Anda di halaman 1dari 19

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

TEKNIK PEWARNAAN GRAM


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu cara untuk mengetahui morfologi dan sifat mikroba serta dapat membedakan
kelompok kuman gram positif atau gram negatif dari bahan yang diperiksa.
1. Untuk mengetahui morfologi dan sifat pewarnaan mikroba yang diperiksa.
2. Untuk membedakan kelompok kuman gram positif atau kuman gram negatif.
1. Obyek gelas yang digunakan harus bersih, kering dan bebas lemak.
2. Ose harus diperlakukan seaseptis mungkin.
3. Preparat harus difiksasi secara benar.
1.
1. Obyek gelas yang digunakan dilewatkan diatas nyala api sebanyak 3 x,
kontrol lengketkan dengan punggung tangan
2.
Ose yang akan digunakan dibakar dengan api sampai berwarna merah.
3.
Pembuatan preparat harus tipis dan rata, setelah preparat kering
kemudian
difiksasi diatas nyala api sebanyak 3 x.
4.
Preparat ayang sudah difiksasi, didinginkan dulu, baru ditetesi dengan larutan
kristal violet selama 1 menit.
5.
Larutan kristal violet dibuang, lalu ditetesi dengan lugol selama 2 menit
6.
Lugol dibuang, kemudian dituangi dengan alkohol 96 % selama 10 detik atau
sampai warna pada preperat benar-benar luntur.
7.
Kemudian dicuci dengan air sampai bersih.
8.
Kemudian ditetesi dengan larutan sofranin selama 30 detik
9.
Sisa larutan safranin dibuang dan bilas dengan air.
10.
Keringkan preparat dengan kertas saring/kertas penghisap dan
kemudian
dilihat dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa 100 x, yang sebelumnya
preparat tersebut diberi oil imersi, Apabila terdapat kuman berwarna merah berarti
kuman gram negatif dan kuman berwarna ungu berarti kuman gram positif.
1.
2.
3.
4.
5.

Loket
Seksi sampling
Depo Logistik
Unit Rawat Jalan
Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

TEKNIK PEWARNAAN ZIEHL NEELSEN


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK( K )


NIP. 140 090 970
Suatu cara pengecatan untuk mengetahui morfologi dan sifat pewarnaan kuman tahan asam
Pengertian

dari bahan yang diperiksa.

Tujuan

Untuk mengetahui adanya kuman tahan asam dari bahan yang diperiksa.
1.
Obyek gelas yang digunakan harus bersih, kering dan bebas lemak.
2.
Ose harus diperlakukan seaseptis mungkin.
3.
Preparat harus difiksasi secara benar.
4.
Preparat yang telah ditetesi larutan karbol fuksin harus dibakar tetapi
sampai mendidih.

Kebijakan

jangan

Prosedur

1. Obyek gelas yang digunakan dilewatkan diatas nyala api sebanyak 3 x.


2. Ose yang akan digunakan dibakar dengan api sampai berwarna merah.
3. Pembuatan preparat harus tipis dan rata, setelah preparat kering
kemudian difiksasi diatas nyala api sebanyak 3 x.
4. Preparat yang sudah difiksasi, didinginkan dulu, baru ditetesi dengan
larutan karbon fuksin, bakar dengan nyala api selama 5 menit ( jangan
sampai mendidih)
5. Setelah dingin buanglah karbol fuksin tersebut dan dibilas dengan air.
6. Lunturkan dengan alkohol asam sampai sisa warna luntur, kurang lebih
10 menit, kemudian dibilas dengan air.
7. Kemudian ditetesi dengan larutan Methylen Blue selama 30 detik, dibilas
dengan air dan keringkan dengan kertas saring/kertas penghisap.
8. Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa 100 x, sebelumnya
preparat diberi oil imersi. Bakteri tahan asam akan tampak
berwarna
merah dan lainnya akan tampak berwarna biru.
9. Laporkan hasil pengamatan menurut IUAT (International Union Against
Tuberculosis)
MIKROSKOP

Unit terkait

Tdk ditemukan
BTA/100 LP
1 - 9 BTA / 100 LP
10 99 BTA / 100
LP
1 10 BTA / 1 LP
> 10 BTA / 1 LP

1. Instalasi rawat inap.


2. Instalasi rawat jalan.
3. Instalasi rawat darurat

CARA PELAPORAN

0 / neg

1-9 BTA / 100 LP


+

++
+++

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

TEKNIK PEWARNAAN NIESER


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Suatu cara untuk mengetahui morfologi dan sifat pewarnaan kuman C. diphtheri dari bahan
yang diperiksa.

Tujuan

Untuk mengetahui adanya kuman C. diphtheri dari bahan yang diperiksa.

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

1. Obyek gelas yang digunakan harus bersih, kering dan bebas lemak.
2. Ose harus diperlakukan seaseptis mungkin.
3. Preparat harus difiksasi secara benar.
4. Untuk pembuatan reagen Neiser C, setelah larut harus disaring.
1.
Obyek gelas yang digunakan dilewatkan diatas nyala api sebanyak 3x.
2.
Ose yang akan digunakan dibakar dengan api sampai berwarna merah.
3.
Pembuatan preparat harus tipis dan rata, setelah preparat kering
kemudian
difiksasi diatas nyala api sebanyak 3 x.
4.
Preparat yang sudah difiksasi, didinginkan dulu, baru ditetesi dengan campuran
larutan Neisser A-B (2:1), selama 1 menit.
5.
Buang larutan Neisser A-B, tanpa dibilas air.
6.
Kemudian ditetesi larutan Neisser C selama 1 menit.
7.
Buang larutan Neisser C, tanpa dibilas air, lalu keringkan dengan kertas saring /
kertas penghisap.
8.
Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa 100 x, yang sebelumnya
preparat tersebut diberi oil imersi. Apabila ada kuman C. diphtheri, yaitu volutingranules akan tampak berwarna coklat
kehitaman dan sel vegetatifnya tampak
berwarna coklat muda. Biasanya kuman C. diphtheri membentuk formasi seperti
huruf L, U, dan V.
1. Instalasi rawat inap.
2. Instalasi rawat jalan.
3. Instalasi rawat darurat
4. SOP Cara pembuatan larutan Neisser A
5. SOP Cara pembuatan larutan Neisser B
6. SOP Cara pembuatan larutan Neisser C

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

CARA MENGGUNAKAN MICROBACT


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Suatu cara / tehnik menggunakan Microbact yaitu suatu media Biokimia reaksi yang
dipergunakan untuk membantu identifikasi kuman batang gram negatif

Tujuan

Untuk menentukan jenis/spesies kuman batang gram negative sebagai agen penyebab
infeksi, sesuai dengan reaksi biokimia yang terjadi.

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

1. Microbact yang dipergunakan tidak boleh Expired date.


2. Koloni yang diambil harus sama dengan koloni yang diuji dengan tes oksidasi.
3. Kadang diperlukan juga tes motilitas yang dapat dikerjakan dengan 2 cara yaitu :
a. Preparat basah langsung
b. Dengan medium semi solid.
1. Ambil 1-2 koloni kuman, emulsikan dalam 4-6 ml garam fisiologis steril sampai merata.
2. Ambil sumuran-sumuran Microbact, tarik seal penutupnya dan dengan pipet pasteur
steril teteskan larutan kuman tersebut diatas, sebanyak 4 tetes pada semua sumuran.
Untuk sumur : Lysin, Ornitin, H2S pada Microbact 12E dan Arginin pada Microbact 12
B diteteskan juga 1-2 tetes mineral oil.
3. Seal ditutup kembali, inkubasikan pada suhu 36C selama 18-24 jam.
4. Ambil Microbact dari inkubator, buka sealnya, tambahkan pada :
- Sumur 8 dengan reagen kovac 2 tetes
- Sumur 10 dengan reagen VP 1 dan VP 2 masing-masing 1 tetes
- Sumur 12 dengan reagen TDA 1 tetes
- Sumur 7 dengan reagen nitrat A dan nitrat B masing-masing 1 tetes untuk
pembacaan nitrat
5. Bandingkan warna-warna yang terjadi pada tiap sumur dengan label dan tuliskan
hasilnya pada formulir Microbact yang tersedia. Dari penjumlahan reaksi positif tiap
kelompok (terdiri dari sumur) akan didapatkan angka oktal
6. Baca nama kuman sebagai hasil identifikasi berdasarkan angka oktal dengan bantuan
komputer atau dapat dilihat dibuku petunjuk
1. Instalasi rawat inap.
2. Instalasi rawat jalan.
3. Instalasi rawat darurat
4. Gudang logistik
5. IPL

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN URINE KULTUR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Suatu cara kultur urine untuk mengetahui jenis kuman dari pasien yang mempunyai gejala
infeksi saluran kemih dan pasien asimptomatik dengan resiko tinggi.
Untuk menyeragamkan pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Klinik specimen

Tujuan
Kebijakan

Untuk memperoleh hasil pemeriksaan laboratorium Mikrobiologi Klinik yang profesional


Lakukan persiapan bahan sesuai prosedur yang ditetapkan

II.
III.

IV.

V.
VI.
VII.

VIII.
Prosedur

IX.

Unit terkait

1.
2.
3.
4.
5.

Waktu pengambilan
Ambil urine pagi hari. Kultur urine tidak boleh dari urine yang dikumpulkan selama
24 jam.
Volume urine
Kultur
Volume
Bakteri
1 5 ml
Jamur
> 10 ml
M. tuberculosis
50 ml ( > 20 ml )
Anaerob
> 1 ml
Leptospira
5 ml
Tehnik pengambilan urine
- Clean voided midstream urine
- Urine kateter
- Aspirasi Kandung kemih Suprapubik (SPA)
Cara Penampungan
Ditampung pada tabung bertutup alur yang steril
Penyimpanan
Jika spesimen tidak dapat dikirim dalam waktu 2 jam, asal < 24 jam dapat disimpan
dalam refrigerator (4C) dulu.
Pengiriman
Dikirim dalam wadah penampung tersebut di atas ke laboratorium Mikrobiologi
Klinik. Sistem transport anaerob (Misal thioglycolate) untuk tujuan kultur anaerob
dari spesimen urine SPA.
Cara pemeriksaan spesimen
Metode kultur untuk penghitungan kuman pada penentuan infeksi saluran kemih
(Surface Streak Methode)
a.
Pijarkan (red heat) ose kalibrasi volume 0,01 atau 0,001 ml secara vertikal.
Biarkan dingin.
b.
Campur urin seluruhnya dengan baik (dalam wadah steril)
c.
Masukkan ose secara vertikal ke dalam urin sehingga urin melekat pada ose
d.
Lakukan goresan (streaking) dengan ose tadi pada agar darah BAP (darah
domba 5%) dan Mac Conkey (MC) secara standart (ose dari plate ke plate
lain tanpa dipijarkan lagi). Media agar miring Lowenstein Jensen untuk
permintaan kultur M. Tuberculosis. Media selektif untuk Salmonella sp.
(agar salmonella-shigella)
e.
Inkubasikan selama 24 48 jam pada suhu 35-37C secara aerob. (kecuali
untuk urin dari SPA, dapat dilakukan pula secara anaerob).
f.
Penghitungan kuman berdasarkan penghitungan koloni yang tumbuh, colony
forming per ml (CFU/ml). Jumlah koloni yang tumbuh dikalikan 10 2 untuk
ose kalibrasi 0,01 ml dan dikalikan 10 3 untuk ose kalibrasi 0,001 ml.
Penghitungan koloni dibantu dengan colony counter.
Interpretasi hasil Kultur penghitungan kuman urin
a.
Untuk urine tampung/urine kateter
105 CFU/ml jika didapat 2 macam kuman ada infeksi saluran
kemih
102 - 105 CFU/ml belum tentu ada infeksi saluran kemih
< 102 CFU/ml tidak ada ISK kecuali pada wanita dengan acute urethral
syndrome dengan batang gram negatif enterik
b.
Untuk urin SPA
Berapapun jumlah CFU/ml atau macam spesimen kuman tunggal maupun
multipel ada ISK (hati-hati dengan flora normal kulit)
Loket
Seksi sampling
Depo Logistik
Unit Rawat Jalan
Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN DARAH KULTUR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu pemeriksaan terhadap sample darah untuk dilakukan pembiakan yaitu dengan cara
ditanam pada tiga media untuk keperluan pemeriksaan aerob dan anaerob
- untuk membantu menegakkan diagnosa klinik dan juga agen penyebab.
- Untuk menunjukkan terjadinya proses aktif penyebaran infeksi ke dalam jaringan.
Dengan demikian terapi pada penderita dapat diberikan dengan tepat dan rasional
berdasarkan tes laboratorium.
a. Pada penyakit tertentu misalnya Tifoid fever, disamping dimintakan pemeriksaan
kultur juga pemeriksaan serologis.
b. Karena banyak spesies yang didapat dari bakteriemia bersifat tumbuhnya lambat dan
bahkan sukar dibiakkan, maka harus digunakan media kultur yang kaya dan banyak
mengandung bahan nutrient.
c. Bilamana dari kultur darah dijumpai tumbuhnya jasad renik, maka perlu ditentukan
apakah benar mempunyai nilai diagnostic atau kontaminan akibat kesalahan tehnik.
1. Tanam darah pada media primer (3 botol media kaldu/broth 50 ml).
- Kaldu agar bifasik (Castaneda) = M 1
- Kaldu liquot atau Columbia atau Trypticase Soy atau BHI = M 2
- Kaldu Brewer yang mengandung liquot 0,03% dan glukosa 0,1% = M - 3
2. Dieramkan dalam inkubator suhu 33 - 35C : M 1 (aerob), M 2 (+CO2), M 3
(anaerob)
3. Lakukan pengecatan gram dan identifikasi kuman
4. Lakukan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN SWAB TENGGOROK KULTUR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Suatu cara/tehnik pemeriksaan terhadap swab tenggorok/nasofaring untuk dilakukan


pengecatan dan pembiakan. Yaitu swab tenggorok ditanam pada dua macam media untuk
keperluan identifikasi kuman C. diphteriae dan identifikasi kuman non spesifik.

Tujuan

Untuk diagnosa penyakit diphtheria


Untuk mencari kuman penyebab infeksi tenggorokan bagian atas dan mencari jenis
antibiotic yang sesuai. Dengan demikian terapi pada penderita dapat diberikan dengan tepat
dan rasional berdasarkan tes laboratorium

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

1. Usahakan swab tidak terkontaminasi.


2. Bahan diambil pada daerah lesi disetiap areal tonsil dan farings posterior.
3. Sampel harus segera diperiksa.
4. Media yang digunakan harus baru dan bebas dari kontaminan.
1. Cara pengambilan swab tenggorokan :
a. Masukkan lidi kapas steril dengan hati-hati ke dalam mulut dengan bantuan
sinar yang terang
b. Dengan tongue spatel, lidah ditekan kemudian hapuskan lidi kapas tersebut
pada area tonsil dan faring posterior terutama bila terdapat eksudat atau
membrane harus kena apusan
c. Bila curiga difteri, angkatlah tepi dari pseudomembran dan apuslah bagian
bawahnya untuk mencapai lokasi yang dalam. Perhatikan ada perdarahan atau
tidak.
d. Untuk memperoleh specimen dari nasofaring digunakan batang kawat dari
krom atau baja tahan karat, bungkus ujungnya dengan sedikit kapas dan
sterilkan.
e. Keluarkan apusan, masukkan dalam tabung steril/media transport dan segera
kirim ke laboratorium.
2. Lakukan pewarnaan gram dan neisser
3. Tanam pada media PAD (aerob) / MC
4. Tanam sample pada media Pai / Loeffler
5. Lakukan identifikasi kuman dan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Instalasi rawat inap.
2. Instalasi rawat jalan.
3. Instalasi rawat darurat
4. Gudang logistik

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN SPUTUM KULTUR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu pemeriksaan terhadap sample sputum untuk dilakukan pengecatan langsung (Gram
dan Ziehl Neelsen) dan pembiakan dengan 3 macam media untuk keperluan identifikasi
kuman
- untuk membantu menegakkan diagnosa klinik dan juga agen penyebab.
- Untuk mencari antibiotika yang sesuai terhadap agen infeksi tersebut. Dengan demikian
terapi pada penderita dapat diberikan dengan tepat dan rasional berdasarkan tes
laboratorium.
a. Pastikan bahwa specimen adalah sputum dan bukan saliva/air liur.
b. Perhatikan apakah sputum purulen, mukoid, disertai darah atau tidak.
c. Pilihlah bagian sputum yang purulen/berdarah untuk dikultur.
1. Lakukan pemeriksaan makroskopik
2. Lakukan pemeriksaan mikroskopik dengan membuat 2 slide untuk pemeriksaan
apusan langsung dengan pengecatan gram dan Ziehl Neelsen.
3. Lakukan pemeriksaan kultur pada :
- Media Lowenstein Jensen (L-J/aerob) untuk identifikasi kuman BTA
- Media Petri Agar Darah (PAD/aerob) dan Petri Agar Coklat Darah (PACD/+CO2)
untuk identifikasi kuman lainnya.
4. Inkubasi semua media pada suhu 36C. Untuk media L-J selama 6-8 minggu setiap
hari diperiksa kemungkinan adanya pertumbuhan golongan Rapid Growers/BTA
atipic.
5. Lakukan identifikasi kuman terhadap koloni yang tumbuh dari PAD dan PACD.
6. Lakukan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN SPESIMEN PUS


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 28 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu pemeriksaan terhadap sample pus untuk dilakukan pembiakan untuk keperluan
identifikasi kuman
- Untuk mencari kuman penyebab infeksi luka dan abses serta jenis antibiotika yang
sesuai terhadap agen penyebab infeksi tersebut. Dengan demikian terapi pada penderita
dapat diberikan dengan tepat dan rasional berdasarkan tes laboratorium.
a. Lakukan pemeriksaan makroskopik dengan memperhatikan warna, konsistensi, bau
atau adanya granul atau tanda-tanda khas yang lain.
b. Bila pus berasal dari lesi sub akut atau kronik, lakukan pemeriksaan apusan langsung
dengan Ziehl-Neelsen (tahan asam).
1. Lakukan apusan langsung dan pengecatan gram
2. Lakukan penanaman pada media PAD + Mac Conkey (aerob) dan PAD (+CO2 atau
Candle jar)
3. Bila ada indikasi anaerob, tanam juga pada media PAD.
4. Inkubasi selama 24 jam pada suhu 36C.
5. Lakukan inkubasi ulang 24 jam lagi bila pada medis PAD (anaerob) tidak terdapat
pertumbuhan kuman. Dan jika terdapat pertumbuhan tanam pada subkultur media
PAD (Aerob)
6. LAkukan penanaman subkultur pada PAD (anaerob) jira terdapat pertumbuhan pada
media RCM (Roberrisons Cooked Meat Media/anaerob)
7. Lakukan identifikasi kuman
5. Lakukan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN SWAB VAGINA/SERVIK


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 8 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu cara/tehnik pemeriksaan terhadap specimen dari alat kelamin (swab vagina/servik)
untuk dilakukan pembiakan guna keperluan identifikasi kuman.
- Untuk mencari kuman penyebab infeksi pada servik atau vagina bagian atas dan untuk
mencari jenis antibiotika yang sesuai dengan agen penyebab infeksi tersebut. Dengan
demikian terapi pada penderita dapat diberikan dengan tepat dan rasional berdasarkan
tes laboratorium.
a. Lakukan pemeriksaan mikroskopik dengan apusan langsung pewarnaan gram dan
atau untuk Giemsa dan juga preparat basah.
b. Media yang dipergunakan harus baru dan bebas dari kontaminasi.
c. Untuk penyakit tertentu, jasad renik penyebabnya sukar atau tidak bias dikultur, maka
dapat diperiksa tes serologis atau dengan teknik immunofluoresensi.
1. Lakukan pemeriksaan mikroskopik dengan apusan langsung dan pengecatan gram
2. Tanam sample pada media :
- PAD dan Mac Conkey (aerob)
- PAD (anaerob)
- Agar Thayer Martin (ATM + CO2) bila curiga gonore
- Agar Soboroud (+ antibiotika) bila curiga mikosis.
3. Inkubasi media PAD< MC dan ATM pada suhu 36C selama 18-24 jam dan media
Saboroud pada suhu kamar selama 4-5 minggu.
4. Bila ada pertumbuhan pada PAD dan MC dilakukan pewarnaan gram.
5. Lakukan identifikasi kuman BGN bila didapatkan kuman BGN dan lakukan
identifikasi kuman KGP bila didapatkan KGP
6. Lakukan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN SPERMA/SEMEN KULTUR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 8 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian
Tujuan
Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu cara/tehnik pemeriksaan terhadap specimen dari sperma/cairan semen untuk


dilakukan pembiakan guna keperluan identifikasi kuman.
- Untuk membantu diagnosa pada penderita dengan kasus infertil
a. Spesimen harus segera diperiksa (kurang dari 1 jam setelah dikeluarkan)
b. Media yang digunakan harus baru dan bebas dari kontaminan
1. Lakukan pemeriksaan mikroskopik dengan apusan langsung dan pengecatan gram.
2. Tanam sample pada media PAD dan Mac Conkey (aerob).
3. Inkubasi media PAD & MC pada suhu 36C selama 18-24 jam.
4. Bila ada pertumbuhan pada PAD dan MC dilakukan pewarnaan gram.
5. Lakukan identifikasi kuman BGN bila didapatkan kuman BGN dan lakukan
identifikasi kuman KGP bila didapatkan KGP.
6. Lakukan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN CAIRAN SEREBROSPINAL


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 8 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu cara/tehnik pemeriksaan terhadap specimen dari cairan serebrospinal untuk


dilakukan pembiakan guna keperluan identifikasi kuman.
- Untuk membantu diagnosa adanya meningitis pada penderita yang umumnya
disebabkan oleh Mycobacteria, fungi, leptospira, protozoa dan kuman-kuman non
spesifik yang lain dengan melakukan identifikasi kuman dan tes kepekaan terhadap
beberapa antibiotika. Hal ini sangat penting mengingat kasus penderita meningitis
sering berakibat fatal bila tidak segera dilakukan tindakan terapi yang tepat.
a. Spesimen harus segera diperiksa selama masih dalam keadaan hangat atau sebelum
mengendap.
b. Media yang dipergunakan harus baru dan bebas dari kontaminan.
1. Lakukan pemeriksan makroskopik, perhatikan adanya darah, kekeruhan, koagulum
dan xanthochromia.
2. Lakukan pemeriksaan mikroskopik dengan apusan langsung dengan pengecatan gram
dan Ziehl Neelsen.
3. Tanam sample pada media PAD (aerob) dan PACD (+CO2)
4. Inkubasi media pada suhu 36C selama 18-24 jam
5. Bila ada pertumbuhan pada PAD dan MC dilakukan pewarnaan gram.
6. Lakukan identifikasi kuman KGP dan kuman M. Tuberculosa.
7. Bila pada pemeriksaan apusan langsung atau kultur tidak didapatkan pertumbuhan,
diperiksa dan diinkubasi lagi.
8. Lakukan tes kepekaan terhadap antibiotika
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

CARA PENGAMBILAN SPESIMEN FESES


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 8 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

Suatu cara/tehnik pengambilan specimen feses yang sesuai dengan ketentuan dan
persyaratan umum pemeriksaan mikrobiologi, guna dilakukan pembiakan/kultur.
Untuk mendapatkan specimen yang representative dan memenuhi persyaratan untuk
dilakukan pemeriksaan mikrobiologi.
a. Pada keadaan diare, sebaiknya specimen diperoleh dalam stadium akut.
b. Jumlah feses yang diambil sebaiknya 0,3-2 gr dan sebaiknya dapat juga ditambah
bahan pengawet Buffered Glycerol Saline 10 ml (0,033 M buffer fosfat dicampur
dengan glycerol dengan volume sama, pH 7,00).
c. Spesimen harus segera dikirim ke laboratorium dalam waktu 1 jam karena beberapa
jasad renik pathogen seperti Shigella, Salmonella, Entamoeba, dsb tidak tahan
terhadap perubahan pH atau temperature. Jasad renik akan mudah ditemukan bila
specimen feses segera dikirim dan diproses di laboratorium dalam beberapa menit
sesudah pengambilan. Bila diperkirakan ada keterlambatan dalam pengiriman lebih
dari 2 jam, specimen dimasukkan ke dalam media transport.
1. Feses segar :
- Penderita diberi petunjuk agar fesesnya dikumpulkan pada tempat steril berupa
botol bermulut lebar
- Di rumah sakit dapat diambil dan dikumpulkan oleh perawat/bidan atau penderita
sendiri
- Segera kirim ke laboratorium
2. Feses dari rectal swab :
- Dengan bantuan proktoskopi secara aseptis dan swab lidi kapas steril dimasukkan
ke dalam rectum melalui spincter ani. Perhatikan adanya lesi atau darah, lendir,
pus.
- Feses diambil dengan memutar swab, kemudian masukkan swab ke dalam lubang
steril dengan tutup yang dapat diputar rapat. Bila perlu dapat diberi bahan
pengawet atau media transport
- Segera kirim ke laboratorium dalam waktu 1 jam.
1. Loket
2. Seksi sampling
3. Depo Logistik
4. Unit Rawat Jalan
5. Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

PEMERIKSAAN FESES KULTUR


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 8 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Suatu cara/tehnik pemeriksaan terhadap specimen feses untuk dilakukan pembiakan guna
keperluan identifikasi kuman non spesifik dan kuman Vibrio cholera.
- Untuk menegakkan diagnosa penyakit kolera.
- Untuk mencari kuman penyebab infeksi saluran pencernaan dimana gejala akut dari
saluran pencernaan terutama mual, muntah, dan diare pada umumnya dihubungkan
dengan adanya infeksi. Pada kenyataan yang dijumpai banyak kejadian-kejadian
tersebut disebabkan oleh Food Intolerance, intoksikasi, Neurogenic Impulses atau
penyakit-penyakit sistemik.
- Untuk mencari jenis antibiotika yang sesuai terhadap agen penyebab infeksi tersebut.
Dengan demikian terapi pada penderita dapat diberikan dengan tepat dan rasional
berdasarkan tes laboratorium.
- Perlu dilakukan usaha-usaha bagaimana dapat mengisolir jasad renik patogen agar
terbebas atau terpisah dari normal flora, karena seperti yang sudah diketahui pada
saluran pencernaan didapat berbagai macam jasad renik normal flora.
- Perlu disertai informasi yang lengkap tentang data penderita dan proses penyekitnya
sehingga akan didapatkan hasil laboratorium yang mempunyai nilai diagnostik yang
berarti. Pentingnya data penderita untuk diinformasikan kepada laboratorium akan
membantu mengarahkan dan memilihkan media kultur yang sesuai untuk spesimen yang
dikirim.
a. Lakukan pemeriksaan makroskopik dengan memperhatikan adanya darah, lendir, pus
dan sebagaimana konsistensinya.
b. Bila ada indikasi adanya Campylobacter lakukan pemeriksaan mikroskopik dengan
pewarnaan gram atau dengan mikroskop fase kontras untuk melihat morfologi bentuk
kurva dan pergerakannya.
c. Perlu dilakukan usaha-usaha bagaimana dapat mengisolir jasad renik patogen agar
terbebas atau terpisah dari normal flora, karena seperti yang sudah diketahui pada
saluran pencernaan didapat berbagai macam jasad renik normal flora.
d. Perlu disertai informasi yang lengkap tentang data penderita dan proses penyekitnya
sehingga akan didapatkan hasil laboratorium yang mempunyai nilai diagnostik yang
berarti. Pentingnya data penderita untuk diinformasikan kepada laboratorium akan
membantu mengarahkan dan memilihkan media kultur yang sesuai untuk spesimen
yang dikirim.

1.

Prosedur

Unit terkait

2.
3.

4.
1.
2.
3.
4.
5.

Masukkan sample feses dalam media Enrichment : Selenite F.


APW (Alkali Peptone Water) untuk indikasi Vibrio cholera.
Inkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37C.
Lakukan penanaman pada media agar Mc Conkey untuk identifikasi BNG.
Dan media agar TCBS untuk identifikasi V. cholerae.
Inkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37C.
Lakukan identifikasi kuman BNG.
Lakukan identifikasi kuman V. Cholarae dengan cara sebagai berikut :
- Lakukan tes oksidasi terhadap koloni yang dicurigai.
- Lakukan tes serologi dengan sera polivalen 0 : 1 dan sera spesifik.
- Tes konfirmasi terhadap Strain El Tor :

Polymixin B

VP

Hemolisis

Tes aglutinasi sel eri ayam


Lakukan tes kepekaan antibiotika
Loket
Seksi sampling
Depo Logistik
Unit Rawat Jalan
Unit Rawat Nginap

Lampiran

: Surat Keputusan Direktur


RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Nomor
Tanggal

:
:
JUDUL SOP

CARA TES KEPEKAAN ANTIBIOTIKA


No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

Oleh :
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang

Dr. Singgih P.W.


Ditetapkan, tgl. 8 September 2009
Penanggung jawab

Prosedur Tetap
Tanggal terbit
INSTALASI LAB. SENTRAL
SEKSI MIKROBIOLOGI

Dr. D. BOENTORO H., SpPK ( K )


NIP. 140 090 970
Pengertian
Tujuan

Kebijakan

Suatu cara/tehnik uji kepekaan antibiotika terhadap koloni kuman dengan menggunakan
cakram antibiotika tertentu sesuai dengan prosedur..
Untuk menentukan jenis antibiotika yang sesuai terhadap agen penyebab infeksi. Dengan
demikian terapi pada penderita dapat diberikan dengan tepat dan rasional berdasarkan tes
laboratorium.
1. Media yang digunakan harus baru dan bebas kontaminan
2. Koloni kuman yang diambil harus sama dengan koloni yang diambil untuk tes
katalase/oksidase.
3. Untuk kuman isolate dari urin pergunakan cakram Urinary antiseptic yaitu Nalidixic
acid dan Nitrofurantoin. Pergunakan cakram dengan konsentrasi yang tinggi.
4. Untuk kuman isolate dari feses pergunakan cakram Colistin.
5. Cakram antibiotika yang digunakan untuk kuman-kuman Gram positif adalah :
- Penicillin
- Oxacillin, Methicillin
- Ampicillin
- Chloramphenicol
- Tetraciclin
- Gentamycin
- Amikacin
- Amoxicillin
- Netilmicin
- Cotrimoxazole
- Carbenicillin
- Ticarcillin
- Sefalosporin generasi I, II, III
- Erythromicin
6. Cakram antibiotika yang digunakan untuk kuman-kuman Gram negatif adalah :
- Penicillin
- Oxacillin
- Ampicillin
- Chloramphenicol
- Tetraciclin
- Gentamycin
- Amikacin
- Amoxicillin
- Netilmicin
- Cotrimoxazole
- Carbenicillin
- Ticarcillin
- Sefalosporin generasi I, II, III

1.
2.
Prosedur

3.
4.
5.
6.

Unit terkait

1.
2.
3.
4.

Buatlah larutan kuman 1 2 koloni kuman dalam 4 -6 ml garam fisiologis steril


Dengan lidi kapas steril, usapkan larutan kuman tersebut pada medium padat Muller
Hinton sampai rata benar.
Diamkan sebentar sampai agak kering.
Pasang cakram antibiotika yang sesuai dengan jenis kuman dengan piset dan ditekan
supaya cakram melekat seluruhnya.
Inkubasi pada suhu 36C selama 18 24 jam.
Baca hasilnya dengan membandingkannya dengan tabel kepekaan antibiotika
(NCCLS 1993).
Depo Logistik
Unit Rawat Jalan
Unit Rawat Nginap
Instalasi Rawat darurat

Bila ditemukan hasil kultur kuman Batang Gram Negatif dengan hasil tes sensitifitas
terhadap antibiotika seperti dibawah ini, dicurigai kemungkinan adanya pembentukan
ESBL :
Disk diffusion

MICs

cefpodoxime < 22 mm

cefpodoxime > 2 g/ml

ceftazidime < 22 mm

ceftazidime > 2 g/ml

aztreonam < 27 mm

aztreonam > 2 g/ml

cefotaxime < 27 mm

cefotaxime > 2 g/ml

ceftriaxone < 25 mm

ceftriaxone > 2 g/ml

Atau jika selisih zona inhibisi Amoxicillin-clavulanate > 5 mm dibanding dengan zona inhibisi sefalosporin