Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau (ponpes),
adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana parasiswanya semua
tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal
dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri.
Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid
untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan perseorangan
di pondok pesantren pada umumnya kurang mendapatkan perhatian dari
santri. Faktanya, sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang
kumuh, tempat mandi dan WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan
sanitasi buruk. Ditambah lagi dengan perilaku tidak sehat, seperti
menggantung pakaian di kamar, tidak membolehkan pakaian santri putri
dijemur di bawah terik matahari, dan saling bertukar pakai benda pribadi,
seperti sisir dan handuk sehingga disinilah kunci akrabnya penyakit kulit
dengan dunia pesantren. Kondisi seperti ini sangat memungkinkan
terjadinya penularan penyakit kulit apabila para santri dan pengelolanya
tidak sadar akan pentingnya menjaga kebersihan baik kebersihan
lingkungan maupun personal hygiene (Perdoski 2001).
Dermatofitosis adalah salah satu infeksi yang paling sering terjadi
di dunia. Distribusi, spesies penyebab, dan bentuk infeksi yang terjadi
bervariasi pada daerah geografis,lingkungan dan budaya yang berbeda.
Dermatofita berkembang pada suhu 25-28C dan timbulnya infeksi pada
kulit manusia didukung oleh kondisi yang panas dan lembab. Karena
alasan ini, infeksi jamur superfisial relatif sering pada negara tropis pada
populasi dengan status sosioekonomi rendah yang tinggal di lingkungan
yang sesak dan hygiene yang rendah (Soekandar 2004).

Salah satu dermatofitosis yang banyak terjadi adalah tinea pedis.


Tinea pedis atau yang lebih dikenal sebagai tinea pedis atau Athletes foot
maupun ringworm of the foot merupakan infeksi kulit oleh jamur yang
biasanya menyerang sela jari kaki dan telapak kaki. Tinea pedis
disebabkan oleh Trichophyton rubrum yang sering memberikan kelainan
menahun. Di Amerika Serikat, tinea pedis diperkirakan menjadi penyakit
kulit kedua terbanyak setelah jerawat. Di Eropa dan Asia Timur, prevalensi
tinea pedis diperkirakan sebesar 20% (Mansour dan Hamdi 2007).
Sementara di Spanyol, prevalensi tinea pedis adalah sebesar 2,9%
(4,2% untuk laki-laki dan 1,7% untuk perempuan). Prevalensi lebih tinggi
pada ras yang tinggal di daerah tropis. Tinea pedis sering menyerang orang
dewasa yang bekerja ditempat basah seperti tukang cuci, petani atau orang
yang setiap hari harus memakai sepatu tertutup misalnya pelajar atau
tentara (Perea, Ramos, et al., 2000).
Selain karena pemakaian sepatu tertutup untuk waktu yang lama,
bertambahnya kelembaban karena keringat, pecahnya kulit karena
mekanis, tingkat kebersihan perorangan, dan paparan terhadap jamur
merupakan faktor risiko yang menyebabkan terjadinya tinea pedis.
Kondisi lingkungan yang lembab dan panas di sela-sela jari kaki karena
pemakaian sepatu dan kaus kaki, juga akan merangsang tumbuhnya jamur
(Perea, Ramos, et al., 2000).
Kejadian tinea pedis di sela jari banyak ditemukan pada pria
dibandingkan pada wanita. Angka kejadian tinea pedis meningkat seiring
bertambahnya usia, karena semakin bertambah usia seseorang maka akan
menurun pula daya tahan tubuhnya.
Keadaan sosial ekonomi serta kurangnya kebersihan memegang
peranan yang penting pada infeksi jamur, yaitu insiden penyakit jamur
lebih sering terjadi pada sosial ekonomi rendah. Hal ini berkaitan dengan
status gizi yang mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang terhadap
penyakit.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan santri Pondok Pesantren
Mambau Syafaatil Quran tentang tinea pedis (kutu air)?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat
pengetahuan santri Pondok Pesantren Mambau Syafaatil Quran tentang
tinea pedis (kutu air).
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa:
1.4.1 Bidang akademik/ilmiah
Menambah pemahaman santri Pondok Pesantren Mambau
Syafaatil Quran tentang tinea pedis (kutu air).
1.4.2 Bidang pelayanan masyarakat
Menambah wawasan dan sumber informasi bagi orang lain
tentang penyakit tinea pedis.
1.4.3 Bidang pengembangan penelitian
Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan teori bagi
penelitian selanjutnya dalam hal penyakit tinea pedis sehingga
dapat bermanfaat untuk menurunkan prevalensi, mengobati atau
mencegah tinea pedis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI DAN EPIDEMIOLOGI TINEA PEDIS


Tinea pedis (kaki atlet) adalah salah satu infeksi jamur superfisial
yang sering terjadi pada kulit di seluruh wilayah di dunia. Infeksi jamur pada
kaki yang sering terjadi pada pria dewasa dan jarang pada wanita dan anakanak. Hal ini lebih sering terjadi pada masyarakat yang hidup berdekatan
seperti barak tentara, sekolah berasrama, mereka yang sering mengunjungi
kolam renang, dan kaki yang tertutup sepatu yang tidak menyerap keringat.
Kejadian infeksi ini lebih tinggi pada iklim lembab hangat yang diketahui
sebagai tempat pertumbuhan jamur, tetapi terjadi lebih jarang pada daerah di
dunia di mana sepatu tidak umum digunakan (Soekandar 2004, Budimulja
2007).
Tinea

pedis

menginfeksi

melalui

kontak

langsung

dengan

arthroconidia (diproduksi oleh filamen dermatophytic), sekalipun memakai


sepatu ketat yang memicu infeksi dan penyebaran. Tinea pedis bisa disertai
dengan infeksi dermatofit dari bagian tubuh lain termasuk paha, tangan atau
kuku. Sekitar 15% dari populasi mengalami infeksi jamur kaki pada satu
waktu tertentu dan lebih dari 70% individu akan mengalami infeksi jamur
kaki, kemungkinan besar tinea pedis, selama hidupnya. Setelah terinfeksi,
organisme akan bertahan lama pada host dan individu berperan sebagai
carrier.
Pasien dengan gejala berat mungkin mencari bantuan medis dan
sering dari mereka memiliki infeksi jamur bersamaan dengan kuku kaki. Ada
banyak kasus yang tidak terdiagnosis yang mungkin asimtomatik dan tidak
diduga tinea pedis tetapi kemungkinan sumber infeksi bagi orang lain.

2.2 FAKTOR PREDISPOSISI TINEA PEDIS

Individu dengan gangguan pertahanan imun sangat rentan terhadap


infeksi. HIV/AIDS, Transplantasi organ, kemoterapi, steroid, nutrisi
parenteral, dan lain-lain umumnya diketahui sebagai faktor yang dapat
menurunkan resistensi pasien terhadap infeksi jamur. Kondisi seperti usia
lanjut, obesitas, diabetes mellitus juga memiliki dampak negatif pada
kesehatan pasien secara keseluruhan dan dapat mengurangi kekebalan tubuh
serta meningkatkan risiko tinea pedis. Diabetes mellitus sendiri menyumbang
bagian yang signifikan dari infeksi, pasien dengan kondisi ini 50% lebih
rentan untuk mengalami infeksi jamur (Budimulja,2007).
2.3 ETIOLOGI TINEA PEDIS
Sebagian besar kasus tinea pedis disebabkan oleh dermatofit, jamur
yang menyebabkan infeksi superfisial kulit dan kuku dengan menginfeksi
keratin dari lapisan atas epidermis. Tinea ini paling sering disebabkan oleh
spesies

anthropophilic

seperti

Trichophyton

rubrum

(60%),

T.

mentagrophytes (20%), Epidermophyton floccosum (10%) dan lebih jarang


oleh M. canis dan T. tonsurans. Namun, etiologi sebenarnya dalam setiap
pasien dapat menjadi rumit dengan adanya jamur saprofit, ragi dan/ atau
bakteri. Telah diamati bahwa 9% dari kasus tinea pedis disebabkan oleh agen
infeksi selain dermatofit. Jamur nondermatofit Malassezia furfur, bakteri
Corynebaceterium minutissimum dan ragi seperti spesies Candida juga
ditemukan berperan dalam tinea pedis (Al Hasan, et al. 2004, Siregar 2005).
2.4 PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI TINEA PEDIS
Faktor resiko tinea unguium dan tinea pedis lebih tinggi pada laki-laki
dari pada wanita. hal ini disebabkan karena pada laki-laki lebih sering terjadi
trauma pada kuku dan menggunakan sepatu yang ketat. Pada penelitian
terbaru ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
seringnya melakukan olah raga atau penggunaan pemandian umum dengan
terjadinya tinea pedis akan tetapi terdapat sejumlah kecil objek penelitian

yang ternyata tidak melemahkan pernyataan tersebut (Perea, Ramos, et al.,


Prevalence and Risk Factors of Tinea Unguium and Tinea Pedis in the
General Population in Spain 2000).
Beberapa faktor host yang berpengaruh pada peningkatan terjadinya
tinea pedis diantaranya adalah peningkatan angka kejadian AIDS dan
banyaknya pasien yang menjalani kemoterapi, penggunaan steroids,
transpalntasi organ dan pemberian nutrisi parenteral. pasien yang mengalami
obesitas, penuaan, atau pasien yang mempunyai penyakit sistemik juga
menyebabkan meningkatnya tinea pedis. Selain itu faktor lokal yang dapat
mempengaruhi kejadian tinea pedis adalah trauma, kelembapan yang
berlebihan, pakaian yang ketat dan penggunaan sarana pemandian umum atau
kolam renang umum. Penelitian terbaru di Israel menunjukan bahwa
pencucian kaki berulang kali pada anak sekolah dapat menyebabkan
delipidasi dan perubahan pH di stratum corneum yang dapat memacu
pertumbuhan jamur (Al Hasan, et al. 2004, Sularsito 2006).
Tiga

spesies

jamur,

Trichophyton

rubrum,

Trichophyton

mentagrophytes, dan Epidermophyton floccosum ketiganya bertanggung


jawab sebagai`penyebab terbanyak terjadinya Tinea Pedis di dunia. diantara
ketiga jamur yang memiliki sifat keratophilic tersebut, Trichophyton rubrum
adalah yang paling umum berhubungan dengan kejadian Tinea Pedis kronis.
Faktor yang mempengaruhi penyebaran dari jamur pathogen ini adalah
tergantung pada sumber infeksinya yang biasanya berasal dari manusia lain
(anthropophilic), hewan (zoophilic) dan dari tanah (geophilic) (Al Hasan, et
al. 2004, Siregar 2005).
T. rubrum mempunyai beberapa mikrokonidia sepanjang hifanya yang
membesar pada ujungnya. Konidia merupakan spora aseksual yang
membentuk ujung dari konidiopor. konidia terdiri dari mikrokonidia dan
makrokonidia.

Trichophyton

mentagrophytes

secara

morfologi

dan

karakteristik juga hampir sama dengan T. rubrum. Keduanya berbentuk


granul granul dengan ditutupi bulu-bulu halus dan kadang sulit dibedakan jika

diamati dengan dengan mikroskop.Spesies T. mentagrophytes dapat berwarna


kuning pucat di bagian tepinya sedangkan T. rubrum seringnya tetapi tidak
selalu berwarna seperti anggur. T. mentagrophytes adalah zoophilic dan
berefek pada banya spesies hewan diantaranya tikus, kucing, anjing, dan kuda
(Al Hasan, et al. 2004).
Selain itu T. rubrum memiliki sifat-sifat anthropophilic, ectothrix dan
tes urease negatif. Sedangkan dari hasil kultur, macroconidia jarang dan
berbentuk seperti pensil. Microconidia berbentuk seperti tetesan air mata (tear
shape). T. rubrum juga menghasilkan keratinase yang dapat melisiskan
keratin pada stratum korneum kulit sehingga menimbulkan gejala klinis
seperti timbulnya skuama. Dengan rusaknya stratum korneum jamur ini dapat
menginvasi ke jaringan yang lebih dalam dan menimbulkan reaksi inflamasi
lokal (Perea, Ramos, et al., Prevalence and Risk Factors of Tinea Unguium
and Tinea Pedis in the General Population in Spain 2000).

Gambar 1. Mekanisme infeksi tinea pedis

2.5 GAMBARAN KLINIK TINEA PEDIS

Ada 4 jenis tinea pedis interdigitalis, moccasin, tipe akut ulserasi dan
tipe vesiculobulosa semua dengan karakteristik kulit masing-masing.
a. Interdigitalis
Hal ini terjadi dalam dua bentuk, bentuk paling umum dari infeksi ini
biasanya muncul di interspaces antara jari kaki keempat dan jari
kelima, sesekali menyebar ke bagian bawah kaki. Jenis pertama
interdigital tinea pedis, yang dikenal sebagai Dermatofitosis simplex,
sebagian besar asimtomatik dan terlihat kering, bersisik, pengelupasan
minimal interspaces dengan sesekali pruritus. Bentuk keduanya yaitu
dermatofitosis kompleks yang simtomatik dan biasanya terlihat basah,
ruang interdigital maserasi bersama dengan fisura dari sela,
hiperkeratosis, leukokeratosis dan erosi (Carlo dan Bowe 2004,
Budimulja 2007).

Gambar 2. Tinea pedis interdigitalis. Maserasi dan terdapat opaque


putih dan beberapa erosi

Gambar 3. Tinea pedis pada bagian bawah jari kaki.


b. Moccasin foot (tipe Hiperkeratosis) atau Moccasin:
Tipe ini terdiri dari sisik dan hiperkeratosis melibatkan plantar dan
aspek lateral kaki, menyerupai sandal. Infeksi tinea pedis dengan jenis
moccasin umumnya bilateral dan sering disertai dengan onikomikosis
subungual. Jenis infeksi ini diduga disebabkan oleh Trichophyton
rubrum, biasanya pada pasien dengan latar belakang atopik atau
kecenderungan infeksi turun-temurun (Carlo dan Bowe 2004,
Budimulja 2007).

Gambar 4. Tinea pedis. Terdapat distribusi tipe moccasin. Bentuk


arciform dari sisik yang merupakan karakteristik
c. Vesiculo bulosa

Ini adalah bentuk paling umum dari infeksi ini. Tinea pedis jenis ini
sering diakibatkan karena T.mentagrophytes. Gambarannya berupa
vesikel pustul atau bula pada kulit tipis ditelapak kaki dan area
periplantar. Tipe ini jarang timbul pada anak-anak, tapi jika terjadi
etiology yang sering terjadi pada anak-anak adalah T.rubrum. Vesikel
penuh dengan nanah daripada cairan bening adalah indikasi dari
bakteremia sekunder biasanya Staphylococcus aureus (Sarah dan
Leslie 2008, Kumar, et al. 2011)

Gambar 5. Tinea pedis tipe bulosa. Vesikel pecah, bula, eritema,


dan erosi pada bagian belakang dari ibu jari kaki.
d. Tipe akut ulserasi
Ada proses ulseratif akut biasanya melibatkan telapak kaki dan terkait
dengan maserasi, penggundulan kulit dan perembesan. Ko infeksi
bakterial ganas biasanya dari gram negatif kombinasi dengan
T.mentagrophytes menghasilkan vesikel pustule dan ulcer bernanah
yang besar pada permukaan plantar (Sarah dan Leslie 2008, Kumar, et
al. 2011)

10

2.6 DIAGNOSIS BANDING TINEA PEDIS


Diagnosis banding klinis dari erupsi cutaneus kaki seperti kontak
dermatitis, psoriasis, dihydrosis, eczema, dermatitis atopic, keratoderma,
liken planus dan beberapa infeki bacterial seperti C.minutissimum,
streptococcal cellulitis dan lain-lain yang umumnya susah dibedakan dengan
tinea pedis (Hay dan Ashbee 2010).
Diagnosis banding dari tinea pedis dapat di bedakan menjadi
1. Interdigitalis
Diagnosis banding berupa psoriasis, soft corns, koinfeksi bakteri,
kandidiasis, erythrasma (Sarah dan Leslie 2008)
2. Tipe Moccasin
Diagnosis banding berupa psoriasis, keturunan atau yang diperoleh
keratoderma pada telapak tangan dan kaki, dyshidrosis (Sarah dan
Leslie 2008)
3. Vesiculo-bulosa
Diagnosis banding berupa Pustular psoriasis, palmoplantar pustolosis,
pyoderma bakteri (Sarah dan Leslie 2008)
2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG TINEA PEDIS
Diagnosis yang akurat tentang tinea pedis harus mencakup tes
diagnostik yang tepat di samping diagnosis klinis. Identifikasi yang tepat dan
pengobatan tinea pedis pada presentasi awal pasien memiliki potensi untuk
secara signifikan mengurangi ketidaknyamanan pasien, risiko penularan dan
morbiditas terkait dengan infeksi. Akurasi diagnostik dari pemeriksaan kultur
jamur pada preparat SDA dan KOH dari kerokan kulit bervariasi dari 5070%.
1) KOH
Pemeriksaan mikroskopis langsung untuk elemen jamur dianggap metode
yang tidak sensitif, dengan sekitar 15% negatif palsu, tergantung pada
pengujian materi yang tidak tepat, jumlah kerokan yang tidak cukup,
larutan KOH usang atau rusak dan pengalaman observer. Pada
pemeriksaan

mikroskopis

ditemukan septa atau hifa bercabang,

11

arthrospora, atau dalam beberapa kasus, sel-sel tunas memberikan bukti


infeksi jamur.
2) Kultur
Kultur dari lesi yang diduga tinea pedis dilakukan pada Sabourauds
Dextrose Agar (SDA). pH asam 5,6 untuk media ini menghambat banyak
spesies bakteri dan dapat dibuat lebih selektif dengan penambahan
suplemen

kloramfenikol.

Kultur

dapat

dilakukan

2-4

minggu.

Dermatophyte Test Medium (DTM) yang digunakan untuk isolasi selektif


dan pengenalan jamur dermatophytic merupakan pilihan diagnostik lain,
yang mengandalkan indikasi warna yang berubah dari oranye ke merah
untuk menandakan kehadiran dermatofit. Hasil DTM telah terbukti hanya
sekitar 60% akurat.
3) Periodic Acid Schiff Stain/ Uji Reaksi PAS
Ini adalah tes yang lebih disukai untuk diagnosis infeksi tinea pedis.
Cairan PAS dapat dipercaya menunjukkan dinding berisi polisakarida dari
organisme jamur yang terkait dengan kondisi ini dan merupakan salah
satu teknik yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi protein
terikat karbohidrat (glikoprotein). Tes ini dilakukan dengan membuka
jaringan dari berbagai substrat ke serangkaian reaksi reduksi-oksidasi,
sebagai hasil akhir, unsur-unsur positif seperti karbohidrat, bahan
membran basal menjadi seperti manisan apel merah. Komponenkomponen PAS positif ini kontras tajam dengan latar belakang biru merah
muda. Tidak seperti kultur SDA atau DTM, hasil PAS tersedia sekitar 15
menit. PAS juga telah ditemukan untuk menjadi tes diagnostik yang
paling dapat diandalkan untuk tinea pedis, dengan keberhasilan 98,8%
dan biaya paling efektif.
4) Mikroskop Confocal
Teknik baru dan lebih sensitif sedang diteliti, seperti mikroskop confocal,
namun teknik ini mungkin tidak siap untuk digunakan secara luas untuk
beberapa waktu. Mikroskop Confocal adalah teknik non-invasif yang
menyediakan gambar resolusi tinggi dari kulit utuh dibandingkan dengan
histologi rutin, tanpa membutuhkan persiapan spesimen.

12

5) Metode Molekuler
Baru-baru ini, teknik berbasis biologi molekul, seperti PCR diikuti oleh
restriction fragment length polymorphism (RFLP), Real time PCR dan
multipleks PCR telah disesuaikan untuk deteksi dermatofit dari spesimen
klinis. Metode molekuler ini memiliki potensi yang baik untuk langsung
mendeteksi dermatofit dalam spesimen klinis, namun metode ini belum
dibakukan untuk laboratorium klinis rutin. PCR - RFLP adalah teknik
dengan kekuatan diskriminatif kecil untuk membuat diagnosis mudah dan
spesifik. Real time PCR tampaknya menjanjikan tetapi tidak cukup
praktis untuk sejumlah besar laboratorium baik skala kecil atau
dianggarkan sangat erat. Nested PCR untuk dermatofitosis kulit diamati
lebih sensitif untuk mendeteksi dermatofit dari kultur isolasi, KOH
mikroskop, dan single-round PCR. Selanjutnya nested PCR sangat
membantu untuk diagnosis kasus dengan dermatofitosis yang baru-baru
ini diobati dengan agen antijamur dan menunjukkan filamen yang tidak
ditanam dan juga tumbuh cetakan palsu yang sulit untuk diidentifikasi.
Mungkin karena itu disimpulkan bahwa nested PCR menargetkan gen
CHS1 mungkin dianggap sebagai standar emas untuk deteksi dermatofit
pada pasien dengan dermatofitosis.
6) Mass Spectrometry
Teknik Matrix assisted laser desorption/ ionization time of flight (MALDI
-TOF) telah diterapkan untuk identifikasi cepat dan dapat diandalkan
mikroorganisme termasuk dermatofit milik Texa Trichophyton rubrum,
T.tonsurans dan Microsporum canis. Pendekatan ini mendeteksi protein
yang sangat melimpah di kisaran massa antara 2 dan 20 kDa, menjabat
sebagai takson biomarker tertentu. Keuntungan mencolok dari pendekatan
spektral massa atas prosedur genetik atau morfologi adalah prosedur
persiapan sampel yang sangat sederhana dan lurus dan waktu singkat
yang dibutuhkan untuk analisis. Analisis lengkap termasuk evaluasi
persiapan sampel dan data selesai dalam hitungan menit.

13

2.8 PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF TINEA PEDIS


A. TERAPI PROMOTIF
Sebagai dokter sebaiknya menanyakan tentang perkembangan
penyakit tinea pedis seperti penggunaan fasilitas olahraga yang dipakai
secara umum, tipe sepatu dan kaos kaki yang sering dipakai, dan pekerjaan
yang sehari-hari di lakukan serta apakah kaki penderita lebih dominan
terlibat dalam pekerjaannya.
Terapi promotif pada penderita Tinea Pedis mengutamakan prinsip
pemberian informasi atau penyuluhan baik pada penderita maupun pada
orang-orang disekitar penderita yang diharapkan dapat mencegah
penularan, kekambuhan serta komplikasi lainnya. Upaya ini antara lain :
1) Memberikan informasi kepada masyarakat atau penderita tentang
gambaran umum tinea pedis.
2) Memberikan pengetahuan tentang faktor resiko tinea pedis, sehingga
diharapkan dapat melakukan pencegahan.
3) Melakukan penyuluhan untuk tetap menjaga kebersihan pada tubuh dan
lingkungan dimana penderita lebih sering terpapar (rumah, tempat
kerja, dan lain-lain).
4) Jika terdapat penyakit lain yang menyertai seperti diabetes mellitus,
segera ke dokter. Karena orang dengan penyakit diabetes lebih rentan
terpapar infeksi kulit daripada orang normal.
5) Pada tinea pedis yang kronik dan relapse (kambuh), membutuhkan
perawatan kaki yang intensif dan pengobatan untuk kesembuhan
beberapa minggu.
Prinsip utama untuk upaya pencegahan terhadap tinea pedis adalah
tetap menjaga kaki penderita agar tetap bersih dan kering, antara lain :
1) Mencuci seluruh kaki setiap hari dan menggunakan kaos kaki yang
bersih setelah mandi atau terpapar air (berenang, hujan, banjir, dan
lain-lain).
2) Menjaga agar kaki tetap kering terutama pada setiap sela jari kaki
sehabis mandi atau terpapar air (berenang, hujan, banjir, dan lain-lain).

14

3) Jika pekerjaan penderita berkaitan dengan penggunaan tempat yang


lembab seperti kolam renang umum, sebaiknya menggunakan sandal
atau alat perlindungan lain agar kaki tidak kontak langsung dengan
lantai yang terkontaminasi dengan jamur lainnya.
4) Memilih sepatu kulit daripada sepatu dari bahan vinyl, karena sepatu
kulit lebih menyerap keringat sehingga menjaga kaki tetap kering.
5) Menggunakan kaos kaki yang dapat menyerap keringat.
6) Jika memungkinkan, jangan menggunakan sepasang sepatu yang sama
dalam dua hari berturut-turut. Karena memberikan kesempatan sepatu
dalam 24 jam agar tetap kering.
7) Jangan bergantian menggunakan sepatu dengan orang lain.
B. TERAPI PREVENTIF
1) Cuci tangan dan kaki secara rutin tiap harinya dengan sabun.
2) Keringkan seluruh kaki setelah dicuci. Jangan mengenakan kaos kaki
dalam keadaan kaki yang basah karena akan menyebabkan jamur
mudah tumbuh.
3) Jangan gunakan handuk yang sama dengan orang lain tanpa terlebih
dahulu dicuci.
4) Ganti kaos kaki setiap hari. Kaos kaki berbahan cotton dan kulit lebih
baik dari pada yang berbahan nilon dan plastik karena keduanya
menyebabkan kaki lebih banyak berkeringat.
5) Gantilah sepatu setiap 2-3 hari dengan sepatu lain agar masing-masing
sepatu benar-benar kering setelah dipakai.
6) Gunakan sandal apabila berkunjung ke tempat pemandian umum atau
tempat ganti umum untuk menghindari kontak kaki dengan lantai yang
mngkin telah terkontaminasi kulit orang yang menderita tinea pedis.
7) Ketika di dirumah, biarkan kaki kontak dengan udara dan jangan terlalu
sering menggunakan kaos kaki atau sepatu di dalam rumah.
C. TERAPI KURATIF
Pengobatan pada umumnya cukup topical saja dengan obat-obat
anti jamur untuk bentuk interdigital dan vesicular. Lama pengobatan 4-6

15

minggu. Bentuk Moccasin foot yang kronik memerlukan pengobatan yang


lebih lama, apalagi bila disertai dengan tinea unguium, pengobatan
diberikan paling sedikit 6 minggu dan kadang-kadang memerlukan anti
jamur per oral, misalnya griseofulvin, itrakonazol, atau terbenafin. Bentuk
klinik akut yang disertai selulitis memerlukan pengobatan antibiotik,
misalnya penisilin V, fluklosasilin, eritromisin atau spiramisin dengan
dosis yang adekuat.
1) Topikal
Menggunakan topikal agen seperti bedak, krim atau spray. Krim dan
spray lebih berguna daripada bedak. Topikal antifungal seperti
Clotrinazole,

miconazole,

sulconazole,

oxiconazole,

ciclopirox,

econazole, ketoconazole, naftifine, terbinafine, flutnmazol, bifonazole,


dan butenafine tetapi clotrhnazole, miconazole membutuhkan waktu 4
minggu

dibandingkan

jika

menggunakan

terbinafine

yang

membutuhkan waktu 1-2 minggu. Kalau terjadi maserasi diantara jari,


pisahkan jari dengan busa atau gunakan kapas pada malam hari.
Aluminium kloride10% atau aluminium acetat juga dapat berguna.
Topikal yang berguna untuk organisme

gram-negatif adalah salep

antibiotik seperti gentamicin untuk lesi interdigitalis. Keratolitik agen


mengandung salisil acid, resorcinol, lactic acid dan urea berguna di
beberapa kasus walaupun dapat mengakibatkan maserasi (William,
Timothy dan Dirk 2008, Kumar, et al. 2011).
2) Sistemik
a) Griseofulvin 500-1000 mglhari. Buat anak-anak 10- 20 mg/kg/hari
b) Terbinafine 250 mg/hari untuk 1-2 minggu
c) Itraconazole 200 mg/2 kali sehari untuk 1 minggu. Untuk kasus
ringan di berikan 100mg, 2 kali sehari
d) Fluconazole 150 mg/minggu untuk 4 minggu (Kumar, et al. 2011).
D. TERAPI REHABILITATIF
Rehabilitasi medik pada pasien tinea pedis pada dasarnya
tergantung pada penyebab dasar yang menyertai penyakit tersebut,

16

misalnya diabetes mellitus, HIV AIDS. Adapun langkah-langkah dalam


rehabilitasi sebagai berikut :
1) Anamnesis ( faktor resiko, adanya penyulit misalnya ulkus diabetik)
2) Pemeriksaan fisik : keadaan umum pasien, mobilitas/gerak, fungsi
neurologis, sensorik, motorik.
3) Pemeriksaan psikis : jika pasien mengalai depresi, stress maka
dilakukan model pendekatan baik secara personal maupun kepada
keluarga untuk menjelaskan penyakitnya.
4) Evaluasi fungsi nutrisi agar adekuat
5) Latihan jalan/gerak
6) Mengembalikan fungsi aktivitas kehidupan sehari-hari agar dapat
maksimal.
7) Mencegah kembalinya penyakit dan mengobati faktor resiko.
Target rehabilitasi medik secara umum :
1) Mandiri total, dapat bekerja kembali seperti semula
2) Mandiri untuk aktivitas kehidupan sehari-hari, bekerja dengan supervisi
3)
4)
5)
6)

dalam proses pekerjaan / bekerja paruh waktu


Mandiri untuk aktivitas kehidupan sehari-hari , tidak bekerja
Mandiri untuk aktivitas kehidupan sehari-hari dengan pengawasan
Tergantung sebagian ( Dibantu sebagian )
Tergantung total ( Dibantu seluruhnya )

2.9 Pesantren
Pondok pesantren atau yang sering disingkat ponpes merupakan
sebuah asrama pendidikan agama tradisional, dimana para siswanya sering
disebut dengan santri. Para santri tinggal dan menginap bersama di dalam
asrama. Mereka belajar di bawah bimbingan guru atau yang lebih dikenal
dengan sebutan kiai. Pondok pesantren umumnya merupakan kompleks yang
tidak hanya menyediakan asrama tetapi juga menyediakan masjid untuk
beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks
ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya
para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pondok pesantren
merupakan dua istilah yang menunjukkan dua pengertian. Pesantren secara

17

harfiah adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok memiliki arti
rumah atau tempat tinggal sederhana. Pesantren juga dapat dipahami sebagai
sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara
nonklasikal, dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada
santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh
Ulama Abad pertengahan dan para santrinya biasanya tinggal di pondok
(asrama dalam pesantren tersebut).
Pada umumnya pesantren menyediakan pondok atau tempat tinggal
dengan biaya yang murah bahkan gratis. Biasanya para santri harus tinggal
bersama dalam satu kamar dengan banyak santri lainnya, bahkan ada yang
menampung 10-15 santri dalam satu kamar. Mereka tinggal di dalam kamar
tersebut ada yang satu tempat tidur dan ada pula yang terpisah. Beberapa
pesantren menyediakan sekolah yang murah untuk masyarakat Indonesia
yang ekonominya masih rendah. Ada beberapa budaya tradisional bahwa para
santri harus saling bertukar makanan, tempat tidur dan ilmu. Kondisi seperti
ini sangat menunjang kelangsungan daur hidup berbagai sumber penyakit
seperti tungau, kutu dan parasit lainnya serta jamur.

18

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini berupa penelitian yang bersifat deskriptif analitik
dengan metode pengambilan sampel secara cross sectional.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Mambau Syafaatil
Quran Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Blitar pada tanggal 4
Oktober 2015.
3.3 Sampel dan Cara Pemilihan Sampel
Sampel adalah seluruh santri putra Pondok Pesantren Ad-Dawah
sebagai subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yang ditentukan.
3.4 Kriteria Penelitian
1. Kriteria Inklusi
Seluruh santri Pondok Pesantren Mambau Syafaatil Quran yang
bersedia mengikuti penelitian.

19

2. Kriteria Eksklusi
Tidak mendapat persetujuan dari peserta subyek penelitian.
3.5 Teknik Pengambilan Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling.
Seluruh santri Pondok Pesantren Mambau Syafaatil Quran yang hadir
pada saat dilakukan pengambilan sampel. Subjek yang didapat dan
memenuhi kriteria inklusi pada hari dan tanggal yang telah ditentukan serta
mengisi kuesioner.
3.6 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data pada mini project ini adalah kuisioner,
yang terdiri atas data tentang pengetahuan terkait definisi, tanda dan gejala,
serta pencegahan Tinea Pedis.
3.7 Cara Pengumpulan Data
Semua jenis data yang dikumpulkan pada mini project ini adalah
data berupa hasil intervensi. Pengumpulan data yang dilakukan dengan
pengisian kuesioner dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pelaksana dalam hal ini dokter internship Puskesmas Sananwetan
meminta persetujuan responden untuk melakukan pengisian kuesioner.
b. Memberikan penjelasan tentang tujuan pengumpulan data dan sifat
keikutsertaan responden dalam hal ini.
c. Membagikan kuesioner kepada responden yaitu santri Pondok
Pesantren Mambau Syafaatil Quran.
d. Memberikan penjelasan kepada responden pada masing-masing
pertanyaan yang belum jelas dan mendampingi selama pengisian
kuesioner.
e. Kuesioner yang telah diisi, dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya.
3.8 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi
a. Metode Intervensi

20

Metode intervensi yang digunakan dalam mini project ini adalah


penyuluhan group discussion dengan alat bantu slide dengan kuesioner
yang dibagikan sebelumnya. Kuesioner akan diberikan dalam bentuk
soal pilihan ganda.
b. Petugas Penyuluhan
Petugas penyuluhan dari kegiatan mini project ini adalah :
1. Dokter Internship Puskesmas Sananwetan periode Juni-Oktober
2015 dalam hal ini dr. Rahmah Fitri Utami selaku narasumber.
2. Petugas kesehatan lain dari Puskesmas Sananwetan
c. Lokasi dan Waktu Penyuluhan
Kegiatan mini project ini bertempat di Aula Pondok Pesantren
Mambau Syafaatil Quran. Pelaksanaan pada tanggal 4 Oktober
2015, pukul 10.00-12.00 WIB.
d. Sasaran Penyuluhan
Sasaran kegiatan mini project ini adalah santri Pondok Pesantren
Mambau Syafaatil Quran.

21

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Profil Komunitas
Pondok Pesantren Mambau Syafaatil Quran atau yang biasa
disingkat MSQ merupakan salah satu pondok pesantren yang berada di
wilayah Kecamatan Sananwetan. Yayasan Pondok Pesantren MSQ ini
didirikan pada tanggal 15 Juni 1992. Pendiri Yayasan ini antara lain adalah
H. Abdul Ghofur Ilham, Kyai Nur Cholis, BA., K.H. Ali Waffa Al-Hafidz.
Pada kegiatan harian pesantren, Bapak K.H. Ali Waffa Al-Hafidz menjadi
penangung jawab dalam pendidikan Al-Quran, sementara Bapak Kyai Nur
Cholis, BA. bertugas mengurus hal yang berkaitan dengan pesantren secara
umum.
Pesantren ini memiliki luas bangunan sebesar 125 x 83 m2. Pesantren
MSQ memiliki fasilitas berupa Masjid, Asrama Putra, Asrama Putri, Aula,
Kantor Pondok, Kantor Madrasah Diniyah (MADIN), Gedung MADIN,
serta kamar mandi putra maupun putri.
Ada banyak kegiatan yang dilakukan para santri selama berada di
Pesantren antara lain membaca dan menghafal Al-Quran, mempelajari
rebana dan qasidah, tausiyah setiap Senin malam, dan senam pagi. Selain
itu, Pondok Pesantren mengadakan pengajian umum setiap peringatan Hari
Besar Islam, membina dan mengadakan tadarus antar masjid dan musholla
sekelurahan Gedog, istighosah bersama wali santri dan warga masyarakat,
pengajian Jumat pagi bagi ibu-ibu. Tidak hanya itu saja, pondok pesantren

22

MSQ juga berperan besar dalam bidang pendidikan dengan mendirikan


lembaga TPQ MSQ, lembaga madrasah diniyah Yambuul Ulum.
Sedangkan di bidang ekonomi, pondok pesantren ini juga mendirikan
koperasi Al-Ghorib untuk masyarakat sekitar. Pondok pesantren MSQ juga
memiliki peran dalam kegiatan sosial seperti santunan anak yatim piatu,
menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh, serta menyalurkan daging qurban
kepada masyarakat sekitar.
4.2. Data Geografis dan Demografik
Bangunan pondok Pesantren MSQ terletak di Jalan Letda Markawi
RT 3 RW 2 Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Saat ini
pondok pesantren MSQ memiliki jumlah santri sejumlah 150 orang, yang
mana 100 orang diantaranya bertempat tinggal di pondok pesantren setiap
hari, dan 50 orang lainnya kembali ke rumah masing-masing setelah selesai
melakukan kegiatan di pondok. Santri yang bertempat tinggal di pondok
saat ini sebanyak 55 orang berjenis kelamin laki-laki dan 45 orang berjenis
kelamin perempuan. Sebagian besar santri pondok pesantren ini berusia
remaja, yakni kisaran usia SMP dan SMA, dimana santri termuda berusia 10
tahun, dan yang paling tua berusia 23 tahun.
Seluruh santri yang bertempat tinggal di pondok pesantren menginap
di asrama yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Pada asrama putra
terdapat 11 kamar tidur yang dapat ditinggali oleh sekitar 5 6 orang per
kamar. Kamar mandi untuk santri putra terdapat 4 buah dan tersebar di
beberapa sudut asrama. Sedangkan untuk asrama putri, tersedia 4 kamar
berukuran regular yang dapat ditempati oleh 5-6 orang, dan 1 kamar ukuran
besar (semi aula) yang mampu menampung lebih banyak orang. Kamar
tersebut biasanya baru digunakan pada saat bulan Ramadhan dimana jumlah
santri yang menginap lebih banyak dibanding hari biasa. Di pesantren ini
kamar mandi santri putri tersedia 15 buah untuk mengantisipasi jumlah
santri yang meningkat.

23

4.3. Sumber Daya dan Sarana Prasarana Kesehatan


Pondok pesantren MSQ memiliki sebuah Pos Kesehatan Pesantren
(Poskestren) yang telah berdiri sejak tahun 2012. Pada saat ini Poskestren
memiliki 25 orang kader yang membantu jalannya kegiatan, dengan
sebagian besar anggotanya merupakan santri putri, yang umumnya berusia
18 dan 19 tahun. Poskestren ini memiliki pendamping yaitu Ibu Ida yang
juga merupakan salah satu pengurus pondok pesantren. Para kader
poskestren beserta pembimbing mendapatkan pembinaan secara rutin tiap
bulan oleh petugas dari bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Sananwetan.
Kegiatan yang telah dilakukan para kader poskestren antara lain
mendata teman yang sakit, melakukan pemeriksaan dasar berupa tensi
darah, nadi, suhu dan pernafasan, memberikan obat-obatan atau tindakan
pertolongan
pemeriksaan

pertama,
di

mendampingi

Puskesmas

santri

Pembantu

sakit
atau

untuk

melakukan

Puskesmas

Induk,

mengumpulkan iuran bulanan untuk membeli kebutuhan poskestren. Selain


itu, para kader poskestren juga bertanggungjawab dalam pelaksanaan kerja
bakti setiap hari Jumat dan Minggu untuk menanamkan perilaku hidup
bersih dan sehat di lingkungan pesantren.
4.4.

Karakteristik Demografi Sampel


Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2015,
didapatkan 43 orang santri yang bersedia menjadi responden dalam
penelitian mini project ini.
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Data Responden
Karakteristik
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Frekuensi
20
23

Persentase (%)
46.52
53.48

24

Umur
10-13 tahun
14-16 tahun
17-19 tahun
20-23 tahun

5
16
12
10

11.63
37.21
27.91
23.25

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden lakilaki dan perempuan tidak berbeda jauh yaitu 46.52% dan 53.48%.
Responden terbanyak berada dalam kelompok usia 14-16 tahun yaitu
sejumlah 37.21 %.
4.5. Hasil dan Pembahasan
4.5.1

Sebelum Intervensi
Tingkat pengetahuan tentang tinea pedis pada responden
diukur menggunakan kuesioner dengan sepuluh buah pertanyaan
yang jawabannya berupa benar atau salah. Untuk setiap jawaban
yang tepat akan diberi skor 1 (satu) dan untuk jawaban salah akan
diberi skor 0 (nol). Skor kemudian dijumlahkan dan dikategorikan
sesuai dengan kategori tingkat pengetahuan yang telah ditentukan.
Tingkat pengetahuan responden dibedakan menjadi 3
kategori:
1) Tingkat pengetahuan baik

: jumlah skor 8-10.

2) Tingkat pengetahuan sedang

: jumlah skor 5-7

3) Tingkat pengetahuan kurang

: jumlah skor 0-4

25

Diagram 1. Diagram Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Tinea


Pedis Sebelum Dilakukan Intervensi
Berdasarkan hasil kuesioner yang diperoleh dari total 43
responden, sebanyak 4% responden memiliki tingkat pengetahuan
kurang, 74% memiliki tingkat pengetahuan sedang dan 22%
memiliki tingkat pengetahuan baik.
Terdapat empat komponen yang dinilai tentang tinea pedis
pada kuesioner ini, yaitu etiologi dan epidemiologi, gambaran klinis,
faktor predisposisi dan pengobatan.

26

Diagram 2. Grafik Rerata Nilai Tiap Komponen Pertanyaan (dalam


Persen)
Dari 43 responden, sebesar 30 responden sudah mengetahui
etiologi dan epidemiologi tinea pedis dengan 27 responden (63%)
mampu menjawab separuh pertanyaan dan 3 responden lainnya
mampu menjawab seluruh pertanyaan terkait. Pada pertanyaan
mengenai gambaran klinis tinea pedis, seluruh responden (100%)
mampu menjawab pertanyaan yang diajukan. Sedangkan pada
pertanyaan mengenai faktor predisposisi, sebanyak 42 responden
(98%) mampu menjawab pertanyaan dari peneliti, namun hanya 8
responden (19%) yang menjawab dengan sempurna, sedangkan 4
responden (9%) mendapatkan nilai 40, 12 responden (28%)
mendapatkan nilai 60, 18 responden (42%) mendapatkan nilai 80.

27

Pada pertanyaan terkait pengobatan tinea pedis sebanyak 38


responden (88%) dapat menjawab pertanyaan, namun hanya 13
responden (30%) yang mampu menjawab 100%, sedangkan 25 orang
(58%) hanya mampu menjawab separuh pertanyaan.

Diagram 3. Komposisi Nilai pada Pertanyaan tentang Etiologi dan


Epidemiologi Tinea Pedis

28

Diagram 4. Komposisi Nilai pada Pertanyaan tentang Gambaran


Klinis Tinea Pedis

Diagram 5. Komposisi Nilai pada Pertanyaan tentang Faktor


Predisposisi Tinea Pedis

29

Diagram 6. Komposisi Nilai pada Pertanyaan tentang Pengobatan


Tinea Pedis
4.5.2

Setelah Intervensi
Tahap selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti setelah
memberikan pre-test, adalah dengan melakukan intervensi berupa
penyuluhan mengenai tinea pedis kepada responden yang sama.
Intervensi tersebut bertujuan agar responden mengerti dan mampu
memahami penyebab, faktor predisposisi, gambaran klinis dan
pengobatan tinea pedis. Sehingga diharapkan para responden mampu
menerapkan cara pencegahan supaya tidak tertular penyakit tersebut.
Setelah memberikan intervensi, peneliti kemudian
memberikan

post-test

dengan

menggunakan

kuesioner

yang

memiliki pertanyaan dan jumlah soal yang sama seperti pada pretest. Akan tetapi terdapat 4 orang responden yang drop-out dalam
penelitian ini dikarenakan ada keperluan mendadak, sehingga hanya
39 responden yang mengikuti penilaian post-test. Sistem skoring dan

30

pengelompokkan tingkat pengetahuan pada post-test sama seperti


pada pre-test.

Diagram 7. Diagram Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Tinea


Pedis Setelah Dilakukan Intervensi
Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa telah terjadi
perbaikan tingkat pengetahuan responden mengenai tinea pedis.
Sebelum dilakukan intervensi didapatkan 22% responden memiliki
tingkat

pengetahuan

baik, dan

setalah

intervensi

diperoleh

peningkatan sejumlah 82% responden. Kemudian sebanyak 74%


responden memiliki tingkat pengetahuan sedang sebelum intervensi,
dan setelah intervensi hanya didapatkan 18%. Sebelum intervensi,
ada sejumlah 4% responden yang memiliki tingkat pengetahuan
kurang, dan setelah intervensi tidak didapatkan responden pada
kelompok tersebut.

31

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
1) Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran pengetahuan santri
Pondok Pesantren Mambau Syafaatil Quran terhadap Tinea Pedis,
sebelum intervensi diperoleh hasil total 43 responden, sebanyak 4%
responden memiliki tingkat pengetahuan kurang, 74% memiliki tingkat
pengetahuan sedang dan 22% memiliki tingkat pengetahuan baik.
2) Setelah dilakukan intervensi berupa penyuluhan mengenai Tinea Pedis
didapatkan peningkatan yang cukup signifikan, yaitu 82% responden
memiliki tingkat pengetahuan baik, 18% memiliki tingkat pengetahuan
sedang dan tidak didapatkan responden dengan tingkat pengetahuan
kurang.

5.2

Saran
1) Bagi Santri
Diharapkan

santri

dapat

memahami

penyebab,

faktor

predisposisi, gambaran klinis, dan pengobatan tinea pedis serta dapat


berperilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah terjadinya
penyakit terutama infeksi tinea pedis.
2) Bagi Pondok Pesantren
Diharapkan untuk meningkatkan pengetahuan santri dengan
bekerja

sama

dengan

instansi

kesehatan

untuk

pelaksanaan

penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan dan penyakit menular,


terutama penyakit komunitas.
3) Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan bisa dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian
selanjutnya dengan memperluas variabel penelitian sehingga akan
didapatkan hasil penelitian yang lebih sempurna.

32

DAFTAR PUSTAKA

Al Hasan, Muhannad, S. Matthew Fitzgerald, Mahnaz Saoudian, dan Guha


Krishnaswamy. Dermatology for the practicing allergist: Tinea pedis and
its complications. Clin Mol Allergy 2, no. 5 (2004).
Budimulja, U. Mikosis. Dalam Ilmu penyakit kulit dan kelamin 5th edition, oleh
A. Djuanda, 93. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007.
Carlo, Claire J., dan Patricia MacWilliams Bowe. Part I - Tinea Pedis (Athletes
Foot). Dalam The Health Care, oleh James J. O'Connell, Stacy F. Stain,
Chistine L. Daniel dan Joslyn S. Allen, 151-154. Boston: Boston Health
Care for the Homeless Program, 2004.
Hay, R. J., dan H. R. Ashbee. Mycology. Dalam Rooks Textbook of
Dermatology 8th edition, oleh Tony Burns, Stephen Breathnach, Neil Cox
dan Christopher Griffiths, 3630-3632. Cambridge: Wiley-Balckwell, 2010.
Kumar, V., R. Tilak, P. Prakash, C. Nigam, dan R. Gupta. Tinea Pedis. Asian
journal of medical science, 2011: 134- 135.
Mansour, Abbas Ali, dan Khalil I Hamdi. Tinea Pedis Among Diabetics in
Basrah: prevalence and predictors. Journal of Chinese Clinical Medicine
2, no. 9 (2007): 488-492.
Perdoski. Dermatofitosis Superfisialis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2001.
Perea, Sofia, Maria Jose Ramos, Margarita Garau, Alba Gonzales, Antonio R.
Noriega, dan Amalia Del Palacio. Prevalence and Risk Factors of Tinea
Unguium and Tinea Pedis in the General Population in Spain. Journal Of
Clinical Microbiology 38, no. 9 (2000): 32263230.
Sarah, Chamlin L., dan Lawley P. Leslie. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 7th edition. New York: McGraw-Hill Medicine, 2008.
Siregar, RS. Buku Penyakit Jamur Kulit Edisi 2 . Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2005.

33

Soekandar, TM. Angka kejadian dan pola jamur penyebab Tinea pedis di asrama
Brimob Semarang. Semarang: Ilmu kesehatan kulit dan kelamin FK
Undip, 2004.
Sularsito, Sri Adi. et al. Dermatologi Praktis. Jakarta: Perkumpulan Ahli
Dermatologi dan Venereologi Indonesia, 2006.
William, James D., Berger G. Timothy, dan Elston M. Dirk. Andrews disease of
the skin dalam Diseases resulting from fungi and yeast 10th edition.
Canada: Saunders Elsevier, 2008.

34

LAMPIRAN
KUESIONER
I.

IDENTITAS RESPONDEN
Nama

Jenis Kelamin :
Usia/Kelas
II.

KUESIONER
Bacalah pernyataan pada kolom di bawah ini dan beri tanda centang
pada kolom BENAR/SALAH di sebelah kanan pernyataan.

No.

Pernyataan

Kutu air adalah penyakit yang disebabkan

oleh bakteri
Penyakit kutu air merupakan penyakit kulit

yang tidak menular


Kutu air lebih sering menyerang sela jari

kaki
Faktor yang menimbulkan kutu air adalah

kulit yang terlalu kering


Kutu air dapat dikarenakan keringat yang

berlebihan
Orang yang menjaga kebersihan tubuhnya

dapat terkena kutu air


Kutu air dapat sembuh hanya dengan

mandi menggunakan sabun secara teratur


Penyakit kutu air tidak ada kaitannya

dengan kebersihan lingkungan


Kondisi daya tahan tubuh mempengaruhi

Jawaban
Benar
Salah

munculnya kutu air

35

10

Pengobatan kutu air membutuhkan waktu


minimal satu minggu

DOKUMENTASI

36

Santri putri saat mendengarkan penyuluhan

Santri putra saat mendengarkan penyuluhan

37

Suasana pemberian materi penyuluhan Tinea Pedis

Foto bersama Tim Dokter Internsip Puskesmas Sananwetan dan Santri


Pondok Pesantren Mambau Syafaatil Quran

38

Anda mungkin juga menyukai