yang hebat
merupakan tanda bahaya bagi bayi tersebut. Edema ini seringkali berhubungan
dengan perdarahan antepartum, diabetes mellitus dan toksemia gravidarum.
Frekuensi nadi berkisar antara 100140 kali/menit. Frekuensi pernapasan
bervariasi, terutama pada hari-hari pertama. Pada hari pertama frekuensi pernapasan
4050 kali/menit. Pada hari berikutnya 3545 kali/menit. Bila frekuensi pernapasan
terus meningkat atau selalu di atas 60 kali/menit, harus waspada akan kemungkinan
terjadinya sindrom gangguan pernapasan, seperti membran hialin, pneumonia,
gangguan metabolik atau gangguan susunan saraf pusat. Dalam hal ini penting sekali
melakukan pemeriksaan foto toraks, USG dan lain-lain.

Permasalahan
1. Hipotermi. Karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh
penguapan yang bertambah akibatnya kurangnya jaringan lemak bawah kulit,
permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot
yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat yang
sedikit, serta pusat pengaturan suhu yang belum sempurna fungsinya.

2. Gangguan pernapasan. Disebabkan oleh kurangnya jumlah surfaktan (rasio


lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang
belum sempurna, otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah
melengkung. Penyakit gangguan pernapasan yang sering diderita bayi prematur
adalah penyakit membrane hialin dan pneumonia aspirasi. Disamping itu sering
timbul asfiksia, pernapasan periodik dan apnea yang disebabkan oleh pusat
pernapasan di medulla oblongata belum matur.
3. Gangguan pencernaan dan nutrisi. Terjadi distensi abdomen akibat dari motilitas
usus kurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung
bertambah, daya untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak, laktosa, vitamin yang
larut lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter kardioesofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung
ke esofagus dan mudah terjadi aspirasi.
4. Hati imatur. Memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.
Hiperbilirubinemia disebabkan faktor kematangan hepar kurang, sehingga
konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna.
5. Ginjal imatur. Baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urin yang
sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan air
tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terkadi edema dan asidosis
metabolik.
6. Perdarahan. Mudah terjadi perdarahan karena pembuluh darah yang rapuh,
kekurangan faktor pembekuan seperti protrombin, faktor VII dan faktor
Chrismast.
7. Gangguan imunologik. Daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang, karena
rendahnya kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum mampu
membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih
belum baik
8. Perdarahan intraventrikuler. Lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan
intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur sering menderita
apnea, asfiksia berat dan sindroma gangguan pernapasan. Akibatnya bayi menjadi
hipoksia, hipertensi, dan hiperkapnia. Keadaan ini menyebabkan aliran darah ke

otak bertambah. Penambahan aliran darah ke otak akan lebih banyak lagi karena
tidak adanya autoregulasi serebral pada bayi premature, sehingga mudah terjadi
perdarahan dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan iskemia di lapisan
germinal yang terletak di dasar ventrikel lateralis antara nukleus kaudatus dan
ependim. Luasnya perdarahan intraventrikuler dapat didiagnosis dengan USG
atau CT-Scan.
9. Fibroplasia retrolental. Penyakit ini ditemukan pada bayi prematur dan
disebabkan oleh penggunaan oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari
115 mmHg = 15 kPa), maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina
yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru ke daerah yang iskemia sehingga
terjadi perdarahan fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga bayi menjadi buta.
Stadium akut penyakit ini dapat terlihat pada umur 3 6 minggu dalam bentuk
dilatasi arteri dan vena retina. Kemudian dikuti oleh pertumbuhan kapiler baru
secara tidak teratur pada ujung vena. Kumpulan pembuluh darah baru ini tampak
sebagai perdarahan. Akhirnya sebagian kapiler baru ini tumbuh kea rah korpus
vitreum dan lensa. Selanjutnya akan terjadi edema pada retina dan retina dapat
terlepas dari dasarnya dan keadaan ini merupakan keadaan yang irreversible. Pada
stadium akhir akan terdapat massa retrolental yang terdiri dari jaringan ikat.
Keadaan ini dapat terjadi bilateral dengan mikroftalmus, kamar depan menyempit,
pupil mengecil dan tidak teratur, serta visus menghilang. Selain itu dapat pula
disertai retardasi mental dan cerebral palsy.
Pengobatan pada stadium dini dapat dicoba dengan memberikan ACTH atau
kortikosteroid. Hal yang paling penting ialah pencegahannya, yaitu : (1) Pada
BBLR penggunaan oksigen tidak melebihi 40% dan hal ini dapat dicapai dengan
memberikan oksigen 2 liter/menit, (2) , (3) Pemberian oksigen pada bayi yang
berat badannya kurang dari 2 kg, harus hati-hati dan sebaiknya PaO2 selalu
dimonitor.

Penatalaksanaan
Mengingat belum sempurnanya kerja organ-organ tubuh yang diperlukan untuk
pertumbuhan, perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan di luar uterus,

10

maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan


pencegahan infeksi.
1. Pengaturan suhu
Untuk mencegah hipotermi, perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat
untuk bayi dan dalam keadaan istirahat konsumsi oksigen sedikit, sehingga suhu
tubuh bayi tetap normal. Bila bayi dirawat dalam inkubator, maka suhu untuk bayi
berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 C, dan untuk bayi dengan berat badan 2
2,5 kg adalah 34 C. Kelembaban inkubator berkisar antara 5060%. Kelembaban
yang lebih tinggi diperlukan pada bayi dengan sindrom gangguan pernapasan.
Suhu inkubator dapat diturunkan 1 C perminggu untuk bayi dengan berat badan 2
kg, dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan di tempat tidur bayi dengan
suhu lingkungan 2729 C. Bila tidak ada inkubator, pemanasan dapat dilakukan
dengan membungkus bayi dan meletakkan botol air hangat atau lampu petromak
didekat tempat tidur bayi.
Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok untuk memudahkan pengawasan
sehingga kelainan yang timbul dapat dikenal sedini-dininya dan tindakan serta
pengobatan dapat dilaksanakan secepat-cepatnya.
2. Makanan
Pada bayi premature refleks mengisap, menelan dan batuk belum sempurna,
kapasitas lambung sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang,
di samping itu kebutuhan protein 35 gr/hari dan kalori tinggi (110 kal/kg/hari),
agar berat badan bertambah. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur
3 jam, agar bayi tidak mengalami hipoglikemia dan hiperbilirubunemia.
Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan cairan lambung
untuk mengetahui ada atau tidaknya atresia esofagus dan mencegah muntah.
Pengisapan cairan lambung dilakukan setiap sebelum pemberian minum. Pada
umumnya bayi dengan

berat lahir 2.000 gr atau lebih dapat menyusu pada

ibunya. Bayi dengan berat kurang dari 1.500 gr kurang mampu mengisap ASI atau
susu botol, terutama pada hari-hari pertama. Dalam hal ini bayi diberi minum
melalui sonde lambung.

11

Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada ibunya. Bila daya isap cukup baik maka
pemberian ASI diteruskan. Pemberian melalui susu botol adalah dengan frekuensi
pemberian yang lebih sering dalam jumlah susu yang sedikit. Frekuensi
pemberian minum makin berkurang dengan bertambahnya berat bayi. Jumlah
cairan yang diberikan pertama kali adalah 15 ml/jam dan jumlahnya dapat
ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Banyaknya cairan yang diberikan
adalah 60 mL/kgBB/hari dan setiap hari dinaikkan sampai 200 mL/kgBB/hari
pada akhir minggu kedua. Bila tidak ada ASI dapat diberikan susu buatan yang
mengandung lemak yang mudah dicerna bayi (middle chain triglyserides) dan
mengandung 20 kal/30 mL air atau sekurang-kurangnya 110 kal/kgBB/hari.
Kadang-kadang diperlukan pemberian makanan melalui kateter. Sebaliknya
dipakai kateter dari polietilen yang dapat tinggal dilambung selama 45 hari
tanpa iritasi. Bila daya isap dan menelan mulai baik, kateter secara berangsurangsur dapat diganti dengan pipet, sendok atau botol dengan dot. Bayi yang
sangat kecil tanpa gangguan pernapasan dapat diberi makanan melalui tetesan
lambung.
3. Pencegahan infeksi.
Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini disebabkan karena daya
tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relatif belum sanggup membentuk
antibodi dan daya tahan fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik.
Perlu dilakukan tindakan pencegahan yang dimulai pada masa perinatal, seperti
memperbaiki keadaan sosial ekonomi, program pendidikan kesehatan, mencegah
buta huruf, keluarga berencana, perawatan antenatal, natal dan post-natal yang
baik, skrining (TORCH, hepatitis, AIDS), vaksinasi, menjaga kebersihan
lingkungan.
Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya kurang
dibandingkan dengan berat badan seharusnya untuk masa gestasi bayi itu (kecil masa
kehamilan = KMK). Batasan yang diajukan oleh Lubchenco (1963) adalah setiap bayi
yang berat lahirnya sama dengan atau lebih rendah dari 10th percentile untuk masa

12

kehamilan pada Denver intrauterine growth curves atau di bawah 2SD menurut kurva
pertumbuhan intrauterine Usher dan Mc lean. Ada 2 bentuk menurut renfield (1975),
yaitu :
1. Proportionate IUGR. Janin menderita distress lama, gangguan pertumbuhan terjadi
berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir, sehingga berat,
panjang dan lingkar kepala dalam proporsi seimbang, tetapi secara keseluruhan masih
di bawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya wasted,
karena retardasi pada janin terjadi sebelum pembentukan jaringan adiposa
2. Disproportionate IUGR. Terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi beberapa
hari sampai minggu sebelum lahir. Panjang dan lingkaran kepala normal, tetapi berat
tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda bayi kurus
dan lebih panjang, jaringan lemak di bawah kulit sedikit, kulit kering keriput dan
mudah diangkat.
Pada

bayi

IUGR

terjadi

juga

perubahan

organ-organ

tubuh,

dimana

perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai dengan masa gestasinya.

Penyebab
1. Faktor ibu, seperti hipertensi dan penyakit ginjal kronik, diabetes melitus berat,
toksemia, hipoksia ibu (tinggal di daerah pegunungan, hemoglobinopati, penyakit
paru kronik), gizi buruk, drug abuse, alkoholisme, merokok.
2. Faktor uterus dan plasenta, seperti kelainan pembuluh darah (hemangioma),
insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bikornis, infark plasenta, transfusi dari
kembar yang satu ke kembar yang lain,sebagian plasenta lepas.
3. Faktor janin, seperti ganda, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan (TORCH, sifilis).
4. Penyebab lain, seperti keadaan sosial ekonomi yang rendah, idiopatik.

Gambaran klinis
Bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gr, karakteristik fisis sama dengan
bayi prematur dan mungkin ditambah dengan retardasi pertumbuhan dan wasting.

13

Pada bayi cukup bulan dengan dismaturitas, gejala yang menonjol ialah wasting
demikian pula pada post-term dengan dismaturitas.
Gruenwald (1967) menyatakan bahwa tidak semua kekurangan makanan pada
janin diakibatkan oleh insufisiensi plasenta. Timbulnya gejala insufisiensi plasenta
tergantung pada berat dan lamanya bayi menderita defisit. Menurutnya defisit yang
menyebabkan retardasi pertumbuhan biasanya berlangsung kronis sehingga terjadi
fetal distress.
Fetal distress dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1. Acute fetal distress. Defisit atau fetal deprivation hanya mengakibatkan
perinatal distress tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan
wasting.
2. subacute fetal distress. Fetal deprivation menujukkan wasting tetapi tidak ada
retardasi pertumbuhan.
3. Chronic fetal distress. Bayi menunjukkan retasdasi pertumbahan.
Bayi dismatur dengan tanda wasting atau insufisiensi plasenta dapat dibagi
dalam 3 stadium menurut berat ringannya wasting tersebut (Clifford), yaitu :
1. Stadium pertama. Bayi tampak kurus dan lebih panjang, kulitnya longgar, kering
seperti perkamen tetapi belum terdapat noda mekonium.
2. Stadium kedua. Tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan pada
kulit, plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur
dengan amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan
plasenta akibat anoksia intrauterin.
3. Stadium ketiga. Tanda stadium kedua ditambah dengan kulit, kuku, dan tali pusat
yang berwarna kuning serta anoksia intrauterin yang lama.

Permasalahan
Maturitas fisiologis bayi ini sesuai dengan masa gestasinya dan sedikit
dipengaruhi oleh gangguan pertumbuhan di dalam uterus. Bayi KMK yang tidak
prematur lebih mudah hidup di luar kandungan, tetapi harus waspada akan terjadinya
beberapa komplikasi, seperti :

14

1. Sindrom aspirasi mekonium. Keadaan hipoksia intrauterin mengakibatkan janin


mengadakan gasping dalam uterus. Selain itu mekonium akan dilepaskan ke
dalam likuor amnion seperti yang sering terjadi pada subacute fetal distress,
akibatnya cairan itu masuk ke dalam janin paru karena inhalasi. Sering diikuti
oleh pneumotoraks, disebabkan distress yang sering dialami bayi pada ini
persalinan.Insidens idiopathic respiratory distress syndrome berkurang oleh
karena IUGR mempercepat maturnya jaringan paru.
2. Hipoglikemia. Terutama bila pemberian minum terlambat dan terutama terdapat
pada bayi laki-laki. Disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan
meningginya metabolisme. Gejala klinis tidak khas, umumnya mula-mula bayi
tidak menunjukkan gejala, kemudian bayi tampak kaget, twitching, serangan
apnea, sianosis, pucat, tidak mau minum, lemas, apatis dan kejang. Diagnosis
dibuat dengan pemeriksaan kadar gula darah.
3. Hiperbilirubinemia. Mungkin disebabkan oleh gangguan pertumbuhan hati.
Menurut Gruenwald hati pada bayi dismatur beratnya kurang dibandingkan
dengan bayi biasa.
4. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai hemoglobin yang
tinggi, mungkin disebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus.
5. Asfiksia neonatorum.
6. Penyakit membran hialin. Terutama mengenai bayi dismatur yang pre-term,
karena surfaktan paru belum cukup, sehingga alveoli selalu kolaps. Akibat hal ini
akan tampak dispnea yang berat, retraksi epigastrium, sianosis dan pada paru
terjadi atelektasis dan akhirnya terjadi eksudasi fibrin dan lain-lain serta terbentuk
membrane hialin. Penyakit ini dapat mengenai bayi yang pre-term, terutama bila
masa gestasinya kurang daripada 35 minggu.
7. Keadaan lain yang mungkin terjadi, seperti perdarahan paru massif, hipotermia,
cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom Down, Turner dan lain-lain),
cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterin dan sebagainya.

Penatalaksanaan

15

Umumnya sama dengan perawatan neonatus lainnya, seperti pengaturan suhu


lingkungan,

makanan,

pencegahan

infeksi

dan

lain-lain,

tetapi

perbedaan

problematika harus diperhatikan :


1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin serta menemukan
gangguan pertumbuhan. Waspada terhadap kelainan kongenital.
2. Frekuensi pernapasan terutama dalam 24 jam pertama harus selalu diawasi untuk
mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium atau sindrom gangguan
pernapasan idiopatik.
3. Memeriksa kadar gula darah (true glucose) dengan dextrostix atau di
laboratorium. Kadar gula darah harus diperiksa setiap 812 jam.
4. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
5. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.
6. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi
mekonium.
7. Pencegahan infeksi, karena bayi sangat rentan terhadap infeksi, yaitu karena
pemindahan IgG dari ibu ke janin terganggu.
8. Temperatur harus dikelola karena bayi dismatur lebih mudah menjadi hipotermik,
disebabkan luas permukaan tubuh bayi relatif lebih besar dan jaringan lemak
subkutan kurang.
Taksiran maturitas neonatus
Menilai dengan tepat lamanya masa gestasi untuk tiap neonatus sangat penting
karena : (1) penting untuk penatalaksanaan tiap neonatus terutama BBLR secara individu,
(2) faktor maturasi bayi sangat berpengaruh pada morbiditas dan mortalitas bayi, (3)
menilai tingkat perkembangan bayi prematur, (4) penelitian fisiologis neonatus dilakukan
dengan mempertimbangkan lamanya masa gestasi. Cara menilai maturitas neonatus yang
dipakai sampai sekarang adalah :
1. menghitung lamanya masa gestasi dengan menggunakan perhitungan hari pertama
haid terakhir (HPHT). Pengalaman menunjukkan bahwa dapat terjadi kekeliruan
dalam penentuan HPHT. Menurut Finnstrom (1970), walaupun HPHT dapat diingat

16

oleh ibu, biasanya masih ada kesalahan 1 minggu daripada lama masa gestasi yang
sebenarnya.
2. Penilaian ukuran antropometrik

Berat badan lahir (BBL), merupakan indeks terburuk untuk menentukan masa
gestasi, disebabkan pengaruh berbagai faktor. BBLR dapat merupakan bayi
prematur murni atau dismatur. Lama masa gestasi untuk BBLR sangat bervariasi.

Crown heel length, lingkaran kepala, diameter oksipito-frontal, diameter


baparietal dan panjang badan. Menurut Finnstrom (1971) hanya ukuran lingkar
kepala yang mempunyai korelasi baik dengan lamanya masa gestasi, dengan
confidence limit kira-kira 26,1 hari. Rumus :
Y = 11,03 + 7,75 x
Y = masa gestasi
X = lingkaran kepala

3. Pemeriksaan radiologis. Mengetahui lamanya masa gestasi dengan meneliti pusat


epifisis.
4. Motor conduction velocity. Dengan mengukur motor conduction velocity dari nervus
ulnaris.
5. Pemeriksaan elektroensefalogram (EEG)
6. Penilaian karakteristik fisis. Kriteria eksternal yang dapat dinilai untuk menentukan
masa gestasi neonatus adalah bentuk puting susu, ukuran mammae, plantar creases,
rambut kepala, transparansi kulit, membran pupil, alat kelamin, kuku dan tulang
rawan telinga. Usher (1966) mengemukakan hubungan antara masa gestasi dan
beberapa kriteria pada tabel 1. hasil penilaian kriteria eksternal ini bervariasi. Untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik, beberapa sarjana mengadakan skor terhadap
kriteria eksternal ini korelasi antara skor dengan masa gestasinya. Sistem skor Farr
(1966), Finnstrom (1972) dan Dubowitz (1970).
7. Penilaian kriteria neurologis. Beberapa kriteria neurologis atau refleks tertentu baru
timbul pada suatu masa gestasi. Penilaian masa gestasi dengan kriteria eksternal dan
neurologis merupakan cara penaksiran maturitas yang paling mendekati kebenaran.
Dengan membuat kombinasi beberapa cara penilaian, ketelitian dalam penaksiran
bertambah baik. Menurut Finnstrom (1972) cara yang paling mendekati kebenaran

17

adalah kombinasi dua daripada tiga cara di bawah ini, yaitu karakteristik eksternal,
kriteria neurologis dan lingkaran kepala. (lihat tabel)
8. Penilaian menurut Dubowitz. Menggabungkan hasil penilaian fisik eksternal dan
neurologis. Kriteria neurologis dan eksternal diberikan nilai dan dijumlah, kemudian
dengan menggunakan grafik regresi linier dicari masa gestasinya. (Penilaian fisik
eksternal tabel)
9. penilaian masa gestasi berdasarkan 10 kriteria fisik dan neurologis bayi baru lahir
RSCM (Monintja dkk, 1980). Kriteria yang dipakai adalah kriteria morfologik dan
neurologik dari penelitian terdahulu (Usher dkk, 1966 ; Robinson, 1966 ; AtmielTison, 1968). Penilaian masa gestasi adalah dengan memeriksa ciri morfologik dan
neurologik bayi baru lahir dan selanjutnya disesuaikan dengan masa gestasi memakai
cara yang dianjurkan Dubowitz dkk (1970). (Lihat tabel)
Untuk penelitian dianjurkan memakai cara dubowitz, tetapi untuk dilapangan sebaiknya
cara Monintja dkk.
Prognosis
Prognosis tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa
gestasi, iskemia otak, sindrom gangguan pernapasan, perdarahan intraventrikular,
displasia bronkopulmonal, fibroplasia retrolental, infeksi, gangguan metabolik. Prognosis
juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada
saat kehamilan, persalinan dan post-natal.
Pengamatan lanjut
Perlu pengamatan lebih lanjut oleh karena kemungkinan bayi ini akan mengalami
gangguan pendengaran, penglihatan, kognitif, fungsi motorik susunan saraf pusat dan
penyakit-penyakit lain seperti hidrosefalus, cerebral palsy dan lain sebagainya.

18

BAB III
KESIMPULAN
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth
weight baby (bayi dengan berat badan lahir rendah = BBLR). Hal ini dilakukan karena
tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2.500 gram pada waktu lahir bayi prematur.
Bayi Berat Lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2499 gram). Bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2
golongan, yaitu prematuritas murni, dan dismaturitas. Prognosis tergantung dari berat
ringannya masalah perinatal.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3. Cetakan ke 7. Penerbit :
Percetakan Infomedika K : Jakarta, 1997.
2. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ke 3. Cetakan Ke 6. Penerbit : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta, 2002.
3. Saifuddin AB, dkk Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Edisi Ke 1. Cetakan Ke 3. Penerbit : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo : Jakarta, 2002.
4. Markum, A.H. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I Cetak Ulang 2002. Balai
Penerbit FKUI : Jakarta , 2002.
5. http://www.tempointerkatif.com/medika/arsip/022001/hor-1.com.

Horison.

Hipotermia Pada Neonatus. Bangun Lubis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUSU/RSUP H. Adam Malik, Medan.
6. Rinawati, dr. Management of Low Birth Weight Babies, Divisi Neonatology
Departemen IKA FKUI RSCM

20