Anda di halaman 1dari 4

Universitas Sriwijaya

Laporan Kerja Praktek Rendal Produksi PT. PUSRI

BAB V
TUGAS KHUSUS
MENGEVALUASI KINERJA WASTE HEAT BOILER (WHB) MELALUI
PERHITUNGAN EFISIENSI WASTE HEAT BOILER (WHB) DI
PT. PUSRI IB
5.1. Latar Belakang
Boiler atau ketel uap adalah suatu alat konversi energi kimia dari bahan
bakar menjadi energi termal/panas yang ditransfer kepada fluida kerja yaitu air,
dalam bejana yang tertutup rapat. Boiler terdiri dari peralatan penyaluran udara,
sistem penyaluran bahan bakar, sistem suplai air, drum uap dan pipa-pipa. Boiler
harus dibuat dengan konstruksi yang kuat agar dapat menahan tekanan operasi
secara konstan, berubah-ubah atau pada perubahan keadaan yang tiba-tiba. Boiler
mempunyai dua bagian penting yaitu:
1) Tungku (burner) adalah bagian yang berfungsi untuk menghasilkan panas
dengan cara membakar bahan bakar.
2) Evaporator, superheater, dan ekonomiser adalah alat yang berfungsi untuk
mentransfer panas dari tungku ke dalam suatu boiler.
Waste Heat Boiler (WHB) merupakan salah satu jenis Boiler yang
merupakan pembangkit steam utama. Di PUSRI IB WHB memanfaatkan panas
gas buangan dari Gas Turbin Generator (Exhaust GTG) dengan suhu 400oC, dan
ditambah dengan pemanasan (Burner) dengan bahan bakar berupa gas sehingga
suhu meningkat menjadi 800oC. Steam hasil keluaran WHB melewati berbagai
proses yang ada di WHB sehingga menghasilkan Medium Steam. WHB di PUSRI
IB dirancang untuk menghasilkan Medium Steam (MS) sebesar 90,7 ton/jam pada
tekanan 42 kg/cm2 dan temperatur 400oC.
Oleh karena itu, jumlah udara yang dimasukkan ke ruang bakar untuk
pembakaran harus tepat dengan jumlah bahan bakar karena jika kurang, maka
akan terjadi pembakaran tidak sempurna yang akan mengurangi jumlah panas
yang dihasilkan dan sebagian unsur, khususnya unsur karbon tidak dapat
seluruhnya terbakar sehingga menimbulkan asap hitam. Biasanya untuk
mendapatkan pembakaran yang sempurna, jumlah udara dibuat berlebih dari pada

Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Rendal Produksi PT. PUSRI

untuk reaksi kimia, tetapi bila terlalu berlebihan maka sebagian panas akan akan
terpakai untuk memanaskan kelebihan udara tersebut akhirnya malah terbuang.
Untuk mengetahui apakah pembakaran berjalan secara baik atau tidak,
perlu adanya pengukuran dan analisa dengan parameter gas asap yang keluar dari
ketel. Analisa ini dilakukan dengan alat pengukur maupun laboratorium dengan
indikasi oksigen terbuang.
Melalui dasar teori dan alasan tersebut, mendasari kami untuk
melaksanakan tugas khusus mengevaluasi kinerja WHB melalui efisiensi WHB di
PUSRI IB. Dengan demikian, dari perhitungan efisiensi WHB dapat kita evaluasi
bagaimana WHB tersebut dapat beroperasi seefisien mungkin dan menghasilkan
MS sesuai dengan desain yang ada.
Dengan adanya perhitungan yang ditentukan oleh parameter-parameter
seperti banyaknya uap yang terbentuk, banyaknya suplai bahan bakar, temperatur
uap keluar,temperatur gas buang, nilai kalor bahan bakar (tergantung dari jenis
bahan bakar yang digunakan), kandungan bahan bakar, dan kandungan gas buang.
Efisiensi dapat dihitung, jika semakin tinggi efisiensi maka kinerja dari dari suatu
alat atau sistem dapat dinyatakan bagus, artinya rugi atau losses yang dihasilkan
dari suatu alat atau sistem untuk proses semakin kecil.
5.2. Permasalahan
Untuk mengetahui kinerja Waste Heat Boiler (WHB) PUSRI 1B apakah
telah beroperasi secara efisien?
5.3. Ruang Lingkup Permasalahan
Pada tugas khusus ini permasalahan dibatasi pada mengevaluasi kinerja
WHB melalui perhitungan efisiensi WHB di PT. PUSRI 1B.
5.4. Tujuan
Tujuan dari tugas khusus ini adalah :
1. Menghitung neraca massa di Gas Turbin Generator (GTG) dan Waste Heat
Boiler (WHB).
2. Menghitung efisiensi penyerapan panas yang ada di WHB serta
mengevaluasi kinerja WHB.

Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Rendal Produksi PT. PUSRI

5.5. Manfaat
Setelah mengerjakan tugas khusus ini mahasiswa diharapkan dapat
memahami kinerja dari WHB dengan membuat neraca massa dan neraca panas
dari alat WHB, sehingga dapat mengevaluasi kinerja dari WHB di PT. PUSRI 1B.
5.6. Metode Pengambilan Data
Data-data yang digunakan dalam perhitungan ada dua macam, yaitu :
1. Data operasi merupakan data aktual, yaitu data sewaktu operasi
berlangsung. Data ini merupakan data yang berasal dari pembacaan di
panel-panel indikator yang berada di panel control room.
2. Data komposisi gas alam, merupakan data analisa dari laboratorium.
Sedangkan aliran yang tidak ada data analisa maupun data operasinya,
digunakan asumsi.
5.7. Tinjauan Pustaka
Boiler
Boiler merupakan bejana tertutup yang terdapat panas pembakaran
dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Steam pada tekanan
tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air
merupakan media yang efektif mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air
dididihkan sampai menjadi steam, volumnya akan meningkat sekitar 1600 kali,
menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesin yang mudah meledak,
sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan
sangat baik.
Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan
bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai
dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan
dan perbaikan. Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam
dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada
keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan
alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang
digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang
dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada
jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem. Air yang disuplai ke boiler untuk

Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Rendal Produksi PT. PUSRI

dirubah menjadi steam disebut air umpan. Dua sumber air umpan adalah
kondensat atau steam yang mengembun yang kembali dari proses dan make up
water(air baku yang sudah diolah) yang harus diumpankan dari luar ruang Boiler
dan plant proses. Untuk mendapatkan efisiensi Boiler yang lebih tinggi, digunakan
Economizer untuk memanaskan awal air umpan menggunakan limbah panas pada
gas buang.
Berdasarkan sumber panas yang digunakan untuk membangkitkan steam di
pabrik utilitas dikenal dua macam boiler yaitu Waste Heat Boiler (WHB) panas
berasal dari gas buang Gas Turbine Generator sebagai bahan bakar utama dan
Supplemental Burner (grid type gas burner). Air demin dari tangki penyimpan,
sebelum di alirkan ke Boiler di alirkan dulu ke Deaerator untuk menghilangkan
udara dan gas-gas lain yang terlarut, sehingga dapat mencegah terjadinya korosi.
Sebagai pengikat udara atau oksigen maka ke dalam Deaerator di injeksikan
Hydrazine (N2H4) sehingga akan bereaksi dengan O2 sebagai berikut:
N2H4 +

O2

N2 + 2H2O

Sedangkan sebagai pengatur pH air digunakan NH 3. Air yang keluar dari


Deaerator tersebut dikenal dengan istilah Boiler Feed Water (BFW) yang
kemudian di alirkan ke Boiler (WHB dan PB) untuk memproduksi uap air pada
tekanan 42 kg/cm2 dan suhu 399oC. Pabrik Ammonia memproduksi uap air sendiri
(tekanan 105 kg/cm2 di P-II/III/IV dan 123 kg/cm2 di P-IB) dengan memanfaatkan
panas gas buang dari reformer.