Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Prolaps organ panggul (POP) merupakan salah satu jenis disfungsi dasar
panggul yang sudah umum diketahui. POP sebenarnya dapat disamakan dengan
suatu hernia, dimana terjadi penurunan dari organ panggul atau organ genetalia
akibat kurang berfungsinya sistem penyokong organ tersebut. Turunnya organ
panggul ini dikarenakan berbagai interaksi antara lain faktor tulang panggul,
jaringan ikat penyokong organ panggul, serta otot-otot dasar panggul. 1 Prolaps
alat genitalia dapat berupa uretrokel, uretrovesikel, vesikokel (sistokel), prolaps
uteri, enterokel dan rektokel.2
Prolaps uteri merupakan kejadian dimana uterus turun ke dalam vagina
oleh karena melemahnya ligamen, fascia, dan otot yang menyangganya 3. Terdapat
beberapa klasifikasi yang dikemukakan para ahli. Salah satunya yaitu empat
klasifikasi prolaps uteri antara lain desensus uteri, prolaps uteri tingkat I-III 4.
Klasifikasi prolaps uteri lainnya yaitu dengan lima stadium dengan stadium 0
menyatakan tidak terjadinya prolaps dan stadium IV dimana telah terjadi prolaps
komplit5.
Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2006 oleh Nepal Demographic
and Health Survey memberikan hasil dimana 7% dari wanita Nepal dengan umur
15-49 tahun ditemukan mengalami prolaps uteri. Penelitian berbasis populasi
yang dilakukan oleh IOM, UNFPA dan WHO di beberapa daerah di Nepal pada
tahun yang sama memberikan angka 10% wanita penderita. Hasil penelitian yang
dilakukan Bonetti et al di daerah barat Nepal menunjukkan bahwa satu dari empat
wanita mengalami prolaps uteri. Penelitian yang dilakukan Rural Health
Development Project (RHDP) di tiga daerah di Nepal mulai dari tahun 2005
sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa 27.4% wanita di daerah-daerah tersebut
mengalami prolaps uteri6.
Di RS M. Jamil Padang selama lima tahun (1993-1998) didapatkan 94
kasus prolaps uteri dengan 21.56% kasus timbul pada usia > 50 tahun. RSCM
1

Jakarta (1995-2000) didapatkan 240 kasus dengan rentang usia 60-70 tahun. Pada
tahun 1999-2003 telah didapati 43 kasus prolaps uteri di Rumah Sakit Moh.
Hoesin Palembang. Dari 43 kasus tersebut sebagian besar (65,12%) penderita
berusia antara 45-64 tahun. Sedangkan yang paling sedikit berusia antara 15-44
tahun (4,65%). Usia termuda yang mengalami prolaps uteri ada satu orang yaitu
berusia 30 tahun. Semakin tinggi jumlah paritas maka didapatkan makin tinggi
jumlah kasus prolaps uteri. Kasus prolaps uteri di rumah sakit yang sama
didapatkan 29 kasus (47.44%) penderita grandemultipara, 14 kasus (32,56%)
multipara dan tidak dijumpai pada nulipara 2. Pada tahun 2012, tercatat 11 (3.1%)
dari 350 pasien dengan penyakit ginekologi umum yang datang ke RSU Prof. Dr.
R. D. Kandou, Manado7.
Keluhan yang dijumpai pada umumnya yaitu adanya benda yang
mengganjal di dalam vagina, vagina terasa penuh, terasanya sensasi menyeret di
pinggul bagian bawah, dan rasa sakit di panggul atau punggung yang berkurang,
bahkan menghilang, bila pasien berbaring6.
Penanganan prolaps uteri bersifat individual terutama pada mereka yang
mempunyai keluhan. Penanganan kasus prolaps uteri pada dasarnya ada dua yaitu
konservatif dan operatif. Tindakan konservatif diambil biasanya bila pasien tidak
memungkinkan dilakukan tindakan operatif, pasien dalam keadaan hamil atau bila
penderita menolak untuk dilakukan operasi. Metode konservatif yang dipilih
antara lain; latihan Kegel, pesarium dan terapi sulih hormon. Pada prolaps uteri
derajat II dan III biasanya dipilih vaginal histerektomi karena keuntungannya
dapat dilakukan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi pada waktu yang sama.
Tindakan operasi dipilih terutama bila terapi dengan pesarium gagal, penderita
menginginkan penanganan definitif, sudah menopause dan tidak memerlukan
organ reproduksi lagi2.
Berikut ini akan dibahas laporan kasus tentang seorang wanita dengan
diagnosis prolaps uteri grade IV yang datang ke poliklinik ginekologi RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado.

BAB II
LAPORAN KASUS

Identitas Penderita
Nama

: Ny. HM

Umur

: 73 tahun

Alamat

: Sano

Status

: Menikah

Agama

: Kristen Protestan

Bangsa

: Indonesia

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: IRT

Nama suami

: Tn. JK

Umur suami

: 75 tahun

Pendidikan suami

: SLTA

Pekerjaan suami

: - (Sebelumnya petani)

Datang ke Poli Ginekologi

: 17 November 2015

Anamnesis
Keluhan utama :

Pasien datang dengan keluhan adanya benjolan keluar dari vagina yang
dirasakan kurang lebih 4 bulan sebelum datang ke poliklinik ginekologi.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan adanya benjolan keluar dari vagina yang
dirasakan kurang lebih 4 bulan sebelum datang ke poliklinik ginekologi. Benjolan
keluar dari vagina ketika melakukan aktivitas bisa masuk sendiri bila pasien
duduk. BAK/BAB biasa.
Perdarahan sedikit-sedikit, nyeri perut bagian bawah, Pasien memiliki
riwayat perdarahan sedikit-sedikit dan merasakan nyeri perut bagian bawah. Rasa
tidak puas saat berkemih disangkal. Pasien tidak memiliki keluhan saat berkemih
atau buang air besar.
Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga yang dengan suami dulunya
seorang petani, dan seringkali membantu suaminya mengangkat hasil panen yang
berat. Terlebih lagi, pasien sering mengangkat air di sumur dan dengan
pekerjaannya yang sebelumnya sebagai tukang kue, pasien sering membanting
adonan kue dan berjalan dengan membawa jualannya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat hipertensi tetapi lupa sejak kapan. Pasien
meminum obat anti-hipertensi tetapi tidak teratur.
Riwayat diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit paru, penyakit
ginjal, atau alergi, disangkal.
Riwayat Obstetrik Ginekologi
A. Riwayat Perkawinan dan Kehamilan Dahulu.
Menikah 1 kali, umur saat menikah 22 tahun, usia pernikahan 48 tahun
Kehamilan: P5A1
Abortus 1: Tahun 1968, abortus.
Kehamilan 1: Tahun 1969, bayi laki-laki, spontan pervaginam, BBL ?,
PBL ?, di rumah oleh biang, hidup.

Kehamilan 2: Tahun 1969, bayi laki-laki, spontan pervaginam, BBL ?,

PBL ?, di rumah oleh biang, hidup.


Kehamilan 3: Tahun 1974, bayi laki-laki, spontan pervaginam, BBL ?,

PBL ?, di rumah oleh biang, hidup.


Kehamilan 4: Tahun 1986, bayi perempuan , spontan pervaginam, BBL

?, PBL ?, di rumah oleh biang, meninggal setelah lahir 7 jam.


Kehamilan 5: Tahun 1978, bayi perempuan, spontan pervaginam,

BBL ?, PBL ?, di rumah oleh biang, hidup.


B. Riwayat Haid.
Menarche pada umur 14 tahun, siklus teratur, lamanya 4 hari.
Riwayat nyeri waktu haid hingga tidak dapat bekerja: disangkal.
Menopause pada usia 47 tahun
C. Riwayat penggunaan KB :
Pasien menggunakan KB AKDR setelah melahirkan anak kelima,
dan sudah dicabut saat ibu berusia 49 tahun.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: cukup

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 150/80 mmHg.

Nadi

: 88 x/menit.

Respirasi

: 22 x/menit.

Suhu badan

: 36,5oC.

Warna Kulit

: Sawo matang.

Edema

: (-)

Kepala

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterus -/-.

Lidah

: beslag (-).

Gigi

: caries (-)

Kerongkongan

: T1/T1, hiperemis (-).

Leher

: pembesaran KGB (-).

Dada

: simetris, nipple hiperpigmentasi (-).

Jantung

: SI-SII reguler, murmur (-)

Paru-paru

: SP vesikuler kiri = kanan, rhonki -/-, wheezing -/-.

Abdomen

:
Inspeksi

: datar

Auskultasi

: BU (+) Normal

Palpasi

: lemas, nyeri tekan (-)

Perkusi

: Pekak Berpindah (-).

Hati

: tak teraba pembesaran

Limpa

: tak teraba pembesaran

Ekstremitas

: edema -/-, akral hangat.

Neurologis

: Refleks fisiologis (+) normal, refleks patologis (-).

Pemeriksaan ginekologi:
Inspeksi

: flour (-), fluksus (-), tampak sebagian besar uterus


keluar dari introitus vagina, portio tampak licin, warna
merah muda, hiperemis (-), edema (-)

Inspekulo

: tidak dilakukan

Pemeriksaan dalam

Fluksus (-), flour (-), porsio masih bisa

dimasukkan kembali ke dalam rongga vagina.

Rectal Touch

: TSA cekat, ampula kosong, mukosa licin, nyeri

tekan (-)

RESUME MASUK

P5A1, 73 tahun, datang ke Poliklinik Ginekologi tanggal 17 November


2015, dengan keluhan benjolan keluar dari jalan lahir sejak kurang lebih 4
bulan lalu. Benjolan keluar saat beraktivitas, masuk ketika pasien duduk.
Rasa tidak nyaman saat berjalan (+), Riw. Perdarahan (+), Riw. Keputihan
(+), gatal (-), berbau (-), BAB/BAK seperti jarang.

Status Ginekologi:
Inspeksi

: flour (-), fluksus (-), tampak sebagian besar porsio


keluar dari introitus vagina, portio tampak licin,
warna merah muda, hiperemis (-), edema (-)

Inspekulo

: tidak dilakukan

Pemeriksaan dalam

Fluksus (-), flour (-), porsio masih bisa

dimasukkan kembali ke dalam rongga vagina.


Rectal Touch

: TSA cekat, ampula kosong, mukosa licin, nyeri

tekan (-)
Diagnosa :
P5 A1 73 tahun dengan prolaps uteri grade IV
Sikap :
1. Vaginal histerektomi -> pasien menolak
2. Pemasangan pesarium

3. Konfirmasi konsulen
4. Lapor DPJP dr. Maya M, SpOG Advice:

Pasang pesarium

Konsul uroginekologi

Betadine douche 1 x 1 hari

BAB III
PEMBAHASAN
Dalam diskusi ini akan dibahas mengenai:
1.
2.
3.
4.

Diagnosis
Penanganan
Komplikasi
Prognosis

Diagnosis
Diagnosis prolaps uteri dapat ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan ginekologi. Pemeriksaan urinalisis dan ultrasonografi biasanya
dilakukan pada pasien yang memiliki keluhan pada kandung kemih. Pemeriksaan
radiografi dengan menggunakan kontras dan MRI digunakan untuk mengetahui
lokasi kelemahan dari otot-otot dasar panggul dilakukan pada pasien yang akan
menjalani melakukan terapi operatif atau dalam hal penelitian.
Gejala klinik sangat berbeda dan bersifat individual. Ada penderita dengan
prolaps cukup berat tidak menunjukkan keluhan apapun. Sebaliknya, ada yang
dengan prolaps ringan, tapi keluhannya banyak.
Keluhan yang dijumpai pada umumnya adalah perasaan yang mengganjal
di vagina atau adanya yang menonjol di genitalia eksterna, rasa sakit di panggul
atau punggung dan bila pasien berbaring keluhan berkurang, bahkan menghilang.
Dapat juga terjadi inkontinensia urine yang merupakan perasaan kandung kemih
tidak dapat dikosongkan secara tuntas, tidak dapat menahan kencing bila batuk
(stress incontinence) dan kadang dapat terjadi pula retentio urinae. Prolaps uteri
derajat III dapat menyebabkan gejala gangguan bila berjalan dan bekerja. Gesekan
porsio uteri pada celana menimbulkan luka dan dekubitus pada porsio uteri. Selain
itu, prolaps dapat menimbulkan kesulitan bersenggama4.

Pemeriksaan yang dianjurkan dalam penegakkan diagnosis (Fredmann dan


Little, 1961) yaitu dengan penderita dalam posisi jongkok dan diminta untuk
mengejan, kemudian dengan telunjuk jari menentukan apakah porsio uteri dalam
posisi normal atau sudah sampai introitus vagina atau keseluruhan serviks sudah
keluar dari vagina. Selanjutnya, dalam posisi berbaring diukur panjang serviks.
Panjang serviks yang lebih panjang dari biasa dinamakan elongasio koli4.
Lima stadium prolaps menurut Doshani A. dkk5:

Stadium 0: Tidak ada prolaps.


Stadium I: Bagian terbawah (distal) uteri prolaps > 1 cm di atas himen.
Stadium II: Bagian terbawah (distal) uteri prolaps 1 cm di proksimal

atau distal himen.


Stadium III: Bagian terbawah (distal) uteri prolaps > 1 cm di bawah

himen tetapi menonjol kurang dari 2 cm total panjang vagina.


Stadium IV: Uteri prolaps sepenuhnya (lebih dari 2 cm dari total panjang
vagina).
Klasifikasi menurut Soejoenoes A. dkk4:

1. Desensus uteri, uterus turun, tetapi serviks masih dalam vagina.


2. Prolaps uteri tingkat I, uterus turun dengan serviks uteri turun paling
rendah sampai introitus vagina.
3. Prolaps uteri tingkat II, sebagian besar uterus keluar dari vagina.
4. Prolaps uteri tingkat III atau prosidensia uteri, uterus keluar seluruhnya
dari vagina, disertai dengan inversio vaginae.

Prolaps uteri pada dasarnya merupakan keadaan dimana uterus kehilangan


penyokongnya. Faktor-faktor resiko terjadinya prolaps uteri yaitu usia, obesitas,
multipara, persalinan per-vaginam, dan konstipasi5,8. Bisa juga karena variabelvariabel saat persalinan seperti makrosomia dan kala II yang panjang, peningkatan
tekanan abdominal, dan menopause.
Pada kasus ini pasien seorang perempuan berusia 65 tahun datang ke
rumah sakit dengan keluhan adanya benjolan yang keluar dari vagina sejak 4

10

bulan sebelum pasien datang ke rumah sakit. Benjolan tersebut keluar pada saat
pasien beraktivitas, dan masuk kembali dengan sendirinya ketika pasien duduk.
Ada riwayat perdarahan sedikit-sedikit. Pasien juga merasa tidak nyaman saat
berjalan akibat gesekan benjolan tersebut dengan celananya Dari pemeriksaan
ginekologi ditemukan tampak sebagian besar uterus keluar dari vagina dengan
portio tampak licin dan konsistensi kenyal, saat dipalpasi porsio dirasakan kenyal
dan tidak terdapat nyeri tekanan. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
dilakukan, pasien didiagnosis dengan prolaps uteri grade IV.

Penanganan:
Penanganan prolaps uteri bersifat individual terutama pada mereka yang
mempunyai keluhan. Penanganan prolaps uteri dapat dibagi atas dua, yaitu
penanganan konservatif dan operatif.
Tindakan konservatif diambil biasanya bila pasien tidak memungkinkan
dilakukan tindakan operatif, pasien dalam keadaan hamil atau bila penderita
menolak untuk dilakukan operasi2. Tindakan konservatif yang dapat dilakukan
yaitu:
1. Latihan otot-otot dasar panggul (senam Kegel) tujuannya untuk
menguatkan otot-otot dasar panggul.
Prolaps uteri tingkat I dan II dapat dibantu dengan latihan otot
dasar panggul, tetapi latihan ini harus dilakukan dengan benar dan
dalam waktu yang cukup lama untuk memberikan hasil. Latihan ini
dapat dilakukan berbaring, duduk atau berdiri. Idealnya dilakukan lima
atau enam sesi setiap hari saat pasien masih mempelajari latihan ini.
Setelah pasien memiliki pemahaman yang baik tentang cara untuk
melakukan latihan, tiga sesi setiap hari sudah cukup.
Sebelum memulai, pasien diminta untuk mengarahkan perhatian ke
otot dasar panggulnya. Minta pasien untuk merelaksasikan otot-otot
perut, pantat dan otot-otot kakinya. Peras/apit dan angkat uretra,

11

vagina dan anus dan tahan selama tiga detik jika bisa. Lepaskan
sepenuhnya. Kemudian lakukan latihan:
Peras/apit dan angkat terus sambil bernapas. Tahan hingga
enam detik. Rileks sepenuhnya. Ulangi 10 kali jika mampu
untuk melakukannya secara efektif. Istirahat lima detik tiap

jeda.
Latihan dilaksanakan dengan benar apabila pasien merasakan
perut bagian bawahnya mengencang dengan lembut saat pasien

menahan kontraksi otot dasar pelvis.


Ingatkan pasien untuk melakukan langkah pertama (kalimat

pertama) setiap kali pasien berdehem atau batuk3.


2. Pemasangan Pesarium4,5
Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif,
yakni menahan uterus di tempatnya selama pessarium tersebut dipakai.
Oleh karena jika pessarium diangkat, timbul prolaps lagi. Meskipun
bukti yang mendukung penggunaan pessarieum tidak kuat, mereka
digunakan oleh 86% dari ginekolog dan 98% dari urogynaecologists.
Prisip pemakaian pessarium ialah bahwa alat tersebut membuat
tekanan pada dinding vagina bagian atas, sehingga bagian dari vagina
tersebut besereta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian
bawah. Pessarium yang paling baik untuk prolaps genitalia ialah
pessarium cincin, terbuat dari plastik. Jika dasar panggul terlalu lemah
dapat digunakan pessarium Napier.
Pedoman Pemasangan Pessarium:
Sebagai pedoman untuk mencari ukuran yang cocok, diukur
dengan jari jarak antara forniks vagina dengan pinggir atas
introitus vagina, ukuran tersebut dikurang 1 cm untuk

mendapat diameter dari pessarium yang akan dipakai.


Pessarium diberi zat pelicin dan dimasukkan miring sedikit
kedalam vagina. Setelah bagian atas masuk ke dalam vagina,
bagian tersebut ditempatkan ke forniks vagina posterior.
Kadang-kadang pemasangan pessarium dari plastik mengalami

kesukaran.
Apabila pessarium tidak dapat dimasukkan, sebaiknya dipakai
pessarium dari karet dengan per didalamnya.
12

Untuk mengetahui setelah pemasangan, apakah ukuran cocok,


penderita disuruh batuk atau mengejan. Jika pessarium tidak
keluar, penderita disuruh jalan-jalan, apabila ia tidak merasa

nyeri, pessarium dapat diteruskan.


Pessarium dapat dipakai selama beberapa tahun, asal saja
penderita diawasi secara teratur. Periksa ulang sebaiknya
dilakukan 2 3 bulan sekali, vagian diperiksa dengan
inspekulo

untuk

menentukan

ada

tidaknya

perlukaan.

Pessarium dibersihkan dan dicucihamakan dan kemudian di

pasang kembali.
Indikasi penggunaan pessarium:
o Kehamilan.
o Bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi.
o Sebagai terapi tes, menyatakan bahwa operasi harus
dilakukan.
o Penderita menolak untuk dioperasi.
o Untuk menghilangkan gejala yang ada, sambil menunggu
waktu operasi dapat dilakukan.

Prolaps uteri biasanya disertai dengan prolaps vagina. Maka, jika


dilakukan pembedahan untuk prolaps uteri, prolaps vagina perlu ditangani pula.
Ada kemungkinan terdapat prolaps vagina yang membutuhkan pembedahan,
padahal tidak ada prolaps uteri atau prolaps uteri yang ada belum perlu dioperasi.
Di Inggris dan Wales pada tahun 2005-2006, 22.274 operasi dilakukan untuk
prolaps vagina. Beberapa literatur melaporkan bahwa dari operasi prolaps rahim,
disertai dengan perbaikan prolaps vagina pada waktu yang sama. Indikasi untuk
melakukan operasi pada prolaps uteri tergantung dari beberapa faktor, seperti
umur

penderita,

keinginan

untuk

masih

mendapat

anak

atau

untuk

mempertahankan uterus, tingkat prolaps, dan adanya keluhan5. Tindakan operasi


yang dapat dilakukan yaitu:
1. Ventrofiksasi4
Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih menginginkan
anak, dilakukan operasi untuk uterus ventrofiksasi dengan cara

13

memendekkan ligamentum rotundum atau mengikat ligamentum rotundum


ke dinding perut atau dengan cara operasi Purandare.
2. Operasi Manchester4
Pada operasi ini biasanya dilakukan amputasi serviks uteri, dan
penjahitan ligamentum kardinale yang telah dipotong, di muka serviks
dilakukan pula kolporafia anterior dan kolpoperineoplastik. Amputasi
serviks dilakukan untuk memperpendek serviks yang memanjang (elo
ngasio kolli). Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas, abortus, partus
prematurus, dan distosia servikalis pada persalinan. Bagian yang penting
dari operasi Manchester ialah penjahitan ligamentum kardinale di depan
serviks karena dengan tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek,
sehingga uterus akan terletak dalam posisi anteversifleksi, dan turunnya
uterus dapat dicegah.
3. Histerektomi vagina4
Operasi ini tepat untuk dilakukan untuk prolaps uterus dalam
tingkat lanjut, dan pada wanita yang telah menopause. Setelah uterus
diangkat, puncak vagina digantungkan pada ligamentum rotundum kanan
dan kiri, atas pada ligamentum infundibulo pelvikum, kemudian operasi
akan dilanjutkan dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi untuk
mencegah prolaps vagina di kemudian hari.
4. Kolpokleisis (operasi Neugebauer-Le Fort)4
Pada waktu obat-obatan serta pemberian anestesi dan perawatan
pra/pasca operasi belum baik untuk wanita tua yang seksualnya tidak aktif
lagi dapat dilakukan operasi sederhana dengan menjahit dinding vagina
depan dengan dinding vagina belakang, sehingga lumen vagian tertutup
dan uterus terletak di atas vagina. Akan tetapi, operasi ini tidak
memperbaiki sistokel dan retrokel sehingga dapat menimbulkan
inkontinensia urinae. Obstipasi serta keluhan prolaps lainnya juga tidak
hilang.

Komplikasi4
1. Keratinus mukosa vagina dan porsio uteri

14

Ini terjadi pada prosidensia uteri, dimana keseluruhan uterus keluar


dari introitus vagina.
2. Dekubitus.
Dekubitus dapat terjadi karena uterus yang keluar bergeseran
dengan paha dan pakaian. Keadaan ini dapat menyebabkan perdarahan
sehingga perlu dibedakan dengan penyakit keganasan, khususnya bila
penderita sudah berusia lanjut.
3. Hipertrofi serviks uteri dan elongasio koli
Jika serviks uteri turun ke dalam vagina sedangkan jaringan
penahan dan penyokong uterus masih kuat, karena tarikan ke bawah di
bagian uterus yang turun serta pembendungan pembuluh darah, serviks
uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang pula. Hal yang terakhir ini
dinamakan elongasio kolli.
4. Hidroureter dan hidronefrosis.
Gangguan miksi dan

stress

inontinence

menyebabkan

menyempitnya ureter sehingga dapat menyebabkan hidroureter dan


hidronefrosis.
5. Sering dijumpai infeksi saluran kencing dan kemandulan terutama pada
prolaps yang berat.
6. Hemoroid dan inkarserasi usus halis sering terjadi sebagai komplikasi
prolaps. Yang terakhir ini memerlukan tindakan operatif.

Prognosis
Prognosis pada pasien ini dubia ad malam. Bila prolaps uteri tidak
ditatalaksana, maka secara bertahap akan memberat. Prognosis akan baik pada
pasien usia muda, dalam kondisi kesehatan optimal (tidak disertai penyakit
lainnya), dan Indeks Masa Tubuh (IMT) dalam batas normal. Prognosis buruk
pada pasien usia tua, kondisi kesehatan buruk, mempunyai gangguan sistem
respirasi (asma, PPOK), serta IMT diatas batas normal.

15

BAB IV
KESIMPULAN

Prolaps uteri merupakan kejadian dimana uterus turun ke dalam vagina

oleh karena melemahnya ligamen, fascia, dan otot yang menyangganya.


Pasien biasanya datang dengan keluhan perasaan yang mengganjal di
vagina atau adanya yang menonjol di genitalia eksterna, rasa sakit di
panggul atau punggung, inkontinensia urine, tidak dapat menahan kencing
bila batuk (stress incontinence) dan kadang dapat terjadi pula retentio

urinae.
Klasifikasi prolaps uteri terbagi atas desensus uteri dan prolaps uteri

tingkat I-III
Faktor-faktor resiko terjadinya prolaps uteri yaitu usia, obesitas, multipara,
persalinan per-vaginam, konstipasi, dan kesulitan dalam persalinan per-

vaginam.
Penanganan yang dapat dilakukan pada prolaps uteri yaitu penanganan
konservatif dan penanganan operatif.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. I. Bab. hubungan antara ukuran panggul perempuan suku Bali dengan prolaps
organ panggul di RSUP Sanglah/ Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Denpasar [Skripsi]. [Denpasar]: Universitas Udayana; 2011.
2. Anhar K, Fauzi A. Kasus Prolaps Uteri di Rumah Sakit Dr. Mohammad
Hoesin Palembang Selama Lima Tahun (1999-2003) [Thesis]. [Palembang]:
Universitas Sriwijaya; 2003.
3. Better Health. Prolapsed Uterus. 2014 Sept [Cited 2015 Nov 6] Available
from:
https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/prolapseduterus
4. Soejoenoes A, Junizaf. Kelainan Letak Alat-alat Genital. In: Anwar M, Baziad
A, Prabowo P, editors. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: P.T. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2011. p. 340-57.
5. Doshani A, Teo R, Mayne CJ, Tincello DG. Uterine Prolapse. Clinical Review
2007. [database on the NCBI]. [Cited 2015 Nov 8]; 335:819-823. Available
from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2034734/pdf/bmj-335-

7624-cr-00819.pdf
6. Puri R. Prevalence, Risk Factors and Traditional Treatments of Genital
Prolapse in Manma, Kalikot District, Nepal: A Community Based Population
Study [Thesis]. [Norwegia]: University of Tromso; 2011
7. Berhandus C. Jenis-jenis Penyakit Ginekologi Umum Menurut Urutan
Terbanyak di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Periode 1 Januari 2012-31
Desember 2012 [Skripsi]. [Manado]: Universitas Sam Ratulangi; 2012.
8. Australian Government Department of Social Services. Prolapse. 2010 Oct
[Cited

2015

Nov

8]

Available

http://www.bladderbowel.gov.au/assets/doc/brochures/16Prolapse.html

17

from: