Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

TUMOR PHYLLOIDES

Oleh:
Andi Nurul Inayah Saiful
C 111 07 107
Konsulen:
Prof. Dr. Chairuddin Rasjad, MD, Ph.D

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU


BEDAH SUBDIVISI BEDAH ORTOPEDI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

TUMOR PHYLLOIDES

I. PENDAHULUAN
Tumor phyllodes atau cystosarcoma phyllodes berasal dari kata Yunani
sarcoma yang berarti tumor berdaging dan phyllo yang berarti daun. Tumor ini
jarang terjadi, biasanya tumor jinak yang terjadi hampir hanya pada payudara wanita.
Tumor ini biasanya besar dan cepat berkembang. Tumor ini merupakan sebuah tipe
neoplasma jaringan ikat yang timbul dari stroma intralobular payudara. Tumor ini
terhitung kira-kira 1% dari semua lesi jinak dan ganas payudara. 1,2
Johann Muller yang pertama kali memberikan nama cystosarcoma
phyllodes pada tahun 1838, karena tumor ini seringkali kistik dan secara klasik
memiliki proyeksi seperti daun ke dalamnya. Tumor ini dapat bersifat jinak namun
juga bisa bersifat ganas. 2
II. ANATOMI
Baik pria maupun wanita memiliki payudara yang hanya berkembang dengan
baik pada wanita. Kelenjar mammae pada payudara merupakan tambahan terhadap
alat reproduksi wanita tetapi mengalami rudimenter dan tidak berfungsi pada pria. 3,4
Biasanya, lemak yang ada pada payudara pria tidak berbeda dengan yang ada
pada jaringan subkutan dari bagian tubuh manapun, dan sistem glandular tidak
berkembang normal. Kelenjar mamae pada wanita berada dalam jaringan subkutan di
atas muskulus pectoralis mayor dan minor. Jumlah lemak yang ada di sekitar jaringan
kelenjar menentukan ukuran mammae non-laktasi. Tonjolan pada mammae disebut
papilla mammae (puting, nipple), yang dikelilingi oleh area berpigmen yang disebut
areola. 3,4,5
Secara kasar, mammae terletak antara tepi lateral sternum yang membentang
hingga linea mid aksillaris dan secara vertikal dari costa II hingga costa VI. Dua per
tiga dari dasar mammae terbentuk dari fascia pectoralis yang melapisi pectoralis
mayor, sedangkan sepertiga lainnya pada fascia yang menutupi musculus serratus

anterior. Antara jaringan mammae dengan fascia pectoralis terdapat jaringan ikat
longgar atau potential space, yaitu spatium retromammae. Bidang ini, mengandung
lemak dalam jumlah kecil, memungkinkan pergerakan mammae yang terbatas dari
fascia pectoral. 4,5
Sebagian kecil dari kelenjar mamma meluas dari tepi inferolateral pectoralis
mayor menuju fossa axillaris, membentuk processus axillaris atau ekor Spence (tail
of Spence). Beberapa wanita dapat merasakan bagian ini (khususnya jika membesar
dalam siklus menstruasi) dan menjadi khawatir bahwa bagian ini adalah tumor atau
kelenjar limfe yang membesar. 4
Kelenjar mammae melekat kuat pada dermis, khusunya oleh retinacula cutis
atau ligamentum suspensorium (ligament of Cooper). Penebalan ini, merupakan
jaringan penyambung, yang terutama berkembang

baik

pada bagian

superior

kelenjar, yang membantu menyokong lobuli glandula mammae. 4

Gambar 1. Jaringan mamae pada aspectus anterior dan medial 4

Selama pubertas, payudara normalnya membesar akibat perkembangan


kelenjar dan terutama peningkatan deposisi lemak. Areola dan papilla juga membesar.
Ukuran dan bentuk mammae ditentukan oleh genetik, etnik, dan faktor diet. Duktus

lactiferus membentuk 15-20 lobulus jaringan glandular, yang menyusun parenkim


glandula mammae. Setiap glandula bermuara melalui duktus lactiferus, yang berakhir
pada papilla mammae. Di bagian proksimal duktus mengalami dilatasi yang disebut
sinus lactiferus, yang menjadi tempat akumulasi air susu ibu pada wanita menyusui. 4
Areola mengandung sejumlah kelenjar sebasea, yang membesar selama
kehamilan dan mensekresikan bahan berminyak yang berfungsi sebagai lubrikan
bagi areola yang akan mengalami iritasi saat menyusui. Papilla merupakan tonjolan
berbentuk konus dan silindris di tengah areola. Papilla tidak mengandung lemak,
silia, atau kelenjar keringat. Ujung papilla berfisura dimana duktus lactiferus berakhir.
4

Papilla kebanyakan tersusun oleh serat otot polos sirkular yang mengkompresi
duktus lactiferus selama menyusui dan mengereksikan papilla selama stimulasi saat
menyusui. Oleh karena kelenjar mammae adalah kelenjar keringat yang mengalami
modifikasi, sehingga tidak memiliki pelapis atau kapsul khusus. Alveol pensekresi
susu tertata seperti gerombolan buah anggur. 4
Pada kebanyakan wanita, mammae agak sedikit membesar selama periode
menstruasi akibat peningkatan pelepasan hormon gonadotropik follicle stimulating
hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). 3
Untuk lokalisasi dan deskripsi anatomis dari tumor dan kista, permukaan
mammae terbagi menjadi empat kuadran sebagaimana ditunjukkan pada gambar di
bawah ini: 4

Gambar 2. Pembagian kuadran pada mammae 4

Arteri yang memperdarahi mammae berasal dari: 4


1. Ramus perforantes mammaria media dan ramus intercostal anterior dari arteri
thoracica interna, yang berasal dari arteri subclavia.
2. Arteri thoracica interna dan arteri thoracoacromial, cabang arteri axillaris.
3. Arteri intercostal posterior cabang aorta torakal, pada spatium intercostal II, III,
dan IV.
Vena-vena yang ada pada mammae terutama bermuara pada vena axillaris, tetapi ada
pula yang bermuara pada vena thoracia interna. 4

Gambar 3. Vaskularisasi glandula mamae 4

Sistem limfatika pada mammae sangatlah penting karena peranannya dalam


metastasis sel kanker. Pembuluh limfe lewat dari papilla, areola, dan lobulus kelenjar
menuju plexus limfatikus subareolar. Dari sini plexus: 4
1. Kebanyakan pembuluh limfe (>75%), khususnya dari kuadran lateral mammae
didrainasi ke limfonodus axillaris, awalnya ke noduli anterior atau noduli
pectoralis anterior untuk sebagian besar. Namun, beberapa pembuluh limfe
bermuara langsung ke nodi axillaris lainnya atau bahkan ke nodi interpectoral,
dectopectoral, supraclavicular, atau cervical inferior profunda. 4
2. Kebanyakan dari pembuluh limfe yang tersisa, khusunya dari kuadran medial,
drainasi ke limfonodus parasternalis atau ke sebelah mammae, dimana pembuluh
limfe dari kuadran inferior dapat melalui bagian yang lebih profunda ke
limfonodus abdominal (limfonodus inferior frenicus subdiafragmatika). 4

Gambar 4. Sistem limfatika mammae 4

Pembuluh limfe dari kulit mammae, kecuali papilla dan areola, bermuara pada
limfonodus axillaris ipsilateral, cervicalis inferior profunda, dan infraclavicular serta
pada kedua sisi limfonodus parasternalis. Limfonodus axillaris bermuara ke
limfonodus clavicularis (infraclavicularis dan supraclavicualris) lalu menuju ke
trunkus limfatikus subclavia, yang juga menjadi muara pembuluh limfe tungkai atas.
Limfonodis parasternalis bermuara ke trunkus broncho mediastinal, yang juga
menjadi muara dari pembuluh limfe viscera thorakal. Akhir dari trunkus limfatikus ini
bermacam-macam, biasanya kedua trunkus ini menyatu satu sama lain dan dengan
trunkus limfatikus jugular, yang menjadi muara kepala dan leher untuk membentuk
duktus limfatikus dextra yang pendek pada sisi kanan atau masuk pada akhir duktus
thoracicus pada sisi kiri. Namun, pada kebanyakan kasus, trunki ini bermuara
langsung ke sambungan antara vena subclavia dan jugular interna, yang akan
membentuk vena brachicephalica. Pada kasus lainnya, trunki tersebut bermuara pada
kedua vena tersebut. 4
Persarafan mammae berasal dari ramus cutaneus anterior dan lateral dari
nervus intercostalis IV-VI. Rami communicantes menguhubungkan setiap ramus

anterior dengan truncus simpaticus. Cabang-cabang dari nervus intercostalis berjalan


melalui fascia profunda yang menutupi pectoralis mayor untuk mencapai kulit,
termasuk jaringan subkutan mammae. Dengan demikian, nervus intercostalis ini
membawa serat sensoris ke kulit dan serat simpatis ke pembuluh darah dan otot polos
pada kulit dan papilla mammae. 4

III. EPIDEMIOLOGI
Tidak ada perbedaan frekuensi terjadinya tumor phylloides antara penderita
di Amerika Serikat dan di negara-negara lain, dengan demikian ras tidak
mempengaruhi frekuensi kejadian. Tumor phylloides terhitung 1% dari semua
neoplasma mammae. Beberapa laporan menyatakan bahwa sekitar 85-90% tumor
phylloides bersifat jinak dan diperkirakan 10-15% yang bersifat malignan. Tumor ini
sangat jarang mengenai pria dan dapat terjadi pada usia berapa pun, namun rata-rata
pada dekade kelima. 6

IV. MANIFESTASI KLINIS


Tumor ini biasanya menyerang wanita dewasa, dan jarang pada remaja. Pasien
biasanya datang dengan keluhan massa padat, mobile, tidak nyeri, dan berbatas tegas.
Tumor ini membesar dengan cepat hanya dalam beberapa minggu. Tumor jarang
menginvasi kompleks papilla-areola atau menyebabkan ulkus pada kulit. Tumor ini
biasanya mengenai usia 40-50an, sebelum menopause. 4,6
Pasien dengan metastases dapat menunjukkan gejala dispneu, fatigue, dan
nyeri tulang. Meskipun tumor jinak tidak bermetastasis, tetapi tumor ini cenderung
bertumbuh secara agresif dan menimbulkan rekurensi lokal. Sama halnya dengan
sarkoma lainnya, tumor phylloides malignan bermetastasis via hematogen.
Karakteristik tumor phylloides malignan antara lain tumor terlihat cenderung lebih
agresif dan bermetastasis. Paru-paru menjadi tempat metastasis tersering, diikuti

tulang, jantung, dan hepar. Gejala-gejala metastasis dapat timbul dalam beberapa
bulan hingga 12 tahun setelah terapi awal.

1,2

V. DIAGNOSIS
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis
Pasien dapat mengeluhkan gejala-gejala primer maupun gejala metastasis
sebagaimana yang tertulis dalam pembahasan mengenai manifestasi klinis. Perlu
juga ditanyakan riwayat penyakit sebelumya dan riwayat penyakit pada keluarga
yang ditekankan pada kanker-kanker ginekologis. Cari tahu riwayat sistem
reproduksi, misalnya usia menarke, usia persalinan pertama, jumlah kehamilan,
anak, dan keguguran, onset menopause, serta riwayat penggunaan agen hormonal.
Pada pemeriksaan klinis, didapatkan tumor yang dapat dipalpasi dengan
karakteristik padat, berbatas tegas, mobile, dan tidak nyeri. Perhatikan kulit di
atasnya dan ada tidaknya sekret dari papilla mamma, dan perubahan pada struktur
papilla. Bila dicurigai malignan, dapat dicari tahu adanya tanda-tanda metastasis
lokal (pembesaran kelenjar) dan sistemik (misalnya efusi pleura). 1,2

Gambar 5. Gambaran klinis tumor phylloides 2

2. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak ada penanda tumor spesifik atau tes darah lain yang dapat digunakan
untuk mendiagnosis tumor phylloides. 2
3. Pemeriksaan Radiologis
Meskipun mammografi dan ultrasonografi pada umumnya penting untuk
mendiagnosis lesi mamma, tetapi tidak dapat dipercaya untuk membedakan jenis
jinak dari malignan atau dengan jenis tumor lain seperti fibroadenoma, sehingga
temuan radiologis tidak menjadi alat diagnostik definitif. 2

Gambar 6. Gambaran radiologis tumor phylloides 2

4. Pemeriksaan Sitologi dan Biopsi


Aspirasi jarum halus (fine needle aspiration) untuk pemeriksaan sitologis
biasanya tidak adekuat untuk mendiagnosis. Meskipun core biopsy lebih baik, tetapi
tetap dapat terjadi error sampling dan kesulitan dalam membedakannya dengan
fibroadenoma. Biopsi dengan eksisi terbuka untuk lesi yang lebih kecil atau biopsi
insisi untuk lesi yang lebih besar merupakan metode definitif dalam mendiagnosis
tumor phylloides. 2

10

5. Pemeriksaan Histologis

Gambar 7. Biopsi jarum halus 7

Semua tumor phylloides mengandung komponen stroma yang dapat


sangat

bervariasi

tampakan

histologisnya.

Umumnya,

tumor

phylloides

menunjukkan peningkatan jumlah fibroblast fusiformis regular dalam stroma.


Atipik seluler tingkat tinggi, disertai peningkatan selularitas stria dan peningkatan
aktivitas mitosis hampir selalu ditemukan pada bentuk malignan dari sistosarkoma
phylloides.2
Berdasarkan ultrastrukturalnya, nukleoli tumor phylloides jinak dan
malignan menunjukkan nukleolonema yang berlubang-lubang besar dan banyak
sisterna dalam retikulum endoplasmanya. 2,9

Gambar 8a. Stroma hiperseluler dengan epitel

b.Stroma tampak atipik, inti sangat pleomorfik

11

membentuk struktur intrakanalikuler9

hiperkromatik nukleoli prominent9

c. Epitel duktus tanpa tanda-tanda

d. ( High power) Mitosis sel (tanda panah)9

keganasan9

Tumor phyllodes berasal dari stroma intralobular, secara mikroskopik


mempunyai dua gambaran yang khas yaitu epitel dan stroma. Epitel biasanya tampak
proliferatif sehingga memberi gambaran berlapis-lapis kadang-kadang juga tampak
metaplasia apokrin dan metaplasia skuamous. Stromanya hiperselular dan dapat
berbeda-beda di dalam tumor yang sama. Komponen struma inilah yang akan
menentukan apakah tumor phyllodes jinak atau ganas. Dapat dilihat pada gambar.
Kadang-kadang gambaran stroma pada tumor phyllodes sukar dibedakan dengan
gambaran stroma pada fibrosarkoma. Untuk membedakannya pada tumor phyllodes
ganas ditemukan komponen epiteial duktus sedangkan pada fibrosarkoma tidak ada.
Untuk memastikan adanya sel-sel epitel dapat dilakukan dengan pewarnaa EMA
(Epithelial Membrane Antigen) dan cytokeratin. 9

VI. KLASIFIKASI
Tumor phylloides adalah tumor fibroepitelial yang terdiri dari komponen
epitel dan stroma selular. Tumor ini dapat dianggap jinak, sedang, atau malignan
bergantung pada gambaran histologis antara lain selularitas stromal, infiltrasi pada
tepi tumor, dan aktivitas mitotik. Semua bentuk tumor phylloides dianggap sebagai
kanker mammae, bahkan bentuk jinaknya sekalipun dianggap berpotensi menjadi
malginan. 3,7

12

KLASIFIKASI BERDASARKAN WHO 2003 9

VII. STAGING
Staging tumor phylloides khususnya tipe malignan menggunakan staging
yang digunakan untuk kanker payudara secara umum yaitu menurut American Joint
Committee on Cancer (AJCC) dan klasifikasi patologisnya sebagaimana dalam tabel
di bawah.10
Tabel 1. Staging Kanker Mammae (American Joint Committee on Cancer) 10,11
Tumor Primer (T)
Tx

Tumor primer tidak dapat dinilai

T0

Tidak ada bukti tumor primer

Tis

Carcinoma in situ; karsinoma intraduktal, karsinoma lobular in situ, atau


Pagets Disease yang tidak berhubungan dengan tumor. Catatan: Pagets
Disease yang berhubungan dengan tumor diklasifikasikan berdasarkan ukuran
tumor.

T1

Tumor berukuran 2 cm dalam dimensi terbesarnya

T1mic

Mikroinvasi sebesar 1 cm dalam dimensi terbesarnya

T1a

Tumor >0.1-0.5 cm dalam dimensi terbesarnya

T1b

Tumor >0.5-2.0 cm dalam dimensi terbesarnya

T2

Tumor >2.0-5.0 cm dalam dimensi terbesarnya

T3

Tumor >5.0 cm dalam dimensi terbesarnya

T4

Tumor berukuran berapa pun dengan perluasan langsung ke dinding dada (a)

13

atau kulit (b)


T4a

Perluasan langsung ke dinding dada

T4b

Edema (termasuk peau d orange) atau ulserasi kulit mammae atau nodul
satelit yang terbatas pada mammae yang terkena

T4c

Terdapat keduanya (T4a dan T4b)

T4d

Karsinoma inflamatoris

Limfonodus Regional (N) 10,11


Nx

Limfonodus regional tidak dapat dinilai (misalnya sudah pernah diangkat).

N0

Tidak ada keterlibatan limfonodus regional

N1

Metastasis ke limfonodus (nodi) aksillaris ipsilateral yang mobile

N2a

Metastasis ke limfonodus (nodi) aksillaris ipsilateral yang terfiksasi

N2b

Metastasis ke nodus (nodi) mammaria internal yang tampak secara klinis a


tanp adanya bukti klinsi limfonodus aksillaris ipsilateral

N3a

Metastasis ke limfonodus (nodi) infraklavikular ipsilateral

N3b

Metastasis ke limfonodus (nodi) mammaria internal dan aksillaris ipsilateral

N3c

Metastasis ke limfonodus (nodi) supraklavikular ipsilateral

Penampakan klinis didefinisikan sebagai terdeteksi oleh pemeriksaan radiologis (termasuk


limfoskintigrafi) atau melalui pemeriksaan klinis atau jelas terlihat dalam evaluasi
histopatologis

Tabel 2. Klasifikasi Patologis (pN)10,11


pNx

Limfonodus regional tidak dapat dinilai (tidak dapat diangkat untuk studi
patologis atau sudah diangkat sebelumnya)

pN0 (i-)

Tidak ada metastasis limfonodus secara histologis, tidak ada pemeriksaan


tambahan untuk sel tumor terisolasi (ITC)

pN0 (i+)

Tidak ada metastasis limfonodus secara histologis, IHC negatif

14

pN0

Tidak ada metastasis limfonodus secara histologis, IHC positif, tidak ada
kluster IHC >0.2 mm

pN0 (mol-)

Tidak ada metastasis limfonodus secara histologis, temuan molekuler (RTPCR) negatif

pN0 (mol+)

Tidak ada metastasis limfonodus secara histologis, temuan molekuler (RTPCR) positif

pN1

Metastasis pada 1-3 limfonodus aksillaris dan/atau limfonodus mammaria


internal, disertai temuan mikroskopik dengan bantuan diseksi limfonodus
tetapi tidak tampak secara klinis a

pN1mi

Hanya mikrometastasis (>0.2 mm, <2.0 mm)

pN1a

Metastasis pada 1-3 limfonodus aksillaris

pN1b

Metastasis pada limfonodus mammaria internal, disertai temuan mikroskopik


dengan bantuan diseksi limfonodus tetapi tidak tampak secara klinis a

pN1c

Metastasis pada 1-3 limfonodus aksillaris dan pada limfonodus mammaria


internal, disertai temuan mikroskopik dengan bantuan diseksi limfonodus
tetapi tidak tampak secara klinis a

pN2

Metastasis pada 4-9 limfonodus aksillaris atau pada limfonodus mammaria


internal yang tampak secara klinis b tanpa disertai metastasis pada limfonodus
aksillaris

pN2a

Metastasis pada 4-9 limfonodus aksillaris (sekurang-kurangnya satu tumor


berukuran >2.0mm)

pN2b

Metastasis pada limfonodus mammaria internal yang tampak secara klinis b


tanpa disertai metastasis pada limfonodus aksillaris

pN3

Metastasis pada 10 atau lebih limfonodus aksillaris atau pada limfonodus


infraklavikularis, atau limfonodus mammaria internal ipsilateral yang tampak
secara klinisb disertai satu atau lebih metastasis pada limfonodus aksillaris;
atau pada lebih dari 3 limfonodus aksillaris disertai metastasis mikroskopik
secara klinis pada limfonodus mammaria internal atau pada limfonodus
supraklavikular ipsilateral.

pN3a

Metastasis pada 10 atau lebih limfonodus aksillaris (sekurang-kurangnya satu


tumor berukuran >2.0mm), atau metastasis pada limfonodus infraklavikular

15

pN3b

Metastasis pada limfonodus mammaria internal ipsilateral yang tampak secara


klinisb- disertai satu atau lebih metastasis pada limfonodus aksillaris; atau
pada lebih dari 3 limfonodus aksillaris dan pada limfonodus mammaria
internal disertai temuan mikroskopik dengan bantuan diseksi limfonodus
tetapi tidak tampak secara klinis a

pN3c

Metastasis pada limfonodus supraklavikular ipsilateral -

Metastasis Jauh (M)


Mx
M0

Metastasis jauh tidak dapat dinilai


Tidak ada metastasis jauh

M1

Terdapat metastasis jauh

IHC, immunohistochemistry; RT-PCR, reverse-transcription polymerase chain reaction.


a

Tidak tampak secara klinis diartikan sebagai tidak terdeteksi oleh pemeriksaan radiologis
(keculai limfoskintigrafi) atau melalui pemeriksaan klinis, atau tidak jelas terlihat pada
pemeriksaan histopatologis.
b

Tampak secara klinis diartikan sebagai terdeteksi oleh pemeriksaan radiologis (keculai
limfoskintigrafi) atau melalui pemeriksaan klinis, atau tidak jelas terlihat pada pemeriksaan
patologis.

Tabel 3. Pengelompokan Stadium American Joint Committee on Cancer 10,11


Stadium 0
Stadium I
Stadium IIA

Stadium IIB

Stadium IIIA

Stadium IIIB
Stadium IIIC

Tis
T1
T0
T1
T2

N0
N0
N1
N1
N0

M0
M0
M0
M0
M0

T2

N1

M0

T3

N0

M0

T0
T1
T2
T3
T3
T4
T berapa pun

N2
N2
N2
N1
N2
N0-N2
N3

M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0

16

Stadium IV

T berapa pun

N berapa pun

M1

VIII. PENANGANAN
Penanganan untuk phyllodes tumor jinak, borderline, atau ganas adalah sama:
operasi untuk mengangkat tumor. Tidak ada aturan pasti mengenai batas luas eksisi,
tetapi biasanya disisakan tepi 2 cm untuk tumor kecil (<5cm) dan 5 cm untuk tumor
yang lebih besar (>5 cm). Diseksi kelenjar aksilla hanya dilakukan apabila terdapat
benjolan yang mencurigakan. Kemoterapi dan radiasi tidak efektif. 2,12,13
Prosedur bedah yang mungkin untuk mencapai eksisi luas untuk tumor phyllodes
adalah: 13

Lumpektomi: Pengangkatan tumor hingga setidaknya 1 cm dari jaringan


normal sekitarnya.
Jika tumor phyllodes sangat besar atau payudara kecil, mungkin terlalu sulit

untuk melakukan eksisi luas dan mempertahankan jaringan payudara yang sehat
untuk tujuan kosmetik. Dalam hal ini, dapat dilakukan mastektomi: 13

Mastektomi parsial atau segmental: Hanya bagian payudara yang berisi tumor
phyllodes.

Mastektomi total atau sederhana: Pengangkatan seluruh payudara, tapi tidak


ada yang lain (seperti kelenjar getah bening atau otot).
Risiko untuk terjadinya rekurensi atau metastasis berhubungan dengan derajat

histologis. Suatu studi menyarankan untuk melakukan mastektomi total lebih efektif
daripada breast-conserving surgery. Namun, suatu studi oleh Barth (Agustus 2009)
menyatakan bahwa terapi radiasi setelah breast-conserving surgery dengan tepi bebas
tumor secara signifikan mengurangi angka rekurensi lokal untuk tumor derajat sedang
dan malignant. 2,3,8,12

17

IX. KOMPLIKASI
Komplikasi post operatif yang dapat terjadi setelah pembedahan tumor
phylloides antara lain:2
- Infeksi
- Pembentukan seroma
- Rekurensi lokal dan/atau jauh

X. PROGNOSIS
Meskipun tumor phylloides secara klinis dianggap sebagai tumor jinak,
kemungkinan untuk rekurensi lokal setelah eksisi selalu ada, khusunya untuk lesi
yang menunjukkan histologis malignansi. Secara umum kurang lebih 30% penderita
tumor phylloides malignan meninggal akibat tumor ini dan kebanyakan pasien
meninggal setelah 3 tahun sejak penanganan awal pada jenis malignan. 1,14

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Lannin DR. Cystosarcoma phyllodes. [Online]. 2009 Jan 30 [cited 2012 June
05];

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/188728-

overview".
2. Ningrum. Cystosarcoma Phyllodes.[Online], 2010 March 03 [cited 2012 June
05]; Available from : http://www.breastdiagnostic.com/anatomy.
3. Wikipidea, the free encyclopedia. Phyllodes tumor. [Online]. 2010 Aug 28
[cited

2012

June

05];

Available

from:

URL:http://en.wikipedia.org/w/index.php?
title=Phyllodes_tumor&amp;action=edit.
4. Moore KL, Dalley AF. Clinically Oriented Anatomy. 5 th edition. USA :
Lippincott Williams & Wilkins;2006. p.30-35
5. Saladin K. The Female Reproductive system. In : Saladin

Kenneth S.

Anatomy and Physiology The Unity of Form and Function . 4 th edition.


New York : McGraw-Hill 2007. p. 1073-75.
6. B. & Ross R.K. The Descriptive Epidemiology of Malignant Cystosarcoma
Phyllodes Tumors of the Breast. [Online], 1993 May 15 [cited 2012 June
05] Avaiable from : http onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/1097/pdf
7. Sjamsuhidajat R.Tumor Phyloides. In: Sjamsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu
Bedah . 2nd edition. Jakarta : Terbitan Buku Kedokteran 2005. p.493
8. Christopher.M, Kenneth.O.M. Malignant Phyllodes Tumor of the Female
Breast. [Online], 2006 Sept 22 [cited 2012 June 05]; Available from :
http://intersciene.wiley.com
9. Juanita. The Indonesian Journal Of Medical Science : Malignant Phyllodes
Tumor of Breast. [Online], 2003 October [cited 2012 June 23]; Avaiable
from : http://med.unhas.ac.id/jurnal/attachments/article/72/Juanita.pdf

19

10. Hamid RM, Abraham J. Breast cancer. In: Abraham J, Guller JL, Allegra CJ,
edithors. Bethesda handbook of clinical oncology. 2nd ed. USA: Lippincott
Williams & Wilkins; 2005.p. 154-62
11. Ramli M., Azamris, Burmansyah et all. Protokol Pelaksanaan Kanker
Payudara (Protokol Peraboi 2003. . [Online], 2003 March 22 [cited 2012
June

05];

Avaiable

from

http://

images.onko.

multiplycontent.com/attachment/sYrYLwokcjsA: journal:32
12. Lister TA., Gallagher CJ. Malignant Disease. In : Kumar P., Clark M.
Clincal Medicine. 6th edition. Spain: Elsevier Saunders ; 2005. p 519-20
13. Marissa W. Treatment of Phyllodes Tumor of the Breast. [Online], 2012
March

14

[cited

2012

June

03];

Avaiable

from

http://www.breastcancer.org/symptoms/types/phyllodes/treatment.jsp
14. Susan C. The Breast. In: Kumar V., Abbas A. Pathologic Basis of Disease.
7th edition. Philadelphia, Pennsylvania: Elsevier Saunders 2005. p 1149-50.

20