Anda di halaman 1dari 31

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Peran Kepolisian Dalam Penyelesaian Kasus Aborsi Di Kota Gorontalo
Dari kajian teori pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa
Peran merupakan aspek kedudukan yang berhubungan dengan kedudukanya
sebagai pelindung
Jadi kepolisian sebagai pelindung masyarakat

berperan penting dalam

mewujudkan keamanan dan kenyamana dalam kehidupan masyarakat. Telah


diketahui bahwa kejahatan aborsi merupaka kejahatan yang sangat meresahkan
karna dapat membahayakan keselamatan jiwa dan merusak moral bangsa. Pihak
kepolisian Polres Gorontalo Kota paham betul dengan hal ini oleh sebab itu pihak
kepolisian berusaha keras untuk mencari penyelesaian terhadap kasus ini.
Menurut KAURMINTU SATRESKRIM Polres Gorontalo Kota IPDA
Erwin Tatumang.(Wawancara Yang Dilakukan Pada Hari Kamis Tanggal 21
Februari 2013). Untuk melakukan peranya dengan baik pihak kepolisian harus
mengetahui terlebih dahulu hal-hal yang menyebabkan terjadinya tindak pidana
aborsi. Karena pada dasarnya untuk menyelesaikan masalah perlulah mencari akar
bagaimana timbulnya permasalahan aborsi ini, Jadi solusinya bukan hanya
diselesaikan dari siapa yang melakukan aborsi tersebut, tapi dari bagaimana
sampai perilaku seks yang tidak sehat tersebut terjadi, hal ini bisa dimulai dari
Penyuluhan tentang seks yang benar.
Jika diliat kebelakang, mengapa banyak remaja yang abortus, karena mereka
melakukan seks bebas untuk itu diperlukan pendidikan agama agar moral mereka

29

tinggi dan sadar bahwa free seks tidak sesuai dengan agama dan berbahaya. Jika
tidak ingin hamil gunakan kontrasepsi yang paling aman dan kontrasepsi yang
paling aman adalah tidak berhubungan seks sama sekali.
Selain itu dalam rangka menekan tindak kejahatan abortus, maka setiap
kalangan manapun turut bertanggung jawab atas kejahatan abortus provocatus
kriminalis ini. Segala upaya mengurangi kejahatan yang terjadi, bukan merupakan
tugas dari pihak kepolisian saja, namun segenap pihak seharusnya mempunyai
keinginan untuk mencengah dan mengurangi kejahatan tersebut. Setidaknya setiap
warga masyarakat berbuat dalam lingkungan keluarganya masing-masing.
Menurut KAURMINTU SATRESKRIM Polres Gorontalo Kota Erwin
Tatumang, .(Wawancara Yang Dilakukan Pada Hari Kamis Tanggal 21 Februari
2013) Upaya untuk mengurangi ataupun menekan angka kejahatan aborsi di Kota
Gorontalo dapat dilakukan dalam dua bentuk yakni upaya preventif dan refresif.
1. Upaya Preventif
Untuk mengantisipasi keadaan ini pihak kepolisian berusaha untuk
bertindak secara maksimal, tindakan ini dimulai dari melakukan razia secara rutin
ketempat-tempat hiburan malam, kos-kosan, penginapan,penjualan VCD dan
buku porno.
Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa tempat-tempat hiburan malam yang
berada di Kota Gorontalo dapat dikatakan telah mengadopsi gaya hiburan malam
Kota-Kota besar lainya, jadi tidak dipungkiri lagi bahwa orang-orang yang berada
didalamnya bukan saja orang yang berumur dewasa tapi juga dapat ditemukan
anak-anak ABG yang ingin mencari tau bagaimana sebenarnya wajah hiburan

30

malam tersebut, dari sinilah semuanya berasal yang semula hanya sekedar ingin
cari tahu tapi pada akhirnya menjadi penggemar hiburan malam, narkoba,
minuman keras bahkan seks bebas merupakan hal yang biasa jika pada akhirnya
hamil maka aborsi merupakan solusi yang dirasakan paling baik untuk
menyembunyikan aib akibat hubungan yang tidak sah atau atas dasar kesenangan
semata.
Awal mula terjadinya seks bebas juga dapat ditelusuri dari adanya koskosan ataupun penginapan, saat ini banyak tersedia kos-kosan ataupun penginapan
yang dapat disewa secara bebas tanpa membutuhkan syarat-syarat, cukup bayar
dan pastinya tempatnya dapat di tinggali kapan saja. Dari tempat ini setelah polisi
melakukan razia ditemukan keterangan bahwa banyak penghuni kos-kosan
ataupun penginapan merupakan pasangan mesum yang tidak terikat oleh tali
pernikahan, hal ini tentunya sangat memprihatinkan bukan saja tidak mungkin
dari hal inilah aborsi berasal, mudah saja dicarai penjelasanya mula-mula dapat
disimpulkan bahwa tanpa ikatan resmi tapi sudah tinggal atau tidur bersama bisa
saja wanitanya hamil dan karna hubungan yang belum resmi tersebut kehamilan
merupakan hal yang tidak diharapkan dan pastinya aborsi menjadi piliha satusatunya.
Tidak berbeda dengan VCD yang banyak menayangkan adegan mesum dan
buku porno dengan tulisan-tulisan yang vulgar, kedua hal ini bisa saja merupakan
awal mula aborsi terjadi, jika dilihat dari bagaimana remaja ingin tahu bagaimana
sebenarnya seks tersebut, dari adegan ataupun tulisan-tulisan yang vulgar bisa saja
para penikmatnya mencari pelampiasan nafsu entah itu dari pasangan resmi tapi

31

yang menakutkan adalah pasangan yang baru ingin cari tahu bagaimana seks
tersebut, karena kurangnya pemahaman seks yang baik maka akhirya kehamilan
tidak dapat dihindarkan dan sama seperti pemicu diatas aborsi merupakan
alternatif jalan keluar yang diambil, walau berbahaya namun tidak diperdulikan
lagi.
Pihak kepolisian dalam hal upaya menanggulangi tindak pidana tersebut,
sudah melakukan beberapa hal pencegahan. Misalnya yang melalui pendekatan
secara Agama. Pihak kepolisian bekerja sama dengan para pemuka-pemuka
Agama yang ada di dalam wilayah kerja Polres Gorontalo.Kota
Selain melakukan pendekatan melalui tokoh-tokoh pemuka agama, pihak
kepolisian juga memberikan pemahaman dan pengertian kepada pihak masyarakat
dan khususnya kepada para kalangan remaja yang banyak bersentuhan dengan
masalah ini.
Dengan memberi pengertian bahwa tindakan abortus provocatus kriminalis
adalah suatu tindakan yang melanggar hukum, dan dijelaskan pula tentang sanksi
yang akan diterima oleh mereka apapun dan bagaimanapun alasannya.
2. Upaya Refrensif
Upaya lain yang dilakukan oleh pihak kepolisian adalah bekerja sama
dengan aparatur pemerintahan di tiap keluraahan ataupun desa-desa yang
termasuk dalam wilayah kerja Polres. Tujuanya untuk mendekatkan diri dengan
masyarakat agar dapat memberikan informasi atau bantuan kepada pihak
kepolisian untuk mengungkapkan kasus-kasus aborsi, jika terjadi di desa ataupun
kelurahan masing-masing.

32

Kerjasama juga dilakukan oleh kepolisian dengan para dokter, dimana


banyk darai para dokter kandungan telah membuka praktek aborsi secara
sembunyi-sembunyi demi mendapatkan materi yang lebih. Sehingga dari
pendekatan ini pihak kedokteran dapat membantu ataupun mengurangi tindak
pidana aborsi di Kota Gorontalo, dengan memberikan pemahaman tentang
bagaimana bahaya tindakan aborsi terkecuali adanya indikasi medis yang jelas
yang membolehkanya dilakukan aborsi tersebut.
Diatas cara penanggulangan aborsi yang dapat kita lakukan bersama, namun
tanpa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari maka hal ini hanya merupakan
teory yang tidak begitu menghasilkan perubahan.1
Peran kepolisian tidak berhenti hanya sampai disitu saja tindak lanjut dari
laporan warga sampai menemukan tersangka dilakukan dengan proses
penyelidikan dibawah ini akan di paparkan tindakan-tindakan kepolisian dalam
melakukan penyelidikan terhadap kasus aborsi.
4.2 Proses Penyelesaian Kasus Aborsi
Berawal dari adanya suatu laporan dari masyarakat tentang terjadinya suatu
kasus abortus provocatus yang diterima pihak Kepolisian, maka pihak Kepolisian
khususnya pada bagian Reserse dapat bertindak dalam melakukan proses
penyidikan. Penyidikan tersebut dilakukan pertama-tama, apabila barang bukti
yang ditemukan oleh pihak Kepolisian yang sedang berpatroli maka dalam hal ini
pihak Kepolisian yang sedang berpatroli tersebut harus segera dan secepat
rnungkin melaporkan kepada pihak Reserse atau yang dikenal dengan berkas "A"

Hasil Wawancara Tanggal 21 Februari 2013

33

(berkas A adalah laporan tindak kejahatan ataupun bukti yang ditemukan


langsung oleh pihak kepolisian saat berpatroli) dan dalam hal ini si pelapor
wajib bertanggung jawab.
Kedua, laporan yang diberikan oleh masyarakat kepada pihak Kepolisian,
khususnya bagian Reserse yang menangani kasus ini atau dengan tindak pidana
tersebut, laporan seperti ini dikenal atau disebut dengan berkas "B" (berkas B
adalah laporan yang diberikan oleh masyarakat) dan dalam hal inipun si pelapor
harus bertanggung jawab atas apa yang dilaporkannya.
Setelah ada laporan yang masuk pada pihak Kepolisian, laporan mulai
diproses dan diolah, setelah itu pihak Kepolisian mulai melakukan penyidikan
terhadap kasus atas tindak pidana tersebut, penyidikan yang dilakukan oleh pihak
Kepolisian (khususnya oleh bagian reserse) akan dimulai dari saksi di tempat
kejadian perkara (TKP), dan barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian
perkara. Setelah itu akan ditemukan suatu hal yang akan menjadi petunjuk dari
kasus tersebut berdasarkan fakta dan laporan yang diterima oleh pihak Kepolisian.
Polisi di dalam melakukan suatu penyidikan kasus tindak pidana abortus
provocatus yang sedang terjadi tersebut dibantu oleh saksi ahli yaitu dokter yang
berwenang, dalam hal ini untuk membantu proses visum barang bukti serta yang
diduga sebagai tersangka.
Setelah mendapatkan visum dari si ibu atau yang dicurigai maka pelaku
dalam hal ini si ibu tersebut harus menjalani proses penyidikan yang diantaranya
adalah dipertanyakan siapa yang telah membantu dalam melakukan proses
pengguguran kandungan tersebut, apakah seorang dokter, bidan, dukun atau yang

34

lainnya. Juga dipertanyakan siapa yang menyuruh, mengiming-imingi atau yang


memprovokasi supaya si ibu melakukan tindakan pengguguran kandungan. Dan
apakah tindakan pengguguran kandungan tersebut dilakukan secara terangterangan atau secara sembunyi-sembunyi.
Setelah semua keterangan-keterangan pada proses penyidikan yang
diperoleh dari si ibu dianggap sudah mencukupi maka berkas-berkas tersebut
segera diproses dan selanjutnya dilimpahkan kepada Kejaksaan dan dari
Kejaksaan jika dianggap cukup semua berkas-berkas tersebut maka pihak
Kejaksaan langsung melimpahkan perkara tersebut kepada pihak Pengadilan.
Upaya dalam penyelidikan kasus aborsi di Kota Gorontalo di Kemukakan
oleh bapak ERWIN TATUMANG.(Wawancara Yang Dilakukan Pada Hari
Kamis Tanggal 21 Februari 2013) adalah sebagai berikut
1. Menindak lanjuti laporan dari warga
Dari laporan yang diberikan oleh warga, maka polisi yang berjaga di polres
akan membuat laporan polisi dan dari pihak aparat kepolisian akan berangkat ke
tempat kejadian perkara atau yang disingat dengan nama TKP untuk melakukan
penyelidikan. Tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian yaitu sebagai
berikut;
a. Tindakan Awal
Mengamankan ataupun menutup tempat kejaadian perkara atau TKP dengan
memberikan garis polisi (police line), dengan tujuan agar tidak sembarangan
orang dapat keluar masuk sehingga barang bukti yang mungkin masis ada

35

disekitar tempat kejadian tidak dipindahkan ataupun hilang, sehingga


mempermudah proses penyelidikan.
b. Olah tempat kejadian perkara (TKP)
1) Mengamankan seseorang yang diduga sebagai pelaku aborsi dengan
mencatat identitas pelaku
2) Barang bukti yang ditemukan diamankan
3) Melakukan pemotretan TKP
4) Mencari saksi
2. Penyidikan
a. Melakukan pemeriksaan terhadap saksi yang diduga kuat mengetahui
apaapa yang dilakukan pelaku tindak pidana dengan mencatat identitas
saksi.
b. Melengkapi surat-surat penyitaan (pilun)
c. Upaya lain
1) Menghubungi saksi yang dianggap sebagai saksi kunci yang
mengetahui kejadian aborsi dilakukan untuk segera dimintai
keterangan yang diduga terlibat dalam tindakan aborsi tersebut
2) Memintakan pemeriksaan secara laboratoris adanya bukti-bukti yang
tertinggal di TKP yang dibuat oleh si pelaku.
3. Pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh PenyidikTindakan yang
dilakukan oleh penyidik dalam pembuatan BAP yaitu;
a. Permintaan Visum et Repertum
Penyidik di samping melakukan pemeriksaan seperti yang tersebut di

36

atas, tindakan selanjutnya yang sangat penting adalah permohonan visum et


repertum merupakan alat bukti yang sangat penting, karena dapat menentukan
apakah seseorang benar-benar telah melahirkan atau baru melahirkan seorang
anak atau tidak.
Permohonan visum et repertum dilakukan oleh penyidik yang memeriksa
tindak pidana aborsi tersebut. Permintaan visum et repertum dilakukan tidak
hanya kepada tersangka, tetapi juga kepada mayat atau korban untuk menentukan
penyebab matinya korban tersebut. Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh
kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya, lazim disebut Visum et
Repertum. Karena penyidik tidak mungkin menghadirkan korban di sidang
pengadilan, karena dalam hal ini korban telah mati, dikubur atau sudah
membusuk. Oleh karena itu fungsi dari Visum et Repertum adalah sebagai
pengganti dari benda bukti atau alat bukti yang berupa manusia.
Dan keterangan yang diperoleh atau hasil Visum et Repertum yang
diperoleh dari dokter ahli yang menangani Visum et Repertum tersebut dengan
contoh-contoh;
1) Selaput darah dari mulut rahim si pelaku, seperti selaput darah dan mulut
rahim yang baru melahirkan ataupun menggugurkan.
2) Pendarahan membuktikan adanya luka pada jalan lahir dan sekitarnya
akibat proses melahirkan ataupun melakukan aborsi.
3) Diketahui pelaku masih dalam masa nifas

37

b. Penangkapan
Penangkapan terhadap tersangka dilakukan paling lama 24 jam atau satu
hari. Mengutip pasal 19 ayat (1) KUH Acara Pidana yang berbunyi :
Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17, dapat dilakukan untuk
paling lama satu hari.
Penyidik yang dapat melakukan penangkapan dan pada waktu penangkapan
harus disertai surat

perintah penangkapan, penyidik dalam

melakukan

penangkapan harus diketahui oleh dua orang saksi dari anggota Unit Reskrim, dan
paling sedikit 1 (satu) orang saksi yang mengetahui terjadinya peristiwa kejahatan
tersebut dengan tersangka sebagai pelakunya.
Dan apabila tersangka tertangkap di TKP, penyidik sudah dibekali dengan
surat perintah penangkapan, maka harus segera membuat berita acara
penangkapannya.
c. Penahanan
Tindakan selanjutnya adalah melakukan penahanan tersangka. Surat
perintah penahanan di buat oleh penyidik, mengutip pasal 20 ayat (1) KUH Acara
Pidana, berbunyi : Untuk kepentingan penyidikan, penyidik atau penyidik
pembantu atas perintah penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 11 KUH Acara
Pidana berwenang melakukan penahanan.
Dari penahanan terhadap tersangka dilakukan karena ada rasa kuatir
tersangka akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan
atau mengulangi perbuatannya. Apabila penyidik belum selesai melakukan
pemeriksaan baik kepada tersangka maupun kepada para saksi dan jangka waktu

38

penahanan tersangka yang diberikan penyidik selama 20 (dua puluh) hari hampir
habis, maka penyidik dapat meminta permohonan untuk memperpanjang
penahanan tersangka

kepada

Kejaksaan

Negeri dengan

disertai

bahan

pertimbangan berupa lampiran laporan kemajuan/resum hasil pemeriksaan


tersangka.
d. Penyitaan
Mengutip pasal 1 butir (16) KUH Acara Pidana berbunyi : Penyitaan
adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambi alih dan atau menyimpan
di bawah penguasaannya benda bergerak atau tida bergerak, berwujud atau tidak
berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan
peradilan.
Dalam hal tindakan aborsi yang dilakukan oleh seorang dokter, maka
penyitaan dalam hal ini adalah benda yang khusus digunakan atau diperuntukkan
melakukan aborsi, dan barang-barang bukti dikumpulkan dengan masalah
tersebut.
e. Pemeriksaan terhadap saksi
Penyidik selanjutnya mempunyai tugas mengumpulkan keterangan dari saksi,
yang dimaksud saksi di sini adalah saksi yang melihat atau mendengar sendiri
tentang adanya tindak pidana aborsi.
Adapun cara penyidik memeriksa saksi adalah sebagai berikut :
1) Masing-masing saksi diperiksa sendiri-sendiri, terpisah dari saksi yang satu
dengan saksi yang lain dan dilakukan secara bergiliran. Hal ini dilakukan
untuk menjaga keterangan yang diberitakan saksi bersifat obyektif

39

2) Pemeriksaan dilakukan dengan jalan wawancara, yaitu dengan mengajukan


pertanyaan-pertanyaan kepada saksi tentang apa yang dilihat, didengar dan
diketahui sendiri tentang peristiwa tersebut.
Setelah memperoleh keterangan-keterangan dari saksi utama,
dilanjutkan terhadap saksi berikutnya yang dianggap mengetahui atau
memperkuat tuduhan-tuduhan yang diarahkan pada pelaku, yang terpenting pula
adalah keterangan saksi kunci.
f. Pemeriksaan terhadap tersangka
Setelah kesemua saksi-saksi yang, dari saksi awal, saksi pendukung lainnya
serta saksi kunci dilengkapi dengan keterangan saksi ahli. Adapun cara penyidik
melakukan pemeriksaan terhadap tersangka adalah sebagai berikut:
1) Pemeriksaan harus dilakukan secepat mungkin sebab bila terlalu lama
jangka waktunya, ingatan terhadap peristiwa yang lalu menjadi kabur dan
tersangka dikuatirkan sudah mempersiapkan siasat untuk berkelit.
2) Pemeriksaan dilakukan dengan wawancara, dengan banyak mengajukan
pertanyaan-pertanyaan dengan sebelumnya membuat persiapan-persiapan
yang cukup dan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang diperoleh dari
keterangan-keterangan para saksi dan barang bukti yang ada.
Yang

kemudian

tersangka

memberikan

keterangan

atau

pengakuanpengakuan yang diberikan kepada penyidik : Bahwa tersangka pada


saat dilakukan pemeriksaan dalam keadaan sehat jasmaniah ataupun rohani dan
mengerti untuk dimintai keterangan sehubungan kasus tindak pidana aborsi.

40

Dan setelah semua proses penyidikan terhadap tersangka selesai,


selanjutnya penyidik membuat berkas perkara tersebut segera diserahkan kepada
Jaksa selaku penuntut umum, maka tersangka beserta barang bukti selanjutnya
menjadi tanggung jawab Jaksa Penuntut Umum untuk proses peradilan di
Pengadilan Negeri Kota Gorontalo.

Dengan peran dan upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian serta
tindak lanjut penyelidikan kasus aborsi ini angka kejahatan aborsi di kota
gorontalo

sekurang-kurangya

mampu

diselesaikan

dan

dapat

ditekan

peningggaktanya.
Selanjutnya penulis akan memaparkan data kejahatan aborsi di kota
gorontalo, dengan menyajikan beberapa fakta yang ditemukan oleh penulis
dilapangan sehingga kita mampu menilai apakah peran kepolisian dengan
sejumlah upaya yang telah dijalankan berjalan dengan efektif.
4.3 Data dan Jumlah Kasus Aborsi Yang Terjadi Di Kota Gorontalo
Aborsi merupakan tindakan

pengguguran kandungan yang banyak

meresahkan masyarakat utamanya bagi orang tua yang memiliki anak remaja
khususnya di Kota Gorontalo, tindakan aborsi dilakukan dengan berbagai cara
entah itu dengan mengunakan ramuan yang berbahaya ataupun dengan
menggunakan alat dengan tujuan untuk mematikan janin yang dikandung karena
janin keluar sebelum waktu lahirnya.
Pengguguran kandungan merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri
keberadaanya, fenomena sososial mengenai aborsi ini merupakan dilema yang

41

berasal dari efek perkembangan jaman yang kian hari kian menghawatirkan. Adat
ketimuran yang di junjung tinggi tergerus oleh arus perkembangan jaman.
Aborsi atau abortus provocatus merupakan cara yang paling berbahaya tapi
paling banyak digunakan untuk mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan.
Abortus Provocatus dibagi dalam dua jenis, yaitu Abortus Provocatus
Therapeuticus dan Abortus Provocatus Criminalis. Abortus Provocatus
Therapeuticus adalah aborsi yang dilakukan atas dasar pertimbangan kedokteran
dan dilakukan oleh tenaga yang mendapat pendidikan khusus serta dapat
bertindak secara professional. Sementara Abortus Provocatus Criminalis adalah
aborsi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan biasanya dilakukan oleh
tenaga yang tidak terdidik secara khusus, termasuk ibu hamil yang menginginkan
perbuatan aborsi.
Aborsi merupakan salah satu penyebab kematian wanita, aborsi atau
pengguguran kandungan adalah masalah yang cukup pelik karena berkaitan
dengan aspek kehidupan yang bersentuhan dengan etika, moral, agama, serta
shukum. Untuk mengetahui peran kepolisian dalam penyelesaian kasus aborsi di
Kota Gorontalo Penulis harus mengetahui tingkat kejahatan khususnya kejahatan
aborsi yang terjadi di Kota Gorontalo, peneliti akan menganalisis data aborsi
yang masuk ke Polres Gorontalo Kota dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yakni
dari tahun 2008 sampai tahun 2012, analisis data akan di paparkan dalam bentuk
tabel 1 sebagai berikut:

42

TABEL 1
Data Jumlah Kejahatan Aborsi Yang Di Tangani Oleh Pihak Kepolisian
Polres Gorontalo Kota
Jumlah Kasus
Tahun
Persen (%)
Yang Dilaporkan
2008

28,57%

2009

28,57%

2010

2011

28,57%

2012

14,29%

Jumlah

100%

Sumber Data : Data Polres Kota Go1rontalo


Kejahatan aborsi di Kota Gorontalo yang terjadi selama 5 tahun dan yang
ditanggani yaitu dari tahun 2008-2012 dapat dilihat pada tabel 1 diatas sebanyak
7 kasus pada tahun 2008 terdapat 2 kasus (28,57%), tahun 2009 2 kasus
(28,57%), tahun 2010 tidak ada satupun kasus aborsi yang dilaporkan (0%), baru
pada tahun 2011 ada 2 kasus yang dilaporkan mengikuti jumlah kasus pada tahun
2008 dan 2009 (28,57%) dan pada tahun 2012 hanya 1 kasus yang dilaporkan atau
sebesar (14,29). Dan dapat diartikan bahwa dari tahun 2008, 2009, 2011 terdapat
jumlah kasus yang sama yang dilaporkan yakni 2 kasus dimasing-masing tahun
tersebut kecuali pada tahun 2010 karena pada tahun tersebut tidak ada satupun
kasus aborsi yang dilaporkan dan hanya 1 kasus yang dilaporkan pada tahun 2012
jadi dapat disimpulkan walaupun tidak terjadi penurunan kasus yang dilaporkan
secara signifikan namun dapat dilihat pada tahun 2012 telah terjadi penurunan
angka kasus yang dilaporkan hal ini terjadi berkat upaya yang lebih ditingkatkan
oleh pihak kepolisian Polres Gorontalo Kota.

43

Tidak sampai pada upaya menekan angka kejahatan aborsi saja akan tetapi
Setiap kasus aborsi yang dilaporkan di tangani

dan diupayakan untuk

diselesaikan oleh pihak Kepolisian Polres Gorontalo Kota. Penanganan

dan

penyelesaian dari pihak kepolisian dapat dilihat pada tabel 2 berikut:


TABEL 2
Data Jumlah Kejahatan Aborsi Yang Di Selesaikan Oleh Pihak Kepolisian
Polres Gorontalo Kota
Tahun dan

Jumlah kasus yang

jumlah kasus

selesai

2008 (2 kasus)

0%

2009 (2 kasus)

33,33%

2010 (0 kasus)

0%

2011 (2 kasus)

66,67%

2012 (1 kasus)

0%

jumlah

100%

Persen (%)

Sumber Data : Data Polres Kota Gorontalo


Dapat dilihat dari tabel 2 diatas bahwa jumlah kasus yang diselesaiakan
oleh pihak kepolisian sebanyak 3 kasus. Pada tahun 2009 sebanyak 1 kasus
(33,33%), tahun dan tahun 2011 sebanyak 2

kasus (66,67%). Kasus aborsi

merupakan kasus yang cukup banyak mengalami kendala dalam penyelesainya


karena 1 dan lain hal. Terbukti pada tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa kepolisian
belum mampu menyelesaiakan 2 kasus yang terjadi pada tahun 2008, 1 kasus
pada tahun 2009 dan 1 kasus lagi pada tahun 2012 sesuai dengan wawancara yang
dilakukan dengan pihak kepolisian pada tanggal 21 februari 2013 hal tersebut
terjadi karena kepolisian belum mampu untuk mengumpulkan bukti-bukti yang

44

dapat menempatkan seseorang menjadi tersangka. Sehingga peran yang


diharapkan dari pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus aborsi di Kota
Gorontalo belum terlalu efektif dilakukan, penyelesaian terhadap sebuah kasus
yang telah terjadi perlu untuk dilakukan mengigat jika hal mengenai aborsi
dibiarkan terjadi tanpa ada penyelesaian maka peran dari kepolisian dalam
penyelesaian kasus tersebut tidak akan nampak .
Belum lagi jika melihat fakta dilapangan masih banyak kasus aborsi yang
tidak ditindak lanjuti oleh pihak yang berwajib karna merupakan kejahatan yang
dilakukan secara terselubung (hidden crime). Tidak ditindak lanjuti karena
kejahatan yang dilakukan tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan yang
melanggar hukum karena kurangnya cukup bukti untuk menjerat para pelaku
aborsi. Sehingga aparat kepolisian tidak mengetahuinya, adapun jika barang
buktinya ditemukan seperti jasad janin pelakunya sulit untuk di telusuri karena
kadang kala barang bukti yang di temukan sudah sulit untuk di identifikasi karena
tidak utuh lagi bahkan berbau busuk karena baru ditemukan. Hal inilah yang
menambah daftar panjang kendala kepolisian dalam menyelesaikan kasus aborsi
di Kota Gorontalo.
Fakta lain yang ditemukan oleh peneliti pada saat melakukan penelitian
lapangan ditemukan beberapa kasus aborsi yang dilakukan secara tersembunyi
tanpa diketahui oleh pihak kepolisian. Berikut adalah tabel kejahatan aborsi yang
tidak di tanggani oleh pihak kepolisian karna dilakukan secara sembunyisembunyi nama pelaku aborsi di samarkan namun umur serta cara pelaku
merupakan hal sebenarnya dan fakta dilapangan yang di temukan oleh peneliti.

45

TABEL 3
Data Kejahatan Aborsi Yang Dilakukan Secara Terselubung (Hidden Crime)
Yang Tidak Di Tanggani Oleh Pihak Kepolisian Dalam Kurun Waktu 5
Tahun Terakhir

Nama
KEMALA

Umur
20

MAWAR

Keterangan
(Menggugurkan Sendiri)
yakni dengan cara mengkonsumsi
obat- obatan, seperti paramex,
ramuan nenas muda, dan racikan
minuman bersoda.

SUCI

21

( Di Bantu Tenaga Medik)


yakni dengan cara disuntikan salah
satu jenis obat suntik yang dapat
menggugurkan kandungan.

FUJI

27

SITA

29

RATU

23

YANI

18

(Di Bantu Tenaga Medik)


yakni dengan cara memasukan
sejenis kapsul kedalam alat kelamin
pelaku.
(Di Bantu Dukun Beranak)
yakni dengan cara dilakukan pijatan
pada area perut..
(Di bantu Tenaga Medis)
Pelaku tidak mengetahui pasti
karena pada saat melakukan aborsi
sebelumnya pelaku telah di bius,
sehingga pada saat melakukan
aborsi pelaku dalam keadaan tidak
sadar.

17

NALU

JUMLAH

(Mengugurkan sendiri)
tidak mendapat keterangan jelas
tentang cara pelaku melakukan
aborsi
8

Sumber Data : Penelitian Lapangan dan Wawancara


Dari tabel 3 diatas, dapat disimpulkan bahwa kejahatan aborsi yang
dilakukan banyak dibantu oleh tenaga medik dalam hal ini bukan merupakan

46

Abortus Provocatus Therapeuticus, tapi lebih kepada kejahatan aborsi yang tidak
memiliki alasan medik yang dilakukan secara terselubung yang di bantu oleh
tenaga medik. 3 kasus diantaranya pelaku memilih untuk menggugurkan
kandungan sendiri. Analisis dari tabel 3 ditas dapat dikatakan bahwa pengguguran
kandungna sendiri yang dilakukan oleh pelaku adalah tindakan yang sangat
berbahaya karena jika dilihat obat-obatan yang digunakan merupakan obat-obatan
yang belum tentu langsung menggugurkan kandungan parahnya lagi obat-obatan
tersebut malah akan memicu terjadinya cacat permanen pada bayi. Untuk
pengguguran kandungan yang dilakukan oleh tenaga medis dapat dilihat pada
tabel 3 diatas seharusnya obat-obatan yang digunakan untuk menggugurkan
kandungan adalah obat-obatan yang tidak beredar bebas dan seharusnya tim medis
merupakan orang yang mengetahui dengan pasti bahaya aborsi tersebut dapat
mencegah terjadinya hal tersebut. Untuk pengguguran kandungan yang dibantu
oleh dukun sesuai dengan pengetahuan serta penelitian yang dilakukan oleh
penulis, pengguguran kandungan yang di bantu oleh dukun pijat lebih berbahaya
karena kebanyakan pengguguran kandungan dilakukan dengan melakukan pijatan
diarea perut akan memicu pendaran hebat. Belum lagi dukun merupakan orang
yang tidak memiliki pendidikan khusus mengenai masalah pengguguran
kandungan hanya dilakukan berdasarkan naluri tanpa tau apakah tindakan tersebut
sangat berbahaya.
Dalam wawancara peneliti yang dilakukan dengan KAURMINTU
SATRESKRIM (Wawancara Yang Dilakukan Pada Hari Kamis Tanggal 21
Februari 2013) Polres Kota Gorontalo menyampaikan bahwa upaya untuk

47

mencegah terjadinya praktek aborsi yakni dengan melakukan kerjasama dengan


pihak kedokteran khusunya dokter kandungan perlu dilakukan agar tidak adanya
lagi praktek aborsi yang dilakukan demi keuntungaan besar, ternyata merupakan
hal yang sangat penting karena dari pemaparan tabel 3 diatas dari hasil wawancara
lapangan yang dihasilkan dengan pelaku kejahatan aborsi ditemukan banyak dari
mereka melakukan aborsi dibantu oleh tenaga medis. Hal inipun dibenarkan oleh
Suci (21 tahun), Fuji (27 tahun), Sita (29 tahun), Yani (17 tahun) yang melakukan
tindakan aborsi dengan bantuan medis.2
Dari tabel diatas dapat juga dilihat pelaku aborsi banyak dilakukan oleh para
remaja yang berumur 17-23 tahun. Jika dilihat dari umur pelaku aborsi rata-rata
yang melakukan aborsi masih terlalu muda.
Resiko dalam melakukan aborsi tidak dapat diukur dari tingkat umur pelaku
karena aborsi merupakan tindakan yang sangat berbahaya bagi semua kalangan
bagi wanita yang berumur lebih mudah ataupun lebih tua. Dari hal inilah kita
dapat mengetahui bahwa semua umur terindikasi dapat melakukan aborsi dan
pastinya dari umur yang sangat muda tersebut mereka sudah mengenal seks bebas.
Paradigma ini adalah sesuatu yang beralasan mengigat tabel diatas menunjukan
fakta mengenai hal itu. Belum lagi bahaya aborsi yang diketahui mengancam
nyawa bagi yang berumur cukup atau yang masih sangat muda hal ini pasti telah
diketahui oleh pelaku aborsi. Pengetahuan tentang hal ini pastinya telah diketahui
oleh para pelaku aborsi karena rata-rata pelaku aborsi baik yang di tangani
ataupun yang tidak oleh pihak kepolisian merupakan orang-orang yang

Hasil Wawancara Lapangan Tanggal 06 April 2013

48

berpendidikan pastinya mereka mengetahui hal ini dari penyuluhan ataupun


pelajaran dilingkungan akademis. Tabel 4 berikut akan memperlihat tingkat
pendidikan pelaku.
TABEL 4
Tingkat Pendidikan Pelaku Kejahatan Aborsi Di Kota Gorontalo
TINGKAT

JUMLAH

PERSEN

SD

0%

SMP

9,1%

SMA/SMK

27,27%

Perguruan Tinggi

45,45%

Pengangguran

18,18%

JUMLAH

11

100%

PENDIDIKAN

Sumber Data : Data Polres Kota Gorontalo dan Data Penelitian Lapangan
Berdasarkan tabel 4 diatas dari 11 pelaku aborsi di Kota Gorontalo di
ketahui

bahwa pada umumnya tingkat pendidikan pelaku adalah mahasiswa

perguruan tinggi dengan rincian sebagai berikut: SMP ada 1orang pelaku atau
sekitar 9,1%, yang berpendidikan SMA atau SMK ada 3 orang pelaku atau sekitar
27,27%, yang duduk dibangku perguruan tinggi ada 5 orang atau sekitar 45,45%
dan yang tidak memiliki pekerjaan ada 2 orang atau sekitar 18,18 %. Dari data
tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pelaku aborsi paling banyak adalah orangorang yang berpendidikan. Tabel 4 diatas memperlihatkan bahwa sebenarnya
pendidikan itu adalah tolak ukur seseorang untuk lebih mempertimbngkan
melakukan hal-hal yang tidak merugikan dirinya sendiri tapi tabel 4 diatas malah

49

merupakan hal yang sebaliknya dapat dilihat bahwa pada tabel tersebut
memaparkan kebanyakan pelaku aborsi adalah mahasiswa yang duduk
diperguruan tinggi bukankah hal tersebut memprihatinkan dan dapat mencoreng
dunia akademis yang seharusnya lebih mampu mempertimbangkan untuk tidak
melakukan keadaan yang merugikan diri sendiri dan aborsi merupakan salah satu
hal tersebut..
Kejahatan aborsi seharusnya tidak terjadi jika ditelisik dari pengetahuan kita
terhadap bahayanya yang sangat mengancam nyawa, namun karena adanya
faktor-faktor lain yang menyebabkan jalan ini menjadi pilihan satu-satunya
menjadikan permasalahan ini merupakan sesuatu yang sangat dilematis
Berikut ini merupakan pembahasan yang akan menggungkapkan faktorfaktor terjadinya aborsi di Kota Gorontalo.
4.3 Faktor-Faktor Terjadinya Aborsi Di Kota Gorontalo
Kejahatan aborsi dilakukan karna adanya faktor-faktor yang menyebabkan
sampai kejahatan tersebut dipilih sebagai sebuah solusi yang dirasakan terbaik
walaupun beresiko, dari tabel dibawah ini peneliti akan memaparkan beberapa
faktor penyebab terjadinya aborsi di Kota Gorontalo.
Pemaparan dari isi tabel berikut merupakan hasil survei yang didapat dari
jawaban ataupun keterangan responden, pihak yang dimintai jawabanya yakni
pihak kepolisian dalam hal ini dapat di umpamakan sebanyak 3 orang dari 3
jumlah kasus yang pernah selesai yang telah diidentifikasi faktor penyebanya, 8
Orang sebagai pelaku abortus propocatus yang telah dipaparkan dalam tabel
sebelumnya dan 19 orang responden yang berasal dari teman keluarga maupun

50

orang terdekat yang dapat dimintai jawabanya berdasarkan informasi yang


didapatkan disekitarnya. Jika dihimpun responden berjumlah 30 orang.
TABEL 5
Hasil Survey Responden Tentang Faktor Penyebab Terjadinya Aborsi
Di Kota Gorontalo
No

Faktor penyebab
terjadinya aborsi

Jumlah
responden

Persen(%)

Hamil diluar pernikahan

15

50%

Tidak mau menghambat


studi yang sedang
dijalankan

23.3%

Masih terlalu muda

10%

Terlalu banyak anak

10%

Kesulitan ekonomi

6.7%

30

100%

Jumlah

Sumber data : diolah dari data Kepolisian Kota Gorontalo dan


Wawancara lapangan.

Berdasarkan dari 30 Orang hasil responden dari tabel 5 diatas, 15 orang


atausekitar 50% responden memberikan jawaban bahwa aborsi disebabkan karena
perempuan hamil diluar nikah. 7 orang atau sekitar 23,3% responden memberikan
jawaban bahwa aborsi dilakukan karena tidak mau menghambat studi yang sedang
dijalankan, 3 orang atau sekitar 10% responden aborsi dilakukan karena umur
yang masih terlalu muda. 3 orang atau sekitar 10% responden lainya memberikan
jawaban bahwa wanita melakukan aborsi karenaa terlalu banyak memiliki anak.

51

Dan 2 orang diantaranya atau sekitar 6.7% penyebab dilakukanya aborsi adalah
karena kesulitan ekonomi.
Menurut data yang dihasilkan peneliti selama berada dilapangan di temukan
beberapa faktor penyebab terjadinya aborsi. Penyebab tersebut telah ditampilkan
dalam tabel sebelumnya, yakni;
1. Hamil Diluar Pernikahan
Perkembangan zaman saat ini telah banyak mempengaruhi pergaulan remaja
saat ini, tingkah laku yang tidak terkontrol, gaya hidup bebas ataupun segala
bentuk perbuatan yang jauh dari kaidah masyarakat Timur Tengah merupakan
tren pergaulan yang digandrungi remaja muda saat ini. Sehingga hal-hal yang
berkaitan dengan sex bebas merupakan sesuatu yang tidak asing lagi, hamil diluar
nikah merupakan buah pahit yang harus diterima. Namun karena alasan malu
karna hamil sebelum menikah serta tidak adanya kesiapan menjadi orang tua
membuat praktek aborsi menjadi alternatif yang dirasakan paling baik untuk
menutupi aib tersebut, jadi penyebab aborsi dilakukan adalah karena hamil diluar
nikah.
Menurut hasil wawancara peneliti dengan KAURMINTU SATRESKRIM
Polres Kota Gorontalo, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan seorang wanita
melakukan aborsi salah satunya adalah karena hamil diluar nikah. Aborsi tersebut
dilakukandengan

cara

meminim

ramuan

menggugurkan kandungan.3
2. Tidak Mau Mengahambat Studi

Hasil wawancara tanggal

21 februari 2013
52

yang

diracik

khusus

untuk

Pada kenyataanya para remaja melakukan seks bebas pada saat posisi atau
stasusya masih sebagai pelajar ataupun mahasiswa, yang jika dilihat dari usianya
belum mampu ataupun belum bisa menerima kehadiran seorang bayi sehingga
karena malu diketahui perbuatnya aborsi merupakan jalan keluar yang dipilih agar
kehamilan tersebut tidak menghambat masa depan dan sekolanya. Peristiwa ini
sesuai dengan kejadian yang dibenarkan oleh Mawar (20 tahun) pelaku aborsi. 4
3. Masih Terlalu Muda
Seks bebas merupakan hal yang sudah sangat meresahkan bahkan tidak
tanggung-tanggung anak yang masih duduk dibangku SMP saja sudah paham
betul dengan gaya berpacaran tersebut alhasil kehamilan tidak dapat diindahkan
lagi karena kondisi yang masih terlalu mudah dan status anak sekolah yang masih
disandang menyebabkan kehamilan tidak dapat dilanjutkan yang berakhir dengan
aborsi. Peristiwa ini dibenarkan oleh NALU yang pada saat melakukan aborsi
pada umur 17 tahun.
4. Terlalu Banyak Anak
Penggunaan alat kontrasepsi yang tidak sesuai mungkin menyebabkan
kebobolan, kehamilan yang tidak diharapkan datang dengan tiba-tiba tanpa
adanya persiapan yang cukup ditambah dengan anak yang sudah melebihi
program pemerintah menyebabkan aborsi dilakukan.
5. Kesulitan Ekonomi
Biaya hidup yang tinggi untuk membesarkan seorang anak dirasakan sangat
berat oleh sebagian kalangan, biaya dari mengurus kebutuhan sang bayi sampai ia
4

Hasil wawancara terhdap pelaku tanggal 06 april 2013

53

besar nanti dan kelak harus mendapatkan pendidikan merupakan momok yang
paling menakutkan untuk keluarga yang kurang mampu. Sehingga aborsi
merupakan jalan keluar yang dirasakan paling baik. Karena mereka lebih
cenderung berfikir bahwa alangkah lebih baik janin tersebut untuk tidak melihat
dunia dari pada nantinya orang tua tidak mampu menjamin kesejahteraan
hidupnya.
Adapun pengguguran kandungan terjadi dan terpaksa dilakukan karena hal-hal
yang beralasan dan tidak termasuk dalam aborus provocatus criminalis seperti
yang dipaparkan dalam tabel berikut ini.

TABEL 6
DATA JUMLAH ABORSI LEGAL

Tahun

Abortus spontanius

Abortus
Terapeuticus

2008

2009

2010

2011

11

2012

10

Jumlah

38

19

Sumber data: Puskesmas Kabila

Pada tabel 6 diatas walaupun data bukan merupakan jumlah keseluruhan


dari aborsi legal yang terjadi di kota gorontalo tapi data diatas dapat dijadikan
sampel data aborsi yang dilakukan secara legal. Dapat dilihat pada tabel 6 bahwa

54

kebanyakan yang terjadi adalah aborsi yang terjadi secara alami tanpa ada
pengaruh dari luar yakni Abortus spontanius ada sebanyak 38 kasus pengguguran
kandungan tersebut biasanya terjadi dengan sendirinya pada usia yang masih
relatif muda dikarenakan banyak faktor alamiah dan untuk membersihkan janin
yang masih tersisah dirahim ibu akibat pengeluaran yang tidak sempurna maka
hal ini memerlukan bantuan dari tim medis hal ini tidak dapat dijerat oleh hukum
karena telah terindikasi janin telah meninggal sebelum tindakan pembersihan
kandungan tersebut dilakukan. Berbeda lagi dengan Abortus Terapeuticus
Pengguguran kandungan ini seperti dilihat pada tabel diatas telah ada sebanyak 19
kasus. Aborsi ini merupakan tindakan legal yang dilakukan oleh tim medis karena
indikasi kedaruratan yang telah diatur dalam Undang-undang Kesehatan Undangundang Nomor 36 Tahun 2009. Pasal 75 yang berbunyi:
1. Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
2. Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a) indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik
yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit
genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki
sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b) kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis
bagi korban perkosaan.
3. Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah
melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan

55

konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan
berwenang.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
4.4 Kendala Yang Dihadapi Pihak Kepolisian Dalam Penyelesaian Kasus
Aborsi
Kepolisian dalam mengahadapi kasus aborsi ini tidak semudah yang
dibayangkan, sehingga untuk menyelesaikan kasus secara cepat, tepat dan pasti
masih banyak megalami kendala.
Kendala pertama yakni datang dari masyarakat itu sendiri, ketidaktahuan
tentang pergaulan bebas yang pada akhirnya akan membuahkan kehamilan yang
tidak diinginkan, membuat masyarakat yang mengalaminya menganggap bahwa
hal ini merupakan sebuah aib yang harus disembunyikan atau bahkan
disingkirkan. Tak segan-segan aborsi merupakan jalan keluar yang dipilih, ratusan
ribu atau bahkan jutaan rupiah bukanlah penghalang, agar dokter yang telah
memiliki sertifikasi keahlian ataupun dukun beranak yang hanya belajar secara
otodidak bersedia membantu untuk menghilangkan aib tersebut. Bahkan banyak
dari kalangan masyarakat berpendapat bahwa jalan tersebut paling baik untuk
menyembunyikan aib yang dirasa sangat memalukan.
Padahal tanpa mereka sadari bahwa tindakan aborsi yang dilakukan sangat
berbahaya bagi pelakunya, sering kali wanita yang melakukan aborsi akan
mengalami kerusakan rahim yang menyebabkan mereka untuk sulit bisa hamil

56

lagi bahkan tidak akan pernah bisa hamil. Bahkan yang lebih menakutkan lagi
tindakan aborsi dapat mengancam keselamatan wanita, bukan saja resiko infeksi
kelamin tapi yang paling parah adalah masalah pendarahan yang pastinya akan
sangat mengancam nyawa, terlebih jika praktek aborsi dilakukan oleh orang yang
tidak memiliki pendidikan ataupun sertifikasi medis.
Kendala yang lain yang mungkin menjadi penyebab sulitnya mengungkap
kasus abortus provocatus kriminalis adalah pihak kepolisian sering sekali sulit
mengidentifikasi hasil dari barang bukti aborsi. Karena hasil-hasil dari perbuatan
tersebut sering sudah hancur atau dibuang entah kemana. Bahkan pelaku yang
sudah didugapun sulit untuk ditemukan, berpindah tempat tinggal ataupun kota
dipilih untuk sekedar menghilangkan jejak sehingga polisi kesulitan untuk
menelusuri pelakunya.
Selain pihak kepolisian, penelitipun kesulitan dalam mencari informasi serta
mengumpulkan data pelaku yang berhubungan dengan kasus aborsi ini, karena
aborsi merupakan aib bagi seorang wanita, yang berarti jika memberikan
informasi berarti membuka aib mereka sendiri.
Tabel berikut akan menjelaskan dengan cara apa peneliti memperoleh
keterangan dari pelaku terhadap tindakan aborsi yang dilakukan.

57

TABEL 7
Data Tentang Cara Peneliti Untuk Menggumpulkan Keterangan Aborsi Dari
Pelaku
Nama & Umur pelaku

Cara Peneliti Dalam Mendapatkan

(Nama Samaran)

Keterangan
Dari Kemala dan Mawar Peneliti
mencari informasi di dahului dengan
percakapan ringan mengenai bagaiman

KEMALA & MAWAR (20 tahun)

cara yang paling efektif untuk


menggugurkan kandungan, seolaholah ada teman peneliti yang akan
melakukan aborsi.
Berhubung Suci adalah teman peneliti
cara yang dilakukan untuk

SUCI (21 tahun)

mendapatkan keterangan tidak begitu


sulit, peneliti memulai dengan keadaan
sebenarnya bahwa sedang melakukan
penelitian.
Keterangan ini tidak didapatkan secara

FUJI (33 tahun)

langsung dari pelaku Fuji namun di


dapatkan dari orang yang ada bersama
pelaku pada saat melakukan aborsi,
Keterangan ini di dapat dari pacar
Ratu yang kebetulan adalah teman

RATU (23 tahun)

peneliti, dengan cara peneliti mencari


info mengenai tempat dukun pijat
yang dapat membantu menggurkan
kandungan.

YANI (20 tahun)

Keterangan ini didapatkan secara tidak


sengaja karna kebetualan YN sedang

58

membahas masalah aborsi ini.


Keterangan ini di dapat berdasarkan
kejadian

langsung

yang

ditemui

peneliti dalam keadaan tidak sengaja,


NALU (17 tahun)

pelaku Nalu pada saat ditemui dalam


kondisi yang sangat mengkhawatirkan
di

kos

pelaku

dalam

keadaan

berlumuran darah dari area kelamin


pelaku,
Sumber Data : Hasil Data Lapangan
Berdasarkan tabel 6 diatas bahwa untuk mendapatkan keterangan yang di
butuhkan sangat memerlukan pendekatan karena aborsi yang dilakukan tanpa
alsan medis merupakan aib yang pastinya disembunyikan pelaku. Perasaan malu
ataupun takut untuk diketahui perbuatanya disinyalir merupakan faktor utama
menyembunyikan kejahatan aborsi yang pernah dilakukan. Tabel diatas tidak
bermaksud untuk membeberkan aib seseorang tapi lebih kepada menunjukan fakta
sebenarnya yang terjadi dilapangan.

59