Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang paling penting terutama
pada bulan bulan pertama kehidupan. Asi eksklusif atau lebih tepat pemberian Asi
secara Eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain
seperti susu formula, jeruk, madu, air, teh, air putih tanpa tambahan makanan
padat seperti pisang, pepaya, bubuk susu,biskuit, bubur nasi, dan tim.1
Tahun 2006 World Health Organization (WHO) mengeluarkan standar
pertumbuhan anak yang kemudian diterapkan di seluruh belahan dunia. Isinya
ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan, ini berarti bahwa bayi hanya
menerima ASI dari ibu atau dari pengasuh yang diminta ibu untuk memberikan
ASI, tanpa penambahan cairan atau makanan padat lain, kecuali sirup yang berisi
vitamin, suplemen, mineral ataupun obat. Di Indonesia melalui Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 50/SK/Menkes/VIII/2004, tanggal 7 April 2004 Telah
menetapkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pada ibu di Indonesia.
Setelah itu barulah bayi diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sambil
tetap disusui hingga usianya mencapai 2 tahun.
Cakupan ASI Eksklusif di negara ASEAN seperti India sudah mencapai
46%, di Philippines 34%, di Vietnam 27% dan di Myanmar 24%. 2,3 Menurut data
survei sosial ekonomi nasional (Susenas) 2010 menunjukkan bahwa baru 33,6%
bayi mendapatkan ASI di indonesia yang disebabkan karena banyak faktor,
diantaranya menurut Data Riset Fasilitas Kesehatan Dasar 2011 mengungkapkan
bahwa baru sekitar 40% Rumah Sakit yang melaksanakan Rumah Saktit sayang
ibu dan bayi sebagai 10 langkah keberhasilan menyusui.2,3
Menurut data pada tahun 2010 yang diambil dari Riset Kesehatan Dasar,
Persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif di Indonesia adalah 15,3% Kendala
yang dihadapi dalam praktek ASI eksklusif adalah kurangnya pengetahuan ibu,

kurangnya dukungan dari lingkungan dan praktisi kesehatan, pemberian makanan


dan minuman terlalu dini, serta maraknya promosi susu formula untuk bayi.2
Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia pada tahun 2013 hanya
mencapai 32,3% sedangkan di Sumatera Selatan pada tahun 2013 menurut data
Dinas Kesehatan Provinsi yaitu kota Palembang hanya mendapatkan persentase
54,3%.6 Berdasarkan profil Puskesmas 7 Ulu Palembang didapatkan data bahwa
pada tahun 2013 dari 723 jumlah bayi yang berada di 2 kelurahan di wilayah kerja
Puskesmas 7 Ulu Palembang hanya 380 bayi, atau sekitar 62.27 % dari sasaran
bayi yang diberikan ASI eksklusif.7 Pencapaian ini sangatlah kecil apabila
dibandingkan dengan target nasional yaitu 80%.
Oleh karena rendahnya cakupan ASI eksklusif, diperlukan upaya-upaya
untuk meningkatan cakupan ASI eksklusif. Upaya untuk meningkatkan cakupan
ASI eksklusif telah dilaksanakan dengan langkah kegiatan manajemen laktasi
yang dilakukan: 1) pada masa kehamilan dengan memberikan konseling laktasi
termasuk dalam program kelas ibu hamil, 2) pada saat segera setelah persalinan
dengan insiasi menyusu dini, 3) pada masa neonatus dengan rawat gabung, 4)
pada masa menyusui selanjutnya dengan konseling untuk tetap memberikan ASI
eksklusif sampai 6 bulan, kecukupan gizi dan dukungan keluarga. 4 Dukungan
petugas kesehatan dalam pemberian ASI eksklusif sangat diperlukan yaitu dengan
mengingatkan pada ibu untuk tetap memberikan ASI saja sampai umur 6 bulan.
Yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui adalah adanya
dukungan dari petugas kesehatan, dukungan keluarga dan budaya masyarakat dan
promosi susu formula.5
Hal inilah yang menjadi alasan dasar untuk melakukan studi kasus
mengenai cakupan pemberian asi eksklusif di wilayah kerja puskesmas 7 Ulu
Palembang serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.2. Perumusan Masalah


1. Bagaimana gambaran cakupan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja
Puskesmas 7 Ulu Palembang pada tahun 2014?
2

2. Apakah permasalahan atau hambatan yang mempengaruhi cakupan


pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas 7 Ulu pada tahun 2014?
3. Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi cakupan pemberian ASI
Eksklusif di Puskesmas 7 Ulu Palembang?
1.3. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dilakukannya penulisan ini adalah untuk mengetahui
gambaran cakupan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas 7
Ulu Palembang pada tahun 2014.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi di wilayah
kerja Puskesmas 7 Ulu Palembang 4 (empat) tahun terakhir.
2. Mengetahui perincian angka cakupan pemberian ASI eksklusif di
Puskesmas 7 Ulu Palembang pada tahun 2014.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif
pada bayi di wilayah kerja Puskesmas 7 Ulu Palembang.
1.4. Manfaat
a. Bagi Penulis
Tulisan ini diharapkan menambah wawasan dalam mengintegrasikan
pengetahuan yang bersifat teoritik dengan kondisi sebenarnya di lapangan
tentang perilaku ibu sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
pemberian ASI eksklusif.

b. Bagi masyarakat

Hasil tulisan ini diharapkan berguna sebagai informasi dan bahan


pertimbangan untuk ibu-ibu yang tinggal di wilayah kerja agar
melaksanakan pemberian ASI eksklusif.
c. Bagi Pelayanan Kesehatan
Bagi instansi pelayanan kesehatan khususnya Puskesmas 7 Ulu
Palembang, tulisan ini diharapkan dapat memberi informasi dan saran
dalam mengoptimalkan upaya peningkatan cakupan pemberian ASI
ekslusisif di wilayah kerja Puskesmas 7 Ulu Palembang.
d. Bagi Instansi Pendidikan
Tulisan ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan informasi dan
tambahan wacana yang terus dikembangkan mengenai ASI eksklusif.
Lebih lanjut penulis mengharapkan agar hasil tulisan ini dapat dijadikan
dasar bagi rekan-rekan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.