Anda di halaman 1dari 3

Gejala

Seraka adalah gejala utama karsinoma laring, merupakan gejala paling dini
tumor pita suara. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring.
Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar celah glotik, besar pita suara,
ketajaman tepi pita suara, kecepatan getaran dan ketegangan pita suara. Pada
tumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan oleh
ketidak teraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glotik, terserangnya
otot-otot vokalis, sendi dan ligamen krikoaritenoid, dan kadang-kadang
menyerang saraf. Adanya tumor di pita suara akan menggau gerak maupun
getaran kedua pita suara tersebut. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi
kasar, mengganggu, sumbang dan nadanya lebih rendah dari biasa. Kadangkadang bias afonia karena nyeri, sumbatan jalan napas, atau paralisis komplit.
Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak tumor.
Apabila tumor tumbuh pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini dan
menetap. Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikel laring, di bagian bawah plika
ventrikularis, atau di batas inferior pita suara, serak akan timbul kemudian. Pada
tumor supraglotis dan subglotis, serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak
timbul sama sekali. Pada kelompok ini, gejala pertama tidak khas dan subjektif,
seperti perasaan tidak nyaman, rasa ada yang mengganjal di tenggorokan.
Tumor hipofaring jarang menimbulkan serak, kecuali tumornya eksentif. Fiksasi
dan nyeri menimbulkan suara bergumam (hot potato voice).
Dispnea dan stridor. Dispnea dan stridor adalah gejala yang disebabkan oleh
sumbatan jalan nafas dan dapat timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini
disebabkan oleh gangguan jalan napas oleh masa tumor, penumpukan kotoran
atau secret, maupun oleh fiksasi pita suara. Pada tumor supraglotik atau
transglotik terdapat kedua gejala tersebut. Sumbatan yang terjadi secara
perlahan-lahan dapat dikompensasi oleh pasien. Pada umumnya dispnea dan
stridor adalah tanda prognosis yang kurang baik.
Nyeri tenggorok. Keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa
nyeri yang tajam. Disfagia dalah cirri khas tumor pangkal lidah, supraglotik,
hipofaring dan sinus piriformis. Keluahan ini merupakan keluhan yang paling
sering pada tumor ganas postkrikoid. Rasa nyeri ketika menelan (odinofagi)
menandakan adanya tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra laring.
Batuk dan hemoptisis. Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik,
biasanya timbul dengan tertekannya hipofaring disertai secret yang mengalir
kedalam laring. Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan tumor
supraglotik.
Gejala lain berupa nyeri alih ketelinga ipsilateral, halitosis, batuk, hemoptisis dan
penurunan berat badan menandakan perluasan tumor keluar laring atau
metastase jauh.
Pembesaran kelenjar getah bening leher dipertimbangkan sebagai metastasis
tumor ganas yang menunjukkan tumor pada stadium lanjut.

Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi
tumor yang menyerang kartilago tiroid dan periondrium.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pmeriksaan klinis.
Pemeriksaan laring dapat dilakukan dengan cara tidak langsung dengan
menggunakan kaca laring atau langsung dengan menggunakan laringoskop.
Pemeriksaan ini untuk menilai lokasi tumor, penyebaran tumor, kemudian
dilakukan biopsy untuk pemeriksaan patologi anatomik. Pemeriksaan penunjang
yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah, juga pemeriksaan
radiologi. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya
proses spesifik dan metastasis diparu. CT Scan laring dapat memperlihatkan
keadaan tumor dan laring lebih seksama, misalnya penjalaran tumor pada tulang
rawan tiroid dan daerah pre epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening
leher. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomic dari
bahan biopsi laring dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah
bening dileher. Dari hasil patologi anatomic yang terbanyak adalah karsinoma sel
skuamosa.

Klasifikasi Tumor Ganas Laring (AJCC dan UICC 1988)


Tumor Primer (T)
Supraglotis
Tis

karsinoma innsitu

T1
Tumor terdapat pada satu sisi suara/pita suara palsu (gerakan masih
banyak)
T2

Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan glotis masih
bisa bergerak (tidak terfiksir)

T3

Tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas kedaerah
krikoid bagian belakang, dinding medial dari sinus piriformis dan kearah
rongga preepiglotis

T4

Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi orofaring jaringan lunak


pada leher atau sudah merusak tulang rawan tiroid

Glotis
Tis

Karsinoma insitu

T1

Tumor terbatas pada daerah subglotis.

T2

Tumor sudah meluas kepita suara, pita suara masih dapat bergerak atau
sudah terfiksasi

T3

Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksasi

T4

Tumor yang luas dengan dekstruksi tulang rawan atau perluasan ke luar
laring atau dua-duanya.

Penjalaran ke kelenjar limfa (N)


Nx

Kelenjar limfa tidaks teraba

N0

Secara klinis kelenjar tidak teraba

N1

Secara klinis teraba satu kelenjar limfa dengan ukuran diameter 3 cm


homolateral.

N2

Teraba kelenjar limfa tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter 3-6 cm.

N2a

Satu kelenjar limfa ipsilateral, diameter lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari
6 cm.

N2b

Multipel kelenjar limfa ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.

N2c

Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.

N3

Metastasis kelenjar limfa lebih dari 6 cm

Metastasis Jauh (M)


Mx

Tidak terdapat/terdeteksi

M0

Tidak ada metastasis jauh

M1

Terdapat metastasis jauh

STAGING (STADIUM)
ST1 T1 N0 M0
STII T2 N0 M0
STIII T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0
STIV T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2/T3/T4 N1/N2/N3 M1