Anda di halaman 1dari 2

RAMADHAN EMPAT MATA

Nama Saya Muhammad Natsir, biasa dipanggil Natsir. Saya seorang mahasiswa
rantauan dari Jakarta. Saya meneruskan pendidikan jenjang perguruan tinggi di salah satu
universitas negri di kota Solo, Jawa Tengah di fakultas kedokteran. Saya mulai merantau
senjak tahun 2012 silam, ketika pengumuman SNMPTN usai di umumkan. Selama
perantauan ini, saya mendapatkan banyak pengalaman hidup yang biru, dari bagaimana hidup
tanpa orangtua, bagaimana bersosialisai dengan orang-orang baru dan yang paling penting
bagaimana harus bisa hidup mandiri.
Banyak kisah dan cerita dalam perantauan ini dan yang paling berkesan adalah ketika
saat datangnya bulan Ramadhan. Mengapa? Karena tepat pada bulan Ramadhan, kegiatan
belajar dalam perkuliahan masih berlangsung, yang artinya pada bulan Ramadhan belum ada
liburan semester. Kadang merasa sedih, karena tidak bisa merasakan sahur, buka puasa dan
solat tarawih bersama keluarga. Untungnya ada aplikasi LINE melalui fitur video call,
dimana kita bisa menghubungi keluarga yang jauh disana dengan tatapan muka. Serasa
sedang berada di tempat yang sama. Terima kasih LINE!
Hampir setiap hari saya menelepon Ayah, Ibu, Kakak, dan Adik dengan video call
LINE. Walau hanya menanyakan kabar dan menanyakan sedang apa, itu semua terasa seperti
sedang berbicara empat mata. Hal yang sangat membuat hati iri ketika, keluarga dirumah
sedang berbuka puasa bersama, lalu Kakak saya mengirimkan foto-foto, dipamerkannya
berbagai menu buka puasa. Bagaimana tidak iri? Saya hanya seorang anak kosan (hehehe)
yang biasa buka puasa dari jajanan para penjual takjil sekitar kosan saja. Walau begitu, saya
tetap bersyukur karena masih diberikan nikmat berbuka puasa ditambah dengan bisa melihat
kehangatan keluarga di Jakarta.
Selain dengan keluarga, saya juga sering menggunakan LINE melalui fitur call untuk
menelepon teman-teman. Biasanya saya menelepon teman untuk mengajak solat tarawih,
buka puasa bersama dan juga sering menggunakan LINE untuk urusan perkuliahan. Misalnya
mengirim gambar preparat praktikum untuk belajar atau mengirimkan voice note. Pokoknya
dengan aplikasi LINE semua terasa lebih mudah dan dekat. Hehehe
Hari demi hari di bulan Ramadhan saya lewati dengan berbagai kesibukan kuliah
dengan berpuasa. Hingga tiba pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Ibu saya mulai

menelepon dengan LINE, menanyakan apakah saya akan merayakan Idul Fitri di Jakarta atau
di Solo. Saya menjawab dengan jawaban yang tidak pasti dikarenakan masih banyak kegiatan
perkuliahan yang belum terselesaikan. Walau demikian Ibu saya dapat memaklumi dengan
baik tapi Ibu tetap menghimbau apabila memang sudah selesai segala urusan perkuliahan,
harus segera pulang ke Jakarta dan lebaran bersama. Saya hanya bisa mengiyakan.
Takdir berkata lain. Kegiatan belum selesai sampai H-1 lebaran dan saya memutuskan
untuk tidak pulang ke Jakarta. Terasa sedih memang tidak bisa merayakan hari kemenangan
Idul Fitri bersama keluarga. Walau demikian, keluarga dirumah bisa memahami dan semoga
ini jalan yang terbaik untuk ke depannya.
Hari raya Idul Fitri pun tiba. Pagi-pagi bersiap-siap untuk melaksanakan solat ied di
halaman kampus bersama teman-teman mahasiswa yang bernasib sama, tidak pulang ke kota
kelahiran dikarenakan tugas perkuliahan. Setelah usai solat ied, saya langsung menghubungi
keluarga dengan video call LINE.
selamat hari raya idul fitri ya Bu.. ucapku kepada Ibu melalui video call LINE. Tak
hanya dengan Ibu tapi dengan Ayah, Kakak, dan Adik saya pun video call-an. Tak kuasa
menahan air mataku ketika meminta maaf kepada Ibu dan Ayah.
Ayah..Ibu..maafin Natsir ya kalo selama ini ada salah sama Ayah Ibu. Maaf juga
belum bisa pulang dan lebaran bareng di rumah.. ucapku diselingi isak tangisan yang sendu.
Iya sama-sama ya Nak, Ibu sama Ayah juga minta maaf kalo selama ini belum bisa
memenuhi apa yang di inginkan kamu disana.. balas Ibuku yang ternyata juga menangis.
Seketika kita semua terdiam sesaat hanya terdengar isak tangisan. Setelah selesai
semua video call-an dengan anggota keluarga dirumah, saya berpamitan untuk mengakhiri
perbincangan karena ada beberapa keperluan.
Demikian cerita Ramadhan yang saya alami sebagai mahasiswa rantauan. Walau jarak
memisahkan tetapi dengan menggunakan LINE, semua terasa dekat dan nyata. Sekali lagi
terima kasih LINE! Dengan mu saya bisa merasakan ngobrol empat mata walau jarak
memisahkan.

SEKIAN