Anda di halaman 1dari 3

Struktur atom

a. Elektron
Elektron mulai diperkenalkan oleh J.J. Thomson. Selain Thomson,
ada 2 ilmuan lain yang meneliti tentag muatan negatif dalam atom,
yaitu Michael Faraday dan R.A. Milikan.
Sekitar 2 abad yang lalu, Michael Faraday (1791-1867) menemukan
tabung sinar katode. Faraday menemukan sinar katode dengan
melewatkan listrik didalam tabung gelas yang tela divakumkan. Sinar
tersebut merupakan radiasi yang dipancarkan oleh terminal negatif
atau katode yang melewati tabung vakum yang melewati tabung
vakum menuju terminal positif atau anode. Sinar katode bergerak
secara garis lurus dan sifat-sifatnya tidak tergantung dari jenis
materialnya. Sinar katode merupakan sinar tak terlihat yang hanya
dapat dideteksi dari cahaya yang dipancarkan oleh material yang
dikenainya. Misalnya dengan cara melapisi dinding tabung dengan ZnS
yang disebut fluoresens. Salah satu sifat yang menarik dari sinar
katode adalah dapat dibelokkan oeh suatu medan listrik atau medan
magnet sebagai mana sifat partikel-partikel bermuatan negatif.
a. Sinar katode merambat lurus dari katode ke anode
b. Sinar anode dapat dibelokkan oleh adanya medan listrik
Pada tahun 1897 dengan menggunakan metode yang sama, J.J.
Thomson (1856-1940) menentukan rasio massa (m) terhadap muatan
listrik (e) untuk sinar katode. Berdasarkan rasio m/e, thomson
menyimpulkan bahwa sinar katode merupakan partikel dasar
bermuatan negatif penyusun suatu atom. Sinar katode merupakan
partikel dasar bermuatan negatif penyusun suatu atom. Sinar katode
kemudian dikenal sebagai elektron , yaitu suatu istilah yang pertama
kali diusulkan oleh George Stoney pada tahun 1874.
Seorang fisikawan Amerika, R.A. Millikan (1868-1953) telah berhasil
menemukan muatan elektron melalui sederetan eksperimen tetesan
minyak mulai tahun 1908 hingga 1917. Pada ekperimennya Millikan
mempelajari pergerakan butiran kecil minyak bermuatan di antara dua
lempengan. Ion-ion dihasilkan dengan memancarkan radiasi sinar-X
dintara lempengan. Ion-ion sebagaian berinteraksi dengan butiran
minyak bermuatan. Millikan menahan pergerakan butiran minyak
bermuatan ini di udara dengan mengatur medan listrik kedua
lempengan dan kemudian mengamatinya dengan mikroskop.
Berdasarkan pemahamannya tentang gaya elektrostatik, Millikan
menemukan muatan e yaitu -1,6022 x 10-19 C. Berdasarkan hasil ini

yang dikombinasikan dengan rasio massa terhadap muatan (m/e),


akhirnya diperoleh massa elektron sebesar 9,1094 x 10-28 g.

b. Proton
Pada saat J.J. Thomson mengaemukakan model atomnya, dia telah
menyatakan gagasan tentang adanya muatan positif dalam atom.
Hanya saja, saat itu Thomsom belum bisa menjelaskan lebih rinci
mengenai muatan positif ini. Gaggasan tentang muatan positif ini
mulai mendapatkan titik terang saat Rutherford, murid Thomson,
meneliti tentang inti atom.
Tetapi jauh sebelum, Rutherford mempelajari inti atom, ahli fisika
Jerman Eugene Goldstein melakukan percobaan tentang muatan
positif dalam atom dengan menggunakan tabung yang menyerupai
tabung sinar katode pada tahun 1886. Tabung ini dikenal sebagai
tabung Crooks. Golstein mengisi tabung crooks dengan gas hidrogen
bertekanan rendah. Kemudian ia menghubungkan kedua elektrodenya
dengan listrik bertekanan tinggi. Ia mengamati bahwa pada bagian
belakang kisi katode akan memancarkan sinar, yang selanjutnya sinar
ini dinamai sinar positif.
Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Rutherford. Hasil
penelitiannya dengan cara penembakan lapisan tipis emas
menggunakan partikel - telah menunjukkan bahwa muatan positif
atom seluruhnya terpusat di inti atom. Setelah mengetahui hal ini,
Rutherford memfokuskan penelitiannya mengenai inti atom. Meskispun
Rutherford telah mengamati adanya muatan positif pada inti atom,
baru pada tahun 1919 ia menemukan partikel positif tersebut dan
selanjutnya dinamakan proton. Proton ini ditemukan ketika Rutherford
mempelajari penyebaran partikel- oleh atom-atom hidrogen dalam
udara. Dalam percobaan yang lain, ia menemukan bahwa proton
memiliki muatan yang sama dengan elektron dan memiliki massa
1,67262 x 10-24 g (sekitar 1,840 kali massa elektron).

c. Netron
Meskipun Rutherford telah berhasil menemukan proton, tetapi dia
masih menemukan kejanggalan dalam struktur atom. Hal ini dilihatnya
pada atom hidrogen dan helium. Hidrogen mempunyai satu proton,
sedangkan helium mempunyai dua proton. Dengan mengabaikan
massa elektron yang sangat kecil, seharusnya perbandingan massa

antara hidrogen dan helium adalah 1 : 2. Namun pada kenyataanya


perbandingan massa antara hidrogen dan helium adalah 1 : 4.
Rutherford kemudian menduga bahwa dalam inti atom terdapat
partikel lain yang bermuatan netral dan memiliki massa yang hampir
sama dengan proton.
Baru pada tahun 1932, dugaan Ruherford menjadi kenyataan, yaitu
setelah James Chadwick (1891-1972) menembak lapisan tipis
berilium dengan partikel-, yang menghasilkan pancaran radiasi energi
yang sangat tinggi sebanding dengan radiasi sinar- keluar dari logam
tersebut. Kemudian Chadwick menamainya netron, karena partikel ini
bermuatan netral dan memiliki massa sedikit lebih besar dari proton.
Dengan penemuan ini misteri perbandingan massa atom helium dan
hidrogen kemudian dapat dijelaskan. Netron mempunyai massa
1,67493 x 10-24 g dan tidak mempunyai muatan.