Anda di halaman 1dari 2

Menteri Kabinet

No
.
1
2

Jabatan
Menteri Luar Negeri
Menteri Dalam Negeri
Wakil Menteri Dalam Negeri

Menteri Keamanan Rakyat

Menteri Kehakiman
Menteri Penerangan
Wakil Menteri Penerangan

5
6

Menteri Keuangan

7
8
9
10
11
12

Menteri Kemakmuran
Menteri Perhubungan
Menteri Pekerjaan Umum
Menteri Sosial
Menteri Pengajaran
Menteri Kesehatan

13

Menteri Negara [5]

Nama
Mr. Achmad Soebardjo
R.A.A. Wiranatakoesoema V
Mr. Harmani
Soeprijadi
(yang sebenarnya ditunjuk)[3]
Soeljadikoesoemo
(ad-interim sejak 20 Oktober 1945)
Prof. Dr. Soepomo
Amir Sjarifuddin
Ali Sastroamidjojo
Dr. Samsi Sastrawidagda
(sampai 25 September 1945)[4]
Mr. A.A. Maramis
(ad-interim sejak 25 September 1945)
Ir. Soerachman Tjokroadisoerjo
Abikoesno Tjokrosoejoso
Iwa Koesoemasoemantri
Ki Hadjar Dewantara
Dr. Boentaran Martoatmodjo
Mohammad Amir
Wahid Hasjim
(Urusan Agama)
Mr. Sartono
A. A. Maramis [6]
Otto Iskandardinata

Maklumat Nomor X tertanggal 3 November 1945 yang dikeluarkan oleh Wakil


Presiden RI Muhammad Hatta, mendorong pembentukan partai-partai politik
sebagai bagian dari demokrasi, untuk persiapan rencana penyelenggaraan
pemilu 1946. Maklumat ini dapat disebut sebagai tonggak awal demokrasi
Indonesia.
Maklumat yang dikeluarkan oleh Wapres Hatta pada tanggal 3 November
1945 ini memiliki kesamaan nomor dengan Maklumat yang sebelumnya
telah dikeluarkan pada tanggal 16 Oktober 1945, yakni sama-sama bernomor
X. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Latar belakang sebab kejadiannya, ketika maklumat tersebut dibuat ternyata
daftar urutan maklumat Wakil Presiden saat itu tidak dibawa oleh Sekretaris
Negara mr. (meester in de rechten) Gafar, sehingga nomor urut maklumat
tersebut untuk sementara tidak diisi dan hanya ditulis Maklumat Wakil
Presiden No. X (maksudnya X tanda silang, alias kosong, belum ada nomor
resmi) untuk kemudian kelak diganti dengan nomor urut yang sebenarnya.
Tetapi belakangan tanda X tersebut tetap tidak diganti oleh sekretaris

negara, selanjutnya maklumat tersebut latah disebut juga Maklumat No. X


(dibaca sepuluh).
Dengan maklumat ini, pemerintah berharap supaya partai-partai politik telah
dapat terbentuk sebelum penyelenggaraan pemilu anggota badan-badan
perwakilan rakyat pada Januari 1946. Maklumat ini juga melegitimasi partaipartai politik yang telah terbentuk sebelumnya sejak zaman Belanda dan
Jepang serta mendorong terus lahirnya partai-partai politik baru.
Namun kemudian proses pemantapan demokrasi Indonesia yang baru lahir
melalui rencana penyelenggaraan Pemilu 1946 itu tidak bisa diwujudkan,
sebab konsentrasi bangsa Indonesia terfokus pada perjuangan
mempertahankan kemerdekaan akibat kedatangan pasukan militer Sekutu.
Pemilu bukan lagi prioritas.
Belanda berdasarkan Civil Affairs Agreement (23 Agustus 1945) membonceng
pasukan Inggris dan mendarat di Sabang, Aceh. Selanjutnya pasukan Inggris
selaku wakil Sekutu tiba di Jakarta pada 15 September 1945. Kehadiran
tentara Sekutu ini, diboncengi Netherland Indies Civil Administration (NICA),
yang dipimpin oleh Dr. Hubertus Johannes van Mook.
Pertempuran melawan Sekutu dan NICA pun meletus di mana-mana, antara
lain Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Pertempuran Ambarawa di
daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya, Perjuangan Gerilya Jenderal
Soedirman meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bandung Lautan Api di
daerah Bandung dan sekitarnya, Pertempuran Medan di daerah Medan dan
sekitarnya, Pertempuran Margarana di Bali, Serangan Umum 1 Maret 1949 di
Yogyakarta, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang, Pertempuran
Lima Hari di Semarang.
Karena situasi keamanan ibukota Jakarta (Batavia saat itu) makin memburuk,
maka pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta dengan
menggunakan kereta api, pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan
ibukota. Meninggalkan Sutan Syahrir dan kelompok yang pro-negosiasi
dengan Belanda di Jakarta. (Sumber: PPLN Den Haag/kpu/wikipedia).