Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS

Oleh:
Evy Liesniawati
030.10.095

Pembimbing:
dr. Yosianna Liska, Sp.A

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Karawang

LAPORAN KASUS
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RSUD KARWANG
Nama Mahasiswa

STATUS PASIEN KASUS


:Evy Liesniawati
Pembimbing : dr. Yosianna

Liska, SpA
NIM

: 030.10.095

Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN
No rekam medik
: 618679
Nama
:An.Rizky Pranaja
Jenis Kelamin : laki-laki
Umur
:2 bulan 4 hari
Suku Bangsa : Jawa
Agama
: Islam
Pendidikan
:Alamat
: Warung kebon, Purwosari RT 005/004
Orang tua / Wali
Ayah:
Nama: Tn.Aca
Umur: 45 tahun
Alamat: Warung kebon, Purwosari
Pekerjaan: Buruh bangunan
Agama: Islam

Ibu :
Nama: Ny. Dina
Umur: 42 tahun
Alamat: Warung kebon, Purwosari
Pekerjaan: Ibu rumah tangga
Agama: Islam

Hubungan dengan orang tua: pasien adalah anak kandung


I. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu kandung pasien
Lokasi
: Bangsal Rawamerta lantai II, kamar 155
Tanggal /waktu
: 13 Januari 2016 pukul 12.00 WIB
Tanggal masuk
: 12 Januari 2016 pukul 12.30 WIB (di IGD)
Keluhan utama
: Sesak nafas sejak 1 Minggu SMRS
Keluhan tambahan : demam, batuk dan pilek
A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG:
Seorang Anak RN, usia 2 bulan 4 hari diantar oleh ibunya ke IGD RSUD
Karawang dengan

keluhan sesak napas sejak 1 minggu SMRS. Ibu pasien

mengatakan sesak ini baru terjadi pertama kalinya, timbul setelah pasien mengalami
batuk yang

panjang. Sesak tidak dipengaruhi perubahan

posisi

maupun tanpa

adanya pencetus seperti debu, udara dingin, dan bulu binatang (tidak ada binatang
peliharaan di rumah). Saat sesak tidak terdengar suara ngik, dan tampak kebiruan
disekitar mulut dan ujung-ujung jari tangan dan kaki sejak 2 hari sebelum masuk

rumah sakit (SMRS), 2 hari sebelum masuk rumah sakit ibu pasien mengatakan
bahwa anaknya demam. Demam tersebut timbul mendadak. Demam tidak diukur
dengan termometer, namun teraba panas yang tidak terlalu tinggi dengan rabaan
tangan. Demam tidak diikuti dengan menggigil, tidak kejang. Ibu pasien hanya
mengompres dengan air hangat untuk mengurangi panas. Batuk diakui ibu pasien
sejak 1 Minggu sebelum masuk rumah sakit. Batuk awalnya hanya ringan, dirasakan
tidak berdahak. Namun bersamaan dengan demam, batuk terjadi sangat panjang,
sering dan berulang. Batuk anaknya terdengar seperti batuk berdahak namun tidak
ada dahak yang keluar. Batuk tidak dicetuskan karena terpapar debu atau dingin, dan
tidak ada bersin-bersin di pagi hari. Batuk semakin lama dirasakan semakin parah
yang membuat napas pasien menjadi berat dan cepat. Pasien juga mengalami pilek
bersamaan dengan batuk. Pilek dengan ingus bening encer, yang semakin lama
menyebabkan hidung pasien mampet, Mual dan muntah disangkal oleh ibu pasien.
1 hari sebelum masuk rumah sakit, dengan keluhan batuk dan pilek yang
dirasakan, ibu pasien membawa bayinya berobat ke puskesmas dan di diagnosis ISPA,
lalu diberi obat yang diakui ibu pasien adalah obat tetes hidung. Namun keluhan batuk
dan pilek tidak berkurang.
Pagi hari sebelum masuk rumah sakit, kesulitan

bernapas pada anaknya di

rasakan makin bertambah, tidak ada riwayat tersedak sebelumnya, demam dirasakan
sumeng-sumeng, batuk masih sangat panjang dan sering, pasien menjadi gelisah dan
sulit menyusu. BAK dan BAB pasien baik.

B. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Menurut ibunya, Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
C. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRAN
Morbiditas kehamilan

Tidak ada. Anemia (-), HT (-), DM (-),


penyakit jantung (-), penyakit paru (-),

KEHAMILAN
Perawatan antenatal
KELAHIRAN

Tempat persalinan
Penolong persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi

infeksi (-)
2x kontrol ke tempat praktek bidan dan sudah
melakukan imunisasi TT 2x
Bidan
Bidan
Normal
Penyulit : Cukup Bulan (38-39 minggu)
3

Berat lahir: 3200 gram


Panjang lahir: 50 cm
Lingkar kepala : tidak tahu
Langsung menangis (+)
Kemerahan (+)
Nilai APGAR : (tidak tahu)
Kelainan bawaan : -

Keadaan bayi

Kesimpulan riwayat kehamilan / kelahiran : Tidak adanya penyulit pada masa


kehamilan. Pasien lahir spontan pervaginam, cukup bulan dengan berat badan lahir sesuai
masa kehamilan.
D. RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi I
: umur 7 bulan
Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
Psikomotor

(Normal: 5-9 bulan)

Tengkurap

: umur 4 bulan

(Normal: 3-4 bulan)

Duduk

: umur 8 bulan

(Normal: 6-9 bulan)

Berdiri

: umur 10 bulan

(Normal: 9-12 bulan)

Berjalan

: umur 12 bulan

(Normal: 12-18 bulan)

Pengucapan kata-kata: umur 11 bulan

(Normal: 9-12 bulan)

Makan sendiri

(Normal: 18-24 bulan)

: umur 24 bulan

Menyusun kalimat dan pengertian kata-kata: umur 3 tahun (Normal: 2-3 tahun)
Memakai baju sendiri : umur 4 tahun

(Normal: 2-4 tahun)

Berhitung, menyebut hari-hari dalam seminggu: umur 4,5 tahun (Normal 4-5
tahun)
Mengikuti pelajaran di sekolah: umur 5 tahun

(Normal: 5-6 tahun)

Bersosialisasi dengan baik: umur 6 tahun

(Normal 6-7 tahun)

Beribadah: umur 7 tahun

(Normal 6-8 tahun)

Membantu orang tua membersihkan rumah: umur 8 tahun (Normal 8-10 tahun)
Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan: Riwayat perkembangan
belum dapat dinilai karena pasien baru berusia 2 bulan.
E. RIWAYAT MAKANAN
Umur
(bulan

ASI / PASI

Buah / Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

)
4

02

Susu formula

24

46

68

8 10

10- 12

Kesimpulan riwayat makanan: pasien hanya mendapatkan susu formula dari lahir
sampai sekarang usia 2 bulan.
F. RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin
Hepatitis B
Polio

Dasar ( umur )
1 bulan
2 bulan
-

0 bulan
0 bulan

BCG

2 bulan

DPT / PT
Campak

2 bulan
-

Ulangan ( umur )
-

Kesimpulan riwayat imunisasi: imunisasi dasar dilakukan sesuai jadwal, namun


tidak lengkap karena tidak dilakukan imunisasi ulangan.
G. RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
Tanggal lahir

Jenis

(umur)

kelamin

1.

6 Tahun

Laki-laki

Ya

2.

3 tahun

Laki-laki

Ya

3.

2 Bulan

Laki-laki

Ya

No

Hidup

Lahir

Mati

Keterangan

(sebab)

kesehatan

Sehat

Sehat

Pasien

mati

Abortus

b. Riwayat Pernikahan
Nama
Perkawinan keUmur saat menikah
Pendidikan terakhir
Agama
Suku bangsa

Ayah / Wali
Tn.Aca
1
24 tahun
Tamat SMP
Islam
Jawa

Ibu / Wali
Ny.Dina
1
22 tahun
Tamat SD
Islam
Jawa
5

Keadaan kesehatan
Kosanguinitas
Penyakit, bila ada

Sehat
-

Sehat
-

c. Riwayat Penyakit Keluarga: pada anggota keluarga tidak ada yang menderita
penyakit jantung, penyakit paru, alergi, Tuberculossis, Ataupun kencing manis kecuali
(IBU) pasien menderita Asma .
d. Riwayat Kebiasaan Keluarga : pada anggota keluarga ada yang memiliki kebiasaan
merokok, yaitu ayah pasien. Keluarga pasien menyangkal adanya kebiasaan minum
minuman beralkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang.
Kesimpulan Riwayat Keluarga: tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala dan
penyakit yang serupa dengan pasien, kecuali Ibu pasien mengalami penyakit Asma.
H. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Penyakit
Penyakit

Alergi

(-)

Difteria

(-)

Cacingan

(-)

Diare

(-)

Penyakit ginjal

(-)

DBD

(-)

Kejang

(-)

Radang paru

(-)

Otitis

(-)

Rubeola

(-)

TBC

(-)

Parotitis

(-)

Operasi

(-)

Lain-lain: -

jantung

Umur
(-)

Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah diderita: pasien belum pernah menderita
penyakit yang sama sebelumnya.
I. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN
Menurut pengakuan ibu pasien keadaan lingkungan rumah cukup padat penduduk.
Lantai rumah terbuat dari semen. Ventilasi udara, sirkulasi udara, dan pencahayaan cukup
memadai. Rumah sering dibersihkan namun banyak debu di rumah terutama di atas lemari
dan lantai.
Kesimpulan Lingkungan Perumahan : Keadaan lingkungan rumah cukup baik namun
terlalu padat penduduk.

J. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

Ayah pasien bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tidak menentu,
kurang lebih Rp. 700.000-1.000.000/bulan. Sedangkan ibu pasien adalah ibu rumah tangga.
Menurut ibu pasien penghasilan tersebut kurang untuk memenuhi kebutuhan pokok seharihari.
Kesimpulan sosial ekonomi: penghasilan ayah pasien kurang untuk memenuhi kebutuhan
pokok sehari-hari.
II. PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 13 Januari 2016 pukul 12.00 WIB)
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
Kesan Sakit
: Tampak sakit Berat
Kesadaran
: Compos mentis
Kesan Gizi
: gizi cukup
Keadaan lain
: pucat (-), ikterik (-), sesak (+), sianosis (-)
Data Antropometri
Berat badan
Tinggi badan
Lingkar kepala

: 4,1 kg
: 48 cm
: 37 cm

Status Gizi (CDC)


BB / U = 4,1/5,2 x 100 % = 78,8 % (Gizi normal)
TB / U = 48/48 x 100 % = 100 % (Gizi normal)
BB / TB = 4,1/4,4 x 100 % = 93,1 % (Gizi normal) Kesan: Gizi Normal
LK = 37 cm berdasarkan kurva Neilhaus termasuk diantara (-2 SD) dengan (+2 SD) yang
menunjukkan kondisi Normocephali.
Tanda Vital
Nadi
Nafas
Suhu
KEPALA
RAMBUT
WAJAH

: 147x/menit, reguler, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri


: 60x/menit, tipe abdominotorakal
: 37.8C, aksila (diukur dengan termometer air raksa)
: Normosefali, ubun-ubun besar belum menutup
: Rambut hitam, lurus, lebat, distribusi merata, dan tidak mudah dicabut
: Wajah simetris, bengkak (-), luka atau jaringan parut (-), tidak terdapat

efloresensi bermakna
MATA:
Visus

: tidak dilakukan

Ptosis
: -/Edema palpebra: -/7

Sklera ikterik
Konjungtiva anemis
Exophthalmus
Enophtalmus

: -/: -/: -/: -/-

Lagofthalmus
Cekung
Kornea jernih
Strabismus

: -/: -/: +/+


: -/-

kornea jernih

: +/+

Nistagmus

: -/-

lensa jernih

: +/+

Pupil

: bulat, isokor

Refleks cahaya

: langsung +/+ , tidak langsung +/+

TELINGA :
Bentuk
Nyeri tarik aurikula
Liang telinga
Serumen
Cairan

: normotia
: -/: lapang
: +/+
: -/-

Tuli
Nyeri tekan tragus
Membran timpani
Refleks cahaya

HIDUNG :
Bentuk
Sekret
Mukosa hiperemis

: simetris
: +/+
: -/-

Napas cuping hidung : +/+


Deviasi septum

BIBIR
MULUT
LIDAH

: -/: -/: sulit dinilai


: sulit dinilai

:-

: mukosa berwarna merah muda, kering (+), sianosis (-), pucat (-)
: trismus (-), oral hygiene cukup baik, halitosis (-), mukosa gusi berwarna
merah muda, mukosa pipi berwarna merah muda, arkus palatum simetris.
: normoglosia, mukosa berwarna merah muda, hiperemis (-), atrofi papil (-),

tremor (-), lidah kotor (-)


TENGGOROKAN: tonsil T1-T1, hiperemis (-), detritus (-), dinding posterior faring tidak
hiperemis, uvula terletak di tengah
LEHER
: Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak tampak dan tidak
Teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea tampak dan teraba di tengah
THORAKS :
Jantung
Inspeksi
: ictus cordis terlihat pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Palpasi
: ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Perkusi
: batas kiri jantung
: ICS V linea midklavikularis sinistra
batas kanan jantung : ICS III-V linea sternalis dextra
batas atas jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Auskultasi
: BJ I-II regular, murmur (-) , gallop (-)

Paru
Inspeksi

Palpasi
Perkusi

: bentuk toraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada
pernafasan yang tertinggal, pernafasan abdominal - torakal, pada sela
iga terlihat adanya retraksi interkostal, pembesaran KGB aksila -/-,
bagian dada terdapat ruam merah (-)
: nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri,
vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri.
: hipersonor dikedua lapang paru.
8

Auskultasi

Batas paru-lambung : ICS VII linea aksilaris anterior


Batas paru-hepar : ICS VI linea midklavikularis dextra
: suara napas vesikuler, regular, ronki +/+ di kedua lapang paru ,

wheezing +/+ ekspirasi memanjang


ABDOMEN :
Inspeksi

: tampak supel, warna kulit sawo matang, ruam merah (-), kulit keriput

(-), gerak dinding perut saat pernapasan simetris, shagging of the flank (-), venektasi

(-), smiling umbilicus (-),asites (-)


Auskultasi
: bising usus (+), frekuensi 4x / menit
Perkusi
: timpani pada seluruh lapang perut, shiffting dullness (-), undulasi (-)
Palpasi
: supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba membesar, lien tidak teraba
membesar, ballotement (-)

GENITALIA: jenis kelamin laki-laki, fimosis/parfimosis (-), hipospadia/epispadia (-), testis


sudah di skrotum, rugae baik.
KELENJAR GETAH BENING:
Preaurikuler
: tidak teraba membesar
Postaurikuler
: tidak teraba membesar
Submandibula
: tidak teraba membesar
Supraklavicula
: tidak teraba membesar
Aksila
: tidak teraba membesar
Inguinal
: tidak teraba membesar
ANGGOTA GERAK :
Ekstremitas
Tangan
Tonus otot
Sendi
Refleks fisiologis
Biscep
Tricep
Refleks patologis
Hoffman-Tromer
Kaki
Tonus otot
Sendi
Refleks fisiologis
Platella
Achiles
Refleks patologis
Babinski
Schaeffer

: Akral hangat pada keempat ekstremitas, sianosis (-)


Kanan
normotonus
aktif

Kiri
normotonus
aktif

(+)
(+)

(+)
(+)

(-)

(-)

Kanan
normotonus
aktif

Kiri
normotonus
aktif

(+)
(+)

(+)
(+)

(+)
(-)

(+)
(-)
9

Oppenheim
Gordon

(-)
(-)

(-)
(-)

KULIT : warna kulit sawo matang merata, tidak ikterik, sianosis (- ), lembab, capillary
refill time < 2 detik.
TULANG BELAKANG : bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan(-), ruam (-)
TANDA RANGSANG MENINGEAL :
Kaku kuduk
(-)
Brudzinski I
(-)
Brudzinski II
(-)
Laseq
(-)
Kerniq
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


(Lab. Dari IGD pada tanggal 12 Januari 2016 pukul 08.30 WIB)
Hematologi

Hasil

Nilai Normal

Leukosit

33.800 ribu/

6.00-17.50

Eritrosit

3.59 jt/L

3.10-4.50

Hemoglobin

10,3 g/dL

9.5-13.5

Hematokrit

30 %

29.0-41.0

Trombosit

594 ribu/L

150 - 440

MCV

93 fL

74 108

MCH

32 pg

25 35

MCHC

34 g/dL

30 - 36

RDW

13.5 %

IV.

Kimia
Glukosa darah sewaktu

99 mg/dL

<140

RESUME
Seorang Anak RN, usia 2 bulan 4 hari diantar oleh ibunya ke IGD RSUD
Karawang dengan keluhan sesak napas sejak 1 minggu SMRS. Ibu pasien mengatakan
sesak ini baru terjadi pertama kalinya, timbul setelah pasien mengalami batuk yang
panjang. Sesak tidak di pengaruhi perubahan posisi maupun pencetus. Saat sesak tidak
terdengar suara ngik, dan tampak kebiruan disekitar mulut dan ujung-ujung jari
10

tangan dan kaki sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Anak tampak
gelisah dan tidak mau menyusu. Ibu pasien mengatakan anaknya demam sejak 2 hari
SMRS, timbul mendadak, dirasakan tidak terlalu tinggi dengan rabaan tangan. Ibu
pasien sudah mengompres air hangat untuk mengurangi panas. 1 Minggu SMRS,
pasien juga mengalami batuk yang terjadi sangat panjang, sering dan berulang-ulang.
Batuk terdengar seperti ada dahaknya namun tidak ada dahak yang keluar, diakhir batuk
kadang disertai muntah lendir berwarna putih kental. Batuk makin memberat yang
membuat napas pasien menjadi cepat. Pilek dirasakan bersamaan dengan batuk, pilek
dengan ingus bening encer. Sebelumnya, 1 hari SMRS ibu pasien sudah membawa
anaknya ke puskesmas dan didiagnosis ISPA, lalu diberi obat tetes hidung namun
keluhan batuk pilek tidak berkurang.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum TSB, CM, tampak gelisah
dan dyspnoe, kesan gizi normal. Tanda vital didapatkan: Nadi 147x/menit, frekuensi
napas 60x/menit dengan ekspirasi memanjang, suhu 37,8OC. Pada hidung tampak napas
cuping hidung +/+ dengan sekret. Pada pemeriksaan thorax didapatkan retraksi
intercostal (+), serta pada auskultasi terdengar ekspirasi memanjang disertai ronki di
kedua lapang paru dan wheezing

pada

kedua lapang paru. Pada pemeriksaan

penunjang didapatkan leukosit dan trombosit yang meningkat.


V. DIAGNOSIS KERJA
- Bronkiolitis
VI. DIAGNOSIS BANDING
-

Asma Bronkiale
Bronkopneumnia

VII. PEMERIKSAAN ANJURAN


1. Analisa Gas Darah
2. Rontgen Thorax
VII. PENATALAKSANAAN
Non medika Mentosa

Komunikasi-Informasi-Edukasi kepada orang tua pasien mengenai keadaan pasien.

Observasi tanda-tanda vital


Pasien dipuasakan, asupan nutrisi melalui nasogastric tube (sonde lambung)
Memotivasi ibu pasien agar memberikan ASI untuk anaknya.
Mengedukasi ibu pasien agar menyusui anaknya dalam posisi anak sambil dipangku,

tidak boleh sambil berbaring


Menganjurkan agar melakukan imunisasi dasar lengkap

11


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Medika Mentosa
Oksigen nasal kanul 1-2 lpm
IVFD 4:1 10 tpm (mikro)
Injeksi Cefotaxime 2 x 200 mg
Injeksi Gentamicin 1 x 20 mg
Injeksi Dexametashone 2 x 0.5 mg
Injeksi paracetamol 3 x 50 mg
Nebulizer : ( Ventolin +1/4 flumicort ) /12 jam
Mucous drop 3 x 0.2 cc

IX. PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

12

FOLLOW-UP
Tanggal
S
O
13/01/16
-Sesak (+)
KU: Tampak sakit berat, compos mentis
Perawatan- Demam (+)
TTV :
N 147x/m
hari 2
- Batuk (+) lendir berwarna RR 60x/m
S 37.00C
BB = 4,1
putih kental
Wajah :Tampak simetris
kg
Mata: Conjungtiva anemis -/-, sclera ikterik
-/Hidung: napas cuping hidung (+)
Thorax : retraksi intercostal (+) SN
vesikuler, Rh +/+ di basal paru, Wh +/+
ekspirasi memanjang , BJ I-II reguler, M
(-), G (-)
Abd : datar, BU (+) 4x/menit, supel,nyeri
tekan (-),shifting dullness (-), undulasi (-)
Genitalia: edema (-)
Ekst :Atas : Akral hangat +/+,sianosis -/-,
CRT < 2
Bawah: Akral hangat +/+,sianosis -/-,
CRT < 2
14/01/16
-sesak (-)
KU : Tampak sakit sedang, compos mentis
Perawatan -batuk berdahak (+)
TTV :
- demam (+)
N 130x/m
hari 3
-belum BAB sejak 1 hari RR 40x/m
S 37,60C
BB = 4,1
lalu.
Wajah: tampak simetris
kg
Mata: CA -/-, SI -/Hidung : Napas cuping hidung (-)
Thorax : SN vesikuler, rh +/+, wh +/+, BJ I-

A
Bronkiolitis dd/
Asma bronkial,
bronkopneumonia

P
IVFD 4:1 10 Tpm
Injeksi Cefotaxime 2 x

200 mg
Injeksi Gentamicin 1x

20 mg
Injeksi Dexametashone

3 x 0.5 mg
Injeksi Paracetamol 3 x

50 mg
Mucous drop 3 x 0.2 cc
Nebulizer : ventolin+
fulmicort )

Bronkiolitis dd/
Asma bronkial,
bronkopneumonia

IVFD 4:1 10 Tpm


Injeksi Cefotaxime 2 x

200 mg
Injeksi Gentamicin 1x

20 mg
Injeksi Dexametashone
3 x 0.5 mg
13

II reguler, M (-), g (-)


Abd : datar, BU (+) 4x/menit, supel, nyeri
tekan (-) shifting dullness (-), undulasi (-)
Genitalia: edema skrotum (-)
Ekst : Atas : Akral hangat +/+,sianosis -/-,
CRT < 2
Bawah: Akral hangat +/+,sianosis -/-,
CRT < 2
15/01/16
Perawatan
hari 4
BB = 4
kg

-Sesak (-),
-batuk berdahak (+)
- demam (-)
-BAK (+), BAB (+)

KU: Tampak sakit sedang, compos mentis


Bronkiolitis
TTV :
N 132 x/m
RR 32 x/m
S 36,00C
Wajah: tampak simetris
Mata: CA -/-, SI -/Thorax : SN vesikuler, rh +/+, wh -/-, BJ III reguler, m (-), g (-)
Abd : datar, BU (+) 4x/menit, timpani,
shifting dullness (-), undulasi (-),Nyeri tekan
(-)
Ekst : Atas : Akral hangat +/+,sianosis
-/-,CRT <2
Bawah: Akral hangat +/+,sianosis -/-,
CRT <2

Injeksi Paracetamol 3 x

50 mg
Mucous drop 3 x 0.2 cc
Nebulizer : ventolin+

fulmicort )
Susu Soya

IVFD 4:1 10 Tpm


Injeksi Cefotaxime 2 x 200

mg
Injeksi Gentamicin 1x 20

mg
Injeksi Dexametashone 3 x

0.5 mg
Injeksi Paracetamol 3 x 50

mg
Mucous drop 3 x 0.2 cc
Nebulizer : ventolin+
fulmicort )

Susu soya

14

16/01/16
Perawatan
hari 5
BB = 4
kg

Sesak (-)
batuk(-)
demam(-)
menyusu baik,
BAK dan BAB baik.

KU: Tampak sakit sedang, compos mentis


Bronkiolitis
TTV :
N 128 x/m
RR 43 x/m
S 37,00C
Wajah: tampak simetris
Mata: CA -/-, SI -/Thorax : SN vesikuler, rh +/+, wh -/-, BJ III reguler, m (-), g (-)
Abd : datar, BU (+) 4x/menit, timpani,
shifting dullness (-), undulasi (-),Nyeri tekan
(-)
Ekst : Atas : Akral hangat +/+,sianosis -/-,
,CRT <2
Bawah: Akral hangat +/+,sianosis
-/-,CRT <2

IVFD 4:1 10 Tpm


Injeksi Cefotaxime 2 x

200 mg
Injeksi Gentamicin 1x

20 mg
Injeksi Paracetamol

3 x 50 mg
Mucous drop 3 x

0.2 cc
Nebulizer

ventolin+
-

fulmicort )
BLPL

15

Tanggal 15 januari 2016


Hematologi
Darah Lengkap
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
LED
MCV
MCH
MCHC
RDW
Hitung Jenis
Basofil
Eosinofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit

Hasil

Nilai Normal

33.20/uL
3.62 juta/uL
10.2 g/dL
29.4%
475 ribu/uL
7 mm/jam
93 fL
31 pg
34 g/dL
14.4%

6,00-17,50
3,10-4,50
9,5-13,5
29.0-41.0
150,00-440,00
0-10
74-108
25-35
30-36
<14

0%
0%
59 %
36 %
5%

0-1
1-5
40-70
20-40
2-8

Tanggal 15 Januari 2016


Rontgen Thorak PA

16

Deskripsi : Tampak bercak infiltrat pada kedua hemithoraks, hilus baik, cor normal (CTR <
50%), tampak jantung menggantung; tulang-tulang intak.

TINJAUAN PUSTAKA
BRONKIOLITIS
I.

Latar Belakang

17

Bronkiolitis adalah penyakit saluran pernapasan bayi yang lazim akibat dari obstruksi
radang saluran pernapasan kecil (bronkiolus). Penyakit ini terjadi selama umur 2 tahun
pertama, dengan insiden puncak pada sekitar umur 6 bulan, dan pada banyak tempat
penyakit ini paling sering menyebabkan rawat inap bayi di rumah sakit. Insidensi
tertinggi selama musim dingin dan awal musim semi. Penyakit ini terjadi secara sporadik
dan endemik.1
II.

Definisi
Bronkiolitis adalah infeksi sistem respiratorik bawah akut yang pada umumnya
disebabkan oleh virus, sehingga menyebabkan gejala obstruksi bronkiolus. Bronkiolitis
ditandai dengan batuk, pilek, panas, distress pernapasan dan ekspiratorik effort (usaha
napas pada saat ekspirasi) seperti adanya wheezing, takipnea, retraksi, dan ditunjang dari
foto dada didapatkan air trapping/hiperinflasi paru.1

III.

Etiologi
Bronkiolitis terutama disebabkan oleh Respiratory Syncitial Virus/RSV (lebih dari 50%)
diikuti oleh virus Parainfluenzae tipe 1,2 dan 3, Influenzae B, dan Adenovirus tipe 1,2,
dan 5. RSV adalah penyebab utama bronkiolitis dan merupakan satu-satunya penyebab
yang dapat menimbulkan epidemi.3 Adenovirus dapat dihubungkan dengan komplikasi
jangka lama, termasuk bronkiolitis obliterans dan sindrom paru hiperlusen unilateral
(sindrom Swyer-James). Kemungkinan kejadian bronkiolitis pada anak dengan ibu
perokok lebih tinggi dibandingkan pada anak dengan ibu yang tidak merokok. 1 Terdapat
pembuktian bahwa kompleks imunologis yang memainkan peranan penting dari
patogenesis dari bronkiolitis dengan RSV. Reaksi alergi tipe 1 dimediasi oleh antibodi Ig
E hal ini dapat dihitung untuk signifikansi dari bronkiolitis. Bayi yang meminum ASI
dengan colustrum tinggi yang didalamnya terdapat Ig A tampaknya lebih relaktif
terproteksi dari bronkiolitis. 2

IV.

Epidemiologi
Epidemi dari RSV berkembang pada iklim dengan musim hujan dan menjelang kemarau,
dan biasanya juga muncul pada musim yang bersamaan dengan menjangkitnya parainfluenza. Terdapat bukti bahwa RSV endemik di daerah sub tropis dari Asia Tenggara
18

sepanjang tahun, dan memuncak antara bulan Oktober sampai Februari dan berkurang
pada bulan Maret sampai Juli. 2 dari sub tipe RSV telah di ketahui, yaitu tipe A dan tipe
B, dengan tipe yang paling sering menyebabkan infeksi yang berat. Tipe B biasanya
mendominasi apabila tipe A tidak dalam musim endemi. Penyakit ini sangat menular,
penularan disebarkan melalui sekresi hidung yang keluar dan sangat menular pada hari
ke 6 sampai hari ke 21 setelah gejala muncul. Waktu inkubasi antara 2-5 hari. Insiden
infeksi RSV sama pada laki-laki dan wanita, namun bronkiolitis berat lebih sering
terjadi pada laki-laki. Infeksi terjadi pada anggota keluarga sebanyak 46%, 98% pada
anak yang dititipkan pada perawatan harian, 42% pada staff rumah sakit dan sebanyak
45% pada bayi yang dirawat di RS tetapi tidak terinfeksi. Infeksi menyebar melalui
muntahan dan penggunaan sarung tangan, sedangkan baju khusus dapat mengurangi
penyebaran infeksi nosokomial. 25% anak umur dibawah 1 tahun dan 13% anak umur
antara 1 sampai 2 tahun akan mendapatkan infeksi saluran napas. Separuh dari angka
tersebut didapatkan gejala bersin yang diasosiasikan dengan infeksi saluran nafas. RSV
dapat ditemukan pada kultur pasien yang dirawat di RS yang menderita infeksi tersebut
dan 80% nya berumur kurang dari 6 bulan. Diantaranya bayi yang sehat 80% dirawat di
RS pada tahun pertama kehidupannya dan sekitar 50% perawatan di rumah sakit adalah
bayi antara umur 1-3 bulan. Kurang dari 5% perawatan di RS pada neonatus,
kemungkinan dengan adanya antibodi yang masih terdapat dari transplasental-maternal.

V.

Faktor Risiko
Salah satu faktor resiko yang terbesar untuk menjadi bronkiolitis pada umur kurang dari
6 bulan, sebab paru-paru dan sistem kekebalan tidak secara penuh berkembang dengan
baik. Anak laki-laki cenderung untuk mendapatkan bronkiolitis lebih sering dibanding
anak-anak perempuan. Faktor lain yang telah dihubungkan dengan peningkatan resiko
bronkiolitis pada anak-anak meliputi:3,5

a.

Tidak pernah diberi air susu ibu sehingga tidak menerima perlindungan kekebalan
dari ibu.
b. Kelahiran prematur.
c. Pajanan ke asap rokok.
19

d. Sering dititipkan pada tempat banyak bayi-bayi contoh tempat penitipan anak, panti
asuhan.
e. Saudara kandung lebih tua dengan kontak infeksi dari sekolah/tempat bermain.

VI.

Klasifikasi
Bronkiolitis dapat diklasifikasikan menjadi :

Bronkiolitis akut

Bronkiolitis obliteran.
Bronkiolitis akut dengan bronkiolitis obliteran dibedakan pada bronkhiolus dan saluran
pernafasan yang lebih kecil terjejas, karena upaya perbaikan menyebabkan sejumlah
besar jaringan granulasi yang menyebabkan obstruksi jalan nafas, lumen jalan nafas
terobliterasi oleh masa noduler granulasi dan fibrosis. Bronkiolitis obliterans merupakan
komplikasi yang lazim pada transplantasi paru.1

VII.

Patofisiologi
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebabkan respons inflamasi akut,
ditandai dengan obstruksi bronkioulus akibat edema, sekresi mukus, timbunan debris
selular/sel-sel mati yang terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi limfosit
peribronkial dan edema submukosa. Karena tahanan aliran udara berbanding terbalik
dengan diameter penampang saluran respiratori, maka sedikit saja penebalan mukosa
akan memberikan hambatan aliran udara yang besar, terutama pada bayi yang memiliki
penampang saluran respiratori kecil. Resistensi pada bronkiolus meningkat selama fase
inspirasi dan ekspirasi, tetapi karena radius saluran respiratori lebih kecil selama
ekspirasi, maka akan menyebabkan air trapping dan hiperinflasi. Atelectasis dapat terjadi
pada saat terjadi obstruksi total dan udara yang terjebak diabsorbsi.4
Proses patologis ini akan mengganggu proses pertukaran gas normal di paru. Penurunan
kerja ventilasi paru akan menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, yang
20

berikutnya akan menyebabkan terjadinya hipoksemia dan kemudian terjadi hipoksia


jaringan. Retensi karbondioksida (hiperkapnea) tidak selalu terjadi, kecuali pada
beberapa pasien. Semakin tinggi laju respiratori, maka semakin rendah tekanan oksigen
arteri. Kerja pernapasan akan meningkat selama end-expiratory lung volume meningkat
dan compliance

paru menurun. Hiperkapnea biasanya baru terjadi bila respirasi

mencapai 60 x/menit.4
Pemulihan sel epitel paru tampak setelah 3 4 hari, tetapi silia akan diganti setelah dua
minggu. Jaringan mati (debris) akan dibersihkan oleh makrofag.4
Disamping pengruh destruktif virus dan respons hospes yang menyertai, belum jelas
peran apa yang dimainkan oleh bakteri yang menumpanginya. Pada kebanyakan bayi
dengan bronkiolitis, dengan atau tanpa pneumonia interstitial, pengalaman klinis
memberi kesan bahwa bakteri memainkan peran yang tidak berarti.1 Berbeda antara
bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentoleransi udem saluran napas dengan lebih
baik. Oleh karena itu, pada anak besar dan orang dewasa jarang terjadi bronkiolitis bila
terkena infeksi oleh virus.

VIII. Manifestasi Klinis


Bronkiolitis Akut
Mula-mula bayi mendapatkan infeksi saluran napas ringan berupa pilek encer, batuk,

21

bersin-bersin, dan kadang-kadang demam. Gejala ini berlangsung beberapa hari,


kemudian timbul distres respirasi yang ditandai oleh batuk paroksimal, mengi,
dispneu, dan iritabel. Timbulnya kesulitan minum terjadi karena napas cepat sehingga
menghalangi proses menelan dan menghisap. Pada kasus ringan, gejala menghilang
1-3 hari. Pada kasus berat, gejalanya dapat timbul beberapa hari dan perjalananya
sangat cepat. Kadang-kadang, bayi tidak demam sama sekali, bahkan hipotermi.
Terjadi distres pernapasan dengan frekuensi napas 60 x/menit, terdapat napas cuping
hidung, penggunaan otot pernapasan tambahan, retraksi, dan kadang-kadang sianosis.
Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya
udara dalam paru). Hepar dan lien bisa teraba karena terdorong diafragma akibat
hiperinflasi paru. Mungkin terdengar ronki pada akhir inspirasi dan awal ekpirasi.
Ekpirasi memanjang dan mengi kadang-kadang terdengar dengan jelas. Gambaran
radiologik biasanya normal atau

hiperinflasi paru, diameter anteroposterior

meningkat pada foto lateral. Kadang-kadang ditemukan bercak-bercak pemadatan


akibat atelektasis sekunder terhAdap obtruksi atau anflamasi alveolus. Leukosit dan
hitung jenis biasanya dalam batas normal. Limfopenia yang sering ditemukan pada
infeksi virus lain jarang ditemukan pada brokiolitis. Pada keadaan yang berat,
gambaran analisis gas darah akan menunjukkan hiperkapnia, karena karbondioksida
tidak dapat dikeluarkan, akibat edem dan hipersekresi bronkiolus.3,4
Bronkiolitis Obliterans
Bronkiolitis obliterans adalah suatu peradangan kronik pada bronkiolitis dimana
sudah terjadi obliterasi pada bronkiolus. Pada mulanya dapat terjadi batuk, kegawatan
pernafasan dan sianosis dan disertai dengan periode perbaikan nyata yang singkat.
Penyakit yang progresif terlihat dengan bertambahnya dispnea, batuk, produksi
sputum, dan mengi. Polanya dapat menyerupai bronkitis, bronkiolitis atau
pneumonia.1 Temuan rontgenografi dada berkisar dari normal sampai pola yang
memberi kesan tuberkulosis milier. Sindrom Swyer James dapat berkembang dengan
dijumpainya hiperlusensi unilateral dan pengurangan corak pembuluh darah paru
pada sekitar 10% kasus. Bronkografi menunjukan obstruksi bronkiolus, dengan
sedikit atau tidak ada bahan kontras yang mencapai perifer paru. Tomografi
terkomputasi (CT) dapat menunjukan bronkiektasia yang terjadi pada banyak
22

penderita. Temuan-temuan uji fungsi paru bervarisasi, yang paling sering adalah
obstruksi berat, namun demikian retreksi atau kombinasi obstruksi dan retraksi dapat
ditemukan. Diagnosis dapat dikonfirmasikan melalui biopsi paru.1

IX.

Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dipengaruhi juga dari faktor usia
penderita dan adanya epidemi RSV di masyarakat. Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1)
Wheezing pertama kali, (2) umur 24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai
dengan gambaran infeksi virus misalnya batuk, pilek, demam, dan (4) menyingkirkan
pneumonia atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan wheezing.3
Obstruksi saluran respiratorik bawah akibat respons inflamasi akut akan menimbulkan
gejala ekspirasi memanjang hingga wheezing. Usaha-usaha pernapasan yang dilakukan
anak untuk mengatasi obstruksi akan menimbulkan napas cuping hidung dan retraksi
interkostal. Selain itu, dapat juga ditemukan ronki dari pemeriksaan auskultasi paru.
Sianosis dapat terjadi dan bila gejala menghebat, dapat terjadi apnea, terutama pada bayi
berusia < 6 minggu.4
Untuk menilai kegawatan penderita dapat dipakai skor Respiratory Distress Assessment
Instrument (RDAI), yang menilai distres napas berdasarkan 2 variabel respirasi yaitu
wheezing dan retraksi. Bila skor > 15 dimasukan kategori berat, bila skor < 3 dimasukkan
dalam kategori ringan.3

Tabel 1. Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI)

23

Masalah terbesar dalam diagnostik bronkiolitis adalah adanya kemungkinan keterlibatan


infeksi bersama dengan bakteri atau klamidia. Bila bronkiolitis ringan atau infiltrat tidak
tampak pada rontgen, ada kemungkinan infeksi komponen dengan bakteri. Pada bayi
usia 1-4 bulan, pneumonitis interstisial dapat disebabkan oleh chlamydia trakhomatis.
Pada keadaan ini mungkin riwayat konjungtivitis, dan penyakit cenderung subakut.
Terdapat keluhan batuk sering tetapi tidak ada mengi dan tanpa demam.6
Diagnosis pasti infeksi VSR didasarkan pada deteksi virus atau antigen virus dalam
sekresi pernafasan. Spesimen harus diletakkan diatas es, dan langsung dibawa ke
laboratorium untuk diproses dengan deteksi antigen atau ditanamkan pada suatu sel yang
rentan. Aspirat mukus dari lubang hidung

posterior (nasal washing)

merupakan

spesimen yang optimal. Pulasan nasofaring atau tenggorok juga dapat diterima. Aspirat
trakea tidak perlu.

X.

Pemeriksaan Penunjang

Darah lengkap
Dengan hitungan jumlah sel darah lengkap jarang bermanfaat karena sel darah putih
pada umumnya di dalam batas normal atau naik dan hitung jenis mungkin normal
atau bergeser kekanan atau kekiri

Urin

24

Berat jenis urin dapat menyediakan informasi bermanfaat mengenai balance cairan
dan kemungkinan dehidrasi.

Serum darah
Kimia serum darah tidaklah terpengaruh secara langsung oleh infeksi/peradangan
tetapi dapat membantu menerka beratnya derajat dehidrasi.

Analisa gas darah


Analisa gas darah mungkin diperlukan pada pasien yang sakitnya berat, terutama
yang menuntut ventilasi mekanik atau buatan.

Radiologi
Foto sinar-X dada cukup diperlukan meliputi foto anterior-posterior dan lateral. dapat
terlihat gambaran (tergantung berat ringannya penyakit):
o

Hiperinflasi dan infiltrat yang tertutup, gambaran ini adalah nonspesifik dan
mungkin juga dapat pada gambaran pasien dengan sakit asma, pneumonia yang
tidak lazim atau karena virus, dan aspirasi cairan.

Ateletaksis fokal

Gambaran udara yang terperangkap

Gambaran sekat diafragma yang rata

Peningkatan gambaran Garis tengah Antero posterior

Peribronchial Cuffing

Foto sinar-X dapat juga mengungkapkan bukti alternatif untuk diagnosa


banding, seperti pneumonia lobaris, gagal jantung kongestif, atau aspirasi benda
asing.

Pemeriksaan lainnya:
o Antigen Test pada nasal wash, dapat mengungkap dengan cepat ( pada umumnya di
dalam 30 min) dan akurat (kepekaan 87-91%, ketegasan 96-100%) dalam
pendeteksian RSV.
o Kultur positif

dengan

direct fluorescent antibody, test hasil percobaan dapat

mengkonfirmasikan infeksi karena RSV .

25

o Nasal washing test harus diperoleh dari anak-anak yang diperlukan opname dan
anak-anak yang berhadapan dengan resiko berat.
o Kultur RSV lebih sedikit sensitif (60%) tetapi spesifitas mencapai 100%.
o Panel karena virus yang berhubungan dengan pernapasan, kultur untuk RSV atau
lain virus, atau pendeteksian dengan direct fluorescent antibody

atau dengan

polymerase chain reaction mungkin bermanfaat untuk pertimbangan yang berikut:

XI.

Sebagai pemeriksaan konfirmasi lainnya

Untuk mencari agen lain infeksius yang lain

Karena tujuan epidemiologik.

Penatalaksanaan dan Pengobatan


Sebagaimana telah dibahas di atas penyebab tersering bronkiolitis adalah virus terutama
RSV, sehingga sebenarnya tidak pada tempatnya pemberian antibiotik pada bronkiolitis. 1
Di negara maju untuk membedakan infeksi karena RSV atau bakteri dapat dilakukan
dengan cepat yaitu uji serologis terhadap RSV dan pemeriksaan CRP. Di Indonesia,
penggunaan uji serologis terhadap RSV belum rutin dikerjakan sehingga kadangkadang sulit dibedakan dengan pneumonia bakteri.7
Bayi umur kurang dari 6 bulan dengan bronkiolitis akut dan distress pernafasan
sebaiknya dirawat di rumah sakit bila ditemukan :

Kadar SpO2 kurang dari 92 %

Tidak dapat mempertahankan hidrasi oral

Respirasi meningkat, atau

Mempunyai riwayat penyakit kardio-respiratori yang kronik.


Saturasi di 40 % biasanya muncul sianosis, gejala extra pulmonal, apnea dan asidosis
merupakan tanda bayi di rawat di ruang rawat intensif. Hipoksemia merupakan tanda
kelaina n laboratorium yang tampak untuk itu diperlukan tambahan oksigen bagi pasien.
Arah utama untuk pengobatan pasien dengan bronkiolitis adalah dengan penggantian
cairan dan suplemen cairan. Pada pasien tersebut biasanya mengalami dehidrasi ringan
dikarenakan berkurangnya asupan cairan dan banyak kehilangan cairan melalui demam
26

dan takipnea. Pengguanan cairan tambahan agar diawasi agar tidak terbentuknya formasi
edema paru. Terapi supportive adalah mendeteksi cepat bila ada apnea dan memberikan
perhatian khusus terhadap demam pada neonatus.7

27

28

Pengobatan

Bronkodilator
Peran bronkodilator masih kontroversial. Penggunaan bronkodilator untuk bronkiolitis
menunjukkan perbaikan skor klinis untuk jangka pendek, tetapi tidak terdapat
perbaikan pada oksigenasi atau angka perawatan di RS. Alasan yang kurang
mendukung pemberian

bronkodilator adalah karena pada usia bayi peran

bronkodilator kurang jelas. Pada keadaan bronkiolitis yang dominan adalah


inflamasinya bukan bronkokonstriksinya sehingga yang harus diberikan adalah
pemberian antiinflamasi bukan bronkodilator.7

Kortikosteroid
Penggunaan

kortikosteroid

sistemik

masih

menjadikan

perdebatan

yang

berkepanjangan. Salah satu penelitian meta-analisis mengambil kesimpulan peran


kortikosteroid sistemik pada bronkiolitis adalah bermanfaat dalam hal perbaikan
klinis, lama rawat, dan lamanya gejala menghilang. Pada penelitian tersebut
dianjurkan pemberian kortikosteroid pada awal penyakit. 8 Penelitian lain menyatakan
bahwa pemberian kortikosteroid pada kasus infeksi respiratorik bawah akut yang
memerlukan ventilator kurang bermanfaat.9 Kortikosteroid yang digunakan adalah
prednisone, prednisolon, metilprednison, hidrokortison dan deksametason. Untuk
penyamaan dilakukan konversi rata-rata dosis per hari serta rata-rata total paparan
obat tersebut dalam ekuivalen mg/KgBB prednisone. Rata-rata dosis perhari berkisar
antara 0,6-6,3 mg/KgBB, dan rata-rata total paparan antara 3,0-18,9 mg/KgBB. Cara
pemberian adalah secara oral, intramuscular, dan intravena. Tidak ada efek merugikan
yang dilaporkan.4

Antibiotik
Virus adalah etiologi utama pada bronkiolitis untuk itu penggunaan rutin dari
antibiotik sebaiknya dihindari untuk penyakit ini. Apabila bayi mengarah ke arah
lebih buruk dan menunjukkan kenaikan dari hitung sel darah putih kedepannya
menunjukkan tanda-tanda sepsis, selanjutnya kultur bakteri dari darah, urine, dan
cairan LCS sebaiknya diambil dan di follow up segera dengan pemberian antibiotik
29

spektrum luas. Penelitian yang dilakukan oleh Kupperman dkk, dari 156 bayi dibawah
umur 24 bulan yang sebelumnya sehat dengan sedikit demam dan menderita
bronkiolitis, menunjukkan bahwa bayi-bayi ini mau tidak mau menderita bakteremia
dan menderita infeksi saluran kemih. Penggunaan rutin dari antibiotik tidak
menunjukkan perbaikan dari bronkiolitis.

Antivirus (Ribavirin)
Ribavirin (1 beta-D-ribafuranosyl-1,2,4-triazole-3-carbox-amide) adalah analog
nukleosida sintetik yang menggabungkan guanosin dan inosin tampaknya di buat
untuk mempengaruhi RNA massenger dan menghambat sintesis protein virus.
Ribavirin mempunyai spektrum luas aktivitas antiviral invitro. Terapi ribavirin untuk
infeksi RSV masih kontroversial dikarenakan masih ada penggunaan aerosol, harga
yang relatif mahal, toxisitas dan efek samping.
Saat ini rekomendasi dari AAP terapi
dipertimbangkan

dengan

ribavirin

aerosol

sedang

untuk bayi-bayi dengan resiko tinggi penderita penyakit karena

RSV:
Diantara mereka dengan komplikasi penyakit jantung kongenital termasuk

a.

didalamnya hipertensi portal dan juga mereka yang menderita displasie


bronkopulmonar, kistik fibrosis dan penyakit paru kronik lainnya.
Mereka yang menderita penyakit yang didasari oleh penyakit imun.
Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan umur kurang dari 6 minggu dengan

b.
c.

penyakit penyerta seperti anomali kongenital multipel atau penyakit neurologi


metabolik.
Kesimpulannya ribavirin merupakan terapi yang aman tapi mahal, efisiensi dan
keefektifannya tidak

tampak jelas menunjukan dalam penelitian. Penggunaan

ribavirin secara rutin pada saat ini kurang direkomendasikan.


Heliox
Heliox (campuran antara helium dengan oxygen) telah digunakan pada pasien asma
akut. telah ada laporan kasus yang menyatakan dan menjelaskan tentang penggunaan
heliox pada bayi laki-laki umur 4 bulan dengan bronkiolitis positif RSV. Heliox
mungkin bermanfaat sebagai tambahan untuk terapi konvensional pada pasien
bronkiolitis dalam keadaan kritis. Bagaimanapun studi klinis dari terapi ini sangat
diperlukan untuk mengetahui keefektifan terapi ini. Hal ini dimungkinkan bahwa
heliox dengan terapi nebulalisasi dapat sangat berguna pada bayi dengan bronkiolitis
30

berat atau pasien terpasang intubasi dan tidak merespon dengan terapi konvensional.
XII.

Pencegahan
Penyebaran dari RSV kemungkinan terjadi karena kontak langsung dengan sekret pasien
yang terinfeksi. Pencegahan penting pada staf rumah sakit seperti perhatian khusus
terhadap

kebersihan

sekret pasien dan kebersihan badan

petugas rumah sakit

tampaknya dapat mengurangi penyebaran RSV di rumah sakit. Saat ini menggunaan RSV
imunoglobulin intra vena pada dosis tinggi (500 - 750 mg/Kg BB) tampaknya dapat
mencegah RSV pada pasien resiko tinggi, sebagai tambahan RSV imunoglobulin
intravena dalam bentuk aerosol dapat memberikan keuntungan pada pasien dengan
bronkiolitis karena RSV. Dalam penelitian baru oleh Rimensberger, dkk, menyimpulkan
bahwa dosis tunggal RSV imunodlobulin intra vena (0,1 gr/Kg BB) tidak menunjukan
keuntungan untuk bronkiolitis akut karena RSV. Saat ini tampaknya ada kerugian yang
ditimbulkan oleh penggunaan human polyclonal RSV- Imunoglobulin antibodi spesifik
pada bayi. Hal ini meliputi penggunaan bulanan secara intra vena antara 2-4 jam.
Insidensi tertinggi di rumah sakit pada kasus bronkiolitis karena RSV terjadi pada bayi
umur 2-5 bulan untuk itu vaksinasi dapat menstimulasi keefektifan setelah bayi berumur
2 bulan.
XIII. Prognosis
Bronkiolitis Akut
Fase penyakit yang paling kritis terjadi selama 48-72 jam pertama sesudah batuk dan
dispnea mulai. Selama masa ini, bayi tampak sangat sakit, serangan apneu terjadi pada
bayi yang sangat muda dan asidosis respiratorik mungkin ada. Sesudah periode klinis,
perbaikan terjadi dengan cepat dan seringkali secara drastis. Penyembuhan selesai
dalam beberapa hari. Angka fatalitas kasus di bawah 1%, kematian dapat merupakan
akibat dari serangan apnea yang lama, asidosis respiratorik berat yang tidak
terkompensasi, atau dehidrasi berat akibat kehilangan penguapan air dan takipnea serta
ketidakmampuan minum cairan. Bayi yang memiliki keadaan-keadaan, misalnya
penyakit jantung kongenital, dysplasia bronkopulmonal, penyakit imunodefisiensi, atau
kistik fibrosis mempunyai angka morbiditas yang lebih besar dan mempunyai sedikit
kenaikan angka mortalitas. Angka mortalitasnya tidak sebesar pada bayi yang beresiko
tinggi seperti di masa yang silam. Perkiraan mortalitas pada bayi beresiko tinggi yang
31

menderita bronkiolitis. VSR ini telah menurun dari 37% pada tahun 1982 menjadi 3,5%
pada tahun 1988. Komplikasi bakteri seperti bronkopneumonia atau otitis media, tidak
lazim terjadi. Kegagalan jantung selama bronkiolitis jarang, kecuali pada anak yang
memiliki dasar penyakit jantung. Ada proporsi yang bermakna bahwa bayi-bayi yang
menderita bronkiolitis mengalami hiperreaktivitas saluran pernafasan selama akhir masa
anak-anak, tetapi hubungan antara kedua hal ini, jika ada belum dimengerti. Kesan bahwa
satu episode bronkiolitis dapat mengakibatkan kelainan saluran pernafasan kecil yang
jangkanya sangat lama memerlukan pengamatan lebih lanjut. Kelainan ini sebagian dapat
dijelaskan melalui penemuan bahwa bayi yang memiliki hantaran pernafasan total rendah
lebih mungkin mengalami bronkiolitis dalam responnya terhadap infeksi virus
pernafasan. Bayi dengan bronkiolitis yang padanya berkembang saluran pernafasan
reaktif kemungkinan besar mempunyai riwayat keluarga asma dan alergi, episode

bronkiolitis akut lama, dan terpajan asap rokok.7


Bronkiolitis Obliterans
Beberapa minggu setelah mulainya gejala-gejala awal, penderita keadaan umumnya
menjelek sampai meninggal, tetapi kebanyakan bertahan hidup, beberapa anak menderita
kecacatan kronis.7

DAFTAR PUSTAKA
1. Orenstein DM. Bronchiolitis. In: Behrman RE, Kliegen RM, Arvin AM, editors. Nelson
Texbook of Pediatrics. 15th. Toronto: WB Saunders Company; 1987. p. 1211-2.
2. Krilov RL. Respiratory Syncytial Virus Infection. In: Medscape. Steele RW, Kumar A,
Lutwick LI, et al, editors. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/97148832

overview#aw2aab6b2b2aa. Accessed on June 21th, 2014.


3. Setiawati L, Asih R, Makmuri MS. Naskah Lengkap Tatalaksana Bronkiolitis. FK Unair
RSU Dr. Soetomo Surabaya. Surabaya: Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak;
2005.
4. Zain MS. Bronkiolitis. In: Buku Ajar Respirologi Anak. Rahajoe NN, Supriyatno B,
Setyanto DB, editors. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2010. p. 333-47.
5. Mayo Clinic Staff. Bronchiolitis. Available at : http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/bronchiolitis/basics/risk-factors/con-20019488. Accessed on June 21th, 2014.
6. McIntosh K, Respiratory Syncytial Virus. In: Nelson Textbook of Pediatrics. Vaughan
VC, et al, editors. 13th ed. Toronto: WB Saunders Company; 1987. p. 1112 - 1114.
7. Van Woensel JBM, van Aalderen WMC, Kimpen JLL. Viral lower respiratory tract
infection in infants and young children. BMJ 2003; 327:36-40.
8. Garrison MM, Christakis DA, Harvey A, Cummings P, Davis RL. Stemic corticosteroids
in infant bronchiolitis: A meta-analysis. Pediatrics 2000; 105:44-55.
9. Van Woensel JBM, van Aalderen WMC, de Weerd W, Jansen NJG, van Gestel JPJ,
Markhost DG, et al. Dexamethasone for treatment of patients mechanically ventilated for
lower respiratory tract infection caused by respiratory syncytial virus. Thorax 2003;
58:383-7.
10. Widagdo. Masalah dan tatalaksana penyakit anak dengan demam. Jakarta : Sagung Seto.
2012.

33