Anda di halaman 1dari 56

BAB V

PEMBAHASA

A.1. Ajaran dan Ritual Tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung


Tarekat pada hakikatnya adalah metode dan merupakan teknologi
metafisika Islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dalam usaha
pendekatan tersebut tentu memiliki cara khusus yang dipandang efektif oleh para
pemimpin tarekat. Demikian pula ajaran-ajaran tarekat Shdhiliyah di Pondok
PETA Tulungagung pada dasarnya adalah memiliki ciri khas yang dikembangkan
untuk mencapai tujuan para ahli tarekat tersebut. Adapun tujuan semua tarekat
secara umum sama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Untuk mencapai tujuan tersebut para pengikut (murd) tarekat Shdhiliyah
harus menjalankan amalan-amalan yang diajarkan oleh mursyid yang telah
menjadi tradisi tarekat dengan penuh keikhlasan dan semata-mata hanyalah karena
Allah. Seorang murid yang akan menjalankan amalan tersebut tidak mesti
tergantung pada batas ruang dan waktu tetapi diamalkan dimanapun tempatnya
dan kapanpun waktunya. Dzikir atau mengingat pada Allah tidak harus dengan
cara duduk di masjid atau di mushalla atau di pondok atau di zawiyah dengan
memutar-mutar biji tasbih, tanpa mau menghiraukan lingkungan sosial di
sekitarnya.
Pemikiran yang mendasari ajaran-ajaran tarekat seperti istighfar, shalawat
Nabi dan tahlil adalah bahwa manusia memiliki potensi-potensi alamiah (fithrah)
yang dibawa sejak dilahirkan. Manusia terdiri dari dua dimensi jasad dan ruh,
jasmani dan ruhani, lahir dan batin. Apabila salah satu dimensi itu tidak dimiliki
maka ia bukanlah manusia tetapi makhluk lain. Jika yang ada hanya unsur jasad

98

99

saja mungkin ia adalah tumbuh-tumbuhan, bebatuan atau makhluk lain. Jika yang
ada unsur ruhani maka ia adalah malaikat, jin, syaithan atau makhluk halus
lainnya. Manusia sejak pertama diciptakan selalu menyimpan misteri dan hakekat
yang menjadi sumber pemikiran para filosof baik filosof Barat, maupun para
filosof Muslim seperti Ikhwan al-Shafa. Berbagai aliran pemikiran timbul dalam
memandang eksistensi manusia.1 Paham monisme mengemukakan bahwa hanya
satu substansi yang menjadi inti hakekat manusia. Paham dualisme menyatakan
bahwa manusia terdiri dari dua unsure yang berbeda yaitu jiwa dan raga.
Golongan yang menyatakan bahwa jiwalah yang merupakan inti hakekat manusia
disebut sebagai kelompok idealism. Adapun golongan yang menyatakan bahwa
ragalah yang menjadi inti hakekat manusia disebut sebagai kelompok materialism.
Mengenai hakekat manusia, Ikhwan al-Shafa dalam kitabnya Rasil menuliskan
sebagai berikut:

Artinya : " Manusia adalah gabungan dua substansi yang berhimpun, yaitu tubuh
jasmani yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi yang dapat dikenal
melalui perantara panca indera, dan substansi jiwa rohani yang
berpengetahuan dan hanya dapat dikenal dengan perantara akal."
Dalam pandangan Ikhwan al-Shafa manusia terdiri dari dua dimensi yaitu
tubuh jasmani yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi dan substansi jiwa rohani.
Dalam dimensi ruhani terdapat beberapa unsur yang mengandung potensi-potensi,
1

Fuad Hasan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, (Jakarta, Pustaka Jaya, 1992), hlm.
39-71)
2
Ikhwan al-Shafa, Rasail Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa' (Beirut, Dar al-Shadr,
1376H/1957 M), juz II, hlm. 457

100

baik positif maupun negatif. Unsur-unsur tersebut adalah akal (al-aql), ruh (alrh), hati (al-qalb), dan nafsu (al-nafs). Nabi saw bersabda:

( )

Artinya : " Sesungguhnya pada setiap jasad manusia ada segumpal darah, apabila
gumpalan itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila
gumpalan itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa
gumpalan itu adalah qalb." (HR. Bukhari)
Sesungguhnya hati manusia merupakan tempat dan alat untuk ma'rifah
billh. Al-Qusyairi dalam kitabnya al-Rislah menyatakan bahwa sir merupakan
tempat dan alat untuk menyaksikan Tuhan (al-musyhadah), ruh sebagai tempat
dan alat untuk mencintai Tuhan (al-mahabbah), dan al-qalb adalah tempat dan
alat untuk mengenal hakikat Tuhan (al-ma'rifah). Tetapi yang dimaksud hati
dalam hal ini menurut Ibn 'Arabi bukanlah gumpalan daging secara lahir yang
terletak di dada sebelah kiri, tetapi suatu potensi yang tersembunyi atau wujud
halus (al-quwwah al-khafiyah) yang mampu menemukan hakikat-hakikat ilahiyah
dengan jelas dan nyata.4
Dalam unsur hati (al-qalb) tersebut seringkali muncul potensi negatif dan
dikotori oleh berbagai macam penyakit seperti sombong (takabbur), pamer (riy'),
terlalu mencintai dunia (ub al-duniy), membangakan diri ('ujb), suka mengadu
domba (nammah) dan suka membicarakan kejelekan orang lain (ghbah). Jiwa
manusia (al-nafs) juga memiliki potensi negatif yang terletak pada titik-titik yang

Abu Abdullah , Muhammad ibn Isma'il, Shahih al-Bukhri, (Semarang: Thaha Putra,
t.th), juz I, hlm. 19
4
Ibn 'Arabi, Fushush al-Hikam, (Iskandariyah: t.p., 1946), hlm. 139

101

sangat lembut (lathif) seperti nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu bahimiyah,
dan nafsu sabu'iyah.
Jiwa (nafs) adalah kelembutan (lathfah) yang bersifat halus (ruhaniyah).
Sebelum bersatu dengan jasmani manusia, lathifah ini disebut dengan al-rh, dan
jiwa adalah ruh yang telah masuk dan bersatu dengan jasad yang menimbulkan
potensi kesadaran (al-idrk). Ruh yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia
memiliki lapisan-lapisan kelembutan (latha'if), sehingga dapat dikatakan bahwa
tujuh lathifah yang ada pada diri manusia itu adalah al-nafs atau jiwa. Adapun
tujuh lathifah tersebut adalah lathfah al-nafs, lathfah al-qalb, lathfah al-ruh,
lathfah al-sirr, lathfah al-khafi, lathfah al-akhfa, dan lathfah al-qalabi. Setelah
lath'if itu bersatu dengan badan manusia maka terjadi perubahan sebutan yaitu
lathfah al-nafs disebut nafs al-amarah, lathfah al-qalb disebut nafs allawwamah, lathifah al-ruh disebut nafs al-mulhimah, lathfah al-sirr disebut nafs
al-muthmainnah, lathfah al-khafi disebut nafs al-radhiyah, lathfah al-akhfa
disebut nafs al-mardhiyah, dan lathifah al-qalabi disebut nafs al-kamilah. Jadi
jiwa manusia memiliki tujuh macam nafs, berdasarkan tingkat kelembutannya
yaitu nafs al-amarah, nafs al-lawwamah, nafs al-mulhimah, nafs al-muthmainnah,
nafs al-radhiyah, nafs al-mardhiyah, dan nafs al-kamilah.5
Oleh karena itu jiwa-jiwa manusia memiliki ciri-ciri yang sama dengan
lathifah-lathifah tersebut. Sedangkan dari segi kebaikan dan kejelekan nilai jiwa,
adalah bahwa semakin dekat kecenderungan seseorang dengan unsur jasmaniyah,
maka akan semakin jelek dan rendah nilai jiwanya, dan semakin jauh dari unsur

Ab Hamid Muhammad al-Ghazl, Ihya' Ulm al-Dn, (Kairo: Mushthafa Bab alHalabi, 1334 H), jilid III, hlm. 4

102

jasmaniyah maka akan semakin baik dan suci nilai jiwanya, karena jiwa tersebut
berarti semakin dekat dengan unsur ilahiyah.
Dengan adanya fenomena itulah maka jiwa manusia harus dididik, dilatih,
dan dibersihkan agar dapat melihat dan mengetahui serta kembali pada-Nya. Perlu
adanya formula, teknik dan metode metafisika Islam (thariqah) untuk
mengembangkan

dan

menguatkan

potensi-potensi

yang

negatif

dan

mengembalikan manusia pada fithrahnya yang luhur. Adapun ajaran-ajaran


tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Istighfar
Istighfr dimaksudkan untuk memohon ampun kepada Allah dari segala
dosa yang telah dilakukan oleh seseorang. Esensi istighfr adalah taubat dan
kembali kepada Allah, kembali dari hal-hal tercela menuju hal-hal yang terpuji.
Dalam pandangan Abu Ya'qub ibn Hamdan al-Susi, taubat adalah maqam pertama
dari beberapa maqam untuk menuju Allah. Ibn 'Athaillah dalam kitabnya Mifth
al-Falh wa Misbh al-Arwh menyatakan bahwa seorang murid yang melangkah
menuju Tuhan, apabila sebelumnya banyak melakukan dosa dan kejahatan, maka
mulailah dengan banyak membaca istighfar atau meminta ampun kepada Allah
sampai kelihatan buahnya.6
Dalam pandangan tarekat Shdhiliyah mengucapkan istighfar pada
hakikatnya adalah mengakui dan menyesali kesalahan-kesalahan yang telah
diperbuat. Ia berjanji kepada Allah tidak akan mengulangi perbuatannya, baik
yang tersembunyi maupun yang kelihatan. Orang yang membaca istighfar ibarat
6

Ibn 'Atha'illah, Mifth al-Falh wa Misbh al-Arwh, (Mesir: Maktabah Muhammad


Ali Shabih wa Auladih, t,th), hlm. 27

103

orang yang hendak mencuci pakaian, jika baju yang akan dicuci itu kotorannya
tidak terlalu tebal, tidak banyak dan tidak tergolong kotoran yang bandel, maka
hanya direndam dengan sabun beberapa menit saja tentu baju itu sudah bersih.
Tetapi jika baju itu kotorannya sangat tebal, bandel dan sudah terlalu lama tidak
dicuci sehingga tumbuh jamur-jamur hitam, maka baju tersebut harus direndam,
dikucek-kucek, disikat berkali-kali, baru akan bersih. Demikian pula orang yang
bertaubat dan istighfar, jika dosa dan maksiat yang telah dilakukan belum terlalu
banyak dan tergolong dosa ringan, tentu taubatnya segera diterima oleh Allah dan
diampuni dosanya. Tetapi apabila maksiat dan dosa-dosa yang telah lalu sangat
banyak dan tergolong dosa besar, tentu ia harus berkali-kali memohon ampun dan
membaca istighfar agar taubatnya diterima oleh Allah. Oleh karena itulah sebelum
seorang murid itu terlalu membuat banyak daftar dosa dan kotoran maka
bersegeralah untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.
Pernyataan diatas sesuai dengan Firman Allah :

(#y`us9 9$# s9 txtG$#u !$# (#xtG$$s x8!$y_ |r& (#n= ) r& s9u
( : ) $Vm $\/#s? !$#
Artinya:"Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang
kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah
Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."(QS. al-Nisa': 64)
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa barangsiapa yang melakukan
kejahatan dan dosa sedangkan mereka sanggup dengan rendah hati memohon
ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya. Apabila seseorang telah
diampuni-Nya maka ia kembali bersih dan tiada cela dalam dirinya. Kebaikan

104

bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, tetapi orang yang berbuat dosa
dan menyadari kesalahannya dan meminta pengampunan-Nya.
Adapun istighfar yang diajarkan tarekat Shdhiliyah di Tulungagung
adalah:

yang dibaca sebanyak seratus kali. Hal yang perlu

dilakukan oleh seorang hamba yang telah terampuni dosanya dan dirinya telah
kembali bersih adalah mengganti kotoran jiwa dan hati dengan mengisinya
berbagai kebaikan dan amalan shalih seperti shalawat dan dzikir kepada Allah.
b. Shalawat Nabi saw
Setelah seorang slik melakukan proses pembersihan hati dan penyucian
jiwa dan mengosongkan dirinya dari segala kotoran-kotoran, maka selanjutnya
mengisinya dengan cahaya Ilahi melalui amal shalih. Salah satu unsur yang akan
mengisi kekosongan itu adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw,
dengan maksud untuk memohonkan rahmat dan karunia bagi Nabi saw agar
pembacanya juga mendapat balasan limpahan rahmat dari Allah swt. Ibn
'Athaillah menyarankan kepada salik untuk selalu membaca shalawat siang malam
terutama setelah shalat fardhu, dan tidak boleh meninggalkan lafazh sayidina
(siyadah) karena di dalamnya terdapat rahasia (al-sirr) yang luhur sebagai
ungkapan penghormatan khusus kepada derajat cinta yang tinggi kepada Nabi
Muhammad saw.7
Membaca shalawat Nabi merupakan ungkapan cinta (al-mahabbah) dari
seorang pecinta kepada diri Muhammad saw. Barangsiapa mencintai seseorang
maka ia akan selalu mengingatnya dan mendo'akannya agar selalu dalam rahmatNya. Dan tentu orang yang dicintai akan membalas segala kebaikan dan do'anya
7

Ibn 'Atha'illah, Miftah al-Falah, hlm. 38

105

dengan penuh kasih sayang dan cinta. Jika diantara keduanya telah terjalin hakikat
cinta, maka tentu tidak akan mampu menolak dan mengabaikan permintaannya.
Demikian pula apabila antara seorang salik telah terjalin hakikat cinta
dalam Tuhan (mahabbah fillh) dengan Nabi Muhammad saw, maka tentu Allah
akan memberikan rahmat dan karunia kepada orang tersebut.
Rasulullah saw bersabda:



8

Artinya : " Ditanyakan kepada Rasulullah, " Kapan aku dikatakan sebagai orang
mukmin?" Nabi saw menjawab: " Jika kamu telah mencintai Allah
swt.", lalu ditanyakan kepada Nabi saw. " Kapan aku disebut orang
yang mencintai Allah?", Nabi saw menjawab, " Jika kamu telah
mencintai Rasul-Nya", ditanyakan lagi, "Kapan aku disebut orang yang
mencintai Rasul-Nya?", Nabi saw menjawab: "Jika kamu mengikuti
jalannya, mengamalkan sunnahnya, kamu mencintai apa yang
dicintainya, dan kamu membenci apa yang dibencinya
Dari hadits tersebut dapat dipahami bagaimana cara mencintai rasulullah
saw. yaitu dengan mengikuti jalannya (thariqah), mengamalkan sunnahnya,
mencintai apa yang dicintainya dan membenci apa yang dibencinya, mengasihi
siapa yang dikasihinya dan memusuhi siapa yang dimusuhinya. Dengan cara
inilah manusia dapat disebut sebagai orang yang mencintai Nabi SAW, dan jika
telah mencintai Nabi SAW, berarti ia telah mencintai Allah.
Menurut tarekat Shdhiliyah, shalawat adalah kunci segala pintu menuju
Tuhan, dialah yang akan membukakan pintu, tabir atau hijab antara hamba dengan
Tuhannya. Dialah hamba, Nabi dan Rasul-Nya yang mampu memberikan cahaya
(al-*ur) sebagai penerang hati dari segala kegelapan dan kedzaliman menuju

106

jalan Tuhan. Barangsiapa yang mencintai Nabi saw. berarti dia mencintai Allah
dan barangsiapa yang dicintai oleh Allah berarti ia dekat dengan-Nya (al-qurb),
dan akan sampai kepada-Nya (wushul ila Allh) dengan anugerah kema'rifatan
(ma'rifat billh).
Firman Allah dalam Surat al-Ahzab ayat 56:

(#k=yu n=t (#=| (#t#u %!$# $pr't 4 c<9$# n?t t=| tGx6n=tu !$# )
( : ) $=n@
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk
Nabi saw. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk
Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Ahzab:
56)
Rasulullah saw bersabda:
9

Artinya: "Bershalawatlah atasku karena sesungguhnya shalawat atasku adalah


zakat bagimu, dan bermohonlah kepada Allah dengan berwasilah
padaku."
Rasulullah saw. bersabda:
10

( )

Artinya: " Barang siapa membaca shalawat satu kali kepadaku maka Allah akan
memberikan rahmat padanya sepuluh kali."
Dari ayat dan hadits tersebut dapat diambil pengertian bahwa dianjurkan
membaca shalawat bagi orang-orang beriman dan mencintai Allah, yang
berkehendak bertemu dengan-Nya karena shalawat adalah zakat yang seyogyanya

Ibrahim al-Samarqandi, Tambih al-Ghafilin,(Semarang, Toha Putera, t,th), hlm. 148


Sayid Ahmad al-Hasyimi, Mukhtar al-Ahadits, hlm. 204

10

107

dibayarkan kepada yang berhak, dan shalawat dapat menjadi wasilah atau amalan
yang dapat menghantarkan seorang salik pada Tuhannya.
Adapun bacaan shalawat dalam tarekat Shdhiliyah Tulungagung adalah
sebagai berikut:


11

Artinya: " Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada baginda kami Muhammad saw,
hamba-Mu, nabi-Mu dan rasul-Mu, nabi yang ummi (tidak bisa membaca
dan menulis) dan kepada semua keluarga dan sahabatnya, dan
limpahkanlah keselamatan dengan segala keagungan dzat-Mu di setiap
waktu dan keadaan."
Dalam shalawat tersebut terkandung makna penegasan bahwa Muhammad
adalah hamba Allah biasa seperti hamba-hamba-Nya yang lain yang memiliki
fitrah kemanusiaan pada umumnya, memiliki kecenderungan yang sama seperti
orang lain. Ia membutuhkan makan dan minum, tidur dan berumah tangga yang
mempunyai anak dan isteri, ia juga membutuhkan kawan dalam perjuangan
hidupnya. Ia senantiasa beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa mengenal
batas ruang dan waktu serta dengan rendah hati senantiasa memohon ampun
kepada-Nya walaupun ia terjaga dari dosa baik lahir maupun batin.
Selanjutnya menegaskan bahwa Muhammad adalah Nabi Allah, yaitu
manusia yang terpilih untuk menerima wahyu-Nya. Ia menerima berbagai fasilitas
keruhanian yang membedakan dengan manusia lain. Ia selalu terpelihara dari
segala sesuatu yang menyesatkan dan membahayakan ketinggian spiritualnya. Ia
senantiasa menempati maqam yang tinggi di sisi Allah sejak diciptakan alam
semesta ini sampai puncak penciptaan-Nya yaitu alam akhirat. Ia adalah Nabi
11

Risalah Tarekat Shdhiliyah yang dikeluarkan oleh Syaikh Abdul Jalil Mustaqim
Pondok PETA Tulungagung.

108

yang ummi yang tiada pandai membaca dan menulis sehingga apa yang diucapkan
dan diserukan adalah benar-benar langsung dari dzat yang Maha Mengetahui. Ia
tidak mungkin untuk merekayasa suatu kebenaran yang diperoleh dari buku-buku
yang dibacanya atau hasil karya dan tulisan tangannya sendiri.
Muhammad sekaligus adalah rasul Allah yang ditugaskan untuk
menyampaikan

pesan-pesan

ilahiyah,

meluruskan

kesesatan

tauhid

dan

menyelamatkan umat dari kelalaiannya kepada-Nya. Ia senantiasa mengajak


umatnya

untuk

selalu beribadah

dan menyembah

kepada-Nya, karena

sesungguhnya semua makhluk itu diciptakan semata-semata hanyalah untuk


menyembah-Nya. Ia senantiasa menyeru umat manusia untuk mencari dan
menggapai kebahagiaan baik dalam kehidupan sesaat di dunia yang penuh tipu
daya maupun di akhirat yang tiada berkesudahan dan abadi.
c. Dzikir
Ajaran yang paling utama dan merupakan keniscayaan dalam suatu tarekat
adalah dzikir atau mengingat dan selalu menyebut nama Allah (dzikrullah),
demikian pula tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung. Dzikir adalah
perintah Allah pertama kali yang diwahyukan melaui malaikat Jibril kepada
Muhammad, ketika ia menyepi (khalwat) di Gua Hira'. Sebelum Allah
menurunkan syari'at tentang shalat, puasa, zakat dan lain-lain, maka dzikirlah
yang diajarkan kepada Muhammad. Dan tubuh Muhammad pada waktu itu
dengan serta merta menjadi gemetar dan masih belum mengetahui siapa nama
tuhannya yang harus disebut-sebut itu. Firman Allah swt:

(: )t.F{$# y7/uu &t%$# . @,n=t z|M}$# t,n=y{ . t,n=y{ %!$# y7n/u $$/ &t%$#

109

Artinya: " Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah." (QS. al-Alaq: 1-3)
Dalam surat al-'Alaq ayat 1 yang berarti " bacalah", itu maksudnya Allah
tidak menyuruh Muhammad untuk membaca al-Qur'an, tetapi Allah menyuruhnya
untuk berdzikir dengan nama Allah. Tetapi pada saat itu Muhammad belum
mengerti siapa yang dimaksud nama Tuhan itu. Oleh karena itulah Allah
mengulangi perintah-Nya "bacalah" pada ayat ketiga dan Dia menjelaskan siapa
sesungguhnya Tuhan yang dimaksud itu. Dia jelaskan bahwa Tuhan adalah dzat
yang menciptakan manusia dari segumpal darah yang hina. Tuhan adalah dzat
yang Maha Pemurah dan Maha Mulia, yang mengajari manusia apapun yang tidak
diketahuinya. Dan Tuhan yang dimaksud adalah Allah SWT, yang di perintahkan
untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya. Jadi perintah Allah "iqra'" pada
hakikatnya tidak bermaksud untuk menyuruh Muhammad belajar membaca alQur'an atau belajar menulis karena pada saat itu al-Qur'an belum ada. Al-Qur'an
secara umum dipahami sebagai kumpulan wahyu Allah, sedangkang saat itu
masih pertama kali wahyu diturunkan. Iqra' lebih tepat dipahami sebagai dzikir
kepada Allah dan untuk pertama mengetahui nama-nama Tuhan (ma'rifat bi
asma'illah).
Firman Allah:

( : ) #ZVx. #[. !$# (#0$# (#t#u t%!$# $pr't


Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama)
Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. al-Ahzab:41)
Ayat tersebut memerintahkan kepada umat Islam dan orang-orang yang
beriman agar berdzikir atau selalu ingat kepada Allah dengan membaca dzikir

110

sebanyak-banyaknya. Bahwasannya orang yang beriman itu adalah orang yang


mencintai Allah dan orang yang mencintai-Nya ditandai dengan selalu menyebut
nama-Nya.
Firman Allah:

>=)9$# ys? !$# 2/ r& 3 !$# ./ /=% us?u (#t#u t%!$#


( : )
Artinya: " Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
menjadi tenteram." (QS. al-Ra'd: 28)
Pada ayat diatas disebutkan bahwa sesungguhnya hanya dengan menyebut
nama-Nya, hati sang pecinta dan hati orang yang beriman akan merasa tenang dan
tentram. Hal demikian adalah rasional karena secara psikologis, kerinduan sang
pencinta telah terpenuhi dengan selalu menyebut nama kekasihnya. Dan Allah
akan hadir pada diri orang-orang yang selalu menyebut nama-Nya bahkan lebih
dekat dari urat nadinya.
Adapun cara berdzikir itu bermacam-macam antara lain dzikir lisan
dengan suara keras (jahr), dzikir dalam hati (qalbi) dengan tidak bersuara dan
dzikir secara sembunyi (sirri atau khafi). Apabila seorang salik sedang berdzikir
kepada Allah, maka semua makhluk akan mengikutinya untuk berdzikir. Apabila
seorang salik berdzikir dengan lisannya, maka semua bebatuan akan mengikuti
dzikir lisannya. Apabila seorang salik berdzikir dengan hatinya, maka semua alam
semesta beserta isinya akan mengikuti dzikir hatinya. Apabila seorang salik
berdzikir dengan jiwanya, maka langit dan isinya akan mengikuti dzikir jiwanya.
Apabila seorang salik berdzikir dengan ruhnya, maka kursi Tuhan dan isinya akan
mengikuti dzikir ruhnya. Apabila seorang salik berdzikir dengan akalnya, maka

111

semua malaikat 'arasy dan arwah al-muqarabin akan mengikuti dzikir akalnya.
Apabila seorang salik berdzikir dengan al-sirr-nya, maka semua 'arasy dan isinya
akan mengikuti dzikir al-sirr-nya, sehingga menyampaikan dzikir tersebut kepada
dzat suci Tuhan.12
Dzikir yang diamalkan oleh ahli tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung adalah kalimah thayibah atau tahlil yang juga disebut dzikir nafi
itsbat yang berbunyi "la ilaha illa Allah" ( ) dan diakhiri dengan
mengucapkan "sayiduna Muhammad Rasulullah saw"( ) .
Dan diamalkan pula dzikir ismu dzat yang berbunyi "Allah, Allah". Adapun cara
mengamalkannya pertama adalah dimulai dengan mengucapkan dzikir nafi itsbat
"la ilaha illa Allah" dibunyikan secara perlahan dan dibaca panjang, dengan
mengingat maknanya yaitu tiada dzat yang dituju kecuali hanyalah Allah swt (la
maqsuda illa Allah), dan dibaca sebanyak tiga kali dan diakhiri dengan
mengucapkan " sayiduna Muhammad Rasulullah saw." Kemudian diteruskan
dzikir nafi itsbat " la ilaha illa Allah " tersebut sebanyak seratus kali. Ketika
mengamalkan dzikir tarekat Shadhiliyah dianjurkan supaya hati senantiasa dzikir
ismu dzat "Allah, Allah". Ajaran yang khas ketika membaca dzikir adalah
mengeraskan suara atau member penekanan yang kuat pada tiga tempat yaitu pada
akhir lafazh la, ditengah lafazh ilaha dan pada akhir lafazh Allah.13
Demikianlah tiga ajaran pokok tarekat Shdhiliyah tersebut, yang
merupakan ajaran-ajaran yang tentu diamalkan oleh semua tarekat yang ada.
Istighfar merupakan fase pembersihan dan pengosongan diri daari segala dosa dan
12

Ibn 'Atha'illah, Miftah al-Falah, hlm. 8


Abdul Khaliq al-Hilali, Darrat al-Salikin fi Dzikr al-Silsilat al-Thariqat al-Shdhiliyah
al-Mu'tabarah li al-Quthb al-Rabbani al-Syaikh Abu al- Hasan al-Shadhili, (t,t., th.,
1980), hlm. 5-8
13

112

kotoran jiwa serta penyakit hati (takhalli). Shalawat adalah upaya seorang salik
untuk mengisi diri, hati dan jiwanya (tahalli) dengan cahaya (nur) dari Nabi
Muhammad saw dan menyatu dengan cintanya karena ia adalah pintu menuju
Tuhan. Sedangkan dzikir nafi itsbat adalah upaya seorang salik untuk
mendekatkan diri kepada Allah dan untuk menangkap pancaran ketuhanan (faidh),
penyingkapan dan penampakan diri Tuhan (tajalli).
d. Wasilah dan Rabithah
Wasilah dalam tradisi tarekat dipahami sebagai suatu yang dapat
mendekatkan atau mengantarkan seorang salik kehadirat Allah, agar pendekatan
yang dilakukan dapat lebih berhasil dengan cepat. Firman Allah:

6=ys9 &#6y (#y_u s's#u9$# s9) (#tG/$#u !$# (#)?$# (#t#u %!$# $yr't
( : ) s=?
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah
jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalanNya, supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. al-Maidah: 35)
Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kaum
mukminin untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan mencari
wasilah, agar usaha yang dilakukan tidak sia-sia. Wasilah sesungguhnya
seringkali dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam hubungan
vertikal atas bawah.
Di antara bentuk-bentuk tawasul yang diajarkan dan biasa dilakukan
tarekat shadhiliyah di Tulungagung adalah membaca surat al-Fatikah yang
ditujukan kepada arwah suci para syaikh sejak dari Nabi Muhammad saw. sampai
mursyid yang mengajar atau menalqin dzikir. Artinya wasilah itu boleh dilakukan

113

kepada Nabi Muhammad saw., nabi-nabi lain, para sahabat khulafa' al-rasyidun,
tabi'in, tabi'i al-tabi'in, auliya' dan masyayikh atau para mursyid yang merupakan
orang-orang shalih.
Sedangkan rabithah adalah menghubungkan ruhaniah seorang murid
kepada guru atau mursyidnya ketika murid tersebut akan melakukan dzikir kepada
Allah. Pada umumnya ahli tarekat melakukan praktek rabithah ini, merupakan
adab dalam pelaksanaan dzikir seorang murid dengan mengingat rupa guru
(syaikh) dalam ingatannya. Sebelum seorang dzakir melaksanakan dzikirnya,
maka terlebih dahulu ia harus mereproduksi ingatannya kepada syaikh yang telah
menalqin dzikir, yang akan dilaksanakan tersebut. Bisa berupa wajah syaikh,
seluruh pribadinya, atau prosesi ketika ia mengajarkan dzikir kepadanya. Atau
bisa juga hanya sekedar mengimajinasikan seberkas sinar (berkah) dari syaikh
tersebut.14
Adapun rabithah yang dipraktekkan pada tarekat Shdhiliyah di
tulungagung adalah dengan menyebut ismu dzat yaitu lafadz

"Allah, Allah"

dalam hati. Praktek rabithah seperti itu dimaksudkan untuk menghindarkan diri
dari fitnah dan untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang diidentikkan dengan
prilaku orang-orang musyrik dan menjaga kemurnian tauhid. Alasan lain adalah
apabila seorang murid ketika akan melakukan dzikir mesti harus menghadirkan
rupa guru atau mursyid itu bisa membahayakan keselamatan keimanannya jika
dzikir tersebut dilakukan menjelang kematian yang sudah sangat dekat dengan
titik ajalnya.

14

Martin Van Bruinessen, Tarekat *aqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan,


1992), hlm. 83-84

114

e. Wirid
Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara terus menerus
(istiqomah) pada waktu-waktu tertentu dengan jumlah bilangan tertentu, seperti
setiap selesai mengerjakan shalat lima waktu, sepertiga malam yang akhir, pagi
atau sore atau waktu-waktu tertentu lainnya. Wirid ini biasanya berupa potonganpotongan ayat, atau shalawat atau nama-nama indah Tuhan (al-asma' al-husna).
Bagi murid tarekat Shdhiliyah di Tulungagung ketika mengamalkan wirid
tertentu, tidak boleh berniat untuk tujuan-tujuan tersebut atau niat-niat yang lain.
Mereka harus menata hati agar mampu berniat semata-mata karena Allah. Semua
hal yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah dan murid tarekat Sydziliyah
harus rela (ridha), terhadap taqdir-Nya baik secara lahir bersifat positif maupun
negatif. Jika ketika membaca dan melanggengkan wirid tertentu disertai manfaat
(fadhilah) maka seorang salik akan berkonsentrasi pada fadhilah tersebut, tidak
bertujuan berjalan (suluk) kepada Allah, dan tidak ada bedanya dengan orang
awam atau anak kecil yang minta upah karena ia telah melakukan suatu perintah
dari ibunya.
Adapun wirid yang dianjurkan tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung secara luas kepada murid-muridnya adalah penggalan ayat AlQur'an surat al-Taubah ayat 128-129 dan wirid ayat kursi yang dibaca minimal
sebelas kali setelah shalat fardhu. Dan wirid-wirid lain, yang antara murid yang
satu dengan murid yang lain berbeda-beda sesuai dengan kebijaksanaan mursyid.
Bacaan wirid tersebut adalah:

115

6n=t ym Gt $t n=t t 6r& i ^u 2u!%y` s)s9


M=2us? u n=t ) ts9) I !$# _<ym )s (#9us? *s m u 9$$/
( ) y9$# y9$# >u uu
$tu Nuy9$# $t 9 4 t u u {'s? 4 s)9$# y9$# u ) ts9) I !$#
( x=yz $tu r& t/ $t n=t 4 */ ) y xo %!$# #s t 3 F{$#
u ( uF{$#u Nuy9$# . yu 4 u!$x $y/ ) = i &y/ ts u
( ) y9$# ?y9$# uu 4 $um t
f. Adab atau etika murid
Adab atau tata karma seorang murid merupakan sesuatu yang amat penting
dalam rangka mencapai tujuan tarekat. Adab seorang murid seharusnya
mencontoh kepada teladan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, bagaimana
adanya kepada Allah, kepada sahabatnya, dan kepada dirinya sendiri. Dalam
tarekat Shdhiliyah adab atau etika termasuk ajaran yang sangat penting, Dalam
tarekat Shadhiliyah di Tulungagung, para murid diharapkan selalu melakukan
segala sesuatu dengan tatakrama yang baik (akhlaq al-karimah), karena hanya
dengan akhlak yang baiklah seseorang diangkat derajatnya oleh Allah dan
dimuliakan oleh masyarakat sekitarnya. Muhammad Amin al-Kurdi membagi
adab murid menjadi empat diantaranya yaitu adab murid kepada Allah, adab nurid
kepada mursyidnya, adab murid kepada dirinya sendiri dan adab murid kepada
ikhwan dan sesama muslim.15 Bagi seorang murid yang menghendaki perjalanan
(suluk) kepada Tuhannya, perlu di pahami bahwa adab tersebut bukanlah aturan
15

Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwirul Qulub, hlm. 531

116

dari seorang mursyid yang memaksakan kehendak untuk dihormati atau bahkan
dikultuskan oleh murid-muridnya. Hal itu merupakan kesadaran pribadi yang
mendalam dari lubuk hati yang paling dalam dengan sikap tadharu' dan tawadhu'
atau merendahkan diri dari seorang hamba kepada Tuhan pencipta-Nya.
g. Hizib
Hizib berarti tentara atau pasukan. Hizib adalah suatu do'a yang cukup
panjang, dengan lirik dan bahasa yang indah yang disusun oleh seorang ulama'
besar.16 Hizib adalah kumpulan do'a khusus yang sudah sangat popular dikalangan
masyarakat Islam khususnya di pesantren dan tarekat. Hizib ini biasanya
merupakan do'a andalan seorang syaikh yang biasanya juga diberikan kepada para
muridnya secara ijazah yang jelas (ijazah sharih). Do'a ini diyakini oleh
kebanyakan masyarakat Islam atau kaum santri sebagai amalan yang memiliki
daya spiritual yang sangat besar.17
Hizib dalam pandangan tarekat Shdhiliyah adalah ibarat seorang petani
yang menanam padi di sawah. Agar tanaman padinya bisa tumbuh subur dan
menghasilkan panen yang melimpah tentu harus dipupuk dengan cukup dan
dibersihkan dari rumput-rumput yang mengganggu pertumbuhannya. Demikian
juga seorang murid yang telah menanamkan benih dzikir dalam dirinya melalui
tarekat, agar benih dzikir dalam dirinya itu dapat tumbuh subur dan menghasilkan
kedekatan kepada Allah serta kema'rifatan kepada-Nya (ma'rifah billah), maka

16

Hizib yang terkenal adalah hizib yang disusn oleh Abu Hasan al- Shdhili pendiri
tarekat Shdhiliyah antara lain, hizb al-bahr, hizb al-nur, hizb al-bar, dan hizb nash: Lihat
Abi 'Abdillah Muhammad ibn Sulaiman al-Jazuli, Dalail al-Khairat ma'a al-Ahzab,
(Surabaya: Nabhan, t,th).
17
Masyhuri, Fenomena Alam Jin: Pengalaman Spiritual Dengan Jin, (Solo: CV. Aneka,
1996), hlm.7

117

perlu adanya amalan yang fungsinya untuk menyuburkan tanaman dzikir tersebut
yaitu hizib-hizib itu.
Hizib yang diajarkan

tarekat Shdhiliyah di Tulungagung, jumlahnya

cukup banyak dan setiap murid tidak menerima hizib yang sama karena
disesuaikan dengan situasi dan kondisi ruhaniah murid sendiri dan kebijaksanaan
mursyid. Adapun hizib-hizib tersebut antara lain adalah hizb al-asyfa', hizb al-kafi
atau al-autad, hizb al-bahr, hizb al-baladiyah atau al-birhatiyah, hizb al-barr,
hizb al-nashr, hizb al-mubarak, hizb al-salamah, hizb al-nur, dan hizb al-hujb.18
Hizib-hizib tersebut tidak boleh diamalkan oleh semua orang, kecuali telah
mendapat izin atau ijazah dari mursyid atau seorang murid yang ditunjuk oleh
mursyid untuk mengijazahkannya.
1. Hizib al-Asyfa'
Hizib al-asyfa' adalah hizib yang khas dari tarekat Shdhiliyah di
Tulungagung. sebelum seseorang mengikuti proses bai'at atau talqin dzikir,
biasanya ia dianjurkan membaca hizib asyfa'. Adapun cara mengamalkannya
adalah apabila disertai puasa maka hizib asyfa' dibaca setiap selesai shalat fardhu
dan puasa dilaksanakan selama tiga hari, tujuh hari, sepuluh hari atau empat puluh
hari, sesuai dengan petunjuk mursyid. Puasa dimulai pada hari selasa, misalnya
tiga hari berarti puasanya pada hari Selasa, Rabu, Kamis. Apabila tidak disertai
puasa, maka pembacaan hizib asyfa' dilaksanakan cukup sekali dalam sehari
semalam.

18

Semua hizib tersebut dapat dilihat pada risalah-risalah yang dikeluarkan oleh Pondok
PETA Tulungagung, Ibn 'Atha'illah Latha'if al-Minan, tahqiq 'Abd al-Halim Mahmud,
(Mesir: Dar al-Sya'b, 1986), hlm. 252-257

118

Pertama membaca surat al-Fatihah yang ditujukan kepada Allah swt, Nabi
Muhammad saw, Sayyidina Abu Bakar al-Shidiq, Sayidina 'Umar ibn alKhaththab, Sayidina 'Utsman ibn 'Affan, Sayidina 'Ali ibn Abi Thalib, Syaikh
'Abd al-Qadir al-Jailani, Mbah Panjalu, Sunan Kalijaga, Syaikh Ibnu 'Ulwan, Wali
Sembilan di Indonesia, Sulthan Agung, Syaikh 'Abd al-Qadir al-Kediri, syaikh
Mustaqin bin Husain, Syaikh Abdul Jalil bin Mustaqim, kedua orang tua dan Nabi
Hidhir as.
Bacaan hizib asyfa':





( ) ( / / )






19
. ()
2. Hizib al-Kafi
Hizib al-Kafi atau al-Autad adalah hizib ysng diijazahkan oleh Syaikh
Mustaqim bin Husain kepada Syaikh Abdul Razzaq al-Termasi, yang merupakan
awal persahabatan dan hubungan spiritual diantara keduanya. Cara mengamalkan
hizib al-kafi ini dimulai dengan membaca al-fathihah yang ditujukan kepada Allah
swt, Nabi Muhammad saw, Sayidina Abu Bakar al-Shidiq, Sayidina Umar ibn alKhaththab, Sayidina 'Utsman ibn Affan, Sayidina 'Ali ibn Abi Thalib, Sayidina
Hasan dan Husain, Syaikh abd al-Qadir al-Jailani, Mbah Panjalu, Wali Sembilan
di Indonesia, Sunan Kalijaga, Syaikh Mustaqim bin Husain, Syaikh abdul Jalil bin
Mustaqim, kedua orang tua dan Nabi Hidhir as.
Adapun bacaan hizib al-Kafi adalah sebagai berikut:

19

Semua hizib tersebut dapat dilihat pada risalah-risalah yang dikeluarkan oleh Pondok
PETA Tulungagung

119






. ) ( )(



.







.

3. Hizib al-Bahr


.










.



.




120

.
.




.


.






.







.
4. Hizib al-Birhatiyah
Hizib al-Birhatiyah adalah hizib yang diijazahkan oleh Syaikh Abdul
Razzaq al-Termasi kepada Syaikh Mustaqim bin Husain, yang merupakan awal
persahabatan dan hubungan spiritual. Hubungan di antara keduanya sama yaitu
menjadi guru dan murid. Syaikh Abdul Razzaq al-Termasi memberikan ijazah
kepada

Syaikh Mustaqim bin Husain dengan hizib al-birhatiyah, sedangkan

Syeikh Mustaqim bin Husain memberikan ijazah kepada Syaikh Abdul Razzaq alTermasi berupa hizib al-kafi.
Cara mengamalkannya pertama, membaca surat al-Fatikah yang ditujukan
kepada Nabi Muhammad saw., Nabi Dawud as., Nabi Sulaiman as., Sayidina Asif
bin Barkhaya, Sayidina Qalfatriyus, Sayidina Abu Bakar al-Shidiq, Sayidina
Umar ibn Khathab, Sayidina 'Utsman ibn 'Affan, Sayidina 'Ali ibn Abi Thalib,
Sayidina Hasan dan Husain, Syaikh 'Abd al-Qadir al-Jailani, Syaikh Syams alDin, Syaikh Imam al-Ghazali, Syaikh 'Abd al-Salam, Syaikh Abu Hasan alShadhili, Syaikh Abu al-'Abbas al-Mursi, Syaikh Abu al-'Abbas bin 'Ali al-Buni,

121

Mbah Panjalu, Syaikh Mustaqim bin Husain, Syaikh Abdul Jalil bin Mustaqim,
kedua orang tua dan Nabi Hidhir as.
Bacaan Hizib al-Birhatiyah

.







.




) (



). (

.
.


. .



. .
. .
.
.
. .

)(

). (
5). Hizib al-Nashr
Sebelum membaca hizib al-nashr ini terlebih dahulu membaca surat alfatihah seperti biasanya dan ditambah kepada Syaikh Abu al-'Abbas al-Mursi,
Syaikh al-Badawi, Arwah al-Mujahidin fi sabilillah fi Mishr, Tsuraya, Iraq, wa
sair buldan al-muslimin ammah.

122

Bacaan hizib al-nashr:

.




.

.





.



.

.
.


.

123

.

. .



)( / /
6. Hizib al-Nur
Apabila tidak sedang berpuasa, maka waktu mengamalkan hizib al-nur ini
setelah shalat subuh atau setelah shalat ashar, paling tidak sekali. Apabila
dibarengi dengan berpuasa, maka puasanya di mulai pada hari Senin, setiap
selesai shalat lima waktu dibaca sedikitnya tiga kali. Adapun niatnya adalah
mohon ketetapan dan tambahnya iman, mohon taufiq, hidayah dan ridha dari
Allah maksudnya selamat dunia akhirat. Bacaan hizib al-nur:



.




. .


124




.












.
.



.



125

.
7. Hizib al-Mubarak
Sebelum membaca hizib al-mubarak ini, terlebih dahulu membaca surat alfatihah seperti biasanya dan ditambah kepada sayyidina Hamzah.
Bacaan hizib al-mubarak:

... )(
.
.

. .
.

126

.
. (/) .
8. Hizib al-Hujb






.


)
( .
9. Hizib al-Barr

.



.




). (

.





127



.










.






.




.






128






.













)(












129


)(


) (










)(



) (








.

130

10. Hizib al-Salamah


Sebelumnya didahului pembacaan surat al-Fatihah yang ditujukan kepada
Adam, Ibu Hawa', semua Nabi dan Rasul, syuhada', shalihin, auliya' al-arifin,
'ulama' amilin, malaikat al-muqarrabin, kaum mukminin dan mukminat, muslimin
dan muslimat. Bacaan hizib al-Salamah:



.

)( ////



.
)( ////
:


.
.





.

131

h. Zuhud
Zuhud adalah tidak adanya ketergantungan hati pada harta dan hal-hal
yang bersifat dunia lainnya.20 Sikap rakus terhadap harta, banyak berbuat yang
tidak baik, memakan yang tidak jelas status halal-haramnya (syubhat) dan berkata
sia-sia akan mengotori jiwa serta menjauhkan diri dari Allah. Dan Dia akan
memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang berlaku zuhud di dunia ini.
Sabda Rasulullah saw:


21
( )
Artinya:"Barang siapa yang zuhud di dunia, maka Allah akan memberikan ilmu
tanpa harus belajar, menunjukkannya tanpa melalui hidayah,
menjadikannya mengetahui (mata hati) dan membukakan darinya
kebutaan." (HR. Abu Na'im dari 'Ali)
Zuhud adalah maqam yang mulia, dan ini merupakan langkah awal bagi
seseorang yang menuju Allah. Sebagaimana tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung Zuhud adalah mengosongkan diri dari selain Tuhan. Bagi seorang
pengikut tarekat tidak ada larangan untuk berprofesi menjadi apapun, asalkan
tidak menjadikan hati lupa kepada Allah.
Menurut

Tarekat

Shdhiliyah

mengamalkan

tarekat

tidak

harus

meninggalkan kepentingan duniawi secara lahiriyah, karena pada hakikatnya


zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan. Pengikut tarekat boleh saja
berbisnis, berdagang, berwirausaha tetapi jangan sampai semua itu menjadi sebab
yang menjadikan hati lupa kepada tuhan dan bergantung

20

pada harta yang

Sayid Abu Bakar al-Makki, Kifayah al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya' (Surabaya:


Maktabah Sahabat Ilmu, t., th.,) hlm. 10 dan 20.
21
Sayid Ahmad al-Hasyimi, Mukhtar al-Hadits, hlm. 145

132

dimilikinya. Setelah seseorang memiliki harta benda, maka kewajibannya adalah


bersedekah. Dalam sedekah itu terkandung perang bathin (riyadhah al-qulub)
yaitu antara memberikan hartanya atau menyimpan hartanya.
Inti ajaran tarekat adalah belajar bagaimana mendekatkan diri kepada
Allah dalam keadaan bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun. Melalui tarekat
diharapkan manusia mampu mengatur hati, menerapkan manajemen kalbu dan
membersihkan hati karena hati merupakan kunci dalam mengarungi hakikat
kehidupan. Sehingga di Pondok PETA Tulungagng ditulis ungkapan "Biasakno,
kulinakno pengucapmu podo karo arepe atimu."22 Artinya biasakanlah
perkataanmu sama dengan kata hatimu. Apabila seseorang telah mampu berkata
dan berbuat jujur sesuai kata hatinya yang baik, maka ia akan mendapat
pencerahan cahaya ilahiyah (ma'rifah billah).
i. 'Uzlah dan Suluk
'Uzlah berarti mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat atau halayak
ramai, untuk menghindarkan diri dari godaan-godaan yang dapat mengotori jiwa
seperti menggunjing, mengadu domba, bertengkar, dan memikirkan keduniaan.
Para salaf al-shalih banyak yang memilih tinggal di rumah untuk mengabdikan
diri dan taat kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Mereka akan keluar jika
bertujuan amr al-ma'ruf nahy al-munkar, untuk mencari nafkah, atau untuk
mendatangi hajat kaum muslimin.23
Dalam pandangan tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung
untuk mengamalkan tarekat tidak harus seorang murid itu mengasingkan diri
('uzlah) dan meninggalkan kehidupan duniawi (al-zuhd), tetapi cukup Berdzikir
22
23

Sekarang pesan ini di tulis pada dinding depan pondok PETA Tulungagung.
'Ali Hasan al-'Aridh, Bahjat al-Nufus, hlm. 113

133

dengan mengasingkan diri dari keramaian seperti ketika suluk di pondok,


merupakan suatu latihan untuk melanggengkan dzikir (mulazamah al-dzikr).
'Uzlah yang sesungguhnya adalah jika seseorang mampu senantiasa melakukan
dzikir atau selalu ingat kepada Allah dalam keadaan apapun tidak tergantung pada
tempat, waktu dan keadaan ramai. Misalnya di terminal, mal, pasar, kantor,
sawah, kebun, dan lain-lain.
Adapun suluk adalah suatu perjalanan menuju Tuhan yang dilakukan
dengan berdiam diri di pondok atau zawiyah, dengan ikhtiar atau usaha-usaha
tertentu sesuai dengan ajaran-ajaran mursyid. Suluk diisi dengan aktifitas ibadah
seperti puasa sunnah, membaca aurad atau dzikir tarekat, amal shalih dan lainlain. Pada hakikatnya suluk adalah membersihkan hati dan menyucikan jiwa
dengan taubat dan istighfar agar segala dosa dan kekhilafan diampuni oleh Allah
serta mengosongkan hati dan membersihkan diri dari tercela. Kemudian seorang
salik mengisi hati, jiwa dan dirinya dengan sifat-sifat dan segala perbuatan terpuji,
melakukan amal shalih, senantiasa beribadah dan berdzikir kepada Allah.
Sedangkan 'uzlah atau khalwah adalah menyepi dan mengasingkan diri dari
keramaian hiruk pikuk keduniawian serta mengasingkan diri dari pergaulan
manusia dengan tujuan untuk beribadah, tafakkur, dan berdzikir kepada Allah
setiap saat. Sebagaimana Firman Allah:

#Jtnr& n/u y$t7/ 8 u $[s=| Wut yu=s n/u u!$s)9 (#_t t%x. ys
(:)
Artinya:"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah
ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".(QS. al-Kahfi: 110)

134

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa siapapun yang berkehendak


untuk bertemu dengan Allah, maka ia harus beramal shalih dan tidak
menyekutukan-Nya. Aplikasi dari ayat tersebut oleh para ahli tarekat diwujudkan
dalam aktifitas spiritual yang disebut sebagai suluk. Dalam suluk itulah seorang
salik akan senantiasa menjalankan amal-amal shalih, menjauhi perbuatan tercela
dan memenuhi hatinya dengan sifat-sifat terpuji. Melalui suluk itulah harapan
agar salik bertemu dan dekat dengan tuhannya dapat terwujudkan.
Praktek suluk yang dilaksanakan oleh murid-murid tarekat Shdhiliyah di
Pondok PETA Tulungagung, waktunya bervariasi yaitu ada yang sepuluh hari,
dua puluh hari atau empat puluh hari, sesuai dengan petunjuk mursyid. Murid
yang mengikuti kegiatan suluk, dialrang keluar dari lokasi pondok pesulukan,
karena segala sesuatu, sarana dan prasarana telah disediakan di lingkungan
pondok seperti kebutuhan makan (berbuka dan sahur) disiapkan oleh santri yang
bertugas memasak, tempat tidur, mandi, mushalla atau zawiyah dan lain-lain.
Tidak boleh bergurau sampai tertawa terbahak-bahak, tidak boleh membicarakan
segala hal yang berhubungan dengan kepentingan duniawi.
Seorang salik dianjurkan untuk selalu menyepi ('uzlah atau khalwah) di
dalam lingkungan pondok pesulukan, dengan selalu beribadah, berdzikir kepada
Allah dan beramal shaleh. Membaca istighfar, shalawat Nabi, dzikir nafi itsbat
dengan didahului membaca wasilah dan rabithah dengan membaca ismu dzat
(Allah, Allah) dalam hati, membaca wirid dan hizib yang telah diajarkan oleh
mursyid, dan selalu bertingkah laku dengan akhlak al-karimah baik adab kepada
Allah, kepada mursyid, kepada sesama murid dan adab kepaada dirinya sendiri.

135

Ajaran yang ditekankan dalam tarekat Shdhiliyah adalah bahwa


kesempurnaan suluk dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah adalah harus
berada dalam tiga dimensi ajaran Rasulullah saw, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.
Ketiga hal tersebut dalam istilah tasawuf disebut sebagai syari'at, tarekat, dan
hakikat.24 Jadi dalam tarekat diajarkan, bahwa seorang salik, dalam rangka
mendapatkan ma'rifah billah, tidak mungkin dapat berhasil tanpa memegangi
syari'at, melaksanakan tarekat dan menghayati hakikat. Seorang salik tidak
mungkin melepaskan ketiga dimensi keislaman itu. Ia tidak akan mendapatkan
ma'rifat kepada Allah tanpa berada dalam syari'at dan masuk dalam tarekat.
Dalam tradisi tarekat diyakini bahwa tarekat diamalkan justru dalam rangka
menguatkan dan mengukuhkan syari'at. Karena bertarekat dengan mengabaikan
syari'at, tidak mungkin mendapatkan sesuatu darinya, kecuali kesia-siaan. Dari
gambaran tersebut dapat dikatakan, bahwa suluk adalah upaya yang bertujuan
untuk mendapatkan ma'rifat kepada Allah swt, dengan senantiasa mendekatkan
diri kepada-Nya.

2. Ritual-Ritual Tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung


Ritual adalah beberapa kegiatan atau upacara yang disakralkan yang
dilaksanakan dengan tata cara tertentu yang melibatkan bersama antara murid dan
mursyid secara sungguh-sungguh dan khidmat. Ada beberapa bentuk upacara
ritual dalam tradisi tarekat Shdhiliyah khususnya di Pondok PETA Tulungagung
antara lain adalah bai'at atau talqin, khusushiyah, haul dan manaqib.

24

Abu Bakar al-Makki, Kifayat al-Atqiya' wa Minhaj al-Ashfiya' (Surabaya: Sahabat Imu,
t.th.), hlm. 9

136

a. Bai'at atau talqin


Upacara pemberian khiraqah yang merupakan tanda pengakuan sebagai
anggota atau pentasbihan seseorang untuk menjadi murid, atau pengikut atau
pengamal ajaran tarekat itu disebut dengan bai'at atau pentalqinan dzikir (talqin).
Pembai'atan adalah sebuah prosesi perjanjian atau sumpah kesetiaan dan
ketundukan seorang murid baru terhadap seorang mursyid suatu tarekat. Seorang
murid menyerahkan dirinya untuk dibina dan dibimbing dalam rangka
membersihkan hati dan jiwanya serta mendekatkan diri kepada Allah. Dan
selanjutnya seorang mursyid menerimanya (ijab qabul) dengan mengajarkan
dzikir (talqin al-dzikir) kepadanya. Langkah awal yang harus dilalui oleh seorang
salik, khususnya seorang yang memasuki salah satu tarekat adalah upacara
pemba'iatan.25 Mengikuti ba'iat merupakan salah satu syarat sahnya suatu
perjalanan spiritual (suluk) seorang salik.
Adapun bentuk pembai'atan itu ada dua macam, yaitu pembai'atan
individual (fardhiyyah) dan pembai'atan kolektif (jam'iyyah). Baik bai'at secara
individual maupun kolektif, keduanya dilaksanakan dalam rangka melestarikan
tradisi rasul. Bai'at fardiyyah adalah proses pembai'atan yang dilaksanakan
dengan cara mursyid mengajarkan dzikir kepada murid satu persatu. Sedangkan
cara kedua adalah bai'at jam'iyyah yaitu proses pembai'atan yang dilakukan secara
bersama. Seorang mursyid cukup mengajarkan sekali saja kepada semua murid
yang mengikuti bai'at. 26
Adapun proses pembai'atan dalam tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung menggunakan bentuk fardiyah, tidak pernah menggunakan bentuk
25
26

Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, hlm. 55


Abd al-Wahab al-Sya'rani, Anwar al-Qudsiyah, hlm. 16

137

jama'ah. Walaupun kedua bentuk itu pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad
saw. Sebelum dilaksanakan prosesi bai'at maka mursyid terlebih dahulu
memberikan pesan dan wasiat atau wejangan kepada para muridnya. Hal yang
sangat ditekankan dan selalu diulang-ulang dalam pengajian tarekat yaitu niat
yang bersih, semata-mata hanya karena Allah. Ilmu dan dzikir tarekat Shadhiliyah
adalah sesuatu yang luhur secara spiritual, sehingga sangat berbahaya bagi
seorang murid jika niat mengamalkannya keliru. Misalnya berniat supaya dapat
menjadi paranormal atau orang kaya atau orang yang kebal senjata yang biasanya
dipraktekkan dalam debus atau orang yang memiliki khadam jin. Apabila seorang
murid berniat seperti tersebut maka dzikirnya pada hakikatnya tidak akan pernah
sampai (wushul) kepada Allah, karena ia telah terjebak dan terpedaya dengan
gemerlap keduniaan. Dengan niat yang suci dan hati yang bersih, maka tujuan
utama berdzikir kepada Allah dalam rangka mendekatkan diri dan untuk mencapai
anugerah ma'rifat-Nya akan dapat tercapai. Jika seorang salik telah mencapai taraf
kedekatan yang sangat dekat kepada Allah, maka semua makhluk di muka bumi
ini akan ditundukkan baginya.
Niat dengan keyakinan yang mantap dan tidak adanya keraguan terhadap
mursyid yang membai'at seorang murid, juga membawa implikasi yang signifikan
terhadap keberhasilan tujuannya. Sehingga seorang salik tidak perlu lagi mencaricari mursyid lain, yang dipandang lebih dapat dipercaya mampu mengantarkan
dirinya ke haribaan Tuhannya. Untuk itulah menata hati untuk berniat yang bersih
sebelum memasuki dunia tarekat adalah suatu keniscayaan dan merupakan suatu
tataran spiritual yang urgen. Ibn 'Arabi dalam kitabnya Fushush al-Hikam
menyatakan bahwa ada tiga organ atau alat tubuh manusia yang dapat

138

mengantarkannya untuk bisa mencapai ma'rifat, dan rahasia ketuhanan (asror alilahiyah). Pertama adalah hati (al-qalb) sebagai alat untuk merasakan (dzauq), dan
mengetahui sifat-sifat Allah, kedua adalah al-ruh sebagai alat untuk mencintai
Allah dan ketiga adalah al-sirr sebagai alat untuk mengetahui Allah. Hati orangorang arif adalah hati yang selalu bersama Allah dimanapun berada, dan
menyaksikan setiap tajalli Tuhan, serta hati yang tiada menyaksikan sesuatu
kecuali Allah (al-haq).27 Demikianlah pentingnya hati dalam menapaki jalan
Tuhan, sehingga para murid baru harus menata hati sebaik mungkin, sehingga
dalam hatinya tiada sesuatu melainkan al-haq.
Adapun prosesi pembai'atan tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung itu adalah sebagai berikut:
1. Murid duduk menghadap mursyid dalam keadaan suci, dengan posisi
kaki kebalikan duduk tawarruk pada tasyahud akhir. Dengan penuh
kekhusukan, niat hati yang bersih dan menyerahkan diri sepenuhnya
kepada mursyid untuk dibimbing.
2. Selanjutnya mursyid membaca kalimat berikut ini dan murid
memperhatikan dengan seksama yaitu:

27

Muhyiddin, Ibn 'Arabi, Fushush al-Hikam, (Mesir: t.p.,1946), hlm. 139

139

3. Membaca surat al-fatihah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw


dan diteruskan kepada semua guru-guru sampai Syaikh Mustaqim bin
Husain.
4. Ijab qabul pembai'atan antara mursyid yang menyerahkan dzikir tarekat
Shdhiliyah dan murid yang menerimanya.
5. Kemudia prosesi talqin

dzikir, yaitu murid menirukan dzikir yang

diajarkan oleh mursyid:



Kemudian membaca do'a:




.
Dalam bai'at tarekat Shdhiliyah hal, yang paling penting adalah talqin
dzikir yang diajarkan oleh mursyid kepada muridnya. Itulah inti prosesi bai'at
tersebut, yang nantinya dzikir yang diamalkan akan memberikan berkah yang
besar dan memiliki pengaruh yang mendalam terhadap ruhaniah seorang murid.
Setelah murid dibai'at, maka ia berkewajiban memelihara dan melaksanakan
dzikir tarekat Shdhiliyah dan wirid serta amalan yang lain yang diajarkan oleh
mursyid. Ibarat seorang laki-laki yang telah melaksanaka ijab qabul untuk
menikahi seorang perempuan, maka ia wajib memberikan nafkah bail lahir
maupun batin, menggaulinya dengan baik, memelihara dan melindunginya setiap
hari terus menerus.

140

b. Khusushiyah
Khushusiyah adalah peribadatan khusus yang diselenggarakan tarekat
Shdhiliyah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara
berjama'ah. Khushusiyah adalah ibadah yang bersifat khusus sehingga tidak
semua orang diperkenankan untuk mengikuti aktifitas ini kecuali para murid
tarekat. Khushusiyah yang dilaksanakan tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung ada dua macam yaitu khushusiyah sughra dan khushusiyah kubra.
Khushusiyah sughra adalah khushusiyah yang dilaksanakan dua kali setiap
minggu, yaitu pada hari Senin malam selasa dan hari Kamis malam Jum'at.
Khushusiyah sughra diselenggarakan oleh setiap kelompok pengikut tarekat
Shdhiliyah yang tersebar di seluruh Nusantara.
Khushusiyah sughra yang diselenggarakan tarekat Shdhiliyah yang
bertempat di kemursyidan Pondok PETA Tulungagung, biasanya berlangsung
mulai jam 18.00-21.00 WIB di mushalla lantai dasar. Khushusiyah ini biasanya
diikuti oleh kurang lebih 100 orang jama'ah tarekat Shdhiliyah, yang tinggal di
lingkungan sekitar kota Tulungagung dan murid-murid yang sedang menjalani
suluk yang tinggal di Pondok. Khushusiyah sughra ini biasanya dipimpin oleh
seorang murid senior dari segi praktis telah banyak memiliki pengalaman.
Adapun khushusiyah kubra adalah ibadah khusus yang dilaksanakan oleh
pusat kemursyidan tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung yang
diselenggarakan tiap Kamis malam Jum'at Kliwon sekali dalam 35 hari (Jawa:
selapanan) yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok PETA Tulungagung
yaitu Agus Charir Mohamad Sholahudin Al Ayyubi. Khushusiyah kubra biasanya
dilangsungkan setelah khushusiyah sughra telah selesai dilaksanakan seperti

141

biasanya yaitu mulai jam 21.00-24.30 di ruang yang luas lantai dua.
Khushushiyah ini biasanya diikuti oleh kurang lebih 750 orang jama'ah tarekat
Shdhiliyah, yang datang dari seluruh wilayah Indonesia bagi murid yang
menghendaki karena tidak ada penekanan dan pemaksaan untuk harus datang.
Peserta khushushiyah ini juga murid-murid yang berada di lingkungan sekitar kota
Tulungagng dan murid-murid yang sedang menjalani suluk yang tinggal di
pondok.28
Kegiatan pengajian itu dimulai pada jam 22.30-24.00 WIB, setelah
kegiatan itu ditutup, diteruskan dengan makan sahur untuk puasa hari Senin
khususnya para murid yangs sedang menjalani suluk. Kemudian diteruskan
dengan menjalankan shalat sunat, antara lain shalat sunat mutlak, shalat taubat,
shalat hajat dan shalat li al-daf'i al-bala', lalu dzikir tarekat Shdhiliyah dan
29

ditutup dengan doa dan kegiatan ini biasanya diakhiri pada jam 02.30 WIB.

Pengajian tersebut diisi dengan materi-materi syari'at, tasawuf dan tarekat yang
disampaikan oleh para mubaligh yang juga murid tarekat Shdhiliyah Pondok
PETA, yang ditugaskan oleh mursyid. Para mubaligh yang pernah memberikan
ceramah pada pengajian ini, sejak periode pertama antara lain KH. Imam Muslim
(alm.), KH. Asrori Ibrahim (alm.) pengasuh Pondok Pesantren "Panggung"
Tulungagung, KH. Mudhafir dari Pondok Pesantren Kamulan Trenggalek, KH.
Jamaluddin Ahmad pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, dan
KH. Drs. Imron Jamil dari Jombang.

28

Khususiyah Kubra yang dilaksanakan tarekat Shdhiliyah di Kemursyidan


pondok PETA Tulungagung. Observasi Partisipatif Penulis, tanggal 2 Juni 2011.
29
Pengajian rutin yang dilaksanakan tarekat Shdhiliyah di Kemursyidan Pondok
PETA Tulungagung, Observasi Partisipatif Penulis, tanggal 21 Juni 1011.

142

Pengajian ini dimaksudkan untuk mengisi pikiran para murid dengan


pengetahuan-pengetahuan yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah, syari'ah,
tasawuf, maupun tarekat. Untuk memantapkan keyakinan terhadap adanya Allah
dan meningkatkan keimanan pada-Nya. Memberikan motivasi kepada para murid
untuk senantiasa bersedekah sesuai dengan kemampuannya. KH. Imron Jamil
pada suatu kesempatan dalam pengajian rutin di kemursyidan Tulungagung
mengungkapkan bahwa iman kepada Allah itu membawa implikasi yang luas
terhadap perilaku seseorang. Jika iman dalam hatinya kuat maka ia tidak akan
takut kelaparan, jika ada orang yang kelaparan, maka ia harus paling awal
menolong orang tersebut. Walaupun sesungguhnya ia sendiri hidup dalam serba
kekurangan, tetapi ia harus yakin bahwa Allah akan memberi jalan keluar dan
rizki yang tak disangka-sangka datangnya bagi orang-orang yang beriman dan
bertaqwa pada-Nya. Tentu sangat berat bagi si miskin itu, untuk bersedekah
dengan member makan pada orang lain, padahal ia sendiri dan keluarganya butuh
makanan itu. Inilah yang di maksud latihan hati (riyadhah al-qulb) yaitu
senantiasa bersedekah dengan ikhlas karena Allah, dan yakin bahwa Allah akan
menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.30
Kegiatan ibadah khushushiyah itu adalah mengamalkan amaliah dzikir
tarekat Shadhiliyah yang tatacaranya sudah ditentukan baik dilaksanakan secara
fardiyah maupun secara jama'ah. Ibn 'Athaillah menyarankan agar suara dzikir
dipelankan apabila dilakukan secara fardiyah, dan dikeraskan jika dilaksanakan
secara jama'ah. Tetapi jika dilaksanakan dengan berjama'ah itu lebih baik, karena

30

Pengajian rutin yang dilaksanakan tarekat Shdhiliyah di Kemursyidan pondok


PETA Tulungagung, Observasi Partisipatif Penulis, Tulungagung tanggal 21 juni
2011.

143

dzikir dengan jama'ah itu lebih kuat untuk membuka tabir dalam hati (hijab)
daripada sendirian. Hati yang keras itu seperti batu, maka untuk memecah batu itu
harus dengan kekuatan yang besar, sama dengan untuk membuka hijab yang kuat
juga harus dengan dzikir yang kuat yaitu dengan berjama'ah.
Adapun tatacara amaliah dzikir tarekat Shdhiliyah itu adalah diawali
dengan shalat sunat antara ;ain sholat sunat mutlak, shalat taubat, shalat hajat, dan
shalat li al-da'i al-bala'. Kemudian membaca surat al-fatihah kepada Allah,
membaca syahadat 100 kali, membaca takbir 100 kali. Dan diteruskan dengan
pembacaan surat al-fatihah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, para
nabi dan rasul, para sahabat, para wali Allah, para syaikh atau mursyid, kedua
orang tua, para ulama' amilin, syuhada', shalihin, malaikat al-muqarrabin, dan
semua kaum muslim dan mukmin. Kemudian membaca istighfar 100 kali,
membaca shalawat nabi 100 kali dan membaca dzikir nafi itsbat 100 kali dan
diakhiri dengan membaca do'a.
Amaliah dzikir tarekat Shdhiliyah selengkapnya sebagai berikut.


( ) ( )
.
.
.
.

.


.
.

144










)(

)(
) (


.


.
. .
.

. .

31
.
c. Haul dan Manaqib
Dalam tradisi tarekat dan pondok pesantren, haul adalah upacara
ritual tahunan untuk memperingati wafatnya pemimpin atau mursyid suatu tarekat
atau pendiri pertama pondok pesantren. Pesantren di Tulungagung yang setiap
31

Abdul Khaliq al-Hilali, Durrat al-Salikin, hlm. 4-8, dan risalah-risalah yang
dikeluarkan oleh Pondok PETA Tulungagung.

145

tahun mengadakan kegiatan haul misalnya pondok pesantren Menara Mangunsari


yaitu Haul KHR. Abdul Fattah, yang diikuti oleh puluhan ribu orang pengunjung.
Sedangkan manaqib sebenarnya adalah membaca riwayat hidup (biografi)
seseorang, tetapi biografi seorang sufi besar atau kekasih Allah (waliyullah)
seperti Syaikh 'Abdul al-Qadir al-Jilani, diyakini oleh para pengikut tarekat
memiliki kekuatan spiritual (barakah) yang besar.32
Dalam tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA Tulungagung, tidak
dikembangkan dan tidak terlalu dianjurkan untuk melakukan pembacaan manaqib
seperti tarekat lain. Manaqib akan dibacakan sekali saja setiap tahun dalam rangka
acara haul, sebagai wujud penghormatan kepada mursyid, mengambil contoh
untuk meneladani perilaku dan akhlaq mursyid (i'tibar). Apabila diibaratkan
sebuah mobil, manaqib merupakan aksesoris yang digantung di kunci atau di
bagian depan mobil, yang bertujuan untuk memperindah mobil tersebut.
Sebenarnya tanpa gantungan aksesoris itu, mobil tetap bisa berjalan dengan baik,
walaupun mengurangi keindahannya. Demikian pula dalam tarekat, manaqib
merupakan kegiatan tambahan, yang tanpa itu tarekat tetap dapat berjalan dengan
baik. Biasanya ketika kegiatan manaqib digelar, ribuan atau ratusan orang datang
untuk berpartisipasi aktif, tetapi ironisnya jika ibadah khusus tarekat seperti
khushushiyah atau ibadah yang biasanya diselenggarakan pada hari Selasa
(Selasan), pesertanya tidak terlalu banyak. Disinilah sering terjadi salah tafsir,
sebenarnya kegiatan mana yang merupakan ajaran inti dan pokok suatu tarekat itu,

32

Dudung Abdurahman, "Upacara Manaqiban pada penganut Tarekat Qadiriyah wa


Naqsyabandiyah", dalam Jurnal Penelitian Agama P3M. IAI* Sunan Kalijaga, No. 11,
(Yogyakarta: September-Desember 1992), hlm. 49

146

sehingga tujuan murid untuk mendekatkan diri kepada Allah dapat berhasil
dengan baik.
Sisi positif dari kegiatan manaqib adalah untuk menyatukan umat dan
memumpuk rasa persaudaraan sesame umat Islam (ukhuwah al-islamiyah). Semua
pengunjung yang hadir tentu memiliki perasaan yang sama sebagai saudara dan
tentu akan mempererat hubungan antar mereka (shilah al-rahim) yang
menjangkau semua wilayah sesuai dengan tingkatnya seperti tingkat desa,
kecamatan, kabupaten, propinsi bahkan tingkat nasional.
Dalam tradisi tarekat Shdhiliyah di Tulungagung, haul adalah upacara
ritual tahunan untuk memperingati wafatnya mursyid Syaikh Muhammad
Mustaqim bin Husain. Kegiatan tersebut diisi dengan mengamalkan dzikir tarekat
Shadhiliyah, tahlil akbar, pembacaan manaqib Syaikh Muhammad Mustaqim bin
Husain dan pengajian umum. Dalam haul tersebut akan terkumpul semua
kekuatan dan potensi tarekat, baik potensi lahiriah maupun potensi bathiniyah
(spiritual). Potensi lahiriyah yang dimaksud adalah murid-murid dan pengunjung
yang hadir berasal dari berbagai penjuru. Sejak awal diadakannya haul di Pondok
PETA Tulungagung, masyarakat menyambut dengan baik, sebagai wujud syi'ar
Islam (da'wah Islamiyah).

3. Proses Pembinaan Murid-Murid Tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA


Tulungagung
a. Penerimaan Murid Baru
Seseorang yang hendak memasuki tarekat Shdhiliyah di Pondok PETA
Tulungagung, terlebih dahulu biasanya diperintahkan untuk mengamalkan hizib
Asyfa' beberapa waktu lamanya. Hizib tersebut merupakan amalan pembukaan

147

bagi seseorang yang akan di bai'at atau di talqin dzikir, untuk menjadi murid
tarekat Shadhiliyah yang syah. Calon murid yang memiliki ilmu kejawen atau
kesaktian lain, maka ia harus membuangnya dengan melakukan amalan-amalan
tertentu sesuai dengan petunjuk mursyid. Kadang-kadang seseorang juga
diperintahkan mengikuti suluk atau 'uzlah di pondok PETA terlebih dahulu,
terkadang tidak diperlukan. Apabila seseorang telah dianggap bersih dari
pengaruh ilmu-ilmu yang tidak baik dan telah mengamalkan hizib Asyfa', maka ia
akan di bai'at resmi menjadi murid tarekat Shdhiliyah. Sebelum di bai'at, calon
murid harus membersihkan niat yang lurus, ikhlas dan semata-mata hanya karena
Allah, tidak boleh dicampuri dengan niat-niat duniawiah atau noda hitam sekecil
apapun dalam hati, seperti ingin bisa terbang, dapat berjalan diatas air, ingin
dihormati dan dimuliakan orang lain, menjadi paranormal atau ingin mejadi kaya
tanpa harus kerja keras.
Jika terdapat niat-niat yang bersifat duniawiah, dikhawatirkan amalanamalan yang diberikan atau diijazahkan kepada seorang murid itu akan berakibat
fatal karena akan bercampur dengan kekuatan syaithan yang dominan dalam diri
seseorang, maka ia akan tersesat, berbuat maksiat dan sulit untuk dikendalikan
karena ia tidak menyadari telah berbuat kesalahan yang samar-samar.
Oleh karena itulah pesan yang sering diulang-ulang oleh mursyid sebelum
melaksanakan proses bai'at, seorang murid harus meluruskan niat semata-mata
hanya karena Allah. Keberhasilan seorang murid akan ditentukan sejauh mana
tingkat kesucian niat tersebut. Apabila ia berniat untuk kepentingan duniawi,
maka ia akan berhenti sampai pada sesuatu yang diniatkan itu tanpa dapat
mencapai kedekatan dan kema'rifatan (ma'rifah billah). Seorang murid yang

148

benar-benar telah sampai kepada maqam ma'rifah, maka Allah akan memberikan
segala-galanya baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, baik yang bersifat
lahir maupun batin, semua rahasia-rahasia yang selama ini tersembunyi baik
rahasia alam, makhluk maupun rahasia Tuhan.
Seseorang telah dianggap resmi menjadi murid tarekat Shdhiliyah di
Pondok PETA Tulungagng, apabila telah mengikuti prosesi bai'at. Ia tidak
disyaratkan mengumpulkan biodata, foto diri maupun identitas diri lain secara
ketat seperti pada organisasi tertentu. Pengelola maupun mursyid tidak pernah
mengeluarkan kartu anggota tarekat Shdhiliyah. Walaupun tidak ada aturanaturan yang mengikat, tetapi para murid sangat taat kepada mursyid karena guru
tarekat merupakan orang yang dipandang sebagai sumber berkah sebab
kedekatannya dengan Tuhan, bahkan mursyid tidak jarang merupakan kekasih
Tuhan (waliyullah).
b. Pembinaan Ruhani
Setelah seseorang dibai'at menjadi murid Tarekat Shdhiliyah di Pondok
PETA Tulungagung, maka ia harus menjalankan amalan-amalan yang
diperintahkan dan diajarkan oleh mursyid baik secara bersama-sama (jama'ah)
maupun sendiri-sendiri (fardiyah), dan dianjurkan mengikuti ritual-ritual yang
menjadi tradisi tarekat Shdhiliyah seperti khushushiyah. Pembinaan ruhani
murid-murid melalui ajaran-ajaran tarekat yang meliputi membaca istighfar
(astaghfirullah al-'azhim), shalawat Nabi saw., dzikir nafi itsbat (la ilaha illallah)
yang didahului dengan wasilah kepada para mursyid sampai pada Rasulullah saw,
dan rabithah dengan membaca ismu dzat (Allah-Allah), membaca wirid yang
dianjurkan mursyid seperti membaca ayat kursi dan surat-surat pendek.

149

Selanjutnya membaca hizib misalnya hizb al-asyfa', al-kafi, dan al-bahr,


menjalankan suluk jika dianjurkan mursyid selama tujuh hari, sepuluh hari, dua
puluh hari atau empat puluh hari sesuai petunjuk serta berbudi pekerti yang luhur
(akhlaq al-karimah) baik kepada Allah seperti ridha terhadap taqdir-Nya, selalu
bersyukur atas segala nikmat-Nya, kepada mursyid seperti taat, tawadhu',
menghormatinya lahir batin, kepada kawan-kawan (ikhwan) dan sesame muslim
seperti mengucapkan salam jika bertemu, lemah lembut, berprasangka baik (husn
al-zhan), mendamaikan jika terdapat perselisihan dan menepati janji, maupun
kepada diri sendiri seperti selalu bergaul dengan orang-orang shalih, tidak
berlebihan apabila makan, minum dan berbusana, tidak berharap kepada makhluk
(hama'), melanggengkan kesucian (dawam al-wadhu') dan menjaga lisannya.
Para murid dianjurkan untuk selalu mengikuti kegiatan ibadah khusus
(khushushiyah), baik khushushiyah sughra yang diselenggarakan setiap hari Senin
malam, dan hari Kamis malam di daerah dan kelompok masing-masing yang
dipimpin oleh ketua atau wakil kelompok maupun khushushiyah kubra yang
diadakan pada hari Kamis Kliwon malam setiap tiga puluh lima hari sekali (Jawa:
Selapan) di pondok Pesulukan Thariqah Agung (PETA) Tulungagung yang
dipimpin langsung oleh mursyid yaitu Agus Charir mohamad Sholahuddin AlAyyubi sampai sekarang.
Apabila murid-murid telah melaksanakan semua perintah, aturan, anjuran
maupun ajaran-ajaran mursyid, insyaallah mereka dapat mencapai hati yang
terang (tashfiyah al-qulb), jiwa yang suci (tazkiyah al-nafs), senantiasa dekat
dengan tuhannya dan mampu menggapai ma'rifah billh, sehingga akan terbuka

150

penghalang (hijab) antara khaliq dan makhluk-Nya dan akan diberikan rahasiarahasia Tuhan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Murid-murid tarekat Shdhiliyah yang telah menapaki tingkatan ruhaniyah
(maqam) yang tinggi, tidaklah kemudian ia disebut murid yang telah lulus ujian,
yang boleh meninggalkan amaliah tarekat sehari-hari seperti biasa, apalagi
memutuskan hubungan dengan mursyidnya. Murid tarekat bukanlah murid
sekolah formal pada umumnya yang semua gerak-geriknya dibatasi oleh birokrasi
maupun waktu yang telah ditentukan. Apabila masuk sekolah harus mengisi daftar
hadir, membayar sumbangan penyelenggaraan pendidikan, dan waktu dibatasi
misalnya tiga, lima atau tujuh tahun. Murid sekolah yang dinyatakan lulus, maka
ia akan diberikan surat tanda tamat belajar dan tidak perlu lagi masuk
sebagaimana biasa dan kebanyakan hubungan guru dengan murid akan terputus.
Berbeda dengan murid tarekat Shdhiliyah, ketika telah mencapai tingkat
ruhaniyah tinggi dan dekat dengan Tuhan, mereka tidak akan mendapatkan surat
tanda tamat beribadah. Mereka tetap menjalankan amaliyah tarekat sebagaimana
biasa, senantiasa masuk ke dalam majelis peribadatan khusus tarekat
(khushushiyah) tanpa harus mengisi daftar hadir, karena hubungan antara khaliq
dengan makhluk tiada putusnya. Mereka tetap menjaga hubungan dengan gurunya
(murshid), baik ketika masih hidup maupun setelah mati, baik di dunia maupun di
akhirat. Walaupun mursyid telah meninggal dunia, tetapi ia tetap akan memantau
dan mendidik murid-muridnya, baik melalui mimpi yang benar maupun
mendatangi murid-Nya secara ruhaniyah. Sesungguhnya orang-orang yang mati
syahid (syuhada') dan para kekasih Allah (auliyaullh) tidaklah mati, tetapi

151

mereka tetap hidup di alam yang berbeda, termasuk mursyid yang kamil
mukammil.
B. Dampak Spiritual Tarekat Shdhiliyah Bagi Pengikut Tarekat di Pondok
PETA Kauman Tulungagung
Di tengah fenomena pertumbuhan beragam gerakan spiritualitas, mulai
yang teratur dan rapi hingga yang "liar", nampak penting untuk mencari alternatif
spiritualitas yang lebih selaras dengan eksistensi manusia secara utuh.
Sebagaiamana dikatakan oleh Komarudddin Hidayat, jati diri manusia yang paling
asasi adalah rohaninya. Al-Qur'an menyebutkan bahwa rohani manusia itu secara
asali baik dan suci, karena tercipta dari asal yang baik dan suci pula. Allah
meniupkan roh-Nya kepada jasad manusia sehingga dengan bekal roh itu pula
kelak manusia memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan Allah. Kontak
dengan Allah adalah hubungan spiritual, meskipun aspek fisiknya menjelma
dalam bentuk ibadah.33
Ketika manusia tidak mampu menjadi "makhluk spiritual", ia akan
mengalami sakit jiwa. Sakit jiwa yang paling parah adalah sakit rohani. Orang
yang sakit rohani tidak sadar mengenai baik dan buruk, atau benar dan salah.34
Lihat saja para koruptor yang tidak lagi peduli bagaimana cara mencari harta
dengan jalan yang benar dan bagaimana orang yang punya masalah tak mampu
mengendalikan diri, sehingga menimbulkan tekanan psikologis (stress).
Dalam konteks yang semacam ini, sesungguhnya tawaran yang diberikan
tarekat Shdhiliyah Tulungagung cukup komprehensip dan mampu memenuhi
33

Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas, Moralitas Agama dan Krisis Modernisme,
(Jakarta: Paramadina, 1998), hlm. 43
34
Achmad Sauqi, Meraih Kedamaian Hidup, Kisah Spiritualitas orang Modern,
(Yogyakarta: Penerbit TERAS, 2010), hlm. 119

152

kebutuhan hidup manusia yang substansial. Untuk mengembalikan vitalitas


kemanusiaan agar mampu keluar dari jerat kehampaan spiritual, tarekat
memberikan perspektif yang mampu diposisikan sebagai landasan untuk
menciptakan kehidupan yang damai, tenang (ayem), dan penuh kesabaran. Terapi
dalam tarekat

Shdhiliyah Tulungagung sebetulnya bersumber dari al-Qur'an

surat ar-Ra'du ayat 28:

>=)9$# ys? !$# 2/ r& 3 !$# ./ /=% us?u (#t#u t%!$#


Artinya: " (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram". (QS. al-Ra'du: 28)
Secara substansial, tarekat Shdhiliyah mengajarkan bahwa jika ajarannya
dipahami, dilaksanakan dan dihayati dengan sepenuhnya, akan mampu menjadi
daya terapi kejiwaan yang sangat actual dan potensial untuk mewujudkan hidup
yang bahagia dan penuh ketentraman. Hal ini sebagaimana diakui oleh beberapa
pengikut tarekat yang sudah beberapa lama mengamalkan ajaran tarekat
Shdhiliyah merasa ada dampak spiritual yang dirasakan diantaranya hidupnya
lebih sabar, baik dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah swt,
maupun sabar dalam menghadapi musibah/ujian yang datang dari Allah swt.
selain itu juga dapat melahirkan ketenangan, kedamaian, karena memiliki kontrol
diri yang lebih baik, sehingga dapat menjalani hidup lebih ringan.
Ajaran tarekat juga menumbuhkan semangat dalam bekerja (etos kerja).
Karena para pengikutnya memiliki kedisiplinan kerja yang tinggi, kerja keras,
bisa menerima kenyataan yang terjadi di lapangan kerja, sebagaimana adanya
rejeki bukan sesuatu yang bisa diprediksi dan dipastikan. Semua bisa berjalan

153

karena memiliki dasar pemikiran yang mantap yang dicapai melalui olah tarekat
yang istiqomah.
Selain itu ajaran tarekat juga menumbuhkan akhlak yang terpuji. Orang
yang bertarekat senantiasa menjaga dan memelihara dirinya dari perbuatan yang
tercela. penganut tarekat berkeyakinan bahwa ajaran tarekat merupakan tuntunan
moral dan kebatinan yang dapat menolak segala macam pikiran dan tindakan yang
bertentangan dengan agama, yang menjadikan seseorang berakhlak yang terpuji.
Dari berbagai dampak yang dirasakan para pengikut tarekat Shdhiliyah
Pondok PETA Tulungagung, sebetulnya yang paling penting adalah dampak
mersasa dekat dengan Allah. Ketika seseorang sudah merasa dekat dengan Allah
pasti setiap aktifitas kehidupannya sesuai dengan apa yang di gariskan oleh Allah.
Sehingga akan memunculkan sifat-sifat terpuji seperti sabar, tenang, giat bekerja
dan berakhlak yang baik, karena merasa kapan dan dimanapun selalu diawasi
oleh Allah swt.
Sebetulnya masih banyak dampak-dampak spiritual tarekat Shdhiliyah
bagi pengikutnya di pondok PETA Tulungagung, namun karena keterbatasan
waktu dalam penelitian, mudah-mudahan menjadi peluang bagi penelitianpenelitian berikutnya untuk mengungkap semua itu. Terimakasih.