Anda di halaman 1dari 19

DEPOSIT BATUAN

Batuan beku (batuan vulkanis)

Batuan beku merupakan hasil aktifitas gunung berapi dimana


batuan ini banyak terdapat di Indonesia, diperkirakan 70% gunung
berapi di dunia terletak di Indonesia.
Batuan beku dalam, dihasilkan dari, temperatur proses
pembekuan magma yang terjadi di dalam permukaan bumi yang
mempengaruhi sangat tinggi serta kurang bereaksi dengan udara.
Sifat batuan ini mempunyai kekerasan, kepadatan, kekekalan tinggi,
baik digunakan sebagai bahan beton.
Batuan beku luar, proses pembekuan magma terjadi dekat
permukaan bumi. Dihasilkan dalam kondisi tekanan rendahnya
temperatur, proses berlangsung dalam waktu yang singkat. Batuan
ini mempunyai kepadatan, kekerasan, kekekalan yang lebih rendah,
kurang baik digunakan sebagai agregat beton, kecuali untuk
pekerjaan beton ringan.

Macam-Macam Ukuran Batuan

Jenis agregat menurut susunan


gradasi butirnya

Agregat dengan gradasi baik


Agregat dengan kasar dan
seragam
Agregat dengan gradasi halus
dan seragam
Agregat dengan gradasi celah
AGREGAT MENURUT
SUSUNAN BUTIRNYA
Agregat halus ukuran butir
dari 0,075-4,8 mm atau 5,0
mm
Agregat kasar ukuran butir
lebih besar 5,00 mm

Macam-macam ukuran saringan

Susunan Butiran Agregat halus


Menurut SNI 03-1750-1990, susunan butir agregat halus
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut;
Sisa di atas ayakan 4 mm harus maximum 2 % berat.
Sisa di atas ayakan 1,0 mm harus maximum 10 % berat.
Sisa di atas ayakan 0,25 mm harus maximum 95 %
berat.
Sedangkan batasan susunan klasifikasi butir agregat
halus dapat dilihat pada grafik susunan butir zone 1
hingga zone 4.

Cara Penilaian Agregat


1.

Nilai agregat tergantung pada;

2.

Mutunya
Tersedianya
Harganya
Jenis konstruksi yang akan menggunakan bahan tersebut.

Penilaian cocok tidaknya bahan agregat;

Ukuran serta gradasi


Kebersihannya
Kekerasannya
Kemulusannya
Bentuk butiran
Bentuk permukaan butiran

10

Agregat dengan gradasi baik


Adalah agregat susunan butirnya dari
butiran halus hingga kasar secara teratur.

Gambar : Agregat dengan gradasi baik

11

Agregat dengan kasar dan


seragam
Agregat ini kurang baik digunakan untuk agregat beton,
karena menghasilkan beton yang porous serta mudah
mengalami proses segresi (mudahnya agregat halus
naik ke permukaan karena banyak rongga-rongga
terbuka) dan menghasilkan kepadatan beton yang
rendah.

Gambar : Agregat dengan gradasi seragam (kasar)

12

Agregat dengan gradasi halus


dan seragam
Pengaruh agregat dengan susunan gradasi
halus dan seragam hampir sama dengan butiran
kasar. Selain itu, hal lain yang timbul adalah
penyusutan lebih tinggi serta memerlukan kadar
semen relatif tinggi untuk menutupi seluruh
permukaannya.

Gambar : Agregat dengan gradasi seragam (halus)

13

Agregat dengan gradasi celah


Agregat bergradasi celah memiliki susunan
butiran yang terputus. Agregat ini menghasilkan
kualitas beton yang kurang baik karena
kontribusi bahan pengikat tidak akan merata
akibat sebagian pasta semen dan butiran
agregat halus lainnya harus mengisi jumlah
gradasi yang terputus tadi.
Celah

Gambar : Agregat dengan gradasi celah


14

Kebersihan agregat
1.

Agregat tidak bebas dari bahan kotoran yang dapat;

2.

Menyukarkan pembuatan serta pengecoran


Menghasilkan beton yang tidak awet atau memperlihatkan beton
yang permukaannya jelek
Mengurangi kekuatan tekan.

Bahan-bahan yang dapat mengotori agregat;

Lempung
Lanau
Arang batu
Mika
Fragmen-fragmen kayu
Lain-lain bahan organik
Garam-garam organik

15

Kekerasan agregat
Diperlukan karena dalam pembuatan beton agregat ini
harus mengalami gerakan-gerakan yang keras dalam
mixer, demikian juga harus menerima gesekan pada
saat pemadatan.
Agregat harus dapat menahan pengausan, pemecahan
degradasi (penurunan mutu) serta disintegrasi
(penguraian).
Ketahanan agregat terhadap pengausan dapat
ditentukan dengan menggunakan Mesin Pengaus Los
Angeles (Mesin Vibrasi).
Penggunaan alat ini dan tata cara melakukan
pemeriksaan ketahanan agregat secara rinci dalam
ASTM C 131 dan AASHO T 96.
16

17

Agregat yang rapuh


18

19