Anda di halaman 1dari 28

KISMIYATI

Glomerulonefritis

merupakan
penyebab utama terjadinya gagal
ginjal tahap akhir dan tingginya angka
morbiditas pada anak. Terminologi
glomerulonefritis yang dipakai disini
adalah untuk menunjukkan bahwa
kelainan yang pertama dan utama
terjadi pada glomerulus, bukan pada
struktur ginjal yang lain

Unit fungsional ginjal


1-1,5 juta perginjal
Terdiri atas :
glomerulus
dan
tubulus
(caps
bowman,
tub
proksimalis, lengkung
henle, tub distalis, dan
tub kolektivus

glomerulus korteks yang mempunyai ansa


henle yang pendek berada dibagian luar
korteks.
glomerulus jukstamedular yang mempunayi
ansa henle yang panjang sampai ke bagian
dalam medula. Glomerulus semacam ini
berada di perbatasan korteks dan medula
dan merupakan 20% populasi nefron tetapi
sangat penting untuk reabsoprsi air dan
slut.1

Dengan mengalirnya darah ke dalam


kapiler glomerulus, plasma disaring
melalui dinding kapiler glomerulus. Hasil
ultrafiltrasi tersebut yang bebas sel,
mengandung semua substansi plasma
seperti ektrolit, glukosa, fosfat, ureum,
kreatinin, peptida, protein-protein
dengan berat molekul rendah kecuali
protein yang berat molekulnya lebih dari
68.000 (seperto albumin dan globulin).

KECEPATAN FILTRASI GLOMERULUS


(GFR)

GFR adalah jumlah filtrat yang


terbentuk pada kedua
ginjal
setiap menitnya. Pada orang
normal jumlahnya sekitar 125
ml/menit atau 180 liter perhari.
Lebih dari 99% filtrat ini akan
direabsorbsi
kembali
pada
tubulus
dan
sisanya
dibuang/dikeluarkan
sebagai

blow flow (RBF), 25% atau


1.200 ml/mnt dari curah jantung.
Glomerular filtation rate (GFR),
1/5 atau 125ml/mnt, atau 180 l/
hari dari Glomerulus ke Kapsula
Bowman.
1.5 ltr/hr dikeluarkan sebagai
kemih.
Renal

GFR = Kf ((Pg-Pb) - (Og-Ob))

Kf
Pg

= Koefisien filtrasi
= Tekanan hidrostatik glomerulus

Pb

= Tekanan hidrostatik kapsula bowman

Og

= Tekanan onkotik glomerulus

Glomerulonefritis akut (GNA) adalah suatu


reaksi imunologis pada ginjal terhadap
bakteri atau virus tertentu.Yang sering
terjadi ialah akibat infeksi kuman
streptococcus.

Glomerulonefritis merupakan suatu istilah


yang dipakai untuk menjelaskan berbagai
ragam penyakit ginjal yang mengalami
proliferasi dan inflamasi glomerulus yang
disebabkan oleh suatu mekanisme
imunologis.

Sebagian

besar (75%)
glomerulonefritis akut
timbul setelah infeksi
saluran pernapasan bagian
atas, yang disebabkan oleh
kuman Streptokokus beta
hemolitikus grup A

Sebenarnya bukan sterptokokus yang


menyebabkan kerusakan pada ginjal.
Diduga terdapat suatu antibodi yang
ditujukan terhadap antigen sterptokokal
spesifik. Terbentuk kompleks antigenantibodi didalam darah dan bersirkulasi
kedalam glomerulus tempat kompleks
tersebut secara mekanis terperangkap
dalam membran basalis.selanjutnya
komplomen akan terfiksasi mengakibatkan
lesi dan peradangan yang menarik leukosit
polimorfonuklear (PMN) dan trombosit
menuju tempat lesi.

Fagositosis dan pelepasan enzim lisosom


juga merusak endothel dan membran
basalis glomerulus (IGBM). Sebagai respon
terhadap lesi yang terjadi, timbu proliferasi
sel-sel endotel yang diikuti sel-sel
mesangium dan selanjutnya sel-sel epitel.
Semakin meningkatnya kebocoran kapiler
gromelurus menyebabkan protein dan sel
darah merah dapat keluar ke dalam urine
yang sedang dibentuk oleh ginjal,
mengakibatkan proteinuria dan hematuria.

hematuria/kencing berwarna merah daging


Albuminuria
edema ringan yang terbatas di sekitar mata
atau di seluruh tubuh
edema berat terdapat pada oliguria
penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG/GFR)
yang mengakibatkan ekskresi air, natrium,
zat-zat nitrogen mungkin berkurang
mengakibatkan azotemia

Hipertensi terdapat pada 60-70% anak


dengan GNA pada hari pertama, kemudian
pada akhir minggu pertama menjadi normal
kembali
DEMAM biasa di hari pertama
Kadang disertai muntah, tidak nafsu
makan, konstipasi dan diare
Nyeri pinggang menjalar sampai ke
abdomen
Sindrom nefrotik

Urinalisis
menunjukkan adanya proteinuria (+1 sampai +4),
granular, eritrosit(++),
albumin (+),
silinder lekosit (+)
Pemeriksaan darah
Kadang-kadang kadar ureum dan kreatinin serum
meningkat
hiperkalemia, asidosis, hiperfosfatemia dan
hipokalsemia
uji serologis terhadap antigen sterptokokus dapat
dipakai untuk membuktikan adanya infeksi
Albumin menurun, Komplemen serum dan C3
menurun

Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. untuk


memberi kesempatan pada ginjal untuk
menyembuh
Pemberian penisilin dapat dikombinasi
dengan amoksislin 50 mg/kg BB dibagi 3
dosis selama 10 hari. Jika alergi terhadap
golongan penisilin, diganti dengan
eritromisin 30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis.

Makanan. Pada fase akut diberikan


makanan rendah protein (1 g/kgbb/hari) dan
rendah garam (1 g/hari). Makanan lunak
diberikan pada penderita dengan suhu
tinggi dan makanan biasa bila suhu telah
normal kembali. Bila ada anuria atau
muntah, maka diberikan IVFD dengan
larutan glukosa 10%. Pada penderita tanpa
komplikasi pemberian cairan disesuaikan
dengan kebutuhan, sedangkan bila ada
komplikasi seperti gagal jantung, edema,
hipertensi dan oliguria, maka jumlah cairan
yang diberikan harus dibatasi.

Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian


cairan dikurangi, pemberian sedativa untuk
menenangkan penderita sehingga dapat cukup
beristirahat, Mula-mula diberikan reserpin
sebanyak 0,07 mg/kgbb secara intramuskular.
Bila terjadi diuresis 5-10 jam kemudian, maka
selanjutnya reserpin diberikan peroral dengan
dosis rumat, 0,03 mg/kgbb/hari
Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), maka
ureum harus dikeluarkan dari dalam darah
dengan beberapa cara misalnya hemodialisis
atau pemberian obat diuretik

Kelebihan volume cairan tubuh berhubungan


dengan retensi natrium dan air
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan katabolisme
protein
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan
dengan depresi pertahanan imunologi
Ansietas berhubungan dengan krisis
situasional
Kurang pengetahuan berhubungan dengan
keterbatasan kognitif

Pertahankan tirah baring, dan jaga agar pasien nyaman


sampai terjadi diuresis, setelah diuresis, anjurkan
aktivitas yang tenang
Pantau dengan cermat tanda-tanda vital (khususnya
tekanan darah)
Bila ada hipertensi, batasi asupan natrium dan beri obat
yang diinstruksikan
Pantau urine terhadap protein dan adanya darah
Tingkatkan asupan nutrisi yang adekuat: anjurkan
makanan tinggi-karbohidrat, sajikan makanan kesukaan,
dan sajikan sedikit tapi sering
Batasi asupan kalium jika terjadi hiperkalemia
Catat berat badan harian serta catat asupan dan haluran
cairan dengan cermat
Pantau adanya komplikasi-perubahan nyata pada tandatanda vital, perubahan tampilan atau volume urine,
peningkatan berat badan yang berlebihan, gangguan
penglihatan, gangguan motoris, aktivitas kejang, nyeri
hebat, atau perubahan perilaku

Bekali keluarga dengan pengetahuan tentang


penyakit pasien dan rencana pengobatanya
Instruksikan tentang pengobatan pasien selama di
rumah
Instruksikan keluarga dan pasien tentang bagaimana
memantau tekanan darah dan berat badan, dan
mendapatkan urinalisis untuk beberapa bulan,
perjanjian pemeriksaan tindak lanjut juga harus
diatur
Minta keluarga menghubungi dokter jika terdapat
perubahan kondisi anak, seperti adanya tanda-tanda
infeksi, edema, perubahan kebiasaan makan, nyeri
abdomen, sakit kepala, perubahan tampilan atau
jumlah urine, atau letargi
Jelaskan batasan-batasan diet pada keluarga

Fungsi ginjal kembali normal


Pasien dan keluarga memahami perlunya
perawatan di rumah dan pemeriksaan
tindak lanjut

TERIMA

KASIH

Anda mungkin juga menyukai