Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

AN. G DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT


Disusun untuk Memenuhi Laporan Tugas Individu Profesi Ners
Departemen Pediatrik

Oleh :
GITA PUSPITASARI
140070300011145
Kelompok 17A Reguler

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
1. Definisi

Leukemia merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan proliferasi dini yang
berlebihan dari sel darah putih. Leukemia juga dapat didefinisikan sebagai keganasan
hematologis akibat proses neoplastik yang disertai gangguan diferensiasi pada berbagai
tingkatan sel induk hematopoietik (Handayani & Haribowo, 2008).
Sedangkan menurut Hidayat (2008), leukemia merupakan penyakit akibat
terjadinya proliferasi sel leukosit yang abnormal dan ganas, sering disertai adanya
leukosit dengan jumlah berlebihan dan dapat menyebabkan terjadinya anemia
trombositopenia.
2. Klasifikasi
Leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan :
1. Maturasi sel
Akut
Leukemia akut merupakan proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas,
sering disertai bentuk leukosit yang lain daripada normal, jumlahnya berlebihan,
serta dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan
kematian.
Leukemia akut menurut klasifikasi FAB (French-American-British) dapat
diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
1. Leukemia mielositik akut/acute myeloid leukemia (LMA/AML)
Merupakan leukemia yang mengenai sel stem hematopoetik yang kelak
berdiferensiasi ke semua sel myeloid. LMA merupakan leukemia nonlimfositik
yang paling sering terjadi. Insiden AML kira-kira 2-3/100.000 penduduk, LMA
lebih sering ditemukan pada usia dewasa (85%) daripada anak-anak (15%)
(Handayani & Haribowo, 2008). Sering terjadi anemia, perdarahan, atau
infeksi. Jarang disertai keterlibatan organ lain (Rubenstein, Wayne & Bradley.
2007).
2. Leukemia limfositik akut/acute lymphoblastic leukemia (LLA/ALL)
LLA terjadi pada 85% kasus. Lebih sering muncul pada anak laki-laki dan
insidensi puncak terjadi antara usia 2 hingga 5 tahun (Meadow & Newell,
2005). Infiltrasi sumsum tulang oleh sel limfoblastik menyebabkan anemia,
memar (trombositopenia), dan infeksi (neutropenia). Limfoblas biasanya
ditemukan dalam darah tepi dan selalu ada di sumsum tulang. Terjadi
limfadenopati, splenomegali, dan hepatomegali. 70% anak dengan LLA kini
bisa disembuhkan (Rubenstein, Wayne & Bradley. 2007).

Kronis
1. Leukemia granulositik kronik/leukemia mieloid kronis (LGK/LMK)
Merupakan suatu penyakit mieloproliferatif yang ditandai dengan
produksi berlebihan seri granulosit yang relatif matang. LMK merupakan
leukemia kronis dengan gejala yang timbul perlahan-lahan dan sel
leukemianya berasal dari transformasi sel induk myeloid (Handayani &
Haribowo, 2008).
LMK merupakan 15-20% dari leukemia dan merupakan leukemia
kronis yang paling sering dijumpai di Indonesia, sedangkan di Negara Barat
leukemia kronis lebih banyak ditemui dalam bentuk LLK. Umumnya LMK
mengenai usia pertengahan dengan puncak pada usia 40-50 tahun. Pada
anak-anak dapat dijumpai bentuk juvenile LMK. Abnormalitas genetic yang
disebut kromosom Philadelphia ditemukan pada 90-95% klien dengan LMK
(Handayani & Haribowo, 2008).
2. Leukemia limfositik kronis
Terjadi pada manula dengan limfadenopati generalisata dan peningkatan
jumlah leukosit serta limfositosis. Perjalanan penyakit biasanya jinak dan
indikasi pengobatan adalah hanya jika timbul gejala (Rubenstein, Wayne &
Bradley. 2007).

2. Tipe sel asal

Mielositik
Limfositik

3. Etiologi dan Faktor Risiko


Meskipun pada sebagian besar penderita leukemia faktor-faktor penyebabnya tidak dapat
diidentifikasi, tetapi ada beberapa faktor yang terbukti dapat menyebabkan leukemia,
yaitu faktor genetik, sinar radioaktif, dan virus.
a. Faktor genetik
Insidensi leukemia akut pada anak-anak penderita sindrom Down adalah 20 kali lebih
banyak daripada normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat menyebabkan leukemia
akut. Insidensi leukemia akut juga meningkat pada penderita kelainan congenital
dengan aneuloidi, misalnya agranulositosis congenital, sindrom Ellis van Greveld,
penyakit seliak, sindrom Bloom, anemia fanconi, sindrom klinefelter, dan sindrom
trisomi D.
b. Sinar radioaktif
Angka kejadian leukemia mieloblastik akut (ANL) dan leukemia granulositik kronis
(LGK) jelas sekali meningkat sesudah sinar radioaktif. Akhir-akhir ini dibuktikan
bahwa penderita yang diobati dengan sinar radioaktif akan menderita leukemia pada
6% klien, dan baru terjadi sesudah 5 tahun.
c. Virus
Beberapa virus tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukemia pada binatang.
Sampai sekarang belum dapat dibuktikan bahwa penyebab leukemia pada manusia
adalah virus. Meskipun demikian, ada beberapa hasil penelitian yang mendukung
teori virus sebagai penyebab leukemia, yaitu enzyme reverse transcriptase ditemukan
dalam darah manusia. Seperti diketahui enzim ini ditemukan di dalam virus onkogenik
seperti retrovirus tipe C, yaitu jenis virus RNA yang menyebabkan leukemia pada
binatang. Enzim tersebut menyebabkan virus yang bersangkutan dapat membentuk
bahan genetik yang kemudian bergabung dengan genom yang terinfeksi.
(Handayani & Haribowo. 2008)
4. Patofisiologi
(terlampir)
5. Manifestasi Klinis
Gejala leukemia akut biasanya terjadi setelah beberapa minggu dan dapat dibedakan
menjadi 3 tipe :
a. Gejala kegagalan sumsum tulang merupakan manifestasi keluhan yang paling umum.
Leukemia menekan fungsi sumsum tulang, menyebabkan kombinasi dari anemia,
leucopenia (jumlah sel darah putih rendah), dan trombositopenia (jumlah trombosit
rendah). Gejala yang tipikal adalah lelah dan sesak napas (akibat anemia), infeksi
bakteri (akibat leukopenia), dan perdarahan (akibat trombositopenia dan terkadang

akibat koagulasi intravascular diseminata [DIC]). Pada pemeriksaan fisik ditemukan


kulit yang pucat, beberapa memar, dan perdarahan. Demam menunjukkan adanya
infeksi, walaupun pada beberapa kasus, demam dapat disebabkan oleh leukemia itu
sendiri. Limfadenopati, apabila ditemukan, biasanya volume kecil dan lebih khas pada
ALL daripada AML.
b. Gejala sistemik berupa malaise, penurunan berat badan, berkeringat, dan anoreksia
cukup sering terjadi.
c. Gejala lokal : terkadang pasien dating dengan gejala atau tanda infiltrasi leukemia di
kulit, gusi, atau sistem saraf pusat.
(Davey, 2005)
6. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Davey (2005), pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien ALL adalah
sebagai berikut :
a. Hitung darah lengkap (FBC) biasanya menunjukkan gambaran anemia dan
trombositopenia. Jumlah sel darah putih yang normal biasanya berkurang dan jumlah
sel darah putih total dapat rendah, normal, atau meningkat. Apabila normal atau
meningkat, sebagian besar selnya adalah sel darah putih primitif (blas).
b. Pemeriksaan biokimia dapat menunjukkan adanya disfungsi ginjal, hipokalemia, dan
peningkatan kadar bilirubin.
c. Profil koagulasi dapat menunjukkan waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial
teraktivasi (APPT) yang memanjang karena sering terjadi DIC.
d. Kultur darah karena adanya risiko terjadi infeksi.
e. Foto toraks : pasien dengan ALL jalur sel T sering memiliki massa mediastinum yang
f.

dapat dilihat pada foto toraks.


Golongan darah, karena cepat atau lambat akan dibutuhkan transfusi darah dan

trombosit.
g. Pemeriksaan penunjang diagnostik spesifik termasuk aspirasi sumsum tulang, biopsy
trephine, penanda sel, serta pemeriksaan sitogenetik untuk membedakan ALL
dengan AML secara akurat. Auer rod di sitoplasma sel blas merupakan penanda
patognomonik pada AML, namun hanya ditemukan pada 30% kasus.
7. Penatalaksanaan Medis
Menurut Davey (2005), penatalaksanaan medis untuk pasien leukemia akut antara lain :
a. Resusitasi
Pasien yang baru didiagnosis leukemia akut biasanya berada dalam keadaan sakit
berat dan rentan terhadap infeksi berat dan/atau perdarahan. Prioritas utamanya
adalah resusitasi menggunakan antibiotik dosis tinggi intravena untuk melawan
infeksi, transfusi trombosit atau plasma beku segar (fresh frozen plasma) untuk
mengatasi anemia. Penggunaan antibiotik dalam situasi ini adalah tindakan yang
tepat walaupun demam yang terjadi ternyata merupakan akibat dari penyakit itu
sendiri dan bukan akibat infeksi. Lebih mudah menghentikan pemberian antibiotic

daripada menyelamatkan pasien dengan syok dan septikemia yang telah dibiarkan
tanpa terapi antibiotik.
b. Kemoterapi
Terapi definitive leukemia akut adalah dengan kemoterapi sitotoksik menggunakan
kombinasi obat multiple. Protokol persisnya berbeda dalam penanganan ALL dan
AML. Obat sitotoksik bekerja dengan berbagai mekanisme namun semuanya dapat
menghancurkan sel leukemia. Sayangnya, beberapa sel normal juga ikut dirusak dan
ini menyebabkan efek samping seperti kerontokan rambut, mual, muntah, nyeri pada
mulut (akibat kerusakan pada mukosa mulut), dan kegagalan sumsum tulang akibat
matinya sel smsum tulang. Salah satu konsekuensi mayor dari neutropenia akibat
kemoterapi adalah infeksi berat. Pasien harus diterapi berbulan-bulan (AML) atau
selama 2-3 tahun (ALL).
c. Transplantasi sumsum tulang
Ini merupakan pilihan terapi lain setelah kemoterapi dosis tinggi dan radioterapi pada
beberapa pasien leukemia akut. Transplantasi dapat bersifat autolog, yaitu sel
sumsum tulang diambil sebelum pasien menerima terapi dosis tinggi, disimpan, dan
kemudian diinfuskan kembali. Selain itu, dapat juga bersifat alogenik, yaitu sumsum
tulang berasal dari donor yang cocok HLA-nya. Kemoterapi dengan dosis sangat
tinggi akan membunuh sumsum tulang penderita dan hal tersebut tidak dapat pulih
kembali. Sumsum tulang yang diinfuskan kembali akan mengembalikan fungsi
sumsum tulang pasien tersebut. Pasien yang menerima transplantasi alogenik
memiliki risiko rekurensi yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang
menerima transplantasi autolog, karena sel tumor yang terinfusi kembali dapat
menimbulkan relaps. Pada transplantasi alogenik, terdapat bukti kuat yang
menunjukkan bahwa sumsum yang ditransplantasikan akan berefek antitumor yang
kuat karena limfosit T yang tertransplantasi. Penelitian-penelitian baru menunjukkan
bahwa transplantasi alogenik menggunakan terapi dosis rendah dapat dilakukan dan
memiliki kemungkinan sembuh akibat mekanisme imunologis.
Adapun penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan leukemia, yaitu sebagai
berikut :
a. Memantau tanda-tanda infeksi.
b. Isolasikan dari penyakit infeksi.
c. Anjurkan anak untuk memakai masker apabila mengalami leukopenia dan tidak boleh
menjalani kemoterapi.
d. Pemantauan tanda perdarahan, seperti petekie dan gusi berdarah.
e. Penatalaksanaan medis dalam pemberian kemoterapi dan radioterapi :
- Prednison untuk efek anti inflamasi.
- Vinkristin (oncovin) untuk antineoplastik yang menghambat pembelahan sel
selama metaphase.

Asparaginase

untuk

menurunkan

kadar

asparagin

(asam

amino

untuk

pertumbuhan tumor).
Metotreksat sebagai anti metabolik untuk menghalangi metabolisme asam folat
sebagai zat untuk sintesis nucleoprotein yang diperlukan sel-sel yang cepat

membelah.
Merkaptopurin untuk menghalangi sintesis asam nukleat.
Sitarabin untuk menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik

yang menekan sumsum tulang yang kuat.


Alopurinol sebagai penghambat produksi asam urat dengan menghambat reaksi

biokimia.
Siklofosfamid sebagai anti tumor kuat.
Daurnorubisin sebagai penghambat pembelahan sel selama pengobatan
leukemia akut.

(Hidayat, 2008)

DAFTAR PUSTAKA

Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga.


Handayani & Haribowo. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.
Hidayat, AAA. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta :
Salemba Medika.
Meadow & Newell. 2005. Lecture Notes : Pediatrika. Ed. 7. Jakarta : Erlangga.
Rubenstein, Wayne & Bradley. 2007. Lecture Notes : Kedokteran Klinis. Ed. 6. Jakarta :
Erlangga.