Anda di halaman 1dari 22

MANAJEMEN KASUS

(DENGUE HEMORAGIC FEVER)


Oleh : jondra widood/1071142
DPK :Dr.Imbar.S.Sp.PD

ANAMESA
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny.P
Jenis kelamin : perempuan
Umur
: 56 Th
Alamat
: di rahasiakan
Keluhan utama : demam
RPS : demam sejak 4 hari SMRS. Demam timbul tiba-tiba terus menerus setiap
hari. Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala dan badan tersa pegal-pegal,
perut terasa perih dan sakit bila ditekan, Nafsu makan berkurang, BAB tidak
lancar, BAK normal. Pasien sudah minum obat penurun panas yang dibeli di
apotik, dan dirasakan demam turun.
2 hari SMRS pasien mengeluhkan panasnya muncul kembali deisertai pusing
yang sangat hebat, pasien juga mengeluhkan mual dan muntah 3x/hari. Mulut
terasa pahit. Perut sakit, BAB tidak lancar, BAK seperti air teh, dan badan
terasa lemas. Oleh karena itu pasien berobat ke dokter umum dan dirujuk ke
RSUD untuk mendapatkan perawatan.

ANAMESA
KELUHAN SISTEM :
Sistem Cerebrospinal : demam +, pusing +, nyeri kepala +
Sistem Kardiovaskular : berdebar-debar -, nyeri dada Sistem Respirasi : sesak -, batuk -, pilek Sistem Digesti : NP +, bab tidak lancar, nafsu makan menurun
Sistem Integumentum : kemerahan -, gatal-gatal Sistem muskuloskeletal : pegel-pegel +, nyeri sendi +, lemas +
RPK :
Riw. Keluhan serupa disangkal
Riwanyat hipertensi disangkal
Riwanyat penyakit gula disangkal
Riwayat mondok di rs pernah

ANAMESA
RPK :
Riw.keluhan serupa disangkal
Riwayat HT dan DM disangkal
LINGKUNGAN dan KEBIASAAN :
> Riwanyat keluhan serupa atau demam berdarah di sekitar
rumah pasien +, ada beberapa orang yang mengeluhkan
terkena demam berdarah atua keluhan demam.
> Lingkungan sekitar rumah bersih dan jauh dari pabrik,
karena sedang musim penghujan banyak genangan air
> Pasien makan teratur 3x/hari dengan lauk pauk seadanya
> Pasien jarang berolahraga
> Kebiasaan 3 M jarang

PEMERIKSAAN FISIK
TANDA VITAL (VITAL SIGN)
Tekanan darah
: 110/70 mmhg
Suhu tubuh
: 36,2
Frekuensi denyut nadi: 62x/m reguler
Frekuensi nafas : 18x/m

FISIK DIAGNOSTIK :
KEADAAN UMUM
Kesan umum : sakir sedang
Kesadaran
: composmentis, GCS : 4,5,6
Tinggi badan
: 160
Berat badan
: 65
Status gizi
: 25,39

PEMERIKSAAN KEPALA :
Mata : ca -/-, si -/Bibir : sianosis -/-, pucat +/+

PEMERIKSAAN LEHER
Inspeksi : Simetris (+), massa (-), jaringan parut (-)
Palpasi : Pembesaran limfonodi (-), massa (-), nyeri tekan
(-), thrill (-)
Pemeriksaan trakea : deviasi (-)
Pemeriksaan kelenjar tiroid : I : Benjolan (-)
P : Massa (-), NT(-)
A : Bruit (-)

Pemeriksaan vena sentral (JVP) = 5+2 (tidak ada


peningkatan)

PEMERIKSAAN THORAKS ANTERIOR


Inspeksi :Bentuk dada normal (+), benjolan (-), dinding dada
kanan dan kiri simetris (+), scar (-), ictus cordis (+), gerakan
dada kanan dan kiri simetris (+), tidak ada ketinggalan gerak
Palpasi : Nyeri tekan (-), benjolan (-), krepitasi (-),
pengembangan dada kanan dan kiri simetris (+), vocal fremitus
simetris kanan dan kiri (+), ictus cordis teraba di bagian apeks
sic V linea midsternalissinistra (+)
Perkusi dada :
Batas Atas Jantung : SIC II linea sternalis sinistra
Batas Pinggang Jantung : SIC III linea parasternalis sinistra
Batas Kiri Jantung: SIC V linea midclavicula Sinistra
Batas Kanan Jantung : SIC IV linea para sternalis dekstra
Auskultasi :
Cor : S1-S2 reg, Murmur (-)
Pul : SDV +/+, ST -/-

PEMERIKSAAN THORAKS POSTERIOR :


Inspeksi : benjolan (-), scar (-), kemerahan (-)
Palpasi : benjolan (-), krepitasi (-), pengembangan dinding
dada sometris kanan dan kiri, vocal vremitus simetris kanan dan
kiri (+)
Perkusi : sonor diseluruh lapang punggung (+), batas
pengembangan paru kanan 5 cm dan kiri 5 cm
Auskultasi : bronkovesikuler diseluruh lapang dinding punggung
(+)
BATAS HEPAR : sulit ditentukan

PEMERIKSAAN ABDOMEN :
Inspeksi : Bulging -, dinding perut simetris kanan dan kiri,
dinding perut lebih rendah daripada dinding
dada,benjolan -, scar (-), vena colateral (-),
caput
medusa (-)
Auskultasi : BU (+) normal 4x/m
Perkusi : Timpani di semua kuadran abdomen
Palpasi: NT (+), undulasi (-), redup berpindah (-/-)

Pemeriksaan ren : tak teraba


Pemeriksaan nyeri ketok ginjal : (-)
Pemeriksaaan hepar : Tak teraba
Pemeriksaan lien : Tak teraba
Pemeriksaan asites
: Redup berpindah (-), undulasi (-)

PEMERIKSAAN EKSTREMITAS :
Lengan
: Ptekie (-), deformitas (-), tofus (-),
nyeri tekan (-), krepitasi (-)
Tangan: Eritema palmaris (-), edema (-), dingin
(-), krepitasi (-)
Tungkai : Striae (-), varices (-), deformitas (-)
Kaki
: Ulkus (-), edem (-), tofus (-), akral
hangat (+/+), akral dingin (-/-)

RESUME PEMERIKSAAN FISIK :


- Conjungtiva pucat +/+
- bibir pucat +/+
- nyeri tekan abdomen +/+
- akral hangat +/+
RESUME PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Darah Rutin :
HB : 8,6 g/dl
AL : 3.600
HMT : 39 vol %
AE : 4.800,000
AT : 44.000
GDS : 109 mg/dl

DAFTAR MASALAH PASIEN (BERDASARKAN DATA ANAMNESIS


DAN PEMERIKSAAN FISIK)
A. Masalah aktif :
- Demam
- Nyeri kepala
- Mual
- muntah
- Badan pegel-pegel
- Bab tidak lancar
B. Masalah pasif : DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING
1. DHF
2. THYFOID FEVER

RENCANA TINDAKAN TERAPI :


FARMAKOLOGI
Rehidrasi Cairan RL 20 TPM
Inj. bactecyn 2x0,75mg
Inpepsa 3x1c
Pamol 3x1

NON-FARMAKOLOGI
Monitor ku dan vital sign setiap 12 jam
Banyak minum air putih
Cek darah rutin / 24 jam (AT & HMT)
Pantau urin ouput

TINDAKAN DIAGNOSTIK /PEMERIKSAAN PENUNJANG :


Darah Rutin
Serologis (IgG Dan IgM)
Tes Fungsi Hati (SGPT Dan SGOT)
Usg Abdomen

TINJAUAAN PUSTAKA
DEFINISI :
DF

dan DHF(dengue haemorrhagic fever) adalah


penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau
nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan diathesis hemoragik.
Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai
oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau
penumpukan cairan di rongga tubuh.
Sindrom renjatan dengue (DSS/dengue shock
syndrome) adalah demam berdarah dengue yang
ditandai oleh renjatan/syok.

ETIOLOGI
virus dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus,
keluarga Flaviviridae vitus dengan diameter 30nm terdiri dari
asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x
106.
Terdapat 4 serotipe virus tipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN3, dan DEN-4.
keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3
merupakan serotype terbanyak, Terdapat reaksi silang
antara serotype dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow
fever, Japanese encephalitis dan West Nile virus

EPIDEMIOLOGI
tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah
tanah air.
Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989
hingga 1995). pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per
100.000 penduduk pada tahun 1998. sedangkan mortalitas DBD cenderung
menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999.
Penularan infeksi virus dengue melalui vektor nyamuk genus Aedes
(terutama A. aegypti dan A. albopictus).
Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan
dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina .
faktor2 yang mempengaruhi peningkatan transmisi virus dengue yaitu :
Vektor : perkembang biakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di
lingkungan, transportasi vektor dilingkungan, transportasi vektor dai satu
tempat ke
tempat lain;
Pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan
terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin;
Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk (WHO, 2000).

Patogenesis :
Respon imun yang diketahui berperan dalam pathogenesis DBD
adalah :
Respon humoral berupa pembentukan antibody yang berparan dalam
proses netralisasi virus, sitolisis yang dimeasi komplemen dan sitotoksisitas
yang dimediasi antibody. Antibody terhadap virus dengue berperan dalam
mempercepat replikasi virus pad monosit atau makrofag. Hipotesis ini
disebut antibody dependent enhancement (ADE);
Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berepran dalam
respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu TH1
akan memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin, sedangkan TH2
memproduksi IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10;
Monosit dan makrolag berperan dalam fagositosis virus dengan
opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan
peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag;

Selain itu aktivitasi komplemen oleh kompleks imun


menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a.

Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous


infection bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang
berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi anamnestik antibodi sehingga
mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Kurang dan Ennis pada tahun 1994 menyatakan bahwa infeksi virus
dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang me-fagositosis kompleks virusantibody non netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag. Terjadinya
infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T helper dan T
sitotoksik sehingga diprosuksi limfokin dan interferon gamma. Interferon
gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator
inflamasi seperti TNF-, IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6 dan
histamine yang mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi
kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh
kompleks virus-antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya kebocoran
plasma.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme :

* Supresi sumsum tulang, dan


* Destruksi dan pemendekan
fragmen C3g,
* supresi megakariosit.

masa hidup trombosit terjadi melalui pengikatan

DIAGNOSA :
Demam Dengue (DD):
demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
- Nyeri kepala, - Nyeri retro-oebital.,- Mialgia / artralgia,- Ruam kulit
- Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bending positif),- Leukopenia
- pemeriksaan serologi dengue positif, ayau ditemukan pasien DD/DBD yang sudah dikonfirmasi
pada lokasi dan waktu yang sama.

Demam Berdarah Dengue (DBD) :


Diagnosis DBD dapat ditegakkan secara klinis dan laboratoris bila semua hal di bawah ini
terpenuhi:
- Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
- Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie, ekimosis, atau
purpura; perdarahan mukosa; hematemesis, dan melena.
- Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
- Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sebagai berikut:
> Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar.
> Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan dibandingkan dengan
nilai hematokrit sebelumnya.
> Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia, dan
hiponatremia.

Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO) :


Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya
manifestasi perdarahan adalah uji torniquet.
Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit
dan perdarahan lain.
Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lemah, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau
hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin dan lembab,
tampak gelisah.
Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan
darah tidak terukur.

MANIFESTASI KLINIS :

PENATALAKSANAAN:
PLAIN A :
PLAIN B :
PLAIN C :