Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PROGRAM PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

TETANUS
Dosen Pembimbing : dr. Fauziah Elytha, MSc

OLEH:
Kelompok 12
Roma Yuliana

1311211109

Lasmita Amelia

1311212012

Dion Andhika Dwi Putra

1311211034

Aziza

1311211029

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas
Tahun 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridha-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul Program Penanggulangan Penyakit
Tetanus dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Program Penanggulangan Penyakit Menular.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah Program
Penanggulangan Penyakit Menular, ibu dr. Fauziah Elytha, MSc serta semua pihak
yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan yang
disebabkan oleh kemampuan penulis, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat konstruktif sehingga dapat menyempurnakan makalah ini.
Padang,

Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah............................................................................................2
1.3 Tujuan.................................................................................................................2
BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................................3
2.1 Definisi...............................................................................................................3
2.2 Etiologi ..............................................................................................................3
2.3 Faktor Resiko......................................................................................................4
2.4 Epidemiologi ......................................................................................................5
2.4.1 Triad Epidemiologi......................................................................................5
2.4.2 Hubungan Penjamu, Bibit Penyakit dan Lingkungan Penyakit Tetanus.....7
2.4.3 Transmisi......................................................................................................7
2.5 Perjalanan Penyakit ...........................................................................................8
2.6 Klasifikasi Penyakit .........................................................................................10
2.7 Pengobatan dan Pencegahan ............................................................................11
2.8 Program Penanggulangan ................................................................................13
BAB 3 : PENUTUP
3.1 Kesimpun..............................................................................................14
3.2 Saran.....................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

ii

15

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tetanus merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Tetanus dapat terjadi pada orang yang belum diimunisasi, orang yang
diimunisasi sebagian, atau telah diimunisasi lengkap tetapi tidak memperoleh
imunitas yang cukup, karena tidak melakukan booster secara berkala.
Tetanus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di seluruh
dunia. Diperkirakan angka kejadian pertahunnya sekitar satu juta kasus dengan
tingkat mortalitas yang berkisar dari 6% hingga 60%. Pada tahun 2000, hanya 18.833
kasus tetanus yang dilaporkan ke WHO. Berdasarkan data dari WHO, penelitian
yang dilakukan oleh Stanfield dan Galazka, dan data dari Vietnam diperkirakan
insidens tetanus di seluruh dunia adalah sekitar 700.000 1.000.000 kasus per
tahun. Selama 20 tahun terakhir, insidens tetanus telah menurun seiring dengan
peningkatan cakupan imunisasi. Namun demikian, hampir semua negara tidak
memiliki kebijakan bagi orang yang telah divaksinasi yang lahir sebelum program
imunisasi diberlakukan ataupun penyediaan booster yang diperlukan untuk
perlindungan jangka lama, serta pada orang-orang yang lupa melakukan jadwal
imunisasi. Di Amerika Serikat, tetanus sudah jarang ditemukan. Tetanus neonatorum
menyebabkan 50% kematian perinatal dan menyumbangkan 20% kematian bayi.
Angka kejadian 6-7/100 kelahiran hidup di perkotaan dan 11-23/100 kelahiran hidup
di pedesaan. Sedangkan angka kejadian tetanus pada anak di rumah sakit 7-40
kasus/tahun, 50% terjadi pada kelompok 5-9 tahun, 30% kelompok 1-4 tahun, 18%
kelompok >10 tahun, dan sisanya pada bayi <12 bulan.
Di Indonesia, tetanus masih menjadi salah satu dari sepuluh besar penyebab
kematian pada anak. Meskipun insidens tetanus saat ini sudah menurun, namun
kisaran tertinggi angka kematian dapat mencapai angka 60%. Selain itu, meskipun
angka kejadiannya telah menurun setiap tahunnya, namun penyakit ini masih belum
dapat dimusnahkan meskipun pencegahan dengan imunisasi sudah diterapkan secara
luas di seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut
mengenai penatalaksanaan serta pencegahan tetanus guna menurunkan angka
kematian penderita tetanus, khususnya pada anak.
1

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, adapun beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Apa definisi penyakit tetanus?


Apakah etiologi penyakit tetanus?
Apakah faktor resiko penyakit tetanus?
Bagaimana epidemiologi penyakit tetanus; hubungan penjamu, bibit penyakit

5.
6.
7.
8.

dan lingkungan serta transmisi penyakit tetanus?


Bagaimana perjalanan penyakit tetanus?
Bagaimana klasifikasi penyakit tetanus?
Bagaimana pengobatan dan pencgahan penyakit tetanus?
Apa program penanggulangan penyakit tetanus?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui teori tentang pengertian tetanus
2. Mengetahui etiologi, faktor resiko, epidemiologi, perjalanan penyakit,
klasifikasi penyakit, pengobatan dan pencegahan serta mengetahui program
penanggulangan penyakit tetanus serta kebijakannya.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca khususnya
mahasiswa di bidang ilmu kesehatan masyarakat dapat memahami epidemiologi
penyakit tetanus.

BAB 2 : PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman
Clostridium tetani, bermanisfestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti

kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot massater dan otot-otot rangka.
Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi
sistem urat saraf dan otot. Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari
teinein yang berarti menegang. Penyakit ini adalah penyakit infeksi di mana spasme
otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum,
melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glotal, kejang dan spasme dan
paralisis pernapasan.
2.2 Etiologi
Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang merupakan
bakteri berbentuk batang, berukuran 2 -5 x 0,4 -0,5 milimikron yang hidup tanpa
oksigen (anaerob), dan membentuk spora. Spora dewasa mempunyai bagian yang
berbentuk bulat yang letaknya di ujung, dan memberi gambaran penabuh genderang
(drum stick) (Bleck, 2000). Spora ini mampu bertahan hidup dalam lingkungan
panas, antiseptik, dan di jaringan tubuh. Spora ini juga bisa bertahan hidup beberapa
bulan bahkan bertahun. Bakteria yang berbentuk batang ini sering terdapat dalam
kotoran hewan dan manusia, dan bisa terkena luka melalui debu atau tanah yang
terkontaminasi. Clostridium tetanime rupakan bakteria Gram positif dan dapat
menghasilkan eksotoksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) dapat
menyebabkan kekejangan pada otot.

Gambar 1. Bakteri Clostridium tetani


2.3 Faktor Risiko
Terdapat 5 faktor risiko utama terjadinya tetanus neonatorum, yaitu:
a. Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik
Lingkungan yang mempunyai sanitasi yang buruk akan memyebabkan
Clostridium tetani lebih mudah berkembang biak. Kebanyakan penderita
3

dengan gejala tetanus sering mempunyai riwayat tinggal di lingkungan yang


kotor. Penjagaan kebersihan diri dan lingkungan adalah amat penting bukan
sahaja dapat mencegah tetanus, malah pelbagai penyakit lain.
b. Faktor Alat Pemotongan Tali Pusat
Penggunaan alat yang tidak steril untuk memotong tali pusat meningkatkan
risiko penularan penyakit tetanus neonatorum. Kejadian ini masih lagi
berlaku di negara- negara berkembang dimana bidan-bidan yang melakukan
pertolongan persalinan masih menggunakan peralatan seperti pisau dapur
atau sembilu untuk memotong tali pusat bayi baru lahir (WHO, 2008).
c. Faktor Cara Perawatan Tali Pusat
Terdapat sebagian masyarakat di negara-negara berkembang masih
menggunakan ramuan untuk menutup luka tali pusat seperti kunyit dan abu
dapur. Seterusnya, tali pusat tersebut akandibalut dengan menggunakan kain
pembalut yang tidak steril sebagai salah satu ritual untuk menyambut bayi
yang baru lahir. Cara perawatan tali pusat yang tidak benar ini akan
meningkatkan risiko terjadinya kejadian tetanus neonatorum
d. Faktor Kebersihan Tempat Pelayanan Persalinan
Kebersihan suatu tempat pelayanan persalinan adalah sangat penting. Tempat
pelayanan persalinan yang tidak bersih bukan sahaja berisiko untuk
menimbulkan penyakit pada bayi yang akan dilahirkan, malah pada ibu yang
melahirkan. Tempat pelayanan persalinan yang ideal sebaiknya dalam
keadaan bersih dan steril.
e. Faktor Kekebalan Ibu Hamil
Ibu hamil yang mempunyai faktor kekebalan terhadap tetanus dapat
membantu mencegah kejadian tetanus neonatorum pada bayi baru lahir.
Antibodi terhadap tetanus dari ibu hamil dapat disalurkan pada bayi melalui
darah, seterusnya menurunkan risiko infeksi Clostridium tetani. Sebagian
besar bayi yang terkena tetanus neonatorum biasanya lahir dari ibu yang tidak
pernah mendapatkan imunisasi TT .
2.4 Epidemiologi
Tetanus menyerang seluruh dunia dengan angka kesakitan dan kematian yang
masih sangat tinggi terutama dinegara berkembang. Di Indonesia angka insidensi
tetanus didaerah perkotaan sekitar 6-7/1000 kelahiran hidup, sedangkan didaerah
pedesaan angkanya lebih tinggi 2-3 kali lipat darah perkotaan yaitu 11-23/1000
4

kelahiran hidup dengan jumlah kematian 60.000 bayi setiap tahunnya. Penyebab dari
kasus ini yaitu terkait penjangkauan fasiitas kesehatan, pengetahuan, serta kesadaran
dari masyarakat itu sendiri untuk tanggap dengan penyakitnya.
Menurut SKRT angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih sangat tinggi
yaitu 58/1000 kelahiran hidup. Dari angka kematian bayi yangsangat tinggi tersebut,
tetanus menyumbang 50% sebagai penyebab kematian bayi tersebut. Hal ini
menyebabkan tetanus merupakan penyebab ke-5 kematian bayi di Indonesia. Karena
kontribusi terhadap AKB masih sangat besar, maka tetanus masih merupakan
masalah besar bagi dunia kesehatan Indonesia. Menurr profil kesehatan Indonesia
tahun 2007, terdeteksi 141 kasus tetanus yang tersebar di 25 provinsi. Kasus terbesar
ditemukan di Jawa Barat yaitu 24,8%, lalu Kalimantan Barat (12,8%), selanjutnya
Lampung (8,5%), kemudian Sulawesi Selatan (6,4%). Dari total 141 kasus, 74 bayi
diantaranya meninggal.
Dalam kasus tetanus ini, iminisasi sangat memegang peran penting. Dari
semua kasus yang terdata, 54,6% merupakan yang belum diimunisasi TT, 10,6%
tealah mendapatkan imunisasi sebanyak satu kali, dan 17% telah mendapatkan
imunisasi TT2 atau lebih. Perawatan tali pusar bagi bayi juga menjadi penyebab
tetanus, karean sebagian besar masih dengan cara tradisional (30,5%), dengan cara
lainnya (26,2%), menggunakan alkohol dan iodium (19,1%), dengan gunting
(51,1%), (19,9%) menggunakan bambu, serta sekitar 12,8% mengunakan alat
lainnya. WHO dan UNICEF mengajak untuk emiliminasi tetanus pada tahun 2000
dan 2005, dan Indonesia berhasil pada tahun 2003.
2.4.1 Triad Epidemiologi
Tetanus tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan
cakupan imunisasi DPT (Diphtheria, Pertussis and Tetanus) yang rendah. Reservoir
utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko
penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang
tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga
melalui :
1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
2. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
3. OMP, caries gigi
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril
5

5. Penjahitan luka robek yang tidak steril


6. Luka bekas suntikan narkoba.
a) Agent
Tetanus

disebabkan

oleh

infeksi

bakteri

Clostridium

tetani.

Clostridium tetani marupakan bakteri berbentuk batang lurus, langsing,


berukuran panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini
membentuk eksotoksin yang disebut tetanospasmin. Kuman ini terdapat di
tanah terutama tanah yang tercemar tinja manusia dan binatang, seperti
kotoran kuda, domba, sapi, anjing, kucing, tikus, dan babi. Clostridium
tetani termasuk bakteri gram positif, anaerobic (tidak dapat bertahan hidup
dalam kehadiran oksigen), berspora, dan mengeluarkan eksotoksin.
Costridium tetani menghasilkan 2 eksotosin yaitu tetanospamin dan
tetanolisin. Tetanospamin-lah yang dapat menyebabkan penyakit tetanus,
sedangkan untuk tetanolisin belum diketahui dengan jelas fungsinya.
Perkiraan dosis mematikan minimal dari kadar toksin (tenospamin) adalah
2,5 nanogram per kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk 70
kilogram (154lb) manusia.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak
memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak
menghasilkan gas H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol positif. Spora
dari Clostridium tetani resisten terhadap panas dan bahan kimia, seperti
etanol, phenol, dan formalin. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave
pada suhu 249.8F (121C) selama 1015 menit, juga resisten terhadap
phenol dan agen kimia yang lainnya. Spora ini bisa tahan beberapa bulan
bahkan beberapa tahun, jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan
dengan benda daging atau bakteri lain, ia akan memasuki tubuh penderita
tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin.
b) Host
Host penyakit tetanus adalah manusia dan hewan, khususnya hewan
vertebrata, seperti kucing, anjing, dan kambing.
c) Enviroment
Tetanus merupakan penyakit infeksi yang prevalensi dan angka
kematiannya masih tinggi. Tetanus terjadi di seluruh dunia, terutama di
6

daerah tropis, daerah dengan cakupan imunisasi DPT (Diphtheria, Pertussis


and Tetanus) yang rendah dan di daerah peternakan.
Tetanus merupakan infeksi berbahaya yang bisa mengakibatkan
kematian yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini
ditemukan di tanah dan feses manusia dan binatang. Karena itulah, daerah
peternakan merupakan daerah yang rentan untuk terjadinya kasus tetanus.
Pada tahun 2001, diperkirakan 282.000 orang di seluruh dunia meninggal
karena tetanus, yang terbesar terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan,
yang merupakan daerah tropis.
2.4.2 Hubungan Penjamu, Bibit Penyakit dan Lingkungan Penyakit Tetanus
Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung pada
jumlah populasi masyarakat yang tidak kebal, tingkat pencemaran biologik
lingkungan peternakan/pertanian, dan adanya luka pada kulit atau mukosa. Tetanus
pada anak tersebar diseluruh dunia, terutama pada daerah risiko tinggi dengan
cakupan imunisasi DPT yang rendah. Angka kejadian pada anak laki-laki lebih
tinggi, akibat perbedaan aktivitas fisiknya. Tetanus tidak menular dari manusia ke
manusia.
2.4.3 Transmisi
Tetanus tidak ditularkan dari orang ke orang. Luka, baik besar ataupun kecil,
menjadi jalan masuknya bakteri menyebab tetanus (Clostridium tetani), sekaligus
menjadi tempat berkembang dan menghasilkan racun. Tetanus dapat mengikuti
operasi elektif, luka bakar, luka tusuk yang dalam, luka menghancurkan, otitis media,
infeksi gigi, gigitan hewan, aborsi, dan kehamilan. Pengguna heroin, terutama
mereka yang menggunakan jarum suntik secara subkutan dengan kina-potong heroin,
berisiko tinggi terkena tetanus. Kina digunakan untuk mencairkan heroin dan benarbenar dapat mendukung pertumbuhan bakteri Clostridium tetani. Selama 1998-2000,
cedera akut atau luka seperti tusukan, laserasi, dan lecet menyumbang 73% dari
kasus dilaporkan tetanus pada rakyat AS yang bekerja di bidang yang mempunyai
risiko untuk tertusuk, luka, dan lecet.
2.5 Perjalanan Penyakit
Adapun riwayat ilmiah penyakit tetanus adalah :
a) Masa Inkubasi dan Klinis
Masa inkubasi berkisar dari 2 hari sampai sebulan, dengan sebagian besar
(rata-rata) kasus terjadi dalam 14 hari. Pada neonatus, masa inkubasi biasanya

5-14 hari. Secara umum, periode inkubasi pendek berhubungan dengan


terkontaminasi luka, penyakit lebih parah, dan prognosis yang buruk.
Masa inkubasi berkisar antara 3 sampai 21 hari, biasanya sekitar 8 hari.
Semakin pendek masa inkubasi, semakin tinggi peluang kematian, biasanya
kurang dari 72 jam. Dalam gejala tetanus neonatorum, biasanya muncul 4-14
hari setelah kelahiran, rata-rata sekitar 7 hari.
Karakteristik/gejala klinis tetanus:
a. Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7
hari.
b. Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya.
c. Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
d. Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari
leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus, lockjaw )
karena spasme otot masetter.
e. Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus , nuchal rigidity )
f. Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik
keatas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .
g.

Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus,


tungkai dengan eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya
kesadaran tetap baik.

h. Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan
sianosis, retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis
( pada anak ).
Tetanus tidak bisa segera terdeteksi karena masa inkubasi penyakit
ini berlangsung hingga 21 hari setelah masuknya kuman tetanus ke dalam
tubuh. Pada masa inkubasi inilah baru timbul gejala awalnya. Gejala penyakit
tetanus bisa dibagi dalam tiga tahap, yaitu:
1. Tahap Pertama
Rasa nyeri punggung dan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuh
merupakan gejala awal penyakit ini. Satu hari kemudian baru terjadi
kekakuan otot. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan menelan.
Gangguan terus dialami penderita selama infeksi tetanus masih
berlangsung.
2. Tahap Kedua

Gejala awal berlanjut dengan kejang yang disertai nyeri otot


pengunyah (Trismus). Gejala tahap kedua ini disertai sedikit rasa kaku di
rahang, yang meningkat sampai gigi mengatup dengan ketat, dan mulut
tidak bisa dibuka sama sekali. Kekakuan ini bisa menjalar ke otot-otot
wajah, sehingga wajah penderita akan terlihat menyeringai ( Risus
Sardonisus), karena tarikan dari otot-otot di sudut mulut.Selain itu, otototot perut pun menjadi kaku tanpa disertai rasa nyeri. Kekakuan tersebut
akan semakin meningkat hingga kepala penderita akan tertarik ke
belakang (Ophistotonus). Keadaan ini dapat terjadi 48 jam setelah
mengalami luka.
Pada tahap ini, gejala lain yang sering timbul yaitu penderita
menjadi lambat dan sulit bergerak, termasuk bernafas dan menelan
makanan. Penderita mengalami tekanan di daerah dada, suara berubah
karena berbicara melalui mulut atau gigi yang terkatu berat, dan gerakan
dari langit-langit mulut menjadi terbatas.
3. Tahap Ketiga
Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin meningkat, maka
terjadilah kejang refleks. Biasanya hal ini terjasi beberapa jam setelah
adanya kekakuan otot. Kejang otot ini bisa terjadi spontan tanpa
rangsangan dari luar, bisa juga karena adanya rangsangan dari luar,
misalnya cahaya, sentuhan, bunyi-bunyian dan sebagainya. Pada
awalnya, kejang ini hanya berlangsung singkat, tapi semakin lama akan
berlangsung lebih lama dan dengan frekuensi yang lebih sering.
Selain dapat menyebabkan radang otot jantung (mycarditis), tetanus
dapat menyebabkan sulit buang air kecil dan sembelit. Pelukaan lidah,
bahkan patah tulang belakang dapat terjadi akibat adanya kejang otot
hebat. Pernafasan juga dapat terhenti karena kejang otot, sehingga
beresiko menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan karena sumbatan
saluran nafas, akibat kolapsnya saluran nafas, sehingga refleks batuk
tidak memadai, dan penderita tidak dapat menelan.
b) Masa Laten dan Periode Infeksi
Tetanus tidak menular dari orang ke orang. Tetanus dicegah dengan vaksin
penyakit yang menular, DTP (difteri, tetanus, and pertusis), tapi tidak
menular. Luka, baik besar maupun kecil, adalah jalan bakteri Clostridium
tetani masuk ke dalam tubuh. Tetanus dapat disebabkan oleh luka bakar, luka
9

tusuk yang dalam, otitis media, infeksi gigi, gigitan hewan, aborsi, dan
persalinan yang tidak steril. Tetanus tidak mempunyai periode infeksius
karena tetanus tidak menular dari orang ke orang. Tetanus merupakan
penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, tapi tidak menular.
2.6 Klasifikasi Penyakit
a. Tetanus Lokal (Lokalited Tetanus)
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah
tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah
merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan,
bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya
menghilang secara bertahap. Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi
generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang ringan dan jarang
menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini dijumpai sebagai
prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama
dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin. Hanya sekitar 1% dari
kasus yang fatal.
b. Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi
berkisar 1 2 hari, yang berasal dari otitis media (infeksi telinga) kronik ,
seperti dilaporkan di India, luka pada daerah muka dan kepala. Terisolasi atau
dikombinasikan disfungsi dari salah satu saraf kranial dapat terjadi, tetapi
keterlibatan dari saraf kranial ketujuh adalah yang paling umum.
c. Tetanus Umum (Generalized Tetanus)
Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi
yang tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara
diam-diam. Trismus Merupakan gejala utama yang sering dijumpai ( 50 %),
yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan
kekakuanotot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan
menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme
otot-otot muka,opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang dinding perut.
Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan
saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan retensiurine,kompressi
fraktur dan pendarahan didalam otot. Kenaikan temperatur biasanya hanya
sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C. Bila dijumpai hipertermi
10

ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia,


penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan gejala
klinis
d. Neonatal Tetanus (Tetanus Neonatorum)
Tetanus neonatorum biasanya disebabkan infeksi Clostridium tetani,
yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora
yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril,
baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora Clostridium tetani,
maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang telah terkontaminasi.
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional
yang tidak steril,merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal
tetanus.
Gejala yang sering timbul adalah ketidakmampuan untuk menetek,
kelemahan, irritable diikuti oleh kekakuan dan spasme. Posisi tubuh klasik :
trismus, kekakuan pada otot punggung menyebabkan opisthotonus yang berat
dengan lordosis lumbal. Bayi mempertahankan ekstremitas atas fleksi pada
siku dengan tangan mendekap dada, pergelangan tangan fleksi, jari mengepal,
ekstremitas bawah hiperekstensi dengan dorsofleksi pada pergelangan dan
fleksi jari-jari kaki. Kematian biasanya disebabkan henti nafas, hipoksia,
pneumonia, kolaps sirkulasi dan kegagalan jantung paru.
2.7 Pengobatan Dan Pencegahan
a. Pengobatan
Setiap penderita tetanus harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan
pelayanan dengan fasilitas tetrentu. Setelah menemukan kasus ini, petugas
lapangan perlu segera merujuk penderita ke rumah sakit terdekat. Kecepatan
merujuk sangat berpengaruh pada angkatan kematian kasus. Pengobatan di
rumah sakit umumnya meliputi :
1. Pemberian antibiotik untuk membunuh bakteri, biasanya dengan penisilin
atau tetrasiklin
2. Pemberian anti kejang
3. Perawatan luka atau penyebab infeksi
4. Pemberian antitetanus serum (ATS).
b. Pencegahan

11

Dengan upaya pencegahan yang baik maka angka kesakitan dan angka
kematian yang disebabkan oleh tetanus dapat diturunkan. Upaya-upaya
tersebut adalah:
1. Imunisasi Pasif
Diberikan antitoksin, pemberian antitoksin ada2 bentuk, yaitu:
-

ATS dari serum kuda;

Tetanus Immunoglobulin Human (TIGH).

2. Imunisasi Aktif
Di Indonesia dengan adanya program Pengembangan Imunisasi (PPI)
selain menurunkan angka kesakitan juga mengurangi angka kematian
tetanus. Imunisasi tetanus biasanya dapat diberikan dalam bentuk DPT;
DTdanTT.
-

DPT : diberikan untuk imunisasi dasar

DT : diberikan untuk booster pada usia 5 tahun; diberikan pada


anak dengan riwayat demam dan kejang

TT : diberikan pada ibu hamil dan anak usia 13 tahun keatas.


Diharapkan semua wanita usia subur (WUS) sudah
mendapatkan suntikan toksoid sebanyak lima kali sebelum
ia hamil. Status imunisasi yang demikian disebut tetanus
toksoid (TT) 5 dosis yang akan memberi perlindungan
terhadap tetanus selama 25 tahun.

Sesuai dengan Program Pengembangan Imunisasi, imunisasi dilakukan


pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Sedangkan booster dilakukan pada usia1,52
tahun dan usia 5tahun. Dosis yang diberikan adalah 0,5cc tiap kali
pemberian secara intramuskuler.
3. Perawatan luka
Dilakukan dengan pemberian hidrogen peroksia (H2O2) untuk oksigenasi
luka di jaringan tubuh.
4. Persalinan yang bersih
Persalinan dengan 3 bersih (yaitu bersih tempat, alat, dan tangan
penolong persalinan) dengan perhatian pada saat pemotongan tali pusat.
2.8 Program Penanggulangan
1) Tujuan
12

Sesuai dengan kesepakatan global, departemen kesehatan menetapkan tujuan


umum yaitu tercapainya target program maternal neonatal tetanus elimination
(MNTE) di setiap kabupaten/kota pada akhir 2003 (kemudian ditunda
menjadi tahun 2005), sedangkan tujuan khususya, yaitu:
a. Semua WUS pada kabupaten berisiko tinggi mendapat TT 5 dosis.
b. Semua WUS di SMA dan tempat kerja mendapat TT 5 dosis.
2) Kebijakan
a. Imunisasi TT pada WUS dimaksudkan untuk memberi perlindungan
seumur hidup terhadap tetanus.
b. Imunisasi TT pada WUS dilaksanakan terpadu lintas program.
c. Kegiatan akselerasi imunisasi di kabupaten/kota dihentikan bila status TT
5 dosis pada WUS sudah mencapai >80%.
d. Pemberian TT dilakukan menurut hasil skrining status TT.
3) Strategi
a. Prioritas imunisasi WUS pada daerah berisiko tinggi.
b. Diarahkan pada WUS yang terkelompok (misalnya pada industri,
perdagangan, atau perkebunan).
c. Imunisasi TT pada anak SMA.
d. Imunisasi pada calon pengantin dan ibu hamil tetap diteruskan.
e. Promosi kesehatan.
4) Kegiatan
a. Pertemuan lintas sektor.
b. Pendataan semua WUS berusia 15-39 tahun.
c. Pemetaan dengan sistem skoring.
d. Pembuatan jadwal pelaksanaan imunisasi (Januari-Februari)
e. Pelaksanaan imunisasi.
BAB 3 : PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan
berat. Tetanus biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan
tetanospasmin yang merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani.
Ciri utama dari tetanus adalah kekakuan otot (spasme), tanpa disertai gangguan
13

kesadaran. Seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan
berikutnya, artinya dia mempunyai kesempatan yang sama untuk terkena tetanus bila
terjadi luka sama seperti orang lainnya yang tidak pernah di imunisasi. Pencegahan
terhadap tetanus dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif, berupa DPT atau
DT, yang diberikan sejak anak berusia 2 tahun.
3.2 Saran
Melalui makalah ini, penulis menyarankan untuk:
a. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
b. Masyarakat sebaiknya selalu mengikuti program imunisasi yang telah
diselenggarakan pemerintah karena itu semua demi kepentingan masyarakat
itu sendiri.
c. Pemerintah dan petugas kesehatan sebaiknya melakukan sosialisasi atau
penyuluhan tentang pentingnya imunisasi kepada masyarakat, sehingga
masyarakat dapat tahu betapa pentingnya imunisasi bagi kesehatan anak-anak
mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Widoyono. 2008. Penyakit tropis : epidemiologi, penularan, pencegahan dan


pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

Kelly, Heath, dkk. 2009. Pengenalan, Pencegahan dan Penyembuhan PenyakitPenyakit yang Disebabkan Oleh Bakteri dan Virus. Yogjakarta : PALLMAL
Yogjakarta.

14

Lestari,
Nanik.
2011.
Epidemiologi
Penyakit
Menular.
http://epidemiologiunsri.blogspot.com/2011/11/tetanus.html (Diakses pada
tanggal 15 Agustus 2015, pukul 13.25).
Kiking
Ritarwan.
Tetanus.
Jurnal
(Online).
2004
http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf
(Diakses
tanggal 15 Agustus 2015, pukul 13.30).
I

Wayan
Arditayasa.
Clostridium
tetani.
Jurnal
(Online).
https://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/i-wayan-arditayasa078114135.pdf (Diakses pada tanggal 15 Agustus, pukul 13.45).

15

:
pada

2008.

Anda mungkin juga menyukai