Anda di halaman 1dari 24

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

F7- MINI PROJECT


PENYULUHAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU HAMIL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN
ANGKA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA MULYOREJO KECAMATAN
MULYOREJO KOTA MALANG

Oleh:
dr. Savitri Budi Wardani, S.Ked

Pendamping:
dr. Fidia

PUSKESMAS MULYOREJO
DINAS KESEHATAN KOTA MALANG
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Kesehatan merupakan investasi dalam mendukung pembangunan ekonomi serta

memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan


harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDGs) kesehatan yaitu
menurunkan kematian anak. Berdasarkan laporan Plan Of Action Puskesmas Mulyorejo 201n,
didapatkan angka kematian bayi pada tahun 2013 sejumlah n bayi. Kematian pada bayi di
wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo yang meningkat ini disebabkan oleh banyak faktor antara
lain kurangnya penyuluhan tentang kesehatan ibu hamil, serta kurangnya pengetahuan ibu
hamil tentang asupan gizi yang baik dan kepatuhan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini
di Indonesia adalah kurang kalori dan protein, hal ini banyak ditemukan pada bayi dan anak
yang masih kecil. Keadaan juga diperparah karena anak dan bayi merupakan golongan rentan.
Terjadinya kerawanan gizi pada bayi selain disebabkan makanan yang kurang, Air Susu
Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu formula dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi
kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif dipandang dari
segi gizi. Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI
yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI
tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar enam
bulan. Setelah itu, ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral utama
untuk bayi yang telah mendapat makanan tambahan yang berupa beras.
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini
mungkin, yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam
peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal
mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi
penerus di masa depan. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan
ASI termasuk ASI EKSKLUSIF telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya

Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden
pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang bertemakan "Dengan ASI, kaum ibu
mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonesia". Dalam pidatonya presiden menyatakan
juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia enam bulan.
Pemberian ASI tanpa pemberian makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif.
Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di
teruskan sampai anak berusia dua tahun.
ASI merupakan makanan yang bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan komposisi.
Disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan langsung terserap. Diperkirakan 80% dari
jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup
untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan selama enam bulan pertama.
Bahkan ibu yang gizinya kurang baik pun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan
tambahan selama tiga bulan pertama.
ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhirakhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu menyusui melupakan manfaat menyusui.
Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya
sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu formula. Kalau hal yang demikian terus
berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari
peningkatan penggunaan ASI.
Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003,
didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya
mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan
bertambahnya usia bayi yakni, 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5
bulan. Fakta yang memprihatinkan lagi bahwa 13% bayi di bawah dua bulan telah diberi susu
formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan.
Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI
secara eksklusif kepada bayinya, antara lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam
menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan untuk
disebut modern dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tidak kalah pentingnya adalah
anggapan bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat ASI.
Berdasarkan Data laporan tahunan Puskesmas Mulyorejo tahun 2014-2015, didapatkan
angka pencapaian pemberian ASI eksklusif masih sekitar n% dimana masih jauh dari target

nasional yaitu 80%. Salah satu desa di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo yaitu Desa
Mulyorejo.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
terhadap pemberian ASI eksklusif dengan judul Penyuluhan ASI Eksklusif Ibu Hamil sebagai
Upaya Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif di Desa Mulyorejo Kecamatan Mulyorejo, Malang..

1.2

Rumusan Masalah
1. Tingkat pengetahuan masyarakat khususnya ibu hamil di Desa Mulyorejo,
Kecamatan Mulyorejo mengenai ASI eksklusif secara umum masih kurang.
2. Metode yang tepat untuk menyebarkan informasi mengenai ASI eksklusif kepada
masyarakat.

1.3
1.3.1

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan para ibu hamil di desa Mulyorejo mengenai

pemberian ASI eksklusif, pentingnya dan manfaat menyusui, serta cara menyusui yang benar.
1.3.2

Tujuan Khusus
a. Meningkatkan pengetahuan para ibu hamil di Desa Mulyorejo mengenai pemberian
ASI eksklusif.
b. Menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian pada bayi dan balita.

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1

Manfaat bagi Instansi Kesehatan


1) Dapat menjadi masukan bagi puskesmas Mulyorejo untuk evaluasi dalam promosi
kesehatan mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif di desa-desa lain sehingga
dapat dijadikan sebagai pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan
pencapaian pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo
2) Sebagai

informasi

tambahan

untuk

instansi

kesehatan

akan

pentingnya

pengetahuan para ibu tentang ASI eksklusif terkait sikap terhadap pemberian ASI.

1.4.2

Manfaat Akademik
1) Sebagai acuan bagi dokter internship yang akan melakukan penelitian selanjutnya.

1.4.3

Manfaat bagi Masyarakat


1) Sebagai informasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
pemberian ASI secara eksklusif pada ibu menyusui sebagai upaya menurunkan
angka kematian bayi.
2) Dapat memacu masyarakat khususnya keluarga terdekat untuk berperan serta
dalam mendukung pemberian ASI eksklusif kepada ibu menyusui.

1.4.4.Manfaat bagi Puskesmas


1) Sebagai masukan bagi petugas Puskesmas Mulyorejo sehingga dapat dijadikan
sebagai pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan pencapaian pemberian
ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi ASI (Air Susu Ibu)


ASI (Air Susu Ibu) merupakan suatu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur

kebutuhan bayu baik fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual.


ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam
anorganik yang sekresi oleh kelenjar payudara ibu, yang berguna sebagai makanan utama bagi
bayinya.
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi
kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama
dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
2.2.

Komposisi ASI
Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang matur, karena colostrum lebih

banyak mengandung imunoglobin A (IgA), laktoferin dan sel-sel darah putih, yang sangat
penting untuk pertahanan tubuh bayi terhadap serangan penyakit (Infeksi), lebih sedikit
mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak
mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).
Berdasarkan sumber dari food and Nutrition Boart, National Research Council
Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk
setiap 100 ml seperti tertera pada tabel 2.1.
Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 2.1.
Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian
besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut.
Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung
bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total
protein, namun bagian protein wheynya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan
yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi.
Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih
mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI
mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat
bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase laktasi air susu yang pertama kali keluar
hanya mengandung sekitar 1 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan
membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut

Hand milk, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan
memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan
agar bayi, banyak memperoleh air susu ini.
Tabel 2.1 Komposisi Kolostrum, ASI dan Susu Sapi untuk Setiap 100 ml
Zat-zat Gizi
Energi (K Cal)

Kolostrum
58

ASI
70

Susu Sapi
65

Protein (g)

2,3

0,9

3,4

- Kasein/whey

140

1 : 1,5

1 : 1,2

- Kasein (mg)

218

187

- Laktamil bumil (mg)

330

161

- Laktoferin (mg)

364

167

- Ig A (mg)

5,3

142

Laktosa (g)

2,9

7,3

4,8

Lemak (g)

151

4,2

3,9

- Vit A (mg)

1,9

75

41

- Vit B1 (mg)

30

14

43

- Vit B2 (mg)

75

40

145

- Asam Nikotinmik (mg)

160

82

- Vit B6 (mg)

183

12-15

64

- Asam pantotenik

0,06

246

340

- Biotin

0,05

0,6

2,8

- Asam folat

0,05

0,1

,13

- Vit B12

5,9

0,1

0,6

- Vit C

1,1

- Vit D (mg)

1,5

0,04

0,02

- Vit Z

0,25

0,07

- Vit K (mg)

39

1,5

Vitamin

Mineral

130

- Kalsium (mg)

85

35

108

- Klorin (mg)

40

40

14

- Tembaga (mg)

70

40

70

- Zat besi (ferrum) (mg)

100

12

- Magnesium (mg)

14

120

- Fosfor (mg)

74

15

145

- Potassium (mg)

48

57

58

- Sodium (mg)

22

15

30

- Sulfur (mg)

14

Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu
murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan
dengan susu sapi.
Di samping fungsinya sebagai sumber energi, juga di dalam usus sebagian laktosa akan
diubah menjadi asam laktat. Di dalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah
pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta
mineral-mineral lain.
ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap,
jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya. ASI juga
mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi,
tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.
Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi
selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya
sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada anak yang
diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah
ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap
vitamin D yang terlarut lemak.
2.3

Produksi ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi

pada puting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pituitari Anterior untuk
memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran ASI. Proses
pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Reflex, dimana hisapan puting dapat
merangsang kelenjar Pituitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitosin, yang dapat
merangsang serabut otot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat
mengalir secara lancar.
Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung air susu
sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti
pohon tumbuh di dalam puting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.

Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju
saluran ke dalam puting. Secara visual payudara dapat digambarkan sebagai setangkai buah
anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu
memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur
tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang
lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam areola dan membentuk sinus
lactiferous. Pusat dari areola (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku
letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
A. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang
mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan
ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau
keempat, dari masa laktasi.
Komposisi kolostrum dari hari ke hari berubah.
Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih
kuning dibandingkan ASI Matur.
Merupakan suatu laksatif yang ideal untuk membersihkan mekonium usus bayi
yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima
makanan selanjutnya.
Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Matur, tetapi berlainan
dengan ASI Matur dimana protein yang utama adalah casein sedangkan pada
kolostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya
perlindungan tubuh terhadap infeksi.
Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Matur yang dapat
memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Matur.
Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Matur yaitu 58 kalori/100 ml
kolostrum.
Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih
tinggi atau lebih rendah.
Bila dipanaskan menggumpal, ASI Matur tidak.

PH lebih alkalis dibandingkan ASI Matur.


Lemaknya lebih banyak mengandung kolesterol dan lecitin di bandingkan ASI
Matur.
Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi
kurang sempurna, yang akan menambah kadar antobodi pada bayi.
Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
B. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Matur.
Disekresi dari hari ke 4 hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang
berpendapat bahwa ASI Matur baru akan terjadi pada minggu ke 3 ke 5.
Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin
tinggi.
Volume semakin meningkat.
C. Air Susu Matur
ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan
komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu
ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang
mengatakan pada ibu yangs sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang
diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
ASI merupakan makanan yang mudah didapat, selalu tersedia, siap diberikan
pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untuk
bayi.
Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat,
riboflavum dan karoten.
Tidak menggumpal bila dipanaskan.
Volume: 300 850 ml/24 jam
Terdapat anti microbaterial faktor, yaitu:
Antibodi terhadap bakteri dan virus.
Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
Enzim (lysozime, lactoperoxidese)

10

Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein)


Faktor resisten terhadap staphylococcus.
Complement ( C3 dan C4)
2.3.1

Volume Produksi ASI


Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar

pembuat ASI mulai

menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat
menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar
400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua. Jumlah tersebut dapat dicapai
dengan menyusui bayinya selama 46 bulan pertama. Karena itu selama kurun waktu tersebut
ASI mampu memenuhi kebutuhan gizinya. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu
menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan
harus mendapat makanan tambahan.
Dalam keadaan produksi ASI telah normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh
adalah 5 menit pertama. Penyedotan/penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 1525 menit.
Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700800 ml ASI setiap hari. Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberapa kelompok ibu dan
bayi menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1
liter selama 24 jam, meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Konsumsi ASI selama satu kali menyusui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat
bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi,
meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak
berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI.
Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar
500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalam
tahun kedua kehidupan bayi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan
dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan
lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan
sebagai sumber energi selama menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa
peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air
susunya. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan
akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda. Di daerahdaerah dimana ibu-ibu sangat kekurangan gizi seringkali ditemukan marasmus pada bayi-bayi
berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.

11

2.3.2

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI


Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:
a. Makanan Ibu
Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak
secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan.
Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila
sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi, jika makanan ibu terus menerus tidak
mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar
pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna,
dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.
Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring
nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori
yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1
liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri,
yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tambahan makanan,
maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika pada masa
kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi
seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak
jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping
bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan
makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin
dalam ASI.

b. Ketentraman Jiwa dan Pikiran


Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu
dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk
ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui
bayinya, reflek tersebut adalah:

Reflek Prolaktin

12

Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap
payudara ibu, terjadi rangsangan neurohormonal pada puting susu dan aerola
ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus ke
lobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke
peredaran darah dan sampai pada kelenjarkelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini
akan terangsang untuk menghasilkan ASI.

Let-down Reflex (Refleks Milk Ejection)


Refleks ini membuantu melancarkan keluarnya ASI. Bila bayi didekatkan pada
payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks
memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut: rooting reflex (refleks
menoleh). Bayi secara otomatis menghisap puting susu ibu dengan bantuan
lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang
mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa, dan gangguan pikiran. Gangguan
terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup
mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih
gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

c. Pengaruh persalinan dan klinik bersalin


Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan
memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin
lebih menitikberatkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu
dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemberian ASI kurang
mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan
atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu
selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin
buruk apabila disekitar kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang
memuji penggunaan susu buatan.
d. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil
yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah
produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan. Oleh
karena itu, alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR), yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus

13

ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin,
yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI.
e. Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan
mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut
diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan
sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.
2.4

Manfaat Pemberian ASI


ASI sebagai makanan bayi mempunyai manfaat sebagai berikut:
a. ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah
dicerna dan memiliki komposisi zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan pencernaan bayi.
b. ASI mengandung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Di
dalam usus laktosa akan difermentasi menjadi asam laktat yang bermanfaat untuk:
Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.
Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam
organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat.
Memudahkan penyerahan berbagai jenis mineral, seperti calsium, magnesium.
c. ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6
bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4,
Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.
d. ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada
bayi.
e. Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
Selain memberikan manfaat bagi bayi, menyusui dengan bayi juga dapat memberikan

keuntungan bagi ibu, yaitu:


a. Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan kehidupan kepada
bayinya.
b. Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi
perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak.
c. Dengan menyusui, bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan
pengembalian ke ukuran sebelum hamil.

14

d. Mempercepat berhentinya pendarahan post partum.


e. Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberapa bulan
sehingga dapat menjarangkan kehamilan.
f.

Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.

g. Menambah panjang kembalinya kesuburan pasca melahirkan.


h. Memberi jarak antar anak yang lebih panjang alias menunda kehamilan berikutnya.
i. Karena kembalinya menstruasi tertunda, ibu menyusui tidak membutuhkan zat besi
sebanyak ketika mengalami menstruasi.

j. Ibu lebih cepat langsing. Penelitian membuktikan bahwa ibu menyusui enam bulan lebih
langsing setengah kilogram dibanding ibu yang menyusui empat bulan.
Selain itu, pemberian ASI juga bermanfaat bagi keluarga, yaitu :
a. Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, botol susu kayu bakar atau minyak
untuk merebus air, susu atau peralatan.
b. Bayi sehat berarti keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam
perawatan kesehatan dan berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit.
c. Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi MAL dari ASI eksklusif.
d. Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat.
e. Memberikan ASI pada bayi (meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI
selalu siap tersedia.
f.
2.5

Lebih praktis saat akan bepergian, tidak perlu membawa botol, susu, air panas, dll.

Manajemen Laktasi
Manajemen laktasi adalah upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan

menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah
persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.
Adapun upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut pada masa kehamilan (antenatal):

Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI,


manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, di samping bahaya pemberian

susu botol.
Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan puting susu, apakah
ada kelainan atau tidak. Di samping itu, perlu dipantau kenaikan berat badan ibu

hamil.
Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu
memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.

15

Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trimester kedua


sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.

Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)


a. Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menyusui
yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melekatkan bayi pada payudara
ibu.
b. Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar
menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.
c. Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam waktu dua
minggu setelah melahirkan.
Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)
a. Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 6 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya
memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya.
b. Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 kali lebih banyak dari
biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.
c. Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan
menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.
d. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang
keberhasilan menyusui.
e. Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada
permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam.
f.

Menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari


ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka.

g. Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASI


yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
Betapapun tingginya dan baiknya mutu ASI sebagai makanan bayi, manfaatnya bagi
pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan
oleh ibu. Kebaikan dan mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan kebutuhan
bayi, dan akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi.
ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berumur 6 bulan. Hal ini
sesuai dengan kebijaksanaan PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 4
bulan bayi mulai di beri makanan pendamping ASI, paling lambat usia 6 bulan karena ASI dapat
memenuhi kebutuhan bayi pada 6 bulan pertama.

16

Adapun makanan bayi umur 0-6 bulan adalah sebagai berikut:

Susui bayi segera dalam 30 menit setelah lahir (Inisiasi Menyusu Dini)
Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. Pada periode ini, ASI
saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik
untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menyusui akan terjalin
hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.

Berikan Kolostrum

Berikan ASI dari kedua payudara, kiri dan kanan secara bergantian, tiap kali sampai
payudara terasa kosong. Payudara yang dihisap sampai kosong merangsang produksi
ASI yang cukup.

2.6

Berikan ASI setiap kali meminta/menangis tanpa jadwal.

Berikan ASI 8-12 kali setiap hari, termasuk pada malam hari.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Menyusui


Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyusui antara lain posisi badan ibu

dan bayi, perlekatan mulut bayi pada payudara dan kasih. Salah satu faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dalam menyusui adalah cara menyusui yang benar. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam proses menyusui yang baik dan benar sebagai berikut.
1. Posisi badan ibu dan badan bayi
Ibu harus duduk atau berbaring dengan posisi santai.
Pegang bayi pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala.
Putar seluruh badan bayi sehingga menghadap ke ibu.
Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara ibu.
Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu.
Dengan posisi seperti ini maka telinga bayi akan berada dalam satu garis
dengan leher dan lengan bayi.
Jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi
dengan lengan ibu bagian dalam.

17

Gambar 2.1 Posisi Menyusui yang Benar


2. Perlekatan Mulut bayi dan payudara
Payudara dipegang dengan ibu jari diatas jari yang lain menopang dibawah
(bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk dan jari tengah
(bentuk gunting), dibelakang areola.
Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflex) dengan cara :
- Menyentuh pipi dengan puting susu
- Menyentuh sisi mulut puting susu
Tunggu sampai bayi bereaksi dengan membuka mulutnya lebar dan lidah
kebawah.
Dengan cepat dekatkan bayi ke payudara ibu dengan cara menekan bahu
betakang bayi bukan bagian belakang kepala.
Posisikan puting susu diatas bibir atas bayi dan berhadap-hadapan dengan
hidung bayi.
Kemudian masukkan puting susu ibu menelusuri langit-langit mulut bayi.
Usahakan sebagian besar areola masuk kemulut bayi, sehingga puting susu
berada diantara pertemuan langit-langit yang keras (palatum durum) dan langitlangit yang lunak (palatum molle.)
Lidah bayi akan menekan dinding bawah payudara dengan gerakan memerah
sehingga ASI akan keluar dari sinus lactiferous yang terletak dibawah areola.
Setelah bayi menyusu atau menghisap payudara dengan baik, payudara tidak
perlu dipegang atau disangga lagi.
Beberapa ibu sering meletakkan jarinya pada payudara dengan hidung bayi
dengan maksud untuk memudahkan bayi bernafas. Hal ini tidak perlu karena
hidung bayi telah dijauhkan dari payudara dengan cara menekan pantat bayi
dengan lengan ibu.

18

Dianjurkan tangan ibu yang bebas digunakan untuk mengelus-elus bayi.

Gambar 2.2 Posisi Perlekatan yang Baik dan Kurang Baik


3. Kasih
Ibu memeluk dan memandang bayi saat menyusui.
2.7

Cara Pengeluaran ASI


Ada 2 cara untuk mengeluarkan ASI yang ada di dalam kelenjar payudara, yaitu:
1) Memerah dengan menggunakan Tangan
a) Massage
Pijatlah sel-sel produksi ASI dan saluran ASI mulai dari bagian atas payudara
dengan gerakan memutar dan pijatan payudara dengan dengan menekan ke
arah dada.
b) Stroke
Tekanlah daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar putting dan tekan
dengan lembut, dengan jari seperti menggelitik.
c) Shake
Gunjang payudara dengan arah memutar, gerakan seperti ini dapat
membantu pengeluaran ASI.
2) Memerah dengan menggunakan pompa
Pemerahan ASI denga pompa lebih mudah dan cepat dilakukan. Kendurkan otot
dan saluran ASI dalam payudara dengan menaruh handuk hangat di atas
payudara ibu atau diurut sebelumnya dan pastikan pompa telah steril sebelum
dipakai. Lamanya pemerahan ASI dengan pompa bisa sampai 15-45 menit dan
tidak bisa menimbulkan rasa sakit tergantung jenis pompa yang digunakan.

19

2.8

Cara Menyimpan Perahan ASI


Penyimpanan ASI diperlukan dalam berbagai alasan antara lain pada ibu yang bekerja

yang tidak memungkinkan membawa anaknya ke tempat bekerja, bayi yang tidak bisa mampu
menghisap puting, ibu sakit dan tidak bisa memberi ASI secara mandiri.
ASI dapat disimpan di tempat seperti kantung plastic polietilen, wadah plastic untuk
makanan atau yang bisa dimasukkan ke microwave, gelas, atau cangkir keramik. Beri tanggal
dan jam setelah ASI diperah pada masing-masing wadah.
Lama penyimpanan ASI tergantung pada tempat penyimpanan sebagai berikut.
a. Jika ASI disimpan di dalam ruangan tidak ber-AC/suhu ruangan, lama penyimpanan
tidak lebih dari 4 jam. Jika di dalam ruangan ber-AC bisa disimpan sampai 6 jam. Suhu
ruangan ber-AC harus stabil (tidak dimatikan selama botol ASI ada di dalamanya).
b. jika ASI disimpan di dalam lemari es 2 pintu, dimana ASI diletakkan terpisah dari
bahan makanan lain yang ada di dalam lemari es, maka ASI bisa bertahan sampai 8
hari. Jika lemari es tidak memiliki ruangan terpisah, maka ASI jangan disimpan lebih dari
72 jam.
c. jika ASI disimpan di dalam lemari es dengan suhu 4 oc, dapat disimpan selama 72 jam
jika disimpan pada freezer dengan suhu -20oc, maka ASI dapat disimpan selama 3-6
bulan.

2.9

Definisi ASI Eksklusif


ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada

bayi berusia 0 6 bulan. Makanan lain termasuk pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur
nasi, tim. Minuman lain termasuk susu formula, madu, air putih, air jeruk kecuali obat.
ASI eksklusif diberikan kepada bayi sesering mungkin minimal 8 kali dalam 24 jam.
Apabila bayi telah tertidur selama 2-3 jam, maka ibu harus membangunkan bayi untuk disusui.

2.10

Keuntungan ASI Eksklusif


Berikut ini adalah beberapa keuntungan pemberian ASI secara eksklusif yaitu:
1) ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan
Faktor yang meningkatkan kecerdasan anak antara lain genetik dan lingkungan.
Faktor genetik atau keturunan ini diturunkan oleh orang tua dan tidak dapat di
manipulasi

maupun

rekayasa.

Faktor

lingkungan

merupakan

faktor

yang

20

menentukan apakah faktor genetik tercapai secara optimal. Faktor ini mempunyai
banyak aspek dan dapat di manipulasi maupun rekayasa.
Secara garis besar ada 3 jenis kebutuhan dalam faktor lingkungan, antara lain:
Kebutuhan untuk pertumbuhan fisik otak (ASUH),
Kebutuhan untuk perkembangan emosional dan spiritual (ASIH),
Kebutuhan untuk perkembangan intelektual dan sosialisasi (ASAH).
2) ASI eksklusif dapat meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu akan merasa aman dan nyaman
dikarenakan bayi akan mendengar detak jantung sang ibu yang telah dikenalnya
selama di dalam kandungan.

2.11

Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan ASI Eksklusif


Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan ASI eksklusif antara lain:
a) Persiapan psikologis Ibu
Persiapan psikologis ibu sangat penting dalam hal menyusui karena keputusan dan
sikap ibu yang positif tentang menyusui harus sudah tertanam pada saat kehamilan.
b) Upaya meningkatkan produksi ASI
Dianjurkan untuk meningkatkan asupan gizi dan kesehatan ibu selama hamil.
Setelah melahirkan ibu segera melakukan inisiasi menyusu dini yang dilakukan
dalam 30 menit-1 jam pertama setelah bayi lahir.
c) Perawatan puting payudara
Keberhasilan menyusui diperlukan perawatan puting susu dan payudara sejak awal
secara teratur. Perawatan ini bertujuan agar produksi ASI cukup selama menyusui
dan tidak terjadi masalah pada putting dan payudara.

21

BAB 3
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

3.1

Metode Pengumpulan Data

3.1.1 Rancangan Pengumpulan Data


Pengumpulan data digunakan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil
mengenai ASI eksklusif khususnya di desa Mulyorejo. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan data primer berupa wawancara terhadap pemegang program gizi serta data
sekunder berupa laporan tahunan Plan of Action (POA) Puskesmas Mulyorejo tahun 2014 dan
laporan pemegang program gizi tahun 2014.
Data sekunder yang didapat dari laporan POA Puskesmas Mulyorejo memuat profil
Puskesmas Mulyorejo, data 10 penyakit terbanyak di seluruh desa kecamatan Mulyorejo, serta
identifikasi berbagai masalah berdasarkan program seperti program Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA), gizi, imunisasi, kesehatan lingkungan. Data ini diolah untuk mendapatkan satu dari
program yang paling sesuai dan mudah untuk dilakukan intervensi. Selain itu, berdasar laporan
tahunan pemegang program gizi memuat pemberian ASI eksklusif, pemberian Vitamin A,
pemberian Fe pada ibu hamil, anak dengan berat badan kurang dan lebih, dan gizi buruk. Cara
yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah dengan memilih desa dengan angka
pencapaian pemberian ASI eksklusif terendah.

22

3.1.2

Populasi dan Sampel


a. Populasi target adalah ibu hamil di desa Mulyorejo
b. Sampel
Kriteria sampel yang memenuhi syarat yaitu :
1. Kriteria inklusi
Sampel merupakan seluruh ibu hamil yang datang ke posyandu di desa
Mulyorejo, kecamatan Mulyorejo, Malang.
2. Kriteria eksklusi
- Sampel yang tidak datang ke Posyandu
- Sampel yang tidak bersedia diberikan penyuluhan

3.1.3

Waktu dan Tempat Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan pada tanggal Januari 2016 di Puskemas Mulyorejo.

3.1.4

Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data pada mini project ini adalah data laporan program tahunan

Plan of Action Puskesmas Mulyorejo tahun 2014 serta laporan tahunan dari bidang gizi perihal
pencapaian ASI eksklusif di tiap-tiap desa di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo.
3.1.5

Cara Pengumpulan Data


Semua jenis data yang dikumpulkan pada mini project ini adalah data primer dan data

sekunder. Data primer berupa profil responden dan hasil intervensi. Sedangkan data sekunder
berupa profil desa Mulyorejo, Kecamatan Mulyorejo, Malang..
3.2.
3.2.1

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Metode Intervensi
Metode intervensi yang digunakan dalam mini project ini adalah penyuluhan dengan alat

bantu poster, lembar balik dan leaflet. Sebagai evaluasi terhadap penyuluhan ini, dilakukan
pretest dan posttest. Pretest dan posttest akan diberikan dalam bentuk pernyataan benar/salah.
Pernyataan tersebut berkaitan tentang pengertian ASI eksklusif, manfaat pemberian ASI, faktor
yang mempengaruhi keberhasilan menyusui, serta cara pemberian dan penyimpanan ASI.
3.2.2

Petugas Penyuluhan
Petugas penyuluhan dari kegiatan mini project ini adalah :
1.

Dokter Internship Puskesmas Mulyorejo periode November 2015 - April 2016, dalam

2.

hal ini dr. Savitri Budi Wardani selaku narasumber.


Petugas kesehatan lain dari Puskesmas Mulyorejo.

23

3.2.3

Lokasi dan Waktu Penyuluhan


Kegiatan

mini

project

ini

bertempat

di

posyandu-posyandu

desa

Mulyorejo.

Pelaksanaannya pada tanggal Februari 2016.


3.2.4

Sasaran Penyuluhan
Sasaran kegiatan mini project ini adalah seluruh ibu hamil yang berkunjung ke posyandu

di desa Mulyorejo.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2007. Pelatihan Konseling Menyusui : Panduan Peserta. Katalog
Dalam Terbitan, Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Emilia, Rika Candra. 2009. Pengaruh Penyuluhan Asi Eksklusif Terhadap Pengetahuan dan
Sikap Ibu Hamil di Mukim Laure-E Kecamatan Simeulue Tengah Kabupaten
Simeulue (NAD) Tahun 2008 (Skripsi). Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara. Medan.

Yuliarti, Iin Dwi. 2008. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Perilaku Pemberian Asi
Eksklusif (Tesis). Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

24