Anda di halaman 1dari 37

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama

: Tn. A

Umur

: 24 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Status perkawinan

: Belum menikah

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Cibubur II RT02 RW03 Cibubur Cikeas. Jakarta Timur

Suku bangsa

: Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: STM

Tanggal masuk RS

: 21 Juni 2015

Jam masuk RS

: 23.12

1.2 ANAMNESIS
Diambil secara autoanamnesis pada hari Minggu, 21 Juni 2015 pukul 23.15

Keluhan Utama
Terjatuh dari motor
1

Keluhan Tambahan
Nyeri pada kaki sebelah kanan dan pergelangan tangan kanan

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RS Islam Jakarta Pondok Kopi karena terjatuh dari motor 30
menit SMRS. Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas saat melintasi tikungan, dengan kecepatan
motor yang dibawa oleh pasien 100km/jam. Saat terjatuh, kaki kanan pasien menabrak trotoar.
Pasien merasakan nyeri pada kaki kanannya, dan tidak dapat digerakkan. Menurut pasien,
terlihat luka terbuka pada lutut kanan, dan tampak tulang patah keluar dari luka tersebut. Darah
terus mengalir, dan nyeri dirasakan semakin hebat. Pasien juga mengeluh nyeri pada pergelangan
tangan kanan nya jika digerakkan.
Saat mengendarai motor, pasien menggunakan helm, dan setelah terjadi kecelakaan
pasien tidak pingsan ataupun muntah. Kemudian pasien ditolong oleh warga sekitar, dan dibawa
ke IGD RS Islam Pondok Kopi dengan menggunakan taxi.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes melitus, asma, sakit jantung, sakit paru, alergi
obat serta makanan, riwayat operasi, dan riwayat dirawat di rumah sakit sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien menyangkal adanya riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes melitus, asma, sakit
jantung, sakit paru, alergi obat serta makanan baik pada kedua orangtua maupun pada saudara
sekandung

Riwayat Kebiasaan
2

Pasien mempunyai kebiasaan merokok. Pasien tidak minum alkohol. Pasien mengaku
jarang berolahraga, jarang mengonsumsi sayur, buah-buahan, dan air putih.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis

Keadaan umum
o Kesadaran
o GCS

: Compos Mentis
: E4V5M6

Tanda vital
o Tekanan darah
o Nadi
o Suhu
o Pernapasan

: 110/70mmHg
: 80x/menit
: 36,5oC
: 20x/mnt

Kepala

merata, tidak mudah dicabut


Mata : CA -/-, SI -/-, oedem palpebra -/-, refleks cahaya langsung +/+,

refleks cahaya tidak langsung +/+


Telinga : nyeri tekan tragus (-), liang telinga lapang +/+, refleks cahaya +/+
Hidung
: deformitas (-), deviasi septum (-), secret (-), darah (-),

konka hiperemis dan hipertrofi -/Mulut


: bibir normal, tidak terdapat kelainan, tidak terdapat karies,

: normocephali, deformitas (-), rambut hitam tersebar

trismus (-), lidah kotor (-), sariawan (-), faring hiperemis (-), tonsil T1-T1

tenang.
Leher
: KGB dan tiroid tidak teraba membesar
Thoraks
:
Bentuk simetris kanan kiri, tidak ada rongga thoraks yang tertinggal gerak napasnya,
fokal fremitus +/+ sama kuat kanan dan kiri
o Jantung
: S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
o Paru
: suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/Abdomen
: supel, datar, timpani, bising usus (+), nyeri tekan (-), nyeri
Extremitas

lepas (-), hepar lien tidak teraba membesar


: hangat + +
oedem - + +
- 3

Status Lokalis

Regio antebrahii dextra


o Look
: tampak luka lecet dengan ukuran 1x1 cm dengan dasar kulit, tepi
luka tampak kotor, darah (+), oedem (-), deformitas (-)
o Feel
: nyeri tekan (+), akral hangat (+), CRT < 2, krepitasi (-)
o Move
: tidak terdapat keterbatasan gerak aktif
Regio wrist joint dextra
o Look
: tidak tampak luka terbuka, oedem(-), deformitas (-)
o Feel
: nyeri tekan (+), akral hangat (+), CRT < 2, krepitasi (-)
o Move
: tidak terdapat keterbatasan gerak aktif
Regio femur dextra
o Look
: tampak luka terbuka dengan ukuran 5x3x2cm dengan dasar
tulang, tepi luka tampak kotor, oedem(+), darah (+), deformitas (+)
o Feel
: teraba hangat (+), nyeri tekan (+), pulsasi a. Dorsalis pedis (+),
CRT<2, akral hangat (+), krepitasi (+)
o Move
: terdapat keterbatasan gerak aktif

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium Tanggal 21 Juni 2015

Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Hemoglobin

14,3 mg/dl

13,5 17,5 mg/dl

Hematokrit

42%

40 - 50%

Leukosit

12500 /L

5000 10000 /L

Trombosit

368000 /L

150000 400000 /L

SGOT

12,2 U/L

10,00 35,00 U/L

SGPT

9,8 U/L

10,00 45,00 U/L

Glucose Random

95 mg/dl

70 200 mg/dl
4

HBSAg Titer

0,459

<1,000

Non Reactive

Laboratorium Tanggal 22 Juni 2015

Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Hemoglobin (jam 00.11)

14,5 mg/dl

13,5 17,5 mg/dl

Hemoglobin (jam 04.12)

11,2 mg/dl

13,5 17,5 mg/dl

Hemoglobin (jam 06.25)

11,1 mg/dl

13,5 17,5 mg/dl

Bleeding Time

2,30 menit

1,00 3,00 menit

Cloatting Time

4,30 menit

3,00 6,00 menit

Radiologi tanggal 21 Juni 2015

Rontgen Femur Dextra

Kesan : Fraktur 1/3 distal femur dextra dengan over riding dislokasi fragmen fraktur proximal ke
arah dorsal

Rontgen Wrist Joint Dextra

Kesan: Masih dalam batas normal

Rontgen Thorax

Kesan: Masih dalam batas normal

I.5 RESUME
Pasien datang ke IGD RSIJPK pada tanggal 21 Juni 2015, pukul 23.12 karena terjatuh
dari motor 30 menit SMRS. Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas saat melintasi tikungan,
dengan kecepatan motor yang dibawa oleh pasien 100km/jam. Saat terjatuh, kaki kanan pasien
menabrak trotoar. Pasien merasakan nyeri pada kaki kanannya, dan tidak dapat digerakkan.
Terlihat luka terbuka pada lutut kanan, dan tampak tulang patah keluar dari luka tersebut. Darah
terus mengalir, dan nyeri dirasakan semakin hebat. Pasien juga mengeluh nyeri tangan kanan nya
jika digerakkan. Saat mengendarai motor, pasien menggunakan helm. Pasien ditolong oleh warga
sekitar, dan dibawa ke IGD RS Islam Pondok Kopi dengan menggunakan taxi. Pasien tidak
mempunyai riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes melitus, asma, sakit jantung, sakit paru,
alergi obat serta makanan, riwayat operasi, dan riwayat dirawat di rumah sakit sebelumnya. Pada
keluarga juga tidak mempunyai riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes melitus, asma, sakit
jantung, sakit paru, alergi obat serta makanan. Pasien mempunyai kebiasaan merokok. Pasien
mengaku jarang berolahraga, jarang mengkonsumsi sayur, buah-buahan, dan air putih.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis didapatkan masih dalam batas normal. Pada status
lokalis, regio antebrahii dextra, look : tampak luka lecet dengan ukuran 1x1 cm dengan dasar
kulit, tepi luka tampak kotor, darah (+), oedem (-), deformitas (-), Feel : nyeri tekan (+), akral
hangat (+), CRT < 2, krepitasi (-), move : tidak terdapat keterbatasan gerak aktif. Regio femur
dextra, look : tampak luka terbuka dengan ukuran 5x3x2cm dengan dasar tulang, oedem(+),
darah (+), deformitas (+), tepi luka tampak kotor terkena aspal, feel: teraba hangat (+), nyeri
tekan (+), pulsasi a. Dorsalis pedis (+), CRT<2 akral hangat (+), krepitasi (+), move: terdapat
keterbatasan gerak aktif.
Dari hasil pemeriksaan foto rontgen femur dextra didapatkan kesan Fraktur 1/3 distal femur
dextra dengan over riding dislokasi fragmen fraktur proximal ke arah dorsal. Pada pemeriksaan
laboratorium tanggal 21 Juni 2015, didapatkan Hb, Ht, Trombosit, SGOT, SGPT, GDS, HBSAg
masih dalam batas normal, hanya terdapat peningkatan leukosit yaitu 12500//L. Pada
pemeriksaan laboratorium tanggal 22 Juni 2015 didapatkan bleeding time dan cloatting time
7

masih dalam batas normal, namun Hb pasien mengalami penurunan, dimana sebelumnya Hb
pada pukul 00.11 adalah 14,5mg/dl, turun menjadi 11,2 mg/dl (pukul 04.12), dan 11,1 mg/dl
(pukul 06.25).

I.6DIAGNOSISKERJA

Frakturterbuka1/3distalfemurdextra
Vulnusekskoriasiregioantebrachiidextra

I.7PENATALAKSANAAN
Medikamentosa

Oksigenasi
IVFD RL loading 2000cc
Pasang DC
Inj. Ketorolac 1 ampul
Inj. Tetagam 250 iu
Inj. Ceftriaxone 2gr
operasi cito ORIF (pada tanggal 22 Juni 2015 jam 15.00), persiapan PRC 500cc

Non Medikamentosa

dilakukan pembersihan pada area luka, luka dibalut


dilakukan pemasangan spalk
pasien di rawat inap
puasa sebelum operasi

I.8PROGNOSIS
AdVitam
AdSanationam
AdFungtionam

:DubiaadBonam
:DubiaadBonam
:DubiaadBonam

I.9 FOLLOW UP
Tanggal/
Hari
Perawatan
Senin, 22
Juni 2015/
Hari ke-1

Lemas,
nyeri pada
daerah
bekas
operasi

TSS/CM
TTV:
TD:100/80mmHg
Nadi : 88x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn

Post ORIF atas Medikamentosa (Konsul


indikasi fraktur dr. Sumono Handoyo,
terbuka 1/3
SpBO)
distal femur
- IVFDAsering
dextra
- Petidin 50mg
(bilakesakitan)
- Elpicef2x1gr
- Fendex3x500mg
- Transamin 3x1
ampul
NonMedikamentosa
- Pasangdrain
- Bedrest12jam
- Boleh makan
minum
- CekHbcito(bila
Hb<10

transfusi)

Status Lokalis:
Regio cruris dextra:
tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-)
Laboratorium
(22/06/15):

Selasa, 23
Juni 2015/
Hari ke-2

Lemas,
nyeri pada
daerah
bekas
operasi

Hb: 9,6 mg/dl

TSS/CM
TTV:
TD: 110/90 mmHg
Nadi: 80x/menit

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

Transfusi PRC
1000cc

Terapi lanjutkan

Besok rontgen
femur ulang

RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
9

Regio cruris dextra:


tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),
drain (+) 8cc
Rabu, 24
Juni 2015/
Hari ke-3

Nyeri pada
daerah
bekas
operasi

TSS/CM

Jika sudah masuk


PRC 1000cc
extra Ca
Gluconas 10%
1gr

Cek Hb ulang
post transfusi

S: 36C

Terapi lanjutkan

Status Generalis: dbn

Observasi
perdarahan

TTV:
TD: 110/80 mmHg
Nadi: 80x/menit

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

RR: 20x/menit

Status Lokalis:
Regio cruris dextra:
tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),
drain (+) 10cc
Rontgen femur dextra
(24 Juni 2015)

Kesan: Post ORIF os


femur distal dextra,
kedudukan antar
10

fragmen baik
Laboratorium
(24/06/15):
Hb: 9,6 mg/dl
Kamis, 25
Juni 2015/
Hari ke-4

Nyeri saat
digerakkan
pada
daerah
bekas
operasi

TSS/CM
TTV:
TD: 110/70 mmHg

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

GV

Mobilisasi
bertahap

Terapi lanjutkan

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

IVFD
Asering/8jam

Terapi lain
lanjutkan

Nadi: 82x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
Regio cruris dextra:
tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),
drain (+)
Laboratorium
(25/06/15):

Jumat, 26
Juni 2015/
Hari ke-5

Badan
terasa
pegal
pegal,
terasa gatal
pada
daerah
bekas
operasi

Hb: 10,4 mg/dl


TSS/CM
TTV:
TD: 110/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C

11

Status Generalis: dbn


Status Lokalis:

Sabtu, 27
Juni 2015/
Hari ke-6

Lemas,
Nyeri pada
daerah
bekas
operasi

Regio cruris dextra:


tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),
drain (+)
TSS/CM
TTV:
TD: 110/80 mmHg

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

Mobilisasi
bertahap

Terapi lanjutkan

PCT 3x500 (k/p)

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

Terapi lanjutkan

Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
Regio cruris dextra:
tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),
drain (+)
Minggu, 28
Juni 2015/
Hari ke-7

Nyeri pada
daerah
bekas
operasi
berkurang

TSS/CM
TTV:
TD: 110/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:

12

Regio cruris dextra:


tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),
drain (+) 35cc
Senin, 29
Juni 2015/
Hari ke-8

Nyeri pada
daerah
bekas
operasi

TSS/CM
TTV:
TD: 110/80 mmHg

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

GV

Aff Drain besok


bila drain <30cc

Terapi lain
lanjutkan

Post ORIF atas


indikasi fraktur
terbuka 1/3
distal femur
dextra

Aff Drain di OK

Anjuran
fisioterapi, lalu
boleh pulang
pasien menolak
fisioterapi
pasien pulang
(APS)

Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
Regio cruris dextra:
tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (+),
drain (+)
Selasa, 30
Juni 2015/
Hari ke-9

Lemas,
Nyeri pada
daerah
bekas
operasi

TSS/CM
TTV:
TD: 110/80 mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 20x/menit
S: 36C
Status Generalis: dbn
Status Lokalis:
Regio cruris dextra:
tampak luka bekas
operasi tertutup

13

verban, rembes (-),


Rabu, 1 Juli
2015/ Hari
ke-10

Nyeri pada
daerah
bekas
operasi

TSS/CM
TTV:
TD: 120/70 mmHg
Nadi: 78x/menit
RR: 20x/menit

Post ORIF atas Obat pulang:


indikasi fraktur
- Fixacef 2x200mg
terbuka 1/3
distal femur
- Nonflamin 2x1
dextra
- As. Mefenamat
2x500mg
-

S: 36C

PCT 3x500mg
(k/p)

Status Generalis: dbn


Status Lokalis:

Kontrol 1 minggu lagi

Regio cruris dextra:


tampak luka bekas
operasi tertutup
verban, rembes (-),

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

14

II.1. Definisi Fraktur


Fraktur atau sering disebut patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang penyebabnya dapat dikarenakan penyakit pengeroposan tulang diantaranya
penyakit yang sering disebut osteoporosis, biasanya dialami pada usia lanjut. Dan dapat juga
disebabkan karena kecelakaan yang tidak terduga (mansjoer, A, 2000).
Fraktur adalah suatu patahan kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak lebih
dari suatu retakan, suatu pengeroposan atau kerusakan korteks, biasanya patahan itu lengkap dan
fragmen tulang bergeser. Kalau kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup
atau sederhana) kalau kulit atau salah satu kulit tertembus keadaan ini disebut fraktur terbuka
atau compound) yang cendrung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi (A.Graham & Louis,
S, 2000).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan
dan sudut dari tenaga tersebut, kedaan tulang itu sendiri dan jaringan lunak disekitar tulang akan
menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price, A dan L.Wilson,
2003).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang
yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma / rudapaksa atau tenaga fisik yang ditentukan
jenis dan luasnya trauma (Smeltzer,dkk, 2002).
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Fraktur dapat
digolongkan sesuai jenis dan arah garis fraktur (Tambayong ,J, 2000).
Penderita fraktur dengan tingkat pendidikan rendah cendrung menunjukan adanya respon
cemas yang berlebihan mengingat keterbatasan mereka dalam memahami proses penyembuhan
dari kondisi fraktur yang dialaminya tetapi sebagian besar penelitian tidak menunjukan adanya
korelasi kuat antara tingkat pendidikan dengan kecemasan penderita fraktur. Respon cemas yang
terjadi pada penderita fraktur sangat berkaitan sekali dengan mekanisme koping yang
dimilikinya, mekanisme yang baik akan membentuk respon psikologis yang baik, respon
psikologis yang baik yang berperan dalam menunjang proses penyembuhan. (Depkes RI, 2008).
II.2. Etiologi
Penyebab fraktur diantaranya :
a.

Fraktur Fisiologis
15

Suatu kerusakan jaringan tulang yang diakibatkan dari kecelakaan, tenaga fisik, olahraga,
dan trauma dapat disebabkan oleh :

Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah

secara spontan.
Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan,misalnya jatuh dengan tangan terjulur menyebabkan fraktur klavikula,

b.

atau orang tua yang terjatuh mengenai bokong dan berakibat fraktur collum femur.
Fraktur Patologis
Dalam hal ini kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor
dapat mengakibatkan fraktur. Dapat terjadi pada berbagai keadaan berikut :

Tumor tulang
Terbagi menjadi Jinak dan ganas

Infeksi seperti Osteomielitis

Scurvy (penyakit gusi berdarah)

Osteomalasia

Rachitis

Osteoporosis ( Rasjad, C, 2007)


Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada

tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada umur dibawah 45
tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh
kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami
fraktur dari pada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang
terkait dengan perubahan hormone pada menopause.

II.3. Prevalensi
Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki dari pada perempuan dengan umur
dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan.
Sedangkan pada usia prevalensi cendrung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan
adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon (Susi, P, 2007).
II.4. Proses Terjadinya Fraktur
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang untuk menahan tekanan terutama tekanan
membengkok, memutar, dan tarikan.
16

Trauma bisa bersifat:

Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada
daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutid dan jaringan lunak ikut

mengalami kerusakan.
Trauma tidak langsung
Trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerang yang lebih jauh dari daerah
fraktur dan jaringan lunak biasanya tetap utuh.

Tekanan pada tulang dapat berupa:

Tekanan rotasi yang menyebabkan fraktur bersidat spiral atau oblik


Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau

fraktur dislokasi.
Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif
Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu akan menyebabkan

fraktur oblik atau fraktur Z


Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo yang menarik sebagian tulang

II.5. Klasifikasi Fraktur

Klasifikasi secara klinis:


1.
Fraktur tertutup (closed), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
2.

dunia luar.
Fraktur terbuka (open, compound), terjadi bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka dibagi
17

menjadi tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu:

Derajat I:
o
Luka < 1 cm
o Kerusakan jaringan lunak sedikit, fracture biasanya simple atau

comminutiv minimal
o
Kontaminasi minimal
Derajat II:
o
Laserasi > 1 cm
o
Kerusakan jaringan lunak, tidak luas
o
Fraktur kominutif sedang
o
Kontaminasi sedang
Derajat III:
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot,dan
neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Terbagi atas :
o
Derajat III A: Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat,
meskipun terdapat laserasi luas / flap / avulsi, atau fraktur segmental /
sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa

melihat besarnya ukuran luka.


Derajat III B: Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang

terpapar atau kontaminasi massif


Derajat III C: Luka pada pembuluh arteri / saraf perifer yang harus

diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. (Mansjoer, Arif, 2000)


3.
Fraktur komplikata (complicated fracture)
4.
Fraktur non komplikata (uncomplicated fracture)
5.
Fraktur parsial
Klasifikasi menurut penyebabnya:
1.
Fraktur traumatik (traumatic fracture)
Fraktur yang terjadi akibat trauma langsung maupun tidak langsung.
2.
Fraktur patologis (pathological fracture)
Fraktur yang diakibatkan trauma minimalis atau tanpa trauma akibat adanya penyakit
lokal pada tulang maupun penyakit umum.
Fraktur stres (stress fracture, fatigue fracture)
Terjadi karena adanya trauma terus menerus pada satu tempat
Klasifikasi radiologis
1.
Lokasi fraktur
a.
Fraktur shaft (fraktur diafisis)
b.
Fraktur metafisis
c.
Epiphysial plate fracture
d.
Fraktur intra-artikuler
e.
Fraktur ekstra-artikuler
f.
Fraktur dengan dislokasi
3.

18

2.

Tingkat / bentuk fraktur


a.
Fraktur kominutif (comminuted fracture, crush fracture)
b.
Fraktur segmental
c.
Fraktur depresi (depressed fracture, impression fracture)
d.
Fraktur kompresi (crush fracture)
e.
Fraktur multipel (multiple fracture)
f.
Fraktur transversal
g.
Fraktur oblik
h.
Fraktur spiral
i.
Fraktur kupu-kupu
j.
Fraktur baji
k.
Fraktur Z
l.
Fraktur stabil (stable fracture)
m. Fraktur tak stabil (unstable fracture)

3.

Menurut ekstensi
a.
Fraktur total
b.
Fraktur tidak total (crack fracture)
c.
Fraktur buckle atau torus
d.
Fraktur garis rambut
e.
Fraktur green stick
Menurut hubungan antar fragmen
a.
Fraktur tidak bergeser (undisplaced fracture)
b.
Fraktur bergeser (displaced fracture, fraktur separasi)
o
Dislocation ad latus (lateral / medial / anterior / posterior)
o
Dislocation ad axim (angulasi)

4.

19

o
o
o
o
o

Dislocation ad peripheriam (rotasi)


Dislocation ad longitudinale cum distractionem (distraksi)
Dislocation ad latus cum contractionem (over-riding)
Fraktur impaksi (impacted fracture)
Fraktur avulsi (avulsed fracture)

II.6. Jenis khusus fraktur:


a.

Fraktur komplet: patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami

b.
c.
d.

pergeseran.
Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan

e.
f.
g.
h.
i.
j.

tulang.
Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkak.
Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
Kominutif fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah

k.
l.

perlekatannnya.
Fraktur segmental: garis patah lebih dari 1 tetapi tidak saling berhubungan.
Fraktur spiral : fraktur yang arah garis patahannya berbentuk spiral yang di sebabkan

m.

trauma rotasi.
Fraktur oblique : fraktur yang arah garis patahannya membentuk sudut terhadap sumbu
tulang dan merupakan akibat trauma angulasi.

II.7. Deskripsi fraktur


I.

Komplit atau tidak komplit

Fraktur komplit: garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua

korteks tulang.
Fraktur tidak komplit: garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti:
o
Hairline fracture: patah retak rambut
o
Buckle fracture atau Torus fracture: terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya. Umumnya terjadi pada distal tulang
o

radius anak-anak.
Greenstick fracture: mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya
yang terjadi pada tulang panjang anak.
20

II.

III.

IV.

Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma

Garis patah melintang: trauma angulasi atau langsung

Garis patah oblique: trauma angulasi

Garis patah spiral: trauma rotasi

Fraktur kompresi: trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa

Fraktur avulsi: trauma tarikan atau traksi otot pada tulang, misalnya: fraktur patela.
Jumlah garis patah

Fraktur kominutif
Garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan

Fraktur segmental
Garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut
pula fraktur bifokal.

Fraktur multiple
Garis patah lebih dari satu, tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya.
Bergeser (displaced) atau tidak bergeser (undisplaced)

Fraktur undisplaced (tidak bergeser)


Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih

V.

utuh.
Fraktur displaced (bergeser)
Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen.
1) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan

overlapping)
2) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
3) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi)
Terbuka atau tertutup

Fraktur terbuka
Bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau
permukaan kulit.
Bila terdapat luka melalui kulit dan subkutis tetapi fasia masih utuh disebut fraktur
yang potensial terbuka.
Bilamana fraktur dan luka berada pada regio yang berlainan dan berjauhan tidak

disebut fraktur terbuka


Fraktur tertutup: bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan
udara luar atau permukaan kulit.

II.8. Diagnosis fraktur


Anamnesis
Biasanya pasien datang dengan suatu trauma baik hebat maupun ringan, diikuti dengan
ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis dilakukan dengan cermat,
21

karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah
lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalulintas, jatuh dari ketinggian, jatuh dari kamar
mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat, kecelakaan pada pekerja oleh karena
mesin atau karena trauma olahraga.
Beberapa gejala / keluhan yang membuat penderita datang untuk diperiksa adalah:
a.

b.

Trauma

Waktu terjadinya trauma

Cara terjadinya trauma

Lokalisasi trauma
Nyeri
Nyeri merupakan gejala yang tersering ditemukan dan perlu diketahui secara lengkap
tentang sifat-sifat nyeri. Rasa nyeri berbeda tiap individu karena ambang nyeri dan
toleransi terhadap nyeri dari masing-masing individu berbeda.
Sifat-sifat nyeri yang perlu diketahui:

Lokasi nyeri: hams ditunjuk tepat oleh penderita

Karakter nyeri: apakah sifatnya tumpul atau taj am

Gradasi nyeri

Intensitas nyeri: apakah nyeri berkurang apabila beristirahat


Agravation: apakah nyeri bertambah berat bila beraktivitas, pada aktivitas mana nyeri
bertambah apakah pada saat batuk, bersin, berdiri, dan berjalan
Pada umumnya, nyeri akan bertambah berat apabila ada gerakan setempat dan berkurang
apabila istirahat

Variasi sehari-hari: apakah pada waktu pagi atau malam lebih nyeri atau membaik

Tekanan pada saraf akan memberikan gejala nyeri yang disebut radiating pain
Referred pain adalah nyeri pada suatu tempat yang sebenarnya akibat kelainan dari
tempat lain
Kelainan pada saraf akan memberikan gangguan sensibilitas berupa hipestesia,

c.

anesthesia, parestesia, hiperestesia.


Kekakuan pada sendi
Bisa bersifat umum seperti pada rematoid artritis, ankilosing spondilitis, atau bersifat lokal
pada sendi-sendi tertentu. Locking merupakan suatu kekakuan sendi yang terjadi secara

d.

tibatiba akibat blok secara mekanis pada sendi oleh tulang rawan atau meniskus.
Pembengkakan
Pembengkakan dapat terjadi pada jaringan lunak, sendi, atau tulang. Riwayat
pembengkakan perlu diketahui apakah terjadi sebelum atau sesudah trauma, terjadi
perlahan atau progresif. Pembengkakan dapat disebabkan oleh infeksi, tumor jinak, atau
ganas
22

e.

Deformitas
Deformitas dapat terjadi pada sendi, anggota gerak, atau tempat lain. Deformitas dapat
pada satu atau lebih dari satu sendi. Pada suatu trauma yang terjadi fraktur, tulang bergeser
dari tempatnya sehingga terjadi deformitas (kelainan bentuk)
Ada beberapa deformitas yang merupakan variasi dari suatu keadaan normal, misalnya
ukuran tubuh yang kecil atau panggul yang lebar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang deformitas adalah:

Waktu: sejak kapan deformitas terjadi

Perubahan: apakah deformitas bertambah setelah selang waktu tertentu


Karakter / sifat deformitas: apakah bertambah dengan adanya inflamasi dan kekakuan
sendi
Kecacatan: apakah deformitas menimbulkan kecacatan dan seberapa jauh keadaan ini
menimbulkan gangguan pada aktivitas sehari-hari
Herediter: apakah ada riwayat keluarga misalnya ditemukan kelainan yang sama pada

f.

g.

h.

anggota keluarga yang lain

Riwayat pengobatan: pakah deformitas terjadi setelah suatu pengobatan


Instabilitas sendi
Mengetahui penyebabnya, apakah karena kelemahan otot atau kelemahan / robekan pada
ligamen dan selaput sendi
Kelemahan otot
Kelemahan otot dapat bersifat umum atau bersifat lokal oleh karena gangguan neurologis
pada otot. Yang perlu diperhatikan:

Waktu dan sifatnya: apa terjadi bertahap atau tiba-tiba

Batas bagian tubuh yang mengalami kelemahan otot

Bersifat regresi atau spontan

Apakah disertai dengan kelainan sensoris

Apakah kontrol sfingter terganggu

Apakah menimbulkan kecacatan

Riwayat pengobatan sebelumnya


Gangguan sensibilitas
Terjadi bila kerusalan saraf pada UMN / LMN baik bersifat lokal maupun umum.
Gangguan sensibilitas dapat pula terjadi bila ada trauma atau penekanan pada saraf. Perlu

i.

diketahui apakah gangguan ini bertambah berat atau berulang


Gangguan atau hilangnya fungsi
Gangguan atau hilangnya fungsi baik sendi maupun anggota gerak dapat disebabkan oleh
berbagai sebab seperti nyeri setelah trauma, kekakuan sendi, atau kelemahan otot

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
23

1. Syok, anemia, atau perdarahan


2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang, atau organ-organ
dalam rongga thoraks, panggul, dan abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis
Status Lokalis
A.

B.

Inspeksi (Look)

Membandingkan dengan bagian yang sehat

Memperhatikan posisi anggota gerak

Melihat keadaan umum penderita secara keseluruhan

Melihat ekspresi wajah karena nyeri

Lidah kering atau basah

Melihat adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan


Melihat adanya luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup
atau terbuka

Melihat ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari

Memperhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, dan kependekan

Melakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ lain

Memperhatikan kondisi mental penderita

Melihat keadaan vaskularisasi


Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Temperatur setempat yang meningkat


Nyeri tekan: nyeri yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan
lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang

Krepitasi: dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri
dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena

Refilling arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur
kulit.
Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan

C.

panjang tungkai
Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi
proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan fraktur,
setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh
dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan
24

lunak seperti pembuluh darah dan saraf.


Pada pergerakan dapat diperoleh informasi mengenai:

Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif


o
Apakah gerakan menimbulkan rasa sakit
o
Apakah gerakan disertai krepitasi

Stabilitas sendi
Ditentukan oleh integritas kedua permukaan sendi dan keadaan ligamen yang
mempertahankan sendi. Pemeriksaan stabilitas sendi dapat dilakukan dengan

memberikan tekanan pada ligamen dan gerakan sendi diamati


Pemeriksaan ROM (Range Of Joint Movement)
Pemeriksaan batas gerakan sendi harus dicatat pada setiap pemeriksaan ortopedi
yang meliputi batas gerakan aktif dan batas gerakan pasif. Setiap sendi mempunyai
nilai batas gerakan normal yang merupakan patokan untuk gerakan abnormal dari
sendi. Gerakan sendi sebaiknya dibandingkan dengan mencatat gerakan sendi normal

D.

dan abnormal secara aktf dan pasif.


Pemeriksaan neurologis
Merupakan pemeriksaan secara sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis
yaitu neuropraksia, aksonotmesis, atau neurotmesis. Kelainan sarfa yang didapatkan
merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.

Fungsi motoris
Pemeriksaan tonus dan kekuatan otot dengan menggerakkan sendi-sendi. Didapatkan

adanya spastisitas atau kelemahan otot.


Fungsi sensoris
Pemeriksaan sensibilitas dilakukan dengan melihat apakah ada kelainan dalam
sensibilitas pada daerah tertentu misalnya hiperestesia, hipestesia, atau anestesia.
Pada pemeriksaan sensibilitas perlu dibuat gambar kelainan dan daerah yang

mengalami perubahan sensibilitas


Pemeriksaan refleks

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologis
Foto Polos
Dari pemeriksaan klinik sudah dapat dicurigai adanya fraktur, tetapi pemeriksaan
radiologis tetap diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi, serta ekstensi fraktur. Untuk
menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita
menggunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
25

pemeriksaan radiologis. Tujuan dari pemeriksaan radiologis adalah:

Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi


Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan prinsip dua:

Dua posisi proyeksi: dilakukan sekurang-kurangnya pada antero-posterior dan lateral


Dua sendi: diatas dan dibawah sendi yang mengalami fraktur
Dua anggota gerak: pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua anggota gerak

terutama pada fraktur epifisis


Dua trauma: pada trauma hebat sering menyebabkan fraktur pada dua daerah tulang
Dua kali dilakukan foto: pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang skafoid foto pertama
biasanya tidak jelas sehingga diperlukan foto berikutnya 10-14 hari kemudian

II.9. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan fraktur
a.

b.

Recognition: diagnosis dan penilaian fraktur


Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis,
pemeriksaan klinik, dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan:

Lokalisasi fraktur

Bentuk fraktur

Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan

Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan


Reduction: reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Pada
fraktur inter-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan
fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta perubahan
osteoartritis di kemudian hari. Posisi yang baik adalah:

Alignment yang sempurna

Aposisi yang sempurna


Fraktur seperti fraktur klavikula, iga, dan fraktur impaksi dari humerus tidak memerlukan
reduksi. Angulasi < 5 pada tulang panjang anggota gerak bawah dan lengan atas, dan
angulasi sampai 10 pada humerus dapat diterima. Terdapat kontak sekurang-kurangnya
26

50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5 inci pada fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat
c.

diterima dimanapun lokalisasi fraktur.


Retention: imobilisasi fraktur
Tujuan: mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai Union. Indikasi
dilakukannya fiksasi yaitu pada pemendekan (shortening), fraktur unstabel serta kerusakan
hebat pada kulit dan jaringan sekitar
Jenis Fiksasi :
Ekternal / OREF (Open Reduction External Fixation)

Gips ( plester cast)

Traksi

Jenis traksi :

Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus


Skin traksi

Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan kembali ke
posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas
Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.
Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur, lutut),
pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris). Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada
pemasangan traksi yaitu gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, trauma saraf
peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat masuknya pin

27

Indikasi OREF :

Fraktur terbuka derajat III

Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

fraktur dengan gangguan neurovaskuler

Fraktur Kominutif

Fraktur Pelvis

Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

Non Union

Trauma multiple
Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

28

ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara ini adalah reposisi
anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.

Indikasi ORIF :
a. Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi, misalnya fraktur talus
dan fraktur collum femur.
b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulse dan fraktur dislokasi.
c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur Monteggia, fraktur
Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.
d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi,
misalnya : fraktur femur.

d.

Rehabilitation: mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin

II.10 Penyembuhan Fraktur


Reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur merupakan dasar
untuk mengobati fragmen fraktur. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah
29

tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi
konsolidasi. Faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat
penting dalam penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktur yang
sangat esensial dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur berbeda pada tulang
kortikal pada tulang panjang serta tulang kanselosa pada metafisis tulang panjang atau tulangtulang pendek, sehingga kedua jenis penyembuhan fraktur ini harus dibedakan.
Bone Healing Menurut AO
1.

Inflamatory Phase
Mulai inflamasi sampai terjadinya pembentukkan kartilago / bone formation berakhir
kurang lebih satu hingga dua minggu yang pada awalnya terjadi reaksi inflamasi.
Peningkatan aliran darah menimbulkan hematom fraktur yang segera diikuti invasi dari selsel peradangan, yaitu neutrofil, makrofag, dan sel fagosit. Sel-sel tersebut termasuk
osteoklas berfungsi untuk membersihkan jaringan nekrotik untuk menyiapkan fase
reparatif. Secara radiologis, garis fraktur akan lebih terlihat karena material nekrotik

2.

disingkirkan.
Soft Callus
Terjai kurang lebih 3 minggu. Terbentuk cartilage dan basement tuang. Soft callus terdiri

3.

dari fibrous tissue, cartilage, bone matrix, fibroblast, kondroblas, osteoblas.


Hard Callus
Mineralized hyalin cartilage diresorpsi oleh osteoclas dan osteoprogenitor cells dan
kemudian diferensiasi menjadi osteoblast dan bone matrix. Callus tulang terbentuk di

4.

periosteal dan endosteal bone kemudian terjadi proses remodelling


Remodelling
Membutuhkan waktu beberapa bulan sampai beberapa tahun, terjadi pada fraktur yang
solid union. Pada fase ini terbentuk medulary canal dan woven bone pelan-pelan menjadi
lamellar bone.

Penyembuhan Fraktur pada Tulang Kortikal


Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu:
1.

Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan
membentuk hematoma di antara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh
periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan
30

hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan
kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang
2.

yang mati pada sisi fraktur segera setelah trauma.


Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang
berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah
endosteum membentuk kalus interna sebagai aktivitas seluler dalam kanalis medularis.
Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuh sel berasal dari
diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada
tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel
osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya
lebih cepat dari tumor ganas. Jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan
hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalis dari fraktur akam
membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologis,

3.

kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radiolusen.


Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang
berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat
osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh
garamgaram kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut
sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologis kalus atau woven bone sudah terlihat

4.

dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur


Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah menjadi
tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan

5.

kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap


Fase remodelling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase
remodelling ini, perlahan-lahan terjadi resorbsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses
osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus
intermediate berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus
31

bagian dalam akan menjadi berongga untuk membentuk ruang sumsum.


Penyembuhan Fraktur pada Tulang Kanselosa
Penyembuhan fraktur kanselosa terjadi cepat karena:
a.
b.
c.
d.

Vaskularisasi yang cukup


Terdapat permukaan yang lebih luas
Kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat
Hematoma memegang peranan dalam penyembuhan fraktur
Tulang kanselosa yang berlokalisasi pada metafisis tulang panjang, tulang pendek, dan

tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis. Penyembuhan fraktur pada daerah tulang kanselosa
melalui proses pembentukan kalus interna dan endosteal. Pada anak-anak proses penyembuhan
pada daerah korteks juga memegang peranan penting. Proses osteogenik penyembuhan sel dari
bagian endosteal yang menutupi trabekula, berproliferasi untuk membentuk woven bone primer
di dalam daerah fraktur yang disertai hematoma. Pembentukan kalus interna mengisi ruangan
pada daerah fraktur. Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi pada daerah dimana
terjadi kontak langsung diantara kedua permukaan fraktur yang berarti satu kalus endosteal.
Apabila terjadi kontak dari kedua fraktur maka terjadi union secara klinis. Selanjutnya woven
bone diganti oleh tulang lamelar dan tulang mengalami konsolidasi
Penyembuhan Fraktur pada Tulang Rawan Persendian
Tulang rawan hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuannya untuk regenerasi.
Pada fraktur intra-artikuler penyembuhan tidak terjadi melalui tulang rawan hialin, tetapi melalui
fibrokartilago.

Waktu Penyembuhan Fraktur


Waktu penyembuhan fraktur bervariasi setiap orang dan berhubungan dengan beberapa
faktor seperti:
1.

Umur
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Hal
ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada periosteum dan
endosteum dan juga berhubungan dengan proses remodelling tulang yang pada bayi sangat
32

2.

aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah


Lokalisasi dan konfigurasi fraktur
Lokalisasi fraktur memegang peranan penting. Fraktur metafisis penyembuhannya lebih
cepat daripada diafisis. Disamping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur transversal lebih
lambat penyembuhannya dibandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih

3.

banyak
Pergeseran awal fraktur
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana periosteum intak, maka penyembuhannya dua kali
lebih cepat dibandingkan pada fraktur yang bergeser. Terjadinya pergeseran fraktur yang

4.

lebih besar juga akan menyebabkan kerusakan periosteum yng lebih hebat
Vaskularisasi pada kedua fragmen
Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, maka penyembuhan biasanya
tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami

5.

kematian, maka akan menghambat terjadinya union atau bahkan mungkin terjadi nonunion.
Reduksi serta imobilisasi
Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam
bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan

6.

pembuluh darah yang akan mengganggu dalam penyembuhan fraktur


Waktu imobilisasi
Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, maka

7.

kemungkinan untuk terjadinya nonunion sangat besar.


Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak
Bila ditemukan interposisi jaringan baik berupa periosteum maupun otot atau jaringan

8.

fibrosa lainnya, maka akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur


Adanya infeksi
Bila terjadi infeksi pada daerah fraktur, misalnya pada operasi terbuka fraktur tertutup atau

9.

fraktur terbuka, maka akan mengganggu terjadinya proses penyembuhan


Cairan sinovial
Pada persendian dimana terdapat cairan sinovial merupakan hambatan dalam

10.

penyembuhan fraktur
Gerakan aktif dan pasif anggota gerak
Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah
fraktur tapi gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga
akan mengganggu vaskularisasi.
Penyembuhan fraktur berkisar antara tiga minggu sampai empat bulan. Waktu

penyembuhan pada anak secara kasar 1/2 waktu penyembuhan orang dewasa.

33

Tabel Perkiraan Penyembuhan Fraktur pada Orang Dewasa


No.
1.

Lokalisasi
Falang, metakarpal, metatarsal, costae

Waktu Penyembuhan
3-6 minggu

2.

Distal radius

6 minggu

3.

Diafisis ulna dan radius

12 minggu

4.

Humerus

10-12 minggu

5.

Clavicula

6 minggu

6.

Panggul

10-12 minggu

7.

Femur

12-16 minggu

8.

Kondilus femur / tibia

8-10 minggu

9.

Tibia, fibula

12-16 minggu

10.

Vertebra

12 minggu

Penilaian Penyembuhan Fraktur


Penilaian penyembuhan fraktur (union) didasarkan atas union secara klinis dan union
secara radiologik. Penilaian secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan pada daerah fraktur
dengan melakukan pembengkokan pada daerah fraktur, pemutaran, dan kompresi untuk
mengetahui adanya gerakan atau perasaan nyeri pada penderita. Keadaan ini dapat dirasakan
oleh pemeriksa atau oleh penderita sendiri. Apabila tidak ditemukan adanya gerakan, maka
secara klinis telah terjadi union dari fraktur.
Union secara radiologik dinilai dengan pemeriksaan rontgen pada daerah fraktur dan
dilihat adanya garis fraktur atau kalus dan mungkin dapat ditemukan adanya trabekulasi yang
sudah menyambung pada kedua fragmen. Pada tingkat lanjut dapat dilihat adanya medula atau
ruangan dalam daerah fraktur.
Penyembuhan Abnormal pada Fraktur
1.

Malunion
Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya tetapi terdapat
deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus. Rotasi, kependekan, atau union secara
menyilang seperti pada fraktur radius dan ulna
Etiologi

Fraktur tanpa pengobatan


34


Pengobatan tidak adekuat

Reduksi dan imobilisasi yang tidak baik

Pengambilan keputusan serta teknik yang salah pada awal pengobatan

Osifikasi prematur pada epiphysial plate karena adanya trauma


Gambaran klinis

Deformitas dengan bentuk yang bervariasi

Gangguan fungsi anggota gerak

Nyeri dan keterbatasan pergerakan sendi

Ditemukan komplikasi seperti paralisis tardi nervus ulnaris

Osteoartritis apabila terjadi pada daerah sendi

Bursitis atau nekrosis kulit pada tulang yang mengalami deformitas


Pemeriksaan radiologis
Pada foto rontgen terdapat penyambungan fraktur tetapi dalam posisi yang tidak sesuai
dengan keadaan yang normal
Pengobatan

Konservatif
Dilakukan refrakturisasi dengan pembiusan umum dan diimobilisasi sesuai dengan
fraktur yang baru. Apabila ada kependekan anggota gerak dapat dipergunakan sepatu
ortopedi
Operatif
o
Osteotomi koreksi (osteotomi Z) dan bone graft disertai dengan fiksasi interna.
o
Osteotomi dengan pemanjangan bertahap, misalkan pada anak-anak
o
Osteotomi yang bersifat baji
Delayed union
Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3-5 bulan (tiga bulan

2.

untuk anggota gerak atas dan lima bulan untuk anggota gerak bawah
Etiologi
Sama dengan etiologi nonunion
Gambaran klinis

Nyeri anggota gerak pada pergerakan dan waktu berjalan

Terdapat pembengkakan

Nyeri tekan

Terdapat gerakan yang abnormal pada daerah fraktur

Pertambahan deformitas
Pemeriksaan radiologis

Tidak ada gambaran tulang baru pada ujung daerah fraktur

Gambaran kista pada ujung-ujung tulang karena adanya dekalsifikasi tulang

Gambaran kalus yang kurang disekitar fraktur


Pengobatan

Konservatif
Pemasangan plaster untuk imobilisasi selama 2-3 bulan
35

3.

Operatif
Bila union diperkirakan tidak akan terjadi, maka segera dilakukan fiksasi interna dan

pemberian bone graft


Nonunion
Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan
konsolidasi sehingga terdapat pseudoartritis (sendi palsu). Pseudoartritis dapat terjadi tanpa
infeksi tetapi juga terjadi bersama-sama infeksi disebut infected pseudoartritis.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.

Brinker. Review of Orthopaedic Trauma, Pennsylvania: Saunders Company, 2001.53-63.


Arif, et al. Kapita Selekta Kedokteran; 2000
Sylvia A. Price & Lorraine M. Wilson, Patofisiogi "Konsep Klinis dan Proses-Proses

4.
5.

Penyakit" Edisi 6
R.Sjamsuhidajat & Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2, EGC 879-881
Prof.Chairuddin Rasjad, MD, Ph D. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, PT. Yasif Watampoe,
jakarta 2007. 395-399
36

6.

Gottlieb JR. 2006. SOAP for orthopedics. Philadelphia : Williams and Wilkins Publisher. p.

7.

82 83
Egol KA, Koval KJ, Zuckerman JD.2010. Hand Book of Fracture. Philadelphia : Lippincot

8.

Williams and Wilkins. p. 400 418


Bisono, Pusponegoro AD; Luka, Trauma, Syok dan Bencana. Dalam : Syamsuhidajat R,
Jong WD ed Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997 : 81-

9.
10.

91.
Website: http://emedicine.medscape.com/article/824856-overview Accesed on July 2015
Website: http://emedicine.medscape.com/article/825363-overview#showall Accesed on

11.
12.
13.
14.
15.

July 2015
Website: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2759588/ Accesed on July 2015
Website: http://orthopedics.about.com/od/brokenbones.htm Accesed on July 2015
Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif Watampone. 2009.
Miller, M.D. Review of Orthopaedics. USA: Saunders. 2004.
Warwick, D.J, Solomon, L.Apley's System of Orthopaedics and Fractures. London: Arnold.

16.

2001
Ganong, F. William. Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. Jakarta: EGC. 2003

37