Anda di halaman 1dari 30

REFERAT EPIGLOTITIS AKUT

Pembimbing :
dr. Erna M. Marbun, Sp.THT
Disusun oleh:
Niko Hizkia Simatupang
406151007

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN THT


RUMAH SAKIT HUSADA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
Periode 9 November- 12 Desember 2015
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmatNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Epiglotitis Akut. Referat ini disusun
dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Telinga, Hidung dan Tenggorokan
(THT) Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara di RS Husada Jakarta, serta agar
dapat menambah kemampuan dan ilmu pengetahuan bagi para pembacanya.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Erna M.
Marbun, Sp.THT yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan
pengarahan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, dan untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun, sehingga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.
Akhir kata, atas segala perhatian dan dukungannya, penulis ucapkan terima kasih
banyak.

Jakarta, November 2015

Penulis

iii

DAFTAR ISI
EPIGLOTITIS AKUT...................................................................................
I.

Pendahuluan ......................................................................................

II.

Definisi .............................................................................................

III.

Etiologi .............................................................................................

IV.

Epidemiologi .....................................................................................

V.

Anatomi Laring .................................................................................

VI.

Fisiologi Laring .................................................................................

VII.

Manifestasi Klinis .............................................................................

VIII.

Diagnosis ..........................................................................................

IX.

Diagnosis Banding ............................................................................

12

X.

Penatalaksanaan ................................................................................

12

XI.

Komplikasi dan Prognosis .................................................................

16

XII.

Kesimpulan ..........................................................................................

16

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

17

REFERENSI

iii

EPIGLOTITIS AKUT

I.

PENDAHULUAN
Epiglotitis akut, atau biasa disebut juga supraglotitis atau laringitis

supraglotik, adalah keadaan inflamasi akut pada daerah supraglotis dari laring,
yang meliputi inflamasi pada epiglotis, valekula, aritenoid, dan lipatan
ariepiglotika.

Pada tahun 1900, Theisen pertama kali melaporkan kasus

epiglotitis akut sebagai angina-peptiloides. Sejak itu, epiglotitis akut


dipublikasikan secara luas dalam literatur pediatrik.

Epiglotitis biasanya disebabkan karena adanya infeksi bakteri pada daerah


tersebut, dengan bakteri penyebab terbanyak adalah Haemophilus influenzae
1
tipe B.
Epiglotitis paling sering terjadi pada anak-anak berusia 2 4 tahun, namun akhir
- akhir ini dilaporkan bahwa prevalensi dan insidensinya meningkat pada orang
dewasa.

2-4

Onset dari gejala epiglotitis akut biasanya terjadi tiba-tiba dan berkembang
secara cepat. Pada pasien anak-anak, gejala yang paling sering ditemui
adalah sesak napas dan stridor yang didahului oleh demam, sedangkan pada
pasien dewasa gejala yang terjadi lebih ringan, dan yang paling sering
dikeluhkan adalah nyeri tenggorokan dan nyeri saat menelan.

1,4,7

Diagnosis

dapat dibuat berdasarkan riwayat perjalanan penyakit dan tanda serta gejala
klinis yang ditemui, dan dari foto rontgen lateral leher yang memperlihatkan
edema epiglotis (thumb sign) dan dilatasi dari hipofaring.

3,7

Tujuan utama dari tatalaksana pada pasien dengan epiglotitis akut adalah
menjaga agar saluran napas tetap terbuka dan menangani infeksi penyebab atau
penyebab yang lainnya.

Epiglotitis akut dapat menjadi keadaan yang mengancam jiwa karena


dapat menimbulkan obstruksi saluran napas atas yang tiba-tiba. Karena itu,
dokter harus mewaspadai kemungkinan terjadinya epiglotitis pada pasien,
mendiagnosis serta memberikan tatalaksana secara cepat dan tepat agar tidak
2,8

sampai menjadi keadaan yang mengancam jiwa.


II.

DEFINISI
Epiglotitis akut adalah suatu keadaan inflamasi akut yang terjadi pada

daerah supraglotis dari laring, meliputi epiglotis, valekula, aritenoid,dan lipatan


ariepiglotika, sehingga sering juga disebut dengan supraglotitis atau laringitis
1

supraglotik.

III. ETIOLOGI
Pada orang dewasa organisme terbanyak yang menyebabkan epiglotitis
akut adalah Haemophilus influenza (25%) diikuti oleh H parainfluenzae,
Streptococcus pneumonia dan group A streptococci. Penyebab infeksi lain yang
jarang

ditemukan

seperti

yang

disebabkan

Staphylococcus

aureus,

mycobacteria, Bacteroides melaninogenicus, Enterobacter cloacae, Escherichia


coli,

Fusobacterium

necrophorum,

Klebsiella

pneumoniae,

Neisseria

meningitidis, Pasteurella multocida, Herpes simplex virus (HSV) dan virus


lainnya, infeksi mononucleosis, Candida dan Aspergillus (pada pasien dengan
immunocompromised).

Penyebab non-infeksi dari epiglotitis akut dapat berupa penyebab


termal (makanan atau minuman yang panas, rokok, penggunaan obat-obatan
terlarang seperti kokain dan mariyuana) dan benda asing yang tertelan.
Epiglotitis juga dapat terjadi sebagai reaksi dari kemoterapi pada daerah kepala
1

dan leher.
IV.

EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, epiglotitis merupakan penyakit yang jarang ditemui,

dengan insidensi pada orang dewasa sekitar 1 kasus per 100.000 penduduk per
tahun, dengan rasio pria - wanita sekitar 3:1, dan terjadi pada usia dekade kelima
dengan usia rata - rata sekitar 45 tahun. Namun akhir-akhir ini terdapat bukti
yang menyatakan bahwa prevalensi dan insidensi epiglotitis akut pada orang
dewasa meningkat, dibandingkan dengan pada anak-anak yang relatif menurun.
Rasio insidensi antara anak - anak dengan orang dewasa pada tahun 1980 adalah
2,6 : 1, dan menurun menjadi 0,4 : 1 pada tahun 1993. Penurunan angka
kejadian epiglotitis pada anak-anak ini terjadi sejak diperkenalkannya vaksin
untuk
Haemophilus

influenzae

pada anak-anak usia 2 - 4 tahun.


V.

tipe B (Hib). Epiglotitis akut paling sering terjadi


4

ANATOMI LARING
Epiglotis adalah salah satu kartilago yang membentuk kerangka

laring. Epiglotis merupakan sebuah fibrokartilago elastis yang berbentuk seperti


daun, dengan fungsi utama sebagai penghalang

masuknya

benda yang

ditelan ke aditus laring. Saat menelan, laring bergerak ke arah anterosuperior.


Hal ini membuat epiglotis mengenai pangkal lidah, sehingga epiglotis terdorong
3

ke arah

posterior dan menempatkannya pada aditus laring. Epiglotis memiliki dua


tempat perlekatan di bagian anterior. Secara superior, epiglotis melekat pada
tulang hioid melalui ligamen hioepiglotika. Secara inferior

pada bagian

stem, epiglotis melekat pada permukaan dalam dari kartilago tiroid tepat
di atas komisura

anterior

melalui

ligamen tiroepiglotika.

Permukaan

kartilago
epiglotis memiliki banyak lubang yang berisi kelenjar
3
mukus.

Anatomi epiglottis
(Dikutip dari kepustakaan
3)
Epiglotis dapat dibagi menjadi bagian suprahioid dan bagian infrahioid.
Bagian suprahioid bebas baik pada permukaan laringealnya maupun permukaan
lingualnya, dengan permukaan mukosa laring lebih melekat dibandingkan dengan
permukaan lingual. Akibat

permukaan mukosa laring

melipat

ke arah
5

pangkal lidah, terbentuk tiga lipatan:


glosoepiglotika

dua

buah lipatan

lateral dan

sebuah lipatan glosoepiglotika medial. Dua lekukan yang terbentuk dari ketiga
lipatan tersebut disebut dengan valekula (dalam bahasa Latin berarti lekukan
kecil).

Bagian infrahioid hanya bebas pada permukaan laringealnya atau

permukaan posterior. Permukaan ini memiliki tonjolan kecil yang disebut


tuberkel. Di antara permukaan anterior dan membran tirohioid dan kartilago tiroid
terdapat celah pre-epiglotika yang berisi lapisan lemak. Yang melekat secara
lateral adalah membran kuadrangular yang memanjang ke aritenoid dan
kartilago
kornikulata,
3
ariepiglotika.

membentuk

lipatan

Perbedaan letak epiglotis pada (A) anak-anak dan (B)


dewasa
(Dikutip dari kepustakaan
8)
Seperti pada aspek lain dari saluran napas pediatrik, epiglotis pada anak
berbeda secara signifikan dibandingkan dengan pada orang dewasa. Pada anakanak, epiglotis terletak lebih ke anterior dan superior dibandingkan pada orang
dewasa, dan berada pada sudut terbesar dengan trakea. Epiglotis pada anak
7

juga lebih

terkulai dan berbentuk omega shaped dibandingkan dengan epiglotis yang


lebih kaku dan berbentuk U-shaped pada orang dewasa.
OTOT OTOT LARING
Otot-otot yang menyusun laring terdiri dari otot-otot ekstrinsik dan otot-otot
intrinsik. Otot atau muskulus ekstrinsik adalah otot yang berada diluar laring
sedangkan otot intrinsik adalah otot yang berada di dalam laring.
Otot-otot ekstrinsik berfungsi menggerakkan laring, sedangkan otot-otot
intrinsik berfungsi membuka rima glotidis sehingga dapat dilalui oleh udara
respirasi. Juga menutup rima glotidis dan vestibulum laringis, mencegah bolus
makanan masuk ke dalam laring (trakea) pada waktu menelan. Selain itu, juga
mengatur ketegangan (tension) plika vokalis ketika berbicara. Kedua fungsi yang
pertama diatur oleh medula oblongata secara otomatis, sedangkan yang terakhir
oleh korteks serebri secara volunter.
A.

Otot-otot Ekstrinsik
Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hioid (suprahioid),

seperti musculus digastrikus, musculus geniohioid, musculus stilohioid dan


musculus milohioid. Sedangkan otot-otot ekstrinsik laring yang terletak di bawah
tulang hioid (infrahioid) ialah musculus sternohioid, musculus omohoid.

Musculus digastrikus
Inervasi : Pada Venter anterior oleh Nervus mandibularis sedangkan
pada Venter posterior oleh Nervus facialis
Origo : Os. temporale
Insertio : Os. mandibula
9

Fungsi : Untuk elevasi tulang hyoid dan depresi mandibula sehingga dapat
mengangkat dasar atau lantai mulut saat menelan atau berfungsi menarik laring ke
bawah (elevator)

Musculus geniohioid
Inervasi : oleh serat dari lalui C1 pada saraf kranial XII (n. hypoglossus)
Origo : bagian dalam mandibula
Insersio : Permukaan anterior tulang Hyoid
Fungsi : elevasi hyoid dan memperlebar laring

Musculus stilohioid
Origo : proc. Styloideusos temporalis
Insersio : basis cornu os hyoid ,
Innervasi N VII facialis
Fungsi : Untuk menarik laring kebawah (elevator) dan merupakan bagian

dasar mulut saat menelan

Musculus milohioid
Inervasi : Nervus mandibularis cabang N.V
Origo : Os. mandibula
Insertio : Os. hyoidea
Fungsi : Otot-otot ini berfungsi menarik laring ke bawah (elevator) dengan

cara menggerakkan lidah saat deglutasi dan elevasi os.hyoid

Musculus sternohioid
Inervasi : Plexus cervicalis
Origo : Os. sternum
1
0

Insertio : Os. hyoidea


Fungsi : menarik Os. hyoidea ke caudal dan depresor laring atau menarik
laring ke atas

Musculus omohoid
Inervasi : Plexus cervicalis
Origo : Os. scapula
Insertio : Os. hyoidea
Fungsi : meregangkan fascia cervicalis, mencegah kolapsnya Vena jugularis

dan sebagai depressor laring atau menarik laring ke atas.

Musculus tirohioid.
Inervasi : oleh serat dari lalui C1 pada saraf kranial XII (n. hypoglossus)
Origo : kartilago thyroid
Insertio : Os. hyoidea
Fungsi : menarik atau depressi Os. hyoidea ke caudal dan depresor laring

atau menarik laring ke atas


Otot-otot Intrinsik

B.

Otot-otot instrinsik yang terletak di bagian lateral laring ialah musculus


krikoaritenoid lateral, musculus tiroepiglotika, musculus vokalis, musculus
tiroaritenoid, musculus ariepiglotika dan musculus krikotiroid. Sedangkan otot-otot
instrinsik yang terletak di bagian posterior laring adalah musculus aritenoid
transversum, musculus aritenoid oblik, musculus krikoaritenoid posterior.

Musculus krikoaritenoid lateral

1
1

Otot ini berorigo pada arcus cartilaginis cricoideae, berinsersio pada


processus muscularis cartilaginis arytenoideae, dipersarafi oleh N.Laryngeus
externus. Fungsinya adalah aduksi plica vocalis yaitu kontraksinya akan
mendekatkan kedua pita suara ke tengah

Musculus tiroepiglotika
Origo pada : permukaan bagian dalam dari tulang rawan tiroid, yang sama

dengan otot thyroarytenoid, insersio pada pinggir lateral epiglotis dan aryepiglota,
dipersarafi oleh recurrent laryngeal nerve. Fungsi untuk menekan pangkal epiglotis
dan Melebarkan aditus dengan dengan memisahkan kedua plica aryepiglottica

Musculus vokalis
Origo pada sudut anatar kedua lamina cartilaginis thyroidea, Insersio pada

processus vocalis cartilaginis arytenoideae. Persarafannya adalah oleh N.Laryngeus


reccurens Fungsi untuk mengubah plica vocalis saat fonasi dengan berfungsi
sebagai aduktor (kontraksinya akan mendekatkan kedua pita suara ke tengah)

Musculus tiroaritenoid
Origo pada permukaan posterior cartilage thyroidea. Insersio pada processus

muscularis cartilaginis arytenoidea. Persarafannya adalah oleh N.Laryngeus


reccurens. Fungsinya adalah mengendurkan plica vocalis, yaitu kontraksinya akan
mendekatkan kedua pita suara ke tengah

Musculus ariepiglotika
Origo pada tulang rawan arytenoids. Insersio pada epiglottis. Persarafan

oleh inferior laryneal nerve ( dari n. vagus). Fungsinya kontraksinya akan


mendekatkan kedua pita suara ke tengah

Musculus krikotiroid
1
2

Origonya pada bagian anterolateral cartilage cricoidea. Insersio pada tepi


bawah dan cornu inferius cartilaginis thyroideae. Otot ini dipersarafi oleh
.laryngeus externus. Fungsi utamanya adalah meregangkan dan menegangkan plica
vocalis.

Musculus aritenoid transversum dan Musculus aritenoid oblik


Berorigo pada satu cartilage arytenoidea. Berinsersio pada cartilage

arytenoidea

sisi

yang

lain. Persarafannya

adalah

oleh

N.Laryngeus

reccurens. Fungsinya adalah untuk menutup aditus laryngis dengan mendekatkan


kedua cartilage arytenoidea.

Musculus krikoaritenoid posterior


Otot

ini

berorigo

pada

permukaan

posterior

lamina

cariliginis

cricoideae,.Berinsersio pada processus muscularis cartilaginis arytenoideae.


Dipersarafi oleh N. Layngeus externus. Berfungsi untuk abduksi plica vocalis.
(fungsi otot ini berbeda dengan yang lain dimana kontraksinya akan menjauhkan
kedua pita suara ke lateral, sedangkan otot intrinsik yang lain berfungsi sebagai
adduktor)

VI. FISIOLOGI LARING


Walaupun laring biasanya dianggap sebagai organ penghasil suara, namun
ternyata mempunyai tiga fungsi utama yaitu proteksi jalan napas, respirasi dan
fonasi. Kenyataannya secara filogenetik, laring mula-mula berkembang sebagai
suatu sfingter yang melindungi saluran pernapasan, sementara perkembangan
suara merupakan peristiwa yang terjadi belakangan. Perlindungan jalan napas
selama aksi menelan terjadi melalui berbagai mekanisme berbeda. Aditus laringis
sendiri tertutup oleh kerja sfinter dari otot tiroaritenoideus dalam plika
1
3

ariepiglotika dan korda vokalis palsu, disamping aduksi korda vocalis sejati dan
aritenoid yang ditimbulkan oleh otot intrinsik laring lainnya. Elevasi laring di
bawah pangkal lidah melindungi laring lebih lanjut dengan mendorong epiglotis
dan plika ariepiglotika ke bawah menutup aditus. Struktur ini mengalihkan
makanan ke lateral, menjauhi aditus laringis dan masuk ke sinus piriformis,
selanjutnya ke introitus esofagi. Relaksasi otot krikofaringeus yang terjadi
bersamaan mempermudah jalan makanan ke dalam esofagus sehingga tidak
masuk ke laring. Di samping itu, respirasi juga dihambat selama proses menelan
melalui suatu refleks yang diperantarai reseptor pada mukosa daerah
supraglotis.
Hal ini mencegah inhalasi makanan atau saliva.

Pada binatang seperti rusa, epiglotis menjulur ke superior dan menyentuh


permukaan nasalis palatum molle. Konfigurasi demikian memungkinkan
pernapasan bersamaan pada saat makan, sehingga binatang ini masih bisa
menghidu dan melindungi dirinya selama makan. Demikian pula pada bayi,
posisi laring yang lebih tinggi memungkinkan kontak antara epiglotis dengan
permukaan posterior palatum molle. Maka bayi-bayi dapat bernapas selama
laktasi tanpa masuknya makanan ke jalan napas.

Namun pembentukan suara agaknya merupakan fungsi laring yang paling


kompleks dan paling baik diteliti. Penemuan sistem pengamatan serat optik dan
stroboskop yang dapat dikordinasikan dengan frekuensi suara yang sangat
membantu dalam memahami fenomena itu. Korda vokalis sejati yang teraduksi,
kini di duga berfungsi sebagai alat bunyi pasif yang bergetar akibat udara yang di
paksa antara korda vokalis sebagai akibat kontraksi otot-otot ekspirasi. Nada
dasar yang dihasilkan dapat dimodifikasi dengan berbagai cara. Otot intrinsik
1
4

laring (krikotiroideus)

berperan penting

dalam

penyesuaian tinggi nada

dengan mengubah bentuk dan massa ujung-

ujung bebas korda vokalis sejati dan tegangan korda itu sendiri. Otot ekstralaring
juga dapat ikut berperan. Demikian pula karena posisi laring manusia lebih
rendah,

maka sebagian

faring,

di samping

rongga hidung

dan sinus

paranasalis dapat dimanfaatkan untuk perubahan nada yang dihasilkan laring.


Semua itu dipantau melalui suatu mekanisme umpan balik yang terdiri dari
telinga manusia dan suatu sistem dalam laring sendiri yang kurang dimengerti.
Sebaliknya kekerasan suara pada hakikatnya proporsional dengan tekanan aliran
udara subglottis yang menimbulkan gerakan korda vokalis sejati. Di lain
pihak, berbisik diduga terjadi akibat lolosnya udara melalui komisura
posterior di antara aritenoid yang terabduksi tanpa getaran korda vokalis
5
sejati.

VII. MANIFESTASI KLINIS


Onset dan perkembangan gejala yang terjadi pada pasien epiglotitis
akut berlangsung dengan cepat. Biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri
tenggorok, nyeri menelan / sulit menelan, dan suara menggumam atau hot
potato voice, suara seperti seseorang berusaha berbicara dengan adanya
makanan panas

di

dalam

mulutnya. Prediktor

adanya

obstruksi

saluran napas adalah perkembangan yang cepat dalam 8 jam setelah


gejala, terdapat stridor inspiratoar,

saliva yang

menggenang,

onset
laju

pernapasan lebih dari 20 kali


2

permenit, dispnea, retraksi dinding dada dan posisi tubuh yang tegak. Selain
itu,
tanda-tanda lain yang dapat ditemukan pada pasien dengan epiglotitis akut adalah
1

demam, nyeri pada palpasi ringan leher, dan batuk.

1
5

Pada anak-anak, manifestasi klinik yang nampak akan terlihat lebih


berat dibandingkan pada orang dewasa. Tiga tanda yang paling sering ditemui
adalah demam, sulit bernapas, dan iritabilitas. Anak-anak akan terlihat toksik,
dan terlihat

tanda-tanda

adanya

obstruksi

saluran

napas

atas.

Akan

terlihat pernapasan yang dangkal, stridor inspiratoar, retraksi, dan saliva yang
banyak.
Selain itu juga terdapat nyeri tenggorok yang hebat dan disfagia.
pun

Berbicara

terbatas akibat nyeri yang dirasakan. Batuk dan suara serak biasanya tidak
ditemukan, namun bisa terdapat suara menggumam. Stridor muncul ketika
saluran napas hampir

sepenuhnya

tertutup.

Anak-anak

biasanya

akan

melakukan posisi tripod (pasien duduk dengan tangan mencengkram pinggir


tempat tidur, lidah menjulur dan kepala lurus ke depan). Laringospasme dapat
muncul secara tiba- tiba dengan adanya aspirasi sekret ke saluran napas
yang telah menyempit dan menimbulkan respiratory arrest.

10

Obstruksi saluran napas pada pasien dengan epiglotitis akut dapat terjadi
karena mukosa dari daerah epiglotis longgar dan memiliki banyak pembuluh
darah, sehingga ketika terjadi reaksi inflamasi, iritasi, dan respon alergi, dapat
dengan cepat terjadi edema dan menutupi saluran napas sehingga terjadi obstruksi
yang mengancam jiwa.

VIII. DIAGNOSIS
Epiglotitis akut dapat ditegakkan berdasarkan :
Anamnesis
Pada anamnesis dapat ditemukan adanya disfagia, sakit tenggorokan dan
demam, biasanya seorang anak akan menolak untuk makan. Dispnue progresif,
1
6

suara biasanya tidak parau tetapi menyerupai hot potato voice, penderita lebih
suka posisi duduk tegak atau bersandar ke depan (kadang dengan siku yang
diletakkan di lutut, dikenal dengan tripod position.

1,10

Pemeriksaan Fisis
Dari pemeriksaan fisis laringoskopi indirect, pada inspeksi dapat terlihat
epiglotis dan daerah sekitarnya

yang

eritematosa,

membengkak,

berwarna merah ceri, namun pemeriksaan ini jarang dilakukan


kemungkinan akan memperparah

dilakukan

karena

sumbatan dari saluran napas. Ataupun

jika perlu dilakukan, maka pemeriksaan


memiliki alat-alat yang lengkap,

dan

seperti

ini dilakukan di tempat yang


di ruang operasi.

Dapat juga

pemeriksaan
1,9

laringoskopi direk dengan fiber optik untuk pemeriksaan yang lebih akurat.
Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi

Penggunaan pemeriksaan radiologis pada pasien dengan epiglotitis akut


masih kontroversial. Meskipun diketahui bahwa epiglotitis dapat didiagnosis dari
radiografi lateral leher, masih dipertanyakan
dan

memang diperlukan.

apakah prosedur ini aman

Dari hasil pemeriksaan radiografi ditemukan

gambaran thumb sign, yaitu bayangan dari epiglotis globular yang


membengkak, terlihat penebalan lipatan

ariepiglotika, dan distensi dari

hipofaring. Terkadang, epiglotis itu sendiri tidak membengkak, namun daerah


supraglotis masih terlihat tidak jelas dan nampak kabur akibat edema dari struktur
supraglotis yang lain. Pada kasus yang berat, terapi tidak boleh ditunda
untuk melakukan pemeriksaan
1
7

radiografi.

Jika

radiografi

memang

dibutuhkan, pemeriksaan harus

didampingi dengan personil yang dapat mengintubasi pasien

secara

cepat

2,3,1

ketika obstruksi saluran napas memberat atau telah tertutup seluruhnya.

Gambaran edema pada epiglottis, vallecula yang menghilang dan


penyempitan dari lumen laring
(Dikutip dari kepustakaan 2 dan 6)

2. Laringoskop
Laringoskop

fiberoptik

merupakan

pemeriksaan

terbaik

yang

dianjurkan untuk melihat epiglotis secara langsung.

1
8

Inflamasi dan edema pada supraglottis


(epiglottitis)

Infeksi pada epiglottis= epiglottitis

1
9

(Dikutip dari kepustakaan 9)


3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak spesifik pada pasien dengan epiglotitis
dan dilakukan ketika saluran napas pasien telah diamankan. Jumlah leukosit
dapat meningkat dari 15.000 hingga 45.000 sel/L.4 Kultur darah dapat diambil,
terutama jika pasien terlihat tidak baik secara sistemik. Kultur biasanya
1

memberikan hasil yang positif pada 25% kasus.

Epiglotitis dapat menjadi fatal jika terdiagnosis terlambat


Diagnosis

.6

biasanya dapat ditegakkan dari riwayat perjalanan penyakit dan


temuan klinis, serta pemeriksaan radiografi jika memungkinkan.

IX. DIAGNOSIS BANDING


Karakteristik
Etiology

Epiglottitis
(Supraglotitis)
Bakteri

Usia
Onset
Stridor

3-6 tahun
Tiba-tiba
Inspirasi

Batuk
Suara

Redam, lembut,
dan berat
Sulit, sakit

Menelan
Disfagi
Demam
Leukositosis
Foto Rontgen

+, mengiler
(drooling)
Tinggi
++
Thumb sign

Laringotrakeobronkitis
(infraglotitis)
Virus
Di bawah 3 tahun
Perlahan-lahan
Inspirasi dan
ekspirasi
Kering
Kasar, serak
Tidak berpengaruh
Kadang subfebris
Steeple sign

Tabel Differensial Diagnosis dari Epiglotitis


Akut
(Dikutip dari kepustakaan 5 dan
6)

Trakeitis
bakterialis
Virus dan sering
bakteri
8-15 tahun
Perlahan-lahan
Inspirasi dan
ekspirasi
Produktif
Biasanya sulit dan
sakit
Sedang
+

X.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada pasien dengan epiglotitis diarahkan kepada

mengurangi obstruksi saluran napas dan menjaganya agar tetap terbuka,


serta mengeradikasi agen penyebab. Intubasi tidak boleh dilakukan di lapangan
kecuali sudah terjadi obstruksi saluran napas yang akut. Pada pasien dengan
keadaan yang tidak stabil, penatalaksanaan saluran napas sangat diperlukan.
Tanda dan gejala yang berhubungan dengan kebutuhan intubasi termasuk distres
pernapasan, keadaan saluran napas yang membahayakan yang ditemukan saat
pemeriksaan,

stridor,

ketidakmampuan

untuk

menelan,

saliva

yang

menggenang, dan keadaan yang makin memburuk dalam 8 - 12 jam. Epiglotis


yang membesar pada pemeriksaan radiografi berhubungan dengan obstruksi
saluran napas. Jika masih ragu-ragu, mengamankan saluran napas merupakan
pendekatan yang paling aman. Keadaan pasien dapat memburuk secara cepat,
dan peralatan untuk membuka saluran napas harus tersedia. Jika intubasi gagal,
1

dapat dilakukan trakeostomi atau krikotirotomi segera.

Pada pasien dengan keadaan yang stabil tanpa tanda-tanda bahaya saluran
napas, sulit bernapas, stridor, atau saliva yang menggenang, dan hanya
memiliki pembengkakan yang ringan, dapat ditangani tanpa intervensi
saluran napas yang segera dengan pengawasan ketat di unit perawatan
intensif atau ICU. Karena obstruksi saluran napas dapat terjadi dengan cepat
pada pasien, penilaian serial berulang dari patensi saluran napas sangat
1

diperlukan.

Pada anak-anak, hindari prosedur yang dapat meningkatkan kegelisahan

sampai saluran napas anak tersebut telah diamankan. Prosedur seperti


pengambilan darah dan pemasangan infus,

meskipun dibutuhkan pada

kebanyakan kasus epiglotitis akut pada anak, dapat meningkatkan kegelisahan dan
memperparah keadaan saluran napasnya.

Antibiotik intravena dapat dimulai sesegera mungkin dan harus


mencakup Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Streptococcus dan
Pneumococcus, seperti amoksisilin/asam klavu lanat atau sefalospor in
generasi keduaatau
seftriakson.

ketiga, seperti
Kortikosteroid

sefuroksim, sefotaksim, atau


sering

direkomendasikan

untuk

epiglotitis. Walaupun begitu, tida ada data yang menunjukkan kegunaannya


pada keadaan ini. Penggunaan kortikosteroid

tidak mengurangi

kebutuhan untuk intubasi, durasi intubasi,


ataupun
3,9
perawatan.

durasi

Ekstubasi biasanya dapat dilakukan setelah 48 hingga 72 jam, di mana


edema telah berkurang dan terdapat kebocoran udara di sekeliling selang
endotrakeal. Kriteria untuk

ekstubasi

termasuk

berkurangnya

eritema,

berkurangnya edema epiglotis, atau secara empiris setelah 48 jam intubasi.


Laringoskopi fiber optik transnasal dapat dilakukan untuk menilai resolusi
3,8

dari edema sebelum dilakukan ekstubasi.

Manifestasi klinis : nyeri tenggorokan, sakit pada


saat menelan, tidak mampu menelan, susah
bernapas
Pemfis : demam, takikardi, faringitis = Suspek epiglotitis
akut

Segera pindahkan ke ICU (didampingi


dokter)
monitoring EKG, tekanan darah, oksigenasi, infus inhalasi
adrenalin
(sambil menunggu laringoskopi ) 1 mg in 2 ml 0,9% nacl
Rectal
NSAID

Fiberoptic nasolaringoscopy
(tracheotomy/cricothyrotomyset diletakkan disamping tempat
tidur)

Diagnosis diterima

Diagnosis tidak diterima

Prosedur diagnosis lain

Hanya sedikit konstriksi dari


ruang supraglottic dan atau
pita suara terlihat dan atau
intubasi endotracheal
memungkinkan

Konstriksi berat dari ruang


supraglottic dan atau pita
suara tidak terlihat dan atau
intubasi endotracheal tidak
memungkinkan

Tidak di intubasi
Anastesilokal,nasotrake
al intubation pasien
sadar

Sedasi dengan midazolam


atau profol

Antibiotik ( amoxicilin clavulanic acid , generasi ketiga cefalosporin)


Alur tatalaksana epiglotitis akut
(Dikutip dari kepustakaan 9)

XI. KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS


Meskipun epiglotitis akut itu sendiri merupakan penyakit yang dapat
mengancam jiwa, infeksi lain dapat terjadi secara bersamaan. Komplikasi paling
sering

adalah

pneumonia.

Infeksi

konkomitan

dengan

Haemophilus

influenzae yang lain termasuk meningitis, adenitis servikal, perikarditis, dan


9,10

otitis media. Selain itu, dapat juga terjadi abses epiglotis dan uvulitis.

Komplikasi non-infeksi juga dapat terjadi pada pasien dengan epiglotitis.


Pasien dengan obstruksi saluran napas yang menyeluruh dan respiratory
arrest dapat mengalami kerusakan hipoksik dari sistem saraf pusat dan sistem
organ yang lain. Bahkan pasien yang telah mendapat tatalaksana yang cukup
10

dapat menjadi hipoksik.

Mortalitas pada pasien anak-anak telah menurun dari 7,1% menjadi 0,9%
sejak digunakannya intervensi saluran napas profilaksis. Mortalitas pada orang
dewasa sekitar 1 - 7%, namun jika terjadi obstruksi, mortalitas menjadi 17,6%.

XII. KESIMPULAN
Epiglotitis disebabkan karena peradangan dan edema pada daerah
supraglotis laring. Penyebabnya paling sering yaitu Haemophilus influenzae tipe
B. Paling sering pada anak 2-6 tahun. Awitan gejala klinis terjadi tiba-tiba dengan
demam tinggi, sakit tenggorokan, nyeri menelan, batuk, air liur menetes, cepat
menjadi progresif hingga timbul distres pernapasan. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan demam, tanda distres pernapasan, pada laringoskopi epiglotis tampak

merah dan edema pada plika ariepiglotika. Penyulitnya antara lain; edema paru,
gagal napas, pneumonitis, pneumotoraks dan emfisema akibat trakeostomi.
Terapinya yaitu perawatan di ruang intensif, ventilasi, O2 lembab, trakeostomi
atau intubasi endotrakeal, dan antibiotik

DAFTAR PUSTAKA
1. Gompf, S.G. Epiglotitis 2011. Tersedia di:
http//emedicine.medscape.com.article/763612
2. Chung, C.H. Case and Literature Review: Adult Acute Epiglottitis Rising
Incidence or Increasing Awareness. Hong Kong J Emerg Med.. Tersedia di
: http://www.hkcem.co m/ht ml/publications/Journal/2001-3/227-231.pdf
3. Snow, J.B., Ballenger, J.J. Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery. 16th Ed. USA: BC Decker; 2003:1090-1093,1195-1199.
4. Tolan, R.W. Pediatric Epiglottitis. 2011.Tersedia di: http://
http://emedicine.medscape.co m/art icle/963773
5. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Laring. In: Boies Buku Ajar Penyakit
THT. Edisi 6. Cetakan Ketiga. Jakarta: EGC; 1997. P369-396
6. Probft R, Grevers G. Infectious Diseases of the Larynx and Trachea in
Children. In :Basic Otorhinolaryngology.Stutgard, New York.
Thieme. P354-356.
7. Dhingra, P.L. Acute and Chronic Inflammation of Larynx. In: Dhingra, P.L.
Diseases of Ear, Nose and Throat. 4th Ed. USA: Elsevier; 2007
8. Chung, C.H. Acute Epiglottitis Presenting as the Sensation of a Foreign
Body in the Throat. Hong Kong Med J. September 2000. Tersedia di:
http://www.hkmj.org/article_pdfs/hkm0009p322.pdf
9. Wick, F., Ballmer, P.E., Haller, A. Acute Epiglottitis in Adults. Swiss
Med Wkly. 2002; 132: 541-546. Tersedia di:
http://www.smw.ch/docs/pdf200x/2002/37/smw-10050.PDF
10. Cummings, C.W. et al. Cummings Otolaryngology - Head & Neck Surgery.
4th Ed. USA: Elsevier; 2010: 2065-2075.