Anda di halaman 1dari 44

Anggota Sub-Group B

1. Yosua Alexander
2. Lastri Rina U. Sitompul
3. Herdwin Limas
4. Retno Susilowati
5. Byanka Fitria
6. Lilian Surya F.
7. Irene Ruth S.
8. Bella Agiussela
9. Rullis Dwi Istighfaroh

Pembimbing :
dr. Iskandar Zulkarnain,SpOG (K)

21/01/16

EPISIOTOMI

Definisi ?

Tujuan ?

Indikasi ?

Fungsi?

Manfaat?

Anatomi ?

Macam episiotomi ?

Saat yang tepat ?

Prosedur episiotomi ?

Cara penjahitan / merepair ?

Sebab-sebab kegagalan episiotomi ?

DEFINISI

Irisan
pada
perineum
(perineotomi)
untuk
memperluas
outlet
dengan
maksud
mempermudah
pengeluaran
janin
pada
persalinan kala II.

TUJUAN
1. Mencegah ruptur perinei totalis
2. Mencegah terjadinya sistokel, rektokel,
inkontinensia urine / alvi
3. Mencegah ruptur sphincter ani &
rektum
4. Episiotomi tidak dilakukan secara rutin
5. Penyembuhan ruptur perinei tk III/IV
tak baik
21/01/16

INDIKASI
Peregangan perineum (bayi besar)
Petolongan persalinan kala II
normal / primi
Indikasi tertentu : distokia bahu,
pres bo.,VE, forceps, distokia pada
PBP, gawat janin
Persalinan janin prematur
Letak lintang
21/01/16

Indikasi pada Presbo

Indikasi pada Forceps

ALASAN EPISIOTOMI KURANG


DIPAKAI

Daerah penyembuhan luka yang

lambat

Menyebabkan
yang berlebih

infeksi

nyeri

perineal

Risiko perdarahan, dispareunia,

Belum
proteksi janin

ada

bukti

dari

Menganggu
pengembangan laktasi

efek
proses

panggul

Memperlemah

otot

dasar

Resiko terjadinya inkontinensia

Fungsi Episiotomi
Luka lurus dan tajam lebih mudah dijahit.
Mengurangi tekanan kepala bayi.
Mempersingkat kala II.
Mengurangi kemungkinan terjadinya ruptura
perinium totalis.

Manfaat Episiotomi
Secara anatomis lebih alamiah
Menghindari pembuluh-pembuluh darah dan
syaraf, jadi penyembuhan tidak terlalu sakit
Lebih mudah dijahit karena anatomis
jaringan lebih mudah
Nyeri saat berhubungan (dispareunia) jarang
terjadi
Kehilangan darah lebih sedikit
Jarang terjadi kesalahan penyembuhan

MACAM EPISIOTOMI

Episiotomi Medialis adalah yang dibuat di garis tengah.


Episiotomi Mediolateralis dari garis tengah ke samping
menjauhi anus.
Episiotomi Lateralis 1-2 cm diatas commisuro posterior ke
samping.
Episiotomi Sekunder adalah ruptur perinii yang spontan
atau episiotomi medialis yang melebar sehingga
dimungkinkan menjadi ruptura perinii totalis maka
digunting ke samping.

21/01/16

Otot yang terpotong


M. Transversa perinei
M. Bulbocavernosi
M. Bulbococcygeal
M. Iliococcygei

JARINGAN
TERPOTONG

YANG

1. Kulit
(Perineal
Tissue)

skin

and

subcutaneous

2. Dinding belakang vagina


(Posterior vaginal wall)
3. Musculus Bulbo Cavernosus
4. Musculus
Superficialis

Perinei

Transversus

5. Pubococcygeus / serabut anterior dari

KAPAN EPISIOTOMI
Bila dilakukan lebih awal perdarahan
lebih banyak
Bila terlambat dilakukan bisa terjadi ruptur
perinei
Biasanya dilakukan pada pembukaan
kepala
3 4 cm
Pada VE dilakukan setelah mulai dilakukan
tarikan
21/01/16

KAPAN PENUTUPAN JAHITAN

Setelah plasenta
lahir
21/01/16

PRINSIP EPISIOTOMI
Hemostasis
Tidak terlalu banyak jahitan
Mukosa vagina jelujur cat gut
chromic 2-0
Otot benang 2-0 interrupted
Jahit kulit secara interrupted atau
subcuticuler
Medio lateral
Mengembalikan struktur anatomis
21/01/16

PROSEDUR EPISIOTOMI
1. Persetujuan Tindakan Medik
1.1 Perkenalan diri
1.2 Menjelaskan tentang diagnosis dan
penanganan luka episiotomi
1.3 Menjelaskan risiko

1.4 Memastikan pasien paham


1.5 Memberi kesempatan pasien untuk bertanya
1.6 Setelah pasien paham dan menerima,
pasien menandatangani surat persetujuan
tindakan
1.7 Memasukan surat persetujuan tindakan
medik ke dalam catatan medik

2. Persiapan Sebelum tindakan

2.1 Memeriksan dan menyiapkan peralatan


Set jahit dalam keadaan steril
- Sarung tangan steril : 1
-

Gunting benang : 1
Pinset anatomis : 1
Pinset sirugis : 1
Klem arteri : 1
Pemegang jarum jahit : 1
Jarum jahit bulat dan tajam : 1/1
Benang Khromik 0/0

Tampon bola : 1

Kasa steril : 5

Kain duk steril : 1

Semprit 5 cc berisi lidokain 1%

Peralatan lain:
-

Lampu sorot

Stetoskop dan tensimeter

Oksigen dengan regulator

Bahan antiseptik (Khlorheksan povidon iodin 10% iodofor)

Kateter (nelaton, folley)

Cawan bengkok

Ember

Bahan dekontaminasi (larutan khlorin 0,5%)

Tempat sampah

3. Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan

3.1 Mencuci tangan dan lengan sampai siku


3.2 Mengeringkan tangan dan lengan dengan handuk DTT
3.3 Memakai baju kamar tindakan pelapis plastik,masker
dan kacamata pelindung dan alas kaki

pelindung

3.4 Memakai sarung tangan DTT steril


3.5 Mengatur posisi ibu dalam posisi litotomi dengan

penahan kaki

3.6 Melakukan aspetis daerah vulva perineum dan anus


larutan antiseptik 2x

dengan

3.7 Memasang alas bokong dan menutup perut bawah dengan kain
duk steril/DTT kemudian difiksasi dengan
klem kain atau
menutup daerah episiotomi dengan kain duk berlubang steril DTT

4. Teknik Episiotomi

1.

Operator berdiri disamping kanan pasien atau


didepan vulva

2.

Telapak tangan kiri masuk melindungi kepala bayi


dari sentuhan gunting

3.

Satu daun gunting dimukosa vagina yang satu


lagi dikulit perineum

4.

Sudut gunting tepat di median raphe atau 1 cm


dari mid line mengarah ke pertengahan antara
anus dengan tuberosity ischium.

5.

Pasien diberi anestesi infiltrasi / lokal.

6.

Perineum yang meregang ditekan diantara


telunjuk dan ibu jari sebelum digunting pada saat
ada HIS.

7.

Insisi / guntingan harus dilakukan dengan sekali ,


panjang insisi 3 4 cm.

8.

Perdarahan dikontrol / ditekan dengan kasa teril.

9.

Kepala/bayi harus segera lahir setelah episiotomi

Setelah bayi lahir perdarahan akan


berhenti spontan, bila tidak, lakukan
tampon padat sebelum direpair.

Segera repair karena dapat menyebabkan


perdarahan yang cukup banyak (considerable
blood can be lost)

5. Teknik Repair Episiotomi

1.

Sebelum merepair luka epis, jalan lahir harus


di expose dengan spekulum vagina yang
besar.

2.

Cari adanya laserasi cervik atau vagina jika


ada harus direpair terlebih dahulu.

3.

Setelah
itu
tampon
padat
masukkan
kepuncak vagina untuk menahan perdarahan
dari dalam uterus untuk sementara sehingga
luka episiotomi tampak jelas.

4.

Jari ke II dan III operator masukkan dalam vagina


regangkan didnding vagina, exposkan batas
atas (ujung) dimana jahitan akan dimulai.

5.

Puncak insisi vagina disatukan dan dijahit dengan


cat gut I terus ke bawah sampai 2 cm diatas
posterior commissura.

6.

Rekonstruksi diaphragma
chromic cat gut 2-0 .

7.

Jahitan diteruskan lapis demi


terakhir menutup kulit perineum.

urogenital
lapis

dengan
sampai

6. Penjahitan Robekan Perineum Tingkat III-IV

1.

Mukosa rektum dan muskulus sfingter Ani


diidentifikasi

2.

Dinding depan mukosa rektum yang robek


dijahit secara terbalik (inverted) dengan
simpul satu-satu menggunakan benang
kromik 00 dan jarum penampang bulat

3.

Kemudian fasia perirektal dan fasia septum


rektovaginal dijahit sehingga bertemu lagi
menggunakan benang dan jarum yang sama

4. Ujung-ujung muskulus sfingter ani yang


terpisah akibat robekan dijepit dengan klem
Pean lurus. Kemudian dijahit dengan jahitan
simpul sederhana 2-3 buah menggunakan
benang khromik 00 sehingga bertemu lagi.
5. Melakukan pemeriksaan colok dubur untuk
mengetahui apakah ada bagian dinding belakang
rektum yang terjahit. Apabila ada bagian yang
terjahit dilakukan reparasi ulang.
6. Langkah selanjutnya sama dengan prosedur
menjahit luka episiotomi atau robekan perineum
tingkat II

6. Pencegahan Infeksi Pascatindakan

1.

Sebelum melepaskan sarung tangan kumpulkan


dan masukkanlah instrumen ke dalam wadah
yang berisi larutan khlorin 0.5 %

2.

Kumpulkanlah bahan yang habis pakai yang


terkena darah atau cairan tubuh pasien dan
masukkanlah ke tempat sampah medis yang
tersedia.

3.

Bubuhilah benda-benda di kamar tindakan yang


terkena darah atau cairan tubuh pasien dengan
larutan Khlorin 0,5%

4.

Setelah melepaskan sarung tangan,cuci tangan


lagi dengan sabun dalam air mengalir.

5.

Keringkan tangan dengan handuk/kertas/tissue


1.

6. Perawatan Pascatindakan
Periksa lagi tanda vital pasien
Apabila terjadi kelainan/komplikasi segera
dilakukan
tindakan dan beri instruksi

2. Catatlah kondisi pasien dan buat laporan


tindakan
telah selesai dilakukan di kolom
yang tersedia
dalam status pasien
3. Buatlah intruksi pengobatan lanjutan dan
pemantauan
kondisi pasien
4. Pasien dan keluarganya diberitahu bahwa
tindakan
telah selesai dilakukan dan psien
asih memerlukan perawatan.

Vertical Aversi

Horizontal
Aversi

Faktor Kegagalan
Episiotomi
Cara penjahitan

Faktor benang
Infeksi
Cairan vagina
Perawatan
KU pasen
Penyakit khronis
Keganasan
21/01/16

Akibat Kegagalan Repair

Luka dehisensi
Gejala klinis infeksi
Prolapsus uteri
Gangguan seksual
Fistel
Kala II lebih cepat
Gangguan rasa nyeri, psikologis
21/01/16

Robekan jalan lahir

Partus presipitatus
Trauma karena alat
Melahirkan kepala pada letak
sungsang
Partus lama

Teknik menjahit robekan serviks


Pinggir robekan kiri-kanan dijepit
Serviks di tarik sedikit
Pinggir robekan digunting bila bergerigi
Robekan dijahit terputus atau jahitan
delapan
Robekan dalam jahitan lapis demi lapis

Keuntungan dan kerugian dari episiotomi

Episiotomi Medialis : mudah dijahit, anatomi


maupun fungsionil sembuh dengan baik, nyeri
masa nifas ringan, dapat menjadi ruptur perinii
totalis.
Episiotomi Mediolateralis : Lebih sulit dalam
penjahitan,anatomi maupun fungsionil
penyembuhan kurang sempurna, nyeri pada
hari-hari pertama nifas, jarang menjadi ruptura
perinii.

Komplikasi :
1. Perdarahn pd umumny pd luka robek yg
kecil & superfisial tidak terjadi
perdarahan yang banyak, akan tetapi jika
robekan lebar & dalam /mengenai pembuluh
darah dapat menimbulkan perdarahan yg
hebat
2. Infeksi jika robekan tidak ditangani dg
smestinya dapt terjad infeksi bahkan
dapat timbul septikomi