Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GAGAL GINJAL KRONIS DAN HEMODIALISA

Disusun guna memenuhi tugas pada Program Pendidikan Profesi Ners


Stase Keperawatan Medikal

oleh
Dwi Setyo Purnomo
115070201131003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK


PENGERTIAN GAGAL GINJAL KRONIK
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan
fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal
untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
(Brunner & Suddarth, 2001).
Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3
bulan. Diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus
kurang dari 60 ml/menit/1,73m. Batasan penyakit ginjal kronik :
Kerusakan ginjal > 3 bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau
tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus berdasarkan kelainan patologik, petanda
kerusakan ginjal seperti proteinuria atau kelainan pada pemeriksaan pencitraan,
laju filtrasi glomerulus < 60 ml/menit/1,73m selama > 3 bulan dengan atau tanpa
kerusakan ginjal (Price, S.A. & Wilson, 2003)
KLASIFIKASI GAGAL GINJAL KRONIK
Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium.
Stadium 1 adalah kerusakan ginjal dengan fungsi ginjal yang masih normal,
stadium 2 kerusakan ginjal dengan penurunan fungsi ginjal yang ringan, stadium
3 kerusakan ginjal dengan penurunan yang sedang fungsi ginjal, stadium 4
kerusakan ginjal dengan penurunan berat fungsi ginjal, dan stadium 5 adalah
gagal ginjal (Price, S.A. & Wilson, 2003).
Stadium 1
Seseorang yang berada pada stadium 1 gagal ginjal kronik (GGK)
biasanya belum merasakan gejala yang mengindikasikan adanya kerusakan
pada ginjalnya. Hal ini disebabkan ginjal tetap berfungsi secara normal
meskipun tidak lagi dalam kondisi tidak lagi 100 persen, sehingga banyak
penderita yang tidak mengetahui kondisi ginjalnya dalam stadium 1. Kalaupun
hal tersebut diketahui biasanya saat penderita memeriksakan diri untuk
penyakit lainnya seperti diabetes dan hipertensi.

Stadium 2
Sama seperti pada stadium awal, tanda tanda seseorang berada pada
stadium 2 juga dapat tidak merasakan gejala yang aneh karena ginjal tetap
dapat berfungsi dengan baik. Kalaupun hal tersebut diketahui biasanya saat
penderita memeriksakan diri untuk penyakit lainnya seperti diabetes dan
hipertensi.
Stadium 3
Seseorang yang menderita GGK stadium 3 mengalami penurunan GFR
moderat yaitu diantara 30 s/d 59 ml/min. dengan penurunan pada tingkat ini
akumulasi sisa sisa metabolisme akan menumpuk dalam darah yang
disebut uremia. Pada stadium ini muncul komplikasi seperti tekanan darah
tinggi (hipertensi), anemia atau keluhan pada tulang. Gejala- gejala juga
terkadang mulai dirasakan seperti :

Fatique : rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia.

Kelebihan cairan : Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal


tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh. Hal
ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian
bawah, seputar wajah atau tangan. Penderita juga dapat mengalami sesak
nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh.

Perubahan pada urin : urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan
adanya kandungan protein di urin. Selain itu warna urin juga mengalami
perubahan menjadi coklat, orannye tua, atau merah apabila bercampur
dengan darah. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan
terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah
malam.

Rasa sakit pada ginjal. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada
dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal
seperti polikistik dan infeksi.

Sulit tidur : Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur


disebabkan munculnya rasa gatal, kram ataupunrestless legs.

Penderita GGK stadium 3 disarankan untuk memeriksakan diri ke seorang


ahli ginjal hipertensi (nephrolog). Dokter akan memberikan rekomendasi
terbaik serta terapi terapi yang bertujuan untuk memperlambat laju
penurunan fungsi ginjal. Selain itu sangat disarankan juga untuk meminta

bantuan ahli gizi untuk mendapatkan perencanaan diet yang tepat.


Penderita GGK pada stadium ini biasanya akan diminta untuk menjaga
kecukupan protein namun tetap mewaspadai kadar fosfor yang ada dalam
makanan tersebut, karena menjaga kadar fosfor dalam darah tetap rendah
penting bagi kelangsungan fungsi ginjal. Selain itu penderita juga harus
membatasi asupan kalsium apabila kandungan dalam darah terlalu tinggi.
Tidak ada pembatasan kalium kecuali didapati kadar dalam darah diatas
normal. Membatasi karbohidrat biasanya juga dianjurkan bagi penderita
yang juga mempunyai diabetes. Mengontrol minuman diperlukan selain
pembatasan sodium untuk penderita hipertensi.
Stadium 4
Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15 30 persen saja dan
apabila seseorang berada pada stadium ini maka sangat mungkin dalam
waktu dekat diharuskan menjalani terapi pengganti ginjal / dialisis atau
melakukan transplantasi. Kondisi dimana terjadi penumpukan racun dalam
darah atau uremia biasanya

muncul pada stadium ini. Selain itu besar

kemungkinan muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi),


anemia, penyakit tulang, masalah pada jantung dan penyakit kardiovaskular
lainnya.
Gejala yang mungkin dirasakan pada stadium 4 adalah :

Fatique : rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia.

Kelebihan cairan : Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat


ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam
tubuh. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar
kaki bagian bawah, seputar wajah atau tangan. Penderita juga dapat
mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam
tubuh.

Perubahan pada urin : urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan
adanya kandungan protein di urin. Selain itu warna urin juga mengalami
perubahan menjadi coklat, orannye tua, atau merah apabila bercampur
dengan darah. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan
terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah
malam.

Rasa sakit pada ginjal. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada
dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal
seperti polikistik dan infeksi.

Sulit tidur : Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur


disebabkan munculnya rasa gatal, kram ataupunrestless legs.

Nausea : muntah atau rasa ingin muntah.

Perubahan cita rasa makanan : dapat terjadi bahwa makanan yang


dikonsumsi tidak terasa seperti biasanya.

Bau mulut uremic : ureum yang menumpuk dalam darah dapat dideteksi
melalui bau pernafasan yang tidak enak.

Sulit berkonsentrasi

Stadium 5 (gagal ginjal terminal)


Pada level ini ginjal kehilangan hampir seluruh kemampuannya untuk
bekerja secara optimal. Untuk itu diperlukan suatu terapi pengganti ginjal
(dialisis) atau transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup.
Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain :

Kehilangan napsu makan

Nausea.

Sakit kepala.

Merasa lelah.

Tidak mampu berkonsentrasi.

Gatal gatal.

Urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali.

Bengkak, terutama di seputar wajah, mata dan pergelangan kaki.

Keram otot
Pengukuran nilai GFR untuk menentukan tahapan PGK yang paling

akurat adalah dengan menggunakan Chronic Kidney Disease Epidemiology


Collaburation (CKD-EPI) dibanding dengan model Modification of Diet in
Renal Disease (MDRD) atau dengan rumus Cockcroft-Gault (Michels,
Grootendorst & Verduijn, 2010). Praktek pengukuran GFR untuk menentukan
tahapan PGK yang sering digunakan adalah menggunakan rumus Cockcroft-

Gault. Adapun rumus dari Cockcroft-Gault dalam Ahmed & Lowder (2012)
adalah :
Rumus Cockcroft-Gault untuk laki-laki :
GFR = (140-umur) x BB
72 x serum Creatin
Sedangkan untuk wanita adalah :
GFR = (140-umur) x BB x 0,85
72 x serum Creatin
ETIOLOGI GAGAL GINJAL KRONIK
Kondisi klinis yang memungkinkan dapat mengakibatkan gagal ginjal kronis bisa
disebabkan dari ginjal sendiri dan dari luar ginjal (Arif Muttaqin, 2011) :
1. Penyakit dari Ginjal
Glomerulonefritis
Infeksi kuman: pyelonefritis, ureteritis
Batu ginjal: nefrolitiasis
Kista di Ginjal: polcystis kidney
Trauma langsung pada ginjal
Keganasan pada ginjal
Sumbatan: batu, tumor, penyempitan/struktur.
Penyakit tubulus primer: hiperkalemia primer, hipokalemia kronik,

keracunan logam berat seperti tembaga, dan kadmium.


Penyakit vaskuler: iskemia ginjal akibat kongenital atau stenosis arteri

ginjal, hipertensi maligna atau hipertensi aksekrasi.


Obstruksi: batu ginjal, fobratis retroperi toneal, pembesaran prostat
striktur uretra, dan tumor.

2. Penyakit dari Luar Ginjal


DM
Hipertensi
Hipertensi yang berkelanjutan dapat merusak atau mengganggu
pembuluh darah halus dalam ginjal yang lama kelamaan dapat

mengganggu kemampuan ginjal untuk menyaring darah.


Kolesterol tinggi
Dyslipidemia
SLE
Preeklamsi
Obat-obatan
Obat-obatan yang mengandung ibuprofen berlebihan maupun dalam
jangka waktu panjang dapat menyebabkan timbulnya nefritis intersitialis,
yaitu peradangan ginjal yang dapat mengarah pada gagal ginjal.
Pemakaian

obat

terlarang,

seperti

heroin

atau

kokain,

dapat

menyebabkan kerusakan fungsi ginjal yang dapat mengarah pada gagal


ginjal.
Ada banyak sekali zat atau obat-obat yang dapat merusak epitel tubulus
dan menyebabkan GGA, yaitu seperti :

Antibiotik : aminoglikosoid,

penisilin, tetrasiklin, amfotersisin B, sulfonamida, dan lain-lainnya. Obatobat dan zat kimia lain : fenilbutazon, zat-zat anestetik, fungisida,
pestisida, dan kalsium natrium adetat. Pelarut organik : karbon
tetraklorida, etilon glikol, fenol, dan metal alkohol. Logam berat : Hg,
arsen, bismut, kadmium, emas, timah, talium, dan uranium. Pigmen
heme : Hemoglobin dan mioglobin
TANDA DAN GEJALA GAGAL GINJAL KRONIK
Gejala CKD menurut Mansjoer, dkk., 2000 antara lain dapat dilihat pada tabel
berikut.
Umum

: Fatig, malaise, gagal tumbuh

Kulit

: Pucat, mudah lecet, rapuh, leukonikia

Kepala dan Leher

: Fetor uremik, lidah kering dan berselaput

Mata

: Fundus hipertensif, mata merah

Kardiovaskuler

: Hipertensi,kelebihan

cairan,

gagal

jantung,

perikarditis uremik.
Pernafasan

: Hiperventilasi asidosis, edema paru, efusi pleura

Gastrointestinal

: Anoreksia, nausea, gastritis, ulkus peptikum, kolitis


uremik, diare karena antibiotik.

Kemih

: Nokturia, poliuria, haus, proteinuria

Reproduksi

: Penurunan libido, amenore

Saraf

: Letargi, tremor, mengantuk, kebingungan, kejang,

Tulang

koma

Sendi

: Defisiensi vitamin D

Hematologi

: Gout, kalsifikasi ekstra tulang


: Anemia,

defisiensi

imun,

mudah

mengalami

perdarahan
PEMERIKSAAN PENUNJANG GAGAL GINJAL KRONIK
Pemeriksaan Laboratorium
Laju endap darah: meninggi yang diperberat oleh adanya anemia dan

hipoalbuminemia
Hiponatremia: umumnya karena kelebihan cairan

Hiperkalemia: biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan

menurunnya diuresis
Hipoalbuminemia dan

gangguan metabolisme dan diet rendah protein


Peninggian gula darah, akibat gangguan metabolisme karbohidrat pada

gagal ginjal, (resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer)


Asidosis metabolik dengan kompensasi respirasi menunjukkan pH yang

hipokolesterolemia:

umumnya

disebabkan

menurun (7,38-7,42), HCO3 yang menurun (22-26 mEq/L), PCO2 yang


menurun (38-42 mmHg), semuanya disebabkan retensi asam-basa

organik pada gagal ginjal.


Ht: menurun karena pasien mengalamii anemia Hb < 7-8 gr/dl
BUN/Kreatinin : meningkat, kadar kreatinin 10 mg/dl diduga tahap akhir.

Rasio BUN dan kreatinin = 12:1 20:1


Protein albumin
: menurun
Natrium serum: rendah, Nilai normal 40-220 mEq/l/hari tergantung berapa

banyak cairan dan garam yang dikonsumsi.


Kalium, magnesium : meningkat
Kalsium
: menurun

Pemeriksaan Urin
Volume : biasanya < 400-500ml/24 jam atau bahkan tidak ada urin

(anuria)
Warna : secara abnormal urin keruh kemungkinan disebabkan oleh zat
yang tidak terreabsorbsi maksimal atau terdiri dari pus, bakteri, lemak,
fosfat atau urat sedimen kotor, kecoklatan menunjukkan adanya darah,

Hb, mioglobin.
Berat jenis : < 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal tubular
Klirens kreatinin : mungkin menurun.
Natrium : > 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium.
Protein : derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkan

kerusakan glumerulus bila SDM dan fragmen juga ada.


Osmolalitas: < 350 mOsm/kg, rasio urin/serum = 1:1

Pemeriksaan Radiologi: ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan


menilai derajat dari komplikasi yang terjadi
a. USG: untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal,
kepadatan

parenkim

ginjal,

anatomi

sistem

pelviokalises,

ureter

proksimal, kandung kemih serta prostat.


b. IVP (Intra Vena Pielografi): untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter.
Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan
tertentu, misalnya: usia lanjut, DM dan nefropati Asam urat.

c. Foto Polos Abdomen : untuk menilai bentuk dan besar ginjal dan
apakah ada batu atau obstruksi lain. Foto polos yang disertai dengan
tomogram memberikan hasil keterangan yang lebih baik.Dehidrasi akan
memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu penderita diharapkan tidak

puasa.
Endoskopi : untuk menentukkan pelvis ginjal, batu, hematuria, dan

pengangkatan tumor selektif


d. EKG : untuk mengetahui kemungkinan hipertropi ventrikel kiri dan kanan,
tanda-tanda perikarditis, disritmia, gangguan elektrolit.
PENATALAKSANAAN GAGAL GINJAL KRONIK
1. Terapi konservatif
Tujuan dari terapi konservatif adalah mencegah memburuknya faal ginjal
secara progresif, meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin
azotemia, memperbaiki metabolisme secara optimal dan memelihara
keseimbangan cairan dan elektrolit.
a. Peranan diet
Terapi diet rendah protein (DRP) menguntungkan untuk mencegah atau
mengurangi toksin azotemia, tetapi untuk jangka lama dapat merugikan
terutama gangguan keseimbangan negatif nitrogen. Protein rendah,
yaitu 0,6 0,75 gr/kg BB. Sebagian harus bernilai biologik tinggi.Lemak
cukup, yaitu 20-30% dari kebutuhan total energi, diutamakan lemak
tidak jenuh ganda. Karbohidrat cukup, yaitu : kebutuhan energi total
dikurangi yang berasal dari protein dan lemak. Natrium dibatasi apabila
ada hipertensi, edema, acites, oliguria, atau anuria, banyak natrium
yang diberikan antara 1-3 g. Kalium dibatasi (60-70 mEq) apabila ada
hiperkalemia (kalium darah > 5,5 mEq), oliguria, atau anuria.
b. Kebutuhan jumlah kalori
Kebutuhan jumlah kalori (sumber energi) untuk GGK harus adekuat
dengan tujuan utama, yaitu mempertahankan keseimbangan positif
nitrogen, memelihara status nutrisi dan memelihara status gizi. Energi
cukup yaitu 35 kkal/kg BB.
c. Kebutuhan cairan
Bila ureum serum > 150 mg% kebutuhan cairan harus adekuat supaya
jumlah diuresis mencapai 2 L per hari. Cairan dibatasi yaitu sebanyak
jumlah urine sehari ditambah dengan pengeluaran cairan melalui
keringat dan pernapasan (500 ml).

d. Kebutuhan elektrolit dan mineral


Kebutuhan jumlah mineral dan elektrolit bersifat individual tergantung
dari LFG dan penyakit ginjal dasar (underlying renal disease).
2. Terapi simtomatik
a. Asidosis metabolik
Asidosis metabolik harus dikoreksi karena meningkatkan serum kalium
(hiperkalemia). Untuk mencegah dan mengobati asidosis metabolik
dapat diberikan suplemen alkali. Terapi alkali (sodium bicarbonat) harus
segera diberikan intravena bila pH 7,35 atau serum bikarbonat 20
mEq/L.
b. Anemia
Transfusi darah misalnya Paked Red Cell (PRC) merupakan salah satu
pilihan terapi alternatif, murah, dan efektif. Terapi pemberian transfusi
darah harus hati-hati karena dapat menyebabkan kematian mendadak.
c. Keluhan gastrointestinal
Anoreksi, cegukan, mual dan muntah, merupakan keluhan yang sering
dijumpai pada GGK. Keluhan gastrointestinal ini merupakan keluhan
utama (chief complaint) dari GGK. Keluhan gastrointestinal yang lain
adalah ulserasi mukosa mulai dari mulut sampai anus. Tindakan yang
harus dilakukan yaitu program terapi dialisis adekuat dan obat-obatan
simtomatik.
d. Kelainan kulit
Tindakan yang diberikan harus tergantung dengan jenis keluhan kulit.
e. Kelainan neuromuskular
Beberapa terapi pilihan yang dapat dilakukan yaitu terapi hemodialisis
reguler

yang

adekuat,

medikamentosa

atau

operasi

subtotal

paratiroidektomi.
f.

Hipertensi
Pemberian obat-obatan anti hipertensi.

g. Kelainan sistem kardiovaskular


Tindakan yang diberikan tergantung dari kelainan kardiovaskular yang
diderita.
3. Terapi pengganti ginjal

Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5, yaitu
pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa
hemodialisis, dialisis ginjal, transplantasi ginjal, pemasangan double lumen
a. Hemodialisis
Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala
toksik azotemia, dan malnutrisi. Tetapi terapi dialisis tidak boleh terlalu
cepat pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan memperburuk faal
ginjal (LFG). Indikasi tindakan terapi dialisis, yaitu indikasi absolut dan
indikasi elektif. Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut, yaitu
perikarditis, ensefalopati/neuropati azotemik, bendungan paru dan
kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik, hipertensi
refrakter, muntah persisten, dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg
% dan kreatinin > 10 mg%. Indikasi elektif, yaitu LFG antara 5 dan 8
mL/menit/1,73m,

mual,

anoreksia,

muntah,

dan

astenia

berat.

Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai


sekarang telah dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Umumnya
dipergunakan ginjal buatan yang kompartemen darahnya adalah kapilerkapiler selaput semipermiabel (hollow fibre kidney). Kualitas hidup yang
diperoleh cukup baik dan panjang umur yang tertinggi sampai sekarang
14 tahun. Kendala yang ada adalah biaya yang mahal.

b. Dialisis Ginjal
Dialisis ginjal adalah proses penyesuaian kadar elektrolit dan air dalam
darah pada orang yang fungsi ginjalnya buruk atau rusak.pada prosedur
ini darah dilewatkan melalui suatu medium artificial yang mengandung
air dan elektrolit dengan konsentrasi yang telah ditentukan sebelumnya,
medium artificial adalah cairan dialysis.
1) CAPD (continous ambulatory peritoneal dialysis)
Pada dialysis peritoneum membrane peritoneum digunakan
sebagai sawar semipermeabel alami. Larutan dialisat yang telah
dipersiapkan

sebelumnya

dimasukkan

ke

dalam

rongga

peritoneum melalui sebuah kateter menetap yang diletakkan di


bawah kulit abdomen. Larutan dibiarkan dalam rongga peritoneum
selama waktu yang ditentukan biasanya 4 sampai 6 jam. Selama
waktu ini proses difusi air dan elektrolit terjadi.

Cara Kerja CAPD


a. Pemasangan Kateter untuk Dialisis Peritoneal
Sebelum melakukan Dialisis peritoneal, perlu dibuat akses sebagai
tempat keluar masuknya cairan dialisat (cairan khusus untuk dialisis) dari
dan ke dalam rongga perut (peritoneum). Akses ini berupa kateter yang
ditanam di dalam rongga perut dengan pembedahan. Posisi kateter
yaitu sedikit di bawah pusar. Lokasi dimana sebagian kateter muncul dari
dalam perut disebut exit site.
Sebelum pemasangan kateter peritoneal, dokter mencuci dan
mendesinfeksi abdomen. Anastesi lokal diberikan di daerah tengah
abdomen sekitar 5 cm di bawah umbilicus. Dokter membuat insisi kecil
dan kateter multinilon dimasukkan ke dalam rongga peritoneum.
Kemudian, daerah tersebut ditutup dengan balutan.
Proses pemasangan:
Mula-mula, alat perangkat harus disiapkan. Ini terdiri dari alat baxter
dinealR61L yang besar dengan tetes rangkap dimana diikatkan dua

kantong cairan dialysis 1 L. Dari pipa umum, alat tetes rangkap ada suatu
pipa tambahan yang menuju ke belakang, ini untuk mengsyphon off
cairan dari peritoneum. Seluruh pipa harus terisi dengan cairan yang
dipakai. Sebuah kantong pengumpulan steril yang besar (paling sedikit
volume 2 L) diikatkan pada pipa keluar.
Kemudian, anastesi local (lignocain 1-2%) disuntikkan ke linea alba
antara pusar atau umbilicus dan symphisis pubis, biasanya kira-kira 2/3
bagian dari pubis. Bekas luka pada dinding abdominal harus dihindari dan
kateter dapat dimasukkan sebelah lateral dari selaput otot rectus
abdominus. Anastesi local yang diberikan cukup banyak (10-15 ml) dan
yang paling penting untuk meraba peritoneum dan mengetahui bahwa telah
diinfiltrasi, bila penderita gemuk, sebuah jarum panjang (seperti jarum
cardiac atau pungsi lumbal) diperlukan untuk menganastesi peritoneum.
Suatu insisi kecil (sedikit lebih pendek dari garis tengah kanula)
dibuat di kulit dengan pisau nomor 11. Kateter

peritoneal kemudian

didorong masuk ke ruang peritoneal dengan gerakan memutar (seperti


sekrup). Sewaktu sudah masuk, pisau ditarik 1 inci dan kateter diarahkan
ke pelvis. Kdang-kadang dinding atau selaput peritoneum terasa sebagai
dua lapis yang dapat dibedakan, keduanya harus ditembus sebelum
menarik pisau dan mengarahkan kateter. Pada waktu ini, harus segera
dijalankan atau dialirkan 2 L cairan dan diperhatikan reaksi penderita,
minimalkan rasa tidak nyaman. Segera setelah cairan ini masuk, harus di
syphon off untuk melihat bahwa system tersebut mengalir lancar,
sesuaikan posisi kateter untuk menjamin bahwa aliran cukup baik.
Beberapa inci dari kateter akan menonjol dari abdomen dan ini dapat
dirapikan bila perlu. Namun paling sedikit 1 atau 2 inci harus menonjol dari
dinding perut. Hal ini kemudian dikuatkan ditempat dengan elastoplas.
Dengan tiap trokat ada suatu pipa penyambung yang pendek yang
menghubungkan kateter ke alat perangkat.

b. Pemasukan Ciran Dialisat


Dialisis Peritoneal diawali dengan memasukkan cairan dialisat
(cairan khusus untuk dialisis) ke dalam rongga perut melalui selang
kateter, lalu dibiarkan selama 4-6 jam. Ketika dialisat berada di dalam
rongga perut, zat-zat racun dari dalam darah akan dibersihkan dan
kelebihan cairan tubuh akan ditarik ke dalam cairan dialisat.
Sekitar 2 L dialisat dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh
kemudian disambungkan dengan kateter peritoneal melalui selang.dialisat
steril dibiarkan mengalir secepat mungkin kedalam rongga peritoneum.
Dialisat steril 2 L dihabiskan dalam waktu 10 menit. Kemudian klem
selang ditutup. Osmosis cairan yang maksimal dan difusi solut/butiran ke
dalam dialisat mungkin terjadi dalam 20-30 menit. Pada akhir dwell-time
(waktu yang diperlukan dialisat menetap di dalam peritoneum), klem
selang dibuka dan cairan dibiarkan mengalir karena gravitasi dari rongga
peritoneum ke luar (ada kantong khusus). Cairan ini harus mengalir
dengan

lancar.

Waktu

drainase

(waktu

yang

diperlukan

untuk

mengeluarkan semua dialisat dari rongga peritoneum) adalah 10-15


menit. Drainase yang pertama mungkin berwarna merah muda karena
trauma yang terjadi waktu memasang kateter peritoneal. Pada siklus ke-2
atau ke-3, drainase sudah jernih dan tidak boleh ada lagi drainase yang
bercampur dengan darah. Setelah cairan dikeluarkan dari rongga
peritoneum, siklus yang selanjutnya harus segera dimulai. Pada pasien
yang sudah dipasang kateter peritoneal, sebelum memasukkan dialisat
kulit diberi obat bakterisida. Setelah dialisis selesai, kateter dicuci lagi dan
ujungnya ditutup dengan penutup yang steril.

Zat-zat racun yang terlarut di dalam darah akan pindah ke dalam


cairan dialisat melalui selaput rongga perut (membran peritoneum) yang
berfungsi sebagai alat penyaring, proses perpindahan ini disebut Difusi.

Cairan dialisat mengandung dekstrosa (gula) yang memiliki


kemampuan untuk menarik kelebihan air, proses penarikan air ke dalam
cairan dialisat ini disebut Ultrafiltrasi.
c. Proses Penggantian Cairan Dialisis
Proses ini tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya membutuhkan waktu
-

singkat ( 30 menit). Terdiri dari 3 langkah:


Pengeluaran cairan
Cairan dialisat yang sudah mengandung zat-zat racun dan kelebihan
air akan dikeluarkan dari rongga perut dan diganti dengan cairan
dialisis yang baru. Proses pengeluaran cairan ini berlangsung sekitar
20 menit.

Memasukkan cairan
2 L cairan dialirkan pada kira-kira setiap 45-60 menit, biasanya hanya
memakan waktu 5 menit untuk mengalirkan. Cairan dialisat dialirkan ke
dalam rongga perut melalui kateter.

Waktu tinggal
Sesudah dimasukkan, cairan dialisat dibiarkan ke dalam rongga perut
selama 4-6 jam, tergantung dari anjuran dokter. Atau cairan ditinggal dalam
ruang peritoneum untuk kira-kira 20 menit dan kemudian 20 menit dibiarkan
untuk pengeluaran. Setelah itu, 2 L cairan lagi dialirkan. Hal ini diulang tiap
jam untuk 36 jam atau lebih lama bila perlu. Suatu catatan, keseimbangan
kumulatif dari cairan yang mengalir ke dalam dan keluar harus dilakukan
dengan dasar tiap 24 jam. Suatu kateter Tenchoff yang fleksibel dapat
dipakai juga dapat ditinggal secara permanen untuk CAPD dari penderita
yang mengalami gagal ginjal tahap akhir.

Proses penggantian cairan di atas umumnya diulang setiap 4 atau 6


jam (4 kali sehari), 7 hari dalam seminggu.
2) AAPD (automatic ambulatory peritoneal dialysis)

Adalah dialisa yang dilakukan diluar tubuh dengan menggunakan


mesin dimana darah dikeluarkan tubuh melalui sebuah mesin besar
dan dalam mesin tersebut terdapat 2 ruangan yang dipisahkan oleh
selaput semipermeabel.darah dimasukkan ke salah satu ruang,
sedangkan ruang yang lain diisi oleh cairan pen dialysis dan
diantaranya akan terjadi difusi dan setelah itu darah akan
dikembalikan ke tubuh.
c. Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan
faal). Pertimbangan program transplantasi ginjal, yaitu:
1) Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh
(100%) faal ginjal, sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih
70-80% faal ginjal alamiah
2) Kualitas hidup normal kembali
3) Masa hidup (survival rate) lebih lama
4) Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan
dengan obat imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan
5) Biaya lebih murah dan dapat dibatasi

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC
Mansjoer, Arif (2000) . Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculspius.
Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease
processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 2003 Ralp
& Rosenberg. 2003. Nursing Diagnosis: Definition & classification 20052006. Philadelphia USA
Suwitra K. 2006. Penyakit Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I
Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI. 581-584.
Tierney LM, et al. 2003. Gagal Ginjal Kronik. Diagnosis dan Terapi Kedokteran
Penyakit Dalam Buku 1. Jakarta: Salemba Medika