Anda di halaman 1dari 3

BAB III

ANALISIS MASALAH
Seorang anak laki-laki berusia 12 tahum dibawa ke RSUD
dr. Ibnu Sutowo Baturaja dengan keluhan utama kejang sejak 4
jam sebelum masuk rumah sakit disertai sakit belakang kepala
dan demam.
Beberapa penyakit yang terkait dengan keluhan utama dan
keluhan tambahan pasien antara lain kejang demam dan kejang
dengan demam. Pada pasien ini, kejang yang terjadi merupakan
tipe tonik dengan frekuensi 1x, lama 3 menit, inter iktal dan post
iktal anak tidak sadar. Setelah sadar, anak dapat diajak bicara
tapi tidak terlalu lancar dan keempat anggota gerak sulit
digerakkan. Dari anamnesis tersebut, diagnosis kejang demam
dapat

disingkirkan

sehingga

diketahui

bahwa

pasien

ini

mengalami kejang dengan demam. Kejang dengan demam dapat


disebabkan oleh beberapa penyakit yaitu meningitis, ensefalitis,
dan meningoensefalitis. Anak mengalami demam mendadak
tinggi, sakit belakang kepala, dan muntah. Tetapi anak tidak
mengalami

penurunan

kesadaran

yang

progresif

sehingga

diagnosis ensefalitis dan meningoenfalitis dapat disingkirkan.


Anak mengeluh sakit belakang kepala yang hilang timbul
dan dirasakan semakin berat. Frekuensi 2x/hari, durasi 1 jam,
sakit kepala berat dan mengganggu aktivitas, sebelum sakit
kepala anak tidak ada keluhan. Sakit kepala beberapa kategori
penyebab yaitu nyeri kepala vaskuler, muskuloskeletal, organik
(tumor, malformasi, dan ensefalopati), psikogenik, atau lain-lain
(peradangan, infeksi). Untuk membedakannya dilihat dari pola
sakit kepala (akut, akut rekuren, kronis non progresif, kronis
progresif) dan gejala penyerta. Pada pasien ini sakit kepala
terjadi akut (<3 bulan) dan disertai gejala mual, demam, kaku
kuduk, penurunan kesadaran, dan gejala serta tanda defisit

neurologis lainnya menandakan bahwa sakit kepala yang diderita


kemungkinan disebabkan oleh suatu infeksi sistemik yaitu
meningitis.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan defisit neurologis yaitu
gerakan terbatas, kekuatan 4, hipertonus, dan reflex fisiologis meningkat
pada keempat ekstremitas. Selain itu, pemeriksaan GRM menunjukkan kaku
kuduk (+), lasseque (+), dan kernig (+). Hal ini khas pada penyakit meningitis.
Penyebab meningitis dapat berupa bakteri, virus, atau aseptik. Diagnosis pasti
meningitis adalah lumbal pungsi namun pada pasien ini tidak dilakukan karena
tidak tersedia.
Pasien memiliki riwayat demam lama hilang timbul tetapi tidak memiliki
riwayat batuk lama, diare lama, keringat di malam hari, dan riwayat kontak
dengan penderita TB disangkal namun BB turun dan status gizi buruk sehingga
kemungkinan

tuberkulosis

belum

dapat

disingkirkan

sehingga

pasien

direncanakan cek sputum BTA, Rontgen Thorax, dan BCG test.


Pasien memiliki riwayat keluar cairan berwarna kuning, kental, dan bau
dari telinga kiri disertai demam tidak terlalu tinggi pada usia 3 tahun namun hanya
diobati tradisional. Selain itu, dari pemeriksaan fisik telinga didapatkan nyeri
tekan (+), sekret (+) di

auricula sinistra berwarna kuning, kental, dan bau.

Sehingga dapat dipikirkan adanya otitis media supuratif kronik.


Pemeriksaan laboratorium darah didapatkan leukositosis, peningkatan
neutrofil

segmen,

dan

peningkatan

LED.

Hal

ini

menginterpretasikan

kemungkinan adanya infeksi bakteri sehingga dipikirkan kejang pada pasien ini
disebabkan oleh infeksi bakteri dan diterapi dengan ampisilin 4x1 gram IV,
kloramfenikol 4x500 mg IV, dexametason, dan parasetamol. Pasien ini juga
dengan klinis gizi buruk yaitu wajah seperti orang tua, iga gambang, baggy pants
dan status gizi 62,5% sehingga didiagnosis marasmus kondisi V. Diberikan diet
nasi biasa 3x1 porsi dan susu F100 2x250 cc, vitamin B complex, vitamin C, dan
asam folat.

38

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSMH, Ensefalitis dalam Standar


Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak, 2008.
Kliegman Robert et al. 2011. Nelson Textbook of Pediatric 19 th
edition. Elsevier: Philadelphia
Soegijanto

S.

2006. Ilmu

Penyakit

Anak

Diagnosa

dan

Penatalaksanaan. Surabaya: Airlangga University Press.


Pusponegoro Hadiono et al.2006.

Konsensus Penatalaksanaan

Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter


Anaka Indonesia: Jakarta.
WHO. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.
Chris Tanto, Frans Liwang, Sonia Hanifati, dkk. 2014. Kapita
Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. 2011.

39