Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. SKENARIO/ LATAR BELAKANG MASALAH (LBM)
Jual Obat Keras Perawat Ditangkap Polisi
EHS (28) hanyalah perawat di Puskesmas Paron di Kabupaten Ngawi. Ia
juga tidak punya surat izin praktik (SIP) dan surat izin praktik perawat. Akan
tetapi, EHS seringkali mengobati pasien. Bukan hanya itu, ia malah diduga kuat
menjual obat-obat yang termasuk keras.
Atas perbuatannya itu, EHS ditangkap dan saat ini ditahan di Kepolisian
Resor Ngawi. Kepada wartawan, Selasa (20/1), EHS mengatakan telah mengobati
pasien dan menjual obat-obat itu kepada pasien dalam lima tahun terakhir. Dia
membuka praktiknya di rumahnya di Desa Jeblogan, Kecamatan Paron, Ngawi.
Dia mengaku, hal itu dilakukannya karena telah mendapatkan izin lisan
dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi. Selain itu, perawat-perawat lainnya yang
tidak memiliki SIP ataupun SIPP pun melkukan hal itu.
Hanya karena saya yang apes, saya ditangkap polisi, ujarnya yang
mengetahui kalau apa yang dilakukannya sebetulnya melanggar aturan.
EHS juga mengaku, dia terpaksa berperan seperti dokter di desanya karena
jumlah dokter di wilayahnya sangat terbatas. Jadi, sebetulnya niat saya baik,
mengobati mereka yang sakit, tambahnya.
Namun, alasan EHS ini tidak bisa diterima oleh polisi. Menurut Kepala
Satuan Reserse dan Kriminal Polres Ngawi Ajun Komisaris Sujarwanto,
mengobati orang sakit harus ada izinnya terlebih dahulu. Izin itu sebagai dasar
kalau seseorang memiliki keahlian mengobati orang.

Sekarang kalau ternyata ada salah satu pasiennya yang salah diberi obat
lalu meninggal, itu kan bisa menjadi masalah besar. Makanya kami menahan EHS
sebelum itu terjadi, ujarnya.
Di rumah EHS, polisi menyita ratusan obat keras berlogo K merah,
diantaranya Duradryl, Gludepatic 500, Diltiazem, dan Microtina. Obat-obat ini
dibelinya dari apotek yang pemiliknya sudah kenal kalau EHS adalah perawat di
puskesmas.
EHS dinilai polisi telah melanggar pasal 81 dan pasal 82 Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan
B. Analisa Kasus
1. Identifikasi Masalah
a. Obat keras logo K berwarna merah
b. SIP dan SIPP
c. Izin Lisan
d. Kasareskrim Polres
e. Duradryl dan Diltiazem
f. Pasal 81 dan 82 UU no.23 tahun 1992
Jawab:
a. Obat keras adalah :
Obat yang memiliki efek narkotik tetapi tidak menekan ssp dan tidak

menimbulkan ketergantungan.
Obat yang diberikan harus dengan resep dokter (tidak dijual bebas)

serta tanda tangannya yang telah disepakati menurut UU Farmasi.


Obat beracun yang mempunyai khasiat mengobati, menguatkan,

mendesinfeksikan tubuh manusia.


Logo K merah merupakan lambang obat keras
b. SIP adalah : Surat Izin Praktik.
Surat yang merupakan pemberian izin kepada orang pribadi yang
mendirikan atau menyelenggarakan sarana pelayanan kesehatan di

bidang izin praktik.


SIPP adalah : Surat Izin Praktik Perawat.

Bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk melakukan praktik


keperawatan secara perorangan atau kelompok
c. Izin yang tidak tertulis dan dari mulut ke mulut serta tidak ada bukti
tertulis atau hitam putih.
d. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resort.
e. Duradryl dan Diltiazem merupakan golongan obat keras.
f. Pasal 81 dan 82 UU no.23 tahun 1992 tentang kesehatan.
2.

Daftar Masalah
1. Syarat apa yang dapat memperbolehkan perawat melakukan praktik ?
2. Apakah boleh perawat melakukan praktik tanpa SIP dan SIPP hanya
menggunakan izin secara lisan saja?
3. Apakah tindakan EHS sesuai dengan etik keperawatan?
4. Apakah orang yang menjual obat keras melanggar UU dan UU apa yang
dilanggar tersebut ?
5. Apa saja syarat untuk mendapatkan SIP dan SIPP bagi seorang perawat ?
6. Apakah izin lisan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum ?
7. Apakah salah tindakan seorang perawat yang seperti dokter ?
8. Mengapa seorang perawat harus memiliki SIP dan SIPP sebelum melakukan
praktik ?
3. Menganalisis masalah
No 1, 5 & 8
- Mempunyai SIP dan SIPP, agar perawat dapat mempertanggung jawabkan
praktiknya tersebut.

Surat tanda registrasi ( STR ) sebelum SIP dan SIPP


Harus lulus dalam jenjang akademik ( S1 + Ners )
Syarat untuk mendapatkan SIP, yaitu:
Fotokopi KTP
Surat rekomendasi dari organisasi profesi
Surat izin penugasan
Advice dari tim teknis/ dinas teknis
Foto 3x4 2 lembar

Syarat untuk mendapatkan SIPP, yaitu:

Ada surat rekomendasi dari PPNI


Tingkat pendidikan (D3 tingkat terendah)
Memiliki keahlian dan kompetensi di bidangnya
Memiliki tempat praktik, foto 4x6 3 lembar
Fotokopi SIP

No 2 & 6
- Tidak boleh, karena izin secara lisan hanyalah orderan dari seorang dokter
karena tanpa SIP dan SIPP perawat tidak dapat melakukan praktik. Dan tanpa
SIP dan SIPP juga perawat tidak dapat mempertanggung jawabkan praktiknya
dihadapan hukum, dan untuk dapat membuka praktik seharusnya perawat
tersebut memiliki SIP dan SIPP sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku atau
undang-undang yang berlaku.
No 3
- Tindakan EHS tidak sesuai etik keperawatan karena EHS
melakukan tindakan medis yaitu melakukan pengobatan (cure)
serta EHS tidak memiliki SIP (Surat Izin Perawat).

No 4
- Bagi seseorang yang menjual obat keras secara ilegal maupun menjual
obat tersebut pada orang yang tidak mempunyai izin tentu telah melanggar
UU.
No 7
- Tidak salah, kalau tindakan tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang
ada misalnya : keterbatasan tenaga kesehatan (dokter) dan memiliki izin dari
dinas kesehatan setempat.
4. Pohon Masalah

Praktik Keperawatan

Mandiri

Delegasi

Hukum

Izin Praktik

5. Sasaran Belajar

Undang-Undang yang dilanggar berkaitan dengan kasus obat keras


Dasar Hukum Praktik Keperawatan
Syarat-syarat dan alur Kepengurusan SIP dan SIPP
Syarat Keprofesionalis keperawatan
Alur Pendelegasian tugas bagi perawat
Area Praktik Mandiri Keperawatan
Alur Peresepan Obat Keras

BAB II
PEMBAHASAN

Profesi perawat yang dulunya masih vokasional sekarang sudah


berkembang ke arah profesional. Konsekuensi seorang perawat profesional yaitu
harapan untuk mendapatkan otonomi dalam melaksanakan tugasnya dalam
pelayanan keperawatan. Otonomi tersebut dapat berupa pengakuan, ijin serta
perlindungan dan kepastian hukum yang menjadi haknya sebagai seorang
profesional. Walaupun kenyataanya praktik perawat sudah dilakukan sejak
dahulu, dan ini secara hukum sifatnya ilegal kecuali pada lokasi tertentu yang
tidak bisa dijangkau oleh sarana/petugas kesehatan lain dan keadaan darurat.
Keluarnya UUK No 23 Tahun 1992 ternyata masih juga belum memberikan
kejelasan batasan kewenangan, perlindungan hukum yang pasti bagi tenaga
perawat. Yang lebih membingungkan yakni praktek perawat khususnya pribadi
akan mendapat tuntutan hukum yang cukup mengejutkan dan tidak rasional.
Dalam pasal 59 tentang ijin untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan baik
pemerintah maupun swasta dan pasal 84 tentang tuntutan hukum bagi yang tidak
izin, yaitu kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak lima belas
juta. Serta pasal 81 dan 82 tentang tindakan di luar kewenangan dan keahliannya
dapat dipidana lima tahun atau denda maksimal seratus juta. Padahal, perawat
juga tak bisa membiarkan pasien itu tanpa perawatan karena dia bisa dijerat pasal
190 ayat 1 UU Kesehatan yang berisi tentang menolak menangani pasien.

A. Dasar Hukum Praktik Keperawatan


Hukum-hukum yang mendasari praktik keperawatan antara lain:
1. Pasal 81 dan 82 UU No. 23 Tahun 1992
Pasal 81
(1) Barang siapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja :

a. melakukan transplantasi organ dan atau jaringan tubuh sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1);
b. melakukan implan alat kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
ayat (1);
c. melakukan bedah plastik dan rekonstruksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37 ayat (1);
dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda
paling banyak Rp 140.000.000,00 (seratus empat puluh jula rupiah).
(2) Barang siapa dengan sengaja :
a. mengambil organ dari seorang donor tanpa memperhatikan kesehatan
donor dan atau tanpa persetujuan donor dan ahli waris atau keluarganya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2);
b. memproduksi dan atau mengedarkan alat kesehatan yang tidak memenuhi
standar dan atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat
(2);
c. mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan tanpa izin edar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1);
d. menyelenggarakan penelitian dan atau pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi kesehatan pada manusia tanpa memperhatikan kesehatan
dan keselamatan yang bersangkutan serta norma yang berlaku dalam
masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (2) dan ayat (3);
dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda
paling banyak Rp 140.000.000,00 (seratus empat puluh juta rupiah).
Pasal 82
(1) Barang siapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja :
a. melakukan pengobatan dan atau perawatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 ayat (4);
b. melakukan transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1);
c. melakukan implan obat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1);
d. melakukan pekerjaan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63
ayat (1);
e. melakukan bedah mayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2);

dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda
paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(2) Barang siapa dengan sengaja :
a. melakukan upaya kehamilan diluar cara alami yang tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2);
b. memproduksi dan atau mengedarkan sediaan farmasi berupa obat
tradisional

yang

tidak

memenuhi

standar

dan

atau

persyaratan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2);


c. memproduksi dan atau mengedarkan sediaan farmasi berupa kosmetika
yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 40 ayat (2);
d. mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak
memenuhi persyaratan penandaan dan informasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 41 ayat (2);
e. memproduksi dan atau mengedarkan bahan yang mengandung zat adiktif
yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan yang ditentukan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2);
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda
paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pada kasus LBM II ini EHS melanggar beberapa pasal-pasal yang terdapat
dalam pasal 81 dan 82 UU No.23 Tahun 1992 yaitu pada pasal 81 ayat (2) c
Barang siapa yang dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat
kesehatan tanpa izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda paling
banyak Rp 140.000.000,00 (seratus empat puluh juta rupiah). Dan pada pasal 82
ayat (2) d Barang siapa yang dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dan
atau alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan penandaan dan informasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Permenkes

RI No. HK.02.02/MENKES/148/1/2010 tentang izin dan

penyelenggaraan praktik keperawatan

B. Syarat dan Izin Praktik Keperawatan


Syarat dan izin praktik keperawatan meliputi SIP (Surat Izin Praktik),
SIPP (Surat Izin Praktik Perawat), dan SIK (Surat Izin Kerja).
Surat Izin Praktek Perawat adalah pemberian izin kepada orang pribadi
yang mendirikan atau menyelenggarakan sarana pelayanan kesehatan di bidang
Izin Praktek Perawat. Syarat untuk mendapatkan izin praktik (SIPP) salah satunya
adalah Surat Tanda Registrasi (STR) dan untuk mendapatkan STR adalah melalui
uji kompetensi perawat secara nasional. Untuk mengantisipasi dan menghadapi
regulasi tersebut PPNI dengan komite Nasional Uji Kompetensi Perawat
(KNUKP). Mekanisme uji kompetensi nasional yang akan diberlakukan secara
menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia, karena untuk mendapatkan STR
seorang perawat haruslah mempunyai sertifikat kompetensi sebagai bukti tertulis
bahwa ia adalah perawat general yang kompeten sehingga layak mendapatkan
kewenangan sebagai perawat general.
Profesi keperawatan telah diakui dan dilindungi dengan adanya
KepMenKes RI no 1239/MenKes/SK/IV/2001 tentang Registrasi dan Praktik
Perawat. Legalitas perawat ini menjadi sebuah keharusan dimana setiap perawat
hendaknya mengurus Surat Izin Perawat (SIP). Untuk mendapatkan SIP, kita
wajib menjalani sebuah Uji Kompetensi. Namun, proses ini sepertinya belum
terwujud secara sempurna. Selain itu, perawat dapat mengurus Surat Izin Kerja
(SIK) sebagai bukti tertulis bahwa kita secara hukum dapat menjalankan peran
sebagai perawat, dalam hal ini perawat ditatanan pelayanan. Di samping SIP dan
SIK, perawat juga dapat memiliki Surat Izin Praktik Perawat (SIPP). Dengan
memiliki SIPP, kita dapat melakukan praktik pemberian asuhan keperawatan
mandiri baik secara perorangan maupun berkelompok.
Selain itu, kita juga dapat menemukan banyak ketidak-konsistenan dalam
pelaksanaan pengurusan SIP. Kondisi ini mungkin diperparah dengan penyakit
kronis dalam tubuh birokrasi kita. Hal ini tercermin dalam ketidakseragaman
prosedur untuk mendapatkan SIP di tiap-tiap daerah, yang semuanya terasa begitu
complicated sehingga berkesan mempersulit. Sebenarnya, masalah ini tampak

sederhana, asalkan ada niat yang tulus, jelas, dan tegas dari pemerintah dan para
birokrat yang duduk di Depkes, Dinkes, dan PPNI untuk membantu agar profesi
ini dapat berdiri tegak dan dinamis dalam menghadapi era globalisasi yang
mensyaratkan surat izin/lisensi. Dengan demikian, para perawat pun dapat bekerja
di era globalisasi dengan tenang.

C. Syarat dan Alur kepengurusan SIP dan SIP


Keputusan menteri kesehatan republik Indonesia
Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001
mengenai registrasi dan praktik perawat
Menimbang: bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah perlu diadakan
penyempurnaan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 647/Menkes/SK/IV/2000
tentang Registrasi dan Praktik Perawat;
Mengingat:
1.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran)


Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495 );

2.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah


(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60 Tambahan Lembaran Negara Nomor
3839);

3.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan


(Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 49 , Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3637);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah


dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun
2000 Nomor 54 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

5.

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan


Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Tahun 2001 Nomor 41 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan


Dekonsentrasi

(Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 4095).

MEMUTUSKAN:
Menetapkan: KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA TENTANG REGISTRASI DAN PRAKTIK PERAWAT.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1.

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam
maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

2.

Surat Izin Perawat selanjutnya disebut SIP adalah bukti tertulis pemberian
kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh wilayah
Indonesia.

3.

Surat Izin Kerja selanjutnya disebut SIK adalah bukti tertulis yang diberikan
kepada perawat untuk melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan
kesehatan.

4.

Surat Izin Praktik Perawat selanjutnya disebut SIPP adalah bukti tertulis yang
diberikan

kepada

perawat

untuk

menjalankan

praktik

perawat

perorangan/berkelompok.
5.

Standar Profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk


dalam menjalankan profesi secara baik.

BAB II
PELAPORAN DAN REGISTRASI
Pasal 2
(1)

Pimpinan penyelenggara pendidikan perawat wajib menyampaikan laporan


secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi mengenai peserta didik
yang baru lulus, selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah dinyatakan lulus
pendidikaan keperawatan.

(2)

Bentuk dan isi laporan dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum dalam
formulir I terlampir.
Pasal 3

(1)

Perawat yang baru lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan


kelengkapan registrasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dimana sekolah
berada guna memperoleh SIP selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah
menerima ijazah pendidikan keperawatan.

(2)

Kelengkapan registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

a.

foto kopi Ijazah pendidikan perawat.

b.

surat keterangan sehat dari dokter.

c.

pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar.

(3)

Bentuk permohonan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
formulir II terlampir.
Pasal 4

(1)

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi atas nama Menteri Kesehatan, melakukan


registrasi berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 untuk
menerbitkan SIP.

(2)

SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi atas nama Menteri Kesehatan, dalam waktu selambatlambatnya 1(satu) bulan sejak permohonan diterima dan berlaku secara nasional.

(3)

Bentuk dan isi SIP sebagaimana tercantum dalam formulir III terlampir.

Pasal 5
(1)

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi harus membuat pembukuan registrasi


mengenai SIP yang telah diterbitkan.

(2)

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi menyampaikan laporan secara berkala kepada


Menteri Kesehatan melalui Sekretariat Jenderal c.q Kepala Biro Kepegawaian
Departemen Kesehatan mengenai SIP yang telah diterbitkan untuk kemudian
secara berkala akan diterbitkan dalam buku registrasi Nasional.
Pasal 6

(1)

Perawat lulusan luar negeri wajib melakukan adaptasi untuk melengkapi


persyaratan mendapatkan SIP.

(2)

Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada sarana pendidikan
milik pemerintah.

(3)

Untuk melakukan adaptasi perawat mengajukan permohonan kepada Kepala


Dinas Kesehatan Propinsi.

(4)

Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan melampirkan :

a.

foto kopi Ijazah yang telah dilegalisir oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

b.

transkrip nilai ujian yang bersangkutan.

(5)

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi berdasarkan permohonan sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) menerbitkan rekomendasi untuk melaksanakan adaptasi.

(6)

Perawat yang telah melaksanakan adaptasi berlaku ketentuan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 4.
Pasal 7

(1)

SIP berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperbaharui serta merupakan dasar
untuk memperoleh SIK dan/atau SIPP.

(2)

Pembaharuan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada Dinas
Kesehatan Propinsi dimana perawat melaksanakan asuhan keperawatan dengan
melampirkan :

a.

SIP yang telah habis masa berlakunya ;

b.

surat keterangan sehat dari dokter;

c.

pas foto ukuran 4 X 6 cmsebanyak 2(dua) lembar.

BAB III
PERIZINAN
Pasal 8
(1)

Perawat dapat melaksanakan praktik keperawatan pada sarana pelayanan


kesehatan, praktik perorangan dan/atau berkelompok.

(2)

Perawat yang melaksanakan praktik keperawatan pada sarana pelayanan


kesehatan harus memiliki SIK.

(3)

Perawat yang melakukan praktik perorangan/berkelompok harus memiliki SIPP.


Pasal 9

(1)

SIK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) diperoleh dengan


mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat.

(2)

Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan


melampirkan:

a.

foto kopi ijazah pendidikan keperawatan;

b.

foto kopi SIP yang masih berlaku;

c.

surat keterangan sehat dari dokter;

d. pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar;


e.

surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan yang menyatakan


tanggal mulai bekerja;

f.
(3)

rekomendasi dari Organisasi Profesi


Bentuk permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada
formulir IV terlampir.
Pasal 10
SIK hanya berlaku pada 1 (satu) sarana pelayanan kesehatan.
Pasal 11
Permohonan SIK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, selambat-lambatnya
diajukan dalam waktu 1(satu) bulan setelah diterima bekerja.

Pasal 12
(1)

SIPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) diperoleh dengan


mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat.

(2)

SIPP hanya diberikan kepada perawat yang memiliki pendidikan ahli madya
keperawatan atau memiliki pendidikan keperawatan dengan kompetensi lebih
tinggi.

(3)

Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan


melampirkan:

a.

foto kopi ijazah ahli madya keperawatan, atau ijazah pendidikan dengan
kompetensi lebih tinggi yang diakui pemerintah;

b.

surat keterangan pengalaman kerja minimal 3(tiga) tahun dari pimpinan sarana
tempat kerja, khusus bagi ahli madya keperawatan;

c.

foto kopi SIP yang masih berlaku;

d. surat keterangan sehat dari dokter;


e.

pas foto 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar;

f.

rekomendasi dari organisasi profesi;

(4)

Bentuk permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti tercantum


pada formulir V terlampir;

(5)

Perawat yang telah memiliki SIPP dapat melakukan praktik berkelompok.

(6)

Tata cara perizinan praktik berkelompok sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Pasal 13

(1)

Rekomendasi untuk mendapatkan SIK dan/atau SIPP dilakukan melalui


penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan dalam bidang keperawatan,
kepatuhan terhadap kode etik profesi serta kesanggupan malakukan praktik
keperawatan.

(2)

Setiap perawat yang melaksanakan praktik keperawatan berkewajiban


meningkatkan kemampuan keilmuandan/atau keterampilan bidang keperawatan
melalui pendidikan dan/atau pelatihan.

Pasal 14
(1)

SIK dan SIPP berlaku sepanjang SIP belum habis masa berlakunya dan
selanjutnya dapat diperbaharui kembali.

(2)

Pembaharuan SIK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan melampirkan :

a.

foto kopi SIP yang masih berlaku;

b.

foto kopi SIK yang lama;

c.

surat keterangan sehat dari dokter;

d. pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar;


e.

surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan yang menyatakan


masih bekerja sebagai perawat;

f.
(3)

rekomendasi dari organisasi profesi.


Pembaharuan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan melampirkan :

a.

foto kopi SIP yang masih berlaku;

b.

foto kopi SIPP yang lama;

c.

surat keterangan sehat dari dokter;

d. pas foto 4 x 6 cm sebayak 2(dua) lembar;


e.

rekomendasi dari organisasi profesi.


BAB IV
PRAKTIK PERAWAT
Pasal 15
Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk :

a.

melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan


diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan
evaluasi keperawatan;

b.

tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada butir a meliputi : intervensi


keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan;

c.

dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud huruf a dan b


harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi
profesi;

d.

pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan


tertulis dari dokter.
Pasal 16
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
perawat berkewajiban untuk :

a.

menghormati hak pasien;

b.

merujuk kasus yang tidak dapat ditangani;

c.

menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

d.

memberikan informasi;

e.

meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan;

f.

melakukan catatan perawatan dengan baik.


Pasal 17
Perawat dalam melakukan praktik keperawatan harus sesuai dengan kewenangan
yang diberikan, berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta dalam memberikan
pelayanan berkewajiban mematuhi standar profesi.
Pasal 18
Perawat dalam menjalankan praktik harus membantu program pemerintah dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pasal 19
Perawat dalam menjalankan praktik keperawatan harus senantiasa meningkatkan
mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya,
baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisasi profesi.
Pasal 20

(1)

Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang/pasien, perawat


berwenang

untuk

melakukan

pelayanan

kesehatan

diluar

kewenangan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.


(2)

Pelayanan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
Pasal 21

(1)

Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP


diruang praktiknya.

(2)

Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang


papan praktik.
Pasal 22

(1)

Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan keperawatan dalam


bentuk kunjungan rumah.

(2)

Perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dalam bentuk kunjungan rumah


harus membawa perlengkapan perawatan sesuai kebutuhan.
Pasal 23

(1)

Perawat dalam menjalankan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi


persyaratan :

a.

memiliki tempat praktik yang memenuhi syarat kesehatan;

b.

memiliki perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan maupun kunjungan


rumah;

c.

memiliki perlengkapan administrasi yang meliputi buku catatan kunjungan,


formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan;

d. Persyaratan perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan


standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi.
BAB V
PEJABAT YANG BERWENANG MENGELUARKAN DAN MENCABUT
IZIN KERJA ATAU IZIN PRAKTIK

Pasal 24
(1)

Pejabat yang berwenang mengeluarkan dan mencabut SIK atau SIPP adalah
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

(2)

Dalam hal tidak ada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi dapat menunjuk pejabat lain.
Pasal 25

(1)

Permohonan SIK atau SIPP yang disetujui atau ditolak harus disampaikan oleh
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada pemohon dalam waktu
selambat-lambatnya 1(satu) bulan sejak tanggal permohonan diterima.

(2)

Apabila permohonan SIK atau SIPP disetujui, Kepala Dinas Kesehatan


Kabupaten/ Kota harus menerbitkan SIKatau SIPP.

(3)

Apabila permohonan SIK atau SIPP ditolak, Kepala Dinas Kesehatan


Kabupaten/ Kota harus memberi alasan penolakan tersebut.

(4)

Bentuk dan isi SIK atau SIPP yang disetujui sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) tercantum dalam formulir VI dan VII terlampir.

(5)

Bentuk surat penolakan SIK atau SIPP sebagaimana di maksud pada ayat (3)
tercantum dalam formulir VIII dan IX terlampir.
Pasal 26
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyampaikan laporan secara berkala
kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat tentang pelaksanaan
pemberian atau penolakan SIK atau SIPP diwilayahnya dengan tembusan kepada
organisasi Profesi setempat.
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 27

(1)

Perawat wajib mengumpulkan sejumlah angka kredit yang besarnya ditetapkan


oleh organisasi profesi.

(2)

Angka kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikumpulkan dari kegiatan
pendidikan dan kegiatan ilmiah lain.

(3)

Jenis dan besarnya angka kredit dari masing-masing unsur sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh organisasi profesi.

(4)

Organisasi profesi mempunyai kewajiban membimbing dan mendorong para


anggotanya untuk dapat mencapai angka kredit yang ditentukan.

Pasal 28
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan wajib melaporkan perawat yang melakukan
praktik dan yang berhenti

melakukan praktik pada sarana

pelayanan

kesehatannya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan


kepada organisasi profesi.
Pasal 29
(1)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau organisasi yang terkait


melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perawat yang menjalankan
praktik keperawatan di wilayahnya.

(2)

Kegiatan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dapat dilakukan melalui pemantauan yang hasilnya dibahas dalam pertemuan
periodik sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 1(satu) tahun.
Pasal 30
Perawat selama menjalankan praktik perawat wajib mentaati semua peraturan
perundang-undangan.
Pasal 31

(1)

Perawat yang telah mendapatkan SIK atau SIPP dilarang :

a.

menjalankan praktik selain ketentuan yang tercantum dalam izin tersebut;

b.

melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi;

(2)

Bagi perawat yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat atau


menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada tenaga kesehatan lain,
dikecualikan dari larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir a.

Pasal 32
(1)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau organisasi profesi dapat


memberi peringatan lisan atau tertulis kepada perawat yang melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan keputusan ini.

(2)

Peringatan lisan atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
paling banyak 3 (tiga) kali dan apabila peringatan tersebut tidak diindahkan,
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut SIK atau SIPP tersebut.
Pasal 33
Sebelum Keputusan pencabutan SIK atau SIPP ditetapkan, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota terlebih dahulu mendengar pertimbangan dari Majelis
Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) atau Majelis Pembinaan dan Pengawasan
Etika Pelayanan Medis (MP2EPM ) sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pasal 34

(1)

Keputusan pencabutan SIK atau SIPP disampaikan kepada Perawat yang


bersangkutan dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung
sejak keputusan ditetapkan.

(2)

Dalam Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disebutkan lama


pencabutan SIK atau SIPP.

(3)

Terhadap keputusan pencabutan SIK atau SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat diajukan keberatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dalam
waktu 14 (empat belas) hari setelah keputusan diterima, apabila dalam waktu 14
(empat belas) hari tidak diajukan keberatan, maka keputusan pencabutan SIK atu
SIPP tersebut dinyatakan mempunyai kekuatan hukum tetap.

(4)

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi memutuskan di tingkat pertama dan terakhir


semua keberatan mengenai pencabutan SIK atau SIPP.

(5)

Sebelum prosedur keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditempuh


Pengadilan Tata Usaha Negara tidak berwenang smengadili sengketa tersebut
sesuai dengan maksud Pasal 48 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Pengadilan Tata Usaha Negara.

Pasal 35
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan setiap pencabutan SIK atau
SIPP kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dengan tembusan kepada
organisasi profesi setempat.
Pasal 36
(1)

Dalam keadaan luar biasa untuk kepentingan Nasional Menteri Kesehatan


dan/atau atas rekomendasi organisasi profesi dapat mencabut untuk sementara
SIK atau SIPP perawat yang melanggar ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

(2)

Pencabutan izin sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selanjutnya


diproses sesuai dengan ketentuan keputusan ini.
BAB VII
SANKSI
Pasal 37

(1)

Perawat yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15


dan/atau Pasal 31 ayat (1)dikenakan sanksi administratif sebagai berikut :

a.

untuk pelanggaran ringan, pencabutan izin selama-lamanya 3 (tiga) bulan.

b.

untuk pelanggaran sedang, pencabutan izin selama-lamanya 6 (enam) bulan.

c.

untuk pelanggaran berat, pencabutan izin selama-lamanya 1 (satu) tahun.

(3)

Penetapan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas


motif pelanggaran serta situasi setempat.
Pasal 38
Terhadap perawat yang sengaja :

a.

melakukan

praktik

keperawatan

tanpa

mendapat

pengakuan/adaptasi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6; dan/atau


b.

melakukan praktik keperawatan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal


8;

c.

melakukan praktik keperawatan yang tidak sesuai dengan ketentuan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16; dan/atau

d.

tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. dipidana


sesuai ketentuan Pasal 35 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan.
Pasal 39
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan yang tidak melaporkan perawat yang
berpraktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan/atau mempekerjakan
perawat tanpa izin dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 40
(1)

Perawat yang telah memiliki SIP, SIK dan SIPP berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 647/Menkes/SK/IV/2000 tentang Registrasi dan
Praktik Perawat, dianggap telah memiliki SIP, SIK dan SIPP berdasarkan
ketentuan ini.

(2)

SIP, SIK dan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku 5 (lima) tahun
sejak ditetapkan Keputusan ini.
Pasal 41

(1)

Perawat yang saat ini telah melakukan praktik perawat pada sarana pelayanan
kesehatan yang belum memiliki SIP, SIK dan SIPP berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 647/Menkes/SK/IV/2000, wajib memiliki SIP , SIK
dan SIPP.

(2)

SIP dapat diperoleh secara kolektif dengan mengajukan permohonan kepada


Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat.

(3)

SIK dapat diperoleh secara kolektif dengan mengajukan permohonan kepada


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

(4)

Permohonan mendapatkan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperoleh


dengan melampirkan :

a.

foto kopi ijazah pendidikan keperawatan;

b.

surat keterangan sehat dari dokter;

c.

pas foto 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar.

(5)

Permohonan mendapatkan SIK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilengkapi


dengan :

a.

foto kopi ijazah pendidikan keperawatan;

b.

foto kopi SIP;

c.

surat keterangan sehat dari dokter;

d. surat keterangan dari pimpinan sarana kesehatan yang menyatakan masih bekerja
sebagai perawat pada institusi bersangkutan;
e.
(6)

pas foto 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar.


Perawat yang saat ini tidak berpraktik dapat memperoleh SIP dengan
mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dengan
melampirkan :

a.

foto kopi ijazah keperawatan;

b.

surat keterangan sehat dari dokter;

c.

pas foto 4 x 6 cm sebanyak 2(dua) lembar.


BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 42
Dengan berlakunya keputusan ini, maka keputusan Menteri Kesehatan
No.647/Menkes/SK/IV/2000 tentang Registrasi dan Praktik Perawat dinyatakan
tidak berlaku lagi.

D.

Syarat Keprofesionalis Keperawatan

Menjadi seorang professional bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk


mencapainya, diperlukan usaha yang keras, karena ukuran profesionalitas
seseorang akan dilihat dua sisi. Yakni teknis keterampilan atau keahlian yang
dimilikinya, serta hal-hal yang berhub...ungan dengan sifat, watak, dan
kepribadiannya. Paling tidak, ada delapan syarat yang harus dimiliki oleh
seseorang jika ingin jadi seorang professional, yaitu:
1. Menguasai pekerjaan
Seseorang layak disebut professional apabila ia tahu betul apa yang harus
ia kerjakan. Pengetahuan terhadap pekerjaannya ini harus dapat dibuktikan
dengan hasil yang dicapai. Dengan kata lain, seorang professional tidak
hanya pandai memainkan kata-kata secara teoritis, tapi juga harus mampu
mempraktekkannya dalam kehidupan nyata.
2. Mempunyai loyalitas.
Loyalitas bagi seorang profesional memberikan petunjuk bahwa dalam
melakukan pekerjaannya, ia bersikap total. Loyalitas bagi seorang
profesional akan memberikan daya dan kekuatan untuk berkembang dan
selalu mencari hal-hal yang terbaik bagi pekerjaannya. Bagi seorang
profesional, loyalitas ini akan menggerakkan dirinya untuk dapat
melakukan apa saja tanpa menunggu perintah. Dengan adanya loyalitas
seorang professional akan selalu berpikir proaktif, yaitu selalu melakukan
usaha-usaha antisipasi agar hal-hal yang fatal tidak terjadi.
3. Mempunyai integritas
Nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan harus benar-benar jadi
prinsip dasar bagi seorang profesional. Karena dengan integritas yang
tingi, seorang profesional akan mampu membentuk kehidupan moral yang
baik. Maka, tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa seorang
professional tak cukup hanya cerdas dan pintar, tapi juga sisi mental. Segi
mental seorang professional ini juga akan sekaligus menentukan kualitas
hidupnya. Integritas yang dipunyai oleh seorang professional akan
membawa kepada penyadaran diri bahwa dalam melakukan suatu
pekerjaan, hati nurani harus tetap menjadi dasar dan arah untuk
mewujudkan tujuannya. Karena tanpa mempunyai integritas yang tinggi,
maka seorang professional hanya akan terombang-ambingkan oleh
perubahan situasi dan kondisi yang setiap saat bisa terjadi. Di sinilah

intregitas seorang professional diuji, yaitu sejauh mana ia tetap


mempunyai prinsip untuk dapat bertahan dalam situasi yang tidak
menentu.
4. Mampu bekerja keras
Seorang profesional tetaplah manusia biasa yang mempunyai keterbatasan
dan kelemahan. Maka, dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang ingin
dicapai, seorang professional tidak dapat begitu saja mengandalkan
kekuatannya sendiri. Seorang professional harus mampu menjalin kerja
sama dengan berbagai pihak. Dalam hal ini, tak benar bila jalinan kerja
sama hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu. Seorang profesional
tidak akan pernah memilih-milih dengan siapa ia akan bekerja sama.
Seorang profesional akan membuka dirinya lebar-lebar untuk mau
menerima siapa saja yang ingin bekerja sama. Maka tak mengherankan
bila disebut bahwa seorang profesional siap memberikan dirinya bagi
siapa pun tanpa pandang bulu. Untuk dapat mewujudkan hal ini, maka
dalam diri seorang profesional harus ada kemauan menganggap sama
setiap orang yang ditemuinya, baik di lingkungan pekerjaan, sosial,
maupun lingkungan yang lebih luas. Seorang profesional tidak akan
merasa canggung atau turun harga diri bila ia harus bekerja sama dengan
orang-orang yang mungkin secara status lebih rendah darinya.
5. Mempunyai Visi
Seorang profesional harus mempunyai visi atau pandangan yang jelas akan
masa depan. Karena dengan adanya visi tersebut, maka ia akan memiliki
dasar dan landasan yang kuat untuk mengarahkan pikiran, sikap, dan
perilakunya. Dengan mempunyai visi yang jelas, maka seorang profesional
akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar, karena apa yang
dilakukannya

sudah dipikirkan masak-masak, sehingga ia sudah

mempertimbangkan resiko apa yang akan diterimanya. Tanpa adanya visi


yang jelas, seorang profesional bagaikan macan ompong, dimana secara
fisik ia kelihatan tegar, tapi sebenarnya ia tidak mempunyai kekuatan apaapa untuk melakukan sesuatu, karena tidak mempunyai arah dan tujuan
yang jelas. Dengan adanya visi yang jelas, seorang profesional akan
dengan mudah memfokuskan terhadap apa yang ia pikirkan, lakukan, dan
ia kerjakan. Visi yang jelas juga memacunya menghasilkan prestasi yang

maksimal, sekaligus ukuran yang jelas mengenai keberhasilan dan


kegagalan yang ia capai.
6. Mempunyai kebanggaan
Seorang profesional harus mempunyai kebanggaan terhadap profesinya.
Apapun profesi atau jabatannya, seorang profesional harus mempunyai
penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap profesi tersebut. Karena
dengan rasa bangga tersebut, ia akan mempunyai rasa cinta terhadap
profesinya. Dengan rasa cintanya, ia akan mempunyai komitmen yang
tinggi terhadap apa yang dilakukannya. Komitmen yang didasari oleh
munculnya

rasa

bangga

terhadap

profesi

dan

jabatannya

akan

menggerakkan seorang profesional untuk mencari dan hal-hal yang lebih


baik, dan senantiasa memberikan kontribusi yang besar terhadap apa yang
ia lakukan.
7. Mempunyai komitmen
Seorang profesional harus memiliki komitmen tinggi untuk tetap menjaga
profesionalismenya. Artinya, seorang profesional tidak akan begitu mudah
tergoda oleh bujuk rayu yang akan menghancurkan nilai-nilai profesi.
Dengan komitmen yang dimilikinya, seorang akan tetap memegang teguh
nilai-nilai profesionalisme yang ia yakini kebenarannya.
8. Mempunyai Motivasi.
Dapat dikatakan bahwa seorang professional harus mampu menjadi
motivator bagi dirinya sendiri. Dengan menjadi motivator bagi dirinya
sendiri, seorang professional dapat membangkitkan kelesuan-kelesuan
yang disebabkan oleh situasi dan kondisi yang ia hadapi. Ia mengerti,
kapan dan di saat-saat seperti apa ia harus memberikan motivasi untuk
dirinya sendiri. Dengan memiliki motivasi tersebut, seorang professional
akan tangguh dan mantap dalam menghadapi segala kesulitan yang
dihadapinya. Ia tidak mudah menyerah kalah dan selalu akan menghadapi
setiap persoalan dengan optimis. Motivasi membantu seorang professional
mempunyai harapan terhadap setiap waktu yang ia lalui, sehingga dalam
dirinya tidak ada ketakutan dan keraguan untuk melangkahkan kakinya.
E. Area Praktik Mandiri Keperawatan
Praktik keperawatan meliputi empat area yang terkait dengan kesehatan
(kozier & Erb, 1999), yaitu :
1. Peningkatan kesehatan (Health Promotion)

Kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kesehatan memerlukan :


Pendidikan untuk publik atau masyarakat dan individu
Perundang-undangan atau kebijakan yang mendukung
Hubungan interpersonal dengan klien secara langsung
Area keperawatan yang melibatkan perawat meliputi :
Mendorong dan mengadakan suatu latihan fisik secara periodik dan
pemantauan terhadap proses penyakit (mis.hipertensi, diabetes militus

dan kanker).
Memimpin pelaksanaan pendidikan kesehatan masyarakat melalui

pameran kesehatan dan program kesehatan mental.


Mendukung undang-undang yang ditujukan untuk

pemeliharaan

kesehatan dan program perlindungan anak dan.


Peningkatan kondisi kesehatan dan keselamatan kerja, dll.
2. Pencegahan penyakit
Aktivitas pencegahan penyakit secara objektif untuk mengurangi risiko
penyakit, untuk meningkatkan kebiasaan kesehatan yang baik dan untuk
mempertahankan fungsi individu secara optimal.
Aktivitas atau kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain sebagai berikut :
1. Melakukan program pendidikan di rumah sakit, misalnya perawat
ibu hamil, program melarang atau menghindari rokok, seminar
mengurangi atau mencegah stres dll.
2. Program umum dan dasar yang dapat meningkatkan gaya hidup
sehat, misalnya melakukan senam aerobik, berenang atau program
kebugaran.
3. Memberikan informasi tentang kesehatan, makanan yang sehat,
olah raga dan lingkungan yang sehat melalui liflet, media massa
atau media elektronik.
4. Menyediakan pelayanan keperawatan yang dapat menjamin
kesehatan ibu hamil dan kelahiran bayinya dengan sehat.
5. Memantau tumbuh kembang bayi dan balita.
6. Memberikan imunisasi.
7. Melakukan pemeriksaan untuk medeteksi tekanan darah tinggi,
kadar kolesterol, dan kanker.
8. Melakukan konseling mengenai pencegahan akibat kekurangan
nutrisi dan penghentian rokok.
Peran perawat dalam upaya peningkatan kesehatan meliputi hal-hal berikut :
1. Bertindak sebagai model peran dalam berperilaku serta bergaya
hidup sehat.

2. Mengajarkan klien tentang strategi keperawatan dan usaha


meningkatkan kesehatan, misalnya dengan cara perbaikann gizi,
pengendalian stres, usaha untuk membina hubungan yang baik
dengan sesama.
3. Memengaruhi klien untuk meningkatkan derajat kesehatannya.
4. Menunjukkan klien cara pemecahan masalah yang tepat dan
mengambil keputusan yang efektif.
5. Menguatkan perilaku peningkatan kesehatan pribadi dan keluarga.
3.

Pemeliharaan Kesehatan (Health maintenance)

Kegiatan keperawatan dalam pemeliharaan kesehatan adalah kegiatan yang


membantu klien memelihara status kesehatan mereka. Perawat melakukan
aktivitas

untuk

membantu

masyarakat

mempertahankan

status

kesehatannya.
Tiga perkembangan pemeliharaan kesehatan :
1. Mencoba mengidentifikasi gejala penyakit kronis sebelum penderita
mengidapnya, misalnya melakukan pemeriksaan fisik secara teratur,
untuk usia di atas 35 tahun.
2. Meningkatkan ketertarikan terhadap masalah kesehatan sehubungan
dengan perubahan struktur sosial masyarakat.
3. Ketertarikan pada faktor lingkungan sehubungan dengan penyebab
penyakit karena stres.
4.

Pemulihan kesehatan (Health Restoration)

Pemulihan kesehatan berarti perawat membantu pasien meningkatkan


kesehatan setelah pasien memiliki masalah kesehatan atau penyakit.
Kegiatan yang dilakukan dalam perbaikan kesehatan meliputi hal-hal
berikut :
1. Memberikan perawatan secara langsung pada individu yang sedang
sakit, misalnya dengan memberikan perawatan fisik.
2. Memberikan perawatan pada pasien yang mengalami gangguan
kesehatan mental.
3. Melakukan diagnostik dan pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit.

4. Merencanakan pengajaran dan rehabilitasi pada pasien-pasien tertentu,


misalnya pda pasien stroke, serangan jantung, artritis.
F. Alur Pendelegasian Perawat
Delegasi keperawatan yaitu memungkinkan perawat pada pemberian obat
untuk menerima kewenangan khusus untuk mengelola beberapa obat atau
melakukan beberapa prosedur yang mungkin memerlukan seorang anggota
keluarga atau profesional medis lainnya untuk hadir delegasi hanya di berikan
pada perawat yang berlisensi, tidak boleh di berikan pada perawat biasa kecuali
pemberian obat bebas dan bebas terbatas, yang tidak di perbolehkan yaitu hanya
obat keras perawat boleh menerima obat keras atau meresepkan obat keras jika
mendapat delegasi langsung oleh doKter atau dalam keadaan darurat jika pasien
dalam keaaan sekarat itu hanya bisa diberikan 1 kali oleh perawat. Delegasi
Perawat memerlukan klien dan pelatihan pengasuh khusus pada tugas-tugas yang
biasanya hanya dilakukan oleh perawat berlisensi. Ini telah dipraktekkan selama
bertahun-tahun di rumah-rumah Washington keluarga, tetapi hanya berwenang
untuk lembaga Home Care pada akhir 2003. Pengasuh profesional secara rutin
membantu dengan obat-obatan untuk klien mereka, namun Delegasi Perawat
mungkin diperlukan jika orang yang menerima perawatan tidak dapat minum obat
mereka dengan bantuan dan kebutuhan administrasi pengobatan sebagai
gantinya. Delegasi Perawat menawarkan alternatif yang lebih murah untuk
perawatan Keperawatan berlisensi ketika administrasi pengobatan yang
diperlukan dan anggota keluarga tidak tersedia atau mereka tidak ingin
mengambil tanggung jawab ini.
Perawat membantu dengan Obat tanpa Delegasi Perawat sebagai berikut:

Mengkomunikasikan informasi yang tepat kepada klien dengan membaca


label obat

Penyerahan wadah obat untuk klien;

Menggunakan enabler atau menempatkan obat di tangan individu;

Membuka kontainer obat;

Mengubah atau mempersiapkan obat-obatan untuk diri-administrasi


(menghancurkan atau memotong tablet, membuka kapsul, pencampuran

tablet, kapsul atau obat bubuk dengan makanan atau cairan) dengan
dokumentasi dari konsultasi mengenai kesesuaian perubahan dan
persiapan.

Menuangkan obat cair ke dalam wadah lulus atau jarum suntik, seperti
secangkir obat atau sendok pengukur.

Mengidentifikasi bagian mediset harus dibuka dan diserahkan kepada


klien oleh waktu dan hari mediset, kemudian menyerahkan ke klien atau
membantu mereka untuk menggunakan enabler.

Membantu klien untuk makan meds hancur dalam saus apel untuk diri
mereka sendiri.

G. Alur Peresepan Obat Keras


Resep datang
Skining resep :
- Skining administrasi
- Skining farmasetik
- Skining klinis
Pemberian harga
Penyiapan atau peracikan obat
Pemberian informasi, edukasi, dan konseling
Minitoring pemberian obat
Tata cara penulisan resep :
- Nama
- Alamat dan No. Ijin praktek
- Tanggal penulisan resep
- Nama obat
- Tanda R (disamping buku resep)
- Tanda tangan/paraf dokter penulis resep

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dari hasil kegiatan BBM pada kasus Jual Obat Keras Perawat Ditangkap
Polisi dapat disimpulkan bahwa kasus tersebut melanggar peraturan dan hukum
mengenai praktik keperawatan. Seharusnya perawat mengambil tindakan
berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, dan setiap perawat yang akan
melakukan praktik keperawatan harus memiliki SIP, SIPP dan SIK. Dan
melanggar ketentuan yaitu memberikan obat keras kepada klien-kliennya. Seperti
yang kita ketahui bahwa seorang perawat hanya boleh memberikan obat bebes dan
obat

bebas

terbatas

sesuai

dengan

Permenkes

RI.

No.

HK.

02.

02/MENKES/148/1/2010.

B. Saran
Dalam melaksanakan praktik keperawatan, seorang perawat harus
memenuhi syarat-syaratnya, seperti melengkapi beberapa surat izin yaitu SIP,
SIPP, SIK serta harus mematuhi segala peraturan-peraturan hukum yang berlaku.
Sehingga kita sebagai seorang perawat tidak melakukan tindakan yang melanggar
hukum.