Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS

dr. Ahmad Fahron, Sp.PD


LUTFI MALEFO
2009730028

IDENTITAS

Nama
: Ny. SU
Umur
: 48 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat
: cempaka putih
Status
: Menikah
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Suku
: Jawa

KELUHAN UTAMA
Demam sejak 5 hari yang
lalu SMRS

RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG

Pasien mengeluh demam sejak 5 hari yang lalu,


Demam terus menerus sepanjang hari, namun demam
dirasakan paling berat pada malam hari. Demam
turun setelah pasien minum obat penurun panas,
namun beberapa jam kemudian demam naik lagi.
Menggigil (-). mual (+) muntah (-). Pusing dirasakan
paling berat pada bagian belakang kepala seperti
tertindih benda berat (+). nyeri pada sendi atau linulinu (+). nyeri ulu hati (+). Nyeri terutama pada saat
ditekan. Pasien juga mengatakan nafsu makan
berkurang sejak pasien demam.
Pasien mengaku sejak 2 hari sebelum MRS pasien
sempat berobat di puskesmas setempat karena
demam tinggi (39C). Pada demam hari ke empat,
pasien juga mengeluhkan gusi berdarah. Gusi
berdarah timbul waktu sore hari ketika pasien dari

Riwayat Penyakit
Sekarang
Pada saat masuk rumah sakit pasien masih
mengeluhkan demam, demam dirasakan masih
tinggi demam tidak menggigil, demam disertai
dengan pusing (+), badan terasa pegal pegal,
nafsu makan menurun, batuk dan pilek di sangkal,
mimisan di sangkal, gusi berdarah (+) namun
sudah mulai berkurang, pasien juga mengeluh
mual, namun tidak sampai muntah. Nyeri ulu hati
(+), BAK dalam batas normal, BAB hitam di
sangkal, BAB cair di sangkal

RIWAYAT PENYAKIT
DAHULU
Riwayat pernah terkena demam berdarah
disangkal.
Riwayat DM dan HT disangkal

RPK

Tidak ada keluarga pasien yang


mengeluh gejala yang sama
seperti pasien. Namun tetangga
pasien
mengalami
demam
berdarah dan sedang rawat inap
di rumah sakit.

R alergi

Alergi makanan di
sangkal
Alergi obat disangkal

Riwayat
pengobat
an

Meminum paracetamol yang di


berikan puskesma 3x1

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tampak sakit
sedang
Kesadaran
: composmentis
Tanda vital
:

Tekanan Darah: 100/60 mmHg


Frekuensi nadi:88 kali/menit
Frekuensi nafas: 20 kali/menit
Suhu axilla : 38,4 O C

Status Generalisata
K
Bentuk : bulat, simetris, normocephal.
Rambut : pendek, warna hitam, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata
cowong ,pupil isokor ,reflek cahaya +/+.
Hidung : tidak ada sekret, tidak berbau, tidak
adaperdarahan,
nafas tidak cuping hidung.
Telinga : tidak ada sekret, tidak bau, pendengaran dalam
batas
normal.
Mulut/bibir : tidak sianosis, tidak ada sariawan, perdarahan
gusi (+).
Lidah : tidak kotor, tidak hiperemi
Tenggorok :Faring dbn, tidak terjadi pembesaran tonsil,
tidak
ditemukan ulkus.

Thoraks
Paru :
Inspeksi : normochest, simetris, tidak ada retraksi
Palpasi : vocal fremitus teraba sama pada kedua
lapang
paru
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler (+/+), whezing (-/-), ronchi (-/-)
Jantung :
Inspeksi : Iktus kordis tak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas kanan : redup pada ICS IV PSL dextra
Batas kiri
: redup pada ICS V MCL sinistra
Auskultasi : Suara jantung I dan II normal, Gallop (-),
murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : cembung,
tidak terlihat massa.
Palpasi : hepar dan lien
tidak teraba, terdapat
nyeri tekan pada perut
epigastrikum,
soepel,
turgor
kulit
normal,
undulasi (-).
Perkusi : timpani, pekak
beralih (-), nyeri ketok
pinggang (-)
Auskultasi : bising usus
(+) 12x/menit

Ekstremitas Atas :
Akral
: Hangat
CRT
: <2 detik
edema : -/ Ekstremitas Bawah :
Akral
: hangat
CRT
: <2 detik
edema : -/-

Resume
Pasien mengeluh demam sepanjang hari tidak menggigil
sejak 5 hari yang lalu. Pasien mengeluh mual, tidak
muntah, dan pusing. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada
sendi atau linu-linu dan nyeri tekan pada bagian ulu hati.
Dijumpai juga gusi berdarah. Pasien tidak merasakan
batuk. Pasien merasakan buang air besar normal, tidak
diare. Pasien juga kencing normal, berwarna kuning.
Riwayat pemakaian obat parasetamol 3x1 tablet. Riwayat
demam berdarah disangkal. Riwayat penyakit keluarga
disangkal, namun tetangga pasien mengalami demam
berdarah dan sedang dirawat di rumah sakit.
Pada pemeriksaan umum ditemukan keadaan umum
lemah, kesadaran kompos mentis, tekanan darah 100/60
mmHg, frekuensi nadi 88 kali/menit, frekuensi nafas 20
kali/menit, dan suhu axilla 38,4 oC. Pada pemeriksaan fisik
tidak ditemukan adanya perbesaran dan nyeri tekan pada

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Jenis pemeriksaan

Hasil

Nilai rujukan

Hemoglobin

12,5

11,7 15,5

Leukosit

3,95 ribu/ul

3,60 11,00

Hematokrit

37

35 47 %

Trombosit

31.000

150000 450000

S. typhi O

Negatif

Negatif

S. typhi H

Negatif

Negatif

S. paratyphi A

Negatif

Negatif

S. paratyphi B

Negatif

Negatif

IgM

Positif

Negatif

IgG

Positif

Negatif

Hematologi

Uji Widal

DAFTAR MASALAH
Febris ec DHF
Cephalgia
Dispepsia sindrom

FEBRIS
S :Pasien mengeluh demam sejak 5 hari lalu, demam
meningkat pada malam hari, tidak sampai menggigil, gusi
berdarah (+), BAB berdarah (-), petekie (+)
O : TD : 100/60 mmHg
RR : 20 x/m
N : 88 x/m
S : 38,4 0C
Epitaksis (-), gusi berdarah (+), BAB berdarah (-). Petekie
(+), rumpleed test (+)
Lab : trombosit 31 000 ribu, IgM dan IgG (+)

A
P

: febris ec DHF
: infus RL
Paracetamol 500 mg 3 x 1
Asam traneksamat 3 x 1
Menganjurkan banyak minum
Tirah baring total
Diet tinggi karbohidrat dan protein

DISPEPSIA +
CHEPALGIA
S : pasien mengeluh mual dan nyeri pada ulu
hati, pusing (+)
O : TD :100/60 mmHg
RR : 20 x/m
N : 88x/m
S : 38,4 0C
Nyeri ntekan epigastrium (+)
A : sindrom dispepsia + cephalgia
P : paracetamol 3 x 1
Ranitidin inj 3 x 1

DEMAM HAEMORAGIC
FEVER

DEFINISI
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan
penyakit demam akut yang disebabkan oleh
virus dengue yang sekarang lebih dikenal
sebagai genus Flavivirus. Virus dengue
ditularkan kepada manusia terutama melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti.

PATOGENESIS

PATOGENESIS
Hipotesis
immune
enhancement
menjelaskan
menyatakan secara tidak langsung bahwa mereka
yang terkena infeksi kedua oleh virus heterolog
mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk
menderita DBD berat. Antibodi heterolog yang telah
ada akan mengenali virus lain kemudian membentuk
kompleks antigen-antibodi yang berikatan dengan Fc
reseptor dari membran leukosit terutama makrofag.
Sebagai tanggapan dari proses ini, akan terjadi
sekresi
mediator
vasoaktif
yang
kemudian
menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh
darah,
sehingga
mengakibatkan
keadaan
hipovolemia dan syok

PERJALANAN
PENYAKIT

MANAGEMEN KASUS
DBD
Manajemen kasus DBD meliputi beberapa tahap yakni:
1.Penilaian:
Riwayat penyakit sekarang, riwayat pengobatan lalu, dan
riwayat keluarga
Pemeriksaan fisik, termasuk fisik umum dan mental
Investigasi, termasuk laboratorium rutin dan spesifik-dengue
2.Diagnosis, penilaian fase penyakit, dan keparahan
3.Manajemen: menetapkan tatalaksana berdasarkan
manifestasi klinis dan hal-hal terkait lainnya:
Rawat jalan (kelompok A)
Rawat inap (kelompok B)
Membutuhkan tatalaksana emergensi dan urgensi (kelompok
C)

ANAMNESIS

Anamnesis harus meliputi:


Onset demam/penyakit,
Jumlah intake oral
Warning signs,
Diare,
Perubahan status mental/kejang/ketidaksadaran,
Urin output (frekuensi, volume, dan waktu terakhir
kencing),
Riwayat keluarga atau tetangga yang mengalami
DBD, riwayat bepergian ke daerah endemis, kondisi
penyerta (bayi, kehamilan, obesitas, diabetes
mellitus, hipertensi),

WARNING SIGN
Warning signs meliputi:
Klinis:
nyeri
abdomen,
muntah
persisten,
akumulasi
cairan,
perdarahan mukosa, pembesaran
hati >2 cm, Letargia,
Laboratorium:
peningkatan
Ht
dengan penurunan trombosit.

PEMFIS
Sedangkan pemeriksaan fisik harus
meliputi:
Status mental
Status hidrasi
Status hemodinamik
Takipnoe/pernapasan asidosis/efusi
pleura
Nyeri abdomen/ hepatomegali/asites
Ruam dan manifestasi perdarahan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar
hemoglobin (Hb), kadar hematokrit (Ht),
jumlah trombosit, dan hapusan darah
tepi untuk melihat adanya limfositosis
Pemeriksaan radiologi
Pada foto toraks (DBD derajat III/IV dan
sebagian besar derajat II) didapatkan
efusi pleura, terutama di hemitoraks
sebelah kanan

Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan antgen dan antibodi
virus
Pemeriksaan yang saat ini banyak
digunakan
adalah
pemeriksaan
serologi, yaitu dengan mendeteksi IgM
dan IgG-anti dengue.
Salah
satu
metode
pemeriksaan
terbaru adalah pemeriksaan antigen
spesifik virus dengue, yaitu antigen
nonstructural protein 1 (NS1). Dengan

Diagnosis
Berdasarkan WHO :
Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari
biasanya bifasik.
Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji
bendung positif; petekie, ekimosis, atau purpura;
perdarahan mukosa; hematemesis, dan melena.
Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sebagai
berikut:
Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar.
Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan
dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites,
hipoproteinemia, dan hiponatremia.

penatalaksanaan
Menurut WHO 2009, berdasarkan
manifestasi klinis dan kondisi lainnya,
pasien dapat dibagi tiga kategori :
rawat jalan (kelompok A).
Membutuhkan penanganan di rumah
sakit/rawat inap (kelompok B).
Membutuhkan
penanganan
emergensi atau urgensi (kelompok C).

Kelompok A
Pasien yang termasuk dalam kelompok ini adalah
yang dapat dimotivasi untuk minum secara adekuat,
masih dapat berkemih setidaknya sekali tiap enam
jam, dan tidak mempunyai warning signs, khususnya
saat demam mereda.
Memotivasi minum oral rehydration solution (ORS),
Memberikan parasetamol bila pasien merasa tidak
nyaman akibat demam. Interval 6 jam
Petugas kesehatan harus setiap hari memantau
temperatur, asupan dan keluaran cairan, urin
output (volume dan frekuensi), warning signs,
tanda perembesan plasma atau perdarahan,
hematokrit, jumlah leukosit, dan trombosit

Kelompok B
Pasien harus dirawat inap untuk observasi ketat,
khususnya pada fase kritis. Kriteria rawat pasien DBD
adalah:
Adanya warning signs
Terdapat tanda dan gejala hipotensi: dehidrasi, tidak
dapat minum, hipotensi postural, berkeringat sedikit,
pingsan, ekstremitas dingin.
Perdarahan
Gangguan organ: ginjal, hepar (hati membesar dan
nyeri walaupun tidak syok), neurologis, kardiak (nyeri
dada, gangguan napas, sianosis).
Adanya peningkatan Ht, efusi pleura, atau asites
Kondisi penyerta: hamil, DM, hipertensi, ulus
peptikum, anemia hemolitik, overweight/ obese, bayi,

Dengan warning
sign

Periksa Ht sebelum pemberian cairan. Berikan


larutan isotonik seperti normosalin 0,9%, RL.
Mulai dari 5-7 ml/kg/jam selama 1-2 jam, lalu
kurangi menjadi 3-5 ml/kg/jam selama 2-4 jam,
dan kurangi lagi menjadi 2-3 ml/kg/jam atau
kurang sesuai respon klinis.
Nilai kembali status klinis, ulangi Ht. Bila Ht
sama atau meningkat sedikit, lanjutkan dengan
jumlah sama (2-3 ml/kg/jam) selama 2-4 jam.
Bila tanda vital memburuk dan Ht meningkat
drastis, tingkatkan pemberian cairan 510
ml/kg/jam selama 1-2 jam. Nilai kembali status
klinis, ulang Ht, dan periksa kecepatan cairan

Berikan volume intravena minimum untuk


menjaga perfusi dan urin output 0,5 ml/kg/jam
selama 24-48 jam. Kurangi jumlah cairan infus
berkala saat kebocoran plasma berkurang
Pasien dengan warning signs harus diobservasi
hingga fase kritis lewat,

tanda vital dan perfusi perifer (tiap 1-4 jam hingga


lewat fase kritis), urin output (tiap 4-6 jam), Ht (sebelum
dan setelah pemberian cairan, selanjutnya tiap 6-12
jam), glukosa darah, dan fungsi organ sesuai indikasi.

TANPA WARNING
SIGN
Pada pasien tanpa warning signs, hal berikut harus
dilakukan:
Motivasi minum. Jika tidak bisa, mulai infus intravena
dengan NS 0,9% atau RL dengan atau tanpa
dekstrosa dengan dosis pemeliharaan. Untuk pasien
obese atau overweight digunakan dosis sesuai berat
ideal. Berikan volume minimum untuk memelihara
perfusi dan urine output selama 24-48 jam.
Pasien harus dimonitor: temperatur, asupan dan
keluaran cairan, urin output (volume dan frekuensi),
warning signs, hematokrit, leukosit, dan trombosit.
Pemeriksaan laboratorium lain dapat dilakukan
sesuai indikasi

Kelompok C
Pasien memerlukan perawatan darurat dan rujukan
mendesak ketika mereka berada di fase kritis
penyakit, yaitu ketika mereka memiliki:
Kebocoran plasma yang parah menyebabkan syok
dengue dan / atau akumulasi cairan dengan
gangguan pernapasan
Perdarahan parah
Gangguan organ parah (kerusakan hati, gangguan
ginjal,
kardiomiopati,
encephalopathy
atau
ensefalitis).

TERIMA KASIH