Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunana dunia hingga saat ini telah memperlihatkan kemajuan yang
siginifikan, pembangunan tersebut tidak hanya menyangkut pembangunan di
bidang ekonomi semata namun manyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat
termasuk pembangunan di bidang hukum. Di bidang ekonomi, pertumbuhan di
tandai oleh globalisasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang
begitu cepat sehingga tidak hanya menimbulkan dampak positif tetapi juga
banyak menimbulkan dampak negatif yang perlu di waspadai. Dampak negatif
tersebut diikuti dengan timbulnya globalisasi kejahatan dan meningkatnya
kuantitas serta kualitas tindak pidana di berbagai negara dan antar negara.
Menurut Saparinah Sadli, kejahatan atau tindak kriminal merupakan salah satu
bentuk dari perilaku menyimpang yang selalu ada dan melekat pada tiap bentuk
masyarakat, tidak ada masyarakat yang sepi dari kejahatan.1
Pembangunaan di segala bidang dan globalisasi dan modernisasi tepatnya
dalam hal kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi, telah
menyebabkan perkembangan yang sangat pesat khususnya kegiatan usaha yang
sudah tentu akan berdampak pada masyarakat. Pada masyarakat sederhana,
kegiatan usaha cukup dijalankan secara perserorangan. Namun seiring dengan
perekembangan masyarakat dan perkembangan zaman, makan timbul kebutuhan
untuk mengadakan kerja sama dengan pihak lain dalam menjalankan kegiatan
usahannya. Dalam hal ini, muncul korporasi (dalam bentuk perseroan terbatas dan
badan hukum lainnya) yang menawarkan saham dan barang (jasa) pada
masyarakat sehingga jumlah kerja sama dapat mencapai ratusan bahkan ribuan
orang.
1

Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori- Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung: Alumni, 1998,
hlm. 148.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan manusia, korporasi juga


berkembang menjadi lebih kompleks. Korporasi tidak lagi seperti dulu yang
masih menggunakan sistem yang sederhana. Berbagai sistem dan metode dalam
menjalankan korporasi terus dikembangkan dalam rangka untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya.
Dewasa ini korporasi yang masuk dalam kategori perusahaan raksasa atau
perusahaan multinasional sudah banyak berkembang di berbagai negara. Mereka
tidak hanya membangun imperium di negara asal, tetapi juga di negara-negara
lain terutama negara berkembang dalam rangka mendapatkan keuntungan yang
lebih besar. Pada tahun 1978, dua perusahaan terbesar di Amerika Serikat yaitu
General Motor dan Exxon masing-masing sudah memiliki nilai penjualan
melebihi 60 miliar dollar, suatu jumlah yang jauh melebihi total pendapatan dari
negara bagian Amerika Serikat yang manapun dan kebanyakan negara di dunia. 2
Data tersebut menunjukkan betapa besar kekuatan modal korporasi yang bertaraf
multinasional pada saat itu.
Dalam mencapai tujuannya, yakni mendapat keuntungan yang sebsarbesarnya, korporasi dapat dengan mudah melakukan monopoli pasar, melakukan
penipuan, melakukan penggelapan pajak dan tindak pidana lainnya yang sudah
tentu sangat merugikan negara-negara berkembang karena pada hakikatnya
negara-negara berkembang adalah objek dari globalisasi. Dengan demikian, dapat
dilihat bahwa keberdaan suatu korporasi tidak hanya menimbulkan dampak positif
melainkan dapat pula menimbulkann dampak negatif yakni melalu berbagi tindak
pidana.3
Semakin besarnya peranan korporasi dewasa ini perlu ada perhatian secara
khusus yang diarahkan untuk meningkatkan tanggung-jawab sosial korporasi
dengan menggunakan hukum pidana. Kedudukan korporasi sebagai subjek hukum
pidana mengalami perubahan dan perkembangan secara bertahap. Pada umumnya
secara garis besarnya dapat dibedakan dalam tiga tahap, yaitu tahap pertama yang
2

Sutan Remi Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Jakarta: Grafiti Pers, 2006,
hlm.2.
Kristian, Hukum Pidana Korporasi (Kebijakan Integral (Integral Policy) Formulasi
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Di Indonesia, Bandung: Nuasa Aulia, 2014, hlm. 3.

ditandai dengan usaha-usaha agar sifat delik yang dilakukan korporasi dibatasi
pada perorangan (naturlijk person). Sehingga apabila suatu tindak pidana terjadi
dalam lingkungan korporasi, maka tindak pidana itu dianggap dilakukan oleh
pengurus korporasi tersebut. Dalam tahap ini membebankan tugas pengurus
(zorgplicht) kepada pengurus. Tahap kedua ditandai dengan pengakuan yang
timbul sesudah perang dunia pertama dalam perumusan undang-undang bahawa
suatu tindak pidana, dapat dilakukan oleh perserikatan atau badan usaha
(korporasi). Tanggung jawab untuk itu juga menjadi beban dari pengurus badan
hukum tersebut. Sementara tahap ketiga, pertanggung jawaban pidana korporasi
secara langsung sudah dikenal. Dalam tahap ini dibuka kemungkinan untuk
menuntut korporasi dan meminta pertanggungjawabannya menurut hukum
pidana4
Sistem pertangungjawaban pidana korporasi bukanlah ciri yang universal
dari sistem hukum modern saat ini, beberapa negaranya seperti Swedia, tidak
memberikan pertanggungjawaban korporasi namun demikian mereka memiliki
system sanksi administrative yang dapat dijatuhkan kepada korporasi atas
perbuatan pidana dari beberaoa karyawannya.5 Berdasarkan hal-hal yang
diuraikan

diatas,

penulis

akan

melalukan

penelitian

mengenai

pertanggungajawaban pidana korporasi di negara Swedia yang kemudian


dituangkan dalam sebuah bentuk penulisan dengan judul:
PERTANGGUNGJAWABAN TINDAK PIDANA KORPORASI DI
SWEDIA

B. Identifikasi Masalah

4
5

Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Jakarta: Kencana


Prenada Media Grup, 2010, hlm. 53-57.
Allens Arthur Robinson, Corporate Culture As A Basis for The Criminal Liability of
Corporations, prepared for the UN Special Representative of the Secretary General on Human
Rights and Business, February 2008, hlm. 4

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat


diidentifikasi pokok masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sistem pertanggungjawaban pidana korporasi di Negara
Swedia?
2. Bagaimana sanksi yang diterapkan jka terjadi tindak pidana korporasi di
Negara Swedia?
C. Tujuan Penlitian
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian
adalah:
1. Untuk mengetahui sistem pertanggungjawaban pidana di Negara Swedia
2. Untuk mengetahui sanksi yang diterapkan jika terjadi tindak pidana
korporasi di Negara Swedia.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan yang diperoleh atau diharapkan dari hasil penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
atau bahan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pengembangan
wawasan dibidang hukum khusunya bidang hukum Kejahatan Korporasi
dan Hukum Pidana.
2. Kegunaan Praktis
Memberikan sumbangan informasi bagi perkembangan ilmu hukum
pidana mengenai Kejahatan Korporasi khususnya sistem pertanggung
jawaban pidana dan sanksi pidana jika melakukan tindak pidana
korpoarasi di Negara Swedia.
E. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode
yuridis normatif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan cara menelaah teori-

teori, konsep-konsep, asas-asas hukum, serta peraturan perundang-undangan yang


berhubungan dengan penelitian ini.6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Korporasi dan Kejahatan Korporasi


A. Pengertian Korporasi
Korporasi merupakan istilah yang biasa digunakan oleh para ahli hukum
pidana dan kriminologi untuk menyebut apa yang dalam bidang hukum lain,
khususnya bidang hukum perdata sebagai badan hukum, atau dalam Belanda
6

SoerjonoSoekantodanSriMamudji. PenelitianHukumNormatif(SuatuTinjauanSingkat).
Jakarta:RajawaliPers,2001,hlm.1314.

disebut recht persoon atau dalam bahasa inggris dengan istilah legal
person atau legal body.
Secara etimologis, pengertian korporasi yang dalam istilah lain dikenal
dengan corporatie (Belanda), corporation (Inggris), korporation (Jerman),
berasal dari bahasa latin yaitu corporatio. Corporatio sebagai kata benda
(subatantivum) berasal dari kata kerja coporare yang banyak dipakai orang
pada jaman abad pertengahan atau sesudah itu. Corporare sendiri berasal
dari kata corpus (badan), yang berarti memberikan badan atau
membadankan. Dengan demikian, maka akhirnya corporatio itu berarti
hasil dari pekerjaan membadankan, dengan kata lain badan yang dijadikan
orang, badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan
terhadap badan manusia, yang terjadi menurut alam.7
Satjipto Raharjo menyatakan bahwa, Korporasi adalah suatu badan hasil
ciptaan hukum. Badan yang diciptakan itu terdiri dari corpus, yaitu struktur
fisiknya dan kedalamnya hukum memasukkan unsur animus yang membuat
badan itu mempunyai kepribadian. Oleh karena badan hukum itu merupakan
ciptaan hukum maka kecuali penciptaannya, kematiannyapun juga ditentukan
oleh hukum.8
Menurut Subekti dan Tjitrosudibio yang dimaksud dengan corporatie atau
korporasi adalah suatu perseroan yang merupakan badan hukum. Adapun Yan
Pramadya Puspa menyatakan yang dimaksud dengan korporasi adalah:
Suatu perseroan yang merupakan badan hukum; korporasi atau
erseroan disini yang dimaksud adalah suatu perkumpulan atau
organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti seorang manusia
(personal) ialah sebagai pengemban atau (pemilik) hak dan kewajiban
7
8

Muladi dan Dwidja Priyatno., Op.Cit, hlm. 23.


Dwidja Priyatno, Kebijakan Legilasi Tentang Sistem pertanggungjawaban
Pidana Korporasi Indonesia, 2004,Bandung: Utomo, Bandung, hlm.13.

memiliki hak menggugat ataupun digugat di muka pengadilan. Contoh


badan hukum itu adalah PT (Perseroan Terbatas), N.V. (namloze
vennootschap), dan yayasan (stichting); bahkan Negara juga merupaka
badan hukum.
Adapun pengertian korporasi dalam Ensiklopedia Ekonomi, keuangan dan
perdagangan yang dihimpun oleh A. Abdurachman menyatakan:
Corpratio (korporasi; perseroan) adalah suatu kesatuan menurut
hukum atau suatu badan susila yang diciptakan menurut UndangUndang suatu negara, untuk menjalankan suatu usaha atau kegiatan atau
aktivitas lainnya yang sah. Badan ini dapat dibentuk untuk selamalamanya atau untuk sesuatu jangka waktu yang terbatas, memiliki nama
dan identitas yang dengan nama dan identitas itu dapat dituntut di muka
pengadilan, serta berhak untuk mengadakan suatu persetujuan menurut
kontrak dan melaksanakan semua fungsi lainnya yang seseorang dapat
melaksanakannya

menurut

umumnya

korporasi

suatu

Undang-undang
dapat

suatu

merupakan

negara.

suatu

Pada

organisasi

pemerintah, setengah pemerintah atau tikelir.9


Pengertian korporasi di dalam hukum pidana sebagai ius constituendum
dapat dijumpai dalam Konsep Rancangan KUHP Baru Buku 1 2004-2005
Pasal 182 yang menyatakan, Korporasi adalah kumpulan terorganisasi dan
dari orang dan/atau kekayaan baik merupakan badan hukum maupun bukan
badan hukum.
Pengertian korporasi yang terdapat dalam Konsep Rancangan Baru Buku 1
KUHP 2004-2005, tersebut sama dengan pengertian korporasi di Negara
Belanda, sebagaiman terdapat dalam bukunya Van Bemmelen yang berjudul
Ons Strafrecht 1 Het Materials Strafrecht Algemeen deel antara laim
menyatakan, ... Dalam nasakah dari bab ini selalu dipakai dalil umum
korporasi, yang mana termasuk semua badan hukum khusu dan umum

Ibid., hlm. 26.

(maksudnya badan hukum privat dan badan hukum public), perkumpulan,


yayasan, pendeknya semua perseroan yang tidak bersifat alamiah.
Rumusan tersebut kita jumpai dalam Pasal 51 W.v.S Belanda, yang
berbunyi:
1. Tindak pidana dapat dilakukan oleh manusia alamiah dan badan hukum.
2. Apabila suatu tindak pidana dilakukan oleh badan hukum, dapat
dilakukan tuntutan pidana, dan jika dianggap perlu dapat dijatuhkan
pidana dan tindakan yang tercantum dalam Undang-Undang terhadap:
a. Badan hukum; atau
b. Terhadap mereka yang memerintahkan melakukan perbuatan itu,
demikian pula terhadap mereka yang berindak sebagi pimpinan
melakukan tindakan yang dilarang itu; atau
c. Terhadap yang disebutkan di dalam point a dan b dilakuan bersamasama.
3. Bagi pemakaian ayat selebihnya disamakan dengan badan hukum
perseroan tanpa hak badan hukum, perserikatan dan yayasan.
Dengan demikian, korporasi dalam hukum pidana memiliki pengertian
yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian korporasi dalam hukum
perdata. Karena, korporasi dalam hukum pidana bisa berbentuk badan hukum
atau non badan hukum, sedangkan menurut hukum perdata korporasi
mempunyai kedudukan sebagai badan hukum.10

B. Pengertian dan Ruang Lingkup Kejahatan Korporasi


Ruang lingkup kejahatan korporasi juga dijelaskan oleh Steven Box,
dimana ruang lingkup kejahatan korporasi meliputi:11
10
11

Ibid., hlm 32-33


Steven Box dalam Hamzah Hatrik, AsasPertanggungjawabanKorporasidalamHukum

PidanaIndonesia(StrictLiabilitydanVicariousLiability), Jakarta:Rajagrafindo Persada, 1995,

a. Crimes for corporation, adalah pelanggaran hukum dilakukan oleh


korporasi dalam usaha untuk mencapai tujuan korporasi untuk
memperoleh profit;
b. Criminal corporation, yaitu korporasi yang bertujuan semata-mata
untuk melakukan kejahatan;
c. Crime against corporations, yaitu kejahatan-kejahatan terhadap
korporasi seperti pencurian atau penggelapan milik korporasi, yang
dalam hal ini yang menjadi korban adalah korporasi.
Berdasarkan ruang lingkup yang diberikan oleh Steven Box di atas dapat
ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan korporasi adalah
kejahatan korporasi yang berupa crimes for corporation, yaitu kejahatan yang
dilakukan korporasi dalam rangka mencari keuntungan.
Clinard dan Yeager yang melakukan studi terhadap kejahatan korporasi
mengemukakan jenis-jenis kejahatan yang sering dilakukan korporasi, yaitu
kejahatan korporasi yang berkaitan dengan administrasif, lingkungan,
keuangan, tenaga kerja, produk barang, dan praktek-praktek perdagangan
tidak jujur. Kejahatan-kejahatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :24
a. Pelanggaran di bidang administratif meliputi tidak memenuhi
persyaratan suatu badan pemerintahan atau pengadilan, seperti tidak
mematuhi perintah pejabat pemerintah, sebagai contohnya membangun
fasilitas pengendalian pencemaran lingkungan.
b. Pelanggaran di bidang lingkungan hidup meliputi pencemaran udara
dan air berupa penumpahan minyak dan kimia, yaitu seperti
pelanggaran terhadap surat izin yang mensyaratkan kewajiban
penyediaan

oleh

korporasi

untuk

pembangunan

perlengkapan

pengendalian polusi, baik polusi udara maupun air.


c. Pelanggaran di bidang keuangan meliputi pembayaran secara tidak sah
atau mengabaikan untuk menyingkap pelanggaran tersebut, seperti
penyuapan di bidang bisnis, sumbangan poltik secara tidak sah, dan
hlm. 41

10

pembayaran (suap) untuk pejabat-pejabat asing, pemberian persenan,


dan manfaat atau keuntungan secara ilegal. Contohnya pelanggaran
yang berkaitan dengan surat-surat berharga yakni memberikan
informasi yang salah atas wali utama, mengeluarkan pernyataan salah.
Pelanggaran transaksi meliputi syarat-syarat penjualan (penjualan yang
terlalu mahal terhadap langganan), penghindaran pajak, dan lain- lain.
d. Pelanggaran perburuhan dapat dibagi menjadi empat tipe utama, yaitu
diskriminasi tenaga kerja (ras, jenis kelamin, atau agama), keselamatan
pekerja, praktik perburuhan yang tidak sehat, upah dan pelanggaran jam
kerja.
e. Pelanggaran ketentuan pabrik melibatkan tiga badan pemerintah, yaitu :
the Consumer Product Safety Comission bertanggung jawab atas
pelanggaran terhadap the Poison Prevention Packaging Act, the
Flamable Fabrics Act, dan the Consumer Product Safety Act; the
National Highway Traffic Administration mensyaratkan pembuatan
kendaran bermotor atau memberitahukan agen dan pemilik, pembeli,
dan kecacatan dari pedagang sehingga mempengaruhi keselamatan
kendaraan bermotor, disamping itu juga mensyaratkan pembuat (pabrik)
untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Kecacatan itu meliputi mesin
sebagai akibat dari kesalahan pada bagian pemasangan, pemasangan
bagian yang tidak benar, kerusakan sistem, dan desain yang tidak baik.
f. Praktek perdagangan yang tidak jujur meliputi bermacam-macam
penyalahgunaan persaingan (antara lain monopolisasi, informasi yang
tidak benar, diskriminasi harga), iklan yang salah dan menyesatkan
merupakan hal penting dalam praktek perdagangan yang tidak jujur.
B. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
Berbicara masalah pertanggungjawaban pidana, ternyata terdapat dua
pandangan, yaitu pandangan yang monistis antara lain dikemukakan oleh Simon
yang meremuskan strafbaar feit sebagai Eene Strafbarr gestelde, onrechtmatige,
met shuld in verband staande handeling van een torekhtmatige, met schuld in

11

verband staande handeling van een torekening vatbaar person (suatu perbuatan
yang oleh hukum diancam dengan hukuman, bertentangan dengan hukum
dilakukan oleh seorang yang bersalah dan orang itu dianggap bertanggung jawab
atas perbuatannya). Menurut aliran monisme, unsur-unsur starfbaar feit itu
meliputi baik unsur perbuatan yang lazim disebut unsur objektif, amupun unsur
pembuat yang lazim disebut unsur subjektif. Oleh karena itu, dicampurnya unsur
perbuatan dan unsur pembuatnya, maka dapatlah disimpulkan bahwa strafbaar feit
adalah sama dengan syarat-syarat penjatuhan pidana, sehingga seolah-olah
dianggap bahwa kalau terjadi strafbaar feit, maka pasti pelakunya dapat dipidana.
Menurut Roeslan Saleh, dalam pengertian perbuatan pidana tidak termasuk
hal pertanggungjawaban. Perbuatan pidana hanyak menunjuk kepada dilarangnya
perbuatan. Apakah orang yang telah melakukan perbuatan itu kemudian juga
dipidana, tergantung pada soal apakah dia dalam melakukan perbuatan itu
memang mempunyai kesalahan atau tidak. Apabila orang yang melakukan
perbuatan itu memang mempunyai kesalahan, maka tentu dia akan dipidana.
Berhubungan dengan hal itu, Sudarto menyatakan dipidananya seseorang tidaklah
cukup apabila orang iu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan
hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun pembuatnya memenuhi
rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objektive breach of
a penal provision), namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk
menjatuhkan pidana. Untuk pemidanaan masih perlu adanya syarat, bahwa orang
yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective
guilt). Dengan perkataan lain, orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan
atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatannya baru dapat
dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. Di sini berlaku apa yang disebut
asas tiada pidana tanpa kesalahan (keine strafe ohne schuld atau geen straf
zonder schuld atau nulla poena sine culpa), culpa di sini dalam arti luas meliputi
juga kesengajaan. Dalam hukum pidana inggris asas ini dikenal dalam bahasa
latin yang berbunyi actus non facit reum, nisi mens sit rea (an act does not
make a person guilty, unless the mind is guilty).

12

Asas tersebut di atas tercantum dalam KUH Pidana atau dalam peraturan lain
(asas tidak tertulis), akan tetapi berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan
lagi. Akan bertentangan dengan rasa keadilan, apabila ada orang yang dijatuhi
pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang
Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang No. 4 yang berbunyi:
Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecauli apabila pengadilan
karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang mendapat
keyakinan, bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab telah
bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.
Dari bunyi pasal tersebut jelas bahwa unsur kesalahan sangat menentukan
akibat dari perbuatan seseorang, yaitu berupa penjatuhan pidana. Sehubungan
dengan hal tersebut, Sudarto menyatakan untuk adanya pemidanaan harus ada
kesalahan pada di pembuat. Asas tiada pidana tanpa kesalahan yang telah
disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. Dalam ilmu hukum pidana
dapat dilihat pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada
perbuatan orang berserta akibatnya (tatstrafrecht atau erfolgstrafrecht) ke arah
hukum pidana yang berbijak pada orang yang melakukan tindak pidana
(taterstrafrecht), tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari tatstrafrecht. Dengan
demikian, hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai TatTaterstrafrecht, yaitu hukum pidana yang berpijak pada perbuatan maupun
orangnya.

Hukum

pidana

dewasa

ini

dapat

pula

disebut

sebagai

Schuldstrafrecht, artinya bahwa unsur penjatuhan pidana disyaratkan adanya


kesalahan pada si pembuat.12
Menurut Mardjono Reksodipuro, sehubungan dengan diterimanya korporasi
sebagai subjek hukum pidana, maka hal ini berarti telah terjadi perluasan dari
pengertian siapa yang merupakan pelaku tindak pidana (dader). Permasalahan
yang segera muncul adalah sehubungan dengan pertanggungjawaban pidana
korporasi. Asas utama dalam pertanggung-jawaban pidana adalah harus adanya
kesalahan (schuld) pada pelaku. Bagaimanakah harus dikonstruksikan kesalahan
dari suatu korporasi ?. Ajaran yang banyak dianut sekarang ini memisahkan antara
12

Muladi dan Dwidja Priyatno., Op.Cit, hlm. 70-72.

13

perbuatan

yang

melawan

hukum

(menurut

hukum

pidana)

dengan

pertanggungjawaban pidana menurut hukum pidana. Perbuatan melawan hukum


oleh

korporasi

mempertimbangkan

sekarang
tentang

sudah

dimungkinkan.

pertanggungjawaban

Tetapi

bagaimana

pidananya?.Dapatkah

dibayangkan pada korporasi terdapat unsur kesalahan (baik kesengajaan atau


dolusatau kealpaan atau culpa) ?.Dalam keadaan pelaku adalah manusia, maka
kesalahan ini dikaitkan dengan celaan (verwijtbaarheid; blameworthiness) dan
karena itu berhubungan dengan mentalitas atau psyche pelaku. Bagaimana halnya
dengan pelaku yang bukan manusia, yang dalam hal ini adalah korporasi?.
Dalam kenyataan diketahui bahwa korporasi berbuat dan bertindak melalui
manusia (yang dapat pengurus maupun orang lain). Jadi pertanyaan yang pertama
adalah, bagaimana konstruksi hukumnya bahwa perbuatan pengurus (atau orang
lain) dapat dinyatakan sebagai sebagai perbuatan korporasi yang melawan hukum
(menurut hukum pidana). Dan pertanyaan kedua adalah bagaimana konstruksi
hukumnya bahwa pelaku korporasi dapat dinyatakan mempunyai kesalahan dan
karena itu dipertanggung-jawabkan menurut hukum pidana. Pertanyaan ini
menjadi lebih sulit apabila difahami bahwa hukum pidana Indonesia mempunyai
asas yang sangat mendasar yaitu : bahwa tidak dapat diberikan pidana apabila
tidak ada kesalahan (dalam arti celaan).13
Mengenai beberapa masalah tersebut di atas, maka untuk lebih jelas harus
diketahui lebih dahulu sistem pertanggungjawaban pidana korporasi dalam hukum
pidana, dimana untuk sistem pertanggungjawaban pidana ini terdapat beberapa
sistem yaitu :
a. Pengurus

korporasi

sebagai

pembuat

dan

penguruslah

yang

bertanggungjawab.
b. Korporasi sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggungjawab.
c. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggungjawab.
13

Mardjono Reksodipuro, Kemajuan Pembangunan Ekonomi Dan Kejahatan, Kumpulan


Karangan Buku Kesatu, Jakarta, Pusat Pelayanan Keadilan Dan Pengabdian Hukum, 1994, hlm
102.

14

Dalam hal pengurus korporasi debagi pembuat dan penguruslah yang


bertanggung jawab, kepada pengurus korporasi dibebankan kewajiban-kewajiban
tertentu. Kewajiban yang dibebankan itu sebenarnya adalah kewajiban dari
korporasi. Pengurus yang tidak memnuhi kewajiban itu diancam dengan pidana.
Sehingga dalam system ini terdapat alasan yang menghapuskan pidana. Adapun
dasar

pemikirannya

adalah:

korporasi

itu

sendiri

tidak

dapat

dipertanggungjawabkan terhadap suatu pelanggaran, tetapi selalu penguruslah


yang melakukan delik itu. Dan karenanya penguruslah yang diancam pidana dan
dipidana.14
C. Sistem Hukum di Negara Swedia
Swedia merupakan negara monarki konsitusional dan demokrasi parlementer.
Artinya, swedia masih mengakui keberdaan raja atau ratu sebagai pemimpin
mereka. Saat ini swedia memiliki kepala negara seorag raja bernama Carl Gustaf
Folke Hubertus atau Carls XVII Gustaf. Walaupun memiliki raja dalam
negaranya, raja tidak punya kuasa penuh dalma memipin pemerintahan,
kekuasaan raja hanya sebatas fungsi representatif dan seremonial.
Badan legislatif negara ini berupa Riksdag (parlemen Swedia), yaitu sautu
parlemen yang berisi anggota orang-orang dari beragam partai, misalnya partai
liberal, moderat, atau kristen demokrat. Secara garis besar, Riksdag memiliki
wewenang untuk mengambil keputusan dalam negeri. Selain itu, riksdag juga
betugas untuk menunjuk perdana menteri serta mengesahkan undang-undang.
ekuasaan legislatif hanya dilakukan oleh Riksdag. Kekuasaan eksekutif
dilaksanakan oleh perdana menteri dan kabinet, sementara peradilan independen.
Swedia tidak memiliki judicial review.
Anggota Riksdag dipilih berdasarkan perwakilan proporsional untuk masa
jabatan empat tahun. Konstitusi Swedia dapat diubah oleh Riksdag. Swedia
memiliki empat hukum konstitusional yaitu Peraturan Pemerintah, UU Suksesi
Kerajaan, Undang-Undang Kebebasan Pers, dan Undang-Undang Dasar tentang
Kebebasan Berekspresi.
14

Muladi dan Dwidja Priyatno., Op.Cit, hlm. 86.

15

Sistem hukum Swedia adalah Hukum sipil (civil law) atau yang biasa dikenal
dengan Romano-Germanic Legal System adalah sistem hukum yang berkembang
di dataran Eropa. Titik tekan pada sistem hukum ini adalah, penggunaan aturanaturan hukum yang sifatnya tertulis. Sistem hukum ini berkembang di daratan
Eropa sehingga dikenal juga dengan sistem Eropa Kontinental. Kemudian
disebarkan negara-negara Eropa Daratan kepada daerah-daerah jajahannya..
Secara umum sistem hukum Eropa Kontinental dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Hukum Publik: peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan hukum
antara warga Negara dengan

Negara yang menyangkut kepentingan

umum.jadi hukum publik merupakan suatu hukum yang berkaitan dengan


masyarakat secara umum.Dalam hukum publik negara merupakan subjek
atau objek dari hukum.
2. Hukum privat:Dimana negara bertindak sebagai wasit dalam persidangan/
persengketaan.
Mahkamah Agung Swedia adalah peradilan terakhir dari semua kasus perdata
dan pidana di Swedia. Sebelum kasus dapat diputuskan oleh Mahkamah Agung,
harus ada banding. Mahkamah Agung terdiri dari 16 Anggota Dewan Kehakiman
(justitierd) yang ditunjuk oleh pemerintah, tetapi pemerintah tidak dapat
mengganggu keputusan pengadilan. Hukum di Swedia ditegakkan oleh beberapa
lembaga pemerintah. Kepolisian Swedia adalah lembaga pemerintah yang
berkaitan dengan hal-hal kepolisian. National Task Force adalah inteligen
nasional.

D. Pertanggung Jawaban Pidana Korporasi di Negara Swedia


1. Sejarah Pertanggung Jawaban Pidana Korporasi di Negara Swedia
Ketentuan mengenai denda untuk korporasi di swedia telah diberlakukan pada
tahun 1986. Ketentuan tersebut didasarkan pada sebuah peraturan
perundang-undangan usulan komisi hukum (Ju 1982: 05) terhadap

16

Kejahatan Ekonomi dan Peraturan Pemerintah (Prop 1985-1986. JuU13). Undangundang baru (UU 1986: 1007) mulai berlaku sejak 1 Januari 1987.
Denda perusahaan pada awal dikenakan pada pengusaha untuk kejahatan
serius dalam perdagangan. Kejahatan tersebut harus melibatkan pelanggaran
serius terhadap kewajiban khusus terkait dengan operasi atau sebaliknya yang
bersifat serius. Para pengusaha tidak melakukan apa yang cukup yang diperlukan
untuk mencegah kejahatan. Di sisi lain, Semua kejahatan pada prinsipnya bisa
mengarah kepada tanggung jawab pidana korporasi. Pelanggaran tersebut tidak
sebutkan.
Sanksi baru termotivasi oleh sistem sanksi yang ada, sanksi tersebut dianggap
tidak cukup untuk mengatasi kriminalitas ekonomi yang akan datang. Menurut
para kritikus ada hampir tidak adanya hubungan antar hukuman yang dijatuhkan
kepada individu dan kepetingan ekonomi yang mempertaruhkan sebuah
perusahaan. Kalimat tersebut tampaknya dianggap tidak cukup, apabila dilihat
dari sudut pandang pencegahan. Kekurangan lainnya adalah bahwah denda hanya
dapat digunakan untuk menghilangkan keuntungan dari kejahatan yang sudah
didapatkan. Karena, denda tidak bisa digunakan untuk menghilangkan keuntungan
ekonomi, sistem sanksi pidana tersebut dapat mengudang perusahaan-perusahaan
untuk berjudi dengan hukum
Oleh karena itu, dianggap perlu untuk memberikan sebuah sanksi terhadap
perusahaan dengan unsur-unsur signifikan represif. Baik perusahaan dibangun
bukan sebagai sanksi pidana tetapi sebagai "Konsekuensi hukum dari Kejahatan
lain", yang biasanya digunakan selain tanggung jawab pidana individual, bukan
sebagai pengganti kewajiban individu.
Pada tahun 1995 pemerintah menunjuk Komisi Hukum untuk menyelidiki
pertanyaan mengenai hukuman atau sanksi untuk tindak pidana dalam bisnis.
Komisi Hukum menyampaikan laporan mereka, pertanggung jawaban pidana
Orang (SOU 1997: 127), pada akhir tahun 1997. Laporan ini berisi review dan
analisis mengenai sanksi untuk pelanggaran tidak pidana dan pelanggaran lainnya
yang dilakukan dalam konteks kegiatan badan hukum.

17

Laporan tersebut menyatakan bahwa aturan tentang perusahaan harus


direformasi dan badan hukum bukanlah manusia alamiah yang bisa dijatuhkan
hukuman atas kejahatan yang dilakukan oleh individu yang melakukan bisinis
dalam badan hukum tersebut. Pengusaha individu juga bisa dijatuhkan hukuman.
Selanjutnya, pemerintah negara bagian dan lokal harus tunduk pada peraturan,
kecuali kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan kekuasaan publik. Seperti
di masa lalu, hanya manusia alamiah yang bisa melakukan kejahatan dan
tanggung jawab pidana, dalam hal ini badan hukum berasumsi bahwa manusia
alamiah telah melakukan suatu kejahatan bisnis dalam konteks badan hukum
tersebut.
Meskipun usulan yang diterima ditanggapi dengan baik, hal tersebut tidak
menyebabkan terjadinya perubahan terhadap KUHP. Beberapa komentator
mengkritik komisi hukum untuk mempelajari Undang-undang tahun 1987 agar
tikda ada kemungkinan yang terjadi, dan bukan memperkenal sistem hukum yang
baru. Usulan Komisi Hukum dalam menghukum sebuah perusahaan yang terlibat
dalam kejahatan ekonomi atau kejahatan lainnya dalam kondisi tertentu dikritik,
karena kurangnya kepastian hukum dan terdapat permasalahan asas legalitas.
Perubahan Terhadap latar belakang ini Perubahan lebih terbatas, sistem saat ini
lebih disukai karena didalamnya terkait mengatasi kelemahan tanggung jawab
pidana korporasi.
Pemerintah baru (Prop 2005/06:59) mengajukan proposal yang ditujukan
untuk meluruskan sistem pertanggung jawaban pidana korporasi dan meningkatan
penggunaan denda terhadap perusahaan untuk pelanggaran dalam bisnis.
Tanggung jawab pidana korporasi tetap bersifat umum dan dapat diterapkan
dihampir semua pelanggaran. Sanksi ini harus insentif bagi pengusaha untuk
mengatur kegiatan dengan cara mencegah terjadinya

pelanggaran, yang juga

penting dalam persaingan pasar yang sehat. Untuk beberapa kejahatan yang
kurang serius dalam bisnis yang tanggung jawab pidana korporasi adalah dibuat
utama dalam kaitannya dengan tanggung jawab individu. Hal ini dimaksudkan
untuk Mempromosikan prinsip keadilan. Hal ini juga membantu untuk membuat
sebuah perusahaan terdapat di dalam bagian yang lebih sentral dari sistem

18

peradilan pidana. Amandemen (Hukum 2006: 283) KUHP Swedia, Pasal 36, ayat
7 - 10 a, mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2006.
Reformasi bertujuan untuk membuat orang lebih mudah dalam menuntut dan
menghukum perusahaan dengan denda. Persyaratan sebelumnya menyatakan
bahwa suatu kejahatan harus terlibat pelanggaran serius dari kewajiban khusus
yang timbul dari operasi bisnis. Satu-satunya batasan adalah bahwa perusahaan
tidak dikenakan denda untuk kejahatan yang ditentukan.Persyaratan bahwa
pedagang tidak melakukan apa yang cukup diperlukan untuk pencegahan
kejahatan telah dilengkapi dengan ketentuan sesuai dengan denda yang cukup
perusahaan ketika kejahatan itu dilakukan oleh seseorang dalam posisi terdepan
atau orang yang dinyatakan memiliki tanggung jawab khusus untuk mengawasi
atau mengontrol bisnis.
Kisaran hukuman denda korporasi dari 10.000 3.000.000 to 5.000 10.000
Swedish crowns. Sekitar 550-1100000 Euro. Aturan dan Prinsip hukuman yang
Klarifikasi. Alasan untuk Mengurangi hukuman yang dimodifikasi dan
Klarifikasi. Beberapa tanggung jawab pengusaha dalam sejauh ini dengan
kaitannya tanggung jawab individu dalam kasus pelanggaran lalai dari peraturan
bisnis di mana denda adalah hukuman yang pantas untuk pelaku individu. Jika
kejahatan kelalian itu dilakukan dengan sengaja maka diperlukan sanksi lain
selain denda, pelaku individu dapat dituntut oleh jaksa hanya jika penuntutan
dibenarkan untuk kepentingan umum.
Dalam

prakteknya,

Swedish

Economi

Crime

Authority

(Ekobrottsmyndigheten) menuntut denda sebesar 189 juta crown Swedia (20,8 juta
Euro) dari denda perusahaan dan perampasan. Untuk Tahun 2010 adalah 89 juta
crown Swedia (9,8 juta euro). Sebagian besar kasus menyangkut kejahatan
lingkungan, pelanggaran keselamatan kerja, pembukuan pelanggaran, penipuan
pajak dan kebangkrutan kejahatan, tetapi juga pelanggaran makanan dan restoran,
pelanggaran kesejahteraan hewan, pelanggrana alkohol dan rokok, pelanggaran
lotre dan pelanggaran lalu lintas jalan. Kejahatan tradisional juga seperti penipuan
telah menyebabkan tanggung jawab pidana korporasi.

19

Denda korporasi biasanya sekitar 5,000-50,000 crown Swedia (550-5,500


Euro). Denda melebihi 100.000 crown Swedia (11.000 Euro) dan denda lebih dari
500.000 crown Swedia (55.000 Euro) dapat dihukum hanya oleh Pengadilan
hukum. Sejauh ini denda korporasi tersebut terdapat dalam beberapa pelanggaran
keselamatan kerja.
Dalam prakteknya saat ini lebih mudah untuk menetapkan persyaratan denda
korporasi daripada tanggung jawab pidana individual. Hal ini telah menyebabkan
polisi dan jaksa untuk menyelidiki pelanggaran yang mungkin untuk menghukum
orang, untuk denda perusahaan dan meninggalkan penyelidikan tanggung jawab
pidana individual. Dengan urutan hukuman ringkasan maksimum 500.000 crown
Swedia untuk korporasi, jaksa dapat menghindari prosedur kriminal yang panjang
dan memakan waktu di Pengadilan hukum.15

BAB III
DATA DAN FAKTA
15

Dr. Ari-Matti Nuutila, CORPORATE CRIMINAL LIABILITY IN SWEDEN ON THE WAY


TO AN ALTERNATIVE CRIMINAL LIABILITY IN SUMMARY PROCEDURE,
https://www.sites.google.com/site/arimattinuutila/2012-corporal-criminal-liability-sweden
,
Roma:2012. Diakses pada tanggal 20 November 2015, pukul 19.37 WIB.

20

A. Reported Money Laundering

FIPO menerima 9.832 laporan tentang money laundering pada tahun 2003,
sekitar 1752 meningkat dari tahun sebelumnya. Sebuah proporsi yang signifikan,
sekitar 45%, dari jumlah yang lebih besar adalah dari daerah Stockholm.
Mengingat bahwa Stockholm adalah keuangan negara, tidak mengherankan
menyumbang hampir setengah dari semua laporan. FIPO bekerja lebih lanjut pada
tahun 2003 dan menerima 2257 dari laporan.
Graph 7 Reports of money laundering, 19982003
12000
9 832
10000
8 080
8000
6000
4000
2 560
2000

4 155

846
1 512

0
1998

1999

2000

2001

2002

2003

Jumlah terbesar dari laporan pencucian uang adalah dari kantor valuta asing, salah
satu alasan adalah bahwa beberapa dari mereka memberikan notifikasi dari
hampir semua transaksi melalui SEK 110.000.

Table 8

21

Money laundering reports in 2000-2003 by informer


Informer

2000

2001

2002

2003

Foreign exchange offices


Payment transfer
companies

1 785

3 227

7 338

8 820

51

92

221

577

777

611

765

Inquiries abroad

68

45

Swedish police

107

32

10

23

23

23

21

Banks

Misc. (including casinos)

Jumlah laporan pencucian uang naik selama tahun 611-765 oleh bank dan 92-221
oleh perusahaan pengiriman uang.

22

2.

Reports of Suspected Crime


Tingkat kenaikan pada 2002-2003 kurang untuk semua kategori. Total

kenaikan melambat dari 17% menjadi 8%. Pemecahan kejahatan dilaporkan Total
ke dalam berbagai kategori tidak berubah secara signifikan dari tahun 2001 ke
2003. Kejahatan terhadap kreditur dan pelanggaran pembukuan terus account
selama lebih dari 50%, dan pelanggaran pajak sekitar 45%, dari semua kejahatan
ekonomi dilaporkan. 16
Table 24
Crime reports, 20012003
Dishonesty to creditors
Negligence with creditors
Fraudulent preference of creditors
Bookkeeping crime
Tax crime (Sections 24 of the Tax Penal Act)
Negligent tax statements
Tax accounting crime
Impeding tax supervision
Tax deduction crime
Violation of a trading prohibition
Violation of the Companies Act
Violation of the Insider Penal Act
Violation of the Financial Instruments
Trading Act

2001
577
79
73
4 846
3 268
80
197
901
13
33
156
15

2002
630
90
102
5 544
4 028
77
174
1 031
21
61
163
38

2003
650
76
98
5 850
4 295
122
237
1 153
10
46
295
39

BAB IV
PEMBAHASAN
16

Swedish Economic Crime Authority, Economic crime report 2004,


https://www.ekobrottsmyndigheten.se/Documents/Rapporter/Ekordet/Economic%20Crime
%20Report.pdf /, diakses pada tanggal 24 November 2015, pulul 20.38 WIB.

23

A. Sistem Pertanggung Jawaban Pidana Korporasi di Negara Swedia


Menurut prinsip-prinsip dasar undang-undang Swedia, hanya orang alami
dapat melakukan kejahatan (sama seperti di Latvia dan Finlandia). Sebuah badan
hukum tidak dapat melakukan tindak kriminal dan akibatnya badan hukum tidak
dapat dikenakan tanggung jawab pidana. Sebaliknya, satu atau lebih orang alami
akan bertanggung jawab atas tindak pidana. Namun demikian, KUHP menetapkan
bahwa suatu perusahaan dapat dikenai sanksi pidana (denda korporasi) dalam
kasus kejahatan telah dilakukan dalam konteks kegiatan komersial. Klaim seperti
itu harus dimulai oleh jaksa penuntut umum. Hukum Pidana Swedia menyediakan
untuk jenis khusus dari hukuman untuk badan hukum, tetapi tidak memberikan
pertanggungjawaban pidana badan hukum. Oleh karena itu badan hukum yang
bertanggung jawab atas pelanggaran berkomitmen, meskipun tanpa unsur
kesalahan pribadi. Tidak mungkin untuk memaksakan hukuman yang diberikan
dalam Hukum Pidana terhadap mereka. Sebuah halus, yang berlaku terhadap
badan hukum sampai dengan permintaan dari jaksa penuntut umum, tidak dapat
dianggap sebagai hukuman pidana.
Sesuai dengan Pasal 36, Ayat 7 dari KUHP, "pengusaha" akan diperintahkan
untuk membayar "baik perusahaan" untuk "kejahatan yang dilakukan dalam
pelaksanaan kegiatan usaha" jika: (1) kejahatan telah mensyaratkan mengabaikan
kotor untuk kewajiban khusus yang terkait dengan kegiatan usaha atau sebaliknya
dari jenis serius, dan (2) pengusaha tidak melakukan apa yang wajar dapat diminta
dari dia untuk pencegahan kejahatan. Namun ada pengecualian untuk aturan ini
jika kejahatan itu ditujukan terhadap pengusaha atau jika sebaliknya akan nyata
tidak masuk akal untuk memberlakukan denda korporasi.
Ketentuan denda korporasi yang wajib. Dimana persyaratan Pasal 36, Ayat 7,
denda perusahaan harus dikenakan. Setiap jenis kejahatan sehingga bisa membuat
denda korporasi, di bawah kondisi kriteria yang tersebut terpenuhi. Aturan tentang
kewajiban perusahaan tidak menghalangi kemungkinan proses sipil paralel,
seperti klaim untuk kerusakan, terhadap badan hukum. Ada juga en pengecualian,
yaitu, denda perusahaan tidak akan dikenakan jika kejahatan itu ditujukan

24

terhadap pengusaha atau jika itu akan menjadi "nyata tidak masuk akal" untuk
memberlakukan denda tersebut. Seperti akan menjadi kasus jika: (1) sifat dari
kejahatan adalah seperti yang akan masuk akal untuk mengharapkan pengusaha
telah mengambil langkah-langkah perlindungan; (2) pemilik baru mengambil alih
bisnis setelah kejahatan itu dilakukan atau jika (3) bisnis tidak ada lagi.
Pemerintah baru-baru ini memutuskan pada tagihan legislatif, yang telah
disampaikan kepada DPR, dengan proposal untuk membuat sistem yang baik
perusahaan bahkan lebih efektif (prop 2005/06:.59 Fretagsbot). Komitmen
internasional Swedia dalam hal ini telah diberikan pertimbangan khusus.
Perubahan undang-undang yang diusulkan untuk menjadi berlaku pada1 Juli
2006.

Dalam

RUU

Pemerintah

telah

mempertimbangkan

kemungkinan

melembagakan tanggung jawab pidana untuk badan hukum. Hal ini,


bagaimanapun, mengacu dengan ekspres ke prinsip-prinsip dasar dari hukum
pidana Swedia, pentingnya efektivitas sanksi dan kewajiban internasional Swedia,
sampai pada kesimpulan bahwa sistem denda korporasi tidak harus diganti dengan
sistem pidana tanggung jawab badan hukum. Menurut proposal, ruang lingkup
rezim akan lebih luas, termasuk juga pelanggaran-pelanggaran kecil (yaitu
termasuk semua tindak pidana kecuali yang hanya ringkasan denda ditentukan).
Persyaratan dalam Bab 36, Bagian 7, KUHP bahwa kejahatan telah
mensyaratkan mengabaikan kotor untuk kewajiban khusus yang terkait dengan
kegiatan usaha atau sebaliknya dari jenis yang serius dihapuskan. Persyaratan
bahwa pengusaha tidak melakukan apa yang wajar dapat diminta dari dia untuk
pencegahan kejahatan itu dilengkapi dengan persyaratan alternatif bahwa
kejahatan telah dilakukan oleh: (1) orang yang memiliki posisi terkemuka yang
berbasis pada kekuatan representasi dari badan hukum atau kewenangan untuk
mengambil keputusan atas nama pengusaha atau (2) orang yang dinyatakan
memiliki tanggung jawab khusus pengawasan atau kontrol dari bisnis.
Kemungkinan untuk membuat pengecualian untuk aturan jika itu akan (jika tidak)
menjadi nyata tidak masuk akal untuk memberlakukan denda korporasi
dihapuskan. Dalam Pasal 36, ayat 8, denda perusahaan maksimal dinaikkan dari
3.000.000 ke 10.000.000 SEK. Karena ruang lingkup diperpanjang rezim untuk

25

menyertakan juga pelanggaran kecil, denda minimum diturunkan dari 10.000 ke


5.000 SEK. Pedoman penentuan ukuran baik dalam Pasal 36 ayat 9 yang sedikit
dimodifikasi. Hal ini, yaitu, tegas menyatakan bahwa pertimbangan juga harus
diberikan

kepada

keberadaan

keputusan

sebelumnya

baik

perusahaan.

Selanjutnya, jaksa diberikan kemungkinan untuk mengenakan denda korporasi


(hingga 500.000 SEK) dengan ringkasan hukuman.17
B. Sanksi Terhadap Tindak Pidana Korporasi di Negara Swedia
Biasanya, denda hanya dapat dikenakan pada orang alami (Pasal 25 BrB).
Namun ada, seperti yang disebutkan di atas, efek hukum khusus kejahatan di
mana denda yang dikenakan terhadap perusahaan-perusahaan. Ketentuan ini
ditemukan dalam Pasal 36, Ayat 7 sampai 10 BrB. Mereka menyatakan bahwa
denda korporasi dapat dikenakan terhadap nringsidkare. Tidak ada kata bahasa
Inggris yang baik untuk ini (namun saya akan menggunakan entrepreneur), tetapi
terjemahan langsung dari salah satu definisi dari UU Pembelian Konsumen
(Konsumentkplagen 1990: 932) adalah "orang atau hukum yang bertindak untuk
tujuan terhubung ke bisnis sendiri ". Dengan kata lain, dan cukup sederhana,
denda perusahaan dapat dikenakan terhadap kedua alam serta badan hukum yang
menjalankan bisnis, dalam kondisi tertentu.
Untuk denda korporasi yang akan dikenakan harus ada kejahatan. Penyisihan
kejahatan tersebut harus menyediakan hukuman lebih daripada denda (meskipun
juga dapat menyediakan hukuman denda) dan telah dilakukan selama operasi
bisnis. Hal ini juga diperlukan bahwa pengusaha tidak melakukan apa yang bisa
tepat masuk akal untuk menuntut untuk mencegah kejahatan atau jika kejahatan
telah dilakukan oleh perwakilan terkemuka untuk korporasi atau dengan seseorang
yang telah dinyatakan memiliki tanggung jawab untuk pengawasan atau kontrol di
17

LL.M., Sworn attorney at law Dana Rone, LEGAL SCIENTIFIC RESEARCH ON

INSTITUTE OF CRIMINAL LIABILITY OF LEGAL ENTITIES IN EIGHT COUNTRIES


NORDIC COUNTRIES (FINLAND, SWEDEN, NORWAY, ICELAND AND DENMARK) AND
BALTIC COUNTRIES (LATVIA, LITHUANIA AND ESTONIA), Riga, Latvia , March 15,
2006.

26

operasi bisnis (seperti mandor atau pemimpin kerja).


Pengenaan denda perusahaan itu sudah cukup bahwa kejahatan yang
dilakukan oleh karyawan dilakukan manifest dari pimpinan perusahaan, yang
dapat dikaitkan dengan masalah organisasi atau bahwa itu adalah konsekuensi dari
petunjuk lengkap. Dengan kata lain, partisipasi aktif dari pimpinan perusahaan
tidak diperlukan.
Baik itu diperlukan untuk orang yang telah melakukan kejahatan yang
diidentifikasi atau, akibatnya, dituntut untuk itu. Meskipun bahwa kejahatan itu
sendiri diidentifikasi (dan memenuhi syarat di atas) dan telah dilakukan dengan
beberapa bentuk kesalahan pribadi. Dari perspektif korupsi bisnis internasional itu
dapat menjadi masalah jika kebangsaan yurisdiksi tidak dapat dibangun untuk
orang ini (misalnya jika ia tidak berdomisili di Swedia). Jika hal ini terjadi dan
link teritorial tidak dapat ditemukan denda perusahaan tidak mungkin untuk
memaksakan.
Menurut Pasal 36, Ayat 8 BrB denda terendah adalah 5000 SEK (Swedish
kronor) dan mungkin denda tertinggi adalah 10 million SEK. Kemungkinan denda
tertinggi dibangkitkan pada tahun 2006 dari 3 juta SEK menjadi 10 juta SEK,
ketika perubahan ketentuan denda korporasi terbaru dibuat. Sebelumnya
prparatoires travaux membahasa untuk perubahan terbaru hukuman denda harus
ditingkatkan bahkan lebih atau bahkan tidak boleh ada jumlah maksimum.
Pemerintah berpendapat bahwa mungkin saja bisa lebih tinggi tetapi akan
mempersulit prosedur peradilan serta membuat biaya lebih mahal. Hal ini juga
berpendapat bahwa kemungkinan denda tertinggi dari 10 million SEK harus
dipertimbangkan dirasakan sebagai sanksi nyata yang cukup tinggi, bahkan untuk
perusahaan multinasional besar
Pertengkaran terakhir ini telah ditentang oleh WGB dalam 3 Tahap laporan
Sweden. Tingkat denda perusahaan tidak cukup untuk menjadi "efektif,
proporsional, dan beralasan" seperti yang dipersyaratkan oleh Pasal 3 dari OECD
Anti-Suap Konvensi. Kritik ini bergema dalam Lampiran 27 dari terakhir Laporan
Uni Eropa Anti-Korupsi dari Komisi Eropa (yang didasarkan pada Tahap 3
laporan). Alf Johansson dan Hans Strandberg, yang mungkin menunjukkan bahwa

27

pandangan yang sama dipegang oleh praktisi lainnya. Johansson percaya bahwa
baik dengan maupun sangat rendah dan perusahaan tidak takut itu. Hal ini
terutama disayangkan ketika memilih antara denda perusahaan dan penyitaan, ia
berpendapat. Meskipun kedua hal tersebut bisa digunakan baik sendiri atau pada
saat yang sama itu adalah jauh lebih mudah untuk memanfaatkan perusahaan,
seperti penyitaan (terutama penyitaan atas kejahatan yang dilakukan selama
menjalankan bisnis) membutuhkan lebih dari penyelidikan.
Denda perusahaan sekarang dapat dikenakan melalui urutan ringkasan
hukuman (straffrelggande) jika denda tidak melebihi 500. 000 SEK.
Penggunaan denda perusahaan telah terbatas, sejak diperkenalkan pada tahun
1986. Perubahan signifikan yang dibuat pada tahun 2006 untuk memperbaiki
situasi ini, tapi faktanya adalah bahwa belum ada kasus di mana denda perusahaan
telah dikenakan untuk koporasi. Mungkin ini dianggap aneh oleh jaksa karena
dengan beberapa pengecualian, berkewajiban untuk memulai proses perusahaan
baik-baik saja jika kriteria untuk memaksakan denda korporasi. Penjelasannya
mungkin bahwa masalah disebutkan sebelumnya dengan menyebut baik
perusahaan efek hukum khusus kejahatan bukan hukuman pidana. Meskipun ini
dapat menjadi bagian dari jawaban, fokus hukum pidana Swedia dalam
menemukan orang alami bersalah, dan cara ini bisa dibilang kurang berkembang
dari sanksi untuk menyalahkan perusahaan.18

BAB V
KESIMPULAN
Di Negara Swedia, hanya orang alami dapat melakukan kejahatan. Sebuah
18

Michael Bergstrm, Corporate Criminal Liability and Negotiated Settlements as New Means
to Fight Corruption in Sweden, Stockholm, Spring term 2014.

28

badan hukum tidak dapat melakukan tindak kriminal dan akibatnya badan hukum
tidak dapat dikenakan tanggung jawab pidana. Sebaliknya, satu atau lebih orang
alami akan bertanggung jawab atas tindak pidana. Namun demikian, KUHP
menetapkan bahwa suatu perusahaan dapat dikenai sanksi pidana (denda
korporasi) dalam kasus kejahatan yang telah dilakukan dalam konteks kegiatan
komersial. Klaim seperti itu harus dimulai oleh jaksa penuntut umum. Hukum
Pidana Swedia menyediakan jenis hukuman khusus untuk badan hukum, tetapi
tidak memberikan pertanggungjawaban pidana terhadap badan hukum.
Negara Swedia tidak memberikan pertanggungjawaban korporasi namun
demikian mereka memiliki sitem sanksi pidana administratif yang dapat
dijatuhkan kepada korporasi atas perbuatan pidana dari beberapa karyawannya.
Tanggung jawab Pidana korporasi di Negara Swedia diatur dalam pasal 36 ayat 719 KUHP (Swedia Swedish Criminal Code BrB 1962:700). Sanksi pidan
administraftif tersebut breupa denda korporasi sekitar 5,000-50,000 crown Swedia
(550-5,500 Euro). Denda melebihi 100.000 crown Swedia (11.000 Euro) dan
denda lebih dari 500.000 crown Swedia (55.000 Euro) dan diputus oleh
Pengadilan.
Dalam

prakteknya,

Swedish

Economi

Crime

Authority

(Ekobrottsmyndigheten) menuntut denda sebesar 189 juta crown Swedia (20,8 juta
Euro) dari denda perusahaan dan perampasan. Untuk Tahun 2010 adalah 89 juta
crown Swedia (9,8 juta euro). Sebagian besar kasus menyangkut kejahatan
lingkungan, pelanggaran keselamatan kerja, pembukuan pelanggaran, penipuan
pajak dan kebangkrutan kejahatan, tetapi juga pelanggaran makanan dan restoran,
pelanggaran kesejahteraan hewan, pelanggrana alkohol dan rokok, pelanggaran
lotre dan pelanggaran lalu lintas jalan. Kejahatan tradisional juga seperti penipuan
telah menyebabkan tanggung jawab pidana korporasi. Sejauh ini denda korporasi
tersbesar terdapat dalam beberapa pelanggaran keselamatan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU

29

Allens Arthur Robinson, Corporate Culture As A Basis for The Criminal Liability
of Corporations, prepared for the UN Special Representative of the Secretary
General on Human Rights and Business, February 2008
Dwidja Priyatno, Kebijakan Legilasi Tentang Sistem
pertanggungjawaban Pidana Korporasi Indonesia, 2004,Bandung:
Utomo, Bandung
Kristian, Hukum Pidana Korporasi (Kebijakan Integral (Integral Policy)
Formulasi Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Di Indonesia, Bandung:
Nuasa Aulia, 2014
Mardjono Reksodipuro, Kemajuan Pembangunan Ekonomi Dan Kejahatan,
Kumpulan Karangan Buku Kesatu, Jakarta, Pusat Pelayanan Keadilan Dan
Pengabdian Hukum, 1994
Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori- Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung:
Alumni, 1998
Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Jakarta:
Kencana Prenada Media Grup, 2010
Steven Box dalam Hamzah Hatrik, AsasPertanggungjawabanKorporasidalam
HukumPidanaIndonesia(StrictLiabilitydanVicariousLiability),
Jakarta:Rajagrafindo Persada, 1995
Sutan Remi Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Jakarta: Grafiti
Pers, 2006
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Swedish Criminal Code BrB 1962:700
RUJUKAN ELEKTRONIK
Swedish

Economic

Crime

Authority,

Economic

crime

report

2004,

https://www.ekobrottsmyndigheten.se/Documents/Rapporter/Ekordet/Economic%20Crime
%20Report.pdf /

Dr. Ari-Matti Nuutila, CORPORATE CRIMINAL LIABILITY IN SWEDEN


ON THE WAY TO AN ALTERNATIVE CRIMINAL LIABILITY IN SUMMARY

30

PROCEDURE,
https://www.sites.google.com/site/arimattinuutila/2012corporal-criminal-liability-sweden , Roma:2012.

ARTIKEL DALAM SEMINAR DAN LAIN-LAIN


LL.M., Sworn attorney at law Dana Rone, LEGAL SCIENTIFIC RESEARCH
ON INSTITUTE OF CRIMINAL LIABILITY OF LEGAL ENTITIES IN
EIGHT COUNTRIES NORDIC COUNTRIES (FINLAND, SWEDEN,
NORWAY, ICELAND AND DENMARK) AND BALTIC COUNTRIES
(LATVIA, LITHUANIA AND ESTONIA), Riga, Latvia , March 15, 2006.
Michael Bergstrm, Corporate Criminal Liability and Negotiated Settlements as
New Means to Fight Corruption in Sweden, Stockholm, Spring term 2014.