Anda di halaman 1dari 21

Ketuban Pecah Dini

Dewida Maulidatu S

Identitas

Nama
: Ny. E (pasien)
Umur
: 35 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan
: Ibu rumah
tangga
Alamat : Ciledug Kulon,
Cirebon
MRS
: 1 Desember 2015
(Jam 08.45)

Identitas suami
Nama
: Tn. U (Suami
pasien)
Umur
: 40 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Hubungan : Suami
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan
: Wiraswasta
Alamat
: Ciledug Kulon,
Cirebon

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Keluar cairan banyak dari jalan lahir
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Waled diantar oleh bidan desa dengan
keluhan keluar air-air dari jalan lahir dirasakan sejak jam 23.00
pada tanggal 30-11-2015 WIB, air-air keluar secara mendadak
tidak dapat ditahan, tampak berwarna jernih, dan berbau amis
dan dirasakan banyak. Keluhan mules-mules dirasakan sejak pukul
05.00 WIB pada tanggal 1-12- 2015 dan disertai keluar sedikit
lendir dan darah. Keluhan lain seperti demam, jantung berdebar
debar, sesak nafas, kaki bengkak dan keputihan gatal berbau
disangkal. Gerak janin masih dirasakan pasien. Riwayat benturan
disangkal. Buang air kecil lancar dan tidak sakit. Buang air besar
lancar dan tidak sakit

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, penyakit
jantung, dan asma disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengaku di dalam keluarganya tidak ada yang menderita
penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung,
dan asma.
Riwayat Fungsi Reproduksi
Hari pertama haid terakhir ( HPHT) : 1 Maret 2015
Taksiran partus : 8 Desember 2015
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lamanya haid : 5-7 hari
Banyaknya: 2-3x ganti pembalut
Riwayat Perkawinan
Perempuan : Pasien menikah selama 2 tahun, merupakan
pernikahan pertama, usia saat menikah 33 tahun
Laki-laki : Pasien menikah selama 2 tahun, merupakan
pernikahan pertama, usia saat menikah 38 tahun

Riwayat Obstetri
G1P0A0 : G1 hamil sekarang
Riwayat ANC : di bidan sebanyak >8x
Riwayat Imunisasi TT : 2x
Riwayat Abortus : Riwayat Kuretase : Riwayat Infeksi Nifas : USG : 1x (tidak ada kelainan) bulan ke 7
Riwayat Ginekologi
Riwayat penyakit pada saluran reproduksi : Riwayat operasi ginekologi : Riwayat Kontrasepsi
Pasien mengaku tidak menggunakan KB

Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis, GCS: 15
Tanda Vital : Tekanan darah 120/70 mmHg
Nadi 84x / menit
Respirasi 20x / menit
Suhu 36,70C
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 150 cm
Reflek : +/+
Status General
Kepala : Normocephal
Mata : Anemis ( -/- ), Ikterus ( -/- )
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid
Thorax : Inspeksi : normothorax, respirasi simetris, oedem -, jejas -, ictus
cordis tak terlihat, tidak ada retraksi sela iga

Palpasi : nyeri tekan -, ekspansi pernafasan simetris, fremitus taktil


simetris, kuat angkat ictus cordis baik

Perkusi : sonor di semua lapang paru, batas jantung kanan di


ICS V linea parasternal dextra, batas arcus jantugn di ICS V
linea midclavicula sinistra, batas kiri jantung di ICS II linea
parasternal sinistra.
Auskultasi : Vesikuler di semua lapang paru, rhonki -/-,
whezing -/-, katup aorta ICS II linea parasternal dextra reguler,
katup pulmo di ICS II linea parasternal sinistra reguler, katup
trikuspid ICS IV linea parasternal sinistra reguler, katup mitral
ICS V linea midclavicula sinistra reguler, murmur -, galop -.
Abdomen : Bentuk cembung, letak umbilikus normal, hernia
umbilikalis (-),Bising usus (+), peristaltik (15 kali/menit), jejas
(-), striae (+), caput medusa (-), massa (-), Asites (-), , NT (-)
DM (-), Cembung (+)
Ekstremitas : Edema (-), deformitas (-) akral hangat (+/+)

Status Obstetrik
Pemeriksaan luar
Inspeksi : Besar sesuai kehamilan, striae gravidarum (+)
Palpasi :
Leopold I : Teraba bagian lunak bokong, TFU: 31 cm
Leopold II : Punggung kanan, bagian kecil ekstremitas kiri
Leopold III : teraba bagian keras kepala, mudah digerakkan
Leopold IV : Divergen 4/5
HIS : 2x 10/ 10
DJJ : 158x/menit
TBBJ : 3.100 gram
Pemeriksaan spekulum : Terlihat cairan keluar dari OUE, fluor -, fluksus -,
portio licin.
Pemeriksaan dalam : v/v: tak
P : tebal, lunak
: 2 cm
Ket : Kep/H: 1
Pemeriksaan Lain
Kertas nitrazin : Kertas nitrazin merah berubah jadi biru

Resume
Pasien 35 tahun, G1P1A0 gravida 39-40 minggu, datang
dengan keluar air-air dari jalan lahir dirasakan sejak 10 jam yang
lalu pada jam 23.00 WIB tanggal 31 November 2015, air-air keluar
secara mendadak, tampak jernih, tidak berbau busuk dan
dirasakan banyak. Keluhan mules-mules dirasakan sejak pukul
05.00 WIB pada tanggal 1 Desember 2015 dan disertai keluar
sedikit lendir dan darah. Keluhan lain seperti demam, jantung
berdebar debar, sesak nafas, kaki bengkak dan keputihan gatal
berbau disangkal. Buang air kecil lancar dan tidak sakit, Buang air
besar lancar. Gerak janin masih dirasakan pasien. Riwayat
benturan disangkal. Riwayat penyakit asma, tekanan darah tinggi,
kencing manis dan jantung disangkal. HPHT: 01-03-2015 HTP: 0812-2015 Baru menikah 1 kali lamanya 2 tahun Pemeriksaan ANC
di bidan sebanyak 8 kali. Suntik TT sebanyak 2 kali
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik
dengan kesadaran composmentis tensi 120/70 mmHg, nadi
84x/menit, 20x/menit, temperatur rektal 36,7 C, BB 60 Kg, TB
150 cm, Refleks +/+. Status general secara umum dalam batas
normal. Abdomen Kontur cembung, Leopold I: Teraba bokong TFU:
31 cm. Leopold II: Punggung kanan. Leopold III: Kepala. Leopold IV:

Usulan Pemeriksaan Penunjang


Darah rutin
Urin rutin
Pemeriksaan mikroskopis
USG

Diagnosis Klinis
G1P0A0 wanita 35 tahun part aterm kala I fase laten
dengan ketuban pecah dini
Janin intrauterinn tunggal hidup letak kepala Hodge 1

Tatalaksana
Admission Test (AT)
Rencana persalinan pervaginam
Cefotaxime 2x1 gr IV (skin test terlebih dahulu)
Augmentasi persalinan dengan drip oksitosin 5 IU dalam
dekstrose 5% 20-60 tetes
Observasi his, DJJ, tanda-tanda vital, dan kemajuan
persalinan

Prognosis
Ibu
Quo ad vitam
: ad bonam
Quo ad fungsionam : ad bonam
Qua ad sanationam : ad bonam

Anak
Ad bonam

Ketuban pecah dini (KPD) atau


spontaneus/early/premature rupture of membrans
(PROM)

pecahnya selaput ketuban secara spontan pada


saat
belum
menunjukkan
tanda-tanda
persalinan/inpartu (keadaan inpartu didefinisikan
sebagai
kontraksi
uterus
teratur
dan
menimbulkan nyeri yang menyebabkan terjadinya
efficement atau dilatasi serviks), atau bila satu
jam kemudian tidak timbul tanda-tanda awal
persalinan, atau secara klinis bila ditemukan
pembukaan kurang dari 3 cm pada primigravida
dan kurang dari 5 cm pada multigravida.

ETIOLOGI

Infeksi
Def. Vitamin C
Faktor selaput ketuban
Umur dan paritas
Sosioekonomi

Patogenesis
Pecahnya selaput ketuban saat persalinan disebabkan oleh melemahnya
selaput ketuban karena kontraksi uterus dan peregangan yang berulang.
Daya regang ini dipengaruhi oleh keseimbangan antara sintesis dan
degradasi komponen matriks ekstraseluler pada selaput ketuban.

Pada ketuban pecah dini terjadi perubahan-perubahan seperti


penurunan jumlah jaringan kolagen dan terganggunya struktur kolagen,
serta peningkatan aktivitas kolagenolitik. Degradasi kolagen tersebut
terutama disebabkan oleh matriks metaloproteinase (MMP). MMP
merupakan suatu grup enzim yang dapat memecah komponenkomponen matriks ektraseluler. Enzim tersebut diproduksi dalam selaput
ketuban. MMP-1 dan MMP-8 berperan pada pembelahan triple helix dari
kolagen fibril (tipe I dan III), dan selanjutnya didegradasi oleh MMP-2 dan
MMP-9 yang juga memecah kolagen tipe IV. Pada selaput ketuban juga
diproduksi
penghambat
metaloproteinase
/
tissue
inhibitor
metalloproteinase (TIMP).

Gejala klinis

Anamnesis:
Kapan keluarnya cairan, warna dan baunya.
Adakah partikel-partikel dalam cairan (lanugo dan verniks).
Inspeksi: keluar cairan pervaginam.
Inspekulo: bila fundus uteri ditekan atau bagian terendah digoyangkan,
keluar cairan dari osteum uteri internum (OUI).
Pemeriksaan dalam:
Ada cairan dalam vagina.
Selaput ketuban sudah pecah.
Bila berdasarkan anamnesis pasti bahwa ketuban sudah pecah > 12 jam,
maka dikamar bersalin dilakukan observasi selama dua jam. Bila setelah
dua jam tidak ada tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi kehamilan. 7,9

Diagnosis
Mendiagnosa ketuban pecah dini dapat dengan
berbagai cara. Pertama, dengan melakukan
anamnesis yang baik dan teliti kapan mulai keluar
air, jumlahnya, merembes atau tiba-tiba banyak,
konsistensinya encer atau kental dan baunya.
pemeriksaan fisik,
pemeriksaan inspekulo steril. Pemeriksaan serviks mungkin
memperlihatkan keluarnya cairan amnion dari lubang serviks.
Jika meragukan apakah cairan berasal dari lubang serviks atau
cairan pada forniks posterior vagina, dilakukan pemeriksaan
pH dari cairan tersebut (cairan amnion akan merubah lakmus
menjadi berwarna biru karena bersifat alkalis).

Melihat cairan yang mengering di bawah mikroskop, cairan amnion


akan menunjukkan fern-like pattern (gambaran daun pakis)
Batasi pemeriksaan dalam
darah lengkap, cRP, MSU dan kultur darah.
Berikan antibiotika spektrum luas.
Pemeriksaan lebih lanjut seperti USG mencari:

Amniotic fluid index (AFI)


Aktivitas janin
Pengukuran BB janin
Detak jantung janin
Kelainan congenital atau deformitas
Membuktikan kebenaran ketuban pecah dengan jalan:
Aspirasi air ketuban untuk dilakukan:
Kultur cairan amnion
Pemeriksaan interleukin
Alfa fetoprotein

Penatalaksanaan
KPD pada kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi,
berikan antibiotik eritromisin 3250 mg, amoksisillin
3500 mg dan kortikosteroid
KPD pada kehamilan > 37 minggu tanpa infeksi
(ketuban pecah >6 jam) berikan ampisillin 21 gr IV
dan penisillin G 42 juta IU, lakukan induksi persalinan
dengan oksitosin, jika serviks tidak memungkinkan
lakukan SC.
KPD dengan infeksi (kehamilan <37 ataupun > 37
minggu), berikan antibiotik ampisillin 42 gr IV,
gentamisin 5 mg/KgBB, lakukan induksi persalinan
dengan oksitosin, jika tidak memungkinkan lakukan SC

KOMPLIKASI
Terhadap janin
Infeksi intrauterin
Tali pusat menumbung
Kelahiran prematur
Amniotic Band Syndrome
Terhadap ibu
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal,
apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat
dijumpai infeksi puerpuralis (nifas), peritonitis, septikemia, dan
dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur,
partus akan menjadi lam, maka suhu badan naik, nadi cepat dan
nampaklah gejala-gejala infeksi. Hal-hal tersebut dapat
meninggikan angka kematian dan morbiditas pada ibu.