Anda di halaman 1dari 51

EPIDEMIOLOGI

KONSEP PENYEBARAN PENYAKIT CACINGAN


DI SDN SUNGAI TIUNG 3 KECAMATAN CEMPAKA, KOTA
BANJARBARU
MAKALAH

DOSEN PEMBIMBING :
Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Dipl.hyp, ST., M.Kes
NIP. 19780420 200501 2 002
KELOMPOK 4:
Ilman Sahbani

H1E112043

Muhammad Yasir Arafat

H1E113058

Hadi Saufi

H1E113205

Betina Surya

H1E113242

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PERGURUAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
BANJARBARU
2015

Prof. Dr. H. SutartoHadi, M.Si, M.Sc


Rektor Universitas Lambung Mangkurat
Nip. 19660331 199102 1 001

Dr-IngYulianFirmana Arifin, ST., MT.


Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung
Mangkurat
Nip. 19750404 200003 1 002

Dr. RonyRiduan, ST., MT.


Kepala Program Studi Teknik Lingkungan
Nip. 19761017 199903 1 003

Prof. Dr. Qomariyatus


Sholihah, Dipl.hyp, ST., M.Kes

Nova Annisa, S.Si.Ms


Dosen Mata Kuliah
Epidemiologi

Dosen Mata Kuliah


Epidemiologi

Ilman Sahban
H1E112043

Hadi Saufi
H1113205

M.Yasir
Arafat

Betina Surya
H1E113242

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan karunia nikmat, rahmat, dan hidayah bagi umat-Nya.
Atas ridho-Nya jualah penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang
berjudul Konsep Penyebaran Penyakit Cacingan Di SDN Cempaka 1 Kecamatan
Cempaka, Kota Banjarbaru tepat pada waktunya. Adapun penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemologi.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. selaku Reaktor Universitas Lambung
Mangkurat.
2. Bapak Dr. Ing Yulian Firmana Arifin, M.T. selaku Dekan Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat.
3. Ibu Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd. Hyp, ST., M.Kes. selaku dosesn
mata kuliah Ekotoksikologi.
4. Seluruh Dosen Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru dan jajarannya.
5. Seluruh pihak SDN Sungai Tiung 3 Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru
terkait yang telah membantu melakukan observasi lapangan dan pengambilan
sampel.
6. Teman-teman Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik, saran, bimbingan, serta nasihat
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Besar harapan penulis semoga
makalah ini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca dalam meningkatkan
prestasi belajar, serta membina mental seorang pelajar Indonesia seutuhnya.

Banjarbaru, November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

JUDUL.............................................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................... iii


RINGKASAN..................................................................................................

iv

DAFTAR SINGKATAN.................................................................................

DAFTAR ISI....................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL............................................................................................ vii


DAFTAR GAMBAR....................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................

1.3 Tujuan ........................................................................................................

1.4 Hipotesis ....................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Terjadinya Penyakit.......................................................................

2.2 Penyebab Penyakit Dalam Rantai Penularan.............................................. 11


2.2.1 Sumber Penularan.................................................................................... 11
2.2.2 Hama Penyakit......................................................................................... 12
2.2.3 Pintu Keluar............................................................................................. 13
2.2.4 Cara Penularan......................................................................................... 14
2.2.5 Pintu Masuk............................................................................................. 15
2.2.6 Kerentanan............................................................................................... 16
2.3 Penyakit Cacingan...................................................................................... 16
2.3.1 Faktor Agent............................................................................................ 16
2.3.2 Faktor Lingkungan................................................................................... 22
2.3.3 Faktor Host.............................................................................................. 26
2.4 Sanitasi ....................................................................................................... 29
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................................... 30


3.2 Populasi dan Sampel................................................................................... 30
3.2 Analisis Data............................................................................................... 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian........................................................................................... 31
3.2 Pembahasan................................................................................................ 31
BAB V PENUTUP
4.1 Kesimpulan................................................................................................. 33
4.2 Saran........................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA
INDEKS
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Sampel Feces...................................................... 30

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Segitiga Epidemologi keadan Seimbang .....................................

Gambar 2.2 Segitiga Epidemologi keadaan Tidak Seimbang..........................

Gambar 2.3 Teori Jaring Sebab Akibat............................................................. 10


Gambar 2.4 Teori Roda..................................................................................... 11
Gambar 2.5 Daur Hidup Cacing Gelang........................................................... 12
Gambar 2.6 Daur Hidup Cacing Tambang....................................................... 14
Gambar 2.7 Daur Hidup Cacing Cambuk ........................................................ 16
Gambar 2.8 Skema Penularan Penyakit melalui Tinja .................................... 18

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah Epidemiologi berasal dari kata epi (atas), demos (rakyat,
penduduk), dan logos (ilmu). Secara sederhana, Epidemiologi dapat diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang menimpa penduduk.
Epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang penyebaran
penyakit dan faktor penyebabnya pada manusia. Penyebaran penyakit dapat
dideskripsikan menurut orang (usia, jenis kelamin, ras), tempat (penyebaran
geografis), dan waktu. Sedangkan pengkajian faktor penyakit mencakup
penjelasan pola penyebaran penyakit tersebut menurut faktor-faktor penyebabnya
(MacMahon & Pugh, 1970). Sejarah perkembangan epidemiologi diawali dengan
fokusnya penelitian pada penyakit menular. Seiring dengan perkembangan zaman
pola struktur masyarakat agragria beralih ke masyarakat industri yang banyak
memberikan andil terhadap gaya hidup, sosial ekonomi, yang pada akhirnya dapat
memacu peningkatan penyakit tidak menular. Oleh karena itu, epidemiologi
dituntut untuk memperhatikan penyakit tidak menular karena penyakit tersebut
mulai meningkat sesuai dengan perkembangan masyarakat (Bustan, M.N, 2000).
Ruang lingkup Epidemiologi diantaranya adalah penyakit menular wabah,
penyakit menular bukan wabah, penyakit tidak menular, dan masalah kesehatan
lainnya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman mengenai perjalanan alamiah
penyakit yang akan membantu kita mengetahui adanya efek dan mekanisme
pemberian tindakan, pemilihan intervensi yang dianggap potensial, dan berbagai
tingkat pencegahan penyakit. Pemahaman mengenai perjalanan alamiah penyakit
ini akan membantu kita mengetahui adanya efek dan mekanisme pemberian,
tindakan, pemilihan intervensi yang dianggap potensial, dan berbagai tingkat
pencegahan penyakit.
Berdasarkan uraian diatas untuk lebih menambah pemahaman mengenai
Epidemiologi penulis melakukan obervasi di SDN Sungai Tiung 3, Kecamatan
Cempaka, Kota Banjarbaru mengenai konsep penyebaran penyakit cacingan.
Penyakit kecacingan masih sering dijumpai di seluruh wilayah Indonesia.
6

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing ini tergolong penyakit yang kurang
mendapat perhatian, sebab masih sering dianggap sebagai penyakit yang tidak
menimbulkan wabah maupun kematian. Walaupun demikian, penyakit kecacingan
sebenarnya cukup membuat penderitanya mengalami kerugian, sebab secara
perlahan adanya infestasi cacing di dalam tubuh penderita akan menyebabkan
gangguan pada kesehatan mulai yang ringan, sedang sampai berat yang
ditunjukkan sebagai manifestasi klinis diantaranya berkurangnya nafsu makan,
rasa tidak enak di perut, gatal - gatal, alergi, anemia, kekurangan gizi,
pneumonitis, syndrome Loeffler dan lain lain.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep penyebaran penyakit akibat lingkungan ?
2. Apa yang dimaksud dengan sanitasi lingkungan ?
3. Bagaimana penyebaran penyakit cacingan ?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui konsep penyebaran penyakit terhadap lingkungan.
2. Memahami maksud dari sanitasi lingkungan.
3. Mengetahui penyebaran penyakit cacingan terajdi.
1.4 Hipotesis
Hipotesis pada makalah ini dilakukan untuk membuktikan adanya
kemungkinan terdapat penyebaran penyakit cacingan yang dilihat dari daerah
SDN yang berpotensi menyebabkan hal tersebut.
1.5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit adalah Kegagalan dari mekanisme adaptasi suatu organisme


untuk bereaksi secara tepat terhadap rangsangan / tekanan sehingga timbul pada
gangguan pada sistem / fungsi dari tubuh. Proses terjadinya penyakit sebenarnya
telah dikenal sejak zaman Romawi yaitu pada masa galenus (205-130 SM) yang
mengungkapkan bahwa penyakit dapat terjadi karena adanya faktor predisposisi,
faktor penyebab, dan faktor lingkungan. (Eko Budiarto. 2001). Keadaan tersebut
dapat dianalogikan seperti kembangan suatu tanaman.Agent diumpamakan
sebagai biji, host sebagai tanah, dan route of transmissionsebagai iklim. (Soekidjo
Notoatmodjo, 2003).
2.1 Konsep Terdinya penyakit
Teori atau konsep terjadinya penyakit antara lain sebagai berikut :
1. Teori Hipcrates
Teori ini dikemukan oleh hipocrates (460-377 SM ) yang biasa
diangap oleh Bapak Kedokteran Dunia. Teori ini berbuyi pertama, penyakit
terjadi karena adanya kontak dengan jasad hidup, dan kedua, penyakit
berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun internal seseorang. Kedua
teori tersebut termuat dalam buku beliau yang berjudul On Airs, Water and
Places.
Hipocrates berpendapat bahwa penyakit timbul karena pengaruh
Iingkungan terutama: air, udara, tanah, cuaca (tidak dijelaskan kedudukan
manusia dalam Iingkungan). Hippocrates belajar mengenai penyakit
menggunakan tiga metode; Observe, Record, dan Reflect. Yang dianggap
paling mengesankan dari faham atau ajaran Hippocrates ialah bahwa dia telah
meninggalkan cara-cara berpikir mastis-magis dan melihat segala peristiwa
atau kejadian penyakit semata-mata sebagai proses atau mekanisme yang
alamiah belaka (Martini, 2010).
Hippocrates melakukan pendekatan deskriptif sehingga ia benar-benar
mengetahui kondisi lingkungannya. Ia kemudian mempelajari tentang istilah

prepatogenesis, ialah faktor yang mempengaruhi seseorang yang sehat


sehingga bisa menjadi sakit. Metode yang digunakan Hippocrates ialah
metode induktif, artinya data yang sekian banyak ia dapatkan, ia kumpulkan
dan diolah menjadi informasi. Informasi ini kemudian dikembangkan menjadi
hipotesis. Hipocrates tidak pernah percaya dengan tahayul atau keajaiban
tentang terjadinya penyakit pada manusia dan proses penyembuhannya. Dia
mengatakan bahwa masalah lingkungan dan perilaku hidup penduduk dapat
mempengaruhi tersebarnya penyakit dalam masyarakat
2. Teori Kontangion
Teori ini dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553), ia
menyatakan bahwa penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui
zat penular (transference) yang disebut kontangion. Teori ini tentu
dikembangkan berdasarkan situasi penyakit dimasa itu di mana penyakit yang
melanda kebanyakan adalah penyakit yang menular yang terjadi karena
adanya kontak langsung. Teori ini bermula dikembangkan berdasarkan
pengamatan terhadap epidemi dan penyakit lepra di Mesir (Bustan, 2002).
Pada awalnya teori kontangion ini belum dinyatakan sebagai jasad
renik atau mikroorganisme yang baru karena pada saat itu teori tersebut tidak
dapat diterima dan tidak berkembang. Tapi penemunya, Fracastoro tetap
dianggap sebagai salah satu seorang perintis dalam bidang epidemiologi
meskipun baru beberapa abad kemudian mulai terungkap bahwa teori
kontagnian sebagai jasad renik. Karantina dan kegiatan-kegiatan epidemik
lainnya merupakan tindakan yang diperkenalkan pada zaman itu setelah
efektivitasnya dikonfirmasikan melalui pengalaman praktik (Anonim, 2010).
Fracastoro dikenal sebagai salah satu perintis epidemiologi, ia juga dikenal
sebagai seorang sastrawan yang terkenal di mana salah satu tokoh pelakunya
bernama syphilis, yang hingga sekarang digunakan menjadi nama suatu
penyakit kelamin. Teori ini adalah teori yang paling sederhana, bahwa
panyakit berasal dari kontak langsung antar penyakit seperti penyakit cacar
dan herpes. Kontak langsung ini dapat berupa lewat media kulit (panu),
melalui jarak jauh (udara/bersin), bersinggunangan dengan penyakitnya dan
zat penular lainnya (kontangion).

Girolamo Fracastoro membedakan 3 jenis kontangion, yaitu :


a

Jenis kontangion yang dapat menular melalui kontak langsung misalnya


bersentuhan, berciuman, dan berhubungan seksual.

Jenis kontangion yang dapat menular melalui benda-benda perantara


(benda tersebut tidak tertular, namun mempertahankan benih dan
kemudian menularkan pada orang lain). Misalnya melalui pakaian,
handuk, dan sapu tangan.

Jenis kontangion yang dapat menularkan dalam jarak jauh.

3. Teori Miasma (Miasmatic Theory)


Teori ini muncul dan berkembang pada abag ke 18, teori atau konsep
ini mengemukakan bahwa penyebab penyakit berasal dari uap yang
dihasilkan oleh sesuatu yang membusuk atau limbah yang menggenang. Jika
seseorang menghirupnya maka akan terjangkit penyakit. (Maryani, 2010).
Teori ini juga menganggap gas-gas busuk dari perut bumi yang menjadi
kausa penyakit. (Bustan, 2006). Miasma atau miasmata berasal dari kata
Yunani yang berarti something dirty (sesuatu yang kotor) atau bad air (udara
buruk).
Pada waktu itu dipercaya apabila seseorang menghirup miasma, maka
ia akan terjangkit penyakit. Karena penyakit timbul karena sisa-sisa makhluk
hidup yang mengalami pembusukan, sehingga meninggalkan pengotoran
udara dan lingkungan. (Kasjono, 2008). Tindakan pencegahan yang banyak
dilakukan adalah menutup rumah rapat-rapat terutama di malam hari karena
orang percaya udara malam cenderung membawa miasma. Selain itu
kebersihan lingkungan hidup juga dilakukan sebagai salah satu upaya untuk
mencegah atau menghindari miasma tersebut. Walaupun konsep miasma pada
masa kini dianggap tidak masuk akal, namun dasar-dasar sanitasi yang ada
telah menunjukkaan hasil yang cukup efektif dalam menurunkan tingkat
kematian. (Anonim, 2010). Contoh pengaruh dari teori miasma adalah
timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria
yang artinya sisa-sisa pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawarawa. Penduduk yang bermukim di dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya
malaria karena udara yang busuk tersebut.

10

4. Teori Kuman (Germ Theory)


Teori Kuman (Germ Theory ) pertama kali dikemukakan oleh John
Snow (1813-188) seorang daokter ahli sanitasi dari Inggris, ia berpendapat
bahwa jasad renik (germ) dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit. Ia
berhasil membuktikan adanya hubungan antara timbulnya penyakit kolera
dengan sumber air minum penduduk. Dari hasil pengamatannya dia
menyimpulkan bahwa air minum yang tercemar dengan tinja manusia adalah
penyebab timbulnya penyakit kolera. Kesimpulan ini diambil tanpa
mengetahui adanya kuman kolera, karena pengetahuan tentang pengetahuan
ini baru kemudian muncul.
Selain John Sbow ada beberapa tokoh yang berperang penting dalam
Teori kuman antara lain Louis Pasteur (1822-1895), Robert Koch (18431910), Ilya Mechnikov (1845-1916) mereka menyatakan bahwa penyebab
penyakit adalah berasal dari kuman dan mengatakan bahwa mikroba
merupakan etiologi penyakit Louis Pasteur pertama kali mengamati proses
fermentasi dalam pembuatan anggur. Jika anggur terkontaminasi kuman maka
jamur mestinya berperan dalam proses fermentasi akan mati terdesak oleh
kuman, akibatnya proses fermentasi gagal. Proses pasteurisasi yang ia
temukan adalah cara memanasi cairan anggur sampai temperature tertentu
hingga kuman yang tidak diinginkan mati tapi cairan anggur tidak
rusak. Selain itu temuan mengesankan darinya ialah eberhasilannya
mendeteksi virus rabies dalam organ saraf anjing, dan kemudian berhasil
membuat vaksin anti rabies. Atas temuan temuan beliau, ia dijuluki sebagai
Bapak dari Teori Kuman.
Tokoh lainnya ialah Robert Koch. Temuannya dikenal dengan
Postulat Koch yang terdiri dari,
a

Kuman harus dapat ditemukan pada semua hewan yang sakit, tidak pada
yang sehat,

Kuman dapat diisolasi dan dibuat biakannya,

Kuman yang dibiakkan dapat ditularkansecara sengaja pada hewan yang


sehat dan menyebabkan penyakit yang sama

Kuman tersebut harus dapat diisolasi ulang dari hewan yang diinfeksi.

11

Pengaruh Teori Kuman dan penemuan mikroskop sangat besar dalam


perkembangan epidemiologi penyakit infeksi. Berkat Teori Kuman etiologi
berbagai penyakit infeksi bisa diidentifikasi. Bahkan kini telah diketahui
sedikitnya 15% kanker di seluruh dunia disebabkan oleh infeksi, misalnya
Human Papilloma Virus (HPV) adalah agen etiologi kanker serviks uteri
(Lucas,2003).
Berkat Teori Kuman banyak penyakit kini bisa dicegah dan
disembuhkan.

Teori

Kuman

memungkinkan

penemuan

obat-obatan

antimikroba dan antibiotika, pasteurisasi, vaksin, sterilisasi, dan program


sanitasipublik. Pendekatan mikroskopik mendorong ditemukannya mikroskop
electron

berkekuatan tinggi dalam melipatgandakan citra, sehingga

memungkinkan riset epidemiologi hingga level molekul sejak akhir abad ke


20. Di sisi lain, penerapan Teori Kuman yang berlebihan telah memberikan
dampak kontra-produktif bagi kemajuan riset epidemiologi. Pengaruh Teori
Kuman yang terlalu kuat mengakibatkan para peneliti terobsesi dengan
keyakinan bahwa mikroorganisme merupakan etiologi semua penyakit,
padahal diketahui kemudian tidak demikian. Banyak penyakit sama sekali
tidak disebabkan oleh kuman atau disebabkan oleh kuman tetapi bukan satusatunya kausa. Untuk banyak penyakit, mikroba merupakan komponen yang
diperlukan tetapi tidak cukup untuk menyebabkan penyakit. Tahun 1950-an
seiring dengan meningkatnya insidensi penyakit non-infeksi, muncul teori
kausasi yang mengemukakan bahwa sebuah penyakit atau akibat dapat
memiliki lebih dari sebuah kausa, disebut etiologi multifactorial

atau

kausasimultipel. Teori kausasi multipel tidak hanya memandang kuman tetapi


juga faktor herediter, kesehatan masyarakat, status nutrisi/ status imunologi,
status sosio-ekonomi, dan gaya hidup sebagai kausa penyakit.
5. Segitiga Epidemologi (Epidemology Triangle)
Teori ataau model ini dikemukana oleh John Gordon dan La Richt
(1950), mereka menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada
manusia

dipengaruhi

oleh

tiga

komponen

utama

yaitu host,

agent, dan environment. Gordon berpendapat bahwa:

12

Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan


manusia (host)

Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan


karakteristik agent dan host (baik individu/kelompok)

Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam


interaksi tersebut akan berhubungan langsung pada keadaan alami dari
lingkungan (lingkungan sosial, fisik, ekonomi, dan biologis).

Interaksi di antara tiga elemen terlaksana karena adanya faktor penentu pada
setiap elemen. Model ini menerangkan apabila pengungkit tadi berada dalam
keseimbangan, maka dikatakan bahwa masyarakat berada dalam keadaan
sehat, seperti gambar di bawah ini :

Gambar 2.1 Segitiga Epidemologi keadan Seimbang


Sebaliknya, jika resultan dari interaksi ketiga unsur tadi menghasilkan
keadaan tidak seimbang, maka didapat keadaan yang tidak sehat atau sakit.
Model gordon ini selain memberikan gambaran yang umum tentang penyakit
yang ada di masyarakat, dapat pula digunakan untuk melakukan analisis, dan
mencari solusi terhadap permasalahan yang ada. Dalam pandangan
epidemiologi klasik dikenal segitiga epidemiologi (epidemiologic triangle)
yang digunakan untuk menganalisis terjadinya penyakit yang di gambarkan
sebagai berikut :
Konsep ini bermula dari, upaya untuk menjelaskan proses timbulnya
penyakit menular dengan unsur-unsur mikrobiologi yang infeksius sebagai
agen, namun selanjutnya dapat pula digunakan untuk menjelaskan proses
timbulnya penyakit tidak menular dengan memperluas pengertian agen.

13

Gambar 2.2 Segitiga Epidemologi keadaan Tidak Seimbang


6. The Web of Causation (Teori Jaring Sebab Akibat)
Teori ini ditemukan oleh Mac Mohan dan Pugh (1970) teori ini
disebut dengan Teori jaring-jaring sebab akibat. Teori ini sering disebut juga
sebagai konsep multi factorial. Teori ini menyebutkan bahwa suatu penyakit
terjadi dari hasil interaksi berbagai faktor. Misalnya faktor interaksi
lingkungan yang berupa faktor biologis, kimiawi dan sosial memegang
peranan penting dalam terjadinya penyakit.
Menurut teori ini perubahan dari salah satu factor akan mengubah
keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya
penyakit yang bersangkutan. Menurut teori ini, suatu penyakit tidak
bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melainkan sebagai akibat
dari serangkaian proses sebab dan akibat. Model ini cocok untuk mencari
penyakit yang disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup individu. Dengan
demikian maka timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan
memotong mata rantai pada berbagai titik (Azwar, 1998).
Contoh dari Jaringan sebab akibat yang mendasari penyakit jantung
koroner (PJK) dimana banyak faktor yang merupakan menghambat atau
meningkatkan perkembangan penyakit. Beberapa dari faktor ini instrinsik
pada pejamu dan tetap (umpama LDL genotip), yang lain seperti komponen
makanan, perokok, inaktifasi fisik, gaya hidup dapat dimanipulasi.

14

Gambar 2.3 Teori Jaring Sebab Akibat


7. The Wheel of Causation (Teori Roda)
Teori ini menggambarkan hubungan manusia dan lingkungannya
sebagai roda. Roda tersebut terdiri dari manusia dengan substansi genetik
pada bagian intinya dan komponen lingkungan biologi, sosial, fisik
mengelilingi pejamu. Ukuran komponem roda bersifat relatif, tergantung
problem spesifik penyakit yang bersangkutan.. Peranan lingkungan sosial
lebih besar dari yang lainnya dalam hal stres mental, sebaliknya pada
penyakit malaria peran lingkungan biologis lebih besar.
Seperti halnya dengan model jarang -jaring sebab akibat, model roda
memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya
penyakit dengan tidak begitu menekankan pentingnya agen. Disini
dipentingkan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya.
Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan bergantung pada penyakit
yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2003).
Sebagai contoh peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang
lainnya pada stress mental, peranan lingkungan fisik lebih besar dari lainnya
pada sunburn, peranan lingkungan biologis lebih besar dari lainnya pada
penyakit yang penularannya melalui vektor (vektor borne disease) dan
peranan inti genetik lebih besar dari lainnya pada penyakit keturunan. Oleh
karena banyaknya interaksi-interaksi ekologis maka seringkali kita dapat
mengubah penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari
15

interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung


pada penyebab penyakit (Notoatmodjo, 2003).

Gambar 2.4 Teori Roda


2.2. Penyebab Penyakit dalam Rantai Penularan
Rantai penularan penyakit adalah rangkaian sejumlah faktor yang
memungkinkan proses penularan suatu penyakit dapat berlangsung. Faktor yang
merupakan mata rantai itu ada 6, yaitu:
2.4.1. Sumber Penularan
Sumber penularan atau sumber infeksi adalah tempat dimana hama
penyakit hidup dan berkembang biak secara alamiah. Dari sumber infeksi inilah
kemudian penyakit itu menular kepada orang lain. Sumber penularan penyakit
dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:
a. Manusia (Human Reservoir)
Human reservoir dapat berupa:

orang sakit dengan gejala-gejala yang jelas (kasus klinis)

orang sakit dengan gejala-gejala yang tidak jelas (kasus sub klinis)

Karier, yaitu orang yang tidak sakit tetapi tubuhnya mengandung dan
mengeluarkan hama penyakit.
Sumber penularan itu mengandung hama penyakit pada berbagai bagian

tubuhnya, misalnya dalam darah, paru-paru, hati, dan sebagainya. Juga dalam
berbagai produk yang dikeluarkannya, misalnya ingus, ludah, dahak (sputum),
urine, faeces, nanah, cairan luka, dan lain-lain, yang sewaktu-waktu dengan cara
tertentu dapat menular kepada orang lain.
b. Hewan (Animal Reservoir)

16

Beberapa jenis hewan dapat menjadi sumber penularan beberapa macam


penyakit, seperti misalnya lembu dan biri-biri (penyakit anthrax), anjing (penyakit
rabies), tikus (penyakit pes), dan babi (cacing pita).
c.

Lain-lain sumber penularan


Sumber penularan lain misalnya tanah dan udara. Di tanah terdapat

berbagai bibit penyakit seperti misalnya spora dari basil tetanus (Clostridium
tetani), telur dari cacing-cacing (cacing ankylostoma, ascaris, dan lain-lain), yang
dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Di udara bebas beterbangan
bermacam-macam mikro organisme yang juga dapat menimbulkan penyakitpenyakit seperti streptococcus, staphylococcus, dan lain-lain.
2.4.2. Hama Penyakit
Yang dimaksud dengan hama penyakit adalah mikro organisme yang
merupakan penyebab penyakit pada tuan rumah. Hama penyakit dapat dibedakan
atas 4 golongan sebagai berikut, yaitu:
a. Golongan hewan

Protozoa,

contohnya

Amoeba

dysentri,

Trypanosoma

gambiense,

Plasmodium malariae.

Cacing-cacing, misalnya Filaria bancrofti, Ancylostoma duodenale, Taenia


solium.

Serangga, contohnya Saarcoptes scabii penyebab penyaki scabies.

b. Golongan tumbuh-tumbuhan

Bakteri, misalnya bermacam-macam coccus, basil, dan spirillium.

Jamur, contohnya Ptyriasis versicolor penyebab penyakit panu.

c. Golongan virus, misalnya virus DHF, AIDS, dan campak.


d. Golongan Rickettsia, misalnya Rickettsia rickettsi penyebab penyakit thypus
bercak wabahi.
Hama penyakit ini hidup dalam tubuh tuan rumahnya sebagai parasit,
mereka menimbulkan kerusakan pada sel-sel jaringan tubuh yang ditempatinya,
baik secara langsung maupun melalui toksin (racun) yang dihasilkannya.
Di samping yang bersifat patogen sejati (obligat parasit), terdapat juga
hama penyakit yang bersifat patogen fakultatif (fakultatif parasit oprtunis) seperti
misalnya Clostridium tetani dan Staphylococcus aureus. Clostridium tetani yang
17

sporanya banyak terdapat di tanah, debu, dan benda-benda yang kotor hanya akan
menimbulkan penyakit tetanus apabila secara kebetulan masuk ke dalam luka
pada kulit. Staphylococcus aureus yang banyak terdapat di udara bebas, baru akan
menimbulkan penyakit (radang) apabila secara kebetulan sampai pada luka kulit.
2.4.3. Pintu Keluar
Pintu keluar adalah jalan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu
keluar/dikeluarkan dari tubuh tuan rumah. Beberapa jenis penyakit infeksi
memiliki pinru keluar yang berbeda-beda. Pintu keluar dapat berupa:
a. Alat pernafasan
Yaitu hidung dan mulut, pada waktu penderita bernafas, berbicara, batuk,
bersin, mengesang, dan atau mendahak. Ini terjadi misalnya pada penyakit TBC
paru, influenza, dan difteria.
b. Alat pencernaan makanan
Dalam hal ini adalah mulut dan anus pada waktu penderita muntah dan
atau berak, misalnya pada peyakit kolera. Pada peyakit dysentri dan thypus perut
yang tidak memiliki gejala khas muntah, hama penyakit dikeluarkan hanya
melalui anus bersama faeces. Pada penyakit kolera hama penyakit dikeluarkan
juga melalui urine penderita.
c. Alat kencing dan kelamin
Ini terjadi pada beberapa jenis penyakit kelamin, misalnya gonorhoea,
syphilis, AIDS, dan lain-lain.
d. Luka pada kulit
Luka pada kulit dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:
Luka akibat terjadinya infeksi dan radang pada kulit (misalnya luka pada penyakit
syphylis).
Luka akibat gigitan binatang (misalnya gigitan nyamuk, kutu, atau pinjal).
Luka yang dibuat dengan sengaja (misalnya luka bekas suntikan).
Pada luka (ulkus) akibat penyakit syphilis atau pennyakit frafmboesia
hama penyakit dikeluarkan bersama cairan luka (exudat). Melalui gigitan nyamuk,
kutu, dan pinjal dapat terisap keluar hama peyakit yang ada dalam darah
penderita, misalnya pada penyakit malaria, typhus bercak pes. Melalui jarum

18

suntik hama beberapa jenis penyakit dapat juga terbawa keluar, seperti misalnya
pada penyakit hepatitis infectiosa dan AIDS.
2.4.4. Cara Penularan
Yang dimaksud dengan cara penularan penyakit adalah proses-proses yang
dialami oleh hama penyakit tersebut sehingga dapat masuk ke dalam tubuh calon
penderita. Masing-masing penyakit menular mempunyai cara penularan yang
khas, yang satu berbeda dengan yang lain.
Cara-cara penularan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Melalui Hubungan Orang dengan Orang (Personal Contact)
Personal contact dapat dibedakan atas 5 cara, yaitu:
Kontak fisik, contohnya penularan penyakit syphilis melalui hubungan seksual.
Melalui tangan yang terkontaminasi, ini dapat terjadi misalnya pada penyakit
kolera, seseorang yang tangannya terkontaminasi dengan produk si penderita,
kemudian makan tanpa terlebih dahulu membersihkan tangannya.
Melalui benda-benda yang terkontaminasi. Benda-benda bekas dipergunakan oleh
pederita dapat menjadi sarana penularan, seperti misalnya saputangan, handuk,
piring, sendok, gelas, dan sebagainya, karena benda-benda tersebut telah
terkontaminasi dengan produk dari penderita yang sudah barang tentu penuh
dengan hama penyakit.
Melalui titik ludah (Droplet Infection). Ini dapat terjadi misalnya pada penyakit
TBC paru dan influenza. Pada saat penderita bersin, batuk, atau berbicara, secara
tidak disadari akan disemprotkan butir-butir yang amat halus dari ludah dan
ingusnya ke udara. Penularan akan terjadi apabila butir-butir ludah atau ingus
yang mengandung hama penyakit itu terisap oleh orang lain pada saat bernafas.
Melalui udara (Air Borne Infection). Butir-butir ludah dan ingus seperti tersebut
di atas mempunyai ukuran/diameter bermacam-macam. Butir-butir yang sangat
halus akan terus melayang-layang di udara, sedangkan butir-butir yang cukup
besar akan turun dan mengendap di tanah. Butir-butir yang melayang di udara
apabila mengering akan meninggalkan inti yang berisi hama penyakit, yang
disebut droplet nuclei, sedangkan butir-butir yang jatuh di tanah apabila
mengering akan membentuk debu yang penuh dengan hama penyakit juga.
Dengan perantara udara/angin baik itu droplet nuclei maupun debu yang
19

terkontaminasi itu akan dapat tersebar sampai jauh, dan akan dapat menimbulkan
penularan pada orang banyak melalui pernafasan.
b. Melalui Air (Water Borne Infection)
Air dapat menjadi sarana penularan beberapa macam penyakit, misalnya
kolera, typhus, parathyphus, dysentri, radang hati menular, lumpuh kanak-kanak
dan penyakit karena cacing. Penularan umumnya terjadi akibat orang
mengkonsumsi air yang telah tercemar oleh faeces manusia, tana direbus atau
diproses terlebih dahullu (faecal-oral infection).
c. Melalui Makanan (Food Borne Infection)
Penyakit-penyakit seperti yang telah disebutkan di atas juga dapat menular
dengan perantara makanan. Penularan dapat terjadi karena:
Makanan telah tercemar dengan hama penyakit akibat diproses oleh orang yang
sedang menderita saki ataupun carrier penyakit tersebut.
Makanan tercemar oleh hama penyakit tersebut dengan perantaraan lalat.
Bahan makanan yang dimakan mentah tidak dicuci terlebih dahulu dengan
sempurna sebelum dikonsumsi, padahal sebelumnya telah disiram air sungai/kali
dan sebagainya.
d. Melalui Serangga (Insect Borne Infection=Arthropod Borne Infection)
Beberapa jenis serangga dapat menjadi vektor beberapa macam penyakit.
e. Melalui Alat-Alat Kedokteran Yang Tidak Steril
Beberapa jenis alat kedokteran misalnya jarum suntik, jarum tranfusi,
jarum vaksinasi, dan sebagainya dapat juga menjadi perantara penularan beberapa
jenis penyakit.
2.4.5. Pintu Masuk
Yang dimaksud dengan pintu masuk adalah bagian-bagian badan yang
dilalui oleh hama penyakit sewaktu masuk ke dalam tubuh calon penderita. Pintu
masuk itu disebut juga pintu infeksi. Pintu masuk itu umumnya sama dengan
pintu keluar, yaitu:
a. Alat pernafasan, yaitu idung dan mulut, misalnya pada penyakit TBC paru,
influenza dan difteria.
b. Alat Pencernaan Makanan, yaitu mulut misalnya pada penyakit kolera,
dysentri, dan thypus perut.

20

c. Alat kencing dan kelamin, misalnya pada penularan penyakit gonorhoea,


syphilis, dan AIDS.
Luka pada kulit, dapat berupa luka pada gigitan hewan/serangga, misalnya
pada penularan penyakit malaria, DHF, dan pes. Atau luka buatan misalnya bekas
suntikan, pada pennularan penyakit Hepatitis infectiosa dan AIDS.
2.4.6. Kerentanan
Kerentanan adalah kesediaan dari tubuh calon tuan rumah untuk mejadi
sakit. Tanpa adanya kerentanan maka calon tuan rumah tersebut akan tetap sehat
meskipun mendapat penularan hama penyakit.
2.3 Penyakit Cacingan
Cacingan merupakan parasit manusia dan hewan yang sifatnya
merugikan, manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar
daripada nematoda ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Diantara nematoda usus tedapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah
dan disebut Soil Transmitted Helmints yang terpenting adalah Ascaris
lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura
(Srisasi Gandahusada, 2000:8).
2.3.1 Faktor Agent
Faktor agen dalam penyakit cacingan antara lain cacing gelang, cacing
tambang, dan cacing cambuk
1

Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)


Manusia merupakan satu-satunya hospes cacing ini. Cacing jantan
berukuran 10-30 cm, sedangkan betina 22-35 cm, pada stadium dewasa hidup
di rongga usus halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000-200.000
butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi.
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk
infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan
manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus
dinding usus menuju pembuluh darah atau saluran limfa dan di alirkan ke
jantung lalu mengikuti aliran darah ke paru-paru menembus dinding
pembuluh darah, lalu melalui dinding alveolus masuk rongga alveolus,

21

kemudian naik ke trachea melalui bronchiolus dan broncus. Dari trachea


larva menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian
tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus, tumbuh menjadi
cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak
tertelan sampai menjadi cacing dewasa (Srisasi Gandahusada, 2000:10).
Telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab
dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif.
Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut
bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor
(tercemar tanah dengan telurcacing) (Surat Keputusan Menteri Kesehatan
No:424/MENKES/SK/VI/, 2006:7).

Gambar 2.5 Daur Hidup Cacing Gelang


Menurut Effendy yang dikutip Surat Keputusan Menteri Kesehatan
(2006:7) disamping itu gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke
paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus
yang disebut Sindroma loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing
dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus
ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Pada
infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan penyerapan
makanan (Malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing menggumpal
dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus obstructive).

22

Gejala penyakit cacingan memang tidak nyata dan sering dikacaukan


dengan penyakit-penyakit lain. Pada permulaan mungkin ada batuk-batuk dan
eosinofelia. Orang (anak) yang menderita cacingan biasanya lesu, tidak
bergairah, dan konsentrasi belajar kurang. Pada anak-anak yang menderita
Ascariasis lumbricoides perutnya Nampak buncit (karena jumlah cacing dan
perut kembung), biasanya matanya pucat dan kotor seperti sakit mata
(rembes), dan seperti batuk pilek. Perut sering sakit, diare, dan nafsu makan
kurang. Karena orang (anak) masih dapat berjalan dan sekolah atau bekerja,
sering kali tidak dianggap sakit, sehingga terjadi salah diagnosis dan salah
pengobatan. Padahal secara ekonomis sudah menunjukkan kerugian yaitu
menurunkan produktifitas kerja dan mengurangi kemampuan belajar.
Karena gejala klinik yang tidak khas, perlu diadakan pemeriksaan
tinja untuk membuat diagnosis yang tepat, yaitu dengan menemukan telurtelur cacing di dalam tinja tersebut. Jumlah telur juga dapat dipakai sebagai
pedoman untuk menentukan beratnya infeksi (dengan cara menghitung
jumlah

telur

cacing)

(Surat

Keputusan

Menteri

Kesehatan

No:

424/MENKES/SK/VI/, 2006:7).
2

Cacing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)


Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga
usushalus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina
menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai
panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa
berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi.
Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar
bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi
larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva
filariform yang dapat menembus kulit dan dapa bertahan hidup 7-8 minggu di
tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kirakira 60x40 mikron, berbentuk
bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva
rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform
panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larva ikut
aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paruparu menembus pembuluh

23

darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut
tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi
terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama
makanan (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/,
2006:10).
Kejadian penyakit (Incidens) ini di Indonesia sering ditemukan pada
penduduk yang bertempat tinggal di pegunungan, terutama di daerah
pedesaan, khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacing ini
menghisap darah hanya optimum 32C - 38C. Untuk menghindari infeksi
dapat dicegah dengan memakai sandal atau sepatu bila keluar rumah.

Gambar 2.6 Daur Hidup Cacing Tambang


Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan
giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang
menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita
mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah
kerja serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah (anemia) ini
biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa
terjadi oleh banyak sebab (Surat Keputusan Menteri Kesehatan No:
24

424/MENKES/SK/VI/, 2006:11). Gejala klinik karena infeksi cacing tambang


antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan
terhadap penyakit, prestasi kerja menurun, dan anemia (anemia hipokrom
micrositer). Di samping itu juga terdapat eosinofilia (Surat Keputusan
Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:11).
3

Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)


Manusia merupakan hospes cacing ini. Cacing betina panjangnya
sekitar 5 cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Cacing dewasa hidup di kolon
asendens dengan bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor
cacing betina diperkirakan menghasilkan telur sehari sekitar 3.000-5.000
butir. Telur berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan
dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian
luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian di dalamnya jernih. Telur yang
dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi matang (berisi
larva dan infektif) dalam waktu 36 minggu di dalam tanah yang lembab dan
teduh. Telur matang ialah telur yang berisi larva dan merupakan bentuk
infektif. Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh
manusia (hospes), kemudian `larva akan keluar dari dinding telur dan masuk
ke dalam usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian
distal dan masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai
tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30-90
hari (Srisasi Gandahusada, 2000). sedikit namun luka-luka gigitan yang
berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat
menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah
dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaran
infeksi penyakit ini (Srisasi Gandahusada, 2000). Tanah yang baik untuk
pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu.
Hal terpenting untuk penyebaran penyakit adalah kontaminasi tanah
dengan tinja. Telur tumbuh di tanah liat, tempat lembab, dan teduh dengan
suhu optimum kira 30 derajat celcius. Di berbagai negeri pemakaian tinja
sebagi pupuk kebun merupakan sumber infeksi. Frekuensi di Indonesia masih
sangat tinggi. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya

25

berkisar antara 30-90 %. Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat


dicegah dengan pengobatan penderita trikuriasis, pembuatan jamban yang
baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan, terutama
anak. Mencuci tangan sebelum makan, mencuci dengan baik sayuran yang
dimakan mentah adalah penting apalagi di negera-negera yang memakai tinja
sebagai pupuk (Srisasi Gandahusada, 2000). Dahulu infeksi cacing cambuk
sulit sekali diobati. Obat seperti tiabendazol dan ditiazanin tidak memberikan
hasil yang memuaskan. Pengobatan yang dilakukan untuk infeksi yang
disebabkan oleh cacing cambuk (Trichuris trichiura) adalah Albendazole/
Mebendazole dan Oksantel pamoate (Srisasi Gandahusada, 2000).

Gambar 2.7 Daur Hidup Cacing Cambuk


Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga
ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak
cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada
mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita
sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus
hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus.
Pada tempat pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Disamping itu

26

cacing ini menghisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia


(Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI/, 2006).
Infeksi cacing cambuk yang ringan biasanya tidak memberikan gejala
klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi cacing
cambuk yang berat dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala
seperti diare, disenteri, anemia, berat badan menurun dan kadang kadang
terjadi prolapses rektum. Infeksi cacing cambuk yang berat juga sering
disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Diagnosa dibuat dengan
menemukan telur di dalam tinja (Srisasi Gandahusada, 2000).
2.3.2 Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologis, sosial,
dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang
berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau
dihilangkan (Entjang, 2000). Pengertian lingkungan yang klasik adalah sekeliling
tempat organisasi beroperasi termasuk udara, air, tanah, sumber daya alam, flora
dan fauna, manusia (Anies, 2006).
Pengaruh lingkungan dalam menimbulkan penyakit pada manusia, telah
lama disadari. Bahkan telah lama pula disinyalir, bahwa peran lingkungan dalam
meningkatkan derajat kesehatan sangat besar. Faktor perilaku, pelayanan
kesehatan dan keturunan memiliki kontribusi yang lebih kecil dalam peningkatan
derajat kesehatan masyarakat.
1

Kepemilikan jamban
Jamban adalah bangunan untuk tempat buang air besar dan buang air
kecil. Buang air besar dan buang air kecil harus di dalam jamban, jangan
disungai

atau

di

sembarang

tempat

karena

dapat

menimbulkan

penyakit.Bertambahnya penduduk yang tidak seimbang dengan area


pemukiman timbul masalah yang disebabkan pembuangan kotoran manusia
yang meningkat. Penyebaran penyakit yang bersumber pada kotoran manusia
(faeces) dapat melalui berbagai macam jalan atau cara. Hal ini dapat
diilustrasikan sebagai berikut:

27

Gambar 2.8 Skema penularan penyakit melalui tinja


Dari skema tersebut nampak jelas bahwa peranan tinja dalam
penyebaran

penyakit

sangat

besar.

Di

samping

dapat

langsung

mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran, air, tanah, serangga (lalat,


kecoa, dan sebagainya), dan bagianbagian tubuh dapat terkontaminasi oleh
tinja tersebut. Benda-benda yang telah terkontaminasi oleh tinja dari
seseorang yang sudah menderita suatu penyakit tertentu merupakan penyebab
penyakit bagi orang lain. Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja
disertai dengan cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat
penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang
dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, disentri, kolera,
bermacam-macam cacing (cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang,
cacing pita), schistosomiasis, dan sebagainya (Soekidjo Notoadmodjo,
1997:159).
Syarat-syarat jamban sehat adalah sebagai berikut : jamban harus
mempunyai dinding dan pintu agar orang yang berada didalam tidak terlihat,
jamban sebaiknya mempunyai atap untuk perlindungan terhadap hujan dan
panas, cahaya dapat masuk ke dalam jamban karena cahaya matahari berguna
untuk mematikan kuman, lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air
seperti semen atu papan yang disusun rapat. Hal ini perlu agar air kotor tidak
meresap ke dalam tanah dan lantai mudah dibersihkan, jamban harus
mempunyai ventilasi yang cukup untuk pertukaran udara agar udara di dalam
jamban tetap segar, lubang penampungan kotoran letaknya antara 10 sampai

28

15 meter dari sumber air bersih agar sumber air tidak tercemar, didalam
jamban harus tersedia air bersih dan sabun untuk membersihkan diri., untuk
jamban model cemplung lubang jamban harus mempunyai tutup yang rapat
agar lalat, kecoa, dan serangga lain tidak dapat keluar masuk tempat
penampungan kotoran, lubang saluran saluran air kotor pada lantai letaknya
lebih rendah daripada lubang jamban, jamban sebaiknya tidak dibuat di
tempat yang digenangi air. Untuk daerah rawa atau daerah yang sering banjir
letak lantai jamban dibuat lebih tinggi daripada permukaan air yanglubang
penampungan kotoran harus mempunyai pipa saluran udara yang cukup
tinggi agar gas yang timbul dapat disalurkan ke luar.
Model dan bentuk jamban yang memenuhi syarat kesehatan antara
lain :
a

Jamban model angsa dapat dibangun di dalam rumah secara tersendiri


atau digabung dengan kamar mandi. Model ini disebut model leher angsa
karena saluran kotorannya bengkok seperti leher angsa. Bila disiram
dengan air, kotoran akan terdorong ke lubang penampungan tetapi masih
ada sisia air yang tertinggal di dalam saluran yang bengkok tersebut. Air
yang tertinggal ini menutup saluran kotoran sehingga bau yang berasal
dari lubang tidak dapat keluar. Air ini juga berfungsi mencegah keluar
masuknya lalat dan serangga lain ke dalam lubang penampungan

kotoran.
Jamban model cemplung adalah jamban yang paling sederhana. Jamban
dibangun langsung diatas lubang penampungan kotoran. Lubang
penampungan kotoran digali sedalam 2 sampai 3 meter dengan lingkaran

tengah kira-kira 80 cm (Suharto, 1997).


Menurut Depkes R.I (1995) pemeliharaan jamban dengan baik, adapun
pemeliharaannya adalah: lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering, di
sekeliling jamban hendaknya selalu bersih dan kering, tidak ada sampah
berserakan. rumah jamban keadaan baik, lantai selalu bersih tidak ada kotoran
yang terlihat, lalat dan kecoa tidak ada, tersedia alat pembersih, bila ada
bagian yang rusak segera diperbaiki atau diganti.
2

Lantai rumah

29

Rumah sehat secara sederhana yaitu bangunan rumah harus cukup


kuat, lantainya mudah dibersihkan. Lantai rumah dapat terbuat dari : Ubin,
plesteran, dan tanah yang dipadatkan (Departemen Kesehatan R.I, 1990).
Sedangkan menurut Soekidjo Notoatmodjo (1997) syarat-syarat rumah yang
sehat jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah
pada musim penghujan. Lantai rumah dapat terbuat dari: ubin atau
semen,kayu, dan tanah yang disiram kemudian dipadatkan.
3

Ketersediaan air bersih


Departemen Kesehatan R.I (1990) air sehat adalah air bersih yang
dapat digunakan untuk kegiatan manusia dan harus terhindar dari kumankuman penyakit dan bebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari air
bersih tersebut, dengan akibat orang yang memanfaatkannya bisa jatuh sakit.
Akibat air yang tidak sehat dapat menimbulkan: gangguan kesehatan seperti
penyakit perut (kolera, diare, disentri, keracunan, dan penyakit perut lainnya),
penyakit cacingan (misalnya: cacing pita, cacing gelang, cacing kremi,
demam keong, kaki gajah), gangguan teknis seperti: pipa air tersumbat pipa
berkarat, bak air berlumut, gangguan dalam segi kenyamanan seperti: air
keruh, air kerbau, air rasa asin atau asam, timbul bercak kecoklat-coklatan
pada kloset atau WC dan westafel tempat cuci tangan yang terkena air
mengandung zat besi yang berlebih.
Mengetahui tanda air bersih yaitu air bersih secara fisik dapat
dibedakan melalui indera kita antara lain dapat dilihat, dirasa, dicium, dan
diraba yaitu: air tidak boleh berwarna harus jernih atau bening sampai
kelihatan dasar tempat air itu dan tidak boleh keruh harus bebas dari pasir,
debu, lumpur, sampah, busa, dan kotoran lainnya. Air juga tidak boleh berbau
harus bebas dari bahan kimia industry maupun bahan kimia rumah tangga
seperti bau busuk, bau belerang, dan air harus sesuai dengan suhu sekitarnya
atau lebih rendah, tidak boleh suhunya lebih tinggi.

2.3.3 Faktor Host

30

Personal higiene berasal dari bahasa yunani yaitu personal yang artinya
perorangan dan higiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan
untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik
dan psikis (http://keperawatan-agung. blogspot.com/). Menjaga personal higiene
berarti menjaga kebiasaan hidup bersih dan menjaga kebersihan seluruh anggota
tubuh. Kata higiene digunakan untuk menggambarkan penerapan prinsip-prinsip
kebersihan untuk perlindungan kesehatan manusia. Manusia merupakan sumber
potensial mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Kebersihan diri adalah suatu usaha individu dalam menjaga kesehatan memalui
kebersihan individu sebagai cara untuk mengendalikan kondisi lingkungan
terhadap kesehatan.
Kebiasaan hidup bersih harus dimulai dari diri pribadi karena seseorang
yang sudah membiasakan dirinya selalu bersih, tidak akan senang melihat
lingkungan yang kotor. Oleh karena itu seseorang yang selalu menjaga kebersihan
diri dengan sendirinya akan berusaha menjaga kebersihan lingkungan dimanapun
dia berada. Kebersihan atau kesehatan lingkungan merupakan faktor utama dalam
mewujudkan kesehatan. Artinya kesehatan tidak terlepas dari keadaan
lingkungaan. Seseorang tidak akan merasa nyaman bila berada dilingkungan
kotor, yang dapat menularkan penyakit. Karena itu pengelolaan lingkungan
merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan agar dapat hidup sehat.
Faktor-faktor higiene perorangan antara lain :
1. Kebiasaan memakai alas kaki
Kesehatan anak sangat penting karena kesehatan semasa kecil
menentukan kesehatan pada masa dewasa. Anak yang sehat akan menjadi
manusia dewasa yang sehat. Membina kesehatan semasa anak berarti
mempersiapkan terbentuknya generasi yang sehat akan memperkuat ketahanan
bangsa. Pembinaan kesehatan anak dapat dilakukan oleh petugas kesehatan,
ayah, ibu, saudara, anggota keluarga anak itu serta anak itu sendiri. Anak
harus menjaga kesehatannya sendiri salah satunya membiasakan memakai
alas/sandal (Departemen Kesehatan R.I, 1990). Tanah yang baik untuk
pertumbuhan larva ialah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum
untuk

Necator

americanus

28-32

derajat

celcius

sedangkan

untuk

31

Ancylostoma duodenale lebih kuat. Untuk menghindari infeksi, antara lain


ialah memakai sandal atau sepatu (Srisasi Gandahusada, 2000).
2. Kebiasaan mencuci tangan
Anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena biasanya
jarijari tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut, atau makan nasi tanpa
cuci tangan, namun demikian sesekali orang dewasa juga perutnya terdapat
cacing. Cacing yang paling sering ditemui ialah cacing gelang, cacing
tambang, cacing benang, cacing pita, dan cacing kremi (E.Oswari, 1991).
3. Kebiasaan memotong kuku
Menurut Departemen Kesehatan R.I (2001:100) usaha pencegahan
penyakit cacingan antara lain:menjaga kebersihan badan, kebersihan
lingkungan dengan baik, makanan dan minuman yang baik dan bersih,
memakai alas kaki, membuang air besar di jamban (kakus), memelihara
kebersihan diri dengan baik seperti memotong kuku dan mencuci tangan
sebelum makan. Kebersihan perorangan penting untuk pencegahan. Kuku
sebaiknya selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing dari
tangan ke mulut (Srisasi Gandahusada, 2000).
4. Kebiasaan makan
Kebiasaan penggunaan faeces manusia sebagai pupuk tanaman
menyebabkan semakin luasnya pengotoran tanah, persediaan air rumah tangga
dan makanan tertentu, misalnya sayuran akan meningkatkan jumlah penderita
helminthiasis. Demikian juga kebiasaan makan masyarakat, menyebakan
terjadinya penularan penyakit cacing tertentu. Misalnya, kebiasaan makan
secara mentah atau setengah matang, ikan, kerang, daging dan sayuran. Bila
dalam makanan tersebut terdapat kista atau larva cacing, maka siklus hidup
cacingnya menjadi lengkap, sehingga terjadi infeksi pada manusia (Indan
Entjang, 2003).
5. Sosial ekonomi
Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan
angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat
kehidupan seseorang.Kelas sosial ini ditentukan pula oleh tempat tinggal
(Notoadmodjo, 2007). Pengertian sanitasi lingkungan yang baik sulit
dikembangkan dalam masyarakatyang mempunyai keadaan sosio-ekonomi
rendah, dengan keadaan sebagai berikut:

32

Rumah berhimpitan didaerah kumuh (slum area) dikota besar yang


mempunyai sanitasi lingkungan buruk, khususnya tempat anak balita

tumbuh
Didaerah pedesaan anak berdefekasi dekat rumah dan orang dewasa

dipinggir kali, diladang dan perkebunan tempat bekerja


Penggunaan tinja yang mengandung telur cacing untuk pupuk dikebun

sayuran
Pengolahan tanah pertanian/perkebunan dan pertambangan dengan

tangan dan kaki telanjang, tidak terlindungi (Sutanto et al, 2008).


6. Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui
beberapa jalan, yakni:
a Adanya faktor-faktor lingkungan yang lansung dapat menimbulkan
kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas beracun, radiasi, benda-benda
b
c

fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan


Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress
Karena berkerumun dalam satu tempat yang relative sempit maka dapat

terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja


Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan

pekerjaan (Notoatmodjo, 2007).


7. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikanpenyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian didalam
hampir semua keadaan menunjukan hubungan dengan umur. Penyakit
cacingan ini banyak diderita oleh anak-anak yang belum begitu tahu cara
memelihara kebersihan dan kesehatan. Misalnya mungkin saja diidapi oleh
orang dewasa juga karena faktor kurang memelihara kebersihan (Saydam,
2011).

2.4 Sanitasi
Departemen Pendidikan Nasional (2001:996) sanitasi adalah usaha untuk
membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik dibidang kesehatan terutama
kesehatan masyarakat. Sedangkan menurut Budioro.B. (1997:85) sanitasi adalah
usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap
berbagai factor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Jadi
lebih baik mengutamakan usaha pencegahan terhadap berbagai faktor lingkungan
33

sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit dapat dihindari. Seperti halnya di


pertambangan, ancylostomiasis merupakan penyakit yang sering menjadi soal
penting bagi pekerja-pekerja pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Untuk itu
harus diusahakan higiene lingkungan dan perorangan yang baik (Sumamur,
1996).
Mengungkap tujuan kesehatan masyarakat untuk mencegah penyakit,
memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kesehatan dan efisiensi
masyarakat. Ada berbagai usaha yang dianggap penting agar dapat mencapai
tujuan antara lain sanitasi lingkungan dan higiene perorangan yang merupakan
ruang lingkup dari higiene sanitasi (Juli Soemirat Slamet, 2002:4). Higiene dan
isanitasi lngkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologis, dan ekonomi
yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna
ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau
dihilangkan (Indan Entjang).
Higiene perorangan dapat tercapai bila seseorang mengetahui pentingnya
menjaga kesehatan dan kebersihan diri, karena pada dasarnya hygiene adalah
mengembangkan kebiasaan yang baik untuk menjaga kesehatan. Higiene adalah
usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari pengaruh kondisi lingkungan
terhadap kesehatan manusia, upaya mencegah timbulnya penyakit karena
pengaruh lingkungan kesehatan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian
rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatannya.(budioro:1997)

34

BAB III
METODE PENLITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pelitian ini dilakukan di SDN 3 Sungai Tiung Kecamatan Cemaka, Kota
Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Waktu Penelitian dilakukan pada
tanggal 20 Oktober 2015 jam 10.00-12.00 WITA.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SDN Sungai
Tiung 3. Sampel yang diambil sebanyak 6 orang yang dilakukan secara acak
3.3 Analisis Data
Dari data yang didapat akan diteliti kebenarannya dan dibandingkan
dengan tinjauan pustaka dan ditarik kesimpulan yang merupakan hasil dari
penelitian ini

35

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Peneliti melakukan penelitian di SDN Sungai Tiung 3, jumlah murid di
SDN Sungai Tiung 3 berjumlah 187 orang subjek peneletian yang peneliti
dapatkan berjumlah 4 sampel. Sampel didapatkan secara acak, siapa saja yg buang
air besar pada hari itu akan diambil sampel fesesnya. Berikut hasil pemeriksaan
sampel feses:
Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Sampel Feses
N
Subjek
Keterangan
o
1
A
Negatif
2
B
Negatif
3
C
Negatif
4
D
Negatif
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil dari pemeriksaan di labotarium Kimia Parma
Banjarbaru dari 4 sampel yang di dapat tidak terdapat kecacingan pada 4 sampel
tersebut. Hasil penelitian lain juga hanya mendapati 6% positif kecacingan dari
71 murid yg di daerah cempaka yaitu di SDN Cempaka 1 Kecamatan Cempaka
Kota Banjarbaru. Dalam mengumpulkan sampel feses kami mengalami kesulitan
karena feses harus dibawa ke laboraterium kurang dari 1 jam, itu dilakukan agar
mendapatkan hasil yang maksimal jadi kami meminta murid-murid yang ingin
buang air besar lapor terlebih dahulu dan saat itu responden sangat sedikit yang
ingin buang air besar yaitu hanya 4 orang dari 120 murid disana kemungkinan
besar meraka malu atau jijik mengambil feses sendiri.
Hasil semua sampel feses negatif karena ini mungkin disebabkan oleh
perilaku hidup bersih dan sehat subjek penelitian sudah cukup baik yang terlihat
dari kuku murid pada saat pengambilan sampel tinja sebagian besar sudah bersih
dan selalu memakai alas kaki pada saat berangkat ke sekolah dan juga SD tersebut
mempunyai sumur bor sendiri yang tetap jalan meski musimkemarau, kran cuci
tangan disediakan banyak dan wc tersebut bersih dan berlantai keramik.

36

Penelitian yang dilakukan oleh Tumanggor tahun 2008 yang menyebutkan


bahwa tingginya prevalensi cacing berkaitan dengan kelompok umur, semakin
meningkat umur, maka anak akan mengalami perubahan pola bermain, pola
kegiatan, tingkat kebersihan dan daya tahan yang semakin tinggi. Infeksi cacing
usus merupakan infeksi kronik yang paling banyak menyerang anak balita dan
anak usia sekolah dasar. Golongan anak sekolah dasar merupakan kelompok usia
yang rentan terhadap infeksi cacing. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan bermain
pada anak yang tidak memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya.
Demikian pula dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dijual di sekolah,
tanpa memperhatikan higiene serta sanitasi makanan dan lingkungan.
Penelitian tentang kecacingan yang dilakukan Wati tahun 2011 di SDN
Bangkal 3 Kecamatan Cempaka yang menemukan jumlah kecacingan pada murid
sebesar 14 dari 61 sampel yang diperiksa. Hasil tersebut didapatkan karena murid
SDN Bangkal 3 mempunyai kebiasaan perilaku dan sanitasi yang menunjang
terjadinya kejadian kecacingan . Perbedaan ini dapat disebabkan karena SDN
Cempaka 1 lebih dekat dengan kota dibandingkan SDN Bangkal dan kondisi
lingkungan Kelurahan Bangkal yang kurang sanitasi dan perilaku muridnya yang
kurang baik. Selain itu, tingkatan kelas subjek penelitian dari SDN Bangkal 3
lebih muda yaitu kelas I, II, dan III dibandingkan murid SDN Sungai Tiung 3
yang hanya 4 orang dari 120 murid.
Penelitian yang dilakukan oleh Arif dan M. Iqbal dalam Wati tahun 2011
menyebutkan bahwa perilaku anak merupakan faktor risiko yang berhubungan
dengan kecacingan. Perilaku yang positif akan mempertinggi derajat kesehatan
anak dan perilaku yang negatif akan menjadikan status kesehatan anak tersebut
menjadi tidak baik. Cara untuk mengubah perilaku yang negatif tersebut maka
dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan. Selain itu, berdasarkan penelitian
Wibowo tahun 2008 menyatakan bahwa perilaku dan sanitasi murid yang buruk
menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran atau pengetahuan murid
terhadap pentingnya menerapkan perilaku bersih dan sehat sebagai upaya
mencegah dan menghindari kecacingan.
Menurut asumsi peneliti di lapangan bahwa faktor yang mempengaruhi
terjadinya infeksi kecacingan pada anak adalah sanitasi sekolah, kondisi

37

lingkungan sekolah yang tidak baik, seperti kamar mandi, halaman, dan kantin
sekolah yang memungkinkan anak untuk terinfeksi. Hal ini dikarenakan cacingan
merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang disebabkan oleh keadaan
lingkungan yang buruk. Kurangnya sanitasi yang memadai menyebabkan
lingkungan tercemar dengan tinja yang mengandung telur cacing.

38

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Konsep dari penyebaran penyakit yang paling populer adalah Segitiga
Epidemologi yang dikemukan oleh John Gordon dan La Richt,
menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia
dipengaruhi oleh tiga komponen utama yaitu host, agent, dan environment.
2. Sanitasi merupakan usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan
yang baik dibidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat.
3. Hasil dari semua sampel feses berketerangan negatif, karena kemungkinan
perilaku hidup bersih dan sehat subjek sudah cukup baik.
5.2 Saran
Adapun

saran

dari

makalah

ini

adalah

untuk

memperhatikan

pengumpulan sampel feses, agar didapatkan hasil yang maksimal.

39

40

DAFTAR PUSTAKA

Ahdal, Muhamad Tasbih. Sirajuddin, Saifuddin. Alharini, Sriah. 2014.


Hubungan Infestasi Kecacingan Dengan Status Gizi pada anak SDN
Cambaya di Wilayah Pesisir Kota Makassar. Jurnal dari Universitas
Hasanuddin : Makassar
Anonim. 2010. Modul Materi Dasar Epidemiologi Semester 3. Semarang:
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.
Azwar,Azrul.1988. Pengantar Epidemiologi. Binarupa Aksara . Jakarta Barat
Budioro, B. 2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro
Bustan. 2000. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Budiarto,E & Anggraeni, D. 2001. Pengantar epidemiologi edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGJ
Chasanah, Siti Uswatun. Sumekar, Ariana. 2014. Analiss Resiko Soil
Trnsmitted Helmin di SD di Kecamatan Padaherang Jurnal dari STIKES
Wira Husada Yogyakara : Sleman
Chadijah, Sitti. Sumolang, Phetisya Pamela Frederika. Veridiana, Ni Nyoman..
2014. Hubungan Pengetahuan Perilaku dan Sanitasi Lingkungan dengan
Angka Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar Di Kota Palu. Jurnal dari
Balai Litbang P2B2 Donggala : Donggala
Hayatie, Lisda. Junaidi, Muhammad. Noor, Frieda Ani. 2012. Angka Kejadian
Kecacingan pada Murid SDN Cempaka 1 Banjarbaru. Jurnal dari
Universitas Lambung Mangkurat : Banjarmasin
Ir. Martini, dkk. 2010. Modul Epidemiologi Dasar . Semarang : Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.
Junaidi. 2014. Hubungan Personal Hygiene TerhadapKejadian Keccacingan pada
Murid SD di Wilayah Kerja Puskesmas Tapalang Kabupaten Mamuju.
Jurnal dari Poltekkes Kemenkes Makassar : Makassar
Kasjono, Heru Subaris dan Heldhi B. Kristiawan. 2008. Intisari Epidemiologi.
Yogyakarta: Mitra Cendekia Press

41

Kundaian, Friscasari. Umboh, Joatje M.L. Kepel, Billy J. 2011 Hubungan antara
Sanitasi Lingkungan dengan Infestasi Cacing pada Murid Sekolah Dasar
di Desa Teling Kecamatan Tombarir Kabupaten Minahasa. Jurnal dari
Universitas Sam Ratulangi : Manado
Lucas A and Gilles H, Short Textbook of Public Health Medicine for the Tropics,
Fourth Edition, Oxford University Press, 2003.
Maryani, Lidya dan Rizki Muliani. 2010. Epidemiologi Kesehatan Pendekatan
Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mustafa, Preliana. Palandeng, Henry. Lampus, Benedictus S. 2013. Hubungan
antara Perilaku tentang Pencegahan Penyakit Kecacingan dengan Infestasi
Cacing pada Siswa SD di Kelurahan Bengkol Kecamatan Mapanget Kota
Manado. Jurnal dari Universitas Sam Ratulangi : Manado
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat
edisi ke-2. Jakarta: Rineka Cipta.
Nur, Muhammad Ihramsyah. Ane, Rusian La, Selomo, Makmur. 2013. Faktor
Resiko Sanitasi Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian Kecacingan pada
Murid di SD di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar. Jurnal dari
Universitas Hasanuddin : Makassar
Palgunadi, Bagus Uda. 2010. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kejadian
Kecacingan yang Disebabkan Oleh Soil Transmitted Helminth Di
Indonesia:. Jurnal dari Universitas Wijaya Kusuma : Surabaya
Perdana, Andhika Setya. Keman, Soedjajadi. 2009. Hubungan Higiene Tangan
dan Kuku dengan Kejadian Enterobiasis pada Siswa SDN Kenjeran No.
248 Kecamatan Bulak Surabaya. Jurnal dari Universitas Airlangga:
Surabaya
Rahayu, Sofia Ery. 2006. Keberadaan Telur Cacing Parasit pada Siswa SD di
Sekitar IPAL Terpadu Kota Malang dan Hubungannya dengan Kepadatan
Telur Cacing pada air Limbah Perumahan di IPAL terpadu Jurnal dari
Universitas Negeri Malang : Malang
Romadillah. Jaya, I Ketut Swirya. 2013. Hubungan Infeksi Kecacingan dan
Personal Higiena dengan Kadar HB Sis SDN 51 Cakranegara . Jurnal dari
POLTEKKES Mataram : Mataram

42

Umi Wisnuningsih. 2004. Hubungan Higiene Pribadi dan Sanitasi Lingkungan


dengan Kejadian Infeksi Soil Transmitted Helminths pada Siswa SDN
Keburuhan Kecamatan Ngrombol Kabupaten Purworejo Tahun 2004.
Skripsi pada Universitas Diponegoro: Semarang
Wati. 2010. Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian
kecacingan pada siswa SDN Bangkal 3 Kecamatan Cempaka. Karya Tulis
Ilmiah. Universitas Lambung MangkuratL Banjarbaru
Widiyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidemiologi Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.
Winita, Rawina. Mulyati. Atuty, Hendri. 2012. Hubungan Sanitasi Diri dengan
Kejadian Kecacingan pada Siswa SDN X Paseban Jakarta Pusat Jurnal
dari Universitas Indonesia : Jakarta

INDEKS
A
agen, 7, 9, 11, 17
Agent, 3, 17
Ascariasis lumbricoides, 18
Ascaris lumbricoides, 17

C
Cacing Cambuk, 21, 22
Cacing Gelang, 17, 18
Cacing Tambang, 19, 20
cacingan, 2, 17, 18, 20, 26, 28, 29,
35
Causation, 9, 10

E
eosinofelia, 18
Epidemiologi, 1
Epidemologi, 8, 9, 36
esofagus, 17
etiologi, 6, 7

G
Germ, 6

H
higiene, 27, 30, 34
Hipcrates, 3
hospes, 16, 17, 21
Host, 27

I
Incidens, 19
infeksi, 2, 7, 8, 11, 13, 14, 16, 18, 19,
20, 21, 22, 23, 28, 34, 35

J
jamban, 21, 23, 24, 25, 28

jasad renik, 4, 6

K
kesehatan, 1, 2, 8, 16, 23, 25, 26, 27,
30, 34, 36
kolon asendens, 21, 22
43

kontangion, 4, 5
Kontangion, 4
Kuman, 6, 7

W
Water, 3, 15

L
limbah, 5
lingkungan, 2, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11,
17, 23, 27, 28, 29, 30, 34, 35

M
menular, 1, 4, 5, 9, 11, 12, 14, 15
Miasma, 5
mikroorganisme, 4, 7, 27

O
Observe, 3

P
penduduk, 1, 4, 6, 19, 23, 24
Places, 3
predisposisi, 3
prepatogenesis, 4

R
Record, 3
Reflect, 3

S
Sanitasi, 30, 36
Sindroma loeffler, 18
Soil Transmitted Helmints, 17

T
Trichuris trichiura, 17, 21, 22

V
virus, 6, 13

44

SOAL SOAL
1. Cacing tambang ( necator americanus) didapatkan pada daratan :
a.Tinggi

b.Rendah

c. tidak dua2 nya

d. a dan b benar

Jawaban : b. rendah
2. Dalam konsep multikasual memiliki empat konsep pendukung diantaranya,
kecuali ...
a. Konsep Segitiga Epidemologi

b. Konsep Jejaring

c. Konsep Roda

d. Konsep Ekologis

Jawaban: d. konsep ekologis


3. Akan menyebabkan apa Cacing Ascharis Lumbricoides pada usus ?
a. Usus buntu

b. Diare

c. Anemia

d. Pusing

Jawaban: b. diare
4. Apa yang terjadi apa bila anak terinfeksi cacingan ?
a. Lesu

b. Anemia/Pucat

c. Berat badan menurun

d. Semua benar

Jawaban: d. semua benar


5. Teori terjadinya penyakit yang mengatakan manusia berinteraksi dengan
berbagai faktor penyebab dalam lingkungan tertentu ialah teori ...
a. Humoral

b. Ekologi Lingkungan

c. Miasma

d. Multiklausa

Jawaban: b. Ekologi Lingkungan

LAMPIRAN

Salinan hasil pemeriksaan sampel


fases

LAMPIRAN

Tempat sampah di SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober
2015

WC Guru di SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober
2015

Kran air di SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober

Kran air di SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober

WC murid di SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober

Foto bersama guru SDN Sungai


Tiung

LAMIRAN

Keadaan SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober

Keadaan SDN Sungai Tiung


Di ambil pada tanggal 20 Oktober