Anda di halaman 1dari 3

Lingkungan geologi yang terbentuk di daerah kajian pada umumnya dicirikan

oleh batuan malihan yang menjadi batuan dasar (basement) dalam susunan
stratigrafinya. Pergerakan lempeng Australia ke arah barat yang bertumbukan
dengan lempeng Asia bagian timur dan lempeng Pasifik menghasilkan
pergerakan tektonik yang berarah relatif baratlaut tenggara. Aktivitas tektonik
ini mengakibatkan terjadinya cekungan-cekungan baru yang terisi oleh endapan
batuan sedimen terutama sedimen karbonat pada zaman Tersier. Batuan
sedimen karbonat ini lebih berkembang di Pulau Buton dikarenakan pada waktu
pengendapannya daratan Sulawesi bagian tenggara lebih dekat ke arah darat
dibandingkan Pulau Buton. Periode selanjutnya adalah proses eksogen yang
menghasilkan produk sedimentasi dari batuan malihan dan batuan sedimen
yang dikelompokkan menjadi batuan konglomerat berumur Kuarter awal.
Aktivitas sedimentasi masih terbentuk hingga saat ini berupa endapan di
permukaan dalam bentuk aluvium sungai dan pantai.
Pola stuktur geologi yang berkembang di daratan Sulawesi bagian tenggara
didominasi oleh pola yang sama dengan sesar Palu Koro yang berarah
baratlaut-tenggara. Pola struktur ini diakibatkan oleh pergerakan kepingan benua
Banggai-Sula ke arah barat. Struktur-struktur besar di daerah kajian yang
berhubungan dengan sesar Palu-Koro dan juga berjenis sesar mendatar mengiri
diantaranya adalah sesar Kolaka, sesar Matano dan sesar Lawanopo.
Sesar-sesar ini setempat juga bersifat sesar normal yang membentuk zona-zona
depresi yang memungkinkan terbentuknya zona-zona rekahan yang intensif dan
membentuk permeabilitas sekunder di kedalaman. Zona permeabilitas inilah
yang membentuk reservoir dalam sistem panas bumi daerah Sulawesi bagian
tenggara. Manfestasi panas bumi yang muncul pada umumnya dikontrol oleh
sesar-sesar berarah baratlaut-tenggara ini.

GEOFISIKA
Data gaya berat secara umum memperlihatkan pola kelurusan yang diperkirakan
berasosiasi dengan kemunculan manifestasi di permukaan. Selain itu, di daerah
sekitar sebaran manifestasi umumnya memiliki nilai anomali Bouguer/ Sisa yang
relatif tinggi. Anomali tinggi ini diperkirakan berasosiasi dengan batuan yang
memiliki densitas tinggi dan diperkirakan berhubungan dengan aktivitas
magmatik di bawah permukaan. Oleh karena itu, anomali tinggi ini dapat
diinterpretasikan sebagai indikasi adanya sumber panas di bawah permukaan.
Data magnetik memperlihatkan sebaran anomali rendah di sekitar manifestasi
panas bumi permukaan. Anomali magnet rendah ini umumnya dijadikan
indikator adanya batuan ubahan di dekat permukaan yang biasanya berasosiasi
dengan adanya aktivitas panas bumi di sekitar daerah tersebut.
Secara umum, data tahanan jenis DC di daerah Sulawesi bagian tenggara
memperlihatkan pola lineasi tahanan jenis yang umumnya selaras dengan arah
struktur yang berkembang di daerah tersebut. Untuk daerah Lainea, kelurusan
tersebuat cenderung berarah baratlaut-tenggara, untuk daerah Sampolawa
kelurusan tersebut cenderung berarah hampir utara-selatan dan barat-timur,
sedangkan untuk daerah Mangolo kelurusan tersebut berarah baratlaut-tenggara
dan baratdaya-timurlaut. Selain itu, lineasi ini juga berasosiasi dengan kemunculan manifestasi panas bumi permukaan yang umumnya muncul di sepanjang

struktur. Lineasi-lineasi ini umumnya ditandai dengan adanya kontras nilai


tahanan jenis rendah dan tahanan jenis tinggi, seperti di daerah Lainea.
Tahanan jenis rendah yang berada di daerah non vulkanik umumnya memiliki
nilai tahanan jenis lebih tinggi dari nilai tahanan jenis rendah di lingkungan
vulkanik yang umumnya memiliki nilai tahanan jenis rendah <20 Ohm-m. Di
daerah non vulkanik, sebaran tahanan jenis rendah umumnya memiliki nilai
tahanan jenis <50 Ohm-m. Karena nilai tahanan jenisnya tidak terlalu rendah
dan berada pada range yang sama dengan nilai tahanan jenis pada batuan
sedimen, sehingga dalam melakukan interpretasi cukup mengalami kesulitan,
apakah tahanan jenis rendah ini berasosiasi dengan batuan ubahan atau batuan
sedimen. Pada banyak kasus, tahanan jenis rendah <50 Ohm-m di daerah nonvulkanik umumnya berhubungan dengan batuan sedimen yang tersebar di
permukaan. Untuk melihat apakah tahanan jenis rendah ini berhubungan dengan
batuan ubahan atau tidak, maka harus dilihat dari data geologinya, apabila data
geologi memperlihatkan adanya singkapan batuan ubahan di sekitarnya, maka
kemungkinan besar tahanan jenis rendah ini berhubungan dengan batuan
ubahan walaupun nilai tahanan jenisnya tidak terlalu rendah seperti di
lingkungan vulkanik.
Hasil pemodelan CSAMT (PLN,1997) di daerah Lainea memperlihatkan adanya
sebaran nilai tahanan jenis 100-200 Ohm-m di kedalaman lebih dari 450 meter
yang diinterpretasikan sebagai reservoir panas bumi. Tahanan jenis tinggi yang
berada di lingkungan non vulkanik, khususnya di daerah Sulawesi Bagian
Tenggara biasanya berhubungan dengan batuan beku yang terbentuk pada umur
Tersier dan batuan metamorf. Untuk kasus daerah Lainea tahanan jenis tinggi ini
diinterpretasikan sebagai batuan beku yang diperkirakan sebagai indikasi
adanya sumber panas di bawah permukaan. Hal ini juga ditunjang dengan
munculnya densitas tinggi dari anomali Bouguer dan anomali Sisa.
Diskusi
Batuan penudung menyebabkan pergerakan fluida panas yang terdapat di
lapisan reservoir tertahan untuk sampai ke permukaan. Batuan penudung ini
biasanya merupakan batuan ubahan yang dicirikan oleh nilai tahanan jenis
rendah. Nilai tahanan jenis rendah di daerah kajian pada umumnya memiliki nilai
tahanan jenis yang lebih tinggi dibandingkan di daerah vulkanik dengan kisaran
nilai < 50 0hm-m. Hal ini disebabkan intensitas ubahan pada batuan penudung
ini tidak terlalu tinggi. Dari geologi permukaan diindikasikan dengan sebaran
batuan ubahan yang tidak terlalu luas dan didominasi oleh ubahan mineral
lempung. Dari hasil kompilasi data-data yang sudah ada, batuan penudung ini
diperkirakan terdapat pada batuan metamorf dan sedimen dengan kedalaman
100-300 m.
Lapisan reservoir yang menyimpan fluida panas yang memiliki temperatur dan
tekanan dari sistem panas bumi pada umumnya terdapat pada batuan metamorf
dan sedimen yang kaya akan rekahan dan bersifat permeabel. Rekahan dan sifat
permeabelnya ini diperkaya oleh aktivitas tektonik berupa zona-zona sesar yang
intensif.

Dari data yang sudah ada saat ini lapisan reservoir yang membentuk sistem
panas bumi di daerah kajian diperkirakan berada pada kedalaman lebih dari 450
m (data CSAMT di Lainea).
Sumber panas yang membentuk sistem panas bumi di daerah kajian dapat
dibedakan menjadi dua tipe. Sumber panas yang membentuk sistem panas bumi
di daratan Sulawesi bagian tenggara diperkirakan berupa sisa panas aktivitas
magmatik muda yang berupa batuan intrusi yang tidak tersingkap di permukaan.
Hal ini didukung oleh data gaya berat yang menunjukkan adanya tubuh batuan
beku di kedalaman sekitar lokasi mata air panas (daerah Lainea).
Sedangkan sumber panas yang membentuk sistem panas bumi di Pulau Buton
diperkirakan berhubungan dengan aktivitas tektonik berupa geopressure dan
pelarutan batuan karbonat.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa sistem panas bumi di daratan Sulawesi
bagian tenggara memiliki sistem yang berbeda dengan di Pulau Buton. Di
daratan Sulawesi bagian tenggara, pembentukan sistem panas buminya lebih
dipengaruhi oleh gabungan antara pengaruh pola struktur dan sisa panas dari
aktivitas magmatik di kedalaman. Sedangkan di Pulau Buton, pembentukan
sistem panasnya merupakan gabungan antara pola struktur geologi dan
cekungan sedimen sebagai basement-nya