Anda di halaman 1dari 18

HIDRAULIKA

JARINGAN PIPA (PIPE NETWORK)


Disampaikan Oleh:
M. Baitullah Al Amin, ST, M.Eng.
Mail to: baitullah_ceed03@yahoo.com

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

I. PENDAHULUAN
Pemakaian jaringan pipa dalam bidang Teknik

Sipil salah satunya adalah jaringan distribusi


air minum.
Sistem jaringan ini merupakan bagian yg
paling mahal dlm pembangunannya. Oleh
karena itu, harus dibuat perencanaan yg teliti
untuk mendapatkan sistem distribusi yg
efisien.
Jumlah
atau debit air yg disediakan
tergantung pada besarnya kebutuhan air
dibutuhkan (jumlah penduduk, jenis industri
1/24/16
M. Baitullah Al Amin
2
yang dilayani,
dll).

II. JARINGAN PIPA


Analisis

jaringan pipa cukup rumit dan memerlukan


perhitungan yang besar, oleh karena itu program komputer
akan mengurangi kesulitan. Contoh: EPANET, WaterCad,
KYPIPE, WaterNet, dll.
Untuk jaringan kecil, pemakaian kalkulator untuk hitungan
masih bisa dilakukan.
Salah satu metode untuk menyelesaikan perhitungan
sistem jaringan pipa adalah metode Hardy-Cross.
Metode Hardy-Cross dilakukan secara iteratif. Pada awal
hitungan ditetapkan debit aliran melalui masing-masing
pipa secara sembarang. Kemudian dihitung debit aliran di
semua pipa berdasarkan nilai awal tsb. Prosedur hitungan
diulangi lagi sampai persamaan kontinuitas di setiap titik
simpul dipenuhi.
1/24/16

M. Baitullah Al Amin

II. JARINGAN PIPA

simpul

Gambar 1. Contoh suatu sistem jaringan pipa


1/24/16

M. Baitullah Al Amin

Pada jaringan pipa harus dipenuhi persamaan


kontinuitas dan tenaga, yaitu:
1. Aliran di dalam pipa harus memenuhi hukum-hukum
gesekan pipa untuk aliran dalam pipa tunggal:
2
L V2
Q
1
hf f
; V 2 2 ; A D 2
D 2g
A
4
8 fL
2
(1)
hf
Q
2 5
g D
2. Aliran masuk ke dalam tiap-tiap titik simpul harus
sama dengan aliran yang keluar.

(2)

3. Jumlah aljabar dari kehilangan tenaga dalam satu


jaringan tertutup harus sama dengan nol.

h
1/24/16

M. Baitullah Al Amin

(3)
5

II. JARINGAN PIPA


Persamaan kehilangan tenaga Darcy-Weisbach:
8 fL
2
hf
Q
g 2 D 5
Setiap pipa dari sistem jaringan terdapat
hubungan antara kehilangan tenaga dan debit
aliran. Dengan demikian:

Dengan:

1/24/16

h f KQ 2

8 fL
K
g 2 D 5
M. Baitullah Al Amin

(4)

(5)
6

III. METODE HARDYCROSS

Prosedur perhitungan dengan metode Hardy-Cross adalah sbb:


1. Pilih pembagian debit melalui tiap-tiap pipa Q0 hingga terpenuhi syarat
kontinuitas.
2. Hitung kehilangan tenaga pada tiap pipa dengan persamaan (4).
3. Jaringan pipa dibagi menjadi sejumlah jaring tertutup sedemikian
sehingga tiap pipa termasuk dalam paling sedikit satu jaring.
4. Hitung jumlah kehilangan tenaga tiap-tiap jaring, yaitu hf. Jika
pengaliran seimbang maka hf = 0.
5. Hitung nilai | 2KQ | untuk tiap jaring.
6. Pada tiap jaring dilakukan koreksi debit Q, agar kehilangan tenaga
dalam tiap jaring seimbang.

KQ

(6)
Q
2KQ

7. Dengan debit yang telah dikoreksi sebesar Q = Q0 + Q, prosedur dari 1


s.d. 6 diulangi hingga diperoleh Q 0.
1/24/16

M. Baitullah Al Amin

III. METODE HARDYCROSS


Penurunan persamaan (6) sbb:

h f KQ 2 K Q0 Q

h f KQ0 2 KQ0 Q KQ 2
Dengan Q adalah debit sebenarnya, Q0 adalah debit permisalan
(diambil sembarang) dan Q adalah debit koreksi.
Untuk Q < < Q0, maka Q2 0 sehingga:
2

h f KQ0 2 KQ0 Q
Jumlah kehilangan tenaga dalam tiap jaring adalah nol, sehingga:

h 0
h KQ
KQ

Q
2 KQ
f

Q 2 KQ0 0

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

III. METODE HARDYCROSS


Hitungan jaringan pipa dilakukan dengan membuat tabel untuk setiap

jaring.
Dalam setiap jaring tersebut, jumlah aljabar kehilangan tenaga adalah
nol, dengan catatan aliran searah jarum jam (ditinjau dari pusat
jaringan) diberi tanda positif, sedang yang berlawanan bertanda negatif.
Untuk memudahkan hitungan, dalam tiap jaringan selalu dimulai
dengan aliran yang searah jarum jam.
Koreksi debit Q dihitung dengan persamaan (6). Arah koreksi harus
disesuaikan dengan arah aliran. Apabila dalam satu jaring kehilangan
tenaga karena aliran searah jarum jam lebih besar dari yang berlawanan
(KQ2 > 0, positif) maka arah koreksi debit adalah berlawanan jarum jam
(negatif).
Jika suatu pipa menyusun 2 jaring, maka koreksi debit Q untuk pipa tsb
terdiri dari 2 buah Q yang diperoleh dari dua jaring tsb.
Hasil hitungan yang benar dicapai apabila Q 0.
1/24/16

M. Baitullah Al Amin

IV. CONTOH SOAL

Sebuah jaringan pipa seperti tergambar. Hitung


besar debit aliran dan arahnya pada tiap-tiap
pipa. Gunakan persamaan Darcy-Weisbach.

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

10

IV. CONTOH SOAL


Penyelesaian:
1. Ditentukan debit aliran melalui tiap-tiap pipa Q0 secara
sembarang namun memenuhi hukum kontinuitas. Perlu
koreksi debit.
2. Dilakukan pembagian jaringan menjadi 2 buah jaring. Jaring I
(ABC), dan Jaring II (BCD). Aliran yg searah jarum jam diberi
tanda positif dan yang berlawanan diberi tanda negatif.
3. Dilakukan
perhitungan
iterasi
(metode
Hardy-Cross)
menggunakan tabel hingga diperoleh koreksi debit adalah
nol (Q = 0).
4. Pada saat Q = 0, maka Q0 = Q. Artinya, pada akhir hitungan
tsb, debit pada tiap-tiap pipa adalah debit yang sebenarnya.

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

11

IV. CONTOH SOAL


Iterasi 1!!!

15

II
70

35

35

I
30

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

12

IV. CONTOH SOAL


Iterasi 1

Jaring I
Pipa

KQ02

7425
13
590
1325
QII
5
290
QI

2KQ0

AB

2 x 702 = 9800

2 x 2 x 70 = 280

BC

1 x 352 = 1225

2 x 1 x 35 = 70

CA

4 x 302 = -3600

2 x 4 x 30 = 240

KQ02 = 7425

|2KQ0| = 590

Jaring II
Pipa

1/24/16

KQ02

2KQ0

BD

5 x 152 = 1125

2 x 5 x 15 = 150

DC

1 x 352 = -1225

2 x 1 x 35 = 70

CB

1 x 352 = -1225

2 x 1 x 35 = 70

KQ02 = -1325

|2KQ0| = 290

M. Baitullah Al Amin

13

IV. CONTOH SOAL


Iterasi 2!!!

20

II
57

17

30

I
43

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

14

IV. CONTOH SOAL


Iterasi 2

Jaring I
Pipa

KQ02

609
1
596
811
QII
3
294
QI

2KQ0

AB

2 x 572 = 6498

2 x 2 x 57 = 228

BC

1 x 172 = 289

2 x 1 x 17 = 34

CA

4 x 432 = -7396

2 x 4 x 43 = 334

KQ02 = -609

|2KQ0| = 596

Jaring II
Pipa

1/24/16

KQ02

2KQ0

BD

5 x 202 = 2000

2 x 5 x 20 = 200

DC

1 x 302 = -900

2 x 1 x 30 = 60

CB

1 x 172 = -289

2 x 1 x 17 = 34

KQ02 = 811

|2KQ0| = 294

M. Baitullah Al Amin

15

IV. CONTOH SOAL


Iterasi 3!!!

17

II
58

21

33

I
42

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

16

IV. CONTOH SOAL


Iterasi 3

Jaring I
Pipa

KQ02

113
0
610
85
QII
0
278
QI

2KQ0

AB

2 x 582 = 6728

2 x 2 x 58 = 232

BC

1 x 212 = 441

2 x 1 x 21 = 42

CA

4 x 422 = -7056

2 x 4 x 42 = 336

KQ02 = 113

|2KQ0| = 610

Jaring II
Pipa

1/24/16

KQ02

2KQ0

BD

5 x 172 = 1445

2 x 5 x 17 = 170

DC

1 x 332 = -1089

2 x 1 x 33 = 66

CB

1 x 212 = -441

2 x 1 x 21 = 42

KQ02 = 85

|2KQ0| = 278

M. Baitullah Al Amin

17

SELESAI

1/24/16

M. Baitullah Al Amin

18