Anda di halaman 1dari 9

Penurunan Titik Beku

Titik beku larutan adalah temperatur pada saat kristal pertama dari pelarut murni
mulai terbentuk dalam keseimbangan dengan larutan.
Titik beku adalah suhu dimana tekanan uap cairan sama dengan
tekanan uap padatannya. Titik beku larutan lebih rendah daripada titik
beku pelarut murni. Hal ini disebabkan zat pelarutnya harus membeku
terlebih dahulu, baru zat terlarutnya. Jadi larutan akan membeku lebih
lama daripada pelarut. Setiap larutan memiliki titik beku yang berbeda.
Titik beku suatu cairan akan berubah jika tekanan uap berubah,
biasanya diakibatkan oleh masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata
lain, jika cairan tersebut tidak murni, maka titik bekunya berubah (nilai
titik beku akan berkurang).
Penurunan titik beku adalah selisih antara titik beku pelarut dan titik
beku larutan dimana titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarut.
Titik beku pelarut murni seperti yang kita tahu adalah 00C. dengan adanya
zat terlarut misalnya saja gula yang ditambahkan ke dalam air maka titik
beku larutan ini tidak akan sama dengan 0oC melainkan akan menjadi
lebih rendah di bawah 0oC itulah penyebab terjadinya penurunan titik
beku yaitu oleh masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata lain cairan
tersebut menjadi tidak murni, maka akibatnya titik bekunya berubah (nilai
titik beku akan berkurang). Proses pembekuan suatu zat cair terjadi bila
suhu diturunkan, sehingga jarak antarpartikel sedemikian dekat satu
sama lain dan akhirnya bekerja gaya tarik menarik antarmolekul yang
sangat kuat. Adanya partikel-partikel dari zat terlarut akan mengakibatkan
proses pergerakan molekul-molekul pelarut terhalang, akibatnya untuk
dapat lebih mendekatkan jarak antarmolekul diperlukan suhu yang lebih
rendah. Jadi titik beku larutan akan lebih rendah daripada titik beku
pelarut murninya. Perbedaan titik beku akibat adanya partikel-partikel zat
terlarut disebut penurunan titik beku (Tf).
Pada tekanan 1 atm, air murni membeku pada temperatur 0 oC. Temperatur itu dinamakan
titik beku normal air. Adanya zat terlarut dalam air, menyebabkan pada temperatur 0 oC air

belum membeku. Pada temperatur itu tekanan uap jenuh larutan lebih kecil dari 1 atm. Untuk
membuat larutan dapat membeku kembali, temperatur larutan harus diturunkan sampai
tekanan uap jenuh larutan mencapai 1 atm.

Besarnya perbedaan antara titik beku zat pelarut dengan titik beku larutan disebut
penurunan titik beku (Tf = freezing point depression). Secara matematis dapat dituliskan:
Tf = titik beku pelarut titik beku larutan
Grafik penurunan titik beku air digambarkan sebagai berikut.

Penurunan titik beku yang disebabkan oleh 1 mol zat terlarut dalam 1000 gram zat pelarut
dan mempunyai harga tetap dinamakan penurunan titik beku (Kf).
Hubungan antara titik beku larutan dengan molalitas larutan dirumuskan sebagai berikut.
Rumus:

Keterangan:
Tf = penurunan titik beku
m = molalitas

Kf = tetapan penurunan titik beku molal

Contoh soal:

1. Sebanyak 34,2 gram sukrosa (Mr = 342) dilarutkan dalam 500 gram air. Jika Kf air = 1,86
o
C/m. Tentukan:
a. Penurunan titik beku larutan sukrosa
b. Titik beku larutan sukrosa jika titik beku air adalah 0 oC
Jawab:

2. Diketahui titik didih larutan urea = 100,513 oC, Kb air = 0,513 oC/m, Kf air = 1,86 oC/m,
titik didih air = 100 oC. Tentukan titik beku larutan!
Jawab:

Titik beku larutan merupakan titik beku pelarut murni dikurangi dengan
penurunan titik bekunya atau Tf = Tfo - Tf. (Pratiwi, 2013)
Penurunan titik beku ( Tf ) bila kebanyakkan larutan encer didinginkan, pelarut murni
terkritalisasi lebih dahulu sebelum ada zat terlarut yang mengkristalisasi suhu dimana kristalkristal pertama dalam keseimbangan dengan larutan disebut titik beku larutan. Titik beku
larutan demikian selalu lebih rendah dari titik beku berbanding lurus dengan banyaknya
molekul zat terlarut (molnya) di dalam massa tertentu pelarut. Jadi penurunan titik beku (Tf )
= Kf . m, dimana m ialah molalitas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi
satu molal, penurunan titik beku 1 m tiap non-elektrolit yang tersebut didalam pelarut itu =
Kf yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal (molal freesinapoint constant) pelarut
itu. Nilai numerik Kf = khas pelarut itu masing-masing.
BAB II
LANDASAN TEORI
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut
tettapi bergantung pada banyaknya jumlah partikel zat terlarut dalam larutan (Syukri, 1999)
Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer, atau kira-kira pada
larutan yang ada. Jadi, sifat-sifat tersebut tidak tergantung pada jenis terlarut. Keempat sifat
tersebut ialah penurunan tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku,
dantekanan osmotik yang semuanya dinamakan sifat-sifat koligatif (Petrucci, 1987).
Titik beku suatu zat cair adalah suhu di mana tekanan uap zat cair sama dengan
tekanan uap pelarut murninya. Titik beku normal air adalah 0oC yang diukur pada tekanan 1
atm. Adanya zat terlarut mengakibatkan suatu pelarut semakin sulit membeku, akibatnya titik
beku larutan akan lebih rendah dibandingkan dengan titik beku pelarut murninya. Selisih
antara titik beku larutan dengan titik beku pelarut murninya disebut penurunan titik beku
larutan.
Tf = Tfo Tf
Tf

titik beku larutan

Tf

titik beku pelarut murni

Titik beku tidak tergantung pada jenis zat terlarut, tetapi tergantung pada konsentrasi
atau jumlah partikel zat terlarut dalam larutan. Semakin besar konsentrasi larutan, maka
semakin besar penurunan titik bekunya.

Tf ~ m Untuk larutan nonelektrolit berlaku persamaan :


Tf = Kf . m
Tf

penurunan titik beku

Kf

tetapan penurunan titik beku zat pelarut

molal larutanUntuk larutan elektrolit berlaku persamaan :

Tf = Kf . m . i = Kf . m . [ 1 + (n 1) ]
i

faktor Vant Hoff

Fenomena Penurunan Titik Beku Larutan

Fenomena penurunan titik beku larutan sangat menarik perhatian para ilmuwan karena hal ini
bersinggungan langsung dengan kehidupan manusia contohnya, penggunaan etilen glikol sebagai
agen antibeku yang dipakai di radiator mobil sehingga air ini tidak beku saat dipakai dimusim dingin.
beberapa ikan didaerah artik mampu melepaskan sejumlah senyawa untuk menghindari darahnya
beku, atau dengan menggunakan teknik penurunan titik beku kita dapat menentukan massa molar
atau menentukan derajat disosiasi suatu zat.

Mengukur Penurunan Titik Beku Larutan

Penurunan titik beku larutan adalah salah satu sifat koligatif larutan. Untuk mengukur
besarnya titik beku larutan kita membutuhkan dua hal berikut:
1. Konsentrasi molal suatu larutan dalam molalitas.
2. Konstanta penurunan titik beku pelarut atau Kf.
Rumus mencari perubahan titik beku larutan adalah sebagai berikut:
?Tf = m. Kf. i
dan titik beku larutan dicari,
Tf = Tpelarut murni Tf
dimana:
?Tf = penurunan titik beku larutan
Tf = titik beku larutan
m = molalitas larutan
Kf=konstanta titik beku pelarut
i = Faktor Vant Hoff
Di bidang themodinamika konstanta titik beku pelarut, Kf lebih dikenal dengan istilah Konstanta
Krioskopik. Krioskopik berasal dari bahasa Yunani yang artinya mengukur titik beku.
Faktor Vant Hoff (i) adalah parameter untuk mengukur seberapa besar zat terlarut berpengaruh
terhadap sifat koligatif (penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan

tekanan osmotik). Faktor Vant Hoff dihitung dari besarnya konsentrasi sesunguhnya zat terlarut yang
ada di dalam larutan dibanding dengan konsentrasi zat terlarut hasil perhitungan dari massanya.
Untuk zat non elektrolit maka vaktor Vant Hoffnya adalah 1 dan nonelektrolit adalah sama dengan
jumlah ion yang terbentuk didalam larutan. Faktor Vant Hoff secara teori dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:

i = 1 + (n-1)?)

dengan ? adalah derajat ionisasi zat terlarut dan n jumlah ion yang terbentuk ketika suatu zat berada
didalam larutan. Untuk non elektrolit maka alfa = o dan n adalah 1 dan untuk elektrolit dicontohkan
sebagai berikut:
C6H12O6 -> C6H12O6 n = 1
NaCl -> Na+ + Cl- n = 2
CaCl2 -> Ca2+ + 2Cl- n = 3
Na3PO4 -> 3Na+ + PO4- n = 4
Cu3(PO4)2 -> 3Cu2+ + 2PO43- n = 5

Jika dilihat persamaan ?Tf = m.Kf.i maka kita bisa menentukan besarnya Faktor Vant Hoff dari suatu
zat terlarut dalam suatu pelarut dengan menggambar grafik antara ?Tf dengan m maka kita akan
mendapatkan slope (gradien garis) yang setara dengan ixKf. Bila harga Kf pelarut diketahui maka kita
pun dapat mencari nilai i-nya.

A. LarutanNaCl
Natriumklorida, jugadikenaldengangaramdapur, atauhalit,
adalahsenyawakimiadenganrumusmolekul
NaCl.Senyawainiadalahgaram yang paling
memengaruhisalinitaslautdancairan
ekstraselularpadabanyakorganismemultiselular. Sebagai komponen
utama pada garam dapur, natrium klorida
seringdigunakansebagaibumbudanpengawetmakanan.

B. Larutan Urea
Urea adalahsenyawaorganik yang tersusundariunsurkarbon,
hidrogen, oksigendannitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO.
Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan
di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah
carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine.
Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang

berhasildibuatdarisenyawaanorganik, yang
akhirnyameruntuhkankonsepvitalisme.
Urea ditemukan pertama kali olehHilaireRoullepadatahun 1773.
Senyawa ini merupakan senyawa organik pertama yang berhasil
disintesis dari senyawa anorganik.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
No
1
2
3
4

Zat Terlarut
Titik beku (C) Penurunan Titik Beku/ Tf (C)
Urea (CO(NH2)2) 1 molal
-2
2
Urea (CO(NH2)2) 2 molal
-4
4
NaCl 1 molal
-3
3
NaCl 2 molal
-6
6
Dari tabel pengamatan, tampak bahwa NaCl dan urea dengan m = 2 molal mengalami

penurunan titik beku lebih besar daripada m = 1 molal. Karena titik beku tergantung pada
konsentrasi atau jumlah partikel zat terlarut dalam larutan. Semakin besar konsentrasi larutan,
maka semakin besar penurunan titik bekunya.
Pada kemolalan yang sama, NaCl mengalami penurunan titik beku lebih besar
daripada urea karena NaCl merupakan larutan elektrolit sedangkan urea merupakan larutan
nonelektrolit. NaCl akan terurai menjadi dua ion yakni Na+ dan Cl- sehingga konsentrasi
partikelnya menjadi dua kali semula. Artinya, jumlah ion yang mengalami reaksi
memengaruhi penurunan titik beku.
Pada larutan elektrolit, yaitu larutan NaCl mempunyai titik beku larutan lebih rendah
daripada larutan non elektrolit (urea) karena pada NaCl dapat dionisasikan (terdiri atas 2 ion)
sedangkan non elektrolit tidak dapat dionisasikan.
Faktor-faktor yang memengaruhi titik beku larutan yaitu konsentrasi larutan, Semakin
besar konsentrasi larutan, maka semakin besar penurunan titik bekunya. Jumlah ion yang
bereaksi, Semakin banyak jumlah ion yang mengalami reaksi, maka penurunan titik beku
semakin besar. Artinya, larutan elektrolit mengalami penurunan titik beku yang lebih besar
dibanding larutan nonelektrolit

Dari percobaan diatas dapat kami ambil kesimpulan bahwa titik beku larutan adalah
Pada percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat
terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu, penurunan titik
beku tergolong sifat koligatif. Titik beku larutan elektrolit lebih rendah daripada larutan
nonelektrolit karena larutan elektrolit dapat terionisasi sedangkan larutan noneektrolit tidak
dapat terionisasi. Semakin tinggih konsentrasi larutan maka semakin rendah titik bekunya.
Dan Faktor-faktor yang memengaruhi titik beku larutan yaitu konsentrasi larutan, Semakin
besar konsentrasi larutan, maka semakin besar penurunan titik bekunya. Jumlah ion yang
bereaksi, Semakin banyak jumlah ion yang mengalami reaksi, maka penurunan titik beku
semakin besar. Artinya, larutan elektrolit mengalami penurunan titik beku yang lebih besar
dibanding larutan nonelektrolit.