Anda di halaman 1dari 17

Distosia

1. Distosia Karena Faktor Kekuatan


A. Kelainan His
1. His yang kurang efisien
a. Inertia uteri hipotonik
Terapi : lihat panduan pad partograf mengenai kemajuan persalinan
Komplikasi:
Meningkatnya morbiditas ibu dan janin
- Ibu
1. Infeksi
2. Partus lama
3. Partus kasep
- Janin
1. Infeksi
2. Gawat janin
3. Janin mati dalam rahim
b. Inertia uteri hipertonik
Terapi:
1)
2)
3)
-

Segmen bawah rahim hipertonik


Uterus kolik
Lingkaran kontriksi
Kala I
: Lakukan seksio sesar
Kala II
: Berikan narkosa dalam dicoba dilahirkan pervaginam kalau gagal
atau syarat pervaginam tidak dipenuhi lakukan seksio sesar.
4) Distosia sevikalis
- Primer
: Terapi sama dengan segmen bawah rahim yang hipertonik
- Sekunder : Seksio sesar oleh karena dapat terjadi
1. Ruptur uteri
2. Robekan serviks meluas ke segmen bawah rahim
3. Serviks lepas melingkar (amputasi serviks annular detachment)
Distosia Karena Faktor Janin
I.
-

Makrosomia ( janin besar /janin raksasa)


Komplikasi:
Ibu :
Perasaan berat,dispnea, dan edema
Persalinan kurang lancar karena kepala tidak turun
Distosia bahu
Robekan jalan lahir
Perdarahan postpartum
Janin
Sefalhematoma
Perdarahan intrakranial
Paralisis Erb
Fraktura tulang
Tatalaksana:

II.
-

Mengatur diet ibu


Periksa terhadap diabetes melitus
Kalau panggul normal usahakan persalinan pervaginam, dan observasi kemajuan
persalinan (lihat partograf)
Kalau terjadi distosia bahu, lakukan episiotomi lebar (lihat distosia bahu)
Malposisi
1. Posisi Oksipito Posterior
Mekanisme persalinan:
80% ubun-ubun kecil di depan (putar paksi 135 )
10% ubun-ubun kecil ke samping (putar paksi 45 ) menjadi transverse arresti)
Deep transverse arrest (kepala sudah di dasar panggul)
High transverse arrest (kepala di atas spina iskiadika)
Sebagian kecil ubun-ubun kecil ke belakang = posisi oksipito posterior persisten
Pada posisi oksipito posterior persisten setelah kepala sampai di dasar
penggul,ubun-ubun besar ke depan sebagian hipomoklion,dan fleksi,maka lahirlah
belakang kepala melalui perineum.
Kemudian kepala defleksi,lahirlah berturut-turut : dahi,mata,mulut,dagu melalui
bawah simfisis.
Pengelolaan :
Usahakan untuk melakukan koreksi,ubun-ubun kecil ke depan
Koreksi manual
Koreksi forsipal
Pada posisi oksipito posterior penanganannya konservatif
Pada posisi oksipito posterior persisten dapat lahir spontan
Kalau tidak dapat dikoreksi lahirkan dengan tindakan :
Ekstraksi Vakum
Ekstraksi forcep secra Mohrer/Scanzoni
2. Posisi Oksipito Transversalis
Mekanisme persalinan:
45 % ubun-ubun kecil ke depan (putar paksi 45)
45% ubun-ubun kecil ke belakang (putar paksi 45)
10% tidak terjadi putar paksi
Higt transverse arrest, persalinan terhenti dengan ubun-ubun kecil lintang dan
penurunan kepala masih di atas spina iskiadika.
Deep transverse arrest (posisi oksiput transverse persisten),persalinan terhenti
dengan ubun-ubun kecil lintang dan penurunan kepala sudah
Pengelolaan :
High transverse arrest : Koreksi manual, gagal lakukan seksio sesar
Deep transverse arrest :
- Koreksi manula
- Ekstraksi forsep

B. Malpresentasi
Mekanisme persalinan
1. Presentasi Parietal
a. Presentasi parietal anterior (posisi oksipito pubika)
(Asinklitisme anterior = obliquitas Naegele)

Kepala masuk pintu atas panggul dengan sutura sagitalis dekat ke


promontorium dan os parietalis anterior paling bawah/rendah.
Mekanisme persalinan
-Os parietalis posterior sangkut di promotorium,os parietalis anterior akan
turun
-Kemudian os parietalis posterior akan lepas, dan hal ini baru dapat terjadi bila
kepala mengecil dengan molase berat.
b. Presentasi parietalis posterior
(Asinklitisme posterior=obliquitas Litzmann)
Kepala masuk pintu atas dengan sutura sagitalis dekat ke simfisis dan os
parietalis posterior paling bawah/rendah)
Mekanisme persalinan
-Dalam hal ini turunnya kepala dari pintu atas panggul agak sulit.
- Kepala sangkut di simfisis,os parietalis posterior akan turun
Akan tetapi karena tepi os parietalis sudah mengenai simfisis maka kepala
sangat sulit untuk turun.
-

Prognosis:
Presentasi os parietalis anterior ; mungkin partus spontan
Presentasi os parietalis posterios ; tak dapat partus spontan
2. Presentasi Puncak Kepala
Mekanisme persalinan:
Ukuran yang melalui jalan lahir
Distosia oksipito-frontalis : 11,5 cm
Sirkumferensia oksipito-frontalis : 34 cm
Kepala turun ke rongga panggul dengan ubun-ubun besar terendah dan semakin
turun semakin susah/sulit meraba ubun-ubun kecil
Kalau kepala sudah di bagian tengah panggul (bentuk bulat) tahanan jalan lahir di
depan dan di belakang sama.
Kalau kepala sudah di bagian tengah panggul (bentuk bulat) tahanan jalan lahir di
depan dan di belakang sama.
Kalau panggul janin di depan,ubun-ubun besar ke belakang akan menjadi
presentasi kepala.
Selanjutnya glabela (batas rambut-dahi) sebagai hipomiklion,kepala mengadakan
fleksi maka lahirlah belakang kepala melalui perineum kepala defleksi maka
lahirlah dahi.hidung, mulut dan dagu di bawah simfisis.

Pengelolahan:
-Konservatif
- Ibu tidur ke arah punggung janin pada umumnya dapat lahir spontan.
Prognosis
-

Persalinan akan berlangsung lama,terjadi partus lama


Ibu: Robekan jalan lahir luas
Janin: Morbiditas meningkat oleh karena molase berat.

3. Presentasi Dahi

Mekanisme Persalinan :
-

Ukuran yang melalui jalan lahir:


Distansia mento-oksipitalis : 13,5 cm
Sirkumfensia mento-oksipitalis : 35 cm
Kepala akan melewati pintu atas panggul dengan sirkumfensia miring / melintang dan

kepala baru dapat turun bila terjadi molase berat.


Dahi mengadakan putar paksi dalam ke depan ke simfisis,dahi paling dulu tampak di

vulva dan os maksila sebagai hipomoklion.


Dengan fleksi maka lahirlah ubun-ubun kecil dan belakang kepala melalui perineum
Kemudian terjadi defleksi sehingga mulut dan dagu lahr lewat bawah simfisis

Pengelolahan:
Dalam kehamilan dapat dicoba dengan perasat Schatz
Dalam persalinan
Dapat dicoba perasat Thorn
10% presentasi dahi dapat menjadi :
Presentasi muka/presentasi belakang kepala
90% presentasi dahi tak dapat lahir spontan,dilahirkan dengan forsep/seksio sesar
Kalau jalan persalinan lancar/janin kecil, konservatif tunggu spontan
Kalau janin persalinan tak lancar/janin bsar,seksio sesar
Prognosis:
Ibu: Morbiditas meningkat
Janin : Mortalitas 20%

Presentasi Muka

A. Tatalaksana Umum:

Posisi dagu anterior:


Pembukaan LENGKAP

Lahirkan dengan persalinan spontan pervaginam

Bila penurunan kurang lancar, lakukan ekstraksi forsep


Pembukaan BELUM lengkap

Bila tidak ada kemajuan pembukaan dan penurunan, lakukan seksio

sesarea

Posisi dagu posterior:


Pembukaan LENGKAP

Lahirkan dengan seksio sesarea

Pembukaan BELUM lengkap

Bila tidak ada kemajuan pembukaan dan penurunan, lakukan seksio

sesarea

Jika janin mati, lakukan kraniotomi atau seksio sesarea


B. Talaksana Khusus
- Jangan lakukan ekstraksi vakum pada presentasi muka
Presentasi Majemuk
Tatalaksana Umum

Persalinan spontan hanya bisa terjadi jika janin sangat kecil/mati dan maserasi
Tatalaksana Khusus

Coba reposisi:

Ibu diletakkan dalam posisi Trendelenburg (knee-chest position).

Dorong tangan ke atas luar dari simfisispubis dan pertahankan di sana sampai timbul
kontraksi sehingga kepala turun ke rongga panggul.

Lanjutkan penatalaksanaan persalinan normal.

Jika prosedur gagal/terjadi prolapsus tali pusat, lakukan seksio sesarea.


Presentasi Bokong

Komplikasi
Komplikasi pada janin:

Kematian perinatal

Prolaps tali pusat

Trauma pada bayi akibat: tangan dan kepala yang menjuntai, pembukaan serviks yang
belum lengkap, CPD
Asfiksia karena prolaps tali pusat, kompresi tali pusat, pelepasan plasenta dan kepala

macet

Perlukaan / trauma pada organ abdominal atau pada leher

Komplikasi pada ibu:

Pelepasan plasenta

Perlukaan vagina atau serviks

Endometritis
Tatalaksana
Tatalaksana Umum:

Persalinan lama pada presentasi sungsang adalah indikasi seksio sesarea.

Seksio sesarea lebih aman dan direkomendasikan pada:

Presentasi bokong pada primigravida

Double footling breech

Pelvis yang kecil atau malformasi

Janin yang sangat besar

Bekas seksio sesarea dengan indikasi CPD

Kepala yang hiperekstensi atau defleksi

Persalinan pada presentasi kaki sebaiknya dilahirkan dengan seksio sesarea. Persalinan
pervaginam hanya bila:

Persalinan sudah sedemikian maju dan pembukaan sudah lengkap

Bayi preterm yang kemungkinan hidupnya kecil

Bayi kedua pada kehamilan kembar


Tatalaksana Khusus
Pada upaya persalinan pervaginam, lakukan langkah berikut:

Tentukan apakah persalinan pervaginam mungkin dilakukan. Persalinan pervaginam oleh


tenaga penolong yang terlatih akan cenderung aman bila:

Pelvis adekuat

Presentasi bokong lengkap/murni

Kepala fleksi

Tidak ada riwayat seksio searea karena CPD

Janin tidak terlalu besar

Sebelum in partu, usahakan melakukan versi luar apabila syarat dipenuhi, yaitu:

Pembukaan serviks masih kurang dari 3 cm

Usia kehamilan 37 minggu

Ketuban intak dan air ketuban cukup

Tidak ada komplikasi / kontraindikasi (IUGR, perdarahan, bekas seksio, kelainan


janin, kehamilan kembar, hipertensi)

Persalinan pervaginam masih mungkin dilakukan

Jika versi luar berhasil, lakukan asuhan persalinan normal.

Jika versi luar tidak berhasil, lakukan persalinan sungsang pervaginam atau seksio
sesarea.

Ikuti kemajuan persalinan dengan seksama menggunakan partograf.

JANGAN pecahkan ketuban. Bila pecah, periksa apakah ada prolaps tali pusat.

Beritahu ibu untuk tidak mengedan sebelum pembukaan lengkap.

Kepala janin harus lahir dalam waktu maksimal 8 menit sejak lahir sebatas pusat.

Apabila terjadi prolaps tali pusat dan kelahiran pervaginam tidak memungkinkan, maka
lakukan seksio sesarea.

Jika denyut jantung <100x/menit atau >180x/menit, lakukan seksio sesarea. Catatan:
Mekonium biasa terdapat pada persalinan sungsang dan tidak berbahaya selama denyut jantung
janinnormal.

Sediakan cunam piper sebagai antisipasi bila terdapat kesulitan melahirkan kepala (after
coming head).

A. MEKANISME PERSALINAN
Persalinan berlangsung agak lama karena bokong dibandingkan kepala lebih lembek
jadi kurang kuat menekan sehingga pembukaan agak lama. Jenis pimpinan persalinan
pada presentasi bokong, antara lain;
1. Persalinan pervaginam
Berdasarkan tenaga yang dipakai dalam melahirkan janin pervaginam, persalinan
pervaginam dibagi menjadi 3 yaitu;
a. Persalinan spontan (spontaneous breech)
Janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara yang lazim dipakai
disebut cara BRACHT.

1) Tahap pertama : fase lambat, lahirnya bokong sampai dengan umbilikus,


spontan.
2) Tahap kedua : fase cepat, lahirnya umbilikus sampai mulut
3) Tahap ketiga : fase lambat, lahirnya mulut sampai

kepala.

Tehnik : Hiperlordosis badan bayi

b. Ekstraksi Parsial / EP (Manual aid / partial breech extraction)


Janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi
dengan tenaga penolong.
Indikasi:
1. Bila pertolongan cara bracht gagal
Elektif, karena sejak semula direncanakan pertolongan dengan manual aid.
Tahapan dalam manual aid;
a. Tahap pertama : lahirnya bokong sampai umbilikus, spontan
b. Tahap kedua : lahirnya bahu dan lengan dengan tenaga penolong baik
secara klasik (Deventer), Mueller atau Lovset.
Cara klasik (Deventer)

Pegang bokong dengan menggunakan ibu jari berdampingan pada os. sacrum
dan jari lain dilipat paha. Janin ditarik kearah bawah,sehingga scapula berada
di bawah simfisis. Lahirkan bahu dan lengan belakang kemudian lengan
depan.
Cara Mueller

Tarik janin vertical kebawah,lalu dilahirkan bahu dan lengan depan. Cara
melahirkan bahu lengan depan bisa spontan atau dikait dengan satu jari
menyapu wajah. Lahirkan bahu belakang dengan menarik kaki keatas lalu
bahu- lengan belakang dikait menyapu kepala.
Cara Lovset

Setelah

sumbu

bahu janin berada dalam ukuran muka-belakang, tubuhnya ditarik kebawah


lalu lahirkan bahu serta lengan belakang. Janin diputar 90 0 sehingga bahu
depan menjadi bahu belakang. Dikeluarkan seperti biasa
c. Tahap ketiga : Lahirnya kepala dengan cara Mauriceau (Veit-smellie),
Najouk, Wigand Martin-Winckel, Prague terbalik atau dengan cunam
piper.
Cara Mauriceau (Veit-smellie)
Masukkan jari-jari dalam mulut (muka mengarah ke kiri =jari kiri,mengarah
ke kanan = jari kanan). Letakkan anak menunggang pada lengan sementara

tangan lain memegang pada tengkuk lalu tarik kebawah sampai rambut dan
kepala dilahirkan. Kegunaan jari dalam mulut hanya untuk menambah fleksi
kepala.
Cara Najouk
Satu tangan memegang leher janin dari depan,tangan lain memegang leher
pada bahu. Tarik janin kebawah dengan bantuan dorongan dari atas simfisis.
Cara Wigand Martin Winckel

Satu tangan (kiri) dalam jalan lahir dengan telunjuk dalam mulut janin
sedangkan jari tengah dan ibu jari pada rahang bawah. Tangan lain menekan
diatas simfisis atau fundus.
Cara Prague terbalik

Dilakukan pada ubun-ubun kecil terletak sebelah belakang. Satu tangan


memegang bahu janin dari belakang,tangan lain memegang kaki lalu menarik
janin kearah perut ibu dengan kuat.
c. Ekstraksi Total / ET (Total breech extraction)
Janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong. Cara ini
dilakukan hanya bila terjadi fetal distress atau ada indikasi untuk menolong
persalinan dengan ekstraksi total.
2. Persalinan Perabdominam (Sectio Cesaria / SC).

Persalinan presentasi bokong dengan sectio cesaria merupakan cara yang terbaik
ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan presentasi bokong
secara pervaginam, memberi trauma yang sangat berarti bagi janin, yang gejalagejalanya akan tampak pada waktu persalinan maupun dikemudian hari.
B. KOMPLIKASI
Bagi ibu:
Robekan pada perineum lebih besar
Ketuban lebih cepat pecah
Partus lebih lama
Mudah terkena infeksi
Bagi anak

Gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan perut lahir
Tali pusat tersepit antara kepala dan panggul
Asfiksia
Oleh karena itu setelah pusat lahir dan supaya janin hidup, harus dilahirkan dalam
waktu 8 menit

Letak Lintang
Tatalaksana

Lakukan versi luar bila permulaan in partu dan ketuban intak.

Bila ada kontraindikasi versi luar, lakukan seksio sesarea.

Lakukan pengawasan adanya prolaps tali pusat.

Dapat terjadi ruptura uteri bila ibu tidak diawasi.


Dalam obstetri modern dilakukan seksiosesar mesikup janintelah mati.
DKP
Tatalaksana Umum

Lakukan seksio sesarea bila ditemukan tanda CPD.

Pada kasus bayi mati, embriotomi atau kraniotomi dapat menjadi pilihan tindakan bila

syarat terpenuhi dan petugas memiliki kompetensi. Syarat melakukan embriotomi:


o

Janin sudah mati, kecuali pada kasus hidrosefalus

Pembukaan serviks > 7 cm

Ketuban sudah pecah

Jalan lahir normal

Tidak terdapat tanda-tanda ruptura uteri

Manajemen sebuah distosia bahu


Meskipun distosia bahu relatif jarang (1:200), namun Anda harus tahu apa yang harus
dilakukan jika menemukan kasus seperti ini. Pertama adalah penting untuk tidak membuat
situasi yang buruk menjadi semakin buruk:

Jangan menarik bayi karena hal ini akan berdampak bahu semakin tertahan. Ini adalah kesalahan yang paling
umum orang membuat karena mereka panik.

Traksi dapat menyebabkan cedera pleksus brakialis pada bayi (lihat film di atas).

Jangan memotong tali pusat jika sudah di sekitar leher bayi. Karena tali pusat yang utuh masih ada
kemungkinan bayi menerima oksigen yang memberi Anda lebih banyak waktu dan membantu dengan melakukan
resusitasi sesudahnya.

Berkomunikasi dengan ibu . Anda selalu punya waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi dan mengapa Anda
melakukan apa yang Anda lakukan, atau meminta dia untuk melakukan sesuatu.

Dalam manajemen penatalaksanaan ditosia bahu juga harus memperhatikan kondisi ibu
dan janin. Syarat-syarat agar dapat dilakukan tindakan untuk menangani distosia bahu
adalah :

1. Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan persalinan

2. Masih mampu untuk mengejan

3. Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai untuk akomodasi tubuh bayi

4. Bayi masih hidup atau diharapkan dapat bertahan hidup

5. Bukan monstrum atau kelainan congenital yang menghalangi keluarnya bayi

Karena distosia bahu tidak dapat diramalkan, pelaku praktik obstetric harus mengetahui
betul prinsip-prinsip penatalaksanaan penyulit.
Kita semua masih dalam tahapan belajar dan menyimpan informasi berbeda. Sebagai
seorang bidan, trainer dan dosen saya mengajar dua pendekatan berbeda untuk alasan
yang berbeda dalam penanganan distosia bahu:
HELPERR - PENDEKATAN STANDAR
Dalam kasus HELPERR:

H
Call For Help
E
Evaluate For Episiotomy
L
Leg: Mc Robert Manuver
P
External Pressure Suprapubic
E
Enter: Rotation Manuver
R
Remove The Posterior Arm
R
Roll The Patient To Her Hand and Knees
Dalam pendekatan ini E pertama adalah untuk 'mengevaluasi melakukan episiotomi'
namun ini jarang sekali dilakukan pada prakteknya di lapangan. Pertama, Anda harus
sangat berani untuk mencoba menempatkan/meletakkan gunting sedemikian rupa di
ruang yang sangat sempit di samping kepala bayi / wajah. Kedua, Anda benar-benar perlu
untuk meletakkan tangan kiri anda untuk melindungi kepala dan wajah bayi dari gunting.
Dalam management HELPERR masih ada beberapa kelemahan.
PENDEKATAN HOLISTIK
Ketika distosia bahu terjadi salah satu atau kedua dari 2 hal yang perlu terjadi untuk
melepaskan atau membebaskan bahu:

1. Mengubah ukuran dan posisi (ibu) panggul

Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong ibu untuk bergerak dan mengubah posisi. Anda
dapat meminta atau membantu ibu untuk mengubah pinggulnya dengan:

a. Mengangkat kaki dapat disertai dengan menggoyang ke belakang dan ke depan dari pelvis.

b. McRoberts adalah mudah jika ibu sudah berbaring. caranya adalah:

- Dengan posisi ibu berbaring, minta ibu untuk menarik kedua lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya, minta
dua asisten (boleh suami atau anggota keluarganya) untuk membantu ibu.

- Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (kearah anus ibu) untuk menggerakkan bahu
anterior di bawah symphisis pubis. Hindari tekanan yang berlebihan pada bagian kepala bayi karena mungkin akan
melukainya.

- Secara bersamaan minta salah satu asisten untuk memberikan sedikit tekanan supra pubis ke arah bawah dengan
lembut. Jangan lakukan dorongan pada pubis, karena akan mempengaruhi bahu lebih jauh dan bisa menyebabkan
ruptur uteri

c. Gaskin Manuver. Ini dengan melakukan perubahan posisi yaitu saat ibu dalam posisi berbaring, si ibu langsung
diminta untuk berputar dan mengubah menjadi posisi merangkak.

Langkah dari Gaskin maneuver ini sering di sebut FlipFLOP

Flip = memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak

FLOP =

F
Flips Mom Over (memutar ibu dari posisi berbaring menjadi merangkak). Setelah ibu posisi
terbalik menggunakan Gaskin's Manuver kebanyakan bayi akan lahir spontan. Namun, jika bayi tidak lahir segera,
bidan atau asistennya mengarahkan langkah berikutnya dilakukan ketika kontraksi berikutnya terjadi atau sebelum
ada kontraksi.

L
Lift Legs, Dengan di bantu bidan, mintalah ibu mengangkat satu kaki, arahkan ke
depan posisi ini persis seperti posisi ketiaka atlet lari hendak bersiap-siap untuk mulai
balapan lari. Jadi posisinya seperti gambar berikut ini:

Mohon perhatikan posisi kaki, sehingga lutut tidak terlalu jauh dari tubuhnya.
Sekarang mulailah melakukan lekukan atau menggulung bahu anterior bayi dari tulang
kemaluan hingga bergerak disamping simfisis pubis. pergeseran Pubis dari gerakan
menempatkan kaki ke dalam posisi "Running Start" seperti diatas seolah-olah ini adalah
seperti maneuver setengah McRoberts yang dilakukan dengan ibu di dalam posisi
terlentang. Setengah dari tulang kemaluan yang terguling atau bergeser ketika kaki
diangkat. Jika lengan tidak dapat diputar, pindah ke manuver berikutnya lebih cepat.

O
Oblique (Rotete Shoulder To Oblique) memutar bahu kearah oblique. jika bayi tidak langsung
lahir ketika kontraksi setelah dilakukan perubahan posisi menjadi posisi "Running Start, selipkan tangan bidan ke
ibu ssampai ia menemukan bagian belakang bahu posterior bayi. memutar bahu posterior ke arah dada bayi ke
diameter miring dari panggul ibu. Ada ruangan yang paling dalam dari diameter miring (diameter oblique)
panggul. Dengan demikian bayi akan mudah dari memutar bahu posterior ke diameter miring. Jika tetap gagal
Lanjutkan upaya.

P
Posterior Arm To Get it. ini dilakukan dengan mencari lengan bayi dan mengeluarkannya menyapu
tangan ke arah dada bayi . sehingga Lengan ini akan flex, yang berarti itu akan membuat sebuah
tikungan. Sekarang bidan dapat menangkap pergelangan tangan bayi, Kemudian seluruh lengan lalu goyangkan
dengan hati-hati. Hal ini akan mengurangi diameter tubuh bayi sekitar 2 cm.Jika itu tidak cukup, bayi diputar 180
derajat sehingga lengan sebelumnya anterior sekarang posterior dan lengan dibawa keluar. Sekarang ibu bisa
mendorong dan bayi akan keluar.

Manuver Gaskin ini angka keberhasilannya cukup tinggi yaitu 80-90%

2. Mengubah ukuran dan posisi (bayi) bahu

Tindakan ini akan membuat diameter bahu bayi lebih kecil. Memutar bahu ke diameter
oblique dari panggul akan tersedia ruang ekstra.
Beberapa maneuver yang dilakukan untuk memperkecil diameter bahu bayi antara lain
dengan:

a. Manuver Rubin (1964)

- Pertama dengan menggoyang-goyang kedua bahu janin dari satu sisi ke sisi lain dengan memberikan tekanan
pada abdomen.

- Bila tidak berhasil, tangan yang berada di panggul meraih bahu yang paling mudah di akses, kemudian
mendorongnya ke permukaan anterior bahu. Hal ini biasanya akan menyebabkan abduksi kedua bahu kemudian
akan menghasilkan diameter antar-bahu dan pergeseran bahu depan dari belakang simfisis pubis

b. Manuver Corkscrew Woods (1943)

- Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan lakukan penekanan pada bahu anterior, ke arah sternum bayi, untuk
memutar bahu bayi dan mengurangi diameter bahu

- Jika perlu, lakukan penekanan pada bahu posterior ke arah sternum.

c. Teknik Pelahiran Bahu Belakang

- Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan pegang tulang lengan atas yang berada pada posisi posterior

- Fleksikan lengan bayi di bagian siku dan letakkan lengan tersebut melintang di dada bayi

Dalam penanganan distosia bahu tidak ada urutan tertentu tindakan mana dulu yang bisa
Anda coba. Ini akan tergantung pada seberapa baik ibu bisa bergerak, posisi pasien, dan
akses yang Anda miliki menjadi yaitu pinggulnya. bagaimana dan di mana Anda bisa
mendapatkan jari anda di (jika diperlukan). Sebagai contoh, maneuver Rubins akan lebih
mudah untuk dilakukan daripada tekanan suprapubik pada ibu yang posisinya bersandar
ke depan.
Suatu pendekatan holistik berarti mengambil dan menggunakan gerakan atau tindakan
yang tepat pada saat itu.
PENDEKATAN DRASTIS
Jika pilihan yang lain gagal yang biasanya melibatkan kerusakan pada bayi atau ibunya.
Langkah berikutnya adalah menggunakan maneuver Zanvanelli namun ini mustinya
dilakukan di RS besar dengan persiapan SC karena langkahnya adalah sebagai berikut:
Manuver Zavanelli (Sandberg, 1985)

- Mengembalikan kepala ke posisi oksiput anterior atau posterior bila kepala janin telah berputar dari posisi
tersebut

- Memfleksikan kepala dan secara perlahan mendorongnya masuk kembali ke vagina yang diikuti dengan
pelahiran secara sesar.

- Memberikan terbutaline 250 mg subkutan untuk menghasilkan relaksasi uterus