Anda di halaman 1dari 7

Menurut Jerome Brunner (dalam Dahar, 2011:79) model pembelajaran guided

discovery adalah pembelajaran yang menyarankan agar siswa berpartisipasi aktif dalam
memperoleh pengalaman dan melakukan suatu ekperimen untuk menemukan konsep. Dalam
model ini siswa diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan
materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para
ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur, 2000: 19).
Menurut Carin (dalam Alhamidy, 2013:23), model guided discovery merupakan
proses kombinasi yang serasi antara pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher center)
dan terpusat pada siswa (student center). Dalam model pembelajaran ini, guru memberikan
kebebasan siswa untuk menemukan suatu konsep sendiri, karena dengan menemukan sendiri
siswa dapat lebih memahami apa yang mereka dapatkan tersebut sehingga dapat diingat lebih
lama. Sedangkan guru hanya memberikan pengarahan atau petunjuk. Model ini dapat
melatihkan keterampilan siswa untuk menyelidiki dan memecahkan masalah secara mandiri.
Terdapat tiga model pembelajaran dalam sains, yaitu : konvensional, guided
discovery, dan inquiry. Perbedaan yang mendasar dari ketiganya adalah penempatan guru dan
murid. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
Tabel 2.3.1 Perbedaan Model Pembelajaran Konvensional, Guided Discovery, dan
Inquiry
Cara

Konvensional

Guided Discovery

Inquiry

pengajaran
Guru
Murid

Aktif

atau

lebih Aktif

dan

mendomiansi

sebagai fasilitaor

Pasif

Aktif

juga Fasilitator
Aktif

(Carin dan Sund, 1985 : 100)


Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran guided
discovery suatu model pembelajaran yang menempatkan guru sebagai instruktur dan
fasilitator guna membimbing siswa untuk dapat menemukan konsep sendiri dengan
permasalahan yang diajukan guru dan cara pemecahan masalahnya ditentukan oleh guru
seperti dengan melakukan eksperimen, diskusi, pengamatan dan lain-lain.
Pembelajaran guided discovery mempunyai kelebihan dan kelemahan

Sintakmatiknya

2. 4 Metode Pictorial Riddle


Metode pictorial riddle adalah metode untuk mengembangkan aktivitas siswa dalam
diskusi kelompok kecil maupun besar, melalui penyajian masalah yang disajikan dalam
bentuk ilustrasi. Suatu riddle biasanya berupa gambar, baik di papan tulis, papan poster
maupun diproyeksikan dalam bentuk transparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan
yang berkaitan dengan riddle tersebut. Suatu riddle biasanya berupa gambar di papan tulis,
papan poster atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengajukan
pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan riddle (Khanafiyah, 2010 : 10-13).
Menurut Sund (dalam Kristianingsih 2010:61) metode pictorial riddle adalah salah
satu metode yang cocok dengan model pembelajaran penemuan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa metode pictorial riddle
adalah merupakan metode yang
2.5 Model Pembelajaran Guided Discovery dengan Metode Pictorial Riddle Dalam
Proses Pembelajaran
Pembelajaran dengan menggunakan model

guided discovery adalah suatu

pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pencarian pengetahuan yang berkenaan
dengan materi pelajaran dengan peran guru adalah sebagai instruktur dan fasilitator guna
membimbing siswa untuk dapat menemukan konsep sendiri dengan permasalahan yang
diajukan guru dan cara pemecahan masalahnya ditentukan oleh guru seperti dengan
melakukan eksperimen, diskusi, pengamatan dan lain-lain., sehingga melalui pembelajaran
guided discovery ini siswa dapat mengembangkan ketrampilan proses sains mereka.
Metode pictorial riddle digunakan dalam penelitian ini karena metode ini
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuanya dalam mencari
solusi atau pemecahan masalah dari riddle yang disajikan sehingga siswa lebih mudah dalam
membangun pengetahuannya melalui teka-teki bergambar yang harus mereka selesaikan.
Selain itu pembelajaran akan menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan menarik bagi
siswa.

Adapun langkah-langkah pembelajaran guided discovery dengan metode pictorial


riddle adalah sebagai berikut :
Tabel 2.5 Langkah-langkah pembelajaran guided discovery dengan metode pictorial
riddle

2.6 Ketrampilan Proses Sains


Keterampilanprosessains(scienceprocessskill)merupakanketerampilanyangberorientasi
padaprosesIPA,dapatdisebutjugasebagaiketerampilaninkuiri.Keterampilanprosessainsbertujuan
untukmembuatsiswalebihaktifdalammemahami,menguasairangkaianyangtelahdilakukannya.
Rangkaiankegiatantersebutsepertikegiatanmengamati,menggolongkan,menafsirkan,meramalkan,
menerapkan,merencanakanpenelitian,danmengkomunikasikan(Ango,2002:15)
MenurutRustaman,dkk(2005:76),keterampilanprosessainsperludikembangkanmelalui
pengalamanpengalamanlangsungsebagaipengalamanpembelajaran.Melaluipengalamanlangsung
seseorang dapat lebih menghayati proses atau kegiatan yang sedang dilakukan. Salah satu
pembelajaranyangmelibatkanpengalamanlangsungadalahpembelajaranpenemuan.

Menurut Trianto (2012:48), keterampilan proses perlu dilatihkan atau dikembangkan


dalam pengajaran IPA karena keterampilan proses sains mempunyai peran peran sebagai
berikut:
a. Membantu siswa belajar mengebangkan pikirannya.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan.
c. Meningkatkan daya ingat
d. Memberikan kepuasan intrinsik bila anak telah berhasil melakukan sesuatu
e. Membantu siswa mempelajari konsep-konsep sains. Melatihkan keterampilan proses
sains dalam pembelajaran merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan hasil
belajar siswa, karena dengan melatihkan keterampilan proses sains siswa akan
menemukan sendiri pengetahuannya melalui eksperimen sehingga materi pelajaran
akan mudah dipahami dan diingat dalam waktu yang relatif lama.

Klasifikasi Keterampilan Proses Sains menurut Rustaman, (2005:86), adalah sebagai


berikut:
a. Melakukan pengamatan (observasi)
Menggunakan indera penglihat, pembau, pendengar, pengecap dan peraba.
Menggunakan fakta yang relevan dan memadai dari hasil pengamatan juga termasuk
keterampilan proses mengamati.
b. Menafsirkan pengamatan (interpretasi)
Mencatat setiap pengamatan, menghubungkan hasil pengamatan dan menemukan pola
keteraturan dari satu seri pengamatan dan menyimpulkannya.
c. Mengelompokkan (klasifikasi)
Dalam proses pengelompokkan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari
perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari
dasar penggolongan.
d. Meramalkan (prediksi)
Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup keterampilan mengajukan
perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau
pola yang sudah ada.
e. Berkomunikasi
Membaca tabel, grafik atau diagram, menggambarkan data empiris dengan grafik,
tabel atau diagram, menjelaskan hasil percobaan, menyusun dan menyampaikan
laporan secara sistematis dan jelas.
f. Berhipotesis
Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel, atau mengajukan perkiraan
penyebab sesuatu terjadi. Dengan berhipotesis diungkapkan cara melakukan
pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkadang cara untuk
mengujinya.
g. Merencanakan percobaan atau penyelidikian

Beberapa kegiatan menggunakan pikiran termasuk ke dalam keterampilan proses


merencanakan penyelidikan. Menentukan variabel atau peubah yang terlibat dalam
suatu percobaan, menentukan variabel kontrol dan variabel bebas, menentukan apa
yang diamati, diukur dan ditulis, serta menentukan cara dalam penyusunan rencana
kegiatan penelitian perlu ditentukan cara mengolah data untuk dapat disimpulkan,
maka dapat merencanakan penyelidikanpun terlibat kegiatan menentukan cara
mengolah data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.
h. Menerapkan konsep atau prinsip
Apabila seorang siswa mampu menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan
konsep yang telah dimiliki, berarti ia menerapkan prinsip yang telah dipelajarinya.
Begitu pula apabila siswa menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi
baru.
i. Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan dapat meminta penjelasan, tentang apa, mengapa,
bagaimana, atau menanyakan latar belakang hipotesis. Dengan demikian jelas bahwa
bertanya tidak sekedar bertanya melainkan juga melibatkan pikiran.
Ketrampilan proses sains yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengamatan,
dkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
2.7 Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan adalah serangakaian kemampuan yang dimiliki oleh
siswa setelah siswa menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2008a:2). Sedangkan menurut
Hamalik (2009:159) hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar
itu merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa. Dimyati dan Mudjiono
(2002:20) menyatakan bahwa hasil belajar itu dapat berupa dampak pengajaran dan dampak
pengiring yang bermanfaat bagi guru dan siswa.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar adalah hasil
atau dampak yang diperoleh sebagai akibat dari adanya suatu proses pembelajaran yang dapat
berupa dampak pengajaran maupun dampak pengiring dan menjadi indikator adanya derajat
perubahan siswa.

Menurut Sistem Pendidikan Nasional (dalam Sudajana, 2008b:22) rumusan tujuan


pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan intruksional, menggunakan klasifikasi
hasil belajar yang berasal dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya
menjadi tiga ranah, yaitu :
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berhubungan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari
enam aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi.
b. Ranah afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
c. Ranah psikomotorik
Ranah psikomotorik berkaitan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan
bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik yaitu gerakan refleks, ketrampilan
gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan, gerakan ketrampilan
kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga ranah atau
aspek dalam hasil belajar yaitu ranah kognitif yang berkaitan dengan kemampuan
pengetahuan siswa, ranah afektif yang berkaitan dengan sikap siswa , dan ranah psikomotorik
yang berkaitan dengan ketrampilan siswa dalam pembelajaran. Ketiga ranah tersebut saling
berkaitan dan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
2.8 Kerangaka Konseptual

2.9 Hipotesis Penelitian


Hipotesis dalam suatu penelitian memiliki fungsi sebagai jawaban sementara terhadap
masalah yang akan diteliti kebenarannya. Dari rumusan masalah dan tinjauan pustaka yang
telah dijelaskan, maka hipotesis penelitian ini adalah :
a. Model pembelajaran guided discovery dengan metode pictorial riddle berpengaruh
terhadap keterampilan proses sains siswa kelas VIII di SMPN 10 Jember

b. Model pembelajaran guided discovery dengan metode pictorial riddle berpengaruh


terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMPN 10 Jember