Anda di halaman 1dari 29

SEORANG LAKI-LAKI 84 TAHUN

DENGAN ANEMIA BERAT DAN


SINDROM GERIATRI
Oleh : Jondra Widodo
DPK : Dr.Gularso,Sp.PD

ANAMESA
Identitas :
Nama
: Tn.M
Jenis kelamin : Laki-Laki
Umur
: 84 th
Pekerjaan : petani
Agama : islam
Suku
: jawa
Alamat
: taman winangun 8/3 kebumen

Keluhan utama :
lemas
RPS : Keluhan lemas diarsakan pasien sejak 2 minggu
SMRS. Keluhan lemas dirasakan terus menerus setiap
harinya. keluhan lemas dirasakan pasien setelah
pasien tidak mau makan karena mengeluhkan pusing
berputar yang disertai dengan mual dan muntah >5
kali/ hari selama 1 minggu. Pasien juga mengeluhkan
kadang-kadang merasakan sesak, BAK merasa tidak
puas dengan pancaran air kencing yang lemah dan
saat pipis mengedan, BAB tidak lancar sejak 1
minggu SMRS dan sulit tidur saat malam harinya.
karena kondisi pasien yang semakin melemah
keluarga memutuskan membawa pasien ke RSUD
kebumen.

KELUHAN SISTEM :
Sistem Cerebrospinal : demam -, pusing +, nyeri kepala Sistem Kardiovaskular : berdebar-debar -, nyeri dada Sistem Respirasi : sesak -, batuk -, pilek Sistem Digesti : mual +, muntah -, nyeri perut -, BAB sejak 1
minggu
Sistem Integumentum : kemerahan -, gatal-gatal Sistem muskuloskeletal : pegel-pegel -, nyeri sendi -, lemas +
RPK :
Riw. Keluhan serupa (+)
Riwanyat hipertensi disangkal
Riwanyat DM disangkal
Riwayat tumor/kanker disangkal

RPK :
Riw.keluhan serupa disangkal
Riwayat HT dan DM disangkal

LINGKUNGAN dan KEBIASAAN :


Lingkungan sekitar rumah bersih dan jauh dari
pabrik
Pasien makan tidak teratur dengan lauk pauk
seadanya
Pasien setiap harinya bekerja di sawah
Pasien jarang berolahraga
Pasien perokok

PEMERIKSAAN TANDA VITAL


(VITAL SIGN)
Dilakukan pada tanggal : 19/1/2016
pukul : 13.30
Tekanan darah
: 106/58 mmhg
Suhu tubuh
: 35,7x/m
Frekuensi denyut nadi : 68x/m reguler
Frekuensi nafas
: 20x/m

Kesan umum :
tampak lemah
Kesadaran :
composmentis, GCS :
4,5,6
Tinggi badan : 160
Berat badan: 50
Status gizi : 19,53

KEADAA
N UMUM

PEMERIKSAAN
KEPALA :
Mata : ca -/-, si -/-,
cp +/+, pupil
isochor +/+
Bibir : sianosis -/-,
pucat +/+ dan
kering

Pemriksa
n fisik

PEMERIKSAAN
LEHER

Inspeksi : Simetris (+), massa (-), jaringan parut


(-)
Palpasi : Pembesaran limfonodi (-), massa (-),
nyeri tekan (-), thrill (-)
Pemeriksaan trakea : deviasi (-)
Pemeriksaan kelenjar tiroid :
I : Benjolan
(-)

P : Massa (-), nyeri tekan (-)

A : Bruit (-)
Pemeriksaan tekanan vena sentral : JVP
(tidak ada peningkatan)

PEMERIKSAAN
THORAKS

Inspeksi :Bentuk dada normal (+), benjolan (-), dinding dada


kanan dan kiri simetris (+), scar (-), ictus cordis (+), gerakan
dada kanan dan kiri simetris (+), tidak ada ketinggalan gerak
Palpasi : Nyeri tekan (-), benjolan (-), krepitasi (-),
pengembangan dada kanan dan kiri simetris (+), vocal
fremitus simetris kanan dan kiri (+), ictus cordis teraba di
bagian apeks sic V linea midsternalis sinistra (+)
Perkusi dada :
Batas Atas Jantung
: SIC II linea sternalis sinistra
Batas Pinggang Jantung
: SIC III linea parasternalis
sinistra
Batas Kiri Jantung
: SIC V linea midclavicula Sinistra
Batas Kanan Jantung : SIC IV linea para sternalis dekstra
Auskultasi :
Cor : S1-S2 reg, Murmur (-), gallop (-)
Pul : SDV +/+, ST -/-, whezz -/-, rbk/rbh -/-

PEMERIKSAAN
ABDOMEN

Inspeksi
: Bulging -, dinding perut simetris kanan dan
kiri, dinding perut lebih rendah daripada dinding dada,
benjolan (-), scar (-), vena colateral (-), caput medusa (-)
Auskultasi : BU (+) 6x/m
Perkusi : Timpani di semua kuadran abdomen
Palpasi : Nyeri tekan (+) diregio epigastrik dan
umbilical, undulasi (-), redup berpindah (-/-)

Pemeriksaan ren
: tak teraba
Pemeriksaan nyeri ketok ginjal : (-)
Pemeriksaaan hepar
: Tidak teraba
Pemeriksaan lien
: Tidak teraba
Pemeriksaan asites : Redup berpindah (-), undulasi (-),
stulfing dulnes (-)

PEMERIKSAAN EKSTREMITAS :
Lengan : Ptekie (-), deformitas (-), tofus (-), nyeri tekan (-), krepitasi
(-)
Tangan : akral dingin (-/-), edema (-/-), krepitasi (-), CRT <2 detik,
Turgor Kulit < 2 detik
Tungkai
: Striae (-), varices (-), deformitas (-)
Kaki
: akral hangat (+/+), Ulkus (-), edem (-/-), tofus (-), akral
dingin (-/-)

RESUME PEMERIKSAAN VITAL


SIGN DAN PEMERIKSAAN FISIK :
Kesan umum tampak lemah
Conjungtiva pucat +/+ atau tidak
anemis +/+
bibir pucat +/+ dan kering
nyeri tekan abdomen +/+ regio
epigastrik dan umbilical

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan lab
LAB PERTAMA :
HB : 5,7
AL : 15,3
elektrolit :
HMT : 18
kalium : 4,1
AE : 1,7
natrium : 138
AT : 99
klorida : 105
MCH : 33
MCHC : 32
MCV : 104
HJL (DIFF COUNT) :
Eosinofil : negative
Basofile : 3,50
Netrofile : negative
Limfosit : negative
Monosit : negative
GDS : 183
UREUM : 28 CREATININ : 0,76
OT/PT : 19/8 HbsAg : nonreaktif

LAB kedua post PRC : HB : 8,3


AL : 5,9
HMT : 25
AE : 2.8
AT : 102
MCH : 30
MCHC : 33
MCV : 91
HJL (DIFF COUNT) :
Eosinofil : 1,20
Basofile : 3,20
Netrofile : 1,90
Limfosit : 83,70
Monosit : 10,00
HBSAG:NON- REAKTIF

HASIL USG abdomen :


Kesan : peningkatan echo pancreas
curiga adanya pancreatitis patty, cystitis
kronis, pembesaran prostat kuran lebih
30 gram ekstrasi klasifikasi prostat,
tak tampak kelainan sonografi pada
hepar,VF, splen, dan kedua renal.

MASALA
H AKTIF
1. Lemas
2. Diare cair L/D +
3. Demam
4. Mual
5. Nyeri perut
6. Nafsu makan
dan minum
menurun

ASESME
NT
ANEMIA
BERAT
SINDRO
MA
GERIATRI

IPDX
Anemia
berat
1. Darah rutin
(HB,AL,HMT,AE,AT) dan
HJL
2. Morfologi darh tepi
3. Kimia Darah
4. Elektrolit
5. Ureum/kreatinin
6. Pencitraan :
- foto rontgen abdomen 3
posisi
- USG abdomen

Sindrom
geriatri

IPTX

FARMAKOLOGIS : infus Nacl 20 tpm


inj. Rantin 2x1amp
inj.ondansetron 2x1amp
sucralfat.syr 3x2c
lasix premed 1x1amp
tab.diazepam 2x5mg
tab flunarizine 2x1tab
transfusi PRC sampai HB 10

1.diet tktp/ diet lembek


2. banyak minum dan konsumsi
makanan berserat tinggi
3. tirah baring

IPMX
Observasi KU (kesadaran) dan VS (TD,HR,RR,T)
setiap 8 jam :
Obsvarsi cairan input dan urin output setiap 12
jam

TINJAUAN PUSTAKA
DEFENISI :
Anemia diartikan sebagai penurunan jumlah sel darah
merah dalam tubuh. Fungsi sel darah merah itu sendiri
adalah untuk menyalurkan oksigen dari paru menuju
jaringan dan mengangkut karbon dioksida dari jaringan ke
paru-paru yang diperankan oleh HB. Anemia akan
mengganggu kemampuan tubuh untuk menukaar gas
seiring dengan menurunnya jumlah sel darah merah
dalam mengangkut O2 dan CO2.
Anemia di sertai juga dengan penurunan hematokrit dan
eritrosit.
Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri,
tetapi merupakan
gejala berbagai macam penyakit
dasar.

Kriteria anemia neurut WHO


Kelompok

Kriteria anemia (HB), (HMT)

Laki-laki dewasa

<13 g/dl, HMT <36%

Wanita dewasa tidak hamil

<12 g/dl, HMT 38%

Wanita hamil

<11 g/dl

anak-anak berusia 6 bulan 6


Tahun

<11g/dl

anak 6-14 tahun

Hb <12 g/dL

Etiologi secara umum


a.

Anemia karena gangguan pembentukan (menurun)


eritrosit dalam sumsum tulang :
1. kekuranggan bahan ensensial pembentuk eritrosit : anemia
defisiensi besi, anemia defisiensi asam folat, anemia
defisiensi asam folat.
2. Gangguan penggunaan (utilisasi) besi : anmeia akibat
penyakit kronik, anemia sideroblastik
3. Kerusakan sumsum tulang : anemia aplastik, anemia
mieloplastik, anemia pada keganasan hematologi, anemia
diseitropetik, anemia pada sindrom mielodisplastik
b. Anemia akibat hemoragic : anemia pasca perdarahan akut,
anemia akibat perdarahan kronik
c. Anemia hemolitik (destruksi sel):
1. Anemia hemolitik intrakorpuskular : gangguan membaran
eritrosit, gangguan enzim eritrosit, gangguan HB (talasemia,
hemoglobinopati struktural : Hbs, HbE)
2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskuler : anemia hemolitik auto
imun, anemia hemolitik mikroangiopatik, dll
d. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan
patogenesis yang kompleks

Etilogi berdasarkan
penyebab
Genetik :
> Hemoglobinopathies
> Thalassemias
> Enzyme abnormalities of the
glycolytic pathways
> Defects of the RBC cytoskeleton
>
Congenital
dyserythropoietic
anemia
> Rh null disease
> Hereditary xerocytosis
> Abetalipoproteinemia

Fisik :
>
>
>
>

Trauma
Luka bakar
Frostbite
Katup buatan

Nutrisi :
> Anemia defisiensi besi
> Anemia defisiensi vitamin B12
> Anemia defisiensi folat
> Kelaparan dan malnutrisi
general
Obat-obatan :
> kloramfenikol
> Obat antitiroid
> Gol sulfonamid

Penyakit kronis
dan malignansi
:
> Penyakit ginjal
> Penyakit hepar
> Infeksi kronis
> Neoplasia
>
Penyakit
kolagen
vaskuler

Infeksi :
>Virus hepatitis,i nfeksi
mononukleous, CMV
>Baakteri

clostridium,
sepsis
gram-negatif
>Protozoa,malaria,
toksoplasma,
leishmaniasis

KLASIFIKASI ANEMIA BERDASARKAN


MDT DAN ETIOLOGI
a. Anemia hipokromik mikrositik (bila MCV < 80 fl &
MCH <27 pg) : anemia defisiensi besi, talasemia mayor,
anemia akibat penyakit kronik, anmemia sideroblastik.
b. Anemia normositik nomokromik (bila MCV < 80-95
fl & MCH 27-34 pg) : anemia pasca perdarahan acut,
anemia aplastik, anemia hemoltik didapat, anemia akibat
penyakit kronik, anemia pada gagal ginjal kronis, ,
anemia pada keganasan heamatologik, anemia pada
sindrom mielodisplastik.
c. Anemia makrositik (bila MCV > 95 fl):
1. Bentuk megaloblastik : anemia defisiensi asam folat, anemia
defisiensi B12, anemia pernisiosa
2. Bentuk non-megaloblastik : anemia pada penyakit hati kronik,
anemia pada hipotiroidisme, anemia pada sindrom
mielodisplastik.

KLASIFIKASI ANEMIA BERDASARKAN


MDT DAN ETIOLOGI
Anemia hipokromik mikrositik (bila MCV < 80 fl &
MCH
<27 pg)
:
anemia defisiensi besi,
talasemia
mayor,
anemia akibat
penyakit kronik, anmemia sideroblastik.

Anemia
nomokromik
(MCV
< 80-95
fl &
anemianormositik
pasca perdarahan
acut, anemia
aplastik,
anemia
27-34
:
hemoltik didapat, MCH
anemia
akibat pg)
penyakit
kronik, anemia
pada gagal ginjal kronis, , anemia pada keganasan
heamatologik, anemia pada sindrom mielodisplastik.

Anemia makrositik (bila MCV > 95 fl):

1. Bentuk megaloblastik : anemia defisiensi asam folat,


anemia defisiensi B12, anemia pernisiosa
2. Bentuk non-megaloblastik : anemia pada penyakit hati
kronik, anemia pada hipotiroidisme, anemia pada sindrom
mielodisplastik.

PATOFISIOLOGI
Patofisologi anemia berbeda-beda tergantung penyebab yang mendasari dan
Respon fisiologis anemia berbeda-beda
Onset bertahap memungkinkan terjadinya mekanisme kompensasi
anemia yg disebabkan oleh kehilangan darah penurunan volume intravaskular
mengakibatkan hipoksia dan hipovolemia Hipovolemia kemudian menyebabkan
hipotensi terdeteksi oleh reseptor regang bulbus karotid, arkus aorta, jantung
dan paru reseptor ini menyalurkan impuls ke medula oblongata, korteks serebral
dan kelenjar hipofisis merangsang aliran simpatis sedangkan aktivitas
parasimpatis berkurang menyebabkan pelepasan norepinefrin dari ujung nervus
simpatis dan pengeluaran epinefrin & norepinefrin dari medula adrenalis
meningkatkan resistensi vaskular sistemik, meningkatkan tonus vena, stroke
volume meningkat peningkatan aliran darah peningkatan pengiriman oksigen
ke organ
perangsangan simpatis pada nuclus hipotalamus meningkatkan sekresi ADH dari
kelenjar hipofisis meningkatkan reabsorpsi air bebas pada tubulus kolektivus
distal Sebagai respon terhadap penurunan perfusi renal, sel-sel juxtaglomerular
dalam arteriol terangsang sekresi renin ke sirkulasi ginjal, menyebabkan
peningkatan angiotensin I yang diubah oleh ACE menjadi angiotensin II
menstimulus aldesteron meningkatkan reabsorpsi natrium dari tubulus
proksimal ginjal volume intravaskuler meningkat

DIAGNOSIS
Sindrom anemia : Lemah, lesu, cepat
lelah, tinitus, mata berkunang-kunang,
kaki dingin, sesak nafas, dispepsia
GEJALA PENYAKIT DASAR :
tergantung dari penyebab anemia.
Ex : infeksi virus DHV & DT : NP,
pusing, dll
GEJALA MUNCUL JIKA HB <7 g/dl
menyebabkan Terjadi Anoksia
Organ Dan terjadi Kompensasi
Tubuh Terhadap Penurunan Daya
Angkut O2 Oleh Hb anemia
simtomatik

ANAMESA

konjungtiva pucat, bibir pucat, telapak


tangan pucat
ADB : Disfagia, atrofi papil lidah,
stomatitis angularis, kuku sendok
(koilonychia)
Anemia megaloblastik : glotitis,
gaganguan neurologik
Anemia hemolitik : ikterik,
splenomegali, hepatomegali
Anemia aplastik : tnada2 perdarahan
dan tanda2 infeksi (CRTD)

PEMERIKSANFI
SIK

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

SANGAT PENTING UNTUK MENDIAGNOSA


ANEMIA
Darah rutin & lengkap : HB,AL,HMT, AE, HMT,
indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC), HJL, MDT
ASPIRASI/BIOPSI SUMSUM TULANG (anemia
aplastik, anemia megaloblastik, anemia supresi
sumsum tulang)
Pemeriksaan khusus :
ADB :serum besi, TIBC, saturasi transferin,
feritin serum,
Anemia megaloblastik : serum folat, kadar VIT
B12, tes schiling
AH : bilirubin serum, tes coomb (mendeteksi
antibodi terhadap eritrosit), elektrofoesis HB
(Hb A2,HbF Talasemia)
FUNGSI HATI, FUNGSI GINJAL, FUNGSI TIROD

PENATALAKSANAAN
Terapi pada keadaan darurat dengan gangguan
hemodinamik ABCD dan Transfusi darah
terapi khas pada masing-masing anemia :
- Pemberian suplemen zat besi
- defisiensi asam folat dan B12

Terapi kausal untuk mengobati penyakit dasar

Splenektomi

Transplantasi sumsum tulang