Anda di halaman 1dari 15

OBAT OBAT EMERGENCY

Nama :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Khoirotun Nisak (20110320123)


Andri Putriasi (20110320124)
Yusuf Al Farisi (20110320125)
Rahmi Azizah (20110320126)
Khoirunnisa Eka Kurnia M. M. (20110320128)
Agustin Prihannisa Astiti (20110320129)

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2015

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam pembelajaran obat obatan ruang lingkup keperawatan darurat.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini masih banyak kekurangan karena pengalaman yang penyusun
miliki sangat kurang. Oleh kerena itu penyusun harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Bantul, April 2015
Penyusun

JENIS - JENIS OBAT YANG DI KAJI


1. DEKSAMETHASON (KORTIKOSTEROID)
2. DOPAMINE
3. EFEDRIN
4. EPINEFRIN
5. LIDOCAIN (LIGNOCAIN, XYLOCAIN)
6. MORPHIN
7. NATRIUM BICARBONAT (Na. Bic).
8. NITROGLICERIN ( NITRBID )
9. STREPTOKINASE (Trombolitik)
10. SULFAS ATROPIN

PEMBAHASAN

1. DEKSAMETHASON (KORTIKOSTEROID)
Dexamethasone merupakan kelompok obat kortikosteroid. Obat ini bekerja
dengan cara mencegah pelepasan zat-zat di dalam tubuh yang menyebabkan
peradangan.
Dexamethasone digunakan dalam menangani berbagai kondisi, misalnya
penyakit autoimun seperti sarcoidosis dan lupus, penyakit inflamasi usus
seperti ulcerative colitis dan penyakit Crohn, beberapa penyakit kanker, dan
alergi.
Dexamethasone juga digunakan untuk mengatasi mual dan muntah akibat
kemoterapi, mengobati hiperplasia adrenal kongnital, serta untuk
mendiagnosis penyakit Cushing.
A. Farmakologi
Kortikosteroid seperti deksametason bekerja dengan cara
mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel
jaringan melalui membran plasma secara difusi pasif di jaringan target,
kemudian bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel
jaringan dan membentuk kompleks reseptor steroid. Kompleks ini mengalami
perubahan konformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan
kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein
spesifik. Induksi sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologik
steroid.
Efek terapeutik glukokortikoid seperti deksametason yang paling
penting adalah kemampuannya untuk mengurangi respons peradangan secara
dramatis dan untuk menekan imunitas. Telah diketahui bahwa penurunan dan
penghambatan limfosit dan makrofag perifer memegang peranan. Juga
penghambatan fosfolipase A2 secara tidak langsung yang menghambat
pelepasan asam arakidonat, prekursor prostaglandin dan leukotrien, dari
fosfolipid yang terikat pada membrane.
B. Dosis Dexamethasone
Dosis dexamethasone akan tergantung pada penyakit atau gejala yang
ditangani. Umumnya, dosis awal yang akan diresepkan dokter berada di antara
0.75-9 mg per harinya. Perlu diketahui bahwa dosis dexamethasone juga akan
disesuaikan dengan perkembangan penyakit/gejala dan respons tubuh pasien
terhadap obat ini. Untuk pengguna anak-anak, berat badan mereka juga perlu
dipertimbangkan dalam menentukan dosis dexamethasone. Untuk informasi
lebih lengkap, tanyakan pada dokter.
C. Efek samping
Dexamethasone dapat menyebabkan efek samping dan bentuk efek
samping tersebut bisa berbeda-beda pada penggunanya. Ada beberapa efek
samping yang mereda seiring dengan tubuh menyesuaikan diri dengan obat
ini.

Beberapa efek samping dexamethasone yang umum adalah:

Badan terasa lelah atau lemas


Gangguan pola tidur
Sakit kepala
Vertigo
Keringat berlebihan
Jerawat
Kulit kering dan menipis serta gampang memar
Pertumbuhan rambut yang tidak biasa
Perubahan suasana hati seperti depresi dan mudah tersinggung
Mudah haus
Sering buang air kecil
Nyeri otot
Nyeri pada sendi atau/dan tulang
Sakit perut atau perut terasa kembung
Rentan terhadap infeksi

2. DOPAMINE
A. Farmakologi
Anak-anak : dopamin menunjukkan kinetika non linear pada anak-anak
; dengan merubah jumlah obat mungkin tidak akan mempengaruhi waktu
steady state ;
Onset kerja : dewasa : 5 menit ;Durasi : dewasa : < 10 menit;
Metabolisme : ginjal, hati, plasma; 75% menjadi bentuk metabolit inaktif oleh
monoamine oksidase dan 25 % menjadi norepinefrin;
eliminasi : 2 menit ;Ekskresi : urin ( sebagai metabolit);Kliren : pada neonatus
bervariasi dan tergantung pada umur; kliren akan menjadi panjang jika
terdapat gangguan hepatik atau ginjal
Interaksi obat:
Meningkatkan efek/toksisitas : efek dopamin diperpanjang dan ditingkatkan
oleh MAO inhibitor; alpha dan beta-adrenergic blockers, cocaine, anestetik
umum, metilldopa,fenitoin, reserpin dan antidepresan trisiklik.;Menurunkan
efek: Efek antidepresan trisiklik diturunkan jika digunakan bersama dengan
dopamin. Efek hipotensif guanetdin hanya berefek sebagian; memerlukan
simpatomimetik kerja langsung.
B. Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap sulfit (sediaan yang mengandung natrium
bisulfit), takiaritmia, phaeochromocytoma, fibrilasi ventrikular.
C. Efeksamping
Sering : denyut ektopik, takikardia, sakit karena angina, palpitasi,
hipotensi, vasokonstriksi, sakit kepala, mual, muntah, dispnea. Jarang :
bradikardia, aritmia ventrikular (dosis tinggi), gangrene, hipertensi, ansietas,
piloereksi, ;peningkatan serum glukosa, nekrosis jaringan (karena ekstravasasi
dopamin), peningkatan tekanan intraokular, dilatasi pupil, azotemia, polyuria.

3. EFEDRIN
A. Farmakologi
Absorpsi : secara cepat dan sempurna diserap setelah diminum, IM
atau pemberian melalui injeksi. Bronchodilatasi terjadi dalam waktu 15-60
menit setelah pemberian oral obat dan nampak tetap ada selama 2-4 jam.
Lamanya pressor dan reaksi jantung tehadap ephedrin adalah 1 jam setelah
aturan 10-25 mg atau IM atau pemberian injeksi 25-50 mg dan sampai 4 jam
setelah obat 15-50 mg diminum. Distribusi : ephedrin memasuki plasenta dan
menyebar ke air susu. Eliminasi : jumlah kecil dimetabolisme lambat dalam
hati oleh oxidative deamination, demethylation, aromatic hydroxylation dan
konjugasi. Ephedrin dan metabolitnya disekresi dalam urin. tingkat eksresi
urin dari obat dan metabolitnya tergantung pada pH urin.
Interaksi obat:
Meningkatkan efektoksisitas : Meningkatkan toksisitas pada jantung
dengan agen simpatomimetik, teofilin glikosida jantung, atau anastesi umum.
Meningkatkan tekanan darah jika digunakan bersamaan dengan atropin atau
penghambat MAO. Menurunkan efek pemblok dan adrenergik
menurunkan efek vasopresor ephedrin.
B. Efek samping :
Kardiovaskular : Aritmia, nyeri dada, depresi pada tekanan darah, hipertensi,
palpitasi, takikardia, pucat yang tidak biasa. SSP : agitasi, kecemasan, efek
menstimulasi SSP, pening, eksitasi ketakutan, hiperaktivitas, insomnia,
irritabilitas, gugup, tidak bisa istirahat. Gastrointestinal : anoreksia, gangguan
lambung, mual, muntah, xerostamia. Neuromaskular dan skletal: tremor,
lemah. Pernapasan : dyspnea.
C. Kontraindikasi
Sangat sensitif terhadap efedrin atau komponen formulasi, aritmia,
glaukoma, sudut tertutup penggunaan bersama dengan agen simpatomimetik.
4. EPINEFRIN
Epinefrin atau adrenalin (bahasa Inggris: adrenaline, epinephrine) adalah
sebuah hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh.
Tidak hanya gerak, hormon ini pun memicu reaksi terhadap efek lingkungan
seperti suara derau tinggi atau cahaya yang terang. Reaksi yang kita sering
rasakan adalah frekuensi detak jantung meningkat
A. Farmakokinetic :
Epinefrin atau adrenalin disintesis dengan cara berikut: di dalam hati,
asam amino tirosin akan dibentuk dari fenilalanin. Senyawa ini akan diambil dari
darah masuk kedalam aksoplasma disini dengan bantuan tirosinhidroksilase akan
dihidroksilasi pada cincin aromatisnya menjadi dihidroksifenilalanin (Dopa) dan
akhirnya senyawa ini oleh dopa-dekarboksilase didekarboksilasi menjadi
dopamine. Dengan cara transport aktif, dopamine kemudian akan dibawa ke
organel sel yang khusus (granula cadangan, vesikel) dan di sini dengan bantuan

dopamin--hidroksilase akan dihidroksilasi pada rantai sampingnya menjadi


noradrenalin (norepinefrin). Sedangkan pengubahan selanjutnya menjadi
adrenalin, hanya dapat terjadi didalam otak dan tidak mungkin terjadi pada ujung
saraf simpatis, karena enzim N-metiltransfarase yang mengubah noradrenalin
menjadi adrenalin tidak ada. Sebaliknya dalam sel kromafin medulla adrenal,
tempat N-metiltransfarase ada, maka dari noradrenalin dengan metilasi pada N
akan terbentuk adrenalin.
B. Farmakodinamik
Kerja utama epinefrin adalah pada sistem kardiovaskular. Senyawa ini
memperkuat daya kontraksi otot jantung (miokard) (inotropik positif : kerja 1)
dan mempercepat kontraksi miokard (kronotropik positif : kerja 1). Oleh karena
itu, curah jantung meningkat pula. Akibat dari efek ini maka kebutuhan oksigen
otot jantung jadi meningkat juga. Epinefrin mengkonstriksi arteriol di kulit,
membrane mukosa, dan visera (efek ) dan mendilatasi pembuluh darah ke hati
dan otot rangka (efek 2). Aliran darah ke ginjal menurun. Oleh karena itu, efek
kumulatif epinefrin adalah peningkatan tekanan sistolik bersama dengan sedikit
penurunan tekanan diastolic.
C. Efek samping :
1) Palpitasi : Merupakan gejala abnormal pada kesadaran detak
jantung, bisa terlalu lambat, terlalu cepat, tidak beraturan, atau
berada dalam frekuensi normal
2) Tachychardia : Perningkatan kecepatan aktivitas jantung.
3) Arrhythmia : Jantung bisa berdetak lebih cepat atau sebaliknya
malah lebih lambat.
4) Sakit kepala : Kondisi sakit pada kepala, pada bagian leher ke atas.
5) Tremor
6) Hipertensi
7) Edema paru paru
8) Alergi
D. Indikasi
Epinefrin digunakan sebagai menambah pada anestetika lokal, dan selain
itu pada syok anafilaktik dan serangan Adamstokes. Pada jantung berhenti,
penyuntikan adrenalin dilakukan setelah penanganan primer yaitu pernapasan
buatan dan massage jantung, kedua penanganan ini tetap tidak dihentikan.

E. Kontra indikasi
Epinefrin tidak boleh diberikan pada penderita hipertireosis , sklerosis koronar,
selebral, hipertensi berat, narkosis dengan hidrokarbon terhalogenasi atau dengan
eterserta setelah pemakaian digitalis
5. LIDOCAIN (LIGNOCAIN, XYLOCAIN)

Lidokain (Xylocaine/Lignocaine) adalah obat anestesi lokal kuat yang


digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan.
A.
Farmakokinetik
Lidokain mudah diserap dari tempat suntikan, dan dapat melewati sawar
darah otak. Sekitar 70% (55-95%) lidokain dalam plasma terikat protein, hampir
semuanya dengan alfa 1 acid glycoprotein. Distribusi berlangsung cepat volume
distribusi adalah 1 liter per kilogram; volume ini menurun pada pasien gagal
jantung. Tidak ada lidokain yang diekskresi secara utuh dalam urin. Jalur
metabolik utama lidokain di dalam hepar (retikulum endoplasma), mengalami
dealkilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda (mixed function oxidases)
membentuk monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid, yang kemudian
dimetabolisme lebih lanjut menjadi monoetilglisin dan xilidid. Kedua metabolit
monoetilglisin xilidid maupun glisin xilidid ternyata masih memiliki efek
anestetik local.
B. Farmakodinamik
Sistem saraf pusat
Semua obat anestesi lokal merangsang sistem saraf pusat menyebabkan
kegelisahan dan tremor yang mungkin berubah menjadi kejang klonik. Secara
umum, makin kuat suatu anestetik, makin mudah menimbulkan kejang.
Perangsangan ini akan diikuti depresi, dan kematian biasanya terjadi karena
kelumpuhan nafas.
Sistem kardiovaskular
Pengaruh utama lidokain pada otot jantung ialah menyebabkan
penurunan eksitabilitas, kecepatan konduksi dan kekuatan kontraksi. Lidokain
juga menyebabkan vasodilatasi arteriol. Efek terhadap kardiovaskular
biasanya baru terlihat sesudah dicapai kadar obat sistemik yang tinggi, dan
sesudah menimbulkan efek pada sistem saraf pusat.
C. Efek samping
Reaksi yang tidak diinginkan yang serius jarang dijumpai, tetapi dapat
terjadi akibat dosis lebih relatif atau mutlak (toksisitas sistemik) dan reaksi
alergi.
Dosis relatif lebih
Dapat terjadi bila lidokain secara tidak sengaja ke dalam arteri yang
menuju otak. Hal ini dapat terjadi pada saat memblok saraf pada daerah leher
atau bila arteri kecil pada setengah tubuh bagian atas tertusuk dan lidokain
mencapai otak akibat injeksi retrograd. Pada kasus ini dapat timbul gejalagejala sistem saraf pusat, mungkin juga kejang pada dosis yang diperkirakan
tidak berbahaya.
Reaksi alergi
Reaksi alergi terhadap lidokain adalah sangat jarang, meskipun obat ini
sering digunakan. Diperkirakan bahwa kurang dari 1% semua reaksi

merugikan disebabkan oleh karena mekanisme alergi. Malahan sangat besar


respon merugikan yang sering dihubungkan dengan reaksi alergi ternyata
manifestasi kelebihan konsentrasi lidokain dalam plasma.
6. MORPHIN
Morphin adalah termasuk dalam obat narkotik analgesik yang asalnya
diekstraksi dari tanaman Papaverum somniferum. Morphine adalah jenis obat
yang disebut narkotik penghilang rasa sakit. Morphine digunakan untuk
menghilangkan rasa sakit yang berat. Morphine bekerja dengan cara
mengurangi atau menekan pusat persepsi rasa sakit di otak. Morphine tidak
digunakan untuk menghilangkan rasa sakit setelah melakukan pembedahan
kecuali jika telah menggunakannya sebelum pembedahan dilakukan.
A. Indikasi:
Untuk menghilangkan rasa sakit yang berat.

B. Dosis:
MI:
1. 10 mg IV dengan jumlah 2 mg/menit diikuti dengan dosis yang
lebih jauh sekitar 5-10 mg IV, jika diperlukan.
2. Gunakan dosis setengah pada orang-orang yang lebih tua.
UA:
1. 2-5 mg IV dengan jumlha 2 mg/menit
2. Boleh diulangi setiap 5-30 menit seperti yang dibutuhkan untuk
menghilangkan gejala.
C. Efek Samping:
1. Efek GI(N/V, konstipasi); Efek CV (hipotensi, bradycardia),
depresi; Efek CNS (mengantuk, kebingungan, perubahan
mood)
2. Diamorphine mungkin lebih sedikit menyebabkan kemabukan
dan hipotensi dibandingkan dengan Morphine.
3.
7. NATRIUM BICARBONAT (Na. Bic).
Natrium bikarbonat termasuk jenis antasida reaksi cepat dan sebaiknya
tidak digunakan secara terus-menerus atau untuk jangka panjang.
Beberapa jenis gangguan pencernaan yang dapat ditangani dengan natrium
bikarbonat meliputi dispepsia, sakit maag, serta nyeri ulu hati. Obat ini
berfungsi menetralisasi asam lambung yang jumlahnya melebihi kadar normal.
A. Dosis Natrium Bikarbonat
Dosis penggunaan natrium bikarbonat tergantung kepada tingkat
keparahan gejala. Takaran umum yang digunakan adalah 1-5 gr bubuk natrium

bikarbonat yang dicampur dengan segelas air dan diminum 4-6 jam sekali.
Dosis tersebut dianjurkan bagi pasien anak-anak di atas 12 tahun dan dewasa.
Penggunaan antasida ini sebaiknya tidak lebih dari 14 hari. Jika
digunakan untuk jangka panjang, obat ini berpotensi memicu efek samping.
Temui dokter jika gejala berlanjut dan Anda telah mengonsumsi natrium
bikarbonat selama 14 hari.
B. Efek Samping
Semua obat berpotensi menyebabkan efek samping. Demikian juga
dengan natrium bikarbonat. Beberapa efek samping yang berpotensi muncul
selama menggunakan antasida ini antara lain:
Perut kembung.
Kram perut.
Segera hentikan konsumsi obat dan hubungi dokter jika Anda mengalami
efek samping atau gejala-gejala Anda bertambah parah.
Bagi penderita gangguan saluran kemih, penggunaan natrium bikarbonat
yang berlebihan atau overdosis dapat memicu alkalosis metabolik.
8. NITROGLICERIN ( NITRBID )
A. FARMAKOLOGI
Onset pemberian nitrogliserin: IV, segera. Durasi aksi pemberian IV :
3-5 menit. Nitrogliserin terdistribusi luas dalam jaringan dan sekitar 60%
terikat protein. Metabolit nitrogliserin, 1,3- dan 1,2-glyceryl dinitrate, ;tidak
seefektif nitrogliserin dan memiliki sekitar 40 menit, dibanding dengan
nitrogliserin yang hanya 1-4 menit. Metabolit ini diekskresikan melalui ginjal.
Pemberian bersama alkaloid ergot potensial menyebabkan vasospasme
koroner dan dapat memperberat angina. ;Alkaloid ergot kontraindikasi pada
pasien hipertensi, angina atau penyakit arteri koroner yang mendapat terapi
nitrogliserin.;Penggunaan bersama obat-obat simpatomimetik (dapat
meningkatkan nadi dan tekanan darah) seperti epinefrin, norepinefrin,
fenilefrin, efedra, atau efedrin, bersifat antagonis efek antiangina dari nitrat.
;Efek vasodilatasi nitrat dapat menghambat efek adrenergik alfa dari epinefrin
sehingga memperberat takikardi dan hipotensi berat.;Nitrit dan nitrat
merupakan antagonis asetilkolin dan histamin. Sehingga, nitrogliserin dapat
mengurangi efek obat ini (mis, asetilkolin, norepinefrin dan histamin
dihidroklorid) bila digunakan bersama.
B. KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap nitrat organik; hipersensitif terhadap isosorbide,
nitrogliserin, atau komponen lain dalam sediaan, penggunaan bersama
penghambat phosphodiesterase-5 (PDE-5) seperti sildenafil, tadalafil, atau
vardenafil; angle-closure glaucoma ;(terjadi peningkatan tekanan intraokuler);

trauma kepala atau perdarahan serebral (meningkatkan tekanan intrakranial);


anemia berat. ;Kontraindikasi IV: Hipotensi; hipovolemia yang tidak
terkoreksi; gangguan sirkulasi serebral; constrictive pericarditis; perikardial
tamponade karena obat mengurangi aliran darah balik, mengurangi preload
dan mengurangi ;output jantung sehingga memperparah kondisi ini.
;Nitrogliserin jangan diberikan pada pasien hipovolemia yang tidak terkoreksi
(atau dehidrasi) karena risiko menginduksi hipotensi,gangguan sirkulasi
serebral, perikarditis konstriktif, pericardial tamponade.;Nitrogliserin harus
digunakan hati-hati pada pasien hipotensi atau hipotensi ortostatik karena obat
ini dapat memperparah hipotensi, menyebabkan bradikardi paradoksikal, atau
memperberat angina. ;Terapi nitrat dapat memperberat angina karena
kardiomiopati hipertropik. ;Penggunaan nitrogliserin pada awal infark miokar
akut perlu pemantauan hemodinamika dan status klinis. ;Nitrogliserin harus
digunakan hati-hati setelah infark miokardiak karena hipotensi dan takikardia
dapat memperparah iskemia.
C. EFEK SAMPING
Kardiovaskuler: Hipotensi, hipotensi postural, pallor, kolaps
kardiovaskuler, takikardi, syok, kemerahan, edema perifer. SSP: sakit kepala
(paling sering), pusing (karena perubahan tekanan darah), tidak bisa tidur.
Gastrointestinal: Mual, muntah, diare. Genitourinari: inkontinensia urin.
Hematologi: Methemoglobinemia (jarang, bila overdosis). Neuromuskuler &
skelet: Lemah/letih. Mata: Pandangan kabur. Insiden hipotensi dan efek yang
tidak diharapkan akan meningkat bila digunakan bersama sildenafil.
D. MONITORING
Kaji potensial interaksi dengan obat-obat lain yang diminum pasien
(mis, heparin, alkaloid ergot, sildenafil, tadalafil, atau vardenafil). Evaluasi
efektivitas terapi (status kardiak) dan efek yang tidak diharapkan ;(mis,
hipotensi, aritmia, perubahan SSP, gangguan GI). Dosis harus diturunkan
bertahap pada penghentian obat setelah penggunaan jangka waktu lama.
Informasikan pada pasien tentang penggunaan obat, kemungkinan efek
samping/intervensi ;(mis, periode bebas obat) dan pelaporan efek yang tidak
diharapkan.

9. STREPTOKINASE (Trombolitik)
A. FARMAKOLOGI
Streptokinase diberikan melalui intravena atau infus intrakoroner.
Reperfusi pada miokard biasanya terjadi dalam 20 menit hingga 2 jam.
Meskipun distribusi tidak diketahui pasti. Streptokinase dapat menembus
plasenta dalam jumlah kecil. ;Antibodi antistreptokinase juga dapat menembus
plasenta, tetapi tidak diketahui ekskresinya di dalam ASI. plasma adalah 23
menit. Metabolit streptokinase belum dapat diidentifikasi.;Konsentrasi dalam
darah dan kecepatan klirensnya tergantung pada ketersediaan substrat dan

konsentrasi antibodi yang beredar dalam darah. Eliminasi streptokinase belum


diketahui pasti.
Obat antifibrinolitik, seperti asam aminokaproat, aprotinin, dan asam
traneksamat, dapat melawan aksi trombolitik. ;Meskipun antifibrinolitik dapat
digunakan pada perdarahan karena induksi trombolitik, keamanan pemberian
obat ini secara bersamaan belum didapatkan.;Antibiotika yang berefek
hemostasis dapat meningkatkan risiko perdarahan bila digunakan selama atau
segera sebelum trombolitik. Sefalosporin dengan rantai samping
metiltiotetrazol (MTT), seperti sefamandol, sefoperazon, dan sefotetan,;dapat
menyebabkan
hipoprotrombinemia,
yang
potensial
meningkatkan
perdarahan.;Efek lain, sefalosporin ini juga merusak sintesa faktor klot yang
tergantung vitamin K pada hepar. Antibiotik ini harus digunakan hati-hati
bersama trombolitik karena kemungkinan terjadi perdarahan.

B. KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap anistreplase, streptokinase, atau komponen lain
dalam sediaan; pendarahan internal aktif; riwayat serangan jantung; dalam
jangka 2 bulan sebelumnya menjalani bedah/mengalami trauma intrakranial
atau intraspinal; ;neoplasma intrakranial, malformasi arteriovena, atau
aneurisma, perdarahan diatesis dan hipertensi berat yang tidak terkontrol.
C. EFEK SAMPING
Seperti obat lain yang mempengaruhi hemostasis, efek yang tidak
diharapkan pada streptokinase adalah perdarahan. Risiko perdarahan ini
tergantung pada banyak variabel, termasuk dosis, penggunaan obat-obat lain
yang mempengaruhi hemostasis, ;dan predisposisi pasien (termasuk
hipertensi). Efek lisis yang cepat terhadap trombus pada penggunaan obat
trombolisis dapat menyebabkan aritmia artrial atau ventrikular karena
terjadinya reperfusi yang cepat.;>10% : hipotensi, pendarahan pada lokasi
penyuntikan.;1%-10% : demam, perubahan warna pada kulit karena luka, rash,
pruritus, pendarahan gastrointestinal,mual, muntah,pendarahan genitouriner,
anemia, sakit otot, pendarahan mata, edema periorbital, bronkospasma,
epitaksis,diaforesis.;< 1%: nekrosis tubular akut, reaksi alergi, syok
anafilaktik, reaksi anafolaktoid, anafilaksis, edema angioneurotik, sakit
punggung, embolisasi kolesterol, erysipelas like rash, hemarthrosis,
pendarahan intrakarnial, edema laringeal, ;morbiliform,pemdarahan
perikardial, depresi pernapasan, pendarahan retroperitonial, ruptur splenik,
peningkatan transaminase, urtikaria.
10. SULFAS ATROPIN

Atropin adalah senyawa alam terdiri dari amine antimuscarinic


tersier;Atropin adalah antagonis reseptor kolinergik yang diisolasi dari Atropa
belladona L, Datura stramonium L dan tanaman lain keluarga Solanaceae
A. Farmakologi
Farmakodinamik/Farmakokinetik :
Aksi onset melaui IV, sifatnya cepat. Absorpsi : Lengkap, Distribusi :
Terdistribusi secara luas dalam badan , menembus plasenta; masuk dalam air
susu ; menembus sawar darah otak. ;Metabolisme : hepatik ; eliminasi (halflife elimination) : 2-3 jam;Ekskresi : urin (30% hingga 50% dalam bentuk obat
yang tidak berubah dan metabolitnya).
Interaksi
obat
Meningkatkan efek/toksisitas : Antihistamin, fenotiazin, TCAs dan obat lain
dengan aktivitas antikolinergik dapat meningkatkan efek antikolinergik dari
atropin jika digunakan secara bersamaan. Amine sympathomimetic dapat
menyebabkan
tachyrrhytmias;;hindari
penggunaan
secara
bersamaan.;Menurunkan efek: Efek antagonis terjadi dengan obat
phenothiazine.Efek levodopa dapat diturunkan(data klinik tervalidasi
terbatas).Obat-obat dengan mekanisme cholinergic(metochlopramide,
cisapride, bethanecol) menurunkan efek antikolinergik atropin.
B. Efek samping
Efek samping antimuscarinik termasuk kontipasi, transient (sementara)
bradycardia ( diikuti dengan takikardi, palpitasi, dan aritmia), penurunan
sekret bronkial, retensi urin, dilatasi pupil dengan kehilangan akomodasi ,
fotophobia, ;mulut kering; kulit kering dan kemerahan. Efek samping yang
terjadi kadang-kadang : kebingungan (biasanya pada usia lanjut) , mual,
muntah dan pusing
C. Kontraindikasi
Antimuscarinic kontraindikasi pada angle-closure glaucoma ( glaukoma sudut
sempit), myasthenia gravis ( tetapi dapat digunakan untuk menurunkan efek
samping muskarinik dari antikolinesterase), paralytic ileus, pyloric stenosis,
pembesaran prostat
D. Monitoring
Denyut jantung, tekanan darah, pulsa, status mental; pemberian
secara intravena diperlukan monitor jantung
Antimuskarinik harus digunakan dengan hati-hati pada Down s Syndrom,
pada anak-anak dan pada orang tua; digunakan secara hati-hati pula pada
penderita refluks gastroesofageal, diare, ulcerative colitis, infark miokardiak
akut, hipertensi, ;kondisi yang ditandai dengan takikardi (termasuk
hipertiroidism,insufisisiensi jantung, bedah jatung), pyrexia, hamil dan
menyusui.

Daftar Pustaka
http://www.alodokter.com/dexamethasone
http://www.informasiobat.com/atropin
Mycek, M.J., Harvey, R.A., Champe, P.C. (2001). Farmakologi Ulasan Bergambar.
Edisi II. Editor: Huriawati Hartanto. Jakarta: Widya Medika.
Putri.
(2012).
Morphine.
Tersedia
dalam:
http://health.detik.com/read/2012/07/12/162114/1397690/769/morphine.
Diakses pada: 15 maret 2015.
Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan ke-I. Yogyakarta: Penerbit
Pustaka Pelajar.

Setiawati, A. (2007). Farmakokinetik Klinik. Dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi IV.
Jakarta: Penerbit Bagian farmakologi Fakultas Kedokteraan UI.
Suherman, K.S. (2007). Adrenokortikotropin, Adrenokortikosteroid, Analog-Sintetik
dan Antagonisnya. Dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. Jakarta:
Penerbit Bagian farmakologi FKUI.