Anda di halaman 1dari 9

11

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE
I. TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Demam berdarah dengue adalah suatu infeksi arbovirus
akut yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes
aegypty. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja dan dewasa
yang ditandai adanya demam, nyeri otot dan sendi. Keadaan
biasanya memburuk setelah dua hari pertama.
B. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia terjadi
viremia yang ditandai dengan demam, sakit kepala, mual, nyeri,
pegal diseluruh tubuh, hipremi, ruam atau bintik merah pada
kulit.Selain itu kelainan dapat terjadi pada sistem retikulo endotelial
seperti pembesaran gatah bening, hati dan limpa. Pelepasan zat
anafilatoxin, histamin dan serotinin serta aktifitas dari sistem
kalikrein menyebabkan peningkatan permiabilitas dinding kapiler,
sehingga cairan dari intravaskuler keluar ekstra vaskuler. Akibatnya
terjadi penguangan volume plasma, penurunan tekanan darah,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi, dan renjatan.
Plasma merembes sejak permulaan demam dan pencapaian
puncaknya saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat,
volume plasma dapat berkurang sampai 30 % atau lebih. Bila
renjatan hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan plasma tidak
segera diatasi, maka akan terjadi anoxia jaringan,acidosis
metabolik, dan kematian.
Kelainan yang paling sering ditemukan pada autopsi adalah
perdarahan dibawah kulit berupa ptekie, perdarahan saluran
pencernaan, paru-paru dan jaringan peri adrenal.
Hemokonsentrasi menunjukkan adanya kebocoran plasma
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian
cairanintravena. Oleh karena itu pada penderita DBD sangat
dianjurkan untuk memantau hematokrit darah berkala untuk
mengetahui berapa persen hemokonsentrasi yang terjadi.
Setelah pemberian cairan inyravena, peningkatan jumlah
trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi sehingga
pemberian cairan intravena harus dikurangi untuk mencegah terjadi
edema paru dan jantung.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan
timbul anoxia jaringan,asidosis metabolik dan kematian apabila
tidak segera diatasi dengan baik.

12

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

Gangguan hemostasis pada DBD menyangkut tiga faktor


yaitu : perubahan vaskuler, trombositopenia, dan gangguan
koagulasi.
C. Etiologi
Hingga saat ini dapat diisolasi 4 serotipe di Indonesia, yaitu
DEN-1, DEN-2. DEN-3, dan DEN-4. Ternyata DEN-2 dan DEN-3
merupakan serotipe yang paling banyak
sebagai penyebab.
Nimmanitya (1975) di Thailand melaporkan bahwa serotipe DEN-2
yang dominan. Sedang di Indonesia terutama oleh DEN-3,
walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi oleh virus
DEN-2.
Disamping itu urutan infeksi serotipe merupakan suatu risiko
terjadinya renjatan untuk urutan virus DEN-3, yang diikuti oleh
DEN-2 adalah 6% DAN DEN-4 yang diikuti oleh DEN-2 adalah 2%.
Viremia berakhir 4-5 hari setelah timbulnya panas.
D. Tanda dan Gejala
Seperti pada infeksi virus yang lain, maka infeksi virus
dengue juga merupakan suatu self limiting infectious disease yang
berakir sekitar 2-7 hari.
1. Panas.
Biasanya langsung tinggi dan terus menerus dengan
sebab yang tidak jelas dan hampir tidak bereaksi terhadap
pemberian antipiretik. Panas ini berlangsung 2-7 hari. Bila tidak
disertai syok, maka panas akan turun dan penderita sembuh
sendiri. Disamping panas, penderita juga mengalami malaise,
mual, muntah, sakit kepala, anoreksia dan kadang batuk.
2. Tanda-tanda perdarahan :
a. Karena manipulasi.
Uji torniquet/rumpel leede test positif, yaitu dengan
mempertahankan manset tensimeter pada tekanan antara
sistole dan diastole selama lima menit, kemudian dilihat
apakah timbul ptekie atau tidak didaerahvoler lengan bawah.
Kriteria :
(+) bila jumlah ptekie = 20
() bila jumlah ptekie 10-12
( -) bila jumlah ptekie < 10
b. Perdarahan spontan
Ptekies
Perdarahan gusi.
Epistaksis.
Hematemisis/melena.

13

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas


DBD, gambaran klinis lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada
penderita DBD adalah :
- Keluhan pada saluran pernapasan : batuk, pilek, sakit waktu
menelan
- Keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, anoreksia,
diare, konstipasi.
- Keluhan pada tubuh lain : nyeri atau sakit kepala, nyeri otot
tulang sendi, nyeri perut, ulu hati, pegal-pegal, kemerahan pada
kulit, pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan fotofobia.
Pada penderita DBD sering dijumpai pembesaran limpa dan
kelenjar getah bening yang akan kembali normal pada masa
penyembuhan. Pada penderita yang mengalami renjatan akan
mengalami sianosis perifer, kulit teraba lembab dan dingin, tekanan
darah menurun nadi cepat dan lemah.
E. Pemeriksaan Penunjang
Darah :
1. Ig G dengue positip
2. Trombositopenia
3. Hematokrit meningkat lebih dari 20 merupakan indikator akan
timbulnya renjatan.
4. Hb meningkat lebih dari 20%.
5. Lekopenia pada hari kedua atau ketiga.
6. Masa perdarahan memanjang.
7. Hipoproteinemia.
8. Hipofloremia.
9. SGOT atau SGPT meningkat.
10. Ureum, ph darah meningkat.
11. Asidosis metabolik.
12. Urine : albuminuria biasa terjadi.
Data tes diagnostik foto thorax : bisa ditemukan pleura effusi.
F. Komplikasi
1. perdarahan luas.
2. Shock/ renjatan
3. Pleura efusi
4. Penurunan kesadaran.
G. Penatalaksanaan
1. Tirah baring.
2. Makanan lunak dan minum 2 L/ 24 jam.
3. Pemberian cairan melalui infus.
4. Pemberian obat-obatan.
5. Pada fase renjatan (diberi antibiotik, kortikosteroid dan anti
koagulasi).

14

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

II. ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
Data yang dikumpulkan diklarifikasikan menjadi data dasar
dan data khusus.
Data dasar meliputi :
Persepsi klien tentang kesehatan, upaya yang biasa dilakukan,
alasan ke RS, faktor pencetus, keluhan utama, lamanya
keluhan, mendadak atau tidak.
Pola nutrisi meliputi : jenis, frekuensi, nafsu makan, pantangan.
Pola eliminasi : BAB< BAK.
Pola aktifitas dan latihan.
Pola tidur dan istirahat.
Pola pikir : persepsi diri, mekanisme koping.
Pengkajian fisik meliputi keadaan umum pasien.
Kesadaran : compos mentis, apatis, somnolent, delirium,
soporus, coma, refleks, sensibilitas, nilai GCS.
Vital sign : suhu, TD, nadi, pernafasan.
Keadaan kulit, kelenjar limfe, muka, kepala, mata, THT, leher,
rektum, anggota gerak.
Sirkulasi : finger print, turgor, hidrasi.
Keadaan dada : inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi meliputi
paru, jantung, abdomen.
Data khusus yang yang dikumpulkan berdasarkan kondisi
pasien pada saat sekarang. Disamping itu perawat juga masih
membutuhkan data subyektif dan obyektif.
Data subyektif yang sering ditemukan adalah :
Pasien mengatakan lemah.
Pasien mengatakan panas/demam.
Sakit kepala.
Anoreksia.
Nyeri ulu hati.
Nyeri pada otot dan sendi.
Pegal-pegal seluruh tubuh.
Data obyektif yang sering ditemukan adalah :
Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah kemerahan.
Mukosa kering.
Ptekie.
Hiperemi pada tenggorokan.
Pada palpasi teraba pembesaran hati dan limpa .

15

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

Data laboratorium yang diperlukan:


Ig G dengue positip
Trombositopenia.
Hb meningkat lebih dari 20%.
Hemokonsentrasi.
Hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia.
SGOT atau SGPT bisa meningkat.
Ureum, ph darah meningkat.
Astrup :Asidosis metabolik.
Biasa terjadi albuminuria.
B. Diagnosa Keperawatan.
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Nyeri epigastrik berhubungan dengan peningkatan sekresi
gaster, asam hidroklorida.
3. Risiko / kurang volume cairan vaskuler berhubungan dengan
pindahnya cairan dari intra vaskuler ke ekstravaskuler.
4. Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang
berlebihan.
5. Risiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan masukan yang kurang akibat mual, muntah, sakit
menelan, dan tidak nafsu makan.
6. Cemas berhubungan dengan pengambilan sampel darah.
7. Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi
tubuh yang lemah.
8. Risiko terjadi reaksi tranfusi berhubungan dengan pemberian
tranfusi.
9. Risiko gangguan integritas kulit dan jaringan berhubungan
dengan banyaknya perdarahan pada trombositopenia.
10. Risiko gangguan cairan dan elektrolit: gangguan keseimbangan
asam basa berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh,
overhidrasi dan asidosis.
11. Kurang pengetahuan tentang kondisi, diet, obat-obatan,
aktifitas, perawatan diri dan pencegahan demam berdarah
dengue.

16

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

C. Perencanaan Keperawatan.
Perencanaan keperawatan
Tujuan dan kriteria
Rencana keperawatan
hasil
Tujuan : hipertermi 1. Tirah
baring,
kurangi
teratasi.
aktifitas fisik.
2. Jelaskan terjadinya hiper
Kriteria :suhu tubuh
termi pada keluarga.
normal : 36-37C
3. Jelaskan
upaya-upaya
untuk mengatasi hiper
termi pada keluarga.
4. Beri minum.
5. Beri kompres dingin.
6. Anjurkan keluarga memberikan
kepada
anak
pakaian yang tipis dan
menyerap keringat.
7. Ciptakan lingkungan yang
mendukung.
8. Ganti pakaian dan alat
tenun jika basah.
9. Observasi vital signs tiap
2-3 jam.
10. Laksanakan
program
medik berupa : antipiretik,
infus, antibiotik.

No

Diagnosa keperawatan

Hipertermi
berhubungan dengan
proses infeksi virus
dengue.

Nyeri
epigastrik
berhubungan dengan
peningkatan
sekresi
gaster,
asam
hidroklorida.

Tujuan
:nyeri
epigastrik
berkurang/hilang

Risiko tinggi / kurang


volume cairan vaskuler
berhubungan dengan
pindahnya cairan dari
intra
vaskuler
ke
ekstravaskuler.

Tujuan :pasien tidak


mengalami
kekurangan volume
cairan vaskuler
Kriteria : tanda vital
stabil dan dalam
batas normal, pasien
tidak merasa haus,
mukosa mulut tidak
kering.

1. Observasi intensitas nyeri.


2. Ajarkan/anjurkan keluarga
melakukan teknik relaksasi
pada anak.
3. Berikan makan porsi kecil
dan sering.
4. Kolaborasi
pemberian
antasid.
1. Beri
banyak
minum
(sesuai kebutuhan).
2. Jelaskan pada keluarga
cara-cara
menambah
volume cairan.
3. Kaji tanda dan gejala
kurang volume cairan.
4. Observasi tanda vital.
5. Laksanakan
program
medis : pemberian infus
RL / cairan pengganti
plasma.
6. Periksa Hb, Ht, trombo
tiap 4-6 jam pada hari
pertama selanjutnya tiap
24 jam atau sesuai
perkembangan.
7. Monitor masukan dan
pengeluaran cairan.

17

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

Risiko
tinggi
syok
hipovolemik
berhubungan dengan
perdarahan
yang
berlebihan.

Tujuan : tidak terjadi


syok hipovolemik
Kriteria :
- Tanda vital stabil
dan dalam batas
normal
- Ht dalam batas
normal
- Tidak gelisah.
- Akral hangat

1. Beri posisi tidur datar.


2. Observasi
tensi,
nadi,
pernafasan,
kehangatan
akral, dan kesadaran.
3. Puasa makan minum pada
perdarahan saluran cerna.
4. Laksanakan
program
medis : pemberian infus
RL / tranfusi darah atau
produk darah lain serta
pemeriksaan
Hb,
Ht,
trombo.
5. Monitor jumlah masukan
dan pengeluaran cairan.
6. Monitor hasil pemeriksaan
lab.
7. Observasi perkembangan
bintik merah di kulit,
keluhan lemas, keringat
dingin, kulit lembab dan
dingin, dan tanda-tanda
sianosis.
8. Perhatikan
keluhan
pusing, lemah dan nyeri
perut.
9. Ukur dan catat perdarahan
yang
tampak
dari
muntahan,
cairan
lambung, feses dan urin.

Risiko tinggi perubahan nutrisi : kurang dari


kebutuhan berhubungan dengan masukan
yang kurang akibat
mual, muntah, sakit
menelan, dan tidak
nafsu makan.

Tujuan : pasien tidak


mengalami
kekurangan nutrisi.

1. Beri makan porsi kecil dan


sering.
2. Beri makanan hangat yang
mudah ditelan, saring atau
bubur ( bila tidak ada
perdarahan ).
3. Bantu dan dampingi anak
saat makan.
4. Anjurkan bernafas panjang
saat mual.
5. Kaji keluhan mual,sakit
menelan, dan perkembangan nafsu makan.
6. Monitor makanan yang
dihabiskan
setiap
kali
makan.
7. Monitor
hasil
laboratorium : protein total,
albumin.
8. Monitor berat badan.
9. Laksanakan
program
medik meliputi infus nutrisi,
anti emetik.

Kriteria
:
pasien
dapat menghabiskan
makanan
yang
dihidangkan,
BB
stabil dan dalam
batas normal.

18

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

Cemas berhubungan
dengan pengambilan
sampel darah.

Tujuan : cemas pada


anak
hilang/
berkurang.

1. Informasikan pada anak


bahwa
pemeriksaan
laboratorium
sangat
penting dalam upaya penanganan penderita DBD.
2. Libatkan keluarga dan
pasien dalam pengambilan
sampel laborat.

Gangguan
aktifitas
sehari-hari
berhubungan dengan
kondisi tubuh yang
lemah.

Tujuan : kebutuhan
aktifitas sehari-hari
terpenuhi.

1. Kaji keluhan anak.


2. Kaji hal-hal yang mampu
dilakukan oleh anak /
keluarga.
3. Bantu pasien memenuhi
kebutuhannya.
4. Bantu pasien mandiri.
5. Beri penjelasan tentang
hal-hal
yang
dapat
membantu dan meningkat
kan kekuatan fisik pasien.
6. Letakkan barang-barang
yang mudah dijangkau.
7. Siapkan bel di dekat anak.

Risiko tinggi terjadi


reaksi tranfusi berhubungan
dengan
pemberian tranfusi.

Tujuan :
reaksi tranfusi tidak
terjadi.

Kriteria
mampu
setelah
demam.

anak
mandiri
bebas

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pesan darah komponen


sesuai dengan program
medis.
Cek
ulang
formulir
permintaan darah sebelum dikirim.
Observasi
tanda-tanda
plebitis pada area tusukan
infus.
Gunakan blood tranfusion
set
untuk
pemberian
tranfusi.
Berikan cairan normal
saline sebelum pemberian
tranfusi.
Jangan tunda pemberian
tranfusi > 30 menit setelah
darah diterima.
Cek ulang bahwa darah
yang diberikan sesuai
dengan kebutuhan.
Monitor pasien selama 1530 menit pertama.
Jelaskan tanda-tanda atau
reaksi
yang
mungkin
terjadi selama pemberian
tranfusi pada keluarga.

19

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Anak

10. Anjurkan keluarga melapor bila trjadi reaksi


tranfusi.
11. Segera hentikan tranfusi
bila
terjadi
reaksi,
diskusikan dengan dokter
untuk langkah selanjutnya.
12. Catat reaksi pasien.
9

Risiko tinggi gangguan


integritas kulit dan
jaringan berhubungan
dengan
banyaknya
perdarahan
pada
trombositopenia.

Tujuan : gangguan
integritas kulit dan
jaringan tidak terjadi.

1. Periksa trombosit terutama


jika ada perdarahan, dan
laporkan pada medis.
2. Observasi
tanda
dan
gejala
perdarahan
:
purpura,
ptekie,
hematomisis,dan melena
3. Anjurkan
pasien
menghindari perlukaan.
4. Monitor trombosit ketat.

10

Risiko tinggi gangguan


cairan dan elektrolit:
gangguan
keseimbangan asam
basa
berhubungan
dengan
kehilangan
cairan
tubuh,
overhidrasi
dan
asidosis.

Tujuan : tidak terjadi


gangguan cairan dan
elektrolit.

1. Kaji tanda dan gejala


hipoklorida.
2. Informasikan
kepada
tenaga medik bila pasien
mendapat infus dextrose
5% terus menerus karena
dapat terjadi penurunan
klorida.
3. Anjurkan pasien minum
cairan yang mengandung
klorida,
misalnya
jus
tomat.
4. Periksa kadar kalium dan
natrium darah.
5. Observasi
tanda
overhidrasi.

11

Kurang pengetahuan
tentang kondisi, diet,
obat-obatan, aktifitas,
perawatan diri dan
pencegahan
demam
berdarah dengue.

Tujuan : pasien /
keluarga
dapat
mengungkapkan
dengan kata-katanya
seperti kondisi, diet,
obat-obatannya,
aktifitas, perawatan
diri
dan
cara
mencegah DBD.

1. Jelaskan tentang kondisi,


diet, obat-obatan ,nama,
guna, cara pemberian,
efek
samping,
aktifitas/perawatan diri dan
cara pencegahan DBD.
2. Kaji
ulang
tingkat
pengetahuan pasien dan
keluarganya.
3. Beri leaflet (jika tersedia).

Anda mungkin juga menyukai