Anda di halaman 1dari 26

LI 1 PERILAKU BERISIKO DAN PERILAKU KESEHATAN PADA PUBERTAS

LO 1.1 PERILAKU BERISIKO


- Definisi
Perilaku berisiko adalah perilaku yang dapat membahayakan aspek-aspek psikososial
sehingga remaja sulit berhasil dalam melalui masa perkembangannya. Perilaku berisiko
dilakukan remaja dengan tujuan tertentu yaitu untuk dapat memenuhi perkembangan
psikologisnya.

a.
b.

c.

d.

Beberapa hal berikut adalah faktor risiko untuk masa remaja mengalami perilaku berisiko
yaitu ;
Perubahan emosi menyebabkan remaja mudah tersinggung, mudah menangis, cemas, frustasi
dan sekaligus tertawa.
Perubahan intelegensi, sehingga menyebabkan remaja menjadi mudah berfikir abstrak serta
senang memberi kritik. Disamping itu remaja juga mudah untuk mengetahui hal-hal baru,
sehingga memunculkan perilaku ingin mencoba-coba.
Keingintahuan yang tinggi, khususnya terkait dengan kesehatan reproduksi remaja,
mendorong ingin mencoba dalam bidang seks yang merupakan hal yang sangat rawan, karena
dapat membawa akibat yang sangat buruk dan merugikan masa depan remaja, khususnya
remaja putri.
Beberapa keadaan yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan remaja antara lain adalah 1)
masalah gizi, 2) masalah pendidikan, 3) masalah lingkungan dan pekerjaan, 4) masalah seks
dan seksualitas dan 5) masalah kesehatan reproduksi remaja itu sendiri.

i.
j.

Tanda dan gejala perilaku remaja berisiko


Selalu ingin menang sendiri
Selalu memaksakan kehendaknya
Kebiasaan merokok
Agresif
Curiga
Mudah marah dan mudah tersinggung
Suka mencari alasan yang tidak logis
Sering pulang larut malam, bahkan terkadang suka menginap di rumah teman dengan alasan
yang cenderung di buat-buat
Berpenampilan tidak rapih, acuh tak acuh sampai tidak peduli terhadap perawatan diri sendiri
Ada perubahan emosi atau mental secara tiba-tiba

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Dampak perilaku remaja berisiko yang tidak diatasi


Dapat terjadi perilaku seks bebas pada remaja.
Terjadinya kehamilan diluar nikah
Dapat menjadi pengguna atau pengedar NAPZA
Perokok berat
Berperilaku kriminal yang menyebabkan konflik dalam keluarganya.
Cedera fisik
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada keluarga dengan perilaku remaja berisiko

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tahap remaja (awal, tengah, akhir)


a. Definisi Pubertas
Beberapa pengertian mengenai pubertas yaitu:

1. Menurut Prawirohardjo (1999: 127) pubertas merupakan masa peralihan antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa.
2. Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak
matang menjadi matang.
3. Menurut Monks (2002: 263) pubertas adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang
artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang
menunjukkan perkembangan seksual.
4. Menurut Root dalam Hurlock (2004) Pubertas merupakan suatu tahap dalam
perkembangan dimana terjadi kematangan alatalat seksual dan tercapai kemampuan
reproduksi
Pubertas : periode terjadinya perubahan fisik,fisiologis serta kematangan seksual secara pesat
terutama pada masa awal remaja. Terjadi pada usia 11/12 dan 15/16 tahun.
Definisi Remaja berdasarkan usia :
Remaja : adolescence ; tumbuh menjadi dewasa (to grow into maturity) dan didahului oleh
fase pubertas.

Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok remaja adalah sekitar 22% yang
terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan. Masa remaja, yakni usia
antara usia 11 20 tahun adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia,
dan sering disebut masa peralihan
b. Tahapan Perkembangan Masa Remaja
Tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual,
semua remaja akan melewati tahapan berikut :
1. Masa remaja awal/dini (early adolescence) : umur 11 13 tahun.
Dengan ciri khas : ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai berfikir abstrak dan
lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.
2. Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 16 tahun.
Dengan ciri khas : mencari identitas diri, timbul keinginan untuk berkencan, berkhayal
tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang mendalam.
3. Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 20 tahun.

Dengan ciri khas : mampu berfikir abstrak, lebih selektif dalam mencari teman sebaya,
mempunyai citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, pengungkapan kebebasan
diri.
Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap
tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses
tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.

Perkembangan Biologis Remaja


Perubahan hormonal ditandai dengan cepatnya pertumbuhan fisik
Laki-laki :
Perkembangan dada yang semakin bidang dan tubuh yang semakin
berotot
Perempuan :
Pinggulnya membesar dan munculnya lemak. Perempuan dua tahun lebih
cepat dibandingkan dengan anak laki laki (Berk, 1998)

Perkembangan Psikologis Remaja


Perkembangan identitas diri.
Identitas diri: adalah pikiran pikiran dan perasaan yang dimiliki mengenai diri (Gardner,
1992); bagaimana remaja mendeskripsi diri secara terorganisir, merupakan ekspansi dari rasa
harga diri (Berk, 1998)
Mulai meninggalkan masa kecil yang tenang menuju masa dewasa yang penuh persoalan
Belajar untuk membuat keputusan sendiri dan sering bertentangan dengan orang tua
Biasanya gampang tersinggung dan sulit dimengerti
Mulai ada privasi dan menjalin hubungan dengan lawan jenis

Perkembangan sosial
Pengaruh teman sebaya sangat kuat
Terbentuknya pengelompokan social

Tugas perkembangan masa remaja dan pubertas :


Mencari relasi yang lebih matang dengan teman seusia (laki-perempuan)
Mencapai peran sosial feminim atau maskulin
Menerima fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Meminta, menerima dan mencapai perilaku bertanggungjawab secara sosial
Mencapai kemandirian secara emosional
Mempersiapkan untuk karir ekonomi
Mempersiapkan untuk menikah dan berkeluarga
Memperoleh set nilai dan sistem etis untuk mengarahkan perilaku

5 masalah tersering pada remaja


Masalah Remaja di Sekolah Remaja yang masih sekolah di SMP/ SMA selalu mendapat
banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku. Berikut ada
lima daftar masalah yang selalu dihadapi para remaja di sekolah.

Problem behavior (Perilaku Bermasalah)


Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam
kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku
bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses
sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Perilaku
malu dalam dalam mengikuti berbagai aktivitas yang digelar sekolah misalnya,
termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja
mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara
tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri.
Behavior disorder (Perilaku Menyimpang)
Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang
menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak
terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami
behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang,
unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang
pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang
mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena
persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.
Behavior maladjustment (Penyesuaian diri yang salah)
Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan
mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara
cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah
merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah
(SMP/SMA).
Conduct disorder (Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah)
Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara
perilaku benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir

dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah.
Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang
benar dan salah pada anak. Wajarnya, orangtua harus mampu memberikan hukuman
(punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan
pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar.
Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia
memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti
melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya. Selain
itu, conduct disorder juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional
deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke
unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
Attention Deficit Hyperactivity Disorder yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam
perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya
tidak dapat terkontrol dan menjadi hiperaktif. Remaja di sekolah yang hiperaktif
biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam
menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hiperaktif tersebut tidak
memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hiperaktif sangat mudah
terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam
bermain bersama dengan temannya.
LO 1.2 PERILAKU KESEHATAN
- Definisi
Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja :
Kesehatan reproduksi kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas
dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya (WHO).
Prasyarat reproduksi sehat :
1. Supaya tidak terjadi kelainan anatomis fisiologis perempuan harus memiliki rongga
pinggul yang cukup besar untuk mempermudah persalinan; memiliki kelenjar penghasil
hormon reproduksi yang sehat Diperlukan gizi yang adekuat
2. Diperlukan landasan psikis yang kuat dan memadai dimulai sejak bayi
3. Terbebas dari penyakit organ reproduksi
4. Dapat melewati masa hamil dengan aman
Masalah kesehatan reproduksi remaja:
1. Perkosaan
Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Korbannya tidak hanya remaja
perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Remaja perempuan rentan mengalami perkosaan
oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan untuk menunjukkan bukti cinta.
2. Free sex
Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas pada
remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar kemungkinan
terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga
dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja
perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya.
Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obat-obatan terlarang di

kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi
remaja terkait kesehatan reproduksi ini.
3. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)
Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar masalah
seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta
atau mitos bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan kehamilan.
Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat menyebabkan kehamilan selama si
remaja perempuan dalam masa subur.
4. Aborsi
Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan sebelum waktunya. Aborsi
pada remaja terkait KTD biasanya tergolong dalam kategori aborsi provokatus atau
pengguguran kandungan yang sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran
terjadi secara alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain
karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya tertekan secara
psikologis, karena secara psikososial ia belum siap menjalani kehamilan. Kondisi psikologis
yang tidak sehat ini akan berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk
melangsungkan kehamilan.
-

Respons terhadap :
Sakit, penyakit (respon terhadap peningkatan status kesehatan, pencegahan,
pencarian obat, health rehabilitation behavior)
Pencegahan
1. Promosi kesehatan dalam bentuk penyuluhan tentang pentingnya memelihara
kesehatan reproduksi pada remaja.
2. Pelibatan remaja dalam kelompok sebaya seperti peer kounselor atau peer educator.
3. Pelibatan remaja dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan di
masyarakat.
4. Pelatihan remaja dalam keterampilan perilaku hidup sehat tentang pencegahan
masalah kesehatan remaja.
Perawatan
1. Pelibatan remaja dalam alternatif solusi masalah yang dihadapi.
2. Pelatihan keterampilan perilaku hidup sehat tentang penanganan masalah yang
dihadapi remaja.
3. Bimbingan dan konsultasi terhadap keluarga tentang alternatif solusi berdasarkan
kemampuan dan kebutuhan keluarga.
4. Konseling keluarga dan atau dengan remaja tentang masalah yang dihadapinya.
5. Bimbingan antisipasi berbagai kejadian yang dapat terjadi pada remaja dan
keluarganya serta cara menghadapinya.

System pelayanan kesehatan

Nutrisi (makanan)
Lingkungan

LI 2 KEHAMILAN REMAJA DAN YANG TIDAK DIINGINKAN


a. Definisi

Menurut Monks (1999) dalam Nasution (2007) batasan usia secara global berlangsung antara umur 12
dan 21 tahun dengan pembagian 12-15 tahun masa muda awal, 15-18 tahun masa muda pertengahan, 1821 tahun masa muda akhir.
Reproduksi sehat untuk hamil dan melahirkan adalah usia 20-30 tahun, jika terjadi kehamilan di bawah
atau di atas usia tersebut maka akan dikatakan berisiko akan menyebabkan terjadinya kematian 2-4x lebih
tinggi dari reproduksi sehat.
Kehamilan yang terjadi diusia muda merupakan salah satu resiko seks pranikah atau sesk bebas
(kehamilan yang tidak diharapkan (KTD). Kehamilan pranikah adalah kehamilan yang pada umumnya
tidak direncanakan dan menimbulkan perasaan bersalah, berdosa dan malu pada remaja yang
mengalaminya, ditambah lagi dengan adanya sangsi sosial dari masyarakat terhadap kehamilan dan
kelahiran anak tanpa ikatan pernikahan.
b. Faktor yang Mempengaruhi
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi remaja untuk menikah di usia muda, yang selanjutnya akan
hamil dan melahirkan di usia muda antara lain:
Tingkat Pendidikan
Makin rendah tingkat pendidikan, makin mendorong cepatnya perkawinan usia muda.
- Ekonomi
Apabila anak perempuan telah menikah, berarti orang tua bebas dari tanggung jawab sehingga secara
ekonomi mengurangi beban dengan kata lain sebagai jalan keluar dari berbagai kesulitan (Romauli,
S.dkk.2009). Kemiskinan mendorong terbukanya kesempatan bagi remaja khususnya wanita untuk
melakukan hubungan seksual pra nikah. Karena kemiskinan ini, remaja putri terpaksa bekerja. Namun
sering kali mereka tereksploitasi, bekerja lebih dari 12 jam sehari, bekerja di perumahan tanpa di bayar
hanya diberi makan dan pakaian, bahkan beberapa mengalami kekerasan seksual.
- Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
Kurangnya pengetahuan atau mempunyai konsep yang salah tentang kesehatan reproduksi pada remaja
dapat disebabkan karena masyarakat tempat remaja tumbuh memberikan gambaran sempit tentang
kesehatan reproduksi sebagai hubungan seksual. Biasanya topik terkait reproduksi dianggap tabu
dibicarakan dengan anak (remaja). Sehingga saluran informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi
menjadi sangat kurang.
- Hukum atau Peraturan
Dalam agama Islam menikah diisyaratkan oleh beberapa pemeluknya dianggap sesuatu yang harus
disegerakan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan yaitu wanita umur 16 tahu dan pria umur 19
tahun. Dari segi lain makin mudah orang bercerai dalam suatu masyarakat makin banyak perkawinan usia
muda.
- Adat Istiadat atau Pandangan Masyarakat
Adanya anggapan lingkungan dan adat istiadat jika anak gadis belum menikah di anggap sebagai aib
keluarga. Banyak di daerah ditemukan pandangan dan kepercayaan yang salah, kedewasaan seseorang
dinilai dari status perkawinan, status janda lebih baik daripada perawan tua.
- Dorongan Biologis
Adanya dorongan biologis untuk melakukan hubungan seksual merupakan insting alamiah dari
berfungsinya organ sistem reproduksi dan kerja hormon. Dorongan dapat meningkat karena pengaruh dari
luar, misalnya dengan membaca buku atau melihat film/ majalah yang menanpilkan gambargambar yang
membangkitkan erotisme. Di era teknologi informasi yang tinggi sekarang ini, remaja sangat mudah
mengakses gambar tersebut melalui telepon genggam dan akan selalu di bawa dalam setiap langkah
remaja.
- Kepatuhan Terhadap Orang Tua
Perkawinan dapat berlangsung karena adanya kepatuhan remaja terhadap orang tua atau sifat menentang.
- Ketidakmampuan Mengendalikan Dorongan Biologis

Kemampuan mengendalikan dorongan biologis dipengaruhi oleh nilainilai moral dan keimanan
seseorang. Remaja yang memiliki keimanan kuat tidak akan melakukan seks pra nikah, karena mengingat
ini adalah dosa besar yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Namun
keimanan ini dapat sirna tanpa tersisa bila remaja dipengaruhi obatobatan misalnya psikotropika. Obat
ini akan mempengarui pikiran remaja sehingga pelanggaran terhadap nilainilai agama dan moral
dinikmati dengan tanpa rasa bersalah.
- Adanya Kesempatan Melakukan Hubungan Seks Pra Nikah
Faktor kesempatan melakukan hubungan seks pra nikah sangat penting untuk dipertimbangkan, karena
bila tidak ada kesempatan baik ruang maupun waktu maka hubungan seks pra nikah tidak akan terjadi.
Terbukanya kesempatan pada remaja untuk melakukan hubungan seks didukung oleh kesibukan orang tua
yang menyebabkan kurangnya perhatian pada remaja. Tuntutan kebutuhan hidup sering menjadi alasan
suami istri bekerja di luar rumah dan menghabiskan hariharinya dengan kesibukan masing masing
sehingga perhatian terhadap anak remajanya terabaikan. Selain itu pemberian fasilitas (termasuk uang)
pada remaja secara berlebihan. Adanya ruang yang berlebihan membuka peluang bagi remaja untuk
membeli fasilitas, misalnya menginap di hotel/motel atau ke night club sampai larut malam. Situasi ini
sangat mendukung terjadinya hubungan seksual pra nikah.
- Pandangan terhadap Konsep Cinta
Menyalahartikan atau kebingungan dalam mengartikan konsep cinta, keintiman, dan tingkah laku seksual
sehingga remaja awal cenderung berfikir bahwa seks adalah cara untuk mendapatkan pasangan,
sedangkan remaja akhir cenderung melakukan tingkah laku seksual jika telah ada ikatan dan saling
pengertian dengan pasangan. Seks sering dijadikan sarana untuk berkomunikasi dengan pasangan
(Lesnapurnawan, 2009 dan Dianawati,2005).
c. Dampak yang Terjadi
Perkawinan dan kehamilan yang dilangsungkan pada usia muda (remaja) umumnya akan menimbulkan
masalahmasalah sebagai berikut :
- Masalah Kesehatan Reproduksi
Remaja yang akan menikah kelak akan menjadi orang tua sebaiknya mempunyai kesehatan reproduksi
yang sehat sehingga dapat menurunkan generasi penerus yang sehat. Untuk itu memerlukan perhatian
karena belum siapnya alat reproduksi untuk menerima kehamilan yang akhirnya akan menimbulkan
berbagai bentuk komplikasi. Selain itu kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di
bawah 20 tahun ternyata 25 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29
tahun.
- Masalah Psikologis
Umumnya para pasangan muda keadaan psikologisnya masih belum matang, sehingga masih lebih dalam
menghadapi masalah yang timbul dalam perkawinan. Dampak yang dapat terjadi seperti perceraian,
karena kawin cerai biasanya terjadi pada pasangan yang umurnya pada waktu kawin relatif masih muda.
Tetapi untuk remaja yang hamil di luar nikah menghadapi masalah psikologi seperti rasa takut, kecewa,
menyesal, rendah diri dan lain-lain, terlebih lagi masyarakat belum dapat menerima anak yang orang
tuanya belum jelas.
- Masalah Sosial Ekonomi
Makin bertambahnya umur seseorang, kemungkinan untuk kematangan dalam bidang sosial ekonomi
juga akan makin nyata. Pada umumnya dengan bertambahnya umur akan makin kuatlah dorongan
mencari nafkah sebagai penopang. Ketergantungan sosial ekonomi pada keluarga menimbulkan stress
(tekanan batin).
Dampak kebidanan yang terjadi pada kehamilan usia muda adalah :
a. Abortus (Keguguran)

Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan remaja yang tidak
dikehendaki. Abortus yang dilakukan oleh tenaga non-profesional dapat menimbulkan tingginya angka
kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
b. Persalinan Prematur, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Kelainan Bawaan Kekurangan
berbagai zat yang dibutuhkan saat pertumbuhan dapat mengakibatkan tingginya prematur,
BBLR dan cacat bawaan.
c. Mudah Terinfeksi
Keadaan gizi yang buruk, tingkat sosial ekonomi yang rendah dan stres memudahkan terjadinya infeksi
saat hamil, terlebih pada kala nifas.
d. Anemia Kehamilan
e. Keracunan Kehamilan (Gestosis)
Merupakan kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan
terjadinya keracunan saat hamil dalam bemtuk eklampsi dan pre eklampsi sehingga dapat menimbulkan
kematian. Dimana keracunan kehamilan merupakan penyebab kematian ibu yang terbesar ketiga.
f. Kematian Ibu yang Tinggi
Remaja yang stres pada kehamilannya sering mengambil jalan yang pintas untuk melakukan abortus oleh
tenaga non-profesional. Angka kematian abortus yang dilakukan oleh dukun cukup tinggi, tetapi angka
pasti tidak diketahui. Kematian ibu terutama karena perdarahan dan infeksi. Penyebab kematian ibu
dikenal dengan trias klasik yaitu perdarahan, infeksi dan gestosis.
d. Penanggulangan
Penanggulangan masalah kehamilan usia muda atau remaja sangat sukar dan kompleks yang menyangkut
berbagai segi kehidupan masyarakat diantaranya :
1. Pengaruh Globalisasi
Dengan derasnya arus informasi yang mendorong remaja mempunyai prilaku seks yang bebas dan jumlah
anak dalam suatu keluarga tidak terbatas sehingga kualitas pendidikan rohani kurang mendapat perhatian.
Untuk itu perlu ditanamkan nilai-nilai moral dan etika agama yang baik mulai dari masa anak- anak,
karena semua agama berpendapat bahwa kehamilan dan anak harus bersumber dari perkawinan yang syah
menurut adat agama dan bahkan hukum yang disaksikan masyarakat. Untuk itu diperlukan sikap dan
prilaku orang tua yang dapat dijadikan panutan dan suri tauladan bagi remaja.
2. Pendidikan Seks
Pendidikan seks pada remaja sangat berguna untuk memberikan pengetahuan tentang seks dan penyakit
hubungan seks. Program pendidikan seks ini lebih besar kemungkinannya berhasil apabila terdapat
pendekatan terpadu antara sekolah dan layanan kesehatan. Staf layanan kesehatan dapat dilibatkan dalam
penyampaian pendidikan seks, dan sekolah dapat mengatur kunjungan kelompok ke klinik sebagai
pengenalan dan untuk meningkatkan rasa percaya diri dari para remaja yang mungkin ingin mendapatkan
layanan klinik tersebut.
3. Keluarga Berencana untuk Remaja
Kenyataannya perilaku seks remaja menjurus kearah liberal, tidak dapat dibendung, dan hanya mungkin
mengendalikannya sehingga penyebaran penyakit hubungan seks dan kehamilan dikalangan remaja dapat
dibatasi. Untuk itu perlu dicanangkan program keluarga berencana dikalangan remaja sehingga
pengendalian perilaku seks dapat tercapai.
4. Pelayanan Gugur Kandungan
Pelayanan gugur kandungan pada remaja banyak dilakukan oleh lembaga tertentu atau dilakukan secara
perorangan untuk menghilangkan keadaan dalam persimpangan jalan pada remaja. Melakukan gugur
kandungan merupakan tindakan yang paling rasional untuk menyelesaikan masalah hamil remaja dengan
keuntungan :
- Bebas dari stres hamil yang tidak dikehendaki
- Bebas dari tekanan stres dan masyarakat

Masih dapat melanjutkan sekolah atau bekerja


Bila dilakukan secara legalitas penyulit sangat minimal dan tidak mengganggu
fungsi reproduksi
Biaya ringan, dibandingkan bila kehamilan diteruskan. Walaupun pelaksanaan gugur kandungan
merupakan tindakan yang paling rasional dan menguntungkan kedua belah pihak tetapi bukanlah dapat
dilakukan begitu saja karena undang-undang kesehatan telah menetapkan petunjuk pelaksanaannya dan
disertai sangsi hukum. Dengan demikian melakukan gugur kandungan bukan berarti bebas dari tuntutan
hukum dan tuntutan moral pelaku dan yang meminta dilakukannya.
LI 3 LANGKAH-LANGKAH MENGENDALIKAN KEHAMILAN PADA REMAJA
- Sebelum kehamilan (sex education, kontrasepsi, dll)
- Setelah terjadi kehamilan (menjaga janin sampai lahir, bayi akan ditanggung negara, ayah dan
ibunya dinikahkan, diasuh oleh single parent)
LI 4 PENATALAKSANAAN RISIKO TINGGI KEHAMILAN
a. Faktor Risiko Tinggi Kehamilan
Faktor risiko kehamilan adalah sebuah keadaan dimana seorang wanita hamil di perkirakan akan
mengalami gangguan yang akan menganggu kehamilannya dan berdampak pada wanita hamil tersebut
ataupun bayi yang sedang di kandungnya.
Kehamilan Risiko Rendah
Ibu hamil dengan kondisi kesehatan dalam keadaan baik dan tidak memiliki faktor-faktor risiko
berdasarkan klasifikasi risiko sedang dan risiko tinggi, baik dirinya maupun janin yang dikandungnya.
Contohnya adalah primipara tanpa komplikasi, multipara tanpa komplikasi, dan persalinan spontan
dengan kehamilan prematur dan bayi hidup.
Kehamilan Risiko Sedang
Ibu hamil yang memiliki satu atau lebih dari satu faktor risiko tingkat sedang, contohnya adalah ibu yang
usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, tinggi badan kurang dari 145 cm, jarak kehamilan
terlalu dekat (< 2 tahun), jumlah anak terlalu banyak (> 4 anak), kehamilan lebih bulan, dan persalinan
yang lama. Faktor ini dianggap nantinya akan mempengaruhi kondisi ibu dan janin, serta memungkinkan
terjadinya penyulit pada waktu persalinan.
Kehamilan Risiko Tinggi
Ibu hamil yang memiliki satu atau lebih dari satu faktor-faktor risiko tinggi, antara lain adanya anemia
pada ibu hamil, pernah gagal kehamilan (keguguran), kehamilan kembar, kehamilan dengan kelainan
letak, pendarahan, dan penyakit pada ibu hamil (malaria, TB Paru, penyakit jantung, DM, infeksi menular
seksual pada kehamilan, eklampsia, pre eklampsia,). Faktor risiko ini dianggap akan menimbulkan
komplikasi dan mengancam keselamatan ibu dan janin baik pada saat hamil maupun persalinan nanti.
Bahaya Kehamilan Berisiko
Bahaya yang dapat ditimbulkan akibat ibu hamil dengan risiko adalah bayi lahir belum cukup bulan, bayi
lahir dengan BBLR, keguguran (abortus), partus macet, perdarahan ante partum dan post partum, IUFD,
keracunan dalam kehamilan, kejang (Prawirohardjo, 2008)
b. Faktor Penyebab Risiko Tinggi Kehamilan
Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, 80 % karena komplikasi obstetri dan 20 % oleh sebab
lainnya. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah 3 Terlambat dan 4 Terlalu.

3 faktor terlambat :
Terlambat dalam mengambil keputusan
Terlambat sampai ke tempat rujukan
Terlambat dalam mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan
4 faktor terlalu :
Terlalu muda saat melahirkan (< 20 tahun)
Terlalu tua saat melahirkan (> 35 tahun)
Terlalu banyak anak (> 4 anak)
Terlalu dekat jarak melahirkan (< 2 tahun)
c. Pencegahan Risiko Tinggi Kehamilan dan AKI yang Tinggi
Sebagian besar kematian ibu hamil dapat dicegah apabila mendapat penanganan yang adekuat difasilitas
kesehatan. Kehamilan dengan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan, antara lain: Sering memeriksakan kehamilan sedini
mungkin dan teratur, minimal 4x kunjungan selama masa kehamilan yaitu: (a) Satu kali kunjungan pada
triwulan pertama (tiga bulan pertama). (b) Satu kali kunjungan pada triwulan kedua (antara bulan
keempat sampai bulan keenam). (c) Dua kali kunjungan pada triwulan ketiga (bulan ketujuh sampai bulan
kesembilan).
Imunisasi TT yaitu imunisasi anti tetanus 2 (dua) kali selama kehamilan dengan jarak satu bulan, untuk
mencegah penyakit tetanus pada bayi baru lahir. Bila ditemukan risiko tinggi, pemeriksaan kehamilan
harus lebih sering dan intensif. Makan makanan yang bergizi Asupan gizi seimbang pada ibu hamil dapat
meningkatkan kesehatan ibu dan menghindarinya dari penyakit- penyakit yang berhubungan dengan
kekurangan zat gizi. Menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil: (a)
Berdekatan dengan penderita penyakit menular. (b) Asap rokok dan jangan merokok. (c) Makanan dan
minuman beralkohol. (d) Pekerjaan berat. (e) Penggunaan obat-obatan tanpa petunjuk dokter/bidan. (f)
Pemijatan/urut perut selama hamil. (g) Berpantang makanan yang dibutuhkan pada ibu hamil. Mengenal
tanda-tanda kehamilan dengan risiko tinggi dan mewaspadai penyakit apa saja pada ibu hamil. Segera
periksa bila ditemukan tanda-tanda kehamilan dengan risiko tinggi. Pemeriksaan kehamilan dapat
dilakukan di Polindes/bidan. desa, Puskesmas/Puskesmas pembantu, rumah bersalin, rumah sakit
pemerintah atau swasta.
Program, perencanaan, persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K)
Suatu Kegiatan yang difasilitasi oleh Bidan di Desa dalam rangka peningkatan peran aktif suami,
keluarga dan masyarakat dalam merencanakan Persalinan yang aman dan persiapan menghadapi
komplikasi pada ibu hamil, termasuk perencanaan pemakaian alat kontrasepsi pasca persalinan dengan
menggunakan stiker sebagai media notifikasi sasaran untuk meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan
kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir KB.
Tujuan Pemasangan Stiker P4K
Penempelan stiker P4K di setiap rumah ibu hamil dimaksudkan agar ibu hamil terdata, tercatat dan
terlaporkan keadaannya oleh bidan dengan melibatkan peran aktif unsur unsur masyarakat seperti
kader, dukun dan tokoh masyarakat.
Masyarakat sekitar tempat tinggal ibu mengetahui ada ibu hamil, dan apabila sewaktu waktu
membutuhkan pertolongan, masyarakat siap sedia untuk membantu. Dengan demikian, ibu hamil yang
mengalami komplikasi tidak terlambat untuk mendapat penanganan yang tepat dan cepat.

Manfaat P4K
Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin. Ibu nifas dan bayi baru
lahir melalui peningkatan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang
aman dan persiapan menghadapi komplikasi dan tanda bahaya kebidanan dan bayi baru lahir bagi ibu
sehingga melahirkan bayi yang sehat.
Mekanisme P4K

Langkah-langkah pelaksanaan P4K dengan Pemasangan Stiker


Orientasi P4K dengan Stiker untuk pengelola program dan stakeholder terkait di tingkat
Propinsi, Kabupaten/Kota, Puskesmas.
Sosialisasi di tingkat desa kepada kader, dukun, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK serta
lintas sektor di tingkat desa.
Pertemuan bulanan di tingkat desa (Forum Desa Siaga, Forum KIA, Pokja Posyandu ,dll)
yang melibatkan Kades,Toma, Toga, Kader dengan difasilitasi oleh BdD, yang dipimpin
oleh kades.
Mendata jumlah ibu hamil di wilayah desa (setiap bulan)
Membahas dan menyepakati calon donor darah, tranportasi dan pembiayaan ( Jamkesmas,
Tabulin )
Membahas tentang pembiayaan pemberdayaan masyarakat (ADD, PNPM, GSI, Pokjanal
Posyandu, dll)
BdD bersama dengan kader atau dukun melakukan kontak dengan ibu hamil, suami dan
keluarga untuk sepakat dalam pengisian stiker termasuk pemakaian KB pasca persalinan
BdD bersama kader Mengisi dan menempel Stiker di rumah ibu hamil.

BdD Memberikan Konseling pada ibu hamil, suami dan keluarga tentang P4K terutama
dalam menyepakati isi dalam stiker sampai dengan KB pasca persalinan yang harus tercatat
dalam Amanah Persalinan yang dilakukan secara bertahap yang di pegang oleh petugas
kesehatan dan Buku KIA yang di pegang langsung oleh ibu hamil, dll.
BdD Memberikan Pelayanan saat itu juga sesuai dengan standar ditambah dengan
pemeriksaan laboratorium (Hb, Urine, bila endemis malaria lakukan pemeriksaan apus
darah tebal, PMTCT, dll)
Setelah melayani , BdD merekap hasil pelayanan ke dalam pencatatan Kartu Ibu, kohort
ibu, PWS KIA, Peta sasaran Bumil, Kantong Persalinan, termasuk kematian ibu , bayi
lahir dan mati di wilayah desa (termasuk dokter dan bidan praktek swasta di desa tsb)
Melaporkan hasil tersebut setiap bulan ke Puskesmas
Pemantauan Intensif dilakukan terus pada ibu hamil, bersalin dan nifas.
Stiker dilepaskan sampai 40 hari pasca persalinan dimana ibu dan bayi yang dilahirkan
aman dan selamat

Peran Masyarakat/Kader/Dukun
Membantu bidan dalam mendata jumlah ibu hamil di wilayah desa binaan.
Memberikan penyuluhan yang berhubungan dengan kesehatan ibu (Tanda Bahaya
Kehamilan, Persalinan dan sesudah melahirkan)
Membantu Bidan dalam memfasilitasi keluarga untuk menyepakati isi Stiker, termasuk KB
Pasca melahirkan.
Bersama dengan Kades, Toma membahas tentang masalah calon donor darah, transportasi
dan pembiayaan untuk membantu dalam menghadapi kegawatdaruratan pada waktu hamil,
bersalin dan sesudah melahirkan.
Menganjurkan suami untuk mendampingi pada saat pemeriksaan kehamilan, persalinan,
dan sesudah melahirkan
Menganjurkan Pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan

Penyebab kematian maternal dan perinatal :


Langsung (hamil dgn komplikasi, dll)
Tidak langsung (sosbud, ekonomi, dll)
Antara (akses thp layanan kesehatan)

Audit maternal perinatal (berkaitan dgn angka kematian ibu dan bayi)
Audit maternal perinatal adalah proses penelaahan bersama kasus kesakitan dan
kematian ibu dan perinatal serta penatalaksanaannya, dengan menggunakan berbagai
informasi dan pengalaman dari suatu kelompok terdekat, untuk mendapatkan
masukan mengenai intervensi yang paling tepat dilakukan dalam upaya peningkatan
kualitas pelayanan KIA disuatu wilayah.
Dengan demikian, kegiatan audit ini berorientasi pada peningkatan kualitas
pelayanan dengan pendekatan pemecahan masalah. Dalam kaitannya dengan
pembinaan, ruang lingkup wilayah dibatasi pada kabupaten/kota, sebagai unit efektif
yang mempunyai kemampuan pelayan obstetrik-perinatal dan didukung oleh
pelayanan KIA sampai ketingkat masyarakat.

Audit maternal perinatal nerupakan suatu kegiatan untuk menelusuri sebab kesakitan
dan kematian ibu dan perinatal dengan maksud mencegah kesakitan dan kematian
dimasa yang akan datang. Penelusuran ini memungkinkan tenaga kesehatan
menentukan hubungan antara faktor penyebab yang dapat dicegah dan
kesakitan/kematian yang terjadi. Dengan kata lain, istilah audit maternal perinatal
merupakan kegiatan death and case follow up.

Lebih lanjut kegiatan ini akan membantu tenaga kesehatan untuk menentukan
pengaruh keadaan dan kejadian yang mendahului kesakitan/kematian. Dari kegiatan
ini dapat ditentukan:
Sebab dan faktor-faktor terkaitan dalam kesakitan/kematian ibu dan perinatal
Dimana dan mengapa berbagai sistem program gagal dalam mencegah kematian
Jenis intervensi dan pembinaan yang diperlukan

Audit maternal perinatal juga dapat berfungsi sebagai alat pemantauan dan sistem
rujukan. Agar fungsi ini berjalan dengan baik, maka dibutuhkan :
Pengisian rekam medis yang lengkap dengan benar di semua tingkat pelayanan kesehatan
Pelacakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan cara otopsi verbal, yaitu
wawancara kepada keluarga atau orang lain yang mengetahui riwayat penyakit atau gejala serta
tindakan yang diperoleh sebelum penderita meninggal sehingga dapat diketahui perkiraan sebab
kematian.
a. Tujuan
Tujuan umum audit maternal perinatal adalah meningkatkan mutu pelayanan KIA di
seluruh wilayah kabupaten/kota dalam rangka mempercepat penurunan angka
kematian ibu dan perinatal.

Tujuan khusus audit maternal adalah :


Menerapkan pembahasan analitik mengenai kasus kebidanan dan perinatal secara teratur
dan berkesimnambungan, yang dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah
sakit pemerintah atau swasta dan puskesmas, rumah bersalin (RB), bidan praktek swasta
atau BPS di wilayah kabupaten/kota dan dilintas batas kabupaten/kota provinsi
Menentukan intervensi dan pembinaan untuk masing-masing pihak yang diperlukan untuk
mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dalam pembahasan kasus
Mengembangkan mekanisme koordinasi antara dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah
sakit pemerintah/swasta, puskesmas, rumah sakit bersalin dan BPS dalam perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap intervensi yang disepakati

b. Indikator Mortalitas
1. Angka Kematian Kasar (AKK) atau Crude Death Rate (CDR)
Konsep Dasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa
besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000
penduduk. Angka ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk.
Penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan
penduduk yang masih muda.
Kegunaan

Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan


pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka
ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk
pada suatu tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran
Kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.
Definisi
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per
1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu.

Catatan: P
idealnya adalah "jumlah penduduk pertengahan tahun tertentu" tetapi yang umumnya
tersedia adalah "jumlah penduduk pada satu tahun tertentu" maka jumlah dapat
dipakai sebagai pembagi. Kalau ada jumlah penduduk dari 2 data dengan tahun
berurutan, maka rata-rata kedua data tersebut dapat dianggap sebagai penduduk
tengah tahun.
2. Age Specific Death Rate (ASDR = Angka Kematian Menurut Umur)

3. Angka Kematian Bayi (AKB)


Konsep Dasar
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi
belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.
Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu
endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah
kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya
disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari
orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang
terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan
oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Kegunaan Angka Kematian Bayi dan Balita
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana
angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan
perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena

kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan


kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian neo-natal
adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya
program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan Angka Kematian
Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk
mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit
menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian
makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Definisi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu
tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

Catatan : K = Konstanta (1000)


Angka kematian neo-natal
Definisi
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu
bulan atau 28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.

Catatan :
Angka Kematian Neo-Natal =Angka Kematian Bayi umur 0-<1bulan
D 0-<1bulan =Jumlah Kematian Bayi umur 0 - kurang 1 bulan pada satu tahun
tertentu di daerah tertentu.
lahir hidup = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu
K = 1000
Angka kematian post neo-natal
Definisi
Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death Rate adalah kematian
yang terjadi pada bayi yang berumur antara 1 bulan sampai dengan kurang 1 tahun
per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus

Catatan :
Angka Kematian Post Neo-Natal = angka kematian bayi berumur 1 bulan sampai
dengan kurang dari 1 tahun

D 1bulan-<1tahun = Jumlah kematian bayi berumur satu bulan sampai dengan


kurang dari 1 tahun pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
K = konstanta (1000)
4. Angka Kematian Balita (AKBa 0-5 tahun)
Konsep
Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang
berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada
umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun.
Definisi
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama satu
tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk
kematian bayi)
Rumus

Catatan :
Jumlah Kematian Balita (0-4)th = Banyaknya kematian anak berusia 0-4 tahun pada
satu tahun tertentu di daerah tertentu
Jumlah Penduduk Balita (0-4)th = jumlah penduduk berusia 0-4 tahun pada
pertengahan tahun tertentu di daerah tertentu
K = Konstanta, umumnya 1000
5.

Angka Kematian Anak (AKA 1-5 tahun)

Konsep
Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia satu
sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari.
Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung
mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi
keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk,
tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di
dalam atau di sekitar rumah.
Definisi
Angka Kematian Anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun selama satu
tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu. Jadi Angka
Kematian Anak tidak termasuk kematian bayi.

Catatan :
Jumlah kematian Anak (1-4)th =Banyaknya kematian anak berusia 1-4 tahun (yang
belum tepat berusia 5 tahun) pada satu tahun tertentu di daerah tertentu.
Jumlah Penduduk (1-4) th =jumlah penduduk berusia 1-4 tahun pada pertengahan
tahun tertentu di daerah tertentu
K = Konstanta, umumnya 1000
6. Angka Kematian IBU (AKI)
Konsep
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam
kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya
kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena
kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain
sepertikecelakaan, terjatuh dll.
Definisi
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil
atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat
persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan
karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Cara Menghitung
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per
100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas
umum. Dengan cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal per 100.000
kelahiran.

Catatan:
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang
disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan, pada
tahun tertentu, di daerah tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu,
di daerah tertentu.
Konstanta =100.000 bayi lahir hidup.
Keterbatasan
AKI sulit dihitung, karena untuk menghitung AKI dibutuhkan sampel yang besar,
mengingat kejadian kematian ibu adalah kasus yang jarang. Oleh karena itu kita
umumnya dignakan AKI yang telah tersedia untuk keperluan pengembangan
perencanaan program.

c. Kebijaksanaan dan Strategi


Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa tenaga
kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar
profesi dan dan menghormati hak pasien. Berdasarkan hal tersebut, kebijaksanaan
Indonesia Sehat 2010 dan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) sehubungan
dengan audit maternal perinatal adalah sebagai berikut :
Peningkatan mutu pelayanan KIA dilakukan secara terus menerus melalui program jaga
mutu puskesmas, di samping upaya perluasan jangkauan pelayanan. Upaya peningkatan
dan pengendalian mutu antara lain melalui kegiatan audit perinatal.
Meningkatkan fungsi kabupaten/kota sebagai unit efektif yang mampu memanfaatkan
semua potensi dan peluang yang ada untuk meningkatkan pelayanan KIA diseluruh
wilayahnya
Peningkatan kesinambungan pelayanan KIA ditingkat pelayanan dasar (puskesmas dan
jajarannya) dan tingkat rujukan primer RS kabupaten/kota
Peningkatan kemampuan manajerial dan keterampilan teknis dari para pengelola dan
pelaksanaan program KIA melalui kegiatan analisis manajemen dan pelatihan klinis
Strategi yang diambil dalam menerapkan AMP adalah :
a) Semua kabupaten/kota sebagai unit efektif dalam peningkatan pelayanan program KIA secara
bertahap menerapkan kendali mutu ,yang antara lain dilakukan melalui AMP diwilayahnya
ataupun diikut sertakan kabupaten/kota lain
b) Dinas kesehatan kabupaten atau kota berfungsi sebagai koordinator fasilitator yang bekerja
sama dengan rumah sakit kabupaten/kota dan melibatkan puskesmas dan unit pelayanan KIA
swasta lainnya dalam upaya kendali mutu diwilayah kabupaten/kota
c) Ditingkat kabupaten/kota perlu dibentuk tim AMP, yang selalu mengadakan pertemuan rutin
untuk menyeleksi kasus, membahas dan membuat rekomendasi tindak lanjut berdasarkan
temuan dari kegiatan audit (penghargaan dan sanksi bagi pelaku)
d) Perencanaan program KIA dibuat dengan memanfaatkan hasil temuan dari kegiatan audit,
sehingga diharapkan berorientasi kepada pemecahan masalah setempat
e) Pembinaan dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, bersama-sama RS dilaksanakan
langsung pada saat audit atau secara rutin, dalam bentuk yang disepakati oleh tim AMP.
d. Langkah dan Kegiatan
Langkah-langkah dan kegiatan audit AMP ditingkat kabupaten/kota sebagai berikut :
Pembentukan tim AMP
Penyebarluasan informasi dan petunjuk teknis pelaksanaan AMP
Menyusun rencana kegiatan (POA) AMP
Orientasi pengelola program KIA dalam pelaksanaan AMP
Pelaksanaan kegiatan AMP
Penyusunan rencana tindak lanjut terhadap temuan dari kegiatan audit maternal oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota bekerjasama dengan RS
Pemantauan dan evaluasi
Rincian kegiatan AMP yang dilakukan adalah sebagai berikut :
A. Tingkat kabupaten /kota
Menyampaikan informasi dan menyamakan presepsi dengan pihak terkait mengenai
pengertian dan pelaksanaan AMP dikabupaten/kota

Menyusun tim AMP dikabupaten atau kota, yang susunannya disesuaikan dengan
situasi dan kondisi setempat.
Melaksanakan AMP secara berkala dan melibatkan:
- Para kepala puskesmas dan pelaksana pelayanan KIA dipuskesmas dan
jajarannya
- Dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan serta dokter spesialis anak
dokter ahli lain RS kabupaten/kota
- Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dan staf pengelola program terkait
- Pihak lain yang terkait, sesuai kebutuhan misalnya bidan praktik swasta
petugas rekam medik RS kabupaten/kota dan lain-lain.
Melaksanakan kegiatan AMP lintas batas kabupaten/kota/propinsi
Melaksanakan kegiatan tindak lanjut yang telah disepakati dalam pertemuan tim AMP
Melakukan pemantauan dan evaluasi kegiatan audit serta tindak lanjutnya, dan
melaporkan hasil kegiatan ke dinas kesehatan propinsi untuk memohon dukungan
Memanfaatkan hasil kegiatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan
program KIA, secara berkelanjutan
B. Tingkat puskesmas
Menyampaikan informasi kepada staf puskesmas terkait mengenai upaya peningkatan
kualitas pelayanan KIA melalui kegiatan AMP
Melakukan pencatatan atas kasus kesakitan dan kematian ibu serta perinatal dan
penanganan atau rujukannya, untuk kemudian dilaporkan kedinas kesehatan kabupaten
kota
Mengikuti pertemuan AMP di kabupaten/kota
Melakukan pelacakan sebab kematian ibu/perinatal (otopsi verbal ) selambatlambatnya 7 hari setelah menerima laporan. Informasi ini harus dilaporkan ke dinas
kesehatan kabupaten/kota selambat-lambatnya dalam waktu 1 bulan. Temuan otopsi
verbal dibicarakan dalam pertemuan audit dikabupaten /kota.
Mengikuti/melaksanakan kegiatan peningkatan kualitas pelayanan KIA, sebagai tindak
lanjut dari kegiatan audit
Membahas kasus pertemuan AMP di kabupaten/kota
Membahas hasil tindak lanjut AMP non medis dengan lintas sektor terkait.
C. Tingkat propinsi
Menyebarluaskan pedoman teknis AMP kepada seluruh kabupaten/kota
Menyamakan kerangka pikir dan menyusun rencana kegiatan pengembangan kendali
mutu pelayanan KIA melalui AMP bersama kabupaten/kota yang akan difasilitasi
secara intensif.
Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dikabupaten/kota
Memberikan dukungan teknis dan manajerial kepada kabupaten/kota sesuai kebutuhan
Merintis kerjasama dengan sektor lain untuk kelancaran pelaksanaan tindak lanjut
temuan dari kegiatan audit yang berkaitan dengan sektor diluar kesehatan
Memfasilitasi kegiatan AMP lintas batas kabupaten/kota/propinsi
D. Tingkat pusat
Melakukan fasilitasi pelaksanaan AMP, sebagai salah satu bentuk upaya peningkatan
mutu pelayanan KIA di wilayah kabupaten/kota serta peningkatan kesinambungan
pelayanan KIA di tingkat dasar dan tingkat rujukan primer.

e. Metode Pelaksanaan
Metoda pelaksanaan AMP sebagai berikut

f.

Penyelenggaran pertemuan dilakukan teratur sesuai kebutuhan oleh dinas kesehatan


kabupaten/kota bersama dengan RS kabupaten/kota, berlangsung sekitar 2 jam.
Kasus yang dibahas dapat berasal dari RS kabupaten/kota atau puskesmas. Semua kasus
ibu/perinatal yang meninggal dirumah sakit kabupaten/kota/puskesmas hendak nya di
audit, demikian pula kasus kesakitan yang menarik dan dapat diambil pelajaran darinya
Audit yang dilaksanakan lebih bersifat mengkaji riwayat penanganan kasus sejak dari :
- Timbulnya gejala pertama dan penanganan oleh keluarga /tenaga kesehatan
dirumah
- Proses rujukan yang terjadi
- Siapa saja yang memberikan pertolongan dan apa saja yang telah dilakukan
- Sampai kemudian meninggal dan dapat dipertahankan hidup. Dari pengkajian
tersebut diperoleh indikasi dimana letak kesalahan/kelemahan dalam
penanganan kasus. Hal ini memberi gambaran kepada pengelola program KIA
dalam menentukan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah
kesakitan/kematian ibu/perinatal yang tidak perlu terjadi.
- Pertemuan ini bersifat pertemuan menyelesaikan masalah dan tidk bertujuan
menyalahkan atau memberi sanksi, salah satu pihak
- Dalam tiap pertemuan dibuat daftar hadir, notulen hasil pertemuan dan rencana
tindak lanjut, yang akan disampaikan dan dibahas dalam pertemuan tim AMP
yang akan dating
- RS kabupaten /kota/puskesmas membuat laporan bulanan kasus ibu dan
perinatal kedinas kesehatan kabupaten/kota, dengan memakai format yang
disepakati

Pencatatan dan Laporan


Dalam pelaksanaan audit maternal perinatal ini diperlukan mekanisme pencatatan
yang akurat, baik ditingkat puskesmas, maupun ditingkat RS kabupaten/kota.
Pencatatan yang diperlukan adalah sebagai berikut :
Tingkat puskesmas
Selain menggunakan rekam medis yang sudah ada dipuskesmas, ditambahkan pula :
- Formulir R9formulir rujukan maternal dan perinatal)
Formulir ini dipakai oleh puskesmas, bidan didesa maupun bidan swasta untuk
merujuk kasus ibu maupun perinatal.
- Form OM dan OP (formulir otopsi verbal maternal dan perinatal)
Digunakan untuk otopsi verbal ibu hamil/bersalin/nifas yang meninggal sedangkan
form OP untuk otopsi verbal perinatal yang meninggal . untuk mengisi formulir
tersebut dilakukan wawancara terhadap keluarga yang meninggal oleh tenaga
puskesmas.
RS kabupaten/kota
Formulir yang dipakai adalah
- Form MP (formulir maternal dan perinatal )
Form ini mencatat data dasar semua ibu bersalin /nifas dan perinatal yang masuk
kerumah sakit. Pengisiannya dapat dilakukan oleh perawat
- Form MA (formulir medical audit )
Dipakai untuk menulis hasil/kesimpulan dari audit maternal maupun audit perinatal.
Yang mengisi formulir ini adalah dokter yang bertugas dibagian kebidanan dan
kandungan (untuk kasus ibu) atau bagian anak (untuk kasus perinatal)
Pelaporan hasil kegiatan dilakukan secara berjenjang, yaitu :

Laporan dari RS kabupaten/kota ke dinas kesehatan


Laporan bulanan ini berisi informasi mengenai kesakitan dan kematian (serta sebab
kematian ) ibu dan bayi baru lahir bagian kebidanan dan penyakit kandungan serta
bagian anak.
Laporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota
Laporan bulanan ini berisi informasi yang sama seperti diatas ,dan jumlah kasus yang
dirujuk ke RS kabupaten/kota
Laporan dari dinas kesehatan kabupaten/kota ketingkat propinsi
Laporan triwulan ini berisi informasi mengenai kasus ibu dan perinatal ditangani oleh
Rs kabupaten /kota ,puskesmas dan unit pelayanan KIA lainnya ,serta tingkat
kematian dari tiap jenis komplikasi atau gangguan . laporan merupakan rekapitulasi
dari form MP dan form R,yang hendaknya diusahakan agar tidak terjadi duplikasi
pelaporan untuk kasus yang dirujuk ke RS.
Pada tahap awal, jenis kasus yang dilaporkan adalah komplikasi yang paling sering
terjadi pada ibu
LI 5 PANDANGAN ISLAM TERHADAP RISIKO KEHAMILAN MUDA DILUAR NIKAH DAN
HUKUM ABORSI
a. Hukum Zina
Pengertian zina
Zina (bahasa Arab : , bahasa Ibrani : zanah ) adalah perbuatan
bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan
pernikahan (perkawinan). Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah
melakukan hubungan seksual, tapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat
merusak kehormatan manusia termasuk dikategorikan zina.
Sedangkan zina secara harfiah artinya fahisyah, yaitu perbuatan keji. Zina dalam
pengertian istilah adalah hubungan kelamin di antara seorang lelaki dengan seorang
perempuan yang satu sama lain tidak terikat dalam hubungan perkawinan.

Hukuman untuk orang yang berzina


Hukumnya menurut agama Islam untuk para penzina adalah sebagai berikut:
Jika pelakunya muhshan, mukallaf (sudah baligh dan berakal), suka rela (tidak dipaksa,
tidak diperkosa), maka dicambuk 100 kali, kemudian dirajam, berdasarkan perbuatan Ali
bin Abi Thalib atau cukup dirajam, tanpa didera dan ini lebih baik, sebagaimana dilakukan
oleh Muhammad, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar bin Khatthab.
Jika pelakunya belum menikah, maka dia didera (dicambuk) 100 kali. Kemudian
diasingkan selama setahun.
Syarat-syarat mendapatkan hukuman bagi pezina
Hukuman yang ditetapkan atas diri seseorang yang berzina dapat dilaksanakan
dengan syaarat-syarat sebagai berikut:
Orang yang berzina itu berakal/waras
Orang yang berzina sudah cukup umur (baligh)
Zina dilakukan dalam keadaan tidak terpaksa, tetapi atas kemauannya sendiri
Orang yang berzina tahu bahwa zina itu diharamkan
Larangan berbuat zina

Zina dinyatakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum yang harus sangat buruk.
Hubungan bebas dan segala bentuk diluar ketentuan agama adalah perbuatan yang
membahayakan dan mengancam keutuhan masyarakat dan merupakan perbuatan
yang sangat nista. Allah SWT berfirman:

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah
perbuatan yang keji dan merupakan jalan yang buruk. (QS. al-Isra :32)
b. Hukum Aborsi
Pengertian
Aborsi menurut Bahasa Arab disebut dengan al-Ijhadh yang berasal dari kata
ajhadha - yajhidhu yang berarti wanita yang melahirkan anaknya secara paksa
dalam keadaan belum sempurna penciptaannya atau juga bisa berarti bayi yang lahir
karena dipaksa atau bayi yang lahir dengan sendirinya. Aborsi di dalam istilah fikih
juga sering disebut dengan isqhoth (menggugurkan) atau ilqaa (melempar) atau
tharhu (membuang).
Pandangan Islam Terhadap Nyawa, Janin dan Pembunuhan
Manusia adalah ciptaan Allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik dengan
merubah ciptaan tersebut, maupun mengranginya dengan cara memotong
sebagiananggota tubuhnya, maupun dengan cara memperjual belikannya, maupun
dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu dengan membunuhnya, sebagaiman
firman Allah swt :
Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia ( Qs. al-Isra:70)
Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang.
Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.
Barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan
nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan nyawa
manusia semuanya. (Qs. Al Maidah:32)
Dilarang membunuh anak ( termasuk di dalamnya janin yang masih dalam
kandungan ) , hanya karena takut miskin. Sebagaimana firman Allah swt :
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang
memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh
mereka adalah dosa yang besar. (Qs al Isra : 31)
Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan kehendak Allah swt, sebagaimana
firman Allah swt
Selanjutnya Kami dudukan janin itu dalam rahim menurut kehendak Kami selama
umur kandungan. Kemudian kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi.
(QS al Hajj : 5)
Larangan membunuh jiwa tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt :
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan
alasan yang benar ( Qs al Isra : 33 )
Hukum Aborsi Dalam Islam

Di dalam teks-teks al Quran dan Hadist tidak didapati secara khusus hukum aborsi,
tetapi yang ada adalah larangan untuk membunuh jiwa orang tanpa hak, sebagaimana
firman Allah swt :
Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka
balasannya adalah neraka Jahanam, dan dia kekal di dalamnya,dan Allah murka
kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan baginya adzab yang besar( Qs An
Nisa : 93 )
Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud bahwasanya Rosulullah saw
bersabda :
Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut
ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah
segumlah darah beku. Ketika genap empat puluh hari ketiga , berubahlah menjadi
segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh, serta
memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan rizki, waktu kematian,
amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang bahagia. ( Bukhari dan
Muslim)
Maka, untuk mempermudah pemahaman, pembahasan ini bisa dibagi menjadi dua
bagian sebagai berikut :
1. Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh
Dalam hal ini, para ulama berselisih tentang hukumnya dan terbagi menjadi tiga
pendapat :
Pendapat Pertama :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya boleh. Bahkan sebagian dari
ulama membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. (Hasyiat Al
Qalyubi : 3/159) Pendapat ini dianut oleh para ulama dari madzhab Hanafi, SyafiI,
dan Hambali. Tetapi kebolehan ini disyaratkan adanya ijin dari kedua orang tuanya,
(Syareh Fathul Qadir : 2/495) Mereka berdalil dengan hadist Ibnu Masud di atas
yang menunjukkan bahwa sebelum empat bulan, roh belum ditiup ke janin dan
penciptaan belum sempurna, serta dianggap benda mati, sehingga boleh digugurkan.
Pendapat kedua :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya makruh. Dan jika sampai pada
waktu peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram. Dalilnya bahwa waktu
peniupan ruh tidak diketahui secara pasti, maka tidak boleh menggugurkan janin jika
telah mendekati waktu peniupan ruh, demi untuk kehati-hatian. Pendapat ini dianut
oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam Romli salah seorang ulama dari
madzhab SyafiI . ( Hasyiyah Ibnu Abidin : 6/591, Nihayatul Muhtaj : 7/416)
Pendapat ketiga :
Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya haram. Dalilnya bahwa air
mani sudah tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum wanita
sehingga siap menerima kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan
kejahatan. Pendapat ini dianut oleh Ahmad Dardir , Imam Ghozali dan Ibnu Jauzi
( Syareh Kabir : 2/ 267, Ihya Ulumuddin : 2/53, Inshof : 1/386)
Adapun status janin yang gugur sebelum ditiup rohnya (empat bulan), telah dianggap
benda mati, maka tidak perlu dimandikan, dikafani ataupun disholati. Sehingga bisa
dikatakan bahwa menggugurkan kandungan dalam fase ini tidak dikatagorikan
pembunuhan, tapi hanya dianggap merusak sesuatu yang bermanfaat.

Ketiga pendapat ulama di atas tentunya dalam batas-batas tertentu, yaitu jika di
dalamnya ada kemaslahatan, atau dalam istilah medis adalah salah satu bentuk
Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu jika bertujuan untuk kepentingan medis dan
terapi serta pengobatan. Dan bukan dalam katagori Abortus Profocatus Criminalis,
yaitu yang dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar hukum yang
berlaku, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
2. Menggugurkan Janin Setelah Peniupan Roh
Secara umum, para ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah peniupan
roh hukumnya haram. Peniupan roh terjadi ketika janin sudah berumur empat bulan
dalam perut ibu, Ketentuan ini berdasarkan hadist Ibnu Masud di atas. Janin yang
sudah ditiupkan roh dalam dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia telah menjadi
seorang manusia, sehingga haram untuk dibunuh. Hukum ini berlaku jika
pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat.
Namun jika disana ada sebab-sebab darurat, seperti jika sang janin nantinya akan
membahayakan ibunya jika lahir nanti, maka dalam hal ini, para ulama berbeda
pendapat.
Pendapat Pertama :
Menyatakan bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap
haram, walaupun diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan
keselamatan ibu yang mengandungnya. Pendapat ini dianut oleh Mayoritas Ulama.
Dalilnya adalah firman Allah swt : Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.
(Q.S. Al Israa: 33)
Pendapat Kedua :
Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya, jika hal
itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena
menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan dari pada menjaga kehidupan janin, karena
kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum
yakin dan keberadaannya terakhir. (Mausuah Fiqhiyah : 2/57) Dari keterangan di
atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama sepakat bahwa Abortus Profocatus
Criminalis, yaitu aborsi kriminal yang menggugurkan kandungan setelah ditiupkan
roh ke dalam janin tanpa suatu alasan syari hukumnya adalah haram dan termasuk
katagori membunuh jiwa yang diharamkan Allah swt. Adapun aborsi yang masih
diperselisihkan oleh para ulama adalah Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu
aborsi yang bertujuan untuk penyelamatan jiwa, khususnya janin yang belum
ditiupkan roh di dalamnya.