Anda di halaman 1dari 18

Ervin Juliet Latupeirissa

Leukemia Granulositik
Kronik

Anamnesis
Id
Keluhan
RPS
RPD
RPK

utama

Pemeriksaan Fisik
Keadaan
Ttv
Inspeksi,

umum

palpasi, perkusi dan


auskultasi

Pemeriksaan penunjang
Hapusan

Darah Tepi

peningkatan granulosit matang dan jumlah limfosit normal


(persentase rendah karena dilusi dalam hitungan
diferensial) menghasilkan jumlah leukosit total 20,00060,000 sel/uL.

Analisis Sumsum Tulang

Sumsum tulang bersifat hypercellular, dengan perluasan lini


sel myeloid (misalnya, neutrofil, eosinofil, basofil) dan sel
progenitornya.

Diagnosa Kerja

Leukimia granulositik kronik (LGK) (chronic


granulocytic leukemia) dikenal juga dengan
nama leukemia myeloid kronik (chronic myeloid
leukemia) suatu jenis kanker dari leukosit.
bentuk leukemia yang ditandai dengan
peningkatan dan pertumbuhan yang tak
terkendali dari sel myeloid pada sum-sum tulang,
dan akumulasi dari sel-sel ini di sirkulasi darah.

Diagnosis Banding
a. Reaksi Leukemoid
leukositosis akibat respon terhadap infeksi atau stimulus lain,
kadang-kadang dapat menjadi berlebihan, sering dijumpai jumlah
leukosit lebih dari 50.000/mm3.
Sering terdapat peningkatan jumlah mieloid imatur atau prekusor
limfoid di dalam darah perifer.
Pemeriksaan sumsum tulang secara khas menunjukkan
hiperplasia mieloid dengan maturasi yang normal.
Paling sering terjadi disertai infeksi bakteri.
Agen penyebab tersering adalah Staphylococcus, Haemophillus,
Neisseria Meningitidis, Salmonella, dan Meningococcus.

Lanjutan
b. Mielofibrosis adalah penyakit di sumsum tulang di mana kolagen

membentuk jaringan fibrosis pada cavum sumsum.


Hal ini terjadi karena pertumbuhan tidak terkendali dari sel
prekursor darah, yang akhirnya mengarah pada akumulasi
jaringan ikat di sumsum tulang.
Jaringan ikat yang membentuk sel darah yang akhirnya bentuk
disfungsional.
Tubuh kita menyadari hal ini, dan mencoba untuk
mengkompensasi dengan mengirimkan sinyal ke organ
extramedulare hematopoietik, yaitu hati dan limpa sel darah
baru. Tetapi sel darah yang akhirnya dihasilkan oleh organ-organ
ini masih belum berfungsi dengan baik dan tubuh akhirnya
mengalami anemia.

Gejala Klinis

dapat berupa: malaise, demam yang tidak terlalu


signifikan,
kenaikan rerata infeksi,
anemia,
dan trombositopenia dengan memar yang ringan
(meskipun kenaikan jumlah trombosit (trombositosis) juga
dapat terjadi dalam keadaan LGK).
Splenomegali seringkali terjadi.

Epidemiologi

Leukemia granulositik kronik sering terjadi pada usia


pertengahan dewasa dan pada anak-anak. Penyakit ini
menyerang 1-2 orang per 100.000 dan membuat 7-20%
kasus leukemia. Leukemia mielositik kronik terjadi pada
kedua jenis kelamin dengan rasio pria : wanita sebesar
1,4:1 dan paling sering terjadi pada usia antara 40-60
tahun. Kejadian leukemia mielositik kronik meningkat pada
orang yang terpapar bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Etiologi

Menurut Markman (2009), Leukemia mielositik kronik


adalah salah satu dari kanker yang diketahui disebabkan
oleh sebuah mutasi spesifik tunggal di lebih dari 90%
kasus.
Transformasi leukemia mielositik kronik disebabkan oleh
sebuah translokasi respirokal dari gen BCR pada kromosom
22 dan gen ABL pada kromosom 9, menghasilkan
gabungan gen BCR-ABL kromosom Philadelphia.
Protein yang dihasilkan dari gabungan gen tersebut,
meningkatkan proliferasi dan menurunkan apoptosis dari
sel ganas.

Patofisiologi

Penatalaksanaan
Hidroksiurea
Obat ini diberikan per oral dan menunjukan bioavailabilitas yang
mendekati 100%. Dosisnya adalah 30mg/kgBB/hari diberikan
sebagai dosis tunggal maupun dibagi 2-3 dosis. Apabila leukosit >
300.000/mmk, dosis boleh ditinggikan sampai maksimal
2,5gram/hari.

Busulfan
Obat ini sering menyebabkan depresi sumsum tulang sehingga
pemeriksaan darah harus sering dilakukan. Untuk pengobatan
jangka panjang pada leukemia mielositik kronik dosisnya
sebanyak 2-6mg/hari secara oral dan dapat dinaikan sampai 12
mg/hari. Obat ini diberikan sampai hitung leukosit mencapai
<10.000/mmk, kemudian pemberian obat dihentikan dan dimulai
kembali setelah hitung leukosit mencapai >50.000/mmk.

Lanjutan
Imatinib
Dosis untuk fase kronik adalah 400mg/hari setelah makan dan dapat
ditingkatkan sampai 600mg/hari bila tidak mencapai respon
hematologik setelah 3 bulan pemberian, atau pernah membaik
tetapi kemudian memburuk dengan Hb menjadi rendah dan atau
leukosit meningkat dengan tanpa perubahan jumlah trombosit.
Dosis harus diturunkan bila terjadi neutropeni (<500/mmk) atau
trombositopeni (<50.000/mmk) atau peningkatan sGOT/sGPT dan
bilirubin. Untuk fase krisis blas dapat diberikan langsung
800mg/hari.

Lanjutan
Interferon

alfa-2a atau Interferon

alfa-2b
Perlu premedikasi dengan analgetik dan antipiretik sebelum
pemberian obat ini untuk mencegah/mengurangi efek samping
interferon berupa flu like syndrome. Dosis 5 juta IU/mk/hari
subkutan sampai tercapai remisi sitogenetik, biasanya setelah 12
bulan terapi. Sedangkan berdasar hasil penelitian di Indonesia,
dosis yang dapat ditoleransi adalah 3 juta IU/mk/hari.

Cangkok

sumsum tulang belakang

Data menunjukan bahwa cangkok sumsum tulang dapat


memperpanjang masa remisi sampai >9 tahun, terutama pada
cangkok sumsum tulang alogenik. Cangkok sumsum tulang tidak
dilakukan pada kromosom Ph negatif atau BCR-ABL negatif .

Komplikasi

Kelelahan
Pendarahan
Rasa sakit
Pembesaran Limpa (splenomegali).
Infeksi.
Kematian.

Prognosis

Sebagian besar pasien Leukemia Granulositik Kronik akan


meninggal setelah memasuki fase akhir yang disebut krisis
blastik. Gambarannya mirip dengan leukemia akut, yaitu
produksi berlebihan sel muda leukosit, biasanya berupa
mieloblas dan/promielosit, disertai produksi neutrofil,
trombosit, dan sel darah merah yang amat kurang.

Kesimpulan
Leukemia

mielositik kronik biasanya memperlihatkan respon


yang sangat baik terhadap kemoterapi pada fase kronik.
Ketahanan hidup rata-rata adalah 5-6 tahun dan kematian
biasanya disebabkan transformasi akut terminal atau
pendarahan atau infeksi yang menyelingi (Hematologi). 20%
pasien dapat hdup hingga 10 tahun atau lebih.
Faktor-faktor yang memperburuk keadaan pasien antara lain :
Pasien : usia lanjut, keadaan umum buruk, disertai gejala
sistemik seperti penurunan berat badan, demam, keringat
malam.
Laboratorium : anemia berat, trombositopenia, trombositosis,
basofilia, eosinofilia, kromosom Ph negative, BCR-ABL negative.
Terapi : memerlukan waktu lama (>3 bulan) untuk mencapai
remisi, memerlukan terapi dengan dosis tinggi, waktu remisi
yang singkat.

Lanjutan

Leukemia mielositik kronik adalah penyakit yang


jarang terjadi, tetapi memiliki angka kematian yang
tinggi. Dunia kedokteran kini sudah sangat maju dan
telah ditemukan berbagai metode untuk menekan
leukemia mielositik kronik. Diharapkan dengan
diagnosis dan penanganan yang baik tersebut,
kualitas dan harapan hidup penderita leukemia
mielositik kronik dapat ditingkatkan. Harapan untuk
bertahan hidup itu menjadi semangat para penderita
kanker dalam menjalani hidupnya.