Anda di halaman 1dari 25

CASE REPORT

SPINAL ANESTESIA PADA OPERASI


APENDEKTOMI

Kepaniteraan Klinik Bagian Anestesiologi


Rumah Sakit Islam Jakarta
Universitas Muhammadiyah Jakarta

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Alamat
No.1
1,Jak Tim
No RM

: Ny. Y
: 39 tahun
: Perempuan
: Karyawan Swasta
: Jl. Palem I
Perumnas
: 31.88.41

ANAMNESIS (Autoanamnesis )

K.U : Nyeri Perut kanan bawah 2 hari


yll

R.P.S. : Pasien datang ke RS dgn


keluhan nyeri perut kanan bawah
sejak 2 hari yll, nyeri tidak dirasakan
menjalar ke punggung, demam (-),
mual muntah (-).

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Menderita keluhan yg sama 1 mgg
yll
- DM disangkal
- Hipertensi disangkal
- Asma disangkal
- Sakit jantung disangkal

Riwayat Operasi
S C tahun 2001 Spinal
anestesi
Kista bartolin GA

KEADAAN PRA BEDAH

KU : Tampak sakit sedang


Kesadaran : komposmentis
TTV :
- TD : 100/80 mmHg
- N : 80 kali/menit
- S : 360 C
- P : 20 kali/menit
Berat badan (BB) : 62 kg

PEMERIKSAAN FISIS

Kepala : Normochepali,
* Mata; konjungtiva anemis (-), sklera
ikterik (-).
* Telinga : tdk ditemukan kelainan
* Hidung : tidak ditemukan kelainan
* Mulut : bibir pucat (-) dan sianosis (-)

Leher : pembesaran KGB (-)


Dada :
* Jantung : Batas jantung dlm bts Normal,
murmur (-), gallop (-)
* Paru : Simetris, retraksi costa (-), sonor
dikedua lapangan paru, vesikuler
normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Perut : simetris, supel, timpani, Bising usus
(+)
normal.
Genitalia : t.a.k.
Ekstremitas : Bentuk normal, pergerakan
normal.

HASIL LABORATORIUM tgl 10 Mei09

laboratorium darah :
- Hb
: 12,2 g % (10.7 14.7)
- Lekosit : 10.000 /mm3 (5000 14500)
- trombosit : 351 ribu/mm3 (200 400)

Pembekuan :
- Masa perdarahan : 1.30 (1-3)
- Masa pembekuan : 3.00 (4-6)
- Masa protombin : 11 detik
- APTT : 34 detik

Hasil R. Foto Thoraks (tgl 1005-09)

Kesan :
COR tidak membesar
Pulmo tampak normal

Diagnosis Pre Bedah


Apendicitis kronis

Jenis Operasi
Apendectomy

Diagnosis Post operasi


Apendicitis

Status Fisis : ASA (1)

Premedikasi : R/ Sedacum inj. 20


mg efek
: baik.

Jenis Anestesia : RA

Teknik anestesia : Spinal anestesi,


posisi duduk, L3-4 pencan 27 G , 1 x
tusuk dgn LCS (+), cairan jernih

Obat-obatan Anestesi umum yg digunakan :

Induksi :
* sevoflurance 3%
Relaksan non depol : atracurium 10 mg
Rumatan

O2 : N2O 1 : 1 (L/menit)

Analgetika Post Bedah : Novalgin 300 mg


Lain-lain :
* Tramadol 100 mg drip
* Cedantron 4 mg
* kalnex 250 mg
* Dycinon 250 mg

Jumlah Cairan :
KAEN I B : 200 ml

Jumlah Perdarahan : 50 ml

PASCA ANESTESIA Pemulihan


Temperatur : tidak diperiksa
Pernafasan : 16 kali/menit
Nadi : 100 kali/menit
Tekanan Darah : Tidak dilakukan
pemeriksaan
Saturasi O2 : 100 %

Pasien muntah saat sadar sehingga


kepala di miringkan, lalu di suction.

SKOR ALDRATTE
09.20

09.30

ANALISIS KASUS Tinjauan


Kepustakaan

Anak, 6 tahun rencana operasi


Adeno-tonsilektomi, dengan ASA II
dengan riwayat bronkhitis kronik.

Dilakukan anestesia umum, teknik


anestesia dengan orotracheal tube
dan ventilasi kendali.

Lama pembedahan : 45 menit.

FENTANYL

Golongan Opiad (morfin, petidin,sufentanil ) 75-125 kali


lebih poten dari morpin
Sebagai analgesia dan anestesia
Tidak mengganggu kardiovaskuler >> digunakan induksi
pasien dg kelainan jantung
Dosis induksi IV : 5 40 g. Dosis Analgesia IV/IM 25 100 g,
(0,7 2 g/kg BB)
Dosis rumatan 0,3-1 g /kg BB
Fentanyl + droperidol neuroleptanalgesia
Efek samping :
- KV : bradikardi, hipotensi
- Pulmoner : Depresi pernapasan, apnoe
- GI : mual, emesis, pengosongan lambung terteunda, spasme
tr.biliaris
- Mata : miosis
- Muskuloskeletal : kekakuan otot

SEVOFLURAN
Cairan jernih, tidak berwarna, bau tidak
merangsang
Farmakodinamik
Pernapasan
Tidak menyebabkan batuk; induksinya cepat
Eliminasi cepat depresi pernapasan post
operatif < Halotan
Terjadi bronkodilatasi & relaksasi otot polos
bronkiolus yg konstriksi dgn histamin atau
asetilkolin

SEVOFLURAN

Anestesia kuat, analgesia dan relaksasi otot


baik

Kardiovaskuler

Heart Rate lebih lambat akibat depresi aktifitas


simpatik tanpa perubahan aktifitas parasimpatik dan
menurun atau menghilangnya respon simpatis terhadap
rangsang nyeri.
Menyebabkan depresi (sama seperti Halotan)
Kontraktilitas miokard (lebih baik dibandingkan halotan)
Dilatator arteri koroner
menurunkan cadangan aliran koroner (lebih kurang
dibandingkan isofluran & halotan)
Aliran darah miokard lebih besar & resistensi aliran
lebih kurang dibandingkan halotan

SSP
Tidak menyebabkan peningkatan aliran
darah serebral pd bbrp binatang coba
akibat penurunan Tek Darah arteri sisstemik
yg menutupi efek vasodilatasi serebral
Neuromuskuler
Pelumpuh otot yg baik
Derajat relaksasi yg dihasilkan cukup untuk
memudahkan intubasi trachea tanpa
fasilitasi oleh pelumpuh otot

N2O

Nama lain : gas gelak, laughing gas, nitrous oxide,


dinitrogen monoksida

NH4NO3 ---> 2 H2O + N2O (dipanaskan 2400 C)

pemberian N2O harus disertai O2 minimal 25 %.

bersifat anastetik lemah tetapi analgesik kuat

jarang digunakan scr tunggal, tapi di kombinasikan


dengan cairan anastetik lainnya spt halotan dsb.

pd akhir anastesi stlh N2O dihentikan berikan O2 100


% selama 5 10 untuk menghindari tjdnya hipoksia
difusi.

ATRACURIUM

Merupakan jenis pelumpuh otot


golongan non depol
Berikatan dengan reseptor nikotinikkolinergik, tetapi tidak menyebabkan
depolarisasi. Hanya menghalangi
asetil-kolin menempatinya sehingga
asetil-kolin tidak dapat bekerja
Dosis awal : 0,5mg/kgBB
Dosis rumatan :0,1mg/kgBB
Durasi 20-40 menit

Perawatan Pasca Bedah

Ekstubasi dilakukan jika apabila aktivitas


refleks telah kembali, diberikan O2 hingga
sadar penuh
Posisi : Post Tonsilectomi Position dengan
sedikit trendelenburg
Selalu menyediakan alat penghisap / suction
Monitoring tanda vital dan perdarahan
Jika sadar dan tidak muntah boleh minum,
air es dapat mengurangi sakit
Analgetik (non-narkotik)

DAFTAR PUSTAKA
Latief, Said A. Dkk Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi
kedua. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 2007.
Muhiman, Muhardi. Dkk Anestesiologi. Bagian Anestesiologi
dan Terapi Intensif. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta, 1989.
Lunn, John N. Catatan Kuliah Anestesi, Edisi keempat.
Penerbit Buku Kedokteran. EGC. 2005.
Dobson, Michael B. Penuntun Praktis Anestesi. World
Health Organization. Penerbit Buku Kedokteran. ECG
Omoigui, sota. Buku saku Obat-obatan Anestesia, edisi II.
Penerbit buku Kedokteran, Jakarta EGC 1997.