Anda di halaman 1dari 20

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi, Fisiologi Payudara


1.1 Anatomi Payudara
Glandula mammae terletak pada fasia pektoris yang meliputi dinding anterior
dada. Pada anak-anak dan pria glandula mammae rudimenter. Pada wanita setelah
pubertas glandula mammae membesar dan dianggap berbentuk sferis. Pada wanita
dewasa muda glandula mammae terletak di atas costa II sampai VI dan rawan costanya
dan terbentang dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media. Pinggir lateral
atasnya meluas sampai sekitar bawah m.pectoralis major dan masuk ke axilla. Pada
bagian lateral atas yang keluar ke arah aksila membentuk penonjolan yang disebut
penonjolan Spencer atau ekor payudara.
Setiap payudara terdiri dari 12 sampai 20 lobulus yang masing-masing
mempunyai saluran ke papila mammae, yang disebut duktus laktiferus. Di antara lobulus
tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk
payudara. Lobulus merupakan unit sekresi mammae. Tiap lobulus terdiri atas sejumlah
asinus, atau kelenjar yang berada di dalam jaringan ikat longgar dan berhubungan dengan
duktus intralobularis. Tiap asinus tersusun atas dua tipe sel yaitu epitel dan mioepitel. Sel
epitel merupakan sel sekresi. Meskipun sintesis air susu ibu hanya berlangsung selama
masa akhir kehamilan dan post-partum, sel tersebut mensekresi terus menerus berbagai
jenis glikogen protein yang dimasukkan ke dalam lumen kelenjar. Sel epitel dikelilingi
oleh sel mioepitel yang mengandung protein kontraktil yang mempunyai fungsi mekanik.
Duktus intralobularis berhubungan dengan duktus ekstralobularis. Duktus
ekstralobularis dalam satu daerah yang sama saling berhubungan membentuk duktus
subsegmental, yang saling berhubungan membentuk duktus segmental. Ini akan bermuara
ke duktus laktiferus dan sinus laktiferus yang berhubungan dengan permukaan papila
mammae melalui orifisium yang terpisah. Terdapat 15-20 duktus laktiferus, masing-

masing mengalirkan satu segmen mammae. Duktus dilapisi oleh sel epitel yang
dikelilingi oleh sel mioepitel. Stroma jaringan ikatnya lebih padat dibandingkan dengan
lobulusnya dan duktus dikelilingi oleh jaringan elastik yang membentu fungsi drainase
duktus.
Penyediaan darah ke payudara terutama berasal dari cabang a.perforantes anterior
dari a.mamaria interna, a.torakalis lateralis yang bercabang dari a.aksilaris, dan beberapa
a.interkostalis.
Persarafan kulit payudara bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom
T2 sampai T6. Segmen dermatom area ini bisa didenervasi total atau sebagian setelah
elevasi flap kulit untuk mastektomi radikal atau modifikasi. Dengan pemotongan flap
kulit dalam aksila, maka suatu cabang utama bisa dikenali dan dikorbankan. Persarafan
kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.interkostalis. Jaringan kelenjar
payudara sendiri diurus oleh saraf simpatik. Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat
sehubungan

dengan

penyulit

paralisis

dan

mati

rasa

pasca

bedah,

yakni

n.interkostobrakialis dan n.kutaneus brakius medius yang mengurus sensibilitas daerah


aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila saraf ini sukar disingkirkan
sehingga sering terjadi mati rasa di daerah tersebut.
Aliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar
parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula aliran yang ke
kelenjar interpektoralis. Di aksila terdapat rata-rata 50 (berkisar 10-90) buah kelenjar
getah bening yang berada di sepanjang arteri dan vena brakialis. Saluran limfe dari
seluruh payudara mengalir ke kelompok anterior aksila, kelompok sentral aksila, kelenjar
aksila bagian dalam, yang lewat sepanjang v.aksilaris dan yang berlanjut langsung ke
kelenjar servikal bagian kaudal dalam di supraklavikuler. Jalur limfe lainnya berasal dari
daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mamaria
interna, juga menuju ke aksila kontralateral, ke m.rektus abdominis lewat ligamentum
falsiparum hepatis ke hati, ke pleura, dan ke payudara kontralateral.

1.2 Fisiologi Payudara


Sepanjang hidupnya, pada mammae wanita terjadi perubahan fisiologis dan
patalogis yang bervariasi. Hal ini terutama berhubungan dengan variasi kadar hormon
yang terjadi sebelum, selama dan setelah reproduksi. Hormon-hormon yang
mempengaruhi perkembangan payudara adalah estrogen, progesteron, LH, FSH (Folikel
Stimulating Hormon) dan Prolaktin. Estrogen dan progesteron diproduksi oleh ovarium,
LH dan FSH disekresi oleh sel basofil yang terletak dalam glandula hypophysis anterior
sedangkan prolaktin disekresi oleh sel asidofil hypophysis.
Beberapa hari setelah lahir sebagian besar bayi baik laki-laki ataupun perempuan
menunjukkan pembesaran kelenjar payudara sedikit dan mulai mensekresi sedikit
kolostrum dan menghilang sesudah kira-kira satu minggu kemudian. Kemudian kelenjar
payudara kembali infantil, tidak aktif.
Dengan permulaan pubertas antara 10-15 tahun, areola membesar dan lebih
mengandung pigmen. Payudara pun menyerupai cakram. Pertumbuhan kelenjar akan
berjalan terus sampai umur dewasa hingga berbentuk sferis. Hal ini terjadi di bawah
pengaruh estrogen yang kadarnya meningkat. Terutama yang tumbuh ialah jaringan
lemak dan jaringan ikat di antara 15-20 lobus payudara. Biasanya bentuk payudara sudah
sempurna setelah menstruasi dimulai.
Pada fase menstruasi, mammae sangat sensitif terhadap perubahan kadar estrogen
dan progesteron. Stroma lobularis menjadi sangat edema karena mengalami proses
mitosis selama fase sekresi estrogen dan progesteron, sehingga sekitar hari ke-8 fase
menstruasi payudara jadi lebih besar. Pada hari ke-22 sampai ke-24 dari siklus
menstruasi, dimana kadar estrogen dan progesteron mencapai puncaknya, terjadi
pembesaran payudara yang maksimal.
Selama masa kehamilan, terjadi proliferasi dan pembesaran lobulus sebagai
persiapan sintesis dan aktivitas sekresi untuk laktasi. Pada trimester ketiga jumlah asinus
pada setiap lobulus dan ukuran lobulus menjadi sangat meningkat. Sel epitel
laktalbumin berdiferensiasi serta mensintesis dan mensekresi air susu (kasein, dan
membran globula lemak air susu yang merupakan derivat sel permukaan luminal
mammae) merupakan petanda yang bermanfaat untuk menentukan status diferensiasi sel

mammae. Estrogen, progesteron, dan prolaktin bersama dengan hormon lain sangat
penting pada perkembangan mammae selama masa kehamilan meskipun begitu setelah
persalinan kadar estrogen dan progesteron akan menurun dan prolaktin meningkat untuk
memicu laktasi. Apabila pemberian air susu dihentikan, akan terjadi involusi stuktur
lobularis secara cepat, dan struktur mammae kembali ke struktur sebelum kehamilan.
Pada masa menopause, efek estrogen dan progestrogen fungsi ovarium berhenti
dan dimulai involusi progresif. Regresi ke epitel atrofi atau hipoplastik jelas di dalam
duktus dan lobulus serta stroma diganti dengan jaringan fibrosa periduktus padat. Timbul
dilatasi jalinan duktus laktiferus dalam lobulus terisolasi. Asinus lobulus kehabisan epitel
toraksnya serta bisa membesar dan membentuk makrokista. Pada pemeriksaan, payudara
senilis atau pasca menopause sering asimetris dengan ketidakteraturan komponen lobulus
dan pembentukan kista dalam ukuran bervariasi. Karena kandungan lemak dan
fibrostoma periduktus penyokong terdepresi, maka payudara tua menjadi suatu struktur
pendulosa, homogen dengan kehilangan bentuk dan konfigurasi.
II. Karsinoma Mammae
2.1 Etiologi
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan
tidak terkendali. Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai
suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh
Word Health Organization (WHO) dimasukkan ke dalam International Classification of
Diseases (ICD) dengan kode nomor 17.
2.2 Insidensi dan Epidemiologi
Karsinoma mamae pada wanita menduduki tempat nomor dua setelah karsinoma
servik uterus. Di Amerika Serikat karsinoma mamae merupakan 28% kanker pada wanita
kulit putih, dan 25% pada wanita kulit hitam.
Kurva insiden-usia bergerak naik terus sejak usia 30 tahun. Kanker ini jarang
sekali ditemukan pada wanita usia dibawah 20 tahun. Angka tertinggi terdapat pada usia

44-66 tahun. Insidensi karsinoma mammae pada laki-laki hanya 1% dari kejadian pada
perempuan. Karsinoma mamae merupakan neoplasma spesifik pada wanita dan
merupakan sebab utama kematian akibat kanker dalam wanita pada berusia 40-44 tahun.
Karsinoma mamae suatu penyakit yang lazim terjadi. Saat ini sekitar 1 dari setiap
14 wanita (7 persen) akan menderita karsinoma mamae. Lima puluh persen wanita ini
akan meninggal karena penyakit ini. Walaupun belakangan ini wanita melaporkan massa
mencurigakan lebih dini ke dokternya, namun angka mortalitas tetap tinggi dan
berhubungan langsung dengan stadium penyakit saat diagnosis.
2.3 Faktor Resiko
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor resiko yang
menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara.
Beberapa faktor resiko tersebut adalah:
1. Usia
Seperti pada banyak jenis kanker, insidensi menurut usia naik sejalan dengan
bertambahnya usia.
2. Keluarga
Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita kanker payudara
dua sampai tiga kali lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya
menderita kanker payudara. Kemungkinan ini lebih besar bila ibu atau saudara kandung
itu menderita kanker bilateral atau pramenopause.
Wanita yang pernah ditangani karsinoma payudaranya, memang mempunyai
resiko tinggi mendapat karsinoma di payudara lain.
3. Hormonal
Pertumbuhan kanker payudara sering dipengaruhi oleh perubahan keseimbangan
hormon. Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif wanita, terutama jika tidak
diselingi oleh perubahan hormonal pada kehamilan, tampaknya meningkatkan peluang

tumbuhnya sel-sel yang secara genetik telah mengalami kerusakan dan menyebabkan
kanker.
4. Riwayat Menstruasi
Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 11 tahun, menopause setelah usia 55
tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil.
Semakin dini menarke, semakin besar resiko menderita kanker payudara.
Demikian pula dengan menopause ataupun kehamilan pertama. Semakin lambat
menopause dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker payudara.
5. Riwayat pemakaian kontrasepsi
Pil KB bisa sedikit meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara, yang
tergantung pada usia, lamanya pemakaian dan faktor lainnya. Belum diketahui berapa
lama efek pil akan tetap ada setelah pemakaian pil dihentikan.
Terapi sulih estrogen yang dijalani selama lebih dari 5 tahun tampaknya juga
sedikit meningkatkan resiko kanker payudara dan resikonya meningkat jika
pemakaiannya lebih lama.
6. Obesitas pasca menopause
Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai factor resiko kanker payudara
kemungkinan karena tingginya kadar estrogen pada wanita yang obesitas.
7. Pemakaian alkohol
Pemakaian alkohol lebih dari 1-2 gelas/hari bisa meningkatkan resiko terjadinya
kanker payudara.
8. Bahan kimia
Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai
estrogen (yang terdapat pada pestisida dan produk industri lainnya) mungkin
meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

9. Penyinaran
Pemaparan terhadap penyinaran (terutama penyinaran pada dada), pada masa
kanak-kanak bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
10. Faktor resiko lainnya
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker rahim, ovarium dan kanker usus
besar serta adanya riwayat kanker dalam keluarga bisa meningkatkan resiko terjadinya
kanker payudara.
2.4 Patofisiologi

Transformasi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut
transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.

Fase inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel
menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang
disebut karsinogen yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar
matahari. Tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu
karsinogen. Kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor,
menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik
menahun pun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan.

Fase promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas.
Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. Karena itu
diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan
suatu karsinogen).

2.5 Klasifikasi
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Non-invasif karsinoma
o

Non-invasif duktal karsinoma

Lobular karsinoma in situ

2. Invasif karsinoma
o

Invasif duktal karsinoma

Papilobular karsinoma

Solid-tubular karsinoma

Scirrhous karsinoma

Special types

Mucinous karsinoma

Medulare karsinoma

Invasif lobular karsinoma

Adenoid cystic karsinoma

karsinoma sel squamos

karsinoma sel spindel

Apocrin karsinoma

Karsinoma dengan metaplasia kartilago atau osseus metaplasia

Tubular karsinoma

Sekretori karsinoma

Lainnya

3. Paget's Disease
2.6 Gejala

Benjolan di payudara biasanya mendorong penderita untuk ke dokter. Benjolan


ganas yang kecil sukar dibedakan dengan benjolan tumor jinak, tetapi kadang dapat
diraba benjolan ganas yang melekat pada jaringan sekitarnya.
Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari
jaringan payudara disekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki
pinggiran yang tidak teratur.
Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan
dengan mudah dibawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada
dinding dada atau kulit disekitarnya.
Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau
borok dikulit payudara. Kadang kulit di atas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit
jeruk (peau d orange).
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan;
1.Benjolan atau massa di ketiak
2.Perubahan ukuran atau bentuk payudara
3.Keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau berwarna kuning
sampai hijau, mungkin juga bernanah)
4.Perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola
(daerah berwarna coklat tua disekeliling puting susu)
5.Payudara tampak kemerahan
6.Kulit disekitar puting susu bersisik
7.Puting susu tertarik kedalam atau terasa gatal
8.Nyeri payudara atau pembengkakan salah satu payudara.
Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan
lengan atau ulserasi kulit.
2.7 Pemeriksaan Fisik
a.Massa tumor: ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, terfiksir atau tidak terfiksir kekulit
atau dinding dada
b.Perubahan kulit: kemerahan, oedem, peau dorange, dimpling, nodul satelit, ulserasi

c.Perubahan putting susu: tertarik, kemerahan, erosi, krusta, perubahan warna,


cairan(discharge) hemoragis atau tidak
d.Status kelenjar getah bening
KGB axilla: jumlah, lokasi, ukuran, terfiksasi satu dengan yang lain atau sekitar, suspek
jinak atau ganas
KGB intraklavikula
KGB supraklavikula
e.Kelainan-kelainan berhubungan dengan metastasis
Sakit tekan dan sakit ketuk tulang-tulang
Kelainan paru-paru
Kelainan berhubungan dengan system saraf sentral.
2.8 Diagnosis
Dasar diagnosis kanker mammae
1.Dasar diagnosis klinis
Tumor pada mammae yang tumbuh progesif dengan tanda-tanda infiltrasi dan atau
metastasis
2.Dasar diagnosis patologi
Tumor dengan tanda-tanda keganasan.
12 Pemeriksaan Penunjang Klinis
Pemeriksaan radiologis
1.Mammografi / USG mammae
2.X-foto thoraks
3.Kalau perlu:
Tulang-tulang Bone scan
USG abdomen CT scan
Pemeriksan laboratorium
1.Rutin: darah lengkap, urin
2.Gula darah: puasa dan 2 jam pp
3.Enzym: alkali fosfatase, LDH

4. Hormon reseptor: ER, PR


5. Kalau perlu: aktivitas estrogen / vaginal smear
Pemeriksaan sitologis
1.FNA dari tumor
2.Cairan kista
3.Cairan pleura
4.Sekret puting susu(2).
2.9 Staging (Penentuan Stadium Kanker)

Pada sistem TNM


TNM merupakan singkatan dari "T" yaitu tumor size atau ukuran tumor, "N" yaitu node
atau kelenjar getah bening regional dan "M" yaitu metastasis atau penyebaran jauh.
Ketiga faktor T, N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga
sesudah operasi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara,
penilaian TNM sebagai berikut:

T (tumor size), ukuran tumor:


o

T 0: tidak ditemukan tumor primer

T 1: ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang

T 2: ukuran tumor diameter antara 2-5 cm

T 3: ukuran tumor diameter > 5 cm

T 4: ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau
dinding dada atau pada keduanya, dapat berupa borok, edema atau
bengkak, kulit payudara kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar
tumor utama

N (node), kelenjar getah bening regional (kgb):


o

N 0 : tidak terdapat metastasis pada kgb regional aksilla

N 1: ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan

N 2: ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan

N 3: ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau


pada kgb di mammary interna di dekat tulang sternum

M (metastasis), penyebaran jauh:


o

M x: metastasis jauh belum dapat dinilai

M 0: tidak terdapat metastasis jauh

M 1: terdapat metastasis jauh

Setelah masing-masing faktor T, N, dan M didapatkan, ketiga faktor tersebut kemudian


digabung dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut:

Stadium 0: T0 N0 M0

Stadium 1: T1 N0 M0

Stadium II A: T0 N1 M0/T1 N1 M0/T2 N0 M0

Stadium II B: T2 N1 M0 / T3 N0 M0

Stadium III A: T0 N2 M0/T1 N2 M0/T2 N2 M0/T3 N1 M0/T2 N2 M0

Stadium III B: T4 N0 M0/T4 N1 M0/T4 N2 M0

Stadium III C: Tiap T N3 M0

Stadium IV: Tiap T-Tiap N-M1

2.10 Penatalaksanaan
Modalitas Terapi
-

Operasi
Radiasi
Kemoterapi
Hormonal terapi
Molecular targetting therapy (biology therapy)

OPERASI
Jenis operasi untuk terapi :
-

BCS (Breast Conserving Surgery)


Simple mastektomi
Modified radikal mastektomi

Radikal mastektomi

Primer
Adjuvan
Paliatif

Harus kombinasi : CMF, CAF CEF, Taxane + Doxorubicin,


Cepacetabin

Ablative : bilateral ovarektomi


Additive : tamoxifen
Optional : aromatase inhibitor, GnRH

RADIASI

KEMOTERAPI

HORMONAL

Sebelum merencanakan terapi kaesinoma mammae, diagnosis klinis dan


histopatologik serta tingkat penyebarannya harus diperhatikan dulu. Diagnosis klinis
harus sama dengan diagnosis histopatologik. Atas dasar diagnosis tersebut, termasuk
tingkat penyebaran penyakit, disusunlah rencana terapi dengan mempertimbangkan
manfaat dan mudarat setiap tindakan yang akan diambil.
Untuk mendapat diagnosis histologik, biasanya dilakukan biopsi sehingga
tindakan ini dapat dianggap sebagai tindakan pertama pada pembedahan mammae. Biopsi
bisa dilakukan secara insisi, eksisi, ataupun dengan sediaan beku.
Pada kanker payudara stadium I dan II pengobatannya adalah dengan radikal
mastektomi atau modified radikal mastektomi dengan atau tanpa radiasi dan kemoterapi
adjuvan. Jika KGB axilla mengandung metastase maka diberikan terapi radiasi dan
kemoterapi adjuvan. Stadium IIIa adalah dengan simple mastektomi dengan radiasi dan
kemoterapi adjuvan. Stadium IIIb dan IV, sifat pengobatannya adalah palliatif, yaitu
terutama untuk mengurangi penderitaan dari pasien dan memperbaiki kulalitas hidup.
Untuk stadium IIIb atau yang dinamakan locally advanced pengobatan utama adalah
radiasi dan dapat diikuti oleh modalitas lain yaitu hormonal terapi dan kemoterapi.
Stadium IV pengobatan bersifat sistemik dengan hormonal dan kemoterapi.

2. 11 Penyaringan
Kanker pada stadium awal jarang menimbulkan gejala, karena itu sangat penting
untuk dilakukan penyaringan.
Beberapa prosedur yang digunakan untuk penyaringan kanker payudara:
1.SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan
benjolan pada stadium dini
2.Mammografi
Pada mammografi digunakan sinar X dosis rendah untuk menemukan daerah yang
abnormal pada payudara.
3.USG payudara
Digunakan untuk membedakan kista (kantong berisi cairan) dengan benjolan
padat
4. Termografi
Pada termografi digunakan suhu untuk menemukan kelainan pada payudara.
2.12 Pencegahan
Banyak faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa ahli diet dan ahli
kanker percaya bahwa diet dan gaya hidup secara umum bisa mengurangi angka kejadian
kanker.
Diusahakan untuk melakukan diagnosis dini kanker payudara lebih mudah diobati
dan masih bisa disembuhkan jika masih pada stadium dini. SADARI, pemeriksaan
payudara secara klinis dan mammografi sebagai prosedur penyaringan merupakan 3 alat
untuk mendeteksi kanker secara dini.
Penelitian terakhir telah menyebutkan 2 macam obat yang terbukti bisa
mengurangi resiko kanker payudara, yaitu tamoksifen dan raloksifen. Keduanya adalah
anti estrogen di dalam jaringan payudara.Tamoksifen telah banyak digunakan untuk

mencegah kekambuhan pada penderita yang telah menjalani pengobatan untuk kanker
payudara. Obat ini bisa digunakan pada wanita yang memiliki resiko sangat tinggi.
Mastektomi pencegahan adalah pembedahan untuk mengangkat salah satu atau
kedua payudara dan merupakan pilihan untuk mencegah kanker payudara pada wanita
yang memiliki resiko sangat tinggi (misalnya wanita yang salah satu payudaranya telah
diangkat karena kanker) .

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonym, Kanker Payudara, www.medicastore com.htm,2005
2. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Bedah, RSUD Dr. Sutomo, FKU Unair,
1994
3. Standar Pelayanan Medis, RSU Dr Sarjito,penerbit Medika FKU UGM,Jogjakarta
4. Sjamsuhidayat, R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2, EGC, Jakarta, 2005
5. Sabiston, Buku Ajar Ilmu Bedah, bagian I, cetakan ke-dua, EGC, Jakarta, 1995
6. Snells R.S, Anatomi Klinik, bagian I, edisi 3, EGC, Jakarta, 1997
7. Sarwono, P.Ilmu Penyakit Kandungan, edisi ke-2, cetakan ke-3, Yayasan Bina Pustaka,
Jakarta, 1999
8. Underwood.J.C.E. Patologi: Umum dan Sistemik, Edisi II, Volume 2, EGC, Jakarta,
2000

BAB II
ILUSTRASI KASUS
Seorang pasien wanita, Ny. N, 75 tahun, dirawat di bangsal bedah RSUD. Prof.
DR. M.A Hanafiah Batusangkar sejak tanggal 1 Februari 2010 dengan :
Keluhan Utama : benjolan yang sudah menjadi tukak pada payudara kiri bagian atas
sejak 1 tahun yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
- Benjolan pada payudara kiri bagian atas sejak 1 tahun yang lalu.
- Benjolan awalnya kecil (sebesar kelereng), makin lama makin membesar, saat ini
benjolan sebesar bola pimpong.
- Benjolan sudah berubah menjadi borok atau tukak dan mengeluarkan darah dan
nanah sejak 3 bulan yang lalu.
- Benjolan diraba nyeri sejak 4 bulan terakhir.
- Keluar cairan berupa darah dan nanah dari puting susu tidak ada.
- Rasa berat pada payudara (+).
- Terdapat benjolan pada lipat ketiak kiri sebesar kelereng dan tidak teraba nyeri.
- Riwayat sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu.
- Riwayat batuk berdarah sejak 1 bulan yang lalu.
- Riwayat nyeri pada tulang (-)
- Riwayat mual muntah (-)
- Riwayat rasa perih pada ulu hati (-)
- Riwayat Nyeri kepala (-)
- Riwayat menstruasi pertama kali pada usia 15 tahun teratur setiap bulannya dan
berhenti menstruasi pada usia 47 tahun.

- Riwayat perkawinan (+) pada usia


- Riwayat kehamilan, persalinan dan menyusui (-)
- Riwayat pemakaian kontrasepsi (-)
- Riwayat pernah mendapat radiasi pada bagian leher dan dada (-)
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Pasien pernah dirawat di RSUD Prof. DR. M.A Hanafiah, SM Batusangkar pada
tahun 2007 dan dilakukan tindakan biopsi. Hasil biopsi tidak diketahui
dikarenakan hilang oleh keluarga.
- Pasien tidak pernah menderita tumor pada daerah lain sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Keluarga pasien pernah menderita penyakit yang sama dengan pasien.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sakit Berat

Kesadaran

: Compos Mentis Cooperatif (CMC)

Tekanan Darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Nafas

: 34 x/menit

Suhu

: 36,5 oC

Status Generalisata
Mata

: Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik

Thorax
Jantung

: Irama teratur dan bising jantung tidak ada

Paru

: Vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen

: Distensi (-), Bising Usus (+) normal

Ekstremitas

: Akral hangat, perfusi baik

Status Lokalis

Regio Mammae Sinistra :


Inspeksi

: Payudara kiri dan kanan tidak simetris, tampak benjolan (+), tanda
radang (-), skin dimple (-), nodul satelit (-), peau d orange (-), retraksi
puting (-), discharge pada puting susu (-), venektasi (-), ulserasi (+),
dinding bergaung, pinggir merah, isi cairan kekuning-kuningan

Palpasi

: Teraba benjolan dengan konsistensi padat di medial dan lateral atas, batas
tegas, permukaan tidak rata, jumlah satu, terfiksir, ukuran 15x10x3 cm,
nyeri tekan (+)

Regio KGB Axilla


Ditemukan adanya bejolan sebesar telur puyuh, permukaan rata, konsistensi padat kenyal,
terfiksir ke jaringan di bawahnya. Nyeri tekan (+).
Regio Supraklavikula dan Infraklavikula
Tidak ditemukan pembesaran KGB pada inspeksi dan palpasi.
Laboratorium
Hb

: 7,8 gr/dl

Ht

: 24 %

Leukosit : 11.900
Trombosit: 480.000
GDR

: 139 mg/dl

Pemeriksaan Penunjang :
- Rontgen foto thoraks : tampak gambaran multiple coin lessions
Diagnosis kerja : Tumor Mammae Sinistra Susp. Ganas T4N1M1

Terapi :
- Khemotheraphy

Prognosis
Quo ad vitam : malam
Quo ad sanam : malam